Pernah mendengar istilah “makan skincare”? Kedengarannya mungkin aneh, membayangkan moisturizer, serum, atau bahkan sunscreen dijadikan camilan sehari-hari. Tapi, kalian tau gak? ternyata makan skincare bisa cegah penuaan dini loh! Mau tau lebih
lanjut? yuk kita bedah bersama!
Penuaan Dini
Penuaan dini adalah penurunan fungsi organ kulit yang terjadi lebih cepat dari seharusnya. Individu yang mengalami penuaan dini, umumnya membuat seseorang lebih tua dibandingkan dengan usianya. Tanda-tanda penuaan dini diantaranya warna kulit tidak merata, kulit menjadi kasar dan kusam, dan warna kulit pucat [8].
Jenis Penuaan
Penuaan Intrinsik, perubahan pada kulit yang dipengaruhi oleh genetik, tingkat stress dan daya tahan tubuh, dan hormon.
Penuaan Ekstrinsik, perubahan pada kulit yang disebabkan oleh faktor eksternal seperti asupan gizi yang buruk, sinar UV, polusi udara, dan asap rokok.
Konsep "eat your skincare"
Konsep “eat your skincare” atau “makan skincare” hadir sebagai pengingat bahwa perawatan kulit yang optimal tidak bisa hanya mengandalkan produk dari luar saja, tetapi harus didukung oleh asupan gizi yang seimbang dari dalam tubuh.
Hubungannya asupan gizi dan penuaan?
Kesehatan dan fungsi biologis kulit sepanjang rentang usia berkaitan erat dengan asupan gizi individu [6]. Apabila status gizi individu rendah, maka dapat mengubah struktur dan fungsi kulit sehingga mempengaruhi penampilan kulit [1]. Penelitian yang dilakukan Cao
dkk (2020) menunjukkan bahwa nutrisi dapat memperlambat dan memodifikasi proses
penuaan kulit. Proses penuaan dini dapat dicegah melalui pola makan dan hidup yang
sehat [5] .
Peran Nutrisi
Nutrisi memainkan peran krusial dalam menghambat penuaan kulit melalui pengendalian pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) [6]. Reactive Oxygen Species (ROS) dapat
memicu terjadinya penuaan dini yang ditandai dengan kerutan dan pigmentasi pada kulit (perubahan warna kulit). Salah satu cara untuk menghambat pembentukan ROS adalah mengonsumsi antioksidan.
Makanan Sumber Antioksidan
Vitamin E
Vitamin E adalah Vitamin larut lemak dan antioksidan utama yang ditemukan di kulit.
Sumber makanan yang mengandung vitamin E dapat ditemukan minyak nabati seperti minyak gandum dan minyak bunga matahari, telur ayam, ikan salmon, alpukat, kacang tanah, dan sayuran hijau.
Vitamin C
Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan pada jaringan kulit yang berperan dalam
menetralisir radikal bebas serta meregenerasi vitamin E kembali ke bentuk aktifnya. Makanan sumber vitamin C diantaranya jambu biji, jeruk, paprika, stroberi, pepaya, brokoli, dan kiwi.
Vitamin A
Sebagai antioksidan tersier, vitamin A melindungi kulit dengan cara menangkal
paparan oxygen singlet spesies yang dapat merusak jaringan. Sumber makanan yang mengandung vitamin A adalah wortel, labu kuning, ubi jalar, mangga dan
pepaya.
Koenzim Q10 (C0Q10)
Koenzim Q10 merupakan antioksidan yang dapat mendukung fungsi kulit dengan
cara meregenerasi vitamin, menghasilkan sejumlah protein kolagen dan elastin serta
menjaga hidrasi, kulit [4]. Sumber makanan utama CoQ10 dapat ditemukan pada ikan (salmon, tuna dan sarden), organ dalam (jantung dan hati), sayuran hijau (bayam
dan brokoli), dan biji-bijian.
Kolagen
Kulit mengandung sekitar 70% kolagen yang memberikan efek mengencangkan jaringan kulit [3]. Kolagen memiliki sifat anti-inflamasi dan antioksidan. Sumber makanan yang mengandung kolagen yaitu daging sapi, ikan, cumi-cumi, salmon, kaldu tulang, sayuran hijau, dan buah beri.
Polifenol
Polifenol merupakan senyawa alami yang terdapat pada tumbuhan yang berfungsi
mengurangi kerusakan oksidatif dan mencegah peradangan pada kulit. Makanan
yang mengandung polifenol diantaranya teh hijau, buah berry (stroberi, blueberry),
apel, kacang-kacangan, sayur hijau, dan dark chocolate.
Probiotik
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dapat menjaga kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai. Probiotik dapat meningkatkan sistem imun dan mikrobiotanya dapat menjaga kesehatan kulit. Sumber makanan yang mengandung probiotik berbagai produk makanan fermentasi seperti tempe, tape, yoghurt, kefir, dan acar.
Penuhi asupan gizi seimbang tentu sangat penting, tapi jangan lupa imbangi dengan...
Minum air putih yang cukup
Istirahat yang cukup, minimal tidur 8 jam
Rutin berolahraga
Penggunaan skincare sesuai kebutuhan dan kondisi kulit
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Cao C, Xiao Z, Wu Y, Ge C. Diet and skin aging—from the perspective of food nutrition. Nutrients.2020;12(3):1–25
Gracia Fensynthia. 6 Fungsi Kulit dan Cara Menjaga Kesehatannya [Internet]. alodokter. 2024 [cited 2026 jan 8]. Available from: https://www.alodokter.com/5-fungsi-
kulit-dan-cara-menjaga-kesehatannya
Jap, C.A., Pertiwii, A.S., Andrew, J. and Eric, E., 2023. Efikasi suplementasi kolagen dalam mencegah
tanda penuaan. Health Information: Jurnal Penelitian.
Juanita, G. and Aryani, N.L.D., 2023. Scale Up Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Koenzim Q10
Menggunakan Matriks Lipid Asam Stearat-Isopropil Palmitat. Jurnal Ners, 7(2), pp.908-916.
Rizkyah, A. and Karimah, S.N., 2023. Literature Review: Penuaan Dini pada Kulit: Gejala, Faktor
Penyebab dan Pencegahan. JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan, 3(2), pp.107-116.
Rosyada, R. and Jusuf, N.K., 2024. Hubungan Nutrisi dan Penuaan Kulit. Media Dermato-Venereologica Indonesiana, 51(4).
Septiani, S., Nurohmi, S., Aisya, R.W., Sukoharjanti, B.T., Salsabila, Z.I. and Hartanto, F.S., 2024. EDUKASI PANGAN SUMBER ANTIOKSIDAN DAN OPTIMALISASI SKINCARE UNTUK PENCEGAHAN PENUAAN DINI. Jurnal Abdi Insani, 11(4), pp.2722-2729.
Suksmagita Pratidina. Ini Cara Atasi Penuaan Dini pada Kulit Agar Tak Terlihat Tua Sebelum Waktunya
[Internet]. Rs Pondok Indah. 2025. [cited 2026 jan 11]. Available from:
https://www.rspondokindah.co.id/en/news/agar-tak-terlihat-tua-sebelum-waktunya
Di sekitar kita, pilihan cemilan masih didominasi makanan yang digoreng, tinggi minyak, dan tinggi garam. Pola konsumsi ini, jika berlangsung terus menerus berpotensi menurunkan kualitas asupan gizi. Oleh karena itu, diperlukan alternatif cemilan yang lebih sehat, praktis, dan tetap terjangkau. Pancake ubi ungu hadir sebagai salah satu inovasi
pangan lokal yang menawarkan pilihan cemilan bergizi tanpa harus mengorbankan cita rasa dan kemudahan penyajian.
Mengapa Cemilan Kita Didominasi Makanan Tinggi Minyak dan Garam?
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan cemilan masyarakat Indonesia yang didominasi dengan makanan tinggi minyak dan garam. Faktor-faktor tersebut adalah faktor
budaya, preferensi rasa, pengetahuan gizi, ketersediaan bahan lokal, dan tren konsumsi yang dipengaruhi globalisasi. (1) Jenis cemilan yang sering dikonsumsi yaitu aneka gorengan, mie instan, makanan ringan, makanan cepat saji, minuman manis, dan buah. (2)
1. Faktor Budaya
Sejak lama, teknik menggoreng menjadi bagian dari tradisi kuliner karena dianggap praktis, lezat, dan mampu meningkatkan cita rasa makanan. Rasa gurih dari minyak dan garam juga sudah akrab dengan lidah masyarakat, sehingga membentuk preferensi rasa sejak usia dini. Selain itu, makanan seperti gorengan telah melekat dalam kehidupan sosial sehari-hari. Gorengan tidak hanya dipandang sebagai cemilan, tetapi juga sebagai “teman minum teh”, sajian saat berkumpul, hingga pilihan cepat ketika lapar di sela aktivitas. Nilai kebersamaan dan keakraban ini membuat makanan tinggi minyak dan garam memiliki makna sosial yang kuat, sehingga sulit tergantikan oleh pilihan lain.
2. Faktor Ekonomi
Produksi cemilan tinggi minyak-garam murah dan tahan lama, cocok untuk UKM
dan pasar tradisional. Bahan seperti minyak kelapa sawit melimpah di Indonesia, menekan biaya dibanding opsi sehat seperti buah kering. Akses pembelian mudah di kantin sekolah dan warung membuatnya dominan meski kualitas diet rendah. (3) Selain harga, aspek kemudahan dan kecepatan juga berpengaruh. Cemilan tinggi minyak dan garam dapat diproduksi dalam jumlah besar, disajikan dengan cepat, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Hal ini menjadikannya pilihan utama bagi pedagang kecil maupun konsumen yang membutuhkan makanan praktis di sela aktivitas. Di sisi lain, cemilan sehat sering kali dipersepsikan membutuhkan bahan lebih mahal, proses lebih rumit, dan waktu lebih lama, sehingga kurang diminati.
Mengapa Ubi Ungu Layak Dipilih sebagai Bahan Cemilan Sehat?
Ubi ungu merupakan salah satu pangan lokal yang memiliki potensi gizi tinggi dan mudah dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Ubi jalar ungu merupakan salah satu pangan lokal yang mudah dikenali dari warna ungunya yang pekat. Warna ini berasal dari kandungan antosianin yang tinggi, yaitu senyawa alami yang berperan sebagai antioksidan. Dibandingkan dengan jenis umbi lainnya, ubi jalar ungu memiliki indeks glikemik yang lebih
rendah yaitu sekitar 44. Indeks glikemiks yang rendah ini tidak menyebabkan kenaikan gula darah secara cepat dan cocok dikonsumsi sebagai cemilan. Selain itu, ubi jalar ungu juga kaya akan serat yang bermanfaat untuk membantu menjaga kadar gula darah dan kolesterol, melancarkan pencernaan, serta memberikan rasa kenyang lebih lama (4).
Selain nilai gizinya, ubi ungu juga memiliki keunggulan dari segi ketersediaan dan harga. Ubi ungu relatif terjangkau dan mudah diperoleh di pasar tradisional maupun pedagang lokal (5). Karakteristik ini menjadikan ubi ungu sebagai bahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi cemilan sehat yang dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa dan rumah tangga.
Pancake Ubi Ungu sebagai Alternatif Cemilan Bergizi
Selama ini, ubi jalar ungu umumnya diolah dengan cara direbus atau dikukus. Meskipun
sederhana dan sehat, bentuk penyajian tersebut sering kali dianggap kurang menarik, terutama bagi anak-anak dan generasi muda yang cenderung mengikuti tren konsumsi cemilan yang lebih variatif, praktis, dan visual. Akibatnya, potensi ubi ungu sebagai pangan lokal bergizi belum dimanfaatkan secara optimal dalam pola cemilan sehari-hari.
Pengolahan ubi ungu menjadi pancake merupakan upaya inovatif untuk meningkatkan daya tarik tanpa mengurangi nilai gizinya. Melalui metode pengolahan tanpa digoreng, pancake ubi ungu dapat menjadi alternatif cemilan dengan kandungan minyak yang lebih rendah. Warna ungu alami memberikan tampilan yang menarik, sementara teksturnya yang lembut dan rasa yang ringan membuat produk ini lebih mudah diterima oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan Gen Z. Dengan demikian, pancake ubi
ungu tidak hanya menawarkan nilai gizi, tetapi juga menyesuaikan dengan tren cemilan masa kini yang praktis dan menarik.
Secara umum, pembuatan pancake ubi ungu dilakukan dengan menghaluskan ubi ungu
kukus sebanyak 35 g, kemudian mencampurkannya dengan 1 butir telur, 1 sdm tepung terigu, 30 mL susu full cream, 1 sdm gula, 1⁄2 sdt baking powder, serta vanili secukupnya (opsional). Adonan dimasak menggunakan teflon yang sudah diolesi margarin secukupnya dan dengan api kecil hingga matang. Proses pengolahan yang sederhana ini memungkinkan pancake ubi ungu dibuat dengan mudah di rumah atau di lingkungan mahasiswa, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Pancake ubi ungu menunjukkan bahwa inovasi pangan berbasis bahan lokal dapat menjadi
solusi nyata untuk menghadirkan cemilan yang lebih sehat, praktis, dan tetap menarik. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah dijumpai dan proses pengolahan yang
sederhana, masyarakat—mulai dari anak-anak, remaja, generasi muda, hingga orang
dewasa—dapat mulai mengurangi ketergantungan pada cemilan tinggi minyak dan garam. Melalui pilihan kecil seperti mengganti cemilan harian, langkah menuju pola makan yang lebih seimbang dan berkelanjutan pun dapat dimulai dari dapur sendiri.
Saatnya beralih ke cemilan yang lebih bergizi tanpa meninggalkan cita rasa dan kemudahan. “Ubi Ungu Naik Kelas, Gizi Berkelas”.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Reuter PR, Foster BL, Brister SR. The influence of eating habits on the academic performance of
university students. Journal of American College Health. 2020. 69(8):921–927.
Delavita TZ, Ulvie YNS, Nughraheni K, Latrobdiba ZM. Frekuensi, jenis camilan dan aktivitas fisik
dengan status gizi remaja usia 13-15 tahun. 2023. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS. 6:899–908.
Yugharyanti TP, fatimah S, Rahfiludin MZ. Alasan pemilihan makanan, akses pembelian makanan,
dan kualitas diet pada mahasiswa. 2024. Journal of Nutrition College. 13(1):17–28.
Asnawi A, Eliska. Substitusi tepung ubi ungu dalam pembuatan kue soes dengan selai buah naga sebagai snack bagi penderita diabetes. 2023. ARTERI: Jurnal Ilmu Kesehatan. 4(3):138–145.
Marlina Y, Asriani PS, Sumantri B. Analisis agribisnis ubi jalar ungu di Desa Teladan Kecamatan
Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. 2013. AGRISEP. 13(1):85–100.
Pernahkah Anda mengalami nyeri perut berulang, perut terasa penuh atau
kembung, disertai diare atau justru sulit buang air besar, tetapi hasil pemeriksaan
medis menunjukkan semuanya “normal”? Kondisi ini sering dialami oleh penderita
Irritable Bowel Syndrome (IBS), suatu gangguan fungsional saluran cerna yang
sangat umum namun kerap disalahpahami. IBS bukanlah penyakit yang merusak
organ, melainkan gangguan cara kerja usus yang dapat berdampak besar pada
kualitas hidup penderitanya [1,5].
Mengenal Irritable Bowel Syndrome
Irritable Bowel Syndrome merupakan gangguan kronis saluran cerna yang ditandai oleh nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berhubungan dengan perubahan
pola buang air besar. Berdasarkan gejala dominan, IBS diklasifikasikan menjadi IBS
dengan konstipasi, IBS dengan diare, IBS tipe campuran, serta IBS yang tidak dapat
diklasifikasikan secara spesifik [5,8]. Meskipun tidak mengancam jiwa, IBS sering
mengganggu aktivitas sehari-hari, produktivitas kerja, dan kesehatan mental
penderitanya.
Hingga saat ini, penyebab IBS belum dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. IBS
dipahami sebagai kondisi multifaktorial yang melibatkan gangguan motilitas
gastrointestinal, hipersensitivitas viseral, serta gangguan komunikasi dua arah antara otak dan usus yang dikenal sebagai gut–brain axis [1,5]. Dalam beberapa tahun terakhir, peran mikrobiota usus semakin mendapat perhatian sebagai faktor penting dalam patofisiologi IBS [1,8].
Mikrobiota Usus: Ekosistem Tak Terlihat yang Vital
Usus manusia merupakan rumah bagi lebih dari 10¹⁴ mikroorganisme yang secara
kolektif disebut mikrobiota usus [1,12]. Pada individu sehat, mikrobiota ini berada
dalam keseimbangan dan berperan dalam pencernaan, produksi vitamin,
perlindungan terhadap patogen, serta regulasi sistem imun.
Pada penderita IBS, keseimbangan ini sering terganggu dan dikenal sebagai
disbiosis, yang ditandai oleh penurunan keragaman mikrobiota, berkurangnya
bakteri menguntungkan penghasil asam lemak rantai pendek seperti butirat, serta peningkatan bakteri tertentu yang dapat memicu gas, inflamasi, dan gangguan
motilitas usus [6,8,12]. Perbedaan komposisi mikrobiota juga ditemukan antar
subtipe IBS, misalnya peningkatan bakteri penghasil metana pada IBS dengan
konstipasi [1,4]. Disbiosis ini tidak hanya memengaruhi fungsi usus, tetapi juga
berkaitan dengan gangguan suasana hati, menjelaskan tingginya prevalensi
kecemasan dan depresi pada pasien IBS [5,8].
Diet, Usus, dan Gejala IBS
Bagi banyak penderita IBS, makanan menjadi pemicu utama gejala. Produk susu, gandum, bawang, kubis, kacang-kacangan, makanan pedas, serta makanan berlemak sering dilaporkan memperburuk keluhan [3,6]. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa asupan energi dan makronutrien pasien IBS secara umum tidak jauh berbeda dibandingkan populasi sehat. Namun, kualitas diet sering kali lebih rendah, dengan defisiensi beberapa mikronutrien penting seperti kalsium, magnesium, riboflavin, dan vitamin A [11].
Salah satu pendekatan diet yang paling banyak digunakan adalah diet rendah
FODMAP, yang membatasi konsumsi karbohidrat fermentabel yang sulit diserap
[2,7]. Diet ini terbukti dapat mengurangi gejala IBS dan meningkatkan kualitas hidup
pada sebagian pasien, meskipun hanya sekitar 50–70% yang menunjukkan respons
klinis yang bermakna [2,7,10]. Selain itu, penerapan jangka panjang diet rendah
FODMAP dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus secara negatif, termasuk
penurunan bakteri menguntungkan seperti Bifidobacterium [3,12]. Respons terhadap
diet ini juga bersifat individual dan dipengaruhi oleh subtipe mikrobiota pasien [4].
Konsumsi alkohol dan makanan pedas turut memodulasi gejala IBS. Konsumsi
alkohol berlebihan dapat mengganggu motilitas usus dan meningkatkan inflamasi,
sedangkan efek konsumsi ringan hingga sedang sangat bervariasi antar individu [3]. Makanan pedas yang mengandung capsaicin dapat memicu nyeri perut pada
sebagian pasien, meskipun konsumsi jangka panjang dilaporkan dapat menurunkan
sensitivitas usus melalui mekanisme desensitisasi reseptor TRPV1 [3].
Peran Hormon Usus dalam IBS
Selain mikrobiota, fungsi saluran cerna juga diatur oleh hormon-hormon yang
dilepaskan oleh sel enteroendokrin. Sel-sel ini bertindak sebagai sensor nutrien dan merespons komposisi makanan dengan melepaskan hormon yang mengatur
motilitas, sekresi, absorpsi, dan sensasi viseral [3]. Pada pasien IBS, ditemukan
penurunan densitas sel enteroendokrin dan ketidakseimbangan hormon usus, yang
berkontribusi terhadap gangguan pergerakan usus dan hipersensitivitas viseral [3].
Menariknya, perubahan pola makan dan intervensi yang memodulasi mikrobiota,
seperti diet rendah FODMAP, dilaporkan dapat memperbaiki kepadatan sel
enteroendokrin dan disertai perbaikan gejala serta kualitas hidup pasien IBS [3]. Hal ini menunjukkan hubungan erat antara diet, mikrobiota, dan sistem hormonal usus.
Probiotik: Harapan Baru untuk Menata Ulang Usus
Di tengah kompleksitas IBS, probiotik muncul sebagai pendekatan terapeutik yang
menjanjikan. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, bila dikonsumsi dalam jumlah adekuat, memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya [12]. Berbagai
penelitian dan meta-analisis menunjukkan bahwa probiotik, terutama dari genus
Lactobacillus dan Bifidobacterium, dapat membantu mengurangi gejala IBS seperti
nyeri perut, kembung, dan gangguan buang air besar [1,10,12].
Mekanisme kerja probiotik meliputi modulasi komposisi mikrobiota usus,
peningkatan bakteri menguntungkan, produksi metabolit seperti asam lemak rantai pendek dan asam laktat, serta penghambatan pertumbuhan bakteri patogen [1,5]. Probiotik juga dapat memperkuat integritas epitel usus, menurunkan inflamasi, dan memengaruhi gut–brain axis melalui modulasi neurotransmiter seperti serotonin dan GABA, sehingga berpotensi memperbaiki gejala fisik sekaligus psikologis IBS [5,8].
Tidak Semua Probiotik Sama
Efektivitas probiotik sangat bergantung pada strain, dosis, durasi penggunaan, serta karakteristik individu. Beberapa strain yang dilaporkan bermanfaat pada IBS antara
lain Lactobacillus acidophilus, L. plantarum, L. rhamnosus, Bifidobacterium longum, B. breve, dan B. lactis [10,12]. Namun, tidak ada satu jenis probiotik yang cocok untuk semua penderita IBS, sehingga pendekatan yang lebih personal sangat diperlukan [5].
Menata Ulang Keseimbangan Usus
IBS merupakan contoh nyata bagaimana gangguan keseimbangan mikrobiota, diet,
dan regulasi neuroendokrin dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Probiotik
menawarkan pendekatan yang relatif aman dan berbasis biologi untuk membantu
menata ulang keseimbangan tersebut. Namun, probiotik bukanlah “obat ajaib”.
Penanganan IBS yang optimal tetap bersifat individual dan komprehensif, mencakup
pengaturan diet, manajemen stres, aktivitas fisik, serta terapi medis bila diperlukan [5,8,12]. Dengan pemahaman yang semakin baik mengenai mikrobiota usus dan
respons individual terhadap terapi, diharapkan kualitas hidup penderita IBS dapat terus ditingkatkan.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Distrutti E, Monaldi L, Ricci P, Fiorucci S. Gut microbiota role in irritable bowel syndrome: New
therapeutic strategies. World J Gastroenterol 2016;22:2219–41.
https://doi.org/10.3748/wjg.v22.i7.2219.
Zhang H, Su Q. Low-FODMAP Diet for Irritable Bowel Syndrome: Insights from Microbiome. Nutrients 2025;17. https://doi.org/10.3390/nu17030544.
El-Salhy M, Hatlebakk JG, Hausken T. Diet in irritable bowel syndrome (IBS): Interaction with gut
microbiota and gut hormones. Nutrients 2019;11. https://doi.org/10.3390/nu11081824.
Vervier K, Moss S, Kumar N, Adoum A, Barne M, Browne H, et al. Two microbiota subtypes identified in irritable bowel syndrome with distinct responses to the low FODMAP diet. Gut
2022;71:1821–30. https://doi.org/10.1136/gutjnl-2021-325177.
Ghaffari P, Shoaie S, Nielsen LK. Irritable bowel syndrome and microbiome; Switching from
conventional diagnosis and therapies to personalized interventions. J Transl Med 2022;20.
https://doi.org/10.1186/s12967-022-03365-z.
Barandouzi ZA, Lee J, Maas K, Starkweather AR, Cong XS. Altered gut microbiota in irritable bowel syndrome and its association with food components. J Pers Med 2021;11:1–19.
https://doi.org/10.3390/jpm11010035.
Alrasheedi AA, Jahlan EA, Bakarman MA. The effect of low-FODMAP diet on patients with irritable bowel syndrome. Sci Rep 2025;15. https://doi.org/10.1038/s41598-025-01163-3.
Cheng X, Ren C, Mei X, Jiang Y, Zhou Y. Gut microbiota and irritable bowel syndrome: status and prospect. Front Med (Lausanne) 2024;11. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1429133.
Schmidt SK. Interactive and sculptural printmaking in the renaissance. Brill’s Studies in
Intellectual History 2018;270/21:1–467. https://doi.org/10.6084/m9.figshare.
Xie CR, Tang B, Shi YZ, Peng WY, Ye K, Tao QF, et al. Low FODMAP Diet and Probiotics in Irritable Bowel Syndrome: A Systematic Review With Network Meta-analysis. Front Pharmacol
2022;13. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.853011.
Bek S, Teo YN, Tan XH, Fan KHR, Siah KTH. Association between irritable bowel syndrome and micronutrients: A systematic review. Journal of Gastroenterology and Hepatology (Australia) 2022;37:1485–97. https://doi.org/10.1111/jgh.15891.
Staudacher HM, Whelan K. Altered gastrointestinal microbiota in irritable bowel syndrome and
its modification by diet: Probiotics, prebiotics and the low FODMAP diet. Proceedings of the Nutrition Society, vol. 75, Cambridge University Press; 2016, p. 306–18.
https://doi.org/10.1017/S0029665116000021.
Makanan yang tampak sehat dan bergizi ternyata bukanlah jaminan mutlak bagi
keselamatan konsumen. Dalam konteks penyelenggaraan makanan di institusi,
seperti sekolah, rumah sakit, pondok pesantren, atau katering massal, terdapat dua elemen utama yang harus berjalan beriringan, yakni menu seimbang yang memadai gizi dan jaminan keamanan pangan yang ketat.
Tanpa keamanan pangan, bahkan menu yang ideal sekalipun bisa menjadi ancaman
bagi kesehatan.
Apa Itu Menu Seimbang dan Keamanan Pangan?
Menu seimbang adalah menu yang dapat memenuhi kebutuhan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral) sehingga bisa mendukung kesehatan secara optimal. Artinya menu tersebut juga harus beraneka ragam, agar semua zat gizi bisa dipenuhi dalam satu menu sajian. (1)
Di institusi, menu seperti ini biasanya dirancang untuk konsumen tertentu sesuai
kebutuhannya, baik pada anak sekolah, pasien, pekerja, dan sebagainya.
Sementara keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diterapkan untuk
mencegah pangan dari cemaran biologis, kimia, dan fisik yang dapat mengancam
kesehatan konsumen. Tujuannya tentu agar makanan tidak hanya memenuhi gizi,
tetapi juga higienis dan aman untuk dikonsumsi. (2)
Tanpa keamanan pangan, makanan bergizi pun bisa menjadi sumber masalah kesehatan, seperti keracunan.
Misalnya, kantin kantor yang menyajikan nasi, lauk pauk protein, sayur, dan buah
dalam piring pekerja. Ini terlihat seperti menu lengkap yang seimbang. Namun, jika
sayur tidak dicuci bersih, penyimpanan daging kurang tepat atau peralatan tidak
higienis, makanan itu bisa memicu penyakit akibat kontaminasi bakteri.
Tantangan Nyata di Penyelenggaraan Makanan Institusi
Penyelenggaraan makanan merupakan rangkaian proses pengolahan makanan
dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan kelompok di suatu institusi. Kegiatan ini mencakup perencanaan menu, pengadaan bahan pangan, penerimaan dan
penyimpanan, proses pengolahan hingga penyajian, serta pencatatan dan evaluasi.
Tujuannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memastikan mutu, jenis, dan jumlah makanan yang disajikan sesuai standar. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak institusi yang masih menghadapi tantangan dalam menjamin keamanan pangan pada menu yang disajikan. (3)
1. Kesenjangan Pengetahuan Penjamah Makanan
Dalam tahap persiapan makanan, penjamah makanan perlu memiliki pengetahuan
dan pemahaman yang memadai terkait pengolahan pangan. Menurut studi,
kurangnya wawasan pada penjamah makanan dapat menurunkan mutu makanan
dan meningkatkan risiko masalah kesehatan bagi konsumen. (3)
Tidak hanya itu, pengetahuan yang baik pun perlu disertai dengan praktik konsisten
di lapangan, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara pemahaman teori dan
implementasinya.
2. Penerapan Hygiene dan Sanitasi
Standar higiene dan sanitasi mencakup seluruh tahapan penyelenggaraan makanan,
mulai dari penerimaan bahan baku hingga penyajian. Ketidaksesuaian prosedur pada
salah satu tahap dapat membuka peluang terjadinya kontaminasi. (4)
Oleh karena itu, penerapan prinsip sanitasi secara menyeluruh, seperti pemilihan bahan yang aman, kebersihan alat masak, cuci tangan, serta penyimpanan pada suhu yang tepat, menjadi prasyarat utama untuk mengendalikan risiko gangguan
kesehatan dan memastikan makanan yang disajikan tetap aman dan berkualitas.
3. Pelatihan dan Edukasi Berkelanjutan
Pelatihan dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan berperan penting dalam meningkatkan pemahaman serta kepatuhan penjamah makanan terhadap prinsip keamanan pangan. (3)
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa edukasi food safety tidak hanya
meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap positif petugas dalam
praktik sehari-hari. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, penjamah
makanan dapat menyajikan makanan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga aman untuk dikonsumsi.
4. Pengawasan dan Regulasi
Pengawasan dan regulasi keamanan pangan dilakukan pada seluruh tahapan
penyelenggaraan makanan, mulai dari perencanaan, proses pelaksanaan, hingga
evaluasi, dengan pendekatan berbasis risiko untuk memprioritaskan potensi bahaya yang paling besar.
Dalam program pemberian makanan berskala besar, pemerintah menegaskan bahwa
penerapan standar dan pengawasan yang kuat di setiap tahap merupakan salah satu
kunci untuk melindungi konsumen, terutama kelompok rentan, dari risiko keracunan
dan penyakit akibat pangan yang tidak aman. (5)
Menu Seimbang & Keamanan Pangan, Kombinasi yang Tak Bisa Dipisahkan
Penting dipahami dan dijadikan prinsip, bahwa pangan hanya bisa dianggap baik jika
aman untuk dikonsumsi. Makanan yang tidak aman bukanlah pangan yang layak
karena berpotensi membahayakan kesehatan.
Menu seimbang berperan dalam mencukupi kebutuhan zat gizi tubuh, sementara
keamanan pangan memastikan makanan tersebut tidak menyebabkan penyakit atau
risiko kesehatan.
Jika salah satu aspek ini diabaikan, maka kualitas penyelenggaraan makanan akan
menurun. Oleh karena itu, menu seimbang dan keamanan pangan harus berjalan
beriringan sebagai satu kesatuan dalam mewujudkan penyelenggaraan makanan
yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab.
Yuk, mulai perkuat penyelenggaraan makanan dari dapur. Tingkatkan pemahaman
penjamah makanan, terapkan prinsip higiene secara konsisten, dan pastikan setiap
menu seimbang yang disajikan juga aman untuk dikonsumsi. Kualitas makanan
institusi tidak hanya diukur dari gizinya, tetapi juga dari keamanannya.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian [Internet]. 28 Jun 2024 [cited 2026 Jan 11]. Available from:
https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang
Badan Pangan Nasional. Keamanan pangan [Internet]. Badan Pangan Nasional;[updated 2026; cited 2026 Jan 11]. Available from:
https://badanpangan.go.id/wiki/keamanan-pangan
Miko, A., & Arrisa, G. Pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga penjamah makanan dalam persiapan makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Yulidin Away Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal PADE: Pengabdian & Edukasi [Internet], 2023;5(1). 22–27. Available from:
https://doi.org/10.3390/nu13030886
Fauziah, R., & Suparmi, S. Penerapan hygiene sanitasi pengelolaan makanan dan pengetahuan penjamah makanan. Jambura Health and Sport Journal [Internet], 2022;4(1). 11–18. Available from: https://doi.org/10.37311/jhsj.v4i1.13469
Zazili, A. Urgensi pengawasan keamanan pangan berbasis sistem manajemen risiko bagi perlindungan konsumen. Supremasi Hukum: Jurnal Penelitian Hukum [Internet], 2019;28(1). 57–70. Available from:
https://ejournal.unib.ac.id/supremasihukum/article/download/6760/pdf/13365
Pada era serba digital ini, makanan tidak lagi sekadar berfungsi sebagai
pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup serta
pembentuk identitas masyarakat di ranah digital. Berbagai tren makanan viral
bermunculan, mulai dari meal prep sebagai solusi hidup praktis dan sehat. Jajanan
street food yang menggoda selera, hingga makanan online yang dapat dipesan
hanya dengan beberapa sentuhan layar. Namun, di balik popularitas tersebut,
muncul pertanyaan penting: seberapa amankah makanan-makanan viral ini
ditinjau dari aspek food safety?
Pentingnya Food Safety di Tengah Tren Makanan
Keamanan pangan (food safety) merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan pencemaran biologis, kimia, maupun benda asing yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan Kesehatan
(1). Salah satu aspek utama dalam food safety adalah proses pemilihan bahan,
penyimpanan, hingga pengolahan makanan yang tepat. Di tengah tren makanan
viral yang menekankan kecepatan, estetika, dan harga terjangkau. Pada aspek
keamanan pangan sering kali kurang mendapat perhatian. Padahal, kesalahan
kecil dalam proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi makanan dapat menyebabkan keracunan pangan dan penyakit bawaan makanan (foodborne
disease).
Tren Meal Prep: Praktis tapi Perlu Waspada
Meal prep (meal preparation) merupakan proses perencanaan dan penyiapan
makanan dalam jumlah besar untuk dikonsumsi selama beberapa hari ke depan.
Praktik ini bertujuan untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Meal prep ini
banyak diterapkan oleh masyarakat urban dengan aktivitas padat (2). Namun, di
balik kepraktisannya, meal prep tetap memiliki potensi risiko keamanan pangan apabila proses pengolahan dan penyimpanannya tidak dilakukan dengan benar.
1.Beberapa potensi bahaya yang perlu diperhatikan antara lain:
Suhu penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar
Penggunaan wadah makanan yang tidak higienis
Pemanasan ulang makanan yang tidak merata dapat menimbulkan pertumbuhan bakteri seperti Salmonella dan Listeria monocytogenes
2. Langkah-langkah penyimpanan dan pengolahan makanan yang aman
meliputi:
Memasak makanan hingga matang sempurna
Menyimpan makanan pada suhu di bawah 5°C
Mengonsumsi makanan sesuai dengan batas waktu aman
Memastikan pemanasan ulang dilakukan secara merata sebelum dikonsumsi
3.Rekomendasi penggunaan wadah makanan:
Gunakan wadah kaca karena lebih higienis, ramah lingkungan, dan tidak menyerap bau atau bahan kimia
Jika menggunakan wadah plastik hanya untuk penyimpanan dingin, tidak boleh dipanaskan (microwave), dan sebaiknya dipilih yang berlabel food grade
Makanan yang disimpan di dalam freezer tetap perlu diperhatikan masa simpannya. Sebelum dikonsumsi, makanan beku harus dicairkan dan dipanaskan kembali secara menyeluruh agar aman dan layak dikonsumsi. Dengan menerapkan kebiasaan ini, risiko gangguan kesehatan akibat makanan dapat diminimalkan secara signifikan (3).
Street Food: Lezat, Terjangkau, dan Berisiko?
Street food merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Indonesia.
Makanan kaki lima kerap menjadi viral karena keunikannya serta harganya yang
terjangkau. Namun demikian, aspek kebersihan lingkungan, kualitas air, dan
higiene penjamah makanan masih menjadi tantangan utama dalam menjaga
keamanan pangan street food. Paparan debu dan asap kendaraan, serta penggunaan peralatan yang tidak bersih, dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
Selain itu, penggunaan minyak goreng secara berulang dan bahan tambahan
pangan yang tidak terkontrol juga berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi
kesehatan. Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk memilih penjual yang
menjaga kebersihan, menggunakan sarung tangan atau clemek, serta menyajikan
makanan dalam kondisi panas (4
).
Makanan Online: praktis , tapi apakah Aman?
Layanan pesan-antar makanan online berkembang pesat seiring perubahan gaya
hidup masyarakat. Meskipun praktis, proses pengantaran yang memerlukan waktu
cukup lama dapat memengaruhi kualitas dan keamanan makanan. Suhu makanan yang tidak terjaga selama perjalanan dapat menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhan bakteri. Kurangnya penyimpanan suhu dingin yang memadai berisiko menyebabkan berkembangnya bakteri patogen seperti Escherichia coli (E.coli), yang dapat menimbulkan diare bahkan berdarah disertai kram perut akut
selama tiga hingga tujuh hari setelah infeksi. Oleh sebab itu, makanan yang telah dimasak sebaiknya tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam.
Selain faktor suhu, kemasan makanan yang tidak kedap udara atau tidak food-grade juga berpotensi mencemari makanan. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memastikan penggunaan kemasan yang aman serta sistem pengantaran yang mampu menjaga suhu makanan. Sementara itu, konsumen disarankan untuk segera mengonsumsi makanan setelah diterima dan menghindari penyimpanan terlalu lama pada suhu ruang (5).
Peran Konsumen dan Pelaku Usaha
food safety menjadi kunci di era makanan viral saat ini. Dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan praktik yang tepat, tren makanan dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.
Tren meal prep, street food, dan makanan online tidak selalu berbahaya apabila dikelola dengan baik dan memperhatikan prinsip food safety. Di era makanan viral, keamanan pangan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar rasa dan tampilan. Dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama, makanan viral dapat dinikmati secara aman, sehat, dan nyaman.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kutresnaningdian F. Peran kesadaran kesehatan dan perhatian pada
keamanan makanan terhadap sikap dan minat konsumen dalam membeli makanan organik. Jurnal Ilmu Manajemen. 2012;2(1):44-58. doi:https://doi.org/10.32502/jimn.v2i1.334. https://jurnal.um-
palembang.ac.id/ilmu_manajemen/article/view/334
Hasriani, Sitti K, Arwati S. Edukasi Food Preparation Yang Tepat Dalam Menghadapi Era New Normal Pandemi Covid-19 Pada Kelompok Rumah Tangga Di Kelurahan Bontomanai, Kec. Bontomarannu, Kab. Gowa. Jurnal Abdimas Indonesia. 2022;2(1):46-53. https://dmi-
journals.org/jai/article/view/165
Klein L, MBA, Parks K. Home Meal Preparation : A Powerful Medical
Intervention. Am J Lifestyle Med. 2020;14(3):282 –285. doi:10.1177/1559827620907344. https://harvardlifestylemedicine.org/wp-content/uploads/2020/03/Home-Meal-Preparation-A-Powerful-Medical-
Intervention.pdf
Permatasari I, Handajani S, Sulandjari S, Faidah M. Faktor Perilaku Higiene Sanitasi Makanan Pada Penjamah Makanan Pedagang Kaki Lima. Jurnal Tata
Boga. 2021;10(2):223-233. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata-boga/article/view/38450
Aprilianti I, Amanta F. Memajukan Keamanan Pangan pada Layanan Pesan Antar Makanan Daring di Indonesia. Makalah Kebijakan No 28. 2020;(28). https://repository.cips-indonesia.org/media/publications/324009-memajukan-keamanan-pangan-pada-layanan-p-44c2caa4
Food waste bukan tentang masalah lingkungan saja tetapi juga masalah ekonomi dan gizi. Ketika kita di dapur dan ingin memasak, lalu kita membuang kulit, batang serta daun dari bahan makanan bukan hanya menyia-nyiakan uang tetapi juga membuang nutrisi penting di dalam kulit, batang hingga daun bahan makanan. Padahal, bagian makanan yang kita buang paling
kaya akan serat, antioksidan dan vitamin. Kira-kira nutrisi apa saja sih yang terkandung di dalam nya? Bagaimana caranya kita mengurangi food waste di dapur?
Bagian Sisa Makanan yang Penuh Nutrisi
Tanaman memiliki senyawa pelindung pada bagian yang paling rentan terhadap kerusakan seperti kulit dan batang. Kulit buah dan sayur serta batang memiliki kandungan antioksidan dan serat yang jauh lebih tinggi daripada daging buah itu sendiri.
Contoh:
Kulit Apel
Apel merupakan salah satu buah yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia
karena apel ada di segala musim, tahan lama dan tidak mudah busuk.(1) Buah apel ini juga baik untuk kesehatan karena terdapat banyak sekali kandungan yang sangat baik dan sangat bagus untuk dikonsumsi, maka dari itu kita dapat mengonsumsi apel untuk makanan sehari-hari. Apabila kita memakan buah apel, lebih baik tidak mengupas kulit buah apel karena kulit buah apel memiliki banyak serat daripada dagingnya yang termasuk ke dalam serat tidak larut air, selain serat, kulit buah apel memiliki kandungan quersetin. Quersetin ini memiliki manfaat dalam melindungi tubuh dari beberapa
penyakit degeneratif dengan mencegah terjadinya proses peroksidasi lemak. (2)
Kulit Kentang
Kentang adalah salah satu sumber karbohidrat yang memiliki manfaat dalam
pembentukan sel darah merah dan mencegah penyakit beri-beri. (6) Kentang memiliki
kulit yang juga berfungsi sebagai antioksidan yang dimana sebagai penangkal radikal bebas yang dapat membuat kerusakan tubuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan kanker. Kulit kentang juga memiliki kandungan zat besi yang cukup banyak serta kalium dan serat tidak larut air yang dimana bermanfaat dalam menstimulasi kerja saluran pencernaan dan dapat membuang air besar secara teratur. (7)
Kulit Jeruk/Lemon
Jeruk merupakan jenis buah yang banyak dikonsumsi dan disukai semua kalangan.
Jenis jeruk yang dijumpai di Indonesia adalah jeruk manis, jeruk lemon, jeruk nipis dan jeruk bali. (3) Contoh hal jeruk lemon, jeruk lemon memiliki kulit yang dapat membantu sebagai antioksidan dan mampu menyerap sinar UVA dan UVB yang dapat menyebabkan efek buruk bagi kulit. (4) Selain itu, kulit jeruk lemon memiliki
kandungan vitamin c yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, memperlancar pencernaan
serta menyeimbangkan pH tubuh. (5)
Batang Brokoli
Brokoli merupakan salah satu jenis sayuran yang juga memiliki manfaat terhadap kesehatan. Brokoli memiliki batang yang kaya akan serat yang dimana perannya dalam
menyehatkan usus.
Langkah Praktis dalam Mengurangi Food Waste di Dapur
Jangan membuang batang brokoli, kupas saja bagian luar yang keras lalu iris tipis dan dapat dimasukkan ke dalam tumisan. Karena batang brokoli kaya akan serat
Cuci bersih dan panggang kulit kentang dengan sedikit minyak zaitun dan garam yang akan menghasilkan camilan renyah yang kaya akan zat besi.
Parut kulit buah lemon bagian berwarna karena bagian ini memiliki antioksidan yang bisa ditambahkan ke dalam teh atau salad.
Cara yang Paling Efisien dalam Memanfaatkan Sisa-Sisa Bahan Makanan dengan
Mengubah Menjadi Makanan atau Minuman yang Fungsional
Kumpulkan semua sisa sayuran lalu rebus dengan air selama 1-2 jam dan akan menghasilkan cairan yang dapat digunakan sebagai dasar sup atau tumisan.
Masukkan kulit apel ke dalam blender lalu buat menjadi smoothie kulit apel yang kaya akan serat dan vitamin.
Walaupun kulit dan batang dari buah dan sayur dapat kita manfaatkan karna dapat memberikan efek ke kesehatan bagi tubuh kita sendiri, tetapi kita juga harus mengutamakan kebersihan dan keamanan dari sisa bahan makanan tersebut dengan cara membeli buah atau sayur dengan versi
organiknya, mencuci bersih kulit buah atau sayuran secara menyeluruh dengan air mengalir dan sikat khusus sayuran/buah, kita harus bisa menjaga kesegaran dari sisa bahan makanan tersebut dengan menggunakan sisa makanan segera dan jangan menyimpan sisa tersebut di suhu ruang terlalu lama.
Dalam kita mengurangi food waste di dapur secara rutin maka akan membentuk kebiasaan yang baik sehari-harinya karena selain kita menghemat uang, kita juga bisa memanfaatkan nutrisi yang terkandung di dalam sisa bahan makanan tersebut yang kaya akan zat gizi. Oleh karena itu, yuk mulai untuk mengurangi food waste dari sisa bahan makanan tersebut ke dalam
masakan atau minuman kita.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Putra, E., Vebrina, D., Pohan, R.A., Siregar, N.W & Napitupulu, C. Pemanfaatan Limbah Kulit Apel
Menjadi Makanan Bernilai Ekonomis. Jurnal Adam: Jurnal Pengabdian Masyarakat. 2023: 2(2).
Waji, R.A & Sugrani, A. Flavonoid (Quercetin). Makalah. Program S2 Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin. 2009.
Saputri, R.W., Badawi, S & Kuncoro, H. Potensi Antiradikal Bebas DPPH dan Tabir Surya Ekstrak
Tunggal dan Kombinasi Kulit Jeruk Lemon dan Kulit Jeruk Manis. Jurnal Farmasi Higea. 2022:14(2)
Rahmadita, A.N & Prabawati, S.Y. Aktivitas Antioksidan dan Tabir Surya Ekstrak Metanol Daun Kacapiring. Indonesia Journal of Halal Science. 2020: 1(2), 54-59.
Nianti, E.E., Dwiloka, B & Setiani, B.E. Perubahan Derajat Kecerahan, Kekenyalan, Vitamin C dan
Sifat Organoleptik pada Permen Jelly Kulit Jeruk Lemon. Jurnal Teknologi Pangan. 2018: 2(1), 64-69.
Widyastuti, R & Kunsah, B. Bioaktivitas Kulit Kentang Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin
secara In Vivo. Jurnal Labora Medika. 2017: 1(2), 30-33.
Khomsan, A. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2009.