Dari sekian banyak tren pola makan yang dikenal di dunia, pola makan vegan seringkali masih menjadi perdebatan. Hasil survei oleh IPSOS Global Market Research menyatakan bahwa pada tahun 2018 sebanyak 3% dari populasi dunia telah menerapkan pola makan ini. Populasi ini diperkirakan akan terus meningkat berkat pengaruh dari berbagai edukasi yang menekankan berbagai manfaat pola makan vegan itu sendiri, salah satunya manfaat untuk kesehatan mental. Memangnya pola makan vegan bisa menghindarkan kita dari stres, depresi, atau kecemasan? Yuk kita bahas dari sudut pandang gizi!

Kenal lebih dekat dengan veganisme

Veganisme merupakan suatu praktik pola hidup yang menghindari penggunaan ataupun konsumsi produk hewani. Praktik ini sudah diterapkan oleh tokoh-tokoh di masa lampau seperti Siddhartha Gautama dan Pythagoras, namun terminologi “Vegan” baru ditetapkan pada tahun 1944 oleh seorang advokat di Inggris. Pada mulanya pola makan vegan ini berfokus pada menghindari konsumsi daging karena penyembelihan hewan dianggap sebagai perbuatan yang “menyiksa”.(1) Meski begitu, seiring berjalannya waktu banyak orang yang menjalankan pola makan ini dengan alasan kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan. Saat ini pun terdapat berbagai jenis dan terminologi yang digunakan di tengah masyarakat dalam praktik veganisme ini, antara lain vegan (tidak mengonsumsi produk hewani sama sekali), vegetarian (mengonsumsi susu, telur, dan madu), laktovegetarian (mengonsumsi susu/produk turunannya), lakto-ovo-vegetarian (mengonsumsi telur dan susu/produk turunannya), dan peskatarian (mengonsumsi ikan dan kerang-kerangan).(2)

Apa benar orang vegan/vegetarian cenderung tidak mudah stres?

Penelitian mengenai efek pola makan vegan/vegetarian terhadap stres dan depresi telah banyak dilakukan dan masih berjalan hingga saat ini. Sama hal nya dengan perdebatan mengenai manfaat pola diet vegan bagi bumi, perdebatan mengenai efek pola makan ini terhadap kesehatan mental juga belum menemukan titik temu, dilihat dari banyaknya hasil penelitian yang menunjukan hasil yang kontradiktif.(3) Umumnya pola makan vegan berfokus pada pemanfaatan tanaman seperti serealia dan kacang-kacangan sebagai sumber protein, serta konsumsi sayur dan buah yang tinggi. Pola makan ini cenderung kaya akan karbohidrat, yang dalam konsumsinya mampu meningkatkan kadar insulin dalam darah. Dalam kasus ini insulin berperan penting dalam sintesis serotonin, suatu hormon neurotransmiter yang berperan mengatur suasana hati, emosi, dan fungsi tubuh lainnya.(4) Selain itu, secara spesifik peningkatan asupan serat pada pola makan vegan juga mampu memperbaiki dan meningkatkan mikrobiota usus. Penelitian menunjukan bahwa kualitas dan kuantitas mikrobiota usus yang baik mampu meningkatkan fungsi otak seperti memperbaiki daya ingat dan kognisi emosional.(5)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-47

Alasan paling kuat yang mendasari hubungan pola makan vegan dengan rendahnya resiko depresi adalah tingginya konsumsi buah dan sayur. Buah dan sayur dikenal akan kandungan antioksidan baik dalam bentuk vitamin maupun senyawa fitokimia.(6) Kuersetin, salah satu fitokimia yang hanya dapat ditemukan pada sumber pangan nabati diketahui mampu mempertahankan kadar serotonin, dopamin, dan norepinefrin pada otak yang berfungsi untuk menjaga dan memperbaiki mood.(7) Antioksidan sendiri secara luas dikenal akan sifat anti-inflamasi nya, tak terkecuali inflamasi pada otak yang berpotensi menyebabkan depresi dan anxiety.(8,9) Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebiasaan konsumsi daging yang dikenal mengandung omega-6 dan asam lemak jenuh tinggi yang berpotensi menyebabkan neuroinflamasi.(10) Meskipun fakta-fakta di atas benar adanya, bukti-bukti lain menunjukan bahwa individu yang mengonsumsi sumber hewani dalam makanan sehari-hari memiliki resiko mengalami anxiety dan gejala-gejala depresi lebih rendah dibandingkan dengan vegan.(3) Loh kok bisa?

B12 dan Omega-3, zat gizi esensial untuk kesehatan mental

Individu yang menerapkan pola makan vegan cenderung kekurangan asupan vitamin B12 dan Omega 3, yang merupakan zat gizi esensial untuk mencegah maupun mengatasi penyakit psikologis seperti depresi dan anxiety.(11,12) Vitamin B12 bersama dengan Vitamin B6 (asam folat) bekerja bersama-sama untuk mensintesis neurotransmiter (serotonin, dopamin, dll) pada otak.(13) Sedangkan asam lemak omega-3 khususnya DHA merupakan komponen penyusun otak yang juga memiliki peran dalam peningkatan kerja neurotransmiter, pemeliharaan saraf, menghambat neurodegradasi, bahkan memperbaiki sirkulasi darah di otak.(14,15). Sayangnya, baik vitamin B12 maupun Omega-3 hanya ditemukan dalam jumlah yang cukup di sumber hewani seperti daging sapi, ayam, telur, dan ikan. Selain itu jenis zat gizi esensial bagi sekresi neurotransmiter tertentu seperti zat besi diketahui memiliki bioavailabilitas yang berbeda di setiap sumbernya. Zat besi dari sumber hewani akan lebih mudah diserap dan secara otomatis dapat memenuhi kebutuhan zat besi harian dibandingkan dari sumber nabati.(16)

Stop berdebat, yuk hidup sehat!!

FOTO ARTIKEL WEBSITE-48

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa pada dasarnya baik pola makan vegan, vegetarian, maupun pola makan omnivora semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing untuk kesehatan kita. Perlu kita ingat juga bahwa pola makan bukan satu-satunya faktor penentu kondisi kesehatan mental kita, melainkan bagaimana kebiasaan sehari-hari kita. Yuk, ikuti tips ini supaya kita tidak mudah stres :

  1. Hindari terlalu sering mengonsumsi makanan yang menyebabkan inflamasi seperti makanan tinggi lemak (goreng-gorengan, junk food,dll) dan tinggi gula tambahan.
  2. Ikuti pedoman isi piringku yang bisa anda penuhi baik dari sumber nabati maupun hewani, tambahkan suplemen jika memang diperlukan.
  3. Tingkatkan kualitas istirahat anda, jika menemui kesulitan dalam tidur bisa meminta bantuan tenaga kesehatan terpercaya.
  4. Lakukan aktivitas fisik sedang seperti berjalan kaki, berkebun, bersepeda, dan kegiatan-kegiatan lainnya.
  5. Hindari kebiasaan berdiam diri seharian, perbanyak aktivitas dan bersosialisasi yang bisa memberi manfaat bagi diri anda.

Pada hakikatnya, hidup sehat adalah pilihan. Kesehatan, baik fisik maupun mental bisa tercapai melalui berbagai cara dan dapat disesuaikan dengan kepercayaan dan kemampuan kita pastinya. Yang penting adalah konsistensi dan usaha untuk sama-sama hidup sehat. Salam sehat!!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Suzan Colon. Veganism [Internet]. Britannica. 2024 [cited 2025 Jan 14]. Available from: https://www.britannica.com/topic/veganism
  2. Chen C, Chaudhary A, Mathys A: Dietary change scenarios and implications for environmental, nutrition, human health and economic dimensions of food sustainability. Nutrients. 2019, 11:856.10.3390/nu11040856.
  3. Jain R, Larsuphrom P, Degremont A, Latunde-Dada GO, Philippou E. Association between vegetarian and vegan diets and depression: A systematic review. Nutr Bull. 2022 ;47(1):27-49. doi: 10.1111/nbu.12540. Epub 2022 Jan 19. PMID: 36045075.
  4. Richard, D.M., Dawes, M.A., Mathias, C.W., Acheson, A., Hill-Kapturczak, N. & Dougherty, D.M. L-tryptophan: basic metabolic functions, behavioral research and therapeutic in-dications. International Journal of Tryptophan Research, 2009; 2: 45– 60.
  5. Raman M, Vishnubhotla R, Ramay HR, Gonçalves MCB, Shin AS, Pawale D, Subramaniam B, Sadhasivam S. Isha yoga practices, vegan diet, and participation in Samyama meditation retreat: impact on the gut microbiome & metabolome - a non-randomized trial. BMC Complement Med Ther. 2023 Apr 5;23(1):107. doi: 10.1186/s12906-023-03935-8.
  6. Zhu, F.; Du, B.; Xu, B. Anti-inflammatory effects of phytochemicals from fruits, vegetables, and food legumes: A review. Crit. Rev. Food Sci. Nutr. 2018, 58, 1260–1270.
  7. Dixon Clarke, S.E. & Ramsay, R.R. Dietary inhibitors of monoamine oxidase A. Journal of Neural Transmission. 2011; 118: 1031–1041.
  8. Dantzer, R., O'Connor, J.C., Freund, G.G., Johnson, R.W. & Kelley,K.W. From inflammation to sickness and depres-sion: when the immune system subjugates the brain. NatureReviews Neuroscience. 2008; 9: 46– 56.
  9. Firth, J.; Veronese, N.; Cotter, J.; Shivappa, N.; Hebert, J.R.; Ee, C.; Smith, L.; Stubbs, B.; Jackson, S.E.; Sarris, J. What Is the Role of Dietary Inflammation in Severe Mental Illness? A Review of Observational and Experimental Findings. Front. Psychiatry 2019, 10, 350.
  10. Regulska, M., Szuster- Głuszczak, M., Trojan, E., Leśkiewicz, M.& Basta-Kaim, A. The emerging role of the double-edged impact of arachidonic acid- derived eicosanoids inthe neuroinflammatory background of depression. CurrentNeuropharmacology. 2021; 19(2): 278–293
  11. Woo, K.S.; Kwok, T.C.; Celermajer, D.S. Vegan Diet, Subnormal Vitamin B-12 Status and Cardiovascular Health. Nutrients 2014, 6, 3259–3273.
  12. Lakin, V.; Haggarty, P.; Abramovich, D.; Ashton, J.; Moffat, C.; McNeill, G.; Danielian, P.; Grubb, D. Dietary intake and tissue concentration of fatty acids in omnivore, vegetarian and diabetic pregnancy. Prostaglandins Leukot. Essent. Fat. Acids 1998, 59, 209–220.
  13. Hutto BR: Folate and cobalamin in psychiatric illness . Compr Psychiatry. 1997, 38:305-14. 10.1016/s0010- 440x(97)90925-1.
  14. Wang L, Fan H, He J, Wang L, Tian Z, Wang C: Protective effects of omega-3 fatty acids against Alzheimer's disease in rat brain endothelial cells. Brain Behav. 2018, 8:e01037. 10.1002/brb3.1037.
  15. Dighriri IM, Alsubaie AM, Hakami FM, Hamithi DM, Alshekh MM, Khobrani FA, Dalak FE, Hakami AA, Alsueaadi EH, Alsaawi LS, Alshammari SF, Alqahtani AS, Alawi IA, Aljuaid AA, Tawhari MQ. Effects of Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids on Brain Functions: A Systematic Review. Cureus. 2022 ;14(10):e30091. doi: 10.7759/cureus.30091. PMID: 36381743; PMCID: PMC9641984.
  16. WHO . Nutritional Anaemias: Tools for Effective Prevention. WHO; Geneva, Switzerland: 2017.

Kesehatan fisik umumnya berhubungan dengan asupan gizi yang dikonsumsi. Ketidakseimbangan zat gizi dapat menyebabkan gangguan pada organ yang akhirnya mempengaruhi aktivitas dan produktivitas. Namun, beberapa studi mengungkapkan bahwa asupan gizi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Gizi vs Kesehatan Mental

Hubungan gizi dengan kesehatan mental cenderung bersifat dua arah. Gizi dapat mempengaruhi kesehatan mental, sedangkan kesehatan mental dapat mempengaruhi pola makan dan status gizi. Contohnya ketidakmampuan atau kurangnya motivasi untuk membeli atau menyiapkan makanan sehat, pemilihan makanan yang dapat meningkatkan suasana hati seperti makanan manis , perubahan tingkat aktivitas fisik, dan kemungkinan interaksi dengan obat-obatan psikiatris merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan pola makan seseorang berubah seiring dengan perkembangan kesehatan mental yang buruk (1). Beberapa studi menyebutkan bahwa konsumsi makanan sehat dapat menjaga kesehatan fisik dan mental seseorang (2,3,4). Pola konsumsi makanan bergizi

dengan intensitas tinggi pada buah, sayur, makanan laut serta kacang- kacangan dan sangat membatasi makanan olahan, lemak jenuh, gula dan natrium dikaitkan dengan adanya peningkatan kesehatan mental (5,6,7).

Upaya Pencegahan dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Mental

Beberapa zat gizi yang dapat dioptimalkan untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental yaitu asam lemak omega 3, asam folat, asam amino, vitamin B12, Vitamin A,C,D dan E, Zink, dan Probiotik (8,9)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-45
1. Asam lemak omega 3

Makanan yang mengandung omega 3 dapat meningkatkan fungsi otak serta menjaga selubung myelin yang melindungi sel saraf. Zat gizi ini dapat ditemukan pada aneka jenis ikan seperti ikan tuna, ikan kembung, ikan makarel serta bahan makanan lain seperti chiaseed.

2. Asam Folat

Asam folat berperan dalam melindungi dan memelihara sel saraf pada otak sehingga membantu mengurangi risiko gejala gangguan mental. Zat gizi ini dapat ditemukan pada alpukat, sayuran hijau seperti bayam, buncis, asparagus, dan hati.

3. Asam amino (protein)

Peran asam amino adalah memperbaiki sel yang rusak. Mengkonsumsi protein dalam jumlah cukup membantu seseorang merasa lebih baik karena salah satu jenis asam amino yang disebut “Triptofan” dapat membantu meningkatkan hormon “Serotonin”. Protein dapat ditemukan dalam telur, daging, makanan laut, susu, kedelai, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

FOTO ARTIKEL WEBSITE-46
4. Vitamin

Vitamin B12 berperan dalam memelihara sel saraf. Vitamin A, C, dan E yaitu sebagai antioksidan yang membantu menghilangkan radikal bebas. Vitamin A dapat ditemukan pada wortel, labu kuning, dan brokoli. Vitamin C dapat ditemukan pada kiwi, jambu, tomat, dan jeruk. Sedangkan vitamin E dapat ditemukan pada biji-bijian dan kacang-kacangan. Vitamin D berperan dalam memperbaiki gejala depresi dan dapat diperoleh dari makanan ataupun sinar matahari.

5. Zink

Zink berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh dan menurunkan depresi. Zink dapat membantu obat antidepresan bekerja lebih efektif dan dapat ditemukan pada beberapa jenis bahan makanan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, seafood, dan daging tanpa lemak.

6. Probiotik

Probiotik membantu meningkatkan jumlah bakteri baik di usus. Mikrobiota yang sehat dapat mengurangi gejala serta risiko munculnya depresi yang dikaitkan dengan gangguan makan. Contoh makanan yang mengandung probiotik adalah yogurt dan kefir.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Nutrition and mental health: bidirectional associations and multidimensional measures.. Public Health Nutrition, 21(5). 2018
  2. Adan, R. A. H. et al. ‘Nutritional psychiatry: Towards improving mental health by what you eat’, European Neuropsychopharmacology. Elsevier B.V., pp. 1321–1332. 2019
  3. Chung, L. Eating for Mental Health and Wellbeing. 2021 Available at: https://www4.erie.gov/universityexpress/sites/www4.erie.gov.universityexpress/files/20 21-09/eating-formental-health-and-wellbeing-pdf.pdf
  4. MooDFOOD.‘Eating for Mental Health Preventing Depression Through Food’, www.moodfood-vu.eu. 2013. Available at: www.moodfood-vu.eu
  5. Hosker, D. K., Elkins, R. M. and Potter, M. P. Promoting Mental Health and Wellness in Youth Through Physical Activity, Nutrition, and Sleep’, Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America. W.B. Saunders, pp. 2019. 171–193.
  6. Rucklidge, J. J. and Kaplan, B. J. ‘Nutrition and Mental Health’, Clinical Psychological Science, 4(6), pp. 1082–1084. 2016
  7. Schweren, L. J. S. et al. ‘Diet quality, stress and common mental health problems: A cohort study of 121,008 adults’, Clinical Nutrition, 40(3) 2016
  8. Desantis, N. Nutrition for Mental Health. Foundation For Female Health Awareness. 2020 https://femalehealthawareness.org/site/wp-content/uploads/2020/02/Nutrition-for- Mental-Health_FFHA2020.pdf
  9. Kristy, N. C. & Trias M. Mengoptimalkan Asupan Zat Gizi sebagai Upaya Preventif dalam Mengatasi Masalah Kesehatan Mental: Sebuah Tinjauan Literatur. Media Gizi Kesmas 11(2) 2022

Hai, sobat ilmugiziku, tahukah kalian konsumsi gula berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental? Konsumsi gula berlebihan memiliki dampak negatif pada mekanisme yang kompleks dalam tubuh meliputi neurologis dan metabolisme. Hal ini menimbulkan berbagai gangguan kesehatan baik secara fisik maupun mental.

Hubungan Gula dengan Efek Adiktif

Gula yang dikonsumsi akan merangsang reseptor opiat di otak dan memicu stimulasi nucleus accumbens. Nucleus accumbens merupakan bagian otak otak yang berhubungan dengan penguatan perilaku dan mengaktifkan sistem dopaminergik. Stimulasi ini melepaskan dopamin dan serotonin yang memengaruhi suasana hati. Mekanisme saraf yang terjadi ini sama dengan kecanduan zat adiktif lainnya yang berhubungan dengan perubahan tingkat toleransi. Reseptor dopamin menjadi kurang sensitif sehingga memerlukan lebih banyak gula dalam menghasilkan jumlah dopamin yang sama, dan memperberat kondisi kecanduan gula. Tanda dan gejala yang muncul seperti peningkatan asupan hingga over consumption, penarikan diri (withdrawal), dan mengidam (cravings) (1,2)

Hubungan Gula dengan Depresi

Berbagai studi menunjukkan pola konsumsi tinggi gula berhubungan dengan risiko depresi yang lebih tinggi. Konsumsi gula berlebihan berhubungan dengan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi melalui mekanisme fisiologis dengan meningkatkan reaktivitas sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenokortikal (HPA) yang menyebabkan peningkatan glukokortikoid dan kortisol. Kelainan pada sumbu HPA berpengaruh pada stres dan berbagai gangguan metabolik yang memicu stres oksidatif dan peradangan. Kelainan sumbu HPA dan peradangan menjadi mekanisme penting yang mendasari terjadinya depresi. (3,4) SD, Pola konsumsi tinggi tinggi secara berulang-ulang berpotensi menyebabkan disregulasi respons stres jangka panjang (3). Selain itu, asupan gula dapat mengubah mikrobiota usus yang terlibat dalam aktivitas sistem saraf pusat sehingga berhubungan dengan berbagai gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan respons terhadap stres (4).

Hubungan Gula dengan Obesitas

Reaktivitas sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenokortikal (HPA) yang disebabkan pola konsumsi tinggi gula juga berhubungan dengan berbagai gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2 dan obesitas (4). Obesitas terjadi karena konsumsi berlebihan makanan yang memberikan kepuasan seperti makanan dengan kandungan gula tinggi. Gula yang dikonsumsi juga dapat memicu sistem reward signal yang lebih kuat dibandingkan mekanisme kontrol diri sehingga konsumsi gula berlebihan berdampak pada hilangnya kontrol diri yang menyebabkan obesitas. Keinginan untuk makan diatur nukleus arkuatus hipotalamus yang saling berhubungan dengan sistem limbik dan korteks serebral yang mengatur emosi (5).

FOTO ARTIKEL WEBSITE-43

Pola konsumsi tinggi gula berdampak pada efek adiksi, depresi, hingga obesitas saling berhubungan dan memperparah satu sama lain. Sehingga konsumsi dalam batas wajar sangat penting menjaga regulasi sistem saraf dan hormon yang berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental yang baik.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Malik, V.S., Hu, F.B. The role of sugar-sweetened beverages in the global epidemics of obesity and chronic diseases. Nat Rev Endocrinol, 2022; 18: 205–218
  2. Fawzi, N., El-Deen, D. S. (2018). Assessment of Sugar Addiction among Non-Diabetic Patients.
  3. Harrell, C. S. et al. High-fructose diet during periadolescent development increases depressive-like behavior and remodels the hypothalamic transcriptome in male rats. Psychoneuroendocrinology, 2015; 62: 252–264.
  4. Zhang L, Sun H, Liu Z, Yang J, Liu Y. Association between dietary sugar intake and depression in US adults: a cross-sectional study using data from the National Health and Nutrition Examination Survey 2011-2018. BMC Psychiatry. 2024;24(1):110.
  5. Jacques, A., et al. The impact of sugar consumption on stress driven, emotional and addictive behaviors. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 2019; 103: 178-199

Perubahan gaya hidup dan pola makan menjadikan negara Indonesia mengalami transisi epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular sudah menjadi penyebab kematian lebih dari 7,03 juta orang setiap tahunnya, atau setara dengan 87,1% dari total kematian di Indonesia. (1) Bukankah ini angka yang sangat fantastis sobat ilmugiziku? mengingat setiap tahun menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Berbagai upaya penanganan gizi dilakukan untuk meningkatkan angka harapan hidup, mengontrol gejala penyakit dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi. Lalu bagaimana penjelasan detailnya? Yuk, disimak melalui penjelasan berikut ini!

Sebelum sobat ilmugiziku belajar mengenai strategi penanganan gizi penyakit tidak menular. Alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu 3 penyakit tidak menular yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Berikut penjelasannya!

1. Stroke

Sobat ilmugiziku, tahukah kalian jika stroke menempati urutan pertama penyakit tidak menular yang paling banyak diderita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 prevalensi masyarakat Indonesia yang mengalami stroke sebesar 8,3%. (2) Bahkan meningkat sangat pesat pada usia lansia yaitu sebesar 35,4% (65-74 tahun), dan 41,3% (75+ tahun). Jika mengacu pada data BPS, tahun 2023 penduduk Indonesia yang masuk dalam kategori lansia sebanyak 32,7 juta, itu berarti lebih dari 11,5 juta lansia mengalami stroke. (3) Stroke diketahui menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di seluruh dunia dan menjadi penyebab ketiga kecacatan pada lansia.

2. Hipertensi

Seseorang dikatakan hipertensi jika mempunyai tekanan darah diastolik sebesar ≥90 mmHg atau tekanan darah sistolik ≥140 mmHg. (4) Hipertensi menempati urutan kedua penyakit tidak menular yang paling banyak diderita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 prevalensi hipertensi sebesar 8%. Lagi-lagi meningkat pada usia lansia 23,8% (65-74 tahun), dan 26,1% (75+ tahun). (2) Itu artinya, lebih dari seperempat lansia di Indonesia menderita hipertensi.

FOTO ARTIKEL WEBSITE-41

3. Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yaitu sebesar ≥200 mg/dL pada pemeriksaan gula darah sewaktu. Penyakit ini menempati urutan ketiga penyakit tidak menular yang paling banyak diderita di Indonesia. Data terakhir menyatakan bahwa prevalensi diabetes mellitus sebesar 1,7%. (2) Meningkat 1% jika dibandingkan data pada Riskesdas tahun 2018. (5) Tren makanan dan minuman manis yang terus menerus menyasar berbagai kalangan, menyebabkan peningkatan risiko diabetes mellitus yang lebih tinggi.

Sebenarnya masih ada beberapa penyakit tidak menular yang prevalensinya
cukup tinggi di Indonesia. Penyakit tidak menular tersebut yaitu kanker (1,2%),
jantung (0,85%), dan Ginjal Kronis (0,18%). (2) Namun persentasenya tidak
setinggi penyakit stroke, hipertensi, dan diabetes mellitus.

Lantas Bagaimana Kiat dalam Penanganan Gizi Penyakit Tidak Menular?

Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu mengetahui jenis penyakit tidak menular yang diderita. Ini penting untuk melakukan upaya lebih dalam penanganan gizinya. Misalnya saja penyakit tidak menular gagal ginjal kronis, pada penyakit ini bukan hanya mengurangi konsumsi natrium namun juga harus memperhatikan asupan cairan. Sebab konsumsi cairan yang berlebih pada gagal ginjal kronis akan menyebabkan edema (pembengkakan). Untuk lebih jelasnya, simak upaya penanganan gizi penyakit tidak menular berikut ini!

1. Konsumsi Makanan dengan Gizi Seimbang

Gizi seimbang didefinisikan sebagai susunan pangan sehari-hari dengan jumlah dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan. Konsumsi gizi seimbang bukan hanya ditujukan untuk orang-orang sehat namun juga untuk berbagai penyakit tidak menular. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dapat meningkatkan angka harapan hidup, penelitian yang dilakukan Fadnes (2023) memperoleh hasil masyarakat yang mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang harapan hidupnya meningkat hingga 10 tahun. (6)

2. Batasi Konsumsi GGL (Garam, Gula, dan Lemak)

Pemerintah sebenarnya sudah mengatur batas aman konsumsi gula, garam, dan lemak di Indonesia. Upaya ini terdapat pada peraturan pemerintah No. 28 tahun 2024. Berdasarkan peraturan tersebut, konsumsi gula yang dianjurkan yaitu 50 gram (4 sdm), garam 2.000 mg (1 sdt), dan lemak 67 gram (5 sdm minyak goreng) per hari.(7) Pada penderita penyakit tidak menular, konsumsi GGL harus lebih rendah dibandingkan dengan batas maksimal yang ditetapkan pemerintah. Pada penyakit tidak menular konsumsi GGL yang tidak dibatasi akan memperparah penyakit. Contohnya saja penyakit diabetes, penyakit ini jika mengkonsumsi gula secara berlebihan akan berdampak pada kerusakan saraf, ginjal, bahkan pembuluh darah. Oleh karena itu, upaya penanganan gizi penyakit tidak menular yang tidak boleh di anggap remeh adalah pembatasan GGL.

3. Hindari Konsumsi Ultra Processed Food

Ultra processed food adalah berbagai jenis makanan atau minuman yang diolah industri dengan berbagai tambahan gula, garam, dan lemak dalam jumlah yang tinggi. Makanan atau minuman yang termasuk ultra processed food diantaranya frozen food, mie instan, kue, biskuit, roti, sereal, es krim, minuman soda, ciki-ciki seperti keripik, kentang dan masih banyak yang lainnya. Sobat ilmugiziku, tahu gak kenapa konsumsi ultra processed food harus dihindari dalam penanganan penyakit tidak menular? ya, ini bukan hanya ultra processed food mengandung tinggi gula, garam, dan lemak. Namun ternyata makanan dan minuman ultra processed food dapat menurunkan penyerapan beberapa vitamin dan mineral seperti vitamin B12, vitamin D, vitamin E, niasin, piridoksin, tembaga, magnesium, mangan, dan seng dalam tubuh. (8) Padahal, beberapa vitamin dan mineral tersebut bermanfaat lho untuk mengurangi keparahan penyakit. Jadi, masih mau konsumsi ultra processed food terus-terusan nih?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-42
4. Beralih Konsumsi Real Food

Real food adalah makanan yang tidak mengandung tambahan zat aditif dan melalui proses pengolahan yang minim. Makanan yang dikonsumsi dengan pengolahan minim memiliki kandungan gizi yang lebih optimal. Misalnya saja pisang, buah ini jika digoreng vitamin C nya 2,79 mg, namun jika tidak di goreng sebesar 2,84 mg. Penggorengan menyebabkan penurunan vitamin C pada pisang dan ini juga akan terjadi pada beberapa makanan lainnya. (9) Sobat ilmugiziku perlu tahu bahwa vitamin C bermanfaat meningkatkan sistem imun tubuh bahkan membantu menurunkan tekanan darah.(10) Dapat disimpulkan bahwa ketika penderita penyakit tidak menular terus menerus mengkonsumsi makanan yang digoreng, ditambahkan zat aditif lainnya maka konsekuensinya adalah tidak memperoleh kandungan gizi secara maksimal. Oleh karena itu, penting untuk segera beralih dari konsumsi makanan olahan ke konsumsi real food. Selain kandungan gizinya optimal, juga ekonomis dan praktis.

Selain upaya di bidang gizi, upaya lain juga perlu dilakukan. Seperti meningkatkan aktivitas fisik, mengelola stress, tidur yang cukup, mengontrol berat badan dan cek kesehatan secara rutin. Dengan begitu, masyarakat yang menderita penyakit tidak menular dapat minim mengalami komplikasi dan meningkatkan angka harapan hidupnya.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Santika, Erlina F. Kematian Akibat Penyakit Tidak Menular Paling Banyak Ditemukan di Indonesia [Internet]. 2020. Databoks. [cited 2024 Dec 24]. Available from: https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen- kesehatan/statistik/ddc29e2122d0845/kematian-akibat-penyakit-tidak-menular- paling-banyak-ditemukan-di-indonesia.
  2. Kemenkes BKPK. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Dalam Angka. 2023. Jakarta: 2023.
  3. Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2023. Jakarta: 2023.
  4. World Health Organization. Hypertension [Internet]. 2023. [cited 2024 Dec 22]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension.
  5. Kemenkes RI. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018. 2018. Jakarta: 2018.
  6. Fadness, et al. Life Expectancy Can Increase by up to 10 Years Following Sustained Shifts towards Healthier Diets in the United Kingdom. Nature Food. 2023:4:961-965.
  7. Kemenkes. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024. 2024. Available from: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8489/kebijakan-kesehatan-terbaru-aturan- ketat-gula-garam-lemak-dalam-produk-pangan?lang=1.
  8. Louzada, et al. Impact of Ultra-Processed Foods on Micronutrient Content in the Brazilian Diet. Revista De Saude Publica. 2015:49(45):1-8.
  9. Tetelepta, et al. Pengaruh Cara Pengolahan Terhadap Sifat Fisikokimia Pisang Tongka Langit (Musa troglodytarum). Jurnal Teknologi Pertanian. 2015:4(1):14-18.
  10. Juraschek, et al. Effects of Vitamin C Supplementation on Blood Pressure: a Meta- Analysis of Randomized Controlled Trials. The American Journal of Clinical Nutrition. 2012:95(5):1079-1088.

Dasar utama untuk menciptakan masyarakat yang sehat adalah gizi yang baik. Program gizi di masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup dengan memastikan bahwa setiap individu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Program-program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki status gizi, tetapi juga untuk mengurangi angka malnutrisi, mencegah penyakit terkait gizi, dan meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Artikel ini akan membahas berbagai jenis program gizi yang dapat diimplementasikan di tingkat masyarakat dan perannya dalam memperbaiki status gizi masyarakat.

Program Gizi Masyarakat di Indonesia

1. Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

Program ini bertujuan untuk memberikan makanan bergizi kepada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak usia sekolah. Program PMT sering kali dilaksanakan melalui posyandu atau kegiatan bantuan sosial yang dikelola oleh pemerintah daerah. Pemberian makanan tambahan ini membantu mencegah masalah gizi buruk, terutama di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses pangan bergizi. (1)

2. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)

Posyandu adalah pusat layanan kesehatan yang memberikan layanan kesehatan dasar, termasuk pemantauan status gizi balita, imunisasi, dan edukasi mengenai pola makan sehat kepada ibu dan anak. Melalui posyandu, masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan yang terjangkau, termasuk pemeriksaan gizi secara berkala. Posyandu memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak, yakni mencegah peningkatan angka kematian ibu dan bayi, menyediakan pelayanan kesehatan, memberikan imunisasi, memantau tumbuh kembang anak, menyediakan informasi kesehatan, serta menyediakan layanan konsultasi (1)

3. Program Keluarga Harapan (PKH)

Program Keluarga Harapan memberikan bantuan sosial berupa uang tunai dengan syarat tertentu kepada keluarga miskin, terutama yang memiliki anak balita atau ibu hamil. Dalam program ini, penerima manfaat diwajibkan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dan memenuhi standar gizi tertentu. PKH juga menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat di lapisan ekonomi bawah. (3)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-39
4. Program Penurunan Stunting

Stunting menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia, dengan prevalensi yang masih tinggi. Pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan dan program seperti “Gerakan Nasional Percepatan Penurunan Stunting” berupaya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Program ini fokus pada peningkatan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, serta makanan pendamping ASI yang bergizi. Stunting dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk: Penurunan kemampuan intelektual, Hambatan kemampuan motorik, Peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang, Kerusakan sel otak. Maka dari itu penurunan angka prevalensi stunting sangat diproritaskan untuk saat ini guna meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan keluarga. (2,4)

5. Diversifikasi Pangan dan Konsumsi Pangan Lokal

Program diversifikasi pangan bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi beras sebagai sumber utama karbohidrat dan meningkatkan konsumsi pangan lokal yang bergizi. Diversifikasi konsumsi pangan tidak dimaksudkan untuk mengganti beras, tetapi mengubah pola konsumsi masyarakat sehingga masyarakat akan lebih banyak mengonsumsi jenis pangan dan lebih baik gizinya. Program ini mendorong masyarakat untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan yang berasal dari hasil pertanian lokal seperti jagung, ubi, sagu, dan sayur-sayuran yang lebih terjangkau dan bergizi. (6)

6. Kampanye Edukasi Gizi melalui Media dan Sekolah
FOTO ARTIKEL WEBSITE-40

Pemerintah Indonesia juga melaksanakan kampanye edukasi gizi melalui media massa, internet, dan program-program yang ditujukan ke sekolah-sekolah. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pola makan sehat, pentingnya konsumsi makanan bergizi, dan dampak dari konsumsi makanan tidak sehat (seperti makanan cepat saji dan minuman manis). Di sekolah, program ini sering melibatkan siswa dalam kegiatan penyuluhan tentang pentingnya gizi yang seimbang. (5)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  2. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2021). Program Nasional Penurunan Stunting 2021. Jakarta: Bappenas.
  3. Kementerian Sosial Republik Indonesia. (2021). Program Keluarga Harapan (PKH) 2021. Jakarta: Kementerian Sosial RI.
  4. World Bank. (2020). Indonesia’s Stunting Reduction Program: Challenges and Opportunities. Washington, DC: World Bank Group.
  5. Sucita Lestari Natalina. Kampanye Sarapan Bergizi Seimbang Melalui Media Instagram dalam Rangka Pekan Sarapan Nasional 2023 di TK Tri Insani Permata Kota Pekanbaru. {Internet]. Madaniya Pustaka. 2024. {cited 2024 Des.] Available from: https://www.madaniya.pustaka.my.id/journals/contents/article/download/874/600/
  6. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2024. Mencapai Ketahanan Pangan Melalui Diversifikasi Pangan. Jakarta: Kementerian Pertanian RI.

Pernah mendengar kalau konsumsi protein pasca operasi dilarang karena dianggap bikin luka ga kering, gatal, dan berbagai alasan lainnya? Namun benarkah demikian? Faktanya protein merupakan zat pembangun yang dapat membantu memperbaiki jaringan tubuh loh.

Protein Zat Gizi Penting dalam Penyembuhan Luka

FOTO ARTIKEL WEBSITE-10

Zat gizi memiliki peran penting dalam proses penyembuhan luka. Kondisi malnutrisi dapat menyebabkan gangguan pada tahap penyembuhan luka seperti pemanjangan fase inflamasi, hambatan proliferasi fibroblast, dan menurunnya sintesis kolagen. Selain itu kondisi tersebut dapat memicu infeksi dan hambatan penyembuhan luka (3,5). Seringkali kondisi pasca operasi menyebabkan sebagian orang membatasi makanan yang dikonsumsi termasuk protein. Terdapat banyak referensi yang bersifat turun-temurun dan menyebabkan mereka menghindari makanan yang berasal dari protein hewani (2). Selain memicu kekurangan zat gizi, ternyata menghindari protein setelah operasi bukan merupakan pilihan yang tepat karena dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Penelitian menyebutkan bahwa protein dapat membantu memperbaiki jaringan, pembaharuan sel, dan penyembuhan luka (6). Asupan protein yang cukup dapat mempercepat penyembuhan dan meminimalkan risiko komplikasi.

Protein Membantu Sintesis Kolagen

Pembentukan jaringan baru memerlukan beberapa tahapan yaitu angiogenesis, pengendapan kolagen, dan epitelisasi, Pada fase ini protein diperlukan untuk membantu proses pembentukan jaringan baru. Kolagen merupakan protein alami berserat dan tak larut yang ada dalam tubuh manusia. Kolagen dapat membantu proses penyembuhan luka dengan menarik sel kulit baru menuju area yang terluka, sehingga jaringan akan cepat pulih dan kuat. Asam amino arginin dapat membantu pembentukan kolagen. Kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan perkembangan kolagen sehingga memperlambat penyembuhan luka. Setelah jaringan terbentuk maka akan terjadi proses pematangan dan penguatan jaringan yang memerlukan protein, serta zat gizi lain seperti vitamin c dan seng (4).

FOTO ARTIKEL WEBSITE-17

Protein Membantu Meningkatkan Imunitas

Operasi dapat melemahkan imunitas sehingga diet tinggi kalori tinggi protein dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, Keberadaan asam amino mampu membantu produksi antibodi yang berfungsi dalam mengurangi risiko infeksi dan komplikasi pasca operasi. Makanan yang mengandung protein tinggi seperti telur, ikan, daging, dan unggas. Selain itu protein juga bisa didapatkan dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan (1).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Apriyanto M. Pengetahuan Dasar Bahan Pangan. Banten : CV AA Rizky 2022
  2. Hazaini, Y., Syarifah M., & Cut O. The Correlation Between Food Consumption and Wound Healing Process Among Postpartum Mothers with Post-Op Section Caesarea in Teungku Peukan Regional Hospital of Aceh Barat Daya. Journal of Healthcare Technology and Medicine 2022 8(2)
  3. Nelms M, et al. Nutrition Therapy and Pathopysiology. 2ndedition.International edition. Wadsworth cengange learning 2007
  4. Paul G., Jim I. & Mehtab A. The Role of Nutrition in Wound Healing : An Overview. British Journal of Nursing 2021 30(5)
  5. Rosdiana R., Agussalim B., Nurpudji A., & Mardiana M. Pemberian Protein yang Adekuat Mempercepat Penutupan Burst Abdomen Pada Pasien Geriatri dengan Tumor Kolon. Indonesian Journal of Clinical Nutrition Physician 2018 1(1)
  6. Wang X., Yu Z., Zhou S., Shen S., & Chen W. The Effect a Compound Protein on Wound Healing and Nutritional Status. Evidence Based Complementary and Alternative Medicine: eCAM 2022