Ketika seseorang mengalami stroke, perhatian keluarga biasanya tertuju pada kelumpuhan, gangguan bicara, atau proses fisioterapi yang harus dijalani. Namun ada satu masalah penting yang sering luput dari perhatian, padahal sangat berpengaruh terhadap pemulihan pasien, yaitu status gizi. Tidak sedikit pasien stroke yang mengalami kekurangan gizi atau malnutrisi secara perlahan. Kondisi ini sering tidak disadari karena pasien masih terlihat makan, bahkan berat badannya tampak tidak banyak berubah. Padahal, di dalam tubuhnya sedang terjadi kekurangan energi dan protein yang dapat memperlambat pemulihan. Mengapa pasien stroke begitu rentan mengalami malnutrisi? Penjelasannya berkaitan erat dengan perubahan fisik dan proses medis yang terjadi setelah stroke.

Ketika Makan Menjadi Aktivitas yang Melelahkan

Tangkapan Layar 2026-01-07 pukul 17.29.03

Setelah stroke, aktivitas sehari-hari yang sebelumnya sederhana bisa menjadi sangat berat, termasuk makan. Banyak pasien mengalami penurunan nafsu makan karena kondisi fisik yang lemah, cepat lelah, perubahan suasana hati, hingga depresi pasca stroke. Selain itu, pasien stroke sering membutuhkan bantuan orang lain untuk makan. Ketergantungan ini dapat membuat waktu makan menjadi terbatas atau tergesa-gesa. Akibatnya, pasien tidak menghabiskan makanan yang disajikan. Dalam jangka pendek, hal ini mungkin tampak sepele. Namun jika berlangsung terus-menerus, asupan energi dan zat gizi pasien menjadi tidak mencukupi. Sering kali keluarga merasa pasien “sudah makan”, padahal jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi belum memenuhi kebutuhan tubuh untuk proses pemulihan.

Ketika Menelan Bukan Lagi Hal yang Mudah (Disfagia)

Salah satu penyebab utama pasien stroke rentan malnutrisi adalah disfagia, yaitu gangguan menelan. Stroke dapat merusak bagian otak yang mengatur koordinasi otot-otot mulut dan tenggorokan, sehingga proses menelan menjadi tidak optimal. Pasien dengan disfagia dapat mengalami batuk atau tersedak saat makan dan minum, merasa makanan sulit ditelan, atau merasa ada yang tertahan di tenggorokan. Kondisi ini membuat pasien takut makan atau minum, sehingga asupan semakin berkurang. Bagi keluarga, situasi ini sering membingungkan. Di satu sisi, mereka takut pasien tersedak. Di sisi lain, jika makanan terlalu dibatasi, pasien tidak mendapatkan gizi yang cukup. Padahal, dengan penyesuaian tekstur makanan yang tepat, pasien tetap dapat makan dengan aman dan mencukupi kebutuhannya. Disfagia juga meningkatkan risiko makanan atau minuman masuk ke saluran napas, yang dapat menyebabkan infeksi paru-paru. Oleh karena itu, gangguan menelan bukan hanya soal kenyamanan makan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan status gizi pasien.

Timbulnya Peradangan

Stroke memicu respons peradangan di dalam tubuh. Setelah stroke, tubuh berada dalam kondisi stres dan membutuhkan energi serta protein lebih banyak untuk proses perbaikan jaringan dan pemulihan fungsi. Masalahnya, pada saat kebutuhan gizi meningkat, justru asupan makan pasien sering menurun. Akibatnya, tubuh mengambil cadangan energi dari otot. Inilah sebabnya mengapa banyak pasien stroke mengalami penurunan kekuatan otot, meskipun berat badan terlihat relatif stabil. Kondisi ini dikenal sebagai malnutrisi tersembunyi, yaitu keadaan ketika tubuh kekurangan zat gizi penting tanpa tanda-tanda yang jelas dari luar.

Dampak Malnutrisi pada Pasien Stroke

Malnutrisi berdampak besar terhadap proses pemulihan pasien stroke. Pasien yang kekurangan energi dan protein akan lebih cepat lelah, sulit mengikuti latihan rehabilitasi, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kemandirian. Selain itu, malnutrisi meningkatkan risiko infeksi, memperlambat penyembuhan luka, dan memperburuk kondisi kesehatan secara umum. Dalam jangka panjang, pasien dapat menjadi semakin bergantung pada orang lain dan kualitas hidupnya menurun. Karena itu, pemenuhan gizi yang adekuat bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari perawatan pasien stroke.

Apa Tanda-Tanda Pasien Stroke Mulai Kekurangan Gizi?

Masalah gizi pada pasien stroke sering berkembang secara perlahan. Karena itu, keluarga perlu mengenali tanda-tanda awal agar dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  1. Nafsu makan menurun secara terus-menerus
    Pasien sering menolak makan, makan sangat sedikit, atau membutuhkan waktu sangat lama untuk menghabiskan makanan.
  2. Cepat lelah dan tampak semakin lemah
    Pasien mudah kelelahan, sulit mengikuti latihan fisioterapi, atau tampak tidak bertenaga meskipun sudah beristirahat.
  3. Berat badan menurun atau otot tampak mengecil
    Penurunan berat badan bisa terjadi, tetapi yang lebih sering adalah berkurangnya massa otot, terutama di lengan dan paha.
  4. Sering tersedak atau batuk saat makan dan minum
    Ini dapat menandakan adanya gangguan menelan yang menyebabkan asupan menjadi terbatas.
  5. Luka sulit sembuh atau sering sakit
    Malnutrisi dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi dan proses penyembuhan menjadi lambat.

Jika satu atau lebih tanda ini muncul, keluarga sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi untuk mendapatkan penilaian dan saran yang tepat.

Peran Keluarga dalam Mencegah Malnutrisi

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga status gizi pasien stroke. Penyesuaian tekstur makanan agar aman ditelan, pemberian makan dalam porsi kecil tetapi sering, serta memastikan adanya sumber protein di setiap waktu makan merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar. Selain itu, keluarga perlu memahami bahwa tidak semua makanan harus dipantang. Yang terpenting adalah memilih makanan yang aman, bergizi, dan sesuai dengan kondisi pasien.

Gizi sebagai Kunci Pemulihan

Pasien stroke rentan mengalami malnutrisi bukan karena kurangnya perhatian, melainkan karena perubahan medis yang kompleks setelah stroke. Dengan memahami penyebab dan tanda-tandanya, keluarga dapat lebih waspada dan berperan aktif dalam mendukung pemulihan pasien. Gizi yang cukup dan aman bukan hanya membantu pasien bertahan, tetapi juga membantu mereka pulih dan kembali mandiri.

Artikel ini bertujuan untuk edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Setiap pasien stroke memiliki kondisi yang berbeda dan memerlukan penanganan yang disesuaikan.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Stroke Terpadu.
  2. World Health Organization (WHO). Rehabilitation in Health Systems. Geneva; 2017..
  3. Burgos R, et al. ESPEN guideline on clinical nutrition in neurology. Clinical Nutrition. 2018;37(1):354–396.
  4. Dziewas R, et al. Dysphagia in stroke—neurogenic dysphagia. Dtsch Arztebl Int. 2019;116(18):311–318.
  5. Foley N, et al. Energy and protein intakes of acute stroke patients. J Nutr Health Aging. 2006;10(3):171–175.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, rasanya sulit membayangkan makan tanpa nasi. Nasi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan identitas kuliner bangsa. Tapi tahukah Anda, ada sumber karbohidrat lain yang tidak kalah bergizi, dapat mengenyangkan, dan bahkan lebih menyehatkan daripada nasi putih? Porang adalah sejenis umbi dan merupakan tanaman lokal yang kini mulai populer karena potensinya sebagai alternatif pengganti nasi di masa depan.

Apa Itu Umbi Porang?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7587048157364735250"}}

Umbi porang (Amorphophallus oncophyllus dan Amorphophallus muelleri) adalah tanaman yang berasal dari famili Araceae. Porang termasuk dalam kelompok tanaman umbi-umbian dengan ciri khas kulit umbi berwarna kuning cerah dan memiliki serat halus di permukaannya. Pada usia sekitar dua bulan, bulbil atau umbi kecil akan terbentuk di bagian daun dan pangkal batang yang bentuknya menyerupai katak. Keunikan ini yang menjadi pembeda utama porang dibandingkan dengan jenis tanaman umbi lainnya. (1)

Porang merupakan tanaman yang sering dijumpai di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Porang dapat tumbuh di tanah yang subur, gembur, dan mengandung senyawa organik. Porang mudah ditemukan di kawasan hutan di bawah naungan tanaman lain, seperti jati, sonokeling, mahoni, kopi dan kawasan karet karena tanaman porang hanya membutuhkan intensitas cahaya matahari sebanyak 40%. (2,3)

Porang dahulu dianggap sebagai tanaman liar yang tumbuh di pekarangan, juga dianggap sebagai makanan ular di beberapa daerah. Pada masa kini, porang semakin dikenal karena mengandung glukomanan, yaitu serat yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Orang Jepang pada masa penjajahan di Indonesia memanfaatkan porang sebagai bahan pangan cadangan karena bentuk dan kandungannya mirip dengan tanaman Amorphophallus konjac yang biasa dikonsumsi di Jepang. Sejak saat itu, orang Jepang menggunakan porang untuk membuat makanan sehat seperti shirataki noodles. (4,5)

Keunggulan dan Manfaat Porang

  1. Salah satu sumber kalium
  2. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi Indonesia (AKG), kebutuhan kalium manusia sekitar 4.000 s.d. 5.000 mg tergantung umur dan jenis kelamin. (6) Porang mengandung 3.200 mg kalium sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahan pangan dengan kandungan kalium tinggi. Porang sebagai sumber kalium yang bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah, serta mencegah stroke, penyakit jantung, kerusakan ginjal, dan pengeroposan tulang. (7)
  3. Kadar glukomanan yang tinggi
  4. Salah satu kelebihan porang, yaitu memiliki kadar glukomanan sebesar 65%. (8) Glukomanan, yaitu serat yang dapat larut dalam air. Glukomanan mengikat garam empedu di usus, lalu tubuh memanfaatkan kolesterol dari darah untuk membentuk garam empedu baru. Kadar kolesterol akan menurun secara alami. (9) Glukomanan juga merupakan jenis karbohidrat kompleks yang dapat berperan sebagai prebiotik, yaitu zat yang membantu pertumbuhan bakteri baik di usus, terutama bakteri Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium bifidum. Selain itu, glukomanan tidak hanya baik untuk pencernaan, tapi juga bisa membuat kita kenyang lebih lama. Serat ini mampu membentuk gel di perut yang memperlambat proses pencernaan dan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil setelah makan. (10)
  5. Indeks glikemik yang rendah
  6. Indeks glikemik (IG), yaitu angka yang menunjukkan seberapa cepat glukosa dari makanan diserap ke dalam darah. Angka ini penting karena dapat menggambarkan terkait makanan yang dikonsumsi memengaruhi kadar glukosa darah. Proses pengolahan porang dapat mengubah kadar glukosanya, sehingga nilai indeks glikemiknya pun bisa ikut berubah.

    IG terbagi menjadi 3 kategori, yaitu rendah (<55), sedang (55-70), dan tinggi (>70). (11) IG umbi porang, yaitu sekitar 67-85. (1) Namun, setelah diolah menjadi tepung, IG menjadi sebesar 40.604-44.789 sehingga dikategorikan rendah. Makanan dengan IG rendah membutuhkan lebih banyak waktu untuk memecah karbohidrat sehingga pelepasan glukosa lebih lambat dan kadar gula darah terkontrol. (12)

Dari “Umbi” Menjadi “Beras”

Porang tidak bisa dikonsumsi dalam keadaan mentah karena jumlah kalsium oksalat dalam porang cukup tinggi yang dapat menyebabkan rasa gatal pada lidah dan mulut. (13) Oleh karena itu, proses pengolahan perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum aman untuk dimakan. Tanaman ini tumbuh secara alami di alam liar dan dikenal memiliki produktivitas yang tinggi, nilai ekonomi yang menjanjikan, serta mudah dibudidayakan karena tidak memerlukan perawatan intensif. (1)

Porang dapat diolah menjadi tepung yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai produk makanan, seperti kue kering, tahu Jepang (konyaku), mi Jepang, dan beras. Beras porang memiliki kandungan energi 70 kkal dan karbohidrat 15 g. (14) Kalori dan karbohidrat beras porang cukup rendah jika dibandingkan dengan nasi putih yang memiliki kandungan energi sebesar 180 kkal dan karbohidrat sebesar 39,8 g. (15) Selain itu, beras porang juga mengandung tinggi serat, yaitu sebanyak 15 g dan rendah gula, yaitu sebanyak 0 g sehingga cocok untuk penderita diabetes melitus, individu yang berisiko diabetes mellitus, serta individu yang ingin menurunkan berat badan. (12)

Tekstur beras porang mirip dengan nasi putih biasa. Proses memasaknya tergolong sederhana. Beras porang bisa direndam terlebih dahulu, lalu dikukus atau dicampur dengan sedikit nasi putih agar rasanya lebih akrab di lidah. Karena rasanya netral, makanan ini mudah dipadukan dengan berbagai lauk, mulai dari ayam bakar hingga sayur lodeh. (14)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Adriani, Hastuti, Saleh R. Glucose Content and Glycemic Index of Indonesian Local Foods as Alternative Carbohydrate Sources for Diabetic Patients: Article Review. Jambura Med Heal Sci J. 2025;4(2):114–34.
  2. Yasin I, Suwardji, Kusnarta, Bustan, Fahrudin. Exploring the Potential of Porang Plants as Cultivated Plants in the Community Forestry System (HkM) of North Lombok Regency. Pros SAINTEK. 2021;3(622):453–63.
  3. Sumartini, E.Y.,Rustamsyah, S., Perdana, F., dan Khairunisa A. Kajian Pemanfaatan Tanaman Porang (Amorphophallus muelleri) dalam Bidang Pangan dan Kesehatan. J Teknol Pangan dan Ilmu Pertan. 2023;5(1):24–9.
  4. Sasongko A, Eni Y, Nurina. Bisnis Model Tanaman Liar (Porang) Komoditas Ekspor. Ikraith-Humaniora [Internet]. 2024;8(2):275–86. Tersedia pada: https://doi.org/10.37817/ikraith- humaniora.v8i2
  5. Sarifudin A, Indrianti N, Sholichah E, Afifah N, Ratnawati L, Desnilasari D, et al. Optimization of Shirataki Noodles Formula Prepared From Porang Flour Enriched With Moringa Leaves and Oyster Mushroom Powder. J Nutr Coll. 2025;14(2):156–64.
  6. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. 2019.
  7. Sahputra R. Analisis Kandungan Kalium (K) pada Tanaman Porang (Amorphophallus Oncophyllus). J Pembelajaran IPA dan Apl. 2024;4(1):1–5.
  8. Tarigan N, Tarigan FN, Sherlina S, Hasibuan YO, Saragih M. Sensory Test and Poximate Analysis Content Test of Porang Flour (Amorphophallus Muelleri) and Tempe Flour Flakes. Amerta Nutr. 2024;8(2):230–8.
  9. Alamsyah MABO. The Effect of Glucomannan on Reducing The Risk of Ischemic Stroke. J Ilm Kesehat Sandi Husada [Internet]. 2019;10(2):292–8. Tersedia pada: https://akper-sandikarsa.e-journal.id/JIKSH
  10. Sari PM, Puspaningtyas DE, Setyaningrum SD, Sucipto A, Ananda DP, Sintia RD. Pengaruh Penambahan Glukomanan dari Umbi Porang Terhadap Kandungan Gizi Cookies Growol Sebagai Pangan Fungsional untuk Obesitas. J SAGO Gizi dan Kesehat. 2024;5(2):446–55.
  11. Rimbawan, Siagian A. Indeks Glikemik Pangan. Jakarta: Penebar Swadaya; 2004.
  12. Bernas CS, Kalahal SP, Patria DG, Lin J. Effect of Die Temperature and Porang (Amorphophallus mulleri B.) Flour on the Physicochemical Properties, Nutritional Value, Estimated Glycemic Index, and Sensory Evaluation of Brown Rice Snack by a Collet Extruder. Chiang Mai J Sci. 2025;52(1):1–19.
  13. Wardani RK, Handrianto P. Effect of Soaking Porang Tuber And Porang Flour in Averrhoa bilimbi Extract Against Physical Properties and Calcium Oxalate Levels. J Pharm Sci. 2019;4(2):105–9.
  14. Annisa AW, Aziz IWF, Suharno S. Analysis of Factors Influencing Interest in Purchasing Porang Rice Using The Extended Theory of Planned Behavior (E-TPB). Agroindustrial J. 2024;11(1):25–33.
  15. Kemenkes RI. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.

Penelitian menunjukkan bahwa otak kita memproses rasa nyaman yang diperoleh dari makanan dengan cara yang mirip saat kita mendapatkan pelukan. Berdasarkan cara kerjanya, keduanya mampu memicu pelepasan sejumlah hormon, terutama hormon bahagia yang membuat perasaan lebih tenang dan senang. Perasaan senang setelah mengonsumsi makanan tertentu seringkali dikaitkan dengan istilah Comfort Food, yaitu jenis makanan yang memberikan kenyamanan secara emosional. (1).

1) Apa itu Comfort Food?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7587038985239874834"}}

Pernahkah kamu merasa suasana hatimu membaik setelah kamu menikmati makanan tertentu? Istilah yang mengacu pada makanan tersebut dikenal sebagai Comfort Food, yaitu makanan yang dapat memberikan kenyamanan secara psikologis, biasanya meningkatkan mood dan perasaan bahagia setelah dikonsumsi. Misalnya, ketika sedang sedih, mengonsumsi sepotong coklat dapat secara signifikan memperbaiki mood. (1). Menariknya, jenis comfort food sangat personal dan beragam, dapat bergantung pada jenis makanan apa yang berkesan. (5). Ada yang merasa mie ayam menjadi penenang setelah melalui hari yang panjang atau ada yang menemukan kebahagiaan pada semangkuk es krim, dan lain-lain. Tetapi umumnya, makanan yang dianggap comfort food adalah coklat, es krim, biskuit, permen, atau minuman manis. (1).

2) Psikologis Dibalik Rasa Nyaman

Layaknya diberi pelukan, makanan juga dapat memberikan ketenangan. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang kuat antara emosi dengan pilihan comfort food. Seseorang dapat mengonsumsi suatu makanan tertentu untuk mempertahankan mood positif, memberikan ‘hadiah’ pada diri sendiri, merayakan peristiwa tertentu, atau melampiaskan emosi negatif seperti stres. (5). Ternyata, secara ilmiah, semua hal ini berhubungan dengan sistem hormon tubuh.

Hormon merupakan pembawa pesan kimiawi dalam tubuh yang dilepaskan oleh kelenjar ke aliran darah dengan tugas mengatur cara tubuh berfungsi, termasuk mengatur perasaan. Beberapa diantaranya adalah hormon bahagia, karena mereka bertanggung jawab mengatur regulasi emosi, seperti rasa nyaman, bahagia, dan motivasi. Hormon tersebut misalnya adalah dopamin, serotonin, endorfin, dan oksitosin. (3,4).

Hormon bahagia akan dihasilkan oleh tubuh ketika kita menikmati makanan yang kita anggap sebagai comfort food. Saat kita makan, otak menafsirkan rasa, aroma, dan memori yang kita miliki secara personal terhadap makanan tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kemudian, hormon bahagia akan dilepaskan dan kita merasa tenang layaknya mendapatkan sebuah pelukan. (4).

Namun, penting untuk diingat bahwa rasa nyaman tersebut sebenarnya berasal dari reaksi alami tubuh, bukan hanya dari makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, dalam memilih comfort food, usahakan untuk memilih jenis makanan yang lebih sehat, sehingga kita bisa mendapatkan efek bahagia yang sama tanpa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

3) Menemukan Comfort Food yang Sehat

Menurut penelitian, comfort food umumnya mengandung kalori tinggi dan zat gizi yang rendah, yang apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan. (2). Oleh karena itu, cobalah untuk memodifikasinya menjadi lebih sehat, misalnya dengan menambahkan atau bahkan mengganti comfort food dengan buah, sayur, atau biji-bijian (oat, beras merah, atau quinoa). (6). Makanan berbasis tumbuhan tersebut (Plant-based-food) dapat membantu menjaga berat badan serta mencegah penyakit kronis seperti kanker dan gangguan kardiovaskular karena memiliki kandungan serat dan fitokimia di dalamnya. Pastikan juga untuk tidak menambahkan terlalu banyak garam, gula, dan minyak agar manfaatnya tetap optimal. (7). Beberapa ide yang mudah untuk dibuat diantaranya, overnight oatmeal, salad sayur, atau salad buah.

Selain itu, biasakan menerapkan mindful eating, dengan memberikan atensi/kesadaran penuh pada makanan yang dikonsumsi. Biarkan tubuhmu menikmati setiap suapan, kenali sinyal rasa lapar dan kenyang dari tubuhmu. Serta jangan lupa untuk memerhatikan porsi makanan yang dikonsumsi. Penting juga untuk mengontrolnya dengan mengenali pemicu emosional yang sering membuatmu ingin makan, seperti rasa lelah, stres, kesepian, bosan, atau sedih. (6). Dengan begitu, kamu bisa tetap menikmati comfort food tanpa kehilangan kendali atas pola makanmu.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Spende, C. Comfort Food: A Review. International Journal of Gastronomy and Food Science. 2017:9:105-109
  2. Wu, F., Vartanian, L.R., and Faasse, K. Why Do We Eat Comfort Food? Exploring Expectations Regarding Comfort Food and Their Relationship with Comfort Eating Frequency. Nutrients. 2025:17(14):2259
  3. Harvard Health Publishing. Feel-good Hormones: How They Affect Your Mind, Mood, and Body [Internet]. nd [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/feel-good-hormones-how-the y-affect-your-mind-mood-and-body
  4. Dutraj, R., and Sengupta, P. R. Elevating Workplace Productivity: Harnessing the Power of Happy Hormones to Alleviate Mental Illness. The International Journal of Indian Psychology. 2024:12(3):3121-3134.
  5. Mathiesen, et al. Leaving Your Comfort Zone for Healthier Eating? Situational Factors Influence the Desire to Eat Comfort Food and Simulated Energy Intake. Food Quality and Preference Journal. 2022:100
  6. Jacobson, A. Can Comfort Food Be Healthy? A Look at the Pros and Cons [Internet}. GoodRx. 2023 [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.goodrx.com/well-being/diet-nutrition/comfort-food-health-benefits
  7. American Institute for Cancer Research. Eat a Diet Rich in Whole Grains, Vegetables, Fruits, and Beans [Internet]. nd. [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.aicr.org/cancer-prevention/recommendations/eat-a-diet-rich-in-whole-grains-vegetables-fruits-and-beans/

Kesehatan keluarga tidak hanya bergantung pada olahraga atau pemeriksaan rutin, tetapi juga pada kebiasaan makan sehari-hari. Apa yang kita pilih untuk dimasak dan disajikan di meja makan berpengaruh besar terhadap daya tahan tubuh, energi, dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga.

Kabar baiknya, menerapkan kebiasaan makan sehat tidak harus mahal atau sulit. Dengan langkah sederhana dan konsistensi, keluarga bisa hidup lebih sehat bersama-sama.

Cara Menerapkan Di Keluarga Harus Dimulai Darimana?

1. Mulai dari memahami ‘’Gizi Seimbang’’

Gizi seimbang itu apa sih? Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Adapun 10 pesan gizi seimbang :

  1. Nikmati dan syukuri beragam makanan
  2. Mengonsumsi aneka ragam makanan pokok
  3. Mengonsumsi lauk pauk yang kaya protein
  4. Mengonsumsi sayur dan buah
  5. Batasi makanan asin, manis dan berlemak
  6. Membiasakan untuk sarapan di pagi hari
  7. Membiasakan minum air putih yang cukup
  8. Membiasakan membaca label pada kemasan makanan
  9. Lakukan aktivitas fisik secara rutin dan jaga berat badan ideal
  10. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

Adapun panduan makanan harian dari gizi seimbang yang disebut dengan isi piringku. Isi piringku ini di dalamnya terdapat ½ piring untuk makanan pokok dan lauk pauk, ½ piring untuk sayur dan buah. Adapun cara pembagian dengan benar yaitu : 2/3 dari setengah piring berisi makanan pokok dan 1/3 dari setengah piring berisi lauk pauk, 2/3 dari setengah piring berisi sayuran dan 1/3 dari setengah piring berisi buah-buahan.

2. Membiasakan sarapan di pagi hari bersama

Sarapan merupakan asupan makanan pertama yang masuk ke dalam tubuh setelah puasa saat tidur di malam hari. Saat sarapan, otak kembali mendapatkan asupan nutrisi. Penting sekali mengonsumsi sarapan yang sehat yang dimana harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan serat serta meminum air yang cukup untuk membantu proses pencernaan, meningkatkan energi dan juga konsentrasi dan daya ingat.(2) Dampak negatif karena tidak sarapan yaitu adanya ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti dengan rasa pusing, badan gemetar atau rasa lelah, sehingga menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, adanya gangguan ingatan jangka pendek, tidak bisa menyelesaikan masalah, perhatian terganggu. (2) Oleh sebab itu, sebaiknya untuk membiasakan keluarga untuk sarapan bersama walaupun hanya 10-15 menit.

Selain sehat, sarapan bersama di pagi hari juga dapat memperkuat komunikasi keluarga dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

3. Melibatkan anak dalam proses memasak

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang sehat dapat dibangun sejak dini mulai dari melibatkan anak dalam proses pemilihan bahan makanan dan menyiapkan makanan tersebut untuk dikonsumsi bersama. Libatkan anak dalam memilih sayur di pasar dengan baik, mencuci buah, atau menata piring di meja makan.

Cara ini membuat mereka lebih tertarik mencoba makanan bergizi karena mereka memiliki peran dalam setiap prosesnya. Selain itu juga, anak jadi belajar mengenal bahan makanan dan pentingnya menjaga pola makan sehat sejak kecil.

4. Membatasi makanan manis dan olahan

Masa pertumbuhan anak dipengaruhi oleh pola makan. Di zaman sekarang, anak- anak sudah mengenali yang namanya mengonsumsi makanan manis ataupun olahan yang dapat mereka jumpai di sekitarnya. Makanan dengan kandungan gula, garam, lemak yang tinggi, daging olahan yang mengandung pengawet, bumbu penyedap, minuman berkarbonasi dan mie instan termasuk ke dalam makanan yang tidak sehat. Makanan dengan kandungan gula yang tinggi, karena anak-anak yang mengonsumsi makanan tinggi gula dapat berisiko menderita batuk, sesak napas, obesitas, diabetes mellitus bahkan mengalami kerusakan ginjal. (4) Adapun ciri-ciri pangan yang mengandung tinggi gula diantaranya terdapat kandungan gula yang tinggi pada label komposisi dan informasi gizi, rasa manis yang kuat, indeks glikemik yang tinggi.(5) Banyak makanan manis yang kita jumpai dan seringkali dikonsumsi oleh anak-anak seperti cokelat, permen, es krim, permen kapas, biskuit., karena makanan tersebut sangat menarik, memiliki kemasan yang memikat, tekstur yang lembut, lengket dan mudah larut di mulut sehingga anak-anak ingin mengonsumsi.(1)

Oleh sebab itu, penting sekali buat membatasi konsumsi makanan manis dan olahan dengan mengganti ke camilan sehat seperti makan buah-buahan atau dapat membuat jus buah tanpa tambahan gula.

5. Menyediakan Buah dan Sayur Tiap Hari

Sayur dan Buah adalah nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan serat, vitamin, mineral dan beberapa enzim yang bermanfaat untuk fungsi pencernaan, kardiovaskuler dan mencegah munculnya penyakit degeneratif. (6) Anak-anak dalam mengonsumsi buah dan sayur dapat dikatakan cenderung kurang karena tidak dibiasakan untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap harinya. Membiasakan anak untuk mengonsumsi buah dan sayur akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan mereka bawa sampai dewasa, jadi sangat penting sebagai orang tua untuk menyediakan buah dan sayur di rumah.

Langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah adalah dengan meletakkan buah yang sudah dikupas dan dipotong di meja makan agar mudah dijangkau, untuk sayur dapat diolah secara variasi agar tidak membosankan anak, seperti ditumis, dibuat sup, atau dijadikan campuran pada nasi goreng.

6. Jadwalkan Waktu Makan Bersama

Makan bersama keluarga bukan hanya soal makanan, tetapi juga kebersamaan. Saat makan bersama, anak-anak bisa belajar etika makan, mendengarkan cerita orang tua, dan membangun kedekatan emosional. Usahakan untuk tidak bermain gadget saat makan, agar suasana lebih hangat dan fokus pada interaksi antar-anggota keluarga.

7. Orang Tua Jadi Teladan

Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar, jadi agar anak terbiasa mengonsumsi makanan yang sehat, sebagai orang tua harus memberikan contoh nyata terhadap anak-anak. Bisa dengan melakukan dari hal sederhana seperti memilih air putih dibandingkan minuman manis, mencoba berbagai jenis sayur, tidak memaksakan diri untuk memakan makanan dalam jumlah yang banyak. Ketika anak melihat orang tuanya menikmati makanan sehat maka mereka akan terdorong untuk melakukan hal yang sama

Kebiasaan makan sehat itu dengan sadar akan pola makan yang seimbang dan dilakukan bersama keluarga dimulai dengan memahami gizi seimbang, membiasakan sarapan, mengurangi makanan olahan dan memberikan teladan positif. Perubahan kecil yang dilakukan bersama-sama jauh lebih kuat daripada melakukan sendirian. Jadi, mulai hari ini, yuk kita ciptakan keluarga yang sehat dan harmonis dimulai dari meja makan di rumah.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Fuadah, N. T., Helena, D. F & Tazkiyah, I. Dampak Mengonsumsi Makanan Kariogenik dan Perilaku Menggosok Gigi Terhadap Kesehatan Gigi Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2023:5(2), 771-782.
  2. Rafika., Astuty, P., Setyowati, S. Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi Dengan Konsentrasi Pada Remaja. Jurnal Ilmiah Obstetri Gynekologi dan Ilmu Kesehatan. 2018:6(2),26-35.
  3. Suraya, S., Apriyani, S., Larasaty, D., Indraswari, D., Lusiana, E & Anna, G. T. ‘’Sarapan Yuks’’ Pentingnya Sarapan Pagi Bagi Anak-Anak. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia. 2019:2(1),201-207.
  4. Wahyuni, S & Indriastuti, D. Gambaran Konsumsi Jajanan Berisiko Tinggi Gula Pada Anak SDN. 2024:04(2), 21-27.
  5. Widiastuti, W., Zulkarnain, A., Mahatma, G & Darmayanti, A. Review Artikel: Pengaruh Pola Asupan Makanan Terhadap Risiko Penyakit Diabetes. Journal of Public Health Science. 2024:1(2), 108-125.
  6. Amania, R., Hidayat, M.N., Hamidah, I., Wahyuningsih, E., & Parwanti, A. Pencegahan Stunting Melalui Parenting Education di Desa Pakel Bareng. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 2022:1(1).

Tahukah Sobat, selain label halal, BPOM, dan SNI, pada beberapa produk makanan dan minuman terdapat label lain yang tidak kalah penting, lho? Biasanya label ini akan kalian temukan pada kemasan produk peternakan, seperti sosis, telur, susu UHT, hingga madu. Yuk, bahas lebih lanjut di sini ya!

Latar Belakang Regulasi NKV di Indonesia

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7585918441903754504"}}

Makanan sehat adalah makanan yang terjamin kualitas dan kuantitasnya. (1) Bahan pangan hasil ternak, seperti susu, telur, dan daging mudah tercemar mikroorganisme, misalnya E- Coli, Salmonella sp., Listeria sp., dan Coliform yang menyebabkan bahan pangan cepat rusak dan membahayakan kesehatan tubuh. (2)

Kemudian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012, masyarakat konsumen berhak memperoleh produk pangan asal hewan yang terjamin keamanannya dan memenuhi empat aspek utama, yaitu ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Oleh karena itu, untuk menjamin keamanan dan kualitas komoditas hasil peternakan serta meningkatkan daya saing, maka pemerintah berupaya mengawasi produk pangan hewani dengan regulasi NKV (Nomor Kontrol Veteriner). (2)

Nomor Kontrol Veteriner merupakan sertifikat resmi yang menjadi bukti tertulis bahwa suatu unit usaha produk hewan dan turunannya telah memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi sebagai jaminan terhadap keamanan produk hewan yang dihasilkan. (3) Label NKV dicantumkan pada kemasan primer maupun sekunder dalam bentuk deretan angka yang menunjukkan jenis, lokasi, dan nomor registrasi unit usaha, disertai dengan logo NKV. (2)

Siapa Pelaku Usaha yang Wajib Memiliki NKV dan Apa Persyaratannya?

Setiap pelaku usaha yang memiliki unit usaha produk hewan, baik milik individu WNI, Perusahaan Terbatas, Perusahaan Daerah, maupun koperasi diwajibkan untuk mengajukan NKV. Jenis unit usaha yang dimaksud diantaranya adalah rumah potong hewan, peternakan, usaha pengolahan (daging, susu, dan telur), ritel, kios daging, gudang penyimpanan (dingin dan kering), usaha penampungan susu, usaha pengumpulan, pengemasan, dan pelabelan konsumsi telur, usaha pengolahan dan pengolahan madu, serta usaha pencucian dan pengolahan sarang burung walet. (3)

Pelaku unit usaha akan mendapatkan sertifikat NKV jika memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Beberapa persyaratan teknis yang harus dilengkapi antara lain sarana dan prasarana yang memenuhi prinsip higiene sanitasi, mempunyai dokter hewan yang tidak menjadi aparatur sipil negara sebagai penanggung jawab teknis usaha, dan memiliki pekerja teknis di bidang higiene sanitasi atau kesejahteraan hewan. (3)

Sebagai Konsumen, Bagaimana Cara Memverifikasi NKV?

  1. Cek data di portal resmi Sisnas (Sistem Informasi Nasional Sertifikasi) NKV!
  2. Data dapat dicari berdasarkan nama produsen/unit usaha atau nomor sertifikasi.
  3. Cek langsung pada kemasan produk!
  4. Pastikan terdapat label dan logo NKV.
  5. Bandingkan datanya!
  6. Untuk memverifikasi, bandingkan data yang kalian temukan dengan yang tercantum pada kemasan. Jika nomor dan nama usaha cocok, maka NKV valid. Namun, jika tidak sesuai, Anda dapat melaporkan kepada penjual atau mengirimkan email pengaduan ke dinas peternakan setempat.

Bagaimana, sekarang sudah paham kan? Jadi, saat berbelanja, jangan lupa untuk mengecek keberadaan label tersebut ya! Jadilah pembeli yang bijak dan sadar, karena langkah kecil sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap kesehatan tubuh dimulai dari membaca label pangan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Syakir, M. Dukungan teknologi peternakan dan veteriner dalam mewujudkan ekosistem pangan hewani. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2020:3–17.
  2. Lestariningsih L, Nada MS, Yasin MY, Ropida S, Abidin MK. Peranan nomor kontrol dokter hewan terhadap jaminan kualitas keamanan produk hasil peternakan. Brilian: Jurnal Riset dan Konseptual. 2020;5(1):180-188.
  3. Kementerian Pertanian RI. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Produk Pangan. 2020.

Ketika nyamuk menjadi musuh kecil yang bisa membawa penyakit, maka tubuh kita pun harus siap bertahan. Terlebih di wilayah tropis seperti Indonesia, malaria masih menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh dan status gizi bisa menjadi benteng penting dalam melawan penyakit ini.

Apa Itu Malaria?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584477391628635400"}}

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium, dan menyebar melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah kasus malaria terbanyak di Asia, setelah India, dengan estimasi mencapai 811.636 kasus positif pada tahun 2021. Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia menyumbang sekitar 2% dari total beban kasus malaria secara global. (1)

Selain melalui gigitan nyamuk, menurut Kemenkes RI malaria juga dapat ditularkan melalui cara lainnya. Misalnya jarum suntik, transfusi darah, transplantasi organ, ataupun dari seorang ibu yang menularkan kepada bayi dalam kandungannya. (2)

Menurut WHO, terdapat lima jenis parasit Plasmodium yang bisa berperan pada penyebaran malaria. Di antaranya adalah Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium knowlesi. (3) Kelima jenis parasit tersebut mempunyai tingkat keganasannya masing-masing dalam menginfeksi manusia, dan menyebabkan tingkat keparahan serta gejala yang berbeda.

Akan tetapi, secara umum gejala malaria dapat meliputi beberapa hal, seperti demam, menggigil, sakit kepala, hilang selera makan, diare, dan gejala lainnya yang menyertai. Malaria bisa menyerang siapa saja, namun terdapat beberapa hal yang bisa meningkatkan faktor risikonya. Hal ini terkait dengan usia, tempat tinggal, hingga ketersediaan fasilitas kesehatan. Balita, lansia, ibu hamil, masyarakat yang tinggal di wilayah tropis dan subtropis, serta kurang bisa mengakses fasilitas kesehatan tentu memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap infeksi malaria.

Optimalkan Gizi dan Imunitas Sebagai Perisai Alami Tubuh

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584478567954697480"}}

Asupan gizi yang baik tidak hanya membuat tubuh menjadi sehat, namun juga memperkuat sistem imun untuk melawan infeksi, termasuk malaria. Keseimbangan asupan makronutrien dan mikronutrien, termasuk vitamin dan mineral memiliki peran yang sangat krusial dalam meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi. (4) Upaya pengoptimalan zat gizi perlu dilakukan, termasuk pada kelompok-kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia.

Beberapa strategi praktis di bawah ini dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi penyakit.

  1. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang
  2. Pastikan asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, serta vitamin dan mineral tercukupi setiap harinya. Konsumsi sayur dan buah berwarna cerah seperti wortel, bayam, jeruk, dan pepaya juga sangat direkomendasikan karena kaya akan antioksidan untuk melawan radikal bebas penyebab infeksi.
  3. Perbanyak Asupan Protein
  4. Protein dapat diperoleh dari sumber hewani maupun nabati, seperti ikan, telur, tahu, dan tempe, yang bisa mendukung produksi antibodi dan pemulihan tubuh saat sakit.
  5. Mencukupi Cairan Tubuh
  6. Dehidrasi dapat memperburuk gejala demam, yang merupakan salah satu tanda dari malaria. Asupan cairan harian dapat dipenuhi dengan konsumsi air putih minimal 8 gelas sehari.
  7. Olahraga dan Tidur yang Teratur
  8. Olahraga atau aktivitas fisik penting dilakukan secara rutin untuk menjaga kebugaran dan tentunya meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, penting juga memastikan tidur yang cukup di malam hari.
  9. Konsumsi Suplemen Bila Perlu
  10. Di daerah endemik malaria, suplementasi zat besi dan vitamin A dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. (2)

Pencegahan anemia bukan hanya perlu difokuskan pada lingkungan yang bersih ataupun pemasangan kelambu saat tidur. Akan tetapi juga dari dalam diri kita, melalui sistem imun yang kuat dan asupan gizi yang cukup. Dengan menerapkan pola makan yang seimbang dan menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat menjaga sistem kekebalan tubuh dan membantu memutus rantai penyebaran malaria.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Cegah dan Kendalikan Malaria. 2024 [cited 2025 April 21]. Available from: https://kemkes.go.id/id/cegah-dan-kendalikan-malaria
  2. Kementerian Kesehatan RI. Kenali Apa itu Malaria: Gejala, Pencegahan dan Pengobatan. 2024 [cited 2025 April 21]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-malaria
  3. World Health Organization. Malaria. 2024 [cited 2025 April 21]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malaria
  4. Onukogu, S. C., Ibrahim, J., Ogwuche, R. A., Jaiyeola, T. O., & Adiaha, M. S. Role of nutrition in the management and control of malaria infection: a review. An International Scientific Journal [Internet], 2018;107(1), 58-71. Available from: https://hal.science/hal-04604850/