Kalian tau tidak? Anemia defisiensi besi merupakan kondisi kekurangan gizi yang paling sering terjadi. Nah, terdapat 3 strategi yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, yaitu dengan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, bantu penyerapannya, dan menghindari zat gizi yang menghambat penyerapannya.(2) Yuk kita bahas lebih lengkapnya!
1. Tablet Tambah Darah Sepenting Itukah?
Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen zat gizi yang mengandung 60 mg besi elemental dan 0,25 asam folat (sesuai rekomendasi WHO). TTD bila diminum secara teratur dan sesuai aturan dapat mencegah dan menanggulangi anemia gizi. Dosis pemberian TTD pada remaja putri dianjurkan mengkonsumsi secara rutin 1 tablet setiap minggu dan 1 tablet setiap hari selama masa menstruasi. Suplemen tablet tambah darah diberikan untuk menghindari remaja putri dari risiko anamia besi. Konsumsi TTD sangat dipengaruhi oleh kesadaran dan kepatuhan remaja putri. Kesadaran merupakan faktor pendukung remaja putri untuk mengkonsumsi secara baik.(2) Selain itu, fungsi tablet tambah darah untuk remaja putri juga bisa jadi investasi kesehatan yang dipanen dalam jangka panjang. Remaja putri yang rutin minum tablet tambah darah dan bebas anemia, ketika sudah dewasa dan hamil kelak bisa menjalani kehamilan yang sehat dan minim risiko komplikasi kehamilan. Selain itu, bayi yang dilahirkan kelak bisa tumbuh sehat, lahir dengan berat badan ideal, sampai mencegah bayi yang dilahirkan tumbuh dengan masalah gizi stunting.(1)
2. Manfaat Mengonsumsi Tablet Tambah Darah
Pengganti zat besi yang hilang bersama darah pada wanita dan remaja putri saat haid.
Wanita hamil, menyusui, sehingga kebutuhan zat besinya sangat tinggi yang
perlu disediakan sedini mungkin semenjak remaja
Mengobati wanita dan remaja putri yang menderita anemia
Meningkatkan kemampuan belajar, kemampuan kerja dan kualitas sumber daya manusia serta generasi penerus.
Meningkatkan status gizi dan kesehatan remaja putri.(4)
3. Makanan yang Perlu Dihindari Karena Penghambat Zat Besi
Remaja putri sangat rentan terhadap anemia karena kekurangan mineral yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Kajian terkait konsumsi pangan inhibitor penting dilakukan sebagai gambaran risiko kejadian anemia.(5) Inhibitor itu apa? Inhibitor adalah zat yang bisa menghambat penyerapan zat besi.
Faktor inhibitor penyerapan zat besi yang terdapat dalam makanan tertentu adalah tanin, oksalat, fitat, dan kalsium.(5) Sumber inhibitor diantaranya :
Asam fitat : biji-bijian, kacang-kacangan, polong-polongan, sereal, kedelai
Kalsium : susu, kasein, whey, protein kedelai, produk terfortifikasi kalsium
Asam oksalat : bayam, buncis, kacang-kacangan(2)
4. Vitamin C untuk Bantu Penyerapan Zat Besi
Vitamin C merupakan vitamin larut air dan berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, vitamin C juga berperan dalam membantu penyerapan zat besi. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin C yang diberikan bersamaan zat besi akan berdampak berupa peningkatan absorpsi zat besi. Vitamin C dapat menaikkan kemampuan untuk mengabsorpsi zat besi dengan cara mengubah zat besi yang masih dalam bentuk ferri menjadi bentuk ferro sehingga lebih mudah untuk diserap tubuh dan melawan efek fitat dan tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi.(3)
Inilah alasannya sobat Ilmugiziku mengapa kopi, teh dan susu tidak boleh diminum bersamaan saat mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) karena dapat menghambat proses penyerapan zat besi yang terkandung didalamnya.
Nah, jangan lupa ya saat konsumsi Tablet Tambah Darah dibarengi dengan Vitamin C salah satunya minum es jeruk atau kalau tidak ada lebih baik air putih. Maka dari itu, yuk kita sama-sama bantu untuk mengurangi risiko terkena Anemia dengan mengoptimalkan konsumsi sumber makanan yang mengandung zat besi terutama yang bersumber dari protein hewani ya!
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Admin. Manfaat Tablet Tambah Darah Bagi Remaja Putri. diskes.badungkab.go.id. 2023. [cited 2024 Agustus 21]. Available from: https://diskes.bandungkab.go.id/artikel/52764-seberapa- pentingkah-tablet-tambah-darah-bagi-remaja-putri
Helmyati. Cegah Anemia dengan Konsumsi Makanan yang Tepat. pkgm.fk.ugm.ac.id. 2023. [cited 2024 Agustus 21]. Available from: https://pkgm.fk.ugm.ac.id/2023/12/15/cegah-anemia- dengan-konsumsi-makanan-yang-tepat/
Krisnanda, R., (2020), Vitamin C Membantu Dalam Absorpsi Zat Besi Pada Anemia Defisiensi Besi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 2(3), 279-283.
Mardiyah, T. N., (2021). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) Pada Remaja Putri Di MTs Negeri 2 Kota Tasikmalaya, Universitas Siliwangi.
Putriwati, A. K., (2024). Hubungan Asupan Gizi dan Konsumsi Pangan Inhibitor Zat Besi dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMAN 6 Tambun Selatan, 7(2), 137-147.
Kemasan produk yang menarik seringkali membuat konsumen tergiur untuk membeli. Namun, di balik kemasan yang menarik, terdapat informasi penting mengenai kandungan zat gizi yang perlu diperhatikan. Dengan memahami informasi zat gizi yang tertera pada label, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan bijaksana.
Kepedulian terhadap Label Gizi Masih Tergolong Rendah
Label informasi nilai gizi adalah label kemasan yang memuat daftar kandungan gizi makanan dan komponen lainnya seperti takaran saji, jumlah takaran saji, dan persen angka kecukupan gizi. Data Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) tahun 2013 menunjukkan bahwa hanya 7,9% konsumen yang memperhatikan dan membaca label informasi nilai gizi. Kurangnya pengetahuan tentang label informasi nilai gizi dapat mempengaruhi pola konsumsi, menyebabkan kegemukan, dan obesitas (1).
Rendahnya perhatian konsumen terhadap label gizi disebabkan oleh adanya hambatan seperti konsumen tidak mengetahui cara membaca label gizi, kesulitan memahami terminologi yang digunakan, dan kemasan produk yang terdengar asing bagi konsumen sehingga tidak adanya kewajiban untuk mengetahui informasi gizi (8).
Mengapa Membaca Label Gizi itu Penting?
Di zaman dimana pilihan makanan sangat beragam, membaca label gizi telah menjadi keterampilan yang sangat berguna.
Konsumsi makanan olahan dan kemasan yang mengandung gula, garam, dan berlemak berlebih dapat menjadi salah satu penyebab munculnya penyakit degeneratif. Informasi label gizi merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menentukan pilihan yang lebih sehat saat membeli produk makanan dan minuman terutama produk yang mengandung gula, garam serta natrium. Kurangnya perhatian dalam membaca label informasi nilai gizi secara tidak langsung akan berpengaruh, dengan membaca label dapat membantu seseorang dalam memilih pangan yang aman dan sesuai dengan kebutuhannya (3).
Label gizi memberikan informasi penting tentang kandungan gizi dalam suatu produk, seperti:
Kalori: Jumlah energi yang diperoleh dari mengonsumsi produk tersebut.
Lemak: Jenis lemak (jenuh, tak jenuh, trans) dan kuantitas.
Kolesterol: Kandungan Kolesterol dalam produk.
Natrium: Jumlah garam dalam produk.
Karbohidrat: Jumlah karbohidrat total, serat, dan gula tambahan.
Protein: Jumlah protein dalam produk.
Vitamin dan Mineral: Kandungan vitamin dan mineral penting.
Yuk, Cermati lagi Sepuluh Pedoman Gizi Seimbang
Ingat 10 pedoman gizi seimbang?. Salah satunya adalah membiasakan membaca label kemasan makanan. Berikut adalah 10 pedoman gizi seimbang yang perlu diingat (4):
Biasakan mengonsumsi anekaragam makanan pokok
Batasi konsumsi pangan yang manis, asin, dan berlemak
Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan ideal
Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi
Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
Biasakan sarapan pagi
Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
Banyak makan buah dan sayur
Biasakan membaca label pada kemasan pangan
Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan
Maraknya Kasus Diabetes dan Hipertensi
Penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi, sedang menjadi masalah di Indonesia. Mengonsumsi makanan yang tidak sehat merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit tidak menular. Informasi tentang nilai gizi suatu makanan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebiasaan makan yang sehat (7).
Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyakit tidak menular adalah dengan membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan sesuai takaran yang telah dianjurkan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan sebagai salah satu langkah mencegah penyakit tidak menular (7).
Di dalam Permenkes No. 30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula adalah 10% dari total energi (200 kkal) atau setara dengan 4 sendok makan gula (50 gram per orang per hari), anjuran konsumsi garam adalah 1 sendok teh atau sebanyak 2000
mg/orang/hari, dan anjuran konsumsi lemak adalah 20-25% dari total energi (702 kkal) atau setara 5 sendok makan per orang per hari atau setara 67 gram per orang per hari (6). Data Kemenkes menunjukkan bahwa 28,7% masyarakat Indonesia mengonsumsi Gula Garam Lemak (GGL) melebih batas yang dianjurkan. Sementara sebanyak 61,27% penduduk usia 3 tahun ke atas di Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari 1 kali per hari, dan 30,22% orang mengonsumsi minuman manis sebanyak 1-6 kali per minggu. Sementara hanya 8,51% orang mengonsumsi minuman manis kurang dari 3 kali per bulan (Riskesdas, 2018) (2). Konsumsi minuman manis juga bersifat linier, dengan data yang menunjukkan bahwa prevalensi minuman manis di kalangan remaja yang kelebihan berat badan dan obesitas telah meningkat dua kali lipat selama dekade terakhir (Kemenkes, 2022) (7).
Memilih Makanan Kemasan yang Sehat untuk Anak
Memilih makanan kemasan yang sehat untuk anak-anak memang perlu ketelitian. Berikut beberapa tips yang bisa Anda ikuti:
Perhatikan Ukuran Sajian: Pastikan Anda memahami berapa banyak makanan yang dianggap sebagai satu porsi.
Cek Kandungan Gula: Batasi makanan dengan kandungan gula tambahan yang tinggi. Carilah makanan dengan label “tanpa gula tambahan” atau “gula alami”.
Cari Serat: Pilih makanan yang kaya serat untuk membantu pencernaan anak.
Batasi Natrium: Natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Pilih makanan dengan kandungan natrium yang rendah.
Periksa Lemak: Batasi makanan dengan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi.
Cari Sumber Protein: Protein penting untuk pertumbuhan anak. Pilih makanan dengan sumber protein yang baik seperti daging tanpa lemak, telur, atau kacang-kacangan.
Perhatikan Bahan Tambahan: Hindari makanan yang mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pewarna buatan, dan perasa buatan.
Bagaimana Cara Membaca Informasi Nilai Gizi?
Membaca informasi nilai gizi mungkin terlihat rumit, namun dengan pemahaman yang tepat, Anda bisa menjadi konsumen yang cerdas. Label gizi memberikan informasi penting tentang kandungan gizi dalam suatu produk, sehingga Anda dapat membuat pilihan yang lebih sehat (5).
Umumnya informasi nilai gizi suatu produk berdasarkan pada satu kali penyajian. Jika mengonsumsi produk tersebut lebih dari 1 kali penyajian, maka kontribusi jumlah asupan kalori dan semua kandungan gizi yang ada dalam produk tersebut akan lebih tinggi.
Kandungan lemak dalam satu kali penyajian
%AKG (Angka Kecukupan Gizi) memberikan informasi kontribusi produk tersebut terhadap kebutuhan sehari. Misalkan %AKG menunjukkan nilai 20%, maka kebutuhan Gizi tersebut sudah terpenuhi 20% bila dikonsumsi sesuai takaran saji.
Isi gula dalam satu kali penyajian
Kandungan natrium dalam satu kali penyajian
Yuk, jadi konsumen yang lebih cerdas dan membuat pilihan makanan yang lebih sehat untuk diri sendiri dan keluarga dengan memahami label gizi.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Dewi, N. T., et al. (2023). Edukasi Label Informasi Nilai Gizi sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kemampuan Membaca Label Gizi Siswa di SMAN 5 Mataram. Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat, 4(1), 246-252. 10.35311/jmpm.v4i1.225
Kemenkes RI. Konsumsi Gula Berlebih, Waspadai RIsikonya. Sehat Negeriku. 2022 [cited 2024 Agustus 15]. Available from:
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220927/2841159/konsumsi-gula-ber lebih-waspadai-risikonya/
Lestari. W. A., & Iswahyudi. (2024). Upaya Pencegahan Obesitas Remaja Melalui Pendampingan dan Edukasi Label Gizi Serta Penerapan Kunci Jajan Sehat Bergizi. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 8(1), 177-184.
http://dx.doi.org/10.30595/jppm.v8i1.14483
P2PTM Kemenkes RI. Apa Saja Sepuluh Pedoman Gizi Seimbang?. 2019 [cited 2024 Agustus 15]. Available from:
https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/apa-saja-sepuluh-pedoman-gizi-se imbang
P2PTM Kemenkes RI. Bagaimana Cara Membaca Informasi Nilai Gizi?. 2021 [cited 2024 Agustus 15]. Available from:
https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh darah/bagaimana-cara-membaca-informasi-nilai-gizi
P2PTM Kemenkes RI. Berapa Anjuran Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak per Harinya?. 2018 [cited 2024 Agustus 15]. Available from:
https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh darah/page/31/berapa-anjuran-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-per-harinya
Ratu, C. A., et al. (2022). Kemampuan Membaca Label Gizi dengan Konsumsi Makanan dan Minuman Kemasan Tinggi Gula. Research Gate. Universitas Indonesia.
Sukmawati, I. A., & Sartika, A. N. (2022). Hubungan Paparan Media Informasi dengan Kebiasaan Membaca Label Gizi Produk di SMA Widya Nusantara Kota Bekasi. Jurnal Ilmu Gizi Indonesia, 3(2), 16-19.
Kita seringkali beranggapan bahwa dengan membaca label gizi, kita telah membuat pilihan makanan yang sehat. Namun, tahukah Anda bahwa banyak produsen makanan yang menggunakan trik-trik tertentu untuk membuat produk mereka terlihat lebih sehat daripada sebenarnya? Mari kita bongkar bersama berbagai klaim menyesatkan pada label gizi yang perlu diwaspadai.
Klaim “Tanpa Gula Tambahan” yang Menipu
Pernahkah melihat produk dengan klaim “tanpa gula tambahan”. Kedengarannya sangat sehat, bukan? Namun, perlu diingat bahwa banyak buah-buahan dan sayuran mengandung gula alami. Jadi, meskipun tidak ada gula tambahan, produk tersebut tetap bisa mengandung gula tetapi dengan indeks glikemik yang rendah. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan gula tambahan di dalam makanan, apalagi kandungan gula yang tersembunyi. Terkadang ada beberapa gula tambahan lainnya selain gula pasir yang ditambahkan sebagai pemanis. Namun, kita sering tak menyadarinya, karena biasanya menggunakan istilah yang kurang familiar untuk orang awam.(1) Berikut beberapa petunjuk untuk mengenali kandungan gula tambahan yang tersembunyi pada makanan: (1)
Terdapat kandungan sirup, seperti sirup jagung, sirup maple
Terdapat nama bahan berakhiran “osa”, seperti fruktosa, sukrosa, maltosa, dan dekstrosa
Ada kata gula pada bahan, seperti gula aren, gula tebu, gula merah, dsb
Contoh lainnya, termasuk nektar buah, konsentrat jus, madu
“Rendah Lemak” Tapi Tinggi Garam dan Gula
Produk dengan label “rendah lemak” memang terdengar menarik, tetapi jangan terburu-buru mengambilnya. Label “rendah lemak” juga disiasati oleh produsen makanan. Salah satu triknya adalah menyertakan porsi sekali makan yang sangat kecil dengan kandungan lemak yang lebih rendah. Kalau kita makan lebih dari porsi yang disarankan maka lemak yang dikonsumsi jadi bertambah. Para produsen juga sering menambahkan gula atau garam dalam jumlah tinggi dengan alasan untuk menghadirkan rasa enak pada produk tersebut. (2)
“Alami” dan “Organik” Tidak Selalu Sehat
Klaim “alami” dan “organik” memang membuat kita merasa lebih aman mengonsumsi produk tersebut. Istilah “alami” awalnya digunakan oleh FDA (Food Drug Association) untuk menggambarkan makanan yang benar-benar berasal dari bahan alami tanpa tambahan kimia atau proses kimiawi. Namun, dengan berjalannya waktu, produsen sering menggunakan istilah ini untuk menarik konsumen, sehingga maknanya menjadi kabur. Konsumen sering mudah percaya dengan label “100% alami” tanpa memahami arti sebenarnya. Karena itu, penting untuk mempertanyakan apa yang dimaksud dengan ‘alami’ pada label tersebut, apakah itu terkait kandungan, proses pengolahan, atau aspek lainnya. (3)
Angka Ajaib yang Menyesatkan
Perhatikan angka-angka pada label gizi seperti kalori, lemak, karbohidrat, dan protein. Angka-angka ini memang memberikan informasi penting, tetapi perlu membandingkannya dengan ukuran porsi yang tertera. Jangan tertipu dengan angka yang terlihat kecil jika ukuran porsinya sangat kecil. Keterangan pada label gizi sangat bermanfaat bagi mereka yang membatasi asupan kalori atau memiliki kondisi medis tertentu. Namun, karena banyaknya informasi yang tertera, tak jarang orang kesulitan membacanya.
Cara mudah membaca informasi nilai gizi : (4)
Jumlah Sajian
per Kemasan
Jumlah sajian per kemasan menunjukkan berapa banyak takaran saji yang terdapat dalam satu kemasan makanan. Misalnya, jika suatu produk keripik kentang mencantumkan “4 sajian per kemasan,” ini berarti satu kemasan bisa dibagi menjadi 4 sajian. Informasi nilai gizi yang tertera hanya berlaku untuk satu sajian, bukan seluruh kemasan. Jadi, jika Anda mengonsumsi seluruh kemasan, Anda akan mendapatkan 4 kali lipat nilai gizi yang tertera.
Kalori Total
Persajian
Kalori total pada informasi nilai gizi menunjukkan jumlah energi yang Anda peroleh dari setiap sajian makanan atau minuman. Semakin banyak sajian yang dikonsumsi, semakin besar asupan kalori yang didapat. Penulisan kalori biasanya disertai dengan keterangan “kalori dari lemak,” yang dihitung secara terpisah. Misalnya, sebungkus makaroni mencantumkan “kalori total per sajian” sebesar 250 kkal dan “kalori dari lemak” sebesar 110 kkal. Jika Anda mengonsumsi satu sajian, Anda mendapatkan total 250 kkal energi, termasuk 110 kkal dari lemak. Jika Anda menghabiskan satu bungkus makaroni yang terdiri dari 3 sajian, jumlah total kalori yang Anda peroleh perlu dikalikan tiga.
Angka Kecukupan Gizi
Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada informasi nilai gizi menunjukkan kebutuhan energi harian rata-rata, yaitu 2000 kkal. AKG menggambarkan jumlah zat gizi dalam satuan berat seperti milligram (mg) atau gram (gr), serta dalam bentuk persentase (%) AKG. Setiap zat gizi memiliki rekomendasi asupan harian tertentu, dan persentase AKG menunjukkan perbandingan antara zat gizi dalam suatu produk dengan total kebutuhan harian Anda. Misalnya, jika satu kotak jus jeruk mengandung vitamin C setara dengan 50% AKG per sajian, berarti dengan mengonsumsi satu kotak tersebut, Anda telah memenuhi 50% kebutuhan harian vitamin C Anda.
Klaim Kesehatan yang Tidak Berdasar
Klaim kesehatan pada label makanan sering kali bisa menyesatkan jika tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat. Berikut adalah beberapa contoh klaim kesehatan yang sering ditemukan pada label makanan dan mengapa mereka mungkin tidak berdasar :
Menurunkan Risiko Penyakit
Klaim bahwa suatu produk dapat menurunkan risiko penyakit tertentu seringkali tidak disertai dengan data penelitian yang valid dan peer-reviewed. Misalnya, klaim bahwa suatu makanan dapat mengurangi risiko kanker tanpa data klinis yang mendukungnya.
Bebas Gluten
Banyak produk yang mengklaim “bebas gluten” untuk menarik konsumen yang sensitif terhadap gluten. Namun, klaim ini tidak selalu berarti bahwa produk tersebut lebih sehat, terutama jika produk tersebut mengandung bahan tambahan atau tinggi gula.
Anti-Penuaan
Beberapa makanan atau minuman mengklaim memiliki efek anti-penuaan berkat kandungan antioksidan atau vitamin tertentu. Klaim ini seringkali tidak memiliki bukti klinis yang solid dan dapat lebih merupakan taktik pemasaran.
Tips Membaca Label Gizi dengan Cerdas
Membaca label gizi membantu konsumen memilih pangan yang aman dan sesuai kebutuhan. Label memungkinkan konsumen untuk memilih makanan yang seimbang, mempertahankan berat badan sehat, dan mengatur asupan lemak, kolesterol, gula, garam, serta meningkatkan konsumsi sayuran, buah, dan biji-bijian. (5)
Perhatikan ukuran porsi: Bandingkan ukuran porsi pada label dengan jumlah yang biasanya Anda konsumsi.
Baca daftar bahan: Semakin sedikit bahan tambahan dan pengawet yang tercantum, semakin baik.
Perhatikan kandungan gula, lemak, dan sodium: Batasi konsumsi gula, lemak jenuh, dan sodium.
Jangan terpaku pada satu klaim: Pertimbangkan keseluruhan informasi pada label.
Bandingkan beberapa produk: Pilih produk dengan kandungan gizii yang paling baik.
Membaca label gizi adalah langkah penting untuk membuat pilihan makanan yang sehat. Namun, kita perlu waspada terhadap berbagai trik yang digunakan produsen untuk membuat produk mereka terlihat lebih menarik. Dengan pengetahuan yang cukup, kita dapat menjadi konsumen yang cerdas dan tidak mudah tertipu oleh klaim-klaim menyesatkan.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Gager, Erin. Finding the Hidden Sugar in the Foods You Eat. [Internet]. Hopkins Medicine. [cited 2024 Agustus 17]. Avaiable from:
https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/finding-the-hidden-sugar-in-the -foods-you-eat
GGL. Produk Berlabel Low Fat. Sehatkah Buat Diet?. [Internet]. [cited 2024 Agustus 18]. Available from : https://blog.ggl.life/produk-berlabel-low-fat/
Mayasari, Kartika. Fakta di Balik Label Alami pada Makanan Kemasan. [Internet]. KlikDokter. 2018. [cited 2024 Agustus 18]. Available from :
https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/fakta-di-balik-label-alami-pada-makanan kemasan?srsltid=AfmBOopgdEQ_ezNbwsicnAnZvBFquFf_HtB7VigTSowWWSapjMHZdRSJ
Lestari, Diah Ayu. Cara Membaca Informasi Nilai Gizi pada Label Kemasan. [Internet]. Hello Sehat. 2023. [cited 2024 Agustus 18]. Avaiable from :
https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/cara-membaca-label-informasi-nilai-gizi-pada-ke masan-makanan/
Sarjinem. Perhatikan Label Kemasan Makanan. [Internet]. RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. [cited 2024 Agustus 18]. Available from :
https://sardjito.co.id/2022/05/27/membiasakan-membaca-label-pada-makanan-kemasan/
Terdapat 4 pilar Visi Pembangunan Indonesia 2045 salah satunya adalah pemerataan pembangunan. Aspek yang harus diperhatikan untuk mencapai sebuah pemerataan pembangunan terutama Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau adalah pemerataan kesejahteraan kesehatan, pendidikan, dan sosial ekonomi. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut diperlukan kerjasama antara pemerintah dan sumber daya manusia, pemerintah sebagai pihak berwenang dan penyedia fasilitas serta masyarakat sebagai pihak pelaksana pembangunan. Pemerintah harus dapat menyediakan fasilitas pembangunan dengan ruang lingkup yang bersifat merata tidak hanya berpusat pada daerah tertentu saja.
Memang masalah gizi apa yang perlu pemerintah perhatikan?
Beberapa penelitian menyebutkan masalah gizi Indonesia mayoritas mengalami peningkatan, tidak seperti negara ASEAN lain contohnya Malaysia, Singapura, dan Thailand. Masalah gizi di Indonesia yang menjadi pusat perhatian sampai saat ini adalah stunting(1). Fenomena stunting di Indonesia mencapai angka 30,8%(2). Stunting didefinisikan sebagai gangguan tumbuh kembang pada balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang, yang dapat terjadi sejak kehamilan hingga usia 24 bulan(3).
Mengapa Stunting menjadi topik pembicaraan dimana-mana?
Sebab stunting tidak hanya akan mengganggu pertumbuhan fisik namun juga pertumbuhan lainya seperti mental, kognitif dan intelektual anak. Seorang anak yang teridentifikasi stunting akan sulit mengikuti proses tumbuh kembang anak lainnya(3). Hal tersebut terjadi karena anak dengan stunting tidak memeroleh gizi
secara optimal sebab kurangnya asupan makanan bergizi dimulai dari awal kehamilan sampai pada usia 1000 hari pertama awal kehidupan anak tersebut(4). Faktor patofisiologis stunting dapat muncul dari beberapa aspek seperti kemiskinan yang berkepanjangan, ketahanan pangan, pola asuh orang tua yang tidak tepat, dan sering mengalami penyakit berulang yang disebabkan oleh kurangnya higiene dan sanitasi(5).
Lalu, tidak adakah program pemerintah sebagai langkah preventif stunting Indonesia?
Setelah ditelaah perlu banyak sektor yang harus bekerja sama untuk melakukan langkah preventif stunting Indonesia. Gerakan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) merupakan salah satu gerakan preventif dari pemerintah yang bergagasan pada masa awal kehidupan saat terbentuk janin dalam kandungan (270 hari) hingga dua tahun pertama kehidupan (730 hari) yang biasa disebut dengan golden period. Faktanya, intervensi spesifik pada 1000 HPK hanya memberikan pengaruh sebanyak 30% pada pencegahan stunting sedangkan 70 % merupakan intervensi sensitif oleh lintas sektor terkait(6).
Beberapa fokus yang perlu diperhatikan dalam upaya preventif stunting Indonesia adalah(6) :
Komitmen dan Visi Misi pemerintah daerah,
Kampanye stunting berfokus pada pemahaman perubahan perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas program,
Konvergensi, Koordinasi dan Konsolidasi Program Nasional, daerah dan masyarakat,
Mendorong implementasi kebijakan ketahanan pangan dan gizi, serta
Melaksanakan monitoring dan evaluasi program yang sudah dijalankan.
Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1000 HPK, namun status gizi remaja putri atau pra nikah memiliki kontribusi besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan hingga kelahiran, sebab kelak remaja putri merupakan calon ibu. Oleh sebab itu, setelah pencanangan program 1000 HPK dijalankan, beregenerasi menjadi 8000 HPK. Harapannya sebagai langkah preventif yang lebih jauh untuk dapat menghasilkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang optimal. Konsep dari Gerakan Hari Pertama Kehidupan adalah window of opportunity, sehingga semakin luas jangka waktunya akan memperluas perbaikan gizi yang tercapai. Mensejahterakan kesehatan masyarakat dapat dilakukan dengan pemenuhan kebutuhan gizi melalui penerapan gizi seimbang pada remaja putri sebagai calon ibu bukan tentang makan dan kenyang, namun tentang apa isi piring ketika makan. Menu makanan sehat bervariasi merupakan poin penting pada penerapan gizi seimbang. Selain itu, remaja putri sebagai calon ibu juga harus bebas anemia untuk dapat mencetak generasi emas selanjutnya.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Sugianto MA. Analisis Kebijakan Pencegahan Dan Penanggulangan Stunting Di Indonesia: Dengan Pendekatan What Is The Problem Represented To Be? J EMBISS [Internet]. 2021;1(3):197–209. Available from:
https://www.embiss.com/index.php/embiss/article/view/28
Khasanah N, Luthfa I, Hasna MY. Program Penguatan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) sebagai Upaya Optimalisasi 1000 HPK dalam Masa Pandemi Covid-19. Wikrama Parahita J Pengabdi Masy. 2022;6(1):89–97.
Rochmatun Hasanah, Fahimah Aryani, Effendi B. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pencegahan Stunting Pada Anak Balita. J Masy Madani Indones. 2023;2(1):1–6.
Sari D, Stunting P, Anak P, Dini U, Dampaknya S, Pendidikan PF, et al. Penceegahan Stunting pada Anak Usia Dini Serta Dampaknya pada Faktor Pendidikan dan Ekonomi. J Pengabdi Pada Masy Nusant. 2023;4(3):2679–2678.
Suryana EA, Azis M. The Potential of Economic Loss Due to Stunting in Indonesia. J Ekon Kesehat Indones. 2023;8(1):52.
Iwan. Pentingnya Peran Lintas Sektor Pada Pelaksanaan 1000 HPK dalam Pencegahan Stunting Di Bonebol [Internet]. Nancy Pembengo. 2020. Available from:
https://dinkes.gorontaloprov.go.id/pentingnya-peran-lintas-sektor-pada-pelaksanaan-1000- hpk-dalam-pencegahan-stunting-di-bonebol/
Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) telah lama diakui sebagai masa krusial dalam membentuk fondasi kesehatan seseorang, dimulai sejak masa konsepsi hingga saat anak berusia 2 tahun. Periode ini sering menjadi fokus utama berbagai intervensi kesehatan, baik di tingkat global maupun nasional, termasuk dalam program pencegahan stunting. Namun, ada periode kritis lain yang sering terabaikan dan belum mendapatkan perhatian yang layak, yaitu 7000 hari kehidupan setelahnya, yang kini dikenal sebagai 8000 HPK.
Apa itu 8000 HPK?
8000 Hari Pertama Kehidupan atau 8000 HPK adalah masa yang dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan hingga masa remaja akhir berusia 19 tahun. (1) Periode ini meliputi 1000 HPK dan 7000 hari setelahnya. Berikut adalah beberapa fase kritis yang dilalui seseorang hingga mencapai dewasa. (2)
1000 HPK Tahap ini dimulai sejak pembuahan hingga anak berusia 2 tahun. Periode ini sangat penting untuk perkembangan otak, pematangan sistem kekebalan tubuh, dan fungsi organ lainnya. Tahap ini juga menjadi pondasi penting untuk fungsi otak, sistem pencernaan, dan kekebalan tubuh yang kuat.
Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Anak Usia Pertengahan (5-9 tahun) Pada fase ini, anak menghadapi tantangan besar dalam pertumbuhan yang dipengaruhi oleh risiko infeksi dan kekurangan gizi. Risiko kematian pada fase ini lebih tinggi dari yang diperkirakan, sehingga perhatian khusus tetap diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Intervensi pada tahap ini juga dapat mencegah risiko masalah kesehatan yang mungkin terjadi di kemudian hari.
Fase Pertumbuhan Pesat Remaja (10-14 tahun)
Fase ini ditandai dengan perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Fase ini dikenal dengan istilah growth spurt. Pola makan dan kesehatan yang baik sangat penting untuk mendukung peningkatan massa tubuh, perubahan psikologis serta perilaku yang signifikan akibat pubertas.
Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Remaja (15 hingga awal usia 20-an)
Pada tahap ini, dukungan khusus diperlukan untuk membantu pematangan otak, interaksi sosial, dan pengendalian emosi. Fase ini juga melibatkan restrukturisasi otak lebih lanjut dan pengembangan perilaku yang akan berdampak pada kesehatan sepanjang hidup, seperti perilaku terkait penggunaan zat terlarang, aktivitas fisik, dan kesehatan mental.
Mengapa 8000 HPK Penting?
Dibutuhkan waktu sekitar 18-21 tahun atau sekitar 8000 hari bagi seseorang untuk menjadi dewasa seutuhnya. Pasalnya, tahap-tahap penting dalam periode ini sangat
mempengaruhi perkembangan individu, sehingga diperlukan dukungan yang tepat agar mereka dapat berkembang secara optimal dan mencapai potensi maksimalnya sebagai orang dewasa (3). Intervensi pada periode 8000 HPK penting karena proses pertumbuhan dan perkembangan selama masa ini memiliki pengaruh besar terhadap kualitas generasi masa depan, termasuk kualitas kesehatan generasi berikutnya.
Meskipun fokus intervensi terhadap 1000 HPK menjadi prioritas utama, hal ini saja masih belum cukup. Menurut Bundy (2), fokus yang terlalu sempit dapat mengakibatkan gagalnya upaya dalam mendukung perkembangan anak-anak dan remaja pada fase-fase kritis lainnya selama dua dekade pertama. Padahal, banyak potensi yang bisa dicapai setelah periode 1000 HPK tersebut.
Di lain sisi, penerapan 1000 HPK sebagai upaya pencegahan stunting masih belum menghasilkan luaran yang optimal. Oleh karena itu, perpanjangan intervensi melalui program 8000 HPK dapat dijadikan sebagai solusi jangka panjang yang efektif dalam menangani masalah stunting. Upaya ini tidak hanya berfokus pada sasaran ibu hamil dan bayi, namun juga meluas ke kelompok lainnya seperti remaja perempuan dalam rangka mengurangi angka kelahiran stunting di masa depan (4).
Pemerintah Yogyakarta telah menerapkan inisiatif 8000 HPK melalui Peraturan Walikota Nomor 41 Tahun 2021 sebagai bagian dari program pencegahan stunting. (1) Program 8000 HPK yang diterapkan mencakup intervensi yang ditujukan bagi ibu hamil hingga remaja. Setelah diterapkannya program tersebut, angka stunting di Yogyakarta pada tahun 2023 turun menjadi 12%, mengalami penurunan dari 21,41% di tahun 2018 (5).
Beberapa daerah di Indonesia juga telah mulai mensosialisasikan program 8000 HPK sebagai upaya menurunkan angka stunting dan gizi buruk. Di Kabupaten Aceh Besar, misalnya, Dinas Kesehatan telah mengadakan pertemuan untuk membahas pelaksanaan gerakan cegah stunting 8000 HPK, yang merupakan langkah preventif untuk mencegah stunting dalam jangka panjang (6). Selain itu, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan juga telah melakukan sosialisasi mengenai pentingnya pemenuhan pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi, anak, remaja, serta kelompok usia reproduksi (7).
Upaya 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam mendukung perkembangan optimal. Dengan memperluas intervensi dari periode 1000 HPK hingga 7000 hari berikutnya, program ini berpotensi mengatasi berbagai tantangan kesehatan yang tidak tertangani dalam periode 1000 HPK saja. Dengan penerapan program 8000 HPK secara lebih luas, kita dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang, serta membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih sehat dan produktif, terutama dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Yogyakarta. Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Yogyakarta Nomor 41 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Daerah Mempersiapkan Generasi Unggul Melalui Program 8000 Hari Pertama Kehidupan Tahun 2021-2025. Yogyakarta; 2021.
Bundy DAP, de Silva N, Horton S, Patton GC, Schultz L, Jamison DT. Child and Adolescent Health and Development: Realizing Neglected Potential. Disease Control Priorities, Third Edition (Volume 8): Child and Adolescent Health and Development. 2017 Nov 20;1–24.
Bundy DAP, de Silva N, Horton S, Patton GC, Schultz L, Jamison DT, et al. Investment in child and adolescent health and development: key messages from Disease Control Priorities , 3rd Edition. The Lancet. 2018 Feb;391(10121):687–99.
Renyoet BS, Dary D, Nugroho CVR. Intervensi pada Remaja Perempuan 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Generasi di Masa Depan: Literatur Review. Amerta Nutrition. 2023;7(2).
Sutiari NK, Adhi K, Utami NWA, Astuti PAS. View of Extending intervention window from 1000 to 8000 first day of life: how can it boost the stunting reduction program? [Internet]. PHPMA. 2024 [cited 2024 Aug 20]. Available from: https://phpmarchive.org/index.php/phpma/article/view/420/310
Center M. Dinas Kesehatan Aceh Besar Bahas Program 8000 HPK Dengan Lintas Sektor [Internet]. Acehbesarkab.go.id. 2019 [cited 2024 Aug 23]. Available from:
https://acehbesarkab.go.id/berita/kategori/skpd/dinas-kesehatan-aceh-besar-bahas-program-800 0-hpk-dengan-lintas-sektor
Arief. Program 8000 HPK, Solusi Holistik untuk Mengatasi Masalah Stunting [Internet]. Media Center Portal Berita Kalimantan Selatan. 2024 [cited 2024 Aug 23]. Available from:
https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2024/03/18/program-8000-hpk-solusi-holistik-untuk-mengat asi-masalah-stunting/
Penyakit kardiovaskular adalah penyebab terbanyak kematian di seluruh dunia, termasuk
Indonesia. (1) Penyakit ini banyak terjadi pada lansia dan menyebabkan kematian,
keterbatasan fisik, dan biaya yang signifikan. (2) Namun, pencegahan penyakit
kardiovaskular sebenarnya sangat terjangkau dan sederhana. (3) Yuk, simak penjelasannya.
Apa itu penyakit kardiovaskular?
Penyakit kardiovaskular merupakan kelompok penyakit yang terjadi pada jantung (“kardio”) dan pembuluh darah (“vaskular”). Jadi, penyakit kardiovaskular bukan hanya meliputi penyakit jantung, ya. Pembuluh darah pada berbagai organ lain juga bisa terlibat, di mana dapat terjadi penyempitan hingga penyumbatan. (1)
Pembuluh darah yang paling banyak terlibat dan berakibat fatal adalah pembuluh darah pada jantung (menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan serangan jantung) dan pada otak (menyebabkan stroke). (2)
Dampak global, nasional, dan personal
Setiap tahun, penyakit kardiovaskular menyebabkan 19,8 juta kematian di seluruh dunia dan kerugian ekonomi global setidaknya satu triliun dolar. (2,3)
Di Indonesia sendiri, tercatat 877.531 orang menderita penyakit jantung dan 638.178 orang menderita stroke. (4) Penyakit Jantung Koroner diperkirakan memiliki dampak ekonomi 52 triliun rupiah, dan biaya layanan kesehatan mencapai 2 kuadriliun rupiah. (5)
Tidak kalah penting, dampak personal penyakit kardiovaskular sangat besar. Pengobatan dan rehabilitasi penyakit kardiovaskular membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang tinggi, yang dapat membebani lansia dan keluarga secara fisik, emosional, dan finansial. (6)
Penyebab dan faktor risiko
Nah, jelas bahwa dampak penyakit kardiovaskular dalam berbagai sudut pandang sangat signifikan. Namun, penyakit kardiovaskular sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah, karena hingga 90% dari faktor risikonya dapat diubah dengan pola hidup sehat. (3,7)
Beberapa faktor risiko, seperti usia lanjut dan riwayat penyakit kardiovaskular pada keluarga memang tidak dapat diubah. Namun, banyak faktor risiko lain yang dapat diubah, meliputi penyakit metabolik seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes melitus (DM; gula darah tinggi), kolesterol darah tinggi, kebiasaan merokok, dan obesitas. (3,8)
Pencegahan: mulai dari gizi
Berlawanan dengan dampak penyakit kardiovaskular yang sangat signifikan, pencegahannya sangat sederhana, dimulai dari gizi. (7)
Gizi memerankan peran penting dalam seluruh tahap perjalanan penyakit kardiovaskular. Pertama, sebagai pondasi dasar pencegahan penyakit metabolik (seperti hipertensi dan DM). Selanjutnya jika telah terjadi penyakit metabolik, maka pengaturan gizi, olahraga, dan obat-obatan ditujukan untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Terakhir, jika telah terjadi penyakit kardiovaskular, manajemen gizi tetap merupakan pilar penting dalam pengobatan dan kontrol penyakit. (3) Jadi, di tahap mana pun kita berada, pengaturan gizi sangat penting, ya. Berikut adalah makanan yang perlu dipertimbangkan untuk mencegah penyakit kardiovaskular:
1. Sayur dan buah-buahan
Konsumsi banyak sayur (khususnya sayuran berdaun hijau) dan buah-buahan (seperti apel, anggur, alpukat, bluberi) yang utuh dan segar. Buah yang dikalengkan, dibekukan, maupun dikeringkan tanpa gula tambahan juga baik dikonsumsi. (9)
Meskipun sangat heterogen, pada umumnya sayur dan buah bersifat mengenyangkan, memiliki indeks glikemik rendah, dan kaya akan berbagai mikronutrien bermanfaat, seperti serat, vitamin, mineral, dan fitokimia serta memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi. (10)
Hindari jus maupun olahan buah dan sayur yang disertai penambah rasa, gula, dan pengawet buatan. (11)
2. Protein
Terdapat banyak sumber protein sehat, meliputi: (11,12)
● Protein nabati (baik berupa tahu dan tempe maupun kacang-kacangan)
●Ikan dan makanan laut lain mengandung banyak protein dan asam lemak omega 3 yang baik untuk kesehatan kardiovaskular
● Daging rendah lemak, daging tanpa kulit
Hindari daging ultra proses (seperti sosis beku olahan pabrik) dan daging dengan kandungan lemak tinggi. (11,12)
3. Karbohidrat
Karbohidrat kompleks adalah bagian penting makanan sehari-hari. Biji-bijian utuh seperti beras cokelat mengandung banyak serat yang membantu menjaga kadar kolesterol dan ditemukan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. (9,12)
Batasi karbohidrat sederhana (makanan manis yang mengandung banyak gula namun tidak mengenyangkan)
4. Minyak nabati
Minyak nabati seperti minyak zaitun, minyak kanola, minyak alpukat memiliki kadar lemak tidak jenuh yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan kardiovaskular. (13,14)
Hindari mentega dan lemak hewani. (13,14)
5. Minuman manis
Gunakan susu rendah lemak, konsumsi teh dan kopi sebaiknya tidak ditambah dengan banyak gula. (11,12)
Hindari minuman yang ditambah dengan pemanis buatan dan banyak gula tambahan. (11,12)
6. Garam
Batasi konsumsi garam. Konsumsi garam berlebih dapat menyebabkan hipertensi, salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. (9,12)
Penggunaan bumbu dan rempah dapat meningkatkan rasa makanan tanpa menggunakan terlalu banyak garam. (9,12)
7. Pengolahan makanan
Jika memungkinkan, konsumsi makanan yang diolah sendiri dan tingkatkan makanan yang dikukus dan direbus, serta gunakan sedikit minyak saat memasak (tumis, pan frying). (15,16)
Batasi makanan instan & cepat saji, makanan ultra-proses, dan makanan yang digoreng. (15,16)
Jangan terintimidasi oleh penjelasan di atas, ya. Perubahan pola makan tidak perlu dilakukan secara drastis. Perubahan secara bertahap akan memberikan lebih banyak manfaat dibandingkan memaksakan diri untuk langsung menerapkan perubahan yang signifikan kemudian menyerah. Berbagai penelitian menemukan bahwa perbaikan pola makan tanpa sepenuhnya memenuhi seluruh rekomendasi gizi tetap memberikan manfaat untuk kesehatan kardiovaskular. (11–13)
Pengaturan gizi dan diet yang baik tidak seharusnya menjadi momok. Nutrisi yang baik bisa didapatkan dengan mengonsumsi berbagai makanan yang sehat dan lezat serta bermanfaat untuk melindungi sistem kardiovaskular. (12)
Terakhir, lengkapi pengaturan gizi dengan tidak merokok, melakukan aktivitas fisik teratur (3-5x per minggu selama 30 menit), dan tidur cukup (7-8 jam) untuk memaksimalkan kesehatan kardiovaskular. (17)
Hanya pada lansia?
Nah, meskipun penyakit kardiovaskular lebih sering terjadi pada lansia, bukan berarti penyakit ini bisa diabaikan pada usia muda, ya!
Pertama, dengan perkembangan waktu, penyakit kardiovaskular tidak lagi menjadi penyakit yang hanya ditemukan pada lansia. Kedua, pencegahan yang telah dijelaskan sebelumnya akan lebih efektif semakin dini perubahan tersebut dilakukan. Plak lemak di pembuluh darah sudah mulai menumpuk pada usia 20 tahun, lho! Selain itu, pola hidup sehat akan lebih mudah dilanjutkan pada usia tua jika telah dibangun sejak muda, dibandingkan jika baru mengubah pola hidup setelah usia lanjut atau bahkan setelah mengalami gangguan kesehatan. (3,17)
Usia memang tidak bisa diubah. Penuaan akan terjadi pada semua orang yang beruntung dan berumur panjang. Namun, tua tidak berarti renta–banyak faktor risiko lain yang bisa diubah. Yuk, tua maupun muda, kita terapkan pola hidup sehat untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Mulai hari ini, mulai dari gizi, untuk kini dan nanti.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
WHO. WHO: Cardiovascular Diseases Fact Sheet. World Health Organization. 2021.
Mensah GA, Fuster V, Murray CJL, Roth GA. Global Burden of Cardiovascular Diseases and Risks, 1990- 2022. J Am Coll Cardiol. 2023 Dec 19;82(25):2350–473. Available from: https://www.jacc.org/doi/10.1016/j.jacc.2023.11.007
Wu J, Feng Y, Zhao Y, Guo Z, Liu R, Zeng X, et al. Lifestyle behaviors and risk of cardiovascular disease and prognosis among individuals with cardiovascular disease: a systematic review and meta-analysis
of 71 prospective cohort studies. Int J Behav Nutr Phys Act. 2024 Apr 22;21(1):42. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38650004/
Uli RE, Satyana RPU, Zomer E, Magliano D, Liew D, Ademi Z. Health and productivity burden of coronary heart disease in the working Indonesian population using life-table modelling. BMJ Open. 2020;
Paneni F, Diaz Cañestro C, Libby P, Lüscher TF, Camici GG. The Aging Cardiovascular System: Understanding It at the Cellular and Clinical Levels. J Am Coll Cardiol. 2017 Apr 18;69(15):1952–67.
2020 Dietary Guidelines Advisory Committee DPS. Dietary Patterns and Risk of Cardiovascular Disease: A Systematic Review. Diet Patterns Risk Cardiovasc Dis A Syst Rev 2020 Jul 15; Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK578519/
Tian D, Meng J. Exercise for Prevention and Relief of Cardiovascular Disease: Prognoses, Mechanisms, and Approaches. Oxid Med Cell Longev. 2019;2019:11. Available from: /pmc/articles/PMC6481017/
Belardo D, Michos ED, Blankstein R, Blumenthal RS, Ferdinand KC, Hall K, et al. Practical, Evidence Based Approaches to Nutritional Modifications to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Disease: An American Society For Preventive Cardiology Clinical Practice Statement. Am J Prev Cardiol. 2022 Jun 1;10:2666–6677. Available from: /pmc/articles/PMC8914096/
Zhao CN, Meng X, Li Y, Li S, Liu Q, Tang GY, et al. Fruits for Prevention and Treatment of Cardiovascular Diseases. Nutrients [Internet]. 2017 Jun 13;9(6). Available from: /pmc/articles/PMC5490577/
Pallazola VA, Davis DM, Whelton SP, Cardoso R, Latina JM, Michos ED, et al. A Clinician’s Guide to Healthy Eating for Cardiovascular Disease Prevention. Mayo Clin Proc Innov Qual Outcomes [Internet]. 2019 Sep;3(3):251. Available from: /pmc/articles/PMC6713921/
Sikand G, Severson T. Top 10 dietary strategies for atherosclerotic cardiovascular risk reduction. Am J Prev Cardiol. 2020 Dec 1;4. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34327475/
Feingold KR. The Effect of Diet on Cardiovascular Disease and Lipid and Lipoprotein Levels. Endotext [Internet]. 2024 Mar 31; Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK570127/
Schoeneck M, Iggman D. The effects of foods on LDL cholesterol levels: A systematic review of the accumulated evidence from systematic reviews and meta-analyses of randomized controlled trials. Nutr Metab Cardiovasc Dis. 2021 May 6;31(5):1325–38. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33762150/
Cui B, Yuan WK, Wang LDL, Wang FR, Peng J, Ma JY, et al. Association between cooking patterns and the prevalence of hyperlipidemia in Eastern China. BMC Public Health. 2024 Dec 1;24(1). Available from: /pmc/articles/PMC10763481/
Rodríguez-Ayala M, Sandoval-Insausti H, Bayán-Bravo A, Banegas JR, Donat-Vargas C, Ortolá R, et al. Cooking Methods and Their Relationship with Anthropometrics and Cardiovascular Risk Factors among Older Spanish Adults. Nutrients. 2022 Aug 1 [cited 2024 May 26];14(16). Available from: /pmc/articles/PMC9414627/
Kaminsky LA, German C, Imboden M, Ozemek C, Peterman JE, Brubaker PH. The importance of healthy lifestyle behaviors in the prevention of cardiovascular disease. Prog Cardiovasc Dis. 2022 Jan 1;70:8–15.