Olahraga Pilates kini digandrungi banyak anak muda. Banyak yang tertarik mencoba karena tampilannya yang estetik dan dinilai cocok untuk rutinitas kebugaran masa kini. Tapi, benarkah olahraga ini hanya sekadar tren? Atau justru menyimpan manfaat besar yang didukung secara ilmiah?

Olahraga Estetik yang Punya Esensi

Pilates bukan cuma tampak estetis dan menenangkan di linimasa media sosial, tapi memiliki nilai fungsional yang lebih dalam. Di balik studio berwarna netral dan gerakan-gerakan lembutnya, latihan ini adalah metode yang sudah ada sejak lama dan didesain untuk memperkuat tubuh secara menyeluruh.

Pilates dikembangkan oleh Joseph Pilates di awal abad ke-20. Metode ini berfokus pada penguatan otot inti (core), peningkatan fleksibilitas, serta kontrol gerak tubuh. (1, 2, 3)

Selain membantu membangun kekuatan dan memperbaiki postur, aktivitas ini juga berperan dalam mendukung kualitas tidur yang lebih baik, serta meningkatkan koordinasi gerak. (4,5)

Berkat pendekatan yang lembut dan fleksibel, aktivitas ini tergolong aman dan dapat disesuaikan dengan kemampuan individu, sehingga sangat ideal diterapkan bahkan pada kelompok lansia. (6) Di sisi lain, banyak atlet dan penari profesional yang juga mengandalkan metode ini untuk menjaga performa dan mencegah cedera.

Saat ini, Pilates semakin populer karena:

    1. Gerakannya terlihat ringan, tapi efektif.
    2. Studio Pilates menawarkan suasana yang tenang dan modern.
    3. Banyak influencer dan figur publik yang mempraktikkannya.

Tren Pilates memang sedang naik, tapi sebenarnya ini adalah metode latihan dengan dasar ilmiah yang kuat

Di Balik Popularitas Pilates: Apa Kata Sains?

Banyak yang bertanya-tanya, apakah Pilates hanya hype semata, atau benar-benar memberikan manfaat kesehatan?

Menurut studi Fizyoterapi rehabilitasyon (2023), latihan ini terbukti meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot inti, stabilitas postural, keseimbangan statis dan dinamis, kelincahan, serta daya tahan otot. (7)

Temuan dalam Journal of Clinical and Diagnostic Research (2024) juga menunjukkan bahwa Pilates efektif meningkatkan keseimbangan pada anak-anak dengan Spastic Cerebral Palsy, yaitu kondisi dengan otot yang kaku atau tegang secara berlebihan. (8)

Dengan pendekatan yang bersifat low-impact, Pilates menjadi alternatif aman dan ideal bagi pemula, orang lanjut usia, maupun mereka yang sedang menjalani pemulihan fisik. Jadi, bisa dibilang: ya, tren ini beralasan.

Dari Matras ke Mindfulness: Pilates untuk Kesehatan Mental

Metode ini tidak hanya menggerakkan tubuh, tapi juga menenangkan pikiran. Perpaduan antara gerakan yang terkontrol dan teknik pernapasan mendalam, Pilates membantu menciptakan efek mindfulness yang relevan dengan kebutuhan hidup modern yang serba cepat.

Menurut studi dalam Bulletin of Faculty of Physical Therapy (2023), latihan Pilates secara rutin terbukti membantu meningkatkan suasana hati dan pengurangan kecemasan, serta depresi. Aktivasi sistem saraf parasimpatis melalui latihan ini juga membantu tubuh memasuki kondisi tenang dan pulih. (9)

Dengan kata lain, Pilates bukan hanya tentang otot, tapi juga tentang berdamai dengan diri sendiri.

Ikut-Ikutan Tren? Tak Masalah, Asal Tetap Bijak

Tak perlu merasa bersalah jika kamu tertarik Pilates karena sedang viral. Justru, tren sering kali jadi pintu masuk menuju kebiasaan sehat. Tapi penting untuk memastikan bahwa latihan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan tubuh dan dijalani dengan cara yang tepat.

Mulailah dengan kelas pemula, pilih instruktur tersertifikasi, dan jangan terburu-buru mencoba gerakan rumit yang sering muncul di media sosial. Setiap orang punya titik awal yang berbeda, dan tidak ada salahnya memulai dari dasar.

Yang terpenting adalah konsistensi. Pilates bukan sekadar soal penampilan, tapi tentang menciptakan tubuh yang kuat dan selaras dari dalam.

Tips Realistis Memulai Pilates Tanpa Drama

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7544013303941516605"}}

Bagi kamu yang ingin memulai kebiasaan sehat lewat Pilates, berikut beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan:

        • Pilih studio atau kelas online dengan instruktur berpengalaman.
        • Gunakan pakaian yang nyaman agar gerakan tidak terganggu.
        • Jadwalkan latihan 2–3 kali seminggu untuk hasil yang konsisten.
        • Dengarkan sinyal dari tubuh, karena tidak ada gerakan yang layak dipaksakan.
        • Jangan bandingkan progresmu dengan orang lain.

Jika dilakukan secara rutin meski perlahan, latihan ini akan memberi manfaat jangka  panjang melebihi sekadar tren sementara. 

Bergerak Bukan karena Tren, tapi karena Sayang pada Diri Sendiri

Popularitas Pilates memang sedang tinggi. Tapi di balik estetikanya, olahraga ini  punya banyak manfaat yang terbukti secara ilmiah. Jika tren ini bisa membuka jalan untuk mulai peduli pada tubuh dan pikiran, mengapa tidak?

Mari anggap olahraga sebagai wujud kepedulian dan kasih pada diri kita sendiri. Dengarkan tubuhmu, rawat pikiranmu, dan temukan versi terbaik dirimu. Semua bisa  dimulai dari satu latihan sederhana di atas matras.

Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Indriyani N, Fitri NL, Sari SA, Keperawatan A, Wacana D, Kunci K, et al.  Penerapan Senam Pilates terhadap Nyeri Punggung Bawah pada Ibu Hamil  Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Kota Metro Tahun 2022.  Jurnal Cendikia Muda [Internet]. 2023;3(4):503–512. Available from: https://www.jurnal.akperdharmawacana.ac.id/index.php/JWC/article/view/498
  2. Ayu Vitalistyawati LP, Weta IW, Munawaroh M, Ngurah IB, Griadhi IPA, Imron MA.  Pilates Exercise lebih efektif meningkatkan fleksibilitas lumbal dibandingkan  senam yoga pada wanita dewasa. Sport and Fitness Journal [Internet].  2018;6(2):23–30. Available from: https://ojs.unud.ac.id/index.php/sport/article/download/39381/23857
  3. Gisto L, Ribeiro D, Avelino P, Costa H, Kiefer K. Effects of the Pilates method on  the pelvic floor muscles: a systematic review. Manual Therapy, Posturology &  Rehabilitation Journal [Internet]. 2023;21(March 2020):1–9. Available from: https://doi.org/10.17784/mtprehabjournal.2023.21.729
  4. Argaheni, N. B. Sistematik Review: Pengaruh Pilates Terhadap Kualitas Tidur  Pada Ibu Nifas. Midwiferia Jurnal Kebidanan [Internet]. 2021;7(1):16–26. Available  from: https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia/article/download/908 /1584/
  5. Sukmawati S, Mamuroh L, Nurhakim F. Efektivitas Pilates Exercise untuk  Mengurangi Nyeri pada Ibu Hamil. Malahayati Nursing Journal [Internet].  2023;5(8):2351–2369. Available from: https://doi.org/10.33024/mnj.v5i8.10309
  6. Das T, Bandyopadhyay N. Pilates exercises, types, and its importance: an  overview. In: World Congress on Multi Disciplinary Cohesion for Positive Health  and Well Being [Internet]. Hyderabad: BS Publications; 2023 Dec. p. 514–520.  Available from: https://www.researchgate.net/publication/378658655_PILATES_EXERCISES_TYPES_AND_ITS_IMPORTANCE_AN_OVERVIEW
  7. Yılmaz O, Soylu Y, Kaplan T, Taşkın M. How Pilates exercises affect sports  performance? A systematic review. Türk Fizyoterapi ve Rehabilitasyon Dergisi  [Internet]. 2023;34(3):367–373. Available from: https://doi.org/10.21653/tjpr.1211347
  8. Sharma S, Gupta N, Mittal A. Efficacy of Pilates training on balance in spastic  cerebral palsy children: a pilot study. Journal of Clinical & Diagnostic Research  [Internet]. 2024 Mar;18(3):133–136. Available from: https://doi.org/10.7860/jcdr/2024/75546.20053
  9. Parveen A, Kalra S, Jain S. Effects of Pilates on health and well-being of women:  a systematic review. Bulletin of Faculty of Physical Therapy [Internet].  2023;28(1):17. Available from: https://doi.org/10.1186/s43161-023-00128-9

Banyak anak sekolah yang kurang memperhatikan sarapan dan mengaggap sepele. Padahal, untuk memahami pelajaran dan menunjang prestasi di sekolah membutuhkan konsentrasi. Lalu, bagaimana cara anak dapat berkonsentrasi saat di sekolah? Tidak melewatkan sarapan menjadi salah satunya.

Pentingnya Sarapan bagi Anak Sekolah

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7543624643635203389"}}

Sarapan merupakan aktivitas makan di pagi hari yang dilakukan sebelum memulai berbagai macam kegiatan lainnya. Sarapan dapat berupa makanan pokok dan lauk pauk atau dapat juga berupa kudapan. Pada anak usia sekolah sarapan menjadi penting, jika anak melewatkan sarapan dapat menyebabkan sulit berkonsentrasi, sulit berpikir, mengantuk, dan lemas. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan energi dan zat gizi. (5)

Sarapan memberikan peran penting dalam menyediakan sumber energi yang diperlukan untuk anak sekolah agar dapat fokus pada pelajaran. Rata-rata sarapan menyumbang kebutuhan zat gizi harian dalam bentuk energi sebesar 25%. Pada sistem pencernaan karbohidrat dipecah menjadi gula sederhana yang meliputi
fruktosa, galaktosa, dan glukosa. Glukosa digunakan sebagai sumber energi bagi otak untuk meningkatkan konsentrasi, kewaspadaan mental, dan kekuatan mental. Hipoglikemia atau suatu kondisi kekurangan glukosa dapat terjadi pada anak-anak yang tidak terbiasa sarapan pagi sebelum sekolah atau aktivitas lainnya. Hal ini
dapat mengakibatkan gemetar, pusing, dan kesulitan untuk berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan, yang menunjukkan bahwa kebiasaan sarapan dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi saat di sekolah. (4)

Sarapan sebagai Pemenuhan Kebutuhan Gizi Anak

Sarapan berkontribusi terhadap kecukupan gizi yang mencakup berbagai makanan sehat dan makanan dengan nilai gizi tinggi, tetapi tidak memberikan energi berlebih. Sarapan memiliki banyak peran bagi tubuh, diantaranya dapat memelihara daya tahan tubuh, membantu agar lebih berkonsentrasi dan memudahkan saat bekerja atau belajar, serta membantu memenuhi kebutuhan zat gizi. (3,5)

Status gizi merupakan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi dalam tubuh. Gizi pada individu dapat dilihat dari status gizi. Salah satu faktor penting yaitu memiliki status gizi baik yang berperan dalam mempertahankan hidup, menjaga kesehatan, serta perkembangan di masa kini dan generasi yang akan datang. Makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat mengakibatkan kekurangan ataupun kelebihan gizi. Oleh karena itu, perlu memperhatikan prinsip keragaman makanan, keamanan makanan, pentingnya pola hidup sehat, berolahraga, dan berat badan ideal. Kekurangan zat gizi di pagi hari dapat terjadi karena menunda sarapan sehingga dapat meningkatkan kondisi malnutrisi atau kekurangan gizi. Selain itu, menunda sarapan dapat juga mengakibatkan konsumsi makanan yang berlebihan di waktu malam terutama saat makan malam sehingga dapat menyebabkan obesitas. (2)

Contoh Menu Sarapan bagi Anak Sekolah
bubur ayam

Zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) diperlukan oleh anak dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Selain itu, air dan serat juga diperlukan anak untuk memperlancar berbagai proses fisiologis dalam tubuh. Berikut beberapa contoh menu sarapan bagi anak sekolah, antara lain: (1)
1. Bubur ayam + pisang
2. Sandwich (roti + telur mata sapi + sayuran) + susu
3. Lontong sayur + telur + buah
4. Nasi goreng + telur dadar + sayuran
5. Nasi uduk + ayam goreng + buah
Membangun kebiasaan sarapan di pagi hari membutuhkan kesadaran dari diri sendiri dan adanya dukungan dari berbagai aspek, termasuk peran dari orang tua terutama ibu dalam membantu untuk menyediakan sarapan bagi keluarga. Hal ini tentunya akan membuat anak siap untuk menerima pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, jangan lupa awali harimu dengan sarapan!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. BPOM 2021, Pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah Untuk Pencapaian Gizi Seimbang, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta.
  2. Hanim, B., Ingelia, I. & Ariyani, D. 2022, ‘Kebiasaan Sarapan Pagi dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar’, Jurnal Kebidanan Malakbi, vol. 3, no. 1, pp. 28–35.
  3. Hermiyanty, Fitrasyah, S.I., Aiman, U. & Ashari, M.R. 2018, ‘Gambaran Pengetahuan dan Praktik Menyusun Menu Sarapan pada Orang Tua Siswa SDIT Al-Fahmi Palu’, Jurnal Gizi dan Kesehatan, vol. 2, no. 1, pp. 13–23.
  4. Putri, S.K. 2023, ‘Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi dengan Konsentrasi Belajar pada Anak Sekolah Dasar : Literature Review’, Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), vol. 6, no. 8, pp. 1538-44.
  5. Ramadhaniasari, C.D. & Sulandjari, S. 2024, ‘Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap dengan Kebiasaan Sarapan pada Anak Usia Sekolah Kelas 4, 5, dan 6 di SDN Ngagelrejo I Kota Surabaya’, Jurnal GIZI UNESA, vol. 4, no. 01, pp. 571–7.

Baru-baru ini, kasus MODY (Maturity-onset Diabetes of the Young) atau yang lebih dikenal dengan diabetes tipe 5, mulai mencuri perhatian masyarakat. MODY adalah jenis diabetes yang disebabkan oleh mutasi gen yang mengakibatkan produksi insulin di sel beta pankreas terganggu. Diabetes tipe 5 dapat terjadi sebelum seseorang berusia 25 tahun,(1) sehingga dapat menyerang anak-anak dan remaja.

Kasus Diabetes pada Anak di Indonesia

diabetes anak

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa 1.645 anak tercatat mengidap diabetes per Januari 2023. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan kasus sebesar 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010.(2) Selain dapat mengganggu tumbuh kembang anak, diabetes juga dapat memunculkan komplikasi penyakit lain, seperti kehilangan pengelihatan, penyakit jantung, dan stroke.(3)

Selain MODY, terdapat 2 jenis diabetes lainnya yang bisa dialami oleh anak-anak, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 merupakan kondisi gangguan keseimbangan glukosa darah akibat proses autoimun yang menyebabkan rusaknya sel beta pankreas sebagai produsen hormon insulin. Sementara itu, pada diabetes tipe 2, terjadi sebuah kondisi dimana gula darah tidak dapat masuk ke sel tubuh karena resistensi insulin. Faktor risiko terjadinya diabetes antara lain kelebihan berat badan atau obesitas dan riwayat diabetes keluarga.(3)

Oleh karena itu, pencegahan diabetes perlu dilakukan sejak dini terutama di tingkat keluarga. Apabila anak di usia sekolah mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, orang tua perlu memberikan suasana yang mendukung anak untuk dapat menurunkan berat badan guna mencegah diabetes, Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membatasi asupan kalori dan meningkatkan aktivitas fisik.

Membatasi Asupan Kalori

Usahakan untuk menyediakan makanan bergizi seimbang dengan menambahkan sayur dan buah sebagai sumber serat, serta memadukan protein hewani dan protein nabati. Selain dapat memenuhi kebutuhan serat, pola makan seperti ini dapat menghindarkan anak-anak dari makanan tinggi lemak jenuh dan makanan olahan (ultra-processed foods),(4) serta makanan dan minuman berpemanis yang tinggi kalori.

Gula memang secara alami terdapat dalam makanan, seperti pada buah-buahan dan susu. Namun, tidak jarang, dalam pengolahan makanan, gula ditambahkan untuk meningkatkan atau memperbaiki cita rasa. Hal ini masih diperbolehkan, asalkan penambahan gula pada makanan maupun minuman tidak melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan.

ESPGHAN (The European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition) telah mengeluarkan rekomendasi batasan asupan gula harian untuk anak-anak dan remaja, sebagai berikut:(5)
1) Usia 2-4 tahun: 15-16 gram atau setara dengan 4 sendok teh gula
2) Usia 4-7 tahun: <20 gram atau maksimal 5 sendok teh gula
3) Usia 7-10 tahun: <23 gram atau maksimal 5 1⁄2 sendok teh gula
4) Usia 10-13 tahun: 24-27 gram atau setara dengan 6 1⁄2 sendok teh gula
5) Usia 13-15 tahun: <32 gram atau maksimal 8 sendok teh gula
6) Usia 15-19 tahun: 28-37 gram atau setara dengan 9 sendok teh gula

Asupan gula yang dimaksud bukan hanya gula pasir, tetapi juga gula tersembunyi yang terkandung dalam makanan dan minuman kemasan. Selalu cek komposisi dan nilai gizi pada kemasan makanan dan minuman sebelum membeli. Pastikan bahwa gula tidak tertulis di urutan pertama dalam komposisi bahan makanan. Penting juga melihat kandungan gula pada tabel nilai gizi yang tertera pada kemasan agar tidak melebihi rekomendasi asupan gula harian.

Meningkatkan Aktivitas Fisik

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7543635287138651445"}}

Peningkatan aktivitas fisik juga merupakan faktor penting dalam pencegahan diabetes pada anak dan remaja. Namun, meningkatkan aktivitas fisik pada anak usia sekolah ternyata memiliki tantangan tersendiri. Dengan semakin berkembangnya teknologi, aktivitas sedenter menjadi lebih populer. Aktivitas seperti menonton televisi / video dan bermain game melalui komputer, laptop, ataupun ponsel,(6) sudah menjadi rutinitas anak-anak dan remaja.

Untuk menghadapi tantangan ini, orang tua perlu menciptakan suasana yang mendukung agar anak-anak bisa bergerak aktif sesuai anjuran, yaitu melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit per hari 5 kali dalam seminggu.(3) Berkebun atau berolahraga bersama keluarga dapat menjadi cara yang efektif. Selain dapat meningkatkan aktivitas fisik, kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi quality time antara anak dan orang tua. Cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong anak untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti basket, latihan baris-berbaris, dan lain-lain.

Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Susanto, JP. Maturity-onset Diabetes of the Young (MODY).CDK-223.2014;41(12):892-895.
  2. Linda Hasibuan. Kasus Diabetes Anak Meningkat 70 Kali Lipat, Kenali Gejalanya {Internet}.
    CNBC Indonesia. 2023 {cited 2025 May 12}. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230202091237-33-410301/kasus-diabetes-anak-meningkat-70-kali-lipat-kenali-gejalanya
  3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diabetes Overview {Internet}. National Institute of Health. 2016 {cited 2025 May 18}. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview
  4. Bansal, S., et al. Imapct of Whole-Foods, Plant-Based Nutrition Intervention on Patients Living with Chronic Disease in an Undeserver Community. American Journal of Lifestyle Medicine. 2022;16(3):382-389.
  5. ESPGHAN Commitee on Nutrition. Sugar in Infants, Children, and Adolescents: A Position Paper of The European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition Commitee on Nutrition. JPGN. 2017;65(6):681-696.
  6. Mayarestya NP, Pamungkasari EP,Prasetya H. Meta-Analysis the Effect of Screen Time on the Riskof Overweight in Children and Adolescents in Asia. J Health Promot Behav. 2021;06(03): 201-211. https://doi.org/10.26911/thejhpb.2021.06.03.04.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan cuma soal isi piring anak-anak sekolah. Lebih dari itu, MBG punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Di balik seporsi makanan bergizi, ada peluang emas untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, hingga dapur komunitas yang siap ikut ambil peran. Yuk, kita lihat bagaimana MBG bisa jadi jalan baru bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas!

Mengapa Program MBG Penting untuk Gizi dan Ekonomi Lokal?

Sejak diumumkan sebagai program unggulan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyita perhatian publik. Tujuan utamanya jelas untuk memastikan anak-anak Indonesia, terutama pelajar dan kelompok rentan, mendapat asupan bergizi setiap hari. (1)

Namun, manfaat MBG ternyata tidak berhenti di meja makan. Studi dalam Journal of Economics Development Research (2025), menyebutkan bahwa selain meningkatkan status gizi anak, MBG juga memberikan multiplier effect terhadap sektor pertanian,UMKM, dan daya beli masyarakat melalui optimalisasi rantai pasok lokal. (2)

Menurut laporan Badan Gizi Nasional (2024) juga bahwa penyelenggaraan MBG menyentuh banyak sektor, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan makanan, distribusi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. (3) Ini artinya, MBG bukan sekadar intervensi gizi, tetapi juga alat strategis membangun kemandirian ekonomi dari level paling dasar. (4)

Ketika UMKM Jadi Motor Penggerak Program MBG di Komunitas

Gambar 1 Paket MBG Selama Bulan Ramadhan (Sumber : Instagram.com/badangizinasional)

1. Dekat dengan Komunitas

UMKM pangan biasanya sudah memiliki jangkauan di wilayah sekitar sekolah atau lingkungan masyarakat. Kedekatan ini membuat mereka lebih cepat dan fleksibel dalam menyuplai makanan sesuai kebutuhan program MBG.

Gambar 2 Menu Makan Bergizi Gratis Bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta (Sumber: Antarfoto.com)

2. Menggunakan Bahan Lokal

Sebagian besar pelaku usaha kecil mengandalkan bahan baku dari petani, pasar tradisional, atau produsen sekitar. Ini mendukung prinsip keberlanjutan sekaligus membantu menggerakkan ekonomi lokal.

3.Peluang Kolaborasi dan Skala Usaha

Melalui kemitraan dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), UMKM bisa terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi. Skema ini membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas usaha secara rutin dan berkelanjutan.

Kolaborasi antara SPPG, petani, peternak, dan pelaku UMKM menjadi salah satu poin penting dalam penguatan ekonomi lokal melalui MBG. Dalam kunjungannya ke Depok, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut B. Pandjaitan, menekankan bahwa pengadaan bahan baku untuk dapur-dapur MBG sebaiknya dilakukan lewat mitra lokal, bukan hanya dari pasar umum. (3)

Dalam Final Report mengenai Efek Pengganda Program Makan Bergizi Gratis, juga ditegaskan bahwa sebanyak 30% kebutuhan makanan dalam program ini ditargetkan harus disuplai oleh kelompok tani setempat, sebagai langkah mendukung ekonomi lokal sekaligus memastikan ragam gizi tetap terpenuhi. (5)

Skema pembelian ini perlu ditata dengan baik agar rantai pasok berjalan stabil dan berdampak langsung pada peningkatan daya beli petani maupun pelaku usaha kecil di sekitarnya. (3)

Kolaborasi antara SPPG, UMKM, petani, dan pemangku kepentingan lainnya tidak hanya menjamin distribusi MBG yang lancar, tapi juga menghasilkan efek domino ekonomi, seperti:

  • Petani mendapatkan kepastian pasar
  • UMKM memiliki akses rutin penjualan
  • Lapangan kerja baru tercipta di daerah
  • Perekonomian desa ikut bergerak

FAO (2020) dalam kajian yang dikutip oleh Basit & Ramadani (2025) menyebut bahwa program makan sekolah yang melibatkan pasokan lokal dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 25% dan menciptakan lapangan kerja baru di daerah. (2)

Tantangan di Lapangan? Ini yang Bisa Dilakukan

Meski menjanjikan, pelaksanaan MBG tentu punya tantangan. Mulai dari pengawasan kualitas gizi, higienitas makanan, hingga tata kelola distribusi yang harus transparan.

Oleh karena itu, pelibatan masyarakat lokal dan UMKM perlu dibarengi dengan pelatihan, standarisasi, dan pendampingan.

Salah satu studi kasus di Tanjungpinang menunjukkan bahwa tantangan logistik dan kondisi sosial ekonomi lokal sangat memengaruhi kelancaran implementasi MBG, terutama di wilayah kepulauan yang aksesnya terbatas. (6)

Dalam Indonesian Journal of Intellectual Publication (2025), juga ditekankan bahwa keberhasilan MBG sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen distribusi serta pelibatan masyarakat lokal dalam pemantauan mutu makanan dan proses logistik. (7)

Beberapa langkah strategis yang bisa diambil seperti:
• Pelatihan gizi dasar dan keamanan pangan untuk UMKM
• Skema pembelian bahan baku dari petani dengan harga adil
• Digitalisasi rantai pasok dan sistem pelaporan
• Insentif untuk UMKM yang konsisten menyuplai MBG

Dengan begitu, MBG bisa menjadi ekosistem gizi sekaligus ekonomi yang saling menguatkan.

Dari Piring Sehat ke Ekonomi Kuat: Saatnya Kita Ambil Peran

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar proyek intervensi gizi, tapi juga peluang strategis untuk membangun ekonomi lokal yang kokoh dan berdaya saing.

Jika dijalankan secara optimal dan berkelanjutan, program MBG dapat menjadi intervensi lintas sektor yang memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memberdayakan ekonomi lokal secara serempak (2, 8)

UMKM sebagai motor penggerak ekonomi rakyat kini punya peluang konkret untuk naik kelas. Bukan hanya meningkatkan omzet, mereka juga bisa menjadi bagian dari solusi nasional dalam memerangi stunting, kemiskinan pangan, dan ketimpangan gizi.

Kalau kamu pelaku UMKM, penggerak komunitas, atau bahkan hanya ingin mulai kontribusi dari dapur rumahmu, sekarang saatnya bergerak. MBG bukan hanya tentang memberi makan, tapi tentang membangun masa depan yang lebih sehat dan mandiri.

Yuk, tingkatkan kesadaran kita bahwa piring sehat bisa mengubah banyak hal. Mulai dari prestasi anak hingga penghasilan keluarga. Bisa saja dari warung kecilmu hari ini, lahir solusi besar untuk negeri ini.</p>

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

1. Badan Gizi Nasional. Beranda - Badan Gizi Nasional [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://www.bgn.go.id/
2. Basit M, Ramadani H. Analisis implementasi program Makan Bergizi Gratis terhadap perkembangan ekonomi. Journal of Economics Development Research [Internet]. 2025;1(2):49–54. Available from: https://ejournal.gemacendekia.org/index.php/joeder/article/view/105
3. Badan Gizi Nasional. Kunjungan implementasi MBG di Depok [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://www.bgn.go.id
4. Waluyo SD. Kebijakan Makanan Bergizi Gratis: Tinjauan ekonomi politik dalam kesejahteraan dan ketahanan pangan. Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara [Internet]. 2025;12(1):144–51. Available from: https://jurnal.unigal.ac.id/dinamika/article/download/18223/pdf
5. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Final Report: Efek Pengganda Program Makan Bergizi Gratis (MBG) [Internet]. 2024 Nov [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://indef.or.id/wp-content/uploads/2024/11/Final-Report-Efek-Pengganda-Program-MBG.pdf

6. Nissa AK, Candra M, Humairoh T, Gusyuliandari S. Kebijakan Makanan Bergizi Gratis: Analisis ekonomi politik dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Studi kasus: SMP Negeri 4 Tanjungpinang. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial [Internet]. 2025 Jun;2(11):33-7. Available from: https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/1467/1603
7. Qomarrullah RI, Suratni S, Sawir M. Dampak jangka panjang program Makan Bergizi Gratis terhadap kesehatan dan keberlanjutan pendidikan. Indonesian Journal of Intellectual Publication [Internet]. 2025;5(2):130–7. Available from: https://journal.intelekmadani.org/index.php/ijipublication/article/view/660
8. Albaburrahim A, Putikadyanto APA, Efendi AN, Alatas MA, Romadhon S, Wachidah LR. Program Makan Bergizi Gratis: Analisis kritis transformasi pendidikan Indonesia menuju Generasi Emas 2045. Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial [Internet]. 2025;:767–80. Available from: https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/entita/article/download/19191/4633/

Pernah nggak sih para moms merasa bingung kenapa anak suka lesu di pagi hari, gampang sakit, atau susah konsentrasi waktu belajar? Padahal tidurnya cukup, aktivitasnya juga normal. Nah, bisa jadi penyebabnya ada pada pola makan dan kecukupan gizinya.

Di masa pertumbuhan, anak-anak bukan cuma butuh makanan yang mengenyangkan, tapi juga asupan gizi yang seimbang dan berkualitas untuk mendukung aktivitas fisik, fungsi otak, dan perkembangan tubuhnya. Jadi kalau kamu ingin anak tetap aktif, sehat, dan punya prestasi cemerlang di sekolah, yuk mulai perhatikan menu hariannya!

Makanan Merupakan Bahan Bakar Otak dan Tubuh Anak

anak dengan mobil balap

Bayangkan tubuh anak seperti mobil balap. Supaya bisa melaju kencang, dia butuh bahan bakar terbaik. Sama halnya dengan anak—semakin aktif mereka, semakin banyak energi dan zat gizi yang dibutuhkan.

Gizi memiliki peranan yang krusial dalam mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Dengan mengonsumsi makanan yang diolah menjadi energi, individu dapat memenuhi kebutuhan untuk aktivitas sehari-hari. Hal ini juga terlaksana di lingkungan sekolah, di mana siswa memerlukan makanan bergizi agar dapat menjalankan berbagai aktivitas dengan baik. Secara umum, kelompok usia anak-anak berada dalam fase yang rentan terhadap gizi sebab pertumbuhan fisik serta perkembangan yang cepat. Di samping itu, selama masa pertumbuhan, anak memerlukan energi yang mencukupi untuk melakukan berbagai macam aktivitas fisik.

Pola makan yang tidak baik dapat berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan yang kurang optimal, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit-penyakit kronis. Asupan gizi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan anak akan mendukung mereka dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Kondisi gizi yang kurang atau berlebih pastinya akan mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit, dan jika ini terjadi, akan berpengaruh juga pada konsentrasi selama proses belajar di sekolah, yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan prestasi siswa. (1) (2)

Berikut ini beberapa jenis zat gizi yang sangat penting untuk anak usia sekolah (3) (4):

  1. Karbohidrat kompleks: seperti nasi merah, kentang, oatmeal, atau roti gandum. Ini sumber energi utama yang tidak cepat habis, beda dengan gula yang bikin semangat cuma sesaat lalu lemas. Asupan karbohidrat yang kurang dapat berakibat buruk terhadap status gizi anak, menyebabkan tubuh lemah, lesu, tidak berenergi dan dapat menganggu tumbuh kembang anak
  2. Protein: berperan membentuk dan memperbaiki sel tubuh. Bisa berasal dari ayam, ikan, telur, daging sapi, susu, tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Kebutuhan konsumsi asupan protein yang dianjurkan bagi anak sekolah dasar dianjurkan mengkonsumsi protein sebanyak 50 gr/KgBB. Pada anak, fungsi terpenting protein adalah untuk pertumbuhan
  3. Lemak sehat: seperti omega-3 dari ikan laut, alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Lemak ini penting untuk pertumbuhan otak dan fungsi sistem saraf. Disamping fungsinya sebagai sumber tenaga, lemak juga menjadi bahan pelarut dari beberapa vitamin seperti vitamin A, D, E, dan K.
  4. Vitamin dan mineral: seperti zat besi, seng (zinc), yodium, vitamin A, C, D, E, dan B kompleks. Kekurangan zat-zat ini bisa bikin anak mudah lelah, gampang sakit, bahkan menghambat konsentrasi belajar.

Gizi Optimal Jadi Fondasi Prestasi Anak

Menurut Penelitian Anwar dkk. 2019 menunjukkan bahwa gizi seimbang sangat berpengaruh terhadap performa belajar anak. Kekurangan zat besi, misalnya, dapat menurunkan kemampuan konsentrasi dan mengingat. Sementara asupan sarapan yang seimbang terbukti dapat meningkatkan daya pikir dan fokus di sekolah (5).

Diperkuat oleh jurnal Hoata dkk. 2021 yang menyatakan anak-anak yang mengonsumsi makanan bergizi secara rutin cenderung memiliki prestasi akademik lebih tinggi, risiko absensi lebih rendah, serta pertumbuhan yang optimal dibandingkan dengan anak-anak yang kekurangan gizi atau terlalu sering mengonsumsi makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (6).

Kesalahan Umum dalam Pemberian Makanan Anak

Sering kali tanpa sadar, orang tua justru membentuk pola makan yang kurang sehat bagi anak. Beberapa kesalahan yang sering terjadi (7):

  1. Terlalu sering memberi camilan manis atau asin: seperti permen, wafer, minuman bersoda, ciki, atau es krim instan. Ini bisa bikin anak kenyang tapi kosong zat gizi.
  2. Melewatkan sarapan: sarapan sering disebut sebagai “makan paling penting dalam sehari”. Tapi sayangnya, banyak anak yang justru melewatkan sarapan dengan alasan nggak sempat, ngantuk, atau nggak lapar. Padahal, sarapan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh terlebih otak memerlukan gizi dalam meningkatkan kemampuan konsentrasi dalam belajar.
  3. Porsi tidak seimbang: terlalu banyak nasi tapi sayurnya cuma sedikit. Atau sebaliknya, anak tidak diberi lemak sama sekali karena takut gemuk. Tubuh anak membutuhkan asupan yang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral agar pertumbuhan dan perkembangan berjalan optimal. Jika porsinya tidak proporsional, misalnya kekurangan protein dan sayuran, anak bisa mengalami masalah seperti mudah lelah, gangguan konsentrasi, dan sistem imun yang lemah.
  4. Kurang minum: karena dehidrasi ringan saja bisa menurunkan fokus belajar dan membuat anak cepat lelah.

Tips Agar Anak Suka Makanan Sehat

Supaya anak nggak bosan dan tetap semangat makan, coba terapkan beberapa trik berikut (8):

  1. Buat tampilan menarik: misalnya bikin nasi bentuk karakter kartun, buah dipotong lucu, atau sayur disusun warna-warni seperti pelangi.
  2. Ajak anak ikut memilih bahan makanan: saat belanja atau menyiapkan makan malam, libatkan anak. Mereka jadi merasa dihargai dan lebih tertarik makan.
  3. Beri contoh yang baik: kalau orang tua rajin makan sayur dan buah, anak pun akan ikut mencontohnya.
  4. Sediakan camilan sehat di rumah: seperti puding chia seed, smoothies buah, jagung rebus, atau kacang panggang.
  5. Jangan paksa, tapi arahkan: misalnya dengan mengurangi jajan di luar secara perlahan dan mengedukasi kenapa makan sehat itu penting.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Fitri M, Tasya, Yuliani S, Leni, Randong MF, Aryasari P, et al. Penyuluhan Gizi Seimbang Anak Usia Sekolah Pada Siswa-Siswi SD Negeri 27 Kartiasa Kabupaten Sambas:Hippocampus [Internet]. 2022 Jun 27 [cited 2025 Jul 11];1(1):11–5. Available from: https://ojs.poltesa.ac.id/index.php/Hippocampus/article/view/352
  2. Tomasoa VA, Dary D, Dese DC. Hubungan asupan makan dan aktifitas fisik terhadap status gizi anak usia sekolah. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah [Internet]. 2021 [cited 2025 Jul 11];6(2). Available from: https://journal.um-surabaya.ac.id/JKM/article/view/7819
  3. Jauhari MT, Ardian J, Rahmiati BF. GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO ANAK USIA SEKOLAH DASAR. J NC [Internet]. 2022 Feb 28 [cited 2025 Jul 11];2(1):29. Available from: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/JNC/article/view/32516
  4. Pradnyandari NKPD, Weta W, Sawitri AAS. Perbandingan asupan makronutrien antara anak obesitas dengan normal pada siswa kelas 4-6 di Sekolah Dasar Santo Yoseph 2 Denpasar tahun 2017. Intisari Sains Medis [Internet]. 2019 Jun 17 [cited 2025 Jul 12];10(2). Available from: https://www.isainsmedis.ejournals.ca/index.php/ism/article/view/2255
  5. Anwar C, Isatirradiyah I. Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Akademik Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh Tahun 2017. JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE [Internet]. 2019 Mar 8 [cited 2025 Jul 12];4(1):42–50. Available from: https://jurnal.uui.ac.id/index.php/JHTM/article/view/165

  6. Hoata AT, Sutadarma IWG, Dewi NNA. Hubungan kebiasaan sarapan pagi dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa sekolah dasar. Jurnal Medika Udayana (JMU) [Internet]. 2021 [cited 2025 Jul 12];10(10):104–10. Available from: https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/70874/38562

  7. Kesalahan Saat Memberi Makan Anak [Internet]. [cited 2025 Jul 12]. Available from: https://food.detik.com/info-sehat/d-1712357/5 kesalahan-saat-memberi-makan-anak

  8. prasetio ielyfia. 6 Tips Membuat Anak Menyukai Makanan Sehat [Internet]. Blog ruparupa. 2022 [cited 2025 Jul 12]. Available from: https://www.ruparupa.com/blog/tips memberikan-makanan-sehat-untuk-anak/

Hai sobat ilmugiziku! Apakah kalian pernah mendengar tentang purin? Atau mungkin mencari tahu tentang penyakit asam urat? Nah ternyata, mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi purin berkontribusi lho terhadap terjadinya penyakit asam urat. Apa itu purin? Makanan apa saja yang tinggi purin? Dan bagaimana cara mencegah asam urat? Yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa itu Purin?

Purin merupakan salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Purin dapat ditemukan pada bahan makanan hewani maupun nabati. (1)Selain dari makanan, purin juga dapat terbentuk akibat perusakan sel-sel tubuh yang terjadi secara alami maupun kondisi penyakit tertentu.

Pengertian, Penyebab, dan Prevalensi Penyakit Asam Urat di Indonesia

Asam urat adalah hasil akhir metabolisme purin. Dalam kondisi normal, kadar asam urat pada laki-laki mulai meningkat selama pubertas. Sementara itu pada perempuan, peningkatan asam urat baru terjadi setelah menopause. Hal tersebut disebabkan karena hormon estrogen pada perempuan membantu menurunkan kadar asam urat melalui meningkatkan ekskresinya melalui ginjal. (2)

Apabila metabolisme purin berlangsung secara tidak normal, maka akan mengakibatkan meningkatnya kadar asam urat dalam darah atau hiperurisemia. Individu dikatakan mengalami hiperurisemia jika kadar asam urat serum > 7,0 mg/dl pada laki-laki dan > 6,0 mg/dl pada perempuan. (3) Sekitar dua pertiga kasus hiperurisemia tidak menunjukkan gejala klinis. (4,5)

Terdapat dua faktor utama yang menyebabkan hiperurisemia, salah satunya yakni peningkatan pembentukan asam urat dalam tubuh yang diakibatkan oleh produksi asam urat yang berlebihan serta penderita leukemia yang menjalani terapi menggunakan sitostatika. Faktor kedua yang menyebabkan hiperurisemia adalah penurunan ekskresi asam urat oleh ginjal melalui urin karena pemecahan asam nukleat yang berlebihan atau kerusakan ginjal, misalnya pada gagal ginjal kronis maupun glomerulonefritis kronis. Jika hiperurisemia tidak ditangani, tubuh tidak akan mampu mempertahankan homeostasis sehingga mempermudah terbentuknya kristal asam urat yang dapat mengendap di tulang rawan, tendon, ginjal, dan jaringan lainnya, yang pada akhirnya menimbulkan reaksi peradangan. (6) Selain itu, kristal asam urat juga dapat menumpuk di persendian yang kemudian menyebabkan gout artritis atau yang biasa disebut dengan penyakit asam urat.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penyakit sendi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah sebesar 11,9%, dan berdasarkan gejala yaitu sebesar 24,7%. Prevalensi tertinggi terjadi pada usia 75 tahun. Sementara itu menurut Perhimpunan Reumatologi Indonesia tahun 2018, sekitar 1-2% orang dewasa mengalami gout dan merupakan jenis inflamasi artritis terbanyak pada laki-laki. (7)

asam urat
Apa Saja Gejala Penyakit Asam Urat?

Gejala yang umumnya dialami oleh penderita penyakit asam urat antara lain (8) :

  1. Rasa nyeri yang hebat dan secara mendadak terutama pada ibu jari kaki serta jari kaki. Serangan nyeri juga dapat terjadi di pergelangan kaki, punggung kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, dan jari-jari tangan.
  2. Gangguan pada fungsi persendian yang biasanya terjadi di satu tempat, dan sekitar 70-80% pada pangkal ibu jari.
  3. Kulit persendian yang terkena mengalami kemerahan, pembengkakan, dan terasa panas yang disertai dengan peradangan serta demam dengan suhu tubuh di atas 38 oC.
  4. Nyeri hebat di pinggang jika terjadi batu ginjal akibat penumpukan asam urat di ginjal.
  5. Ketika gejala mereda dan bengkak mengempis, akan tampak bersisik, terkelupas, dan terasa gatal.
Metabolisme Purin menjadi Asam Urat

Proses sintesis asam urat dimulai dari terbentuknya basa purin yang berasal dari gugus ribosa, yaitu 5-phosphoribosyl-1-pyrophosphate (PRPP). Senyawa PRPP ini terbentuk dari ribosa 5-fosfat yang disintesis dengan Adenosine Triphosphate (ATP). Pada tahap pertama, PRPP bereaksi dengan asam amino glutamin sehingga menghasilkan fosforibosilamin yang memiliki 9 cincin purin. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim PRPP glutamil amidotransferase. Aktivitas enzim tersebut dihambat oleh produk akhir sintesis purin, yaitu nukleotida Inosine Monophosphate (IMP), Adenosine Monophosphate (AMP), dan Guanosine Monophosphate (GMP). (9)

Pada tahap selanjutnya, AMP mengalami deaminasi menjadi inosin. Kemudian, IMP dan GMP mengalami defosforilasi yang membentuk inosin serta guanosin. Inosin yang dihasilkan dari IMP yang terdefosforilasi akan membentuk hypoxanthine, yang kemudian diubah oleh enzim xanthine oxidase menjadi xanthine. Sementara itu, guanosin dipecah menjadi guanin yang mengalami deaminasi sehingga juga membentuk xanthine. Pada tahap terakhir, xanthine akan diubah oleh enzim xanthine oxidase menjadi asam urat yang merupakan produk akhir dari metabolisme purin dalam tubuh.

Bahan Makanan yang Diperbolehkan, Dibatasi, dan Dihindari

Berikut merupakan pengelompokan makanan berdasarkan kandungan purinnya :

  1. Kandungan Purin Rendah : nasi, ubi, singkong, jagung, mie, bihun, tepung beras, keju, susu, telur, minyak, kue, roti, puding, margarin, gula, buah-buahan. Bahan makanan ini bebas dikonsumsi setiap hari sesuai dengan keperluan.
  2. Kandungan Purin Sedang : ikan, daging sapi, daging ayam, udang, kacang-kacangan kering dan olahannya seperti tahu serta tempe, bayam, asparagus, daun singkong, kangkung, daun dan biji melinjo. Konsumsi bahan makanan tersebut perlu dibatasi.
  3. Kandungan Purin Tinggi : hati, ginjal, otak, jantung, paru, ekstrak daging (kaldu kental), remis, kerang, bebek, ikan sarden, makarel. Bahan makanan ini sebaiknya dihindari atau dikonsumsi dalam jumlah sedikit.

Bagaimana Langkah yang dapat Dilakukan untuk Mencegah Penyakit Asam Urat?

  1. Membatasi Asupan Makanan Tinggi Purin Kadar asam urat dapat meningkat secara cepat karena asupan makanan yang tinggi purin. Oleh karena itu, penting untuk membatasi konsumsi makanan tinggi purin, terutama bagi individu dengan kadar asam urat yang tinggi.
  2. Menghindari Minuman Beralkohol
    Alkohol mengandung purin dan kandungan etanol di dalamnya dapat menyebabkan peningkatan produksi asam urat dengan meningkatkan jumlah adenin. Penelitian yang dilakukan di Jepang menunjukkan bahwa
    setelah injeksi etanol, terjadi peningkatan produksi asam urat akibat peningkatan degradasi ATP menjadi AMP, yang merupakan prekursor asam urat. Selain itu, alkohol yang dikonversi menjadi asam laktat akan menghambat ekskresi asam urat karena asam laktat berkompetisi dengan asam urat dalam ekskresi melalui tubulus proksimal ginjal.
  3. Banyak Mengonsumsi Air Putih
    Mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup dapat membantu tubuh dalam mengekskresikan kelebihan asam urat sehingga mencegah penumpukan asam urat di persendian maupun ginjal.
  4. Apabila memiliki berat badan berlebih, disarankan untuk menurunkannya hingga BMI normal agar dapat membantu menurunkan kadar purin.
  5. Menggunakan Metode Rebus Untuk Mengolah Makanan Pengolahan makanan dengan cara direbus dapat mengurangi kandungan purin karena purin akan larut ke dalam air rebusan.
  6. Berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengonsumsi minuman atau suplemen berenergi, terutama suplemen yang mengandung fruktosa karena fruktosa dapat meningkatkan kadar asam urat serum. (1)
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Stevyna Barangmanise, Yani Karundeng, Latif Y. Kebiasaan Makan Makanan Tinggi Purin Pada Penderita Gout Arthritis Rawat Jalan Di Puskesmas Tuminting. PROSIDING Seminar Nasional Tahun 2018 ISBN : 2549-0931 [Internet]. 2018 [cited 2025 Jul 12];1(3):528–41.
    Available from: https://ejurnal.poltekkes-manado.ac.id/index.php/prosiding2018/article/view/469
  2. Kussoy VFM, Kundre R, Wowiling F. KEBIASAAN MAKAN MAKANAN TINGGI PURIN DENGAN KADAR ASAM URAT DI PUSKESMAS. J-Kp [Internet]. 2019 Oct. 24 [cited 2025 Jul. 12];7(2). Available from: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/jkp/article/view/27476
  3. Harris MD, Siegel LB, Alloway JA. Gout and hyperuricemia. American Family Physician [Internet]. 1999 Feb 15;59(4):925–34. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10068714/
  4. Siregar ML, Nurkhalis Nurkhalis. KORELASI ANTARA KADAR GULA DARAH DENGAN KADAR ASAM URAT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2. Idea Nursing Journal. 2015 Jan 1;6(3):27–33.
  5. Rini. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hiperurisemia pada Pasien Rawat Jalan RSUP Dr.Kariadi Semarang - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR). Undipacid [Internet]. 2025 [cited 2025 Jul 12]; Available from: https://eprints.undip.ac.id/25234/
  6. PERHIMPUNAN REUMATOLOGI INDONESIA [Internet]. Available from: https://reumatologi.or.id/wp-content/uploads/2020/10/Rekomendasi_GOUT_final.pdf
  7. Ansyarullah A, Cahyady E, Zurriyani Z. HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN TINGGI PURIN TERHADAP KEKAMBUHAN GOUT ARTRITIS DI POLI KLINIK PENYAKIT DALAM RS PERTAMEDIKA UMMI ROSNATI BANDA ACEH. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. 2020 Dec 31;7(4).
  8. Madyaningrum E, Kep S, Kes M, Kusumaningrum F, Ratri M, Wardani K, et al. TIM PENYUSUN [Internet]. Available from: https://hpu.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1261/2021/02/HDSS-Sleman-_Buku-Saku-Kader-Pengontrolan-Asam-Urat-di-Masyarakat-_cetakan-II.pdf
  9. Anggraini D. Aspek Klinis Hiperurisemia. Scientific [Internet]. 2022 Jul. 4 [cited 2025 Jul. 12];1(4):301-10. Available from: https://www.journal.scientic.id/index.php/sciena/article/view/59