Sebagian besar masyarakat mengabaikan masalah kekurangan mikronutrien, padahal menimbulkan dampak yang serius jika terus dibiarkan, seperti menurunnya daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (termasuk stunting), hingga berkurangnya produktivitas (1,7). Kondisi ketika seseorang kekurangan gizi mikro dapat disebut hidden hunger atau kelaparan tersembunyi (1,7). Salah satu inovasi yang dapat menjadi solusi adalah fortifikasi multinutrien dalam beras. Karena beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, fortifikasi ini dinilai strategis dalam menjangkau masyarakat luas (2).

Apa itu Hidden Hunger?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7561806104573775109"}}

Hidden hunger adalah kondisi ketika seseorang kekurangan satu atau beberapa mikronutrien seperti zat besi, zinc, vitamin A, folat, dan vitamin B, meskipun asupan kalorinya cukup. Hidden hunger atau kelaparan tersembunyi dipakai untuk menggambarkan problem kekurangan gizi mikro yang tidak memunculkan indikasi busung lapar atau gizi buruk tetapi membawa dampak berat pada kualitas sumber daya manusia (SDM). (1,7)

Bagaimana Dampak Hidden Hunger?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7561806246114839861"}}

Dampaknya serius, mulai dari menurunnya daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (termasuk stunting), berkurangnya produktivitas, hingga gangguan perkembangan intelektual dan psikomotorik anak-anak (1,7). Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang selain berdampak pada kesehatan fisik, juga mengurangi potensi intelektual dan menurunkan produktivitas kerja (7). Defisiensi yodium (iodine deficiency) dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan mental dan fisik, juga kehilangan “IQ poin” dalam jumlah besar jika tidak ditangani (7).

Apa itu Fortifikasi Multinutrien?

Fortifikasi berarti menambahkan zat gizi penting ke makanan yang banyak dikonsumsi. “Multinutrien” berarti lebih dari satu mikronutrien ditambahkan sekaligus, misalnya zat besi, zinc, folat, vitamin B1, dan vitamin B2 (2). Dalam praktiknya, fortifikasi beras dapat dilakukan melalui:

  1. Penambahan premix mikronutrien dalam proses penggilingan beras (fortified rice kernel/FRK) (2).
  2. Integrasi dalam program bantuan sosial agar kelompok rentan memiliki akses (2).
  3. Edukasi gizi agar masyarakat memahami pentingnya memilih beras fortifikasi (3).

Manfaat Fortifikasi Beras Multinutrien

  1. Mengurangi defisiensi mikronutrien
    Fortifikasi beras mampu meningkatkan asupan zat besi dan zinc terutama pada kelompok berpendapatan rendah (2).
  2. Mencegah stunting
    Kekurangan zat besi, zinc, folat, dan vitamin B berkontribusi pada stunting. Fortifikasi beras dapat membantu menurunkan prevalensinya (3).
  3. Efisiensi biaya
    Karena beras dikonsumsi sehari-hari oleh hampir semua lapisan masyarakat, biaya distribusi relatif lebih rendah dibandingkan suplemen individu (1).
  4. Dampak jangka panjang
    Fortifikasi beras menurunkan risiko anemia, meningkatkan sistem imun, serta menunjang kualitas hidup dan produktivitas masyarakat (4).

Tantangan dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  1. Stabilitas mikronutrien – Ada beberapa vitamin yang mudah rusak akibat panas dan kelembapan (2).
  2. Biaya produksi – Penambahan premix dapat menaikkan harga jual beras, sehingga perlu subsidi atau dukungan kebijakan (2).
  3. Regulasi dan standar – Diperlukan standar dosis, jenis mikronutrien, serta uji mutu (3).
  4. Penerimaan masyarakat – Perubahan warna, rasa, atau tekstur beras bisa memengaruhi minat konsumen (2).
  5. Distribusi dan logistik – Kesiapan penggilingan beras serta rantai pasok menjadi faktor penentu (5).

Implementasi di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menjadikan fortifikasi sebagai bagian dari strategi nasional perbaikan gizi (3). Kajian GAIN menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih kekurangan zat besi, zinc, vitamin B1, B2, dan folat (2). Untuk itu, Badan Pangan Nasional tengah menyusun standar beras fortifikasi agar kualitas dan kandungan gizi terjamin (3). Beberapa daerah, seperti Kabupaten Brebes, telah melakukan uji coba distribusi beras fortifikasi “Fortivit” untuk mencegah stunting (6).

Kesimpulan

Fortifikasi multinutrien dalam beras merupakan inovasi pangan pokok yang efektif untuk mengatasi hidden hunger di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan, regulasi, sosialisasi, dan distribusi yang baik, program ini dapat membantu mengurangi defisiensi mikronutrien, menekan angka stunting, serta mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat dan produktif.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Peña-Rosas JP, Mithra P, Unnikrishnan B, et al. Fortification of rice with vitamins and minerals for improved nutritional outcomes [Internet]. National Center for Biotechnology Information (NCBI). 2019 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–15. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6814158/
  2. Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN). Filling Indonesia’s Micronutrient Gap: The potential of fortified rice in the social protection system [Internet]. GAIN. 2024 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–8. Available from: https://www.gainhealth.org/sites/default/files/publications/documents/policy-brief-filling-indonesias-micronutrient-gap-the-potential-of-fortified-rice-in-the-social-protection-system.pdf
  3. UNICEF Indonesia. Landscape analysis of large-scale food fortification in Indonesia [Internet]. UNICEF. 2023 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–25. Available from: https://www.unicef.org/indonesia/media/21006/file/Landscape%20analysis%20large-scale%20food%20fortification.pdf
  4. Dewi NU, Putri AR, Sari MI. Effectiveness of food fortification in improving nutritional status in Indonesia [Internet]. NCBI (PMC). 2021 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–10. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7926461/
  5. Sitaresmi T, Handoko DD, et al. Advances in the development of rice varieties with better micronutrient content (biofortification) [Internet]. ScienceDirect. 2023 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–12. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666154323001096
  6. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Fortifikasi Beras di Brebes untuk Cegah Stunting [Internet]. Jatengprov.go.id. 2024 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–2. Available from: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/fortifikasi-beras-di-brebes-untuk-cegah-stunting/
  7. Khomsan A. Hidden Hunger [Internet]. Bogor: IPB Press; [cited 2025 Sep 23]. p. xvi–xx; 1–10. Available from: https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/122290/Pages%20from%20Cetakan-1%20Buku%20Hidden%20Hunger%20%28Ali%20Khomsan%29..pdf

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan hormon yang cukup sering terjadi pada wanita usia reproduktif. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan reproduksi, tetapi juga berhubungan erat dengan metabolisme tubuh, risiko diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung. (1,2) Gejala PCOS sering kali diabaikan karena dianggap masalah “biasa”, seperti haid tidak teratur atau jerawat berlebihan, padahal dampaknya bisa memengaruhi kualitas hidup wanita dalam jangka panjang.

Gambaran PCOS

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7560321952024399165"}}

PCOS ditandai oleh adanya siklus menstruasi yang tidak teratur, peningkatan hormon androgen (hormon laki-laki), serta temuan kista kecil pada ovarium. (1)

Selain itu, banyak wanita dengan PCOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Hal ini mengakibatkan kadar gula darah cenderung lebih tinggi dan risiko diabetes meningkat. (2,3)

Kondisi ini cukup umum. Diperkirakan 8–13% wanita usia reproduktif mengalami PCOS, dengan lebih dari 70% kasus belum terdiagnosis. (3) Prevalensi yang cukup tinggi ini menunjukkan bahwa PCOS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih.

Dampak PCOS terhadap Kesehatan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7560322290982882621"}}

PCOS tidak hanya mengganggu kesuburan, tetapi juga berkaitan dengan masalah metabolik. Wanita dengan PCOS lebih berisiko mengalami obesitas, gangguan lipid darah, hipertensi, hingga sindrom metabolik. (1,2) Resistensi insulin yang sering menyertai PCOS berperan besar dalam memperparah gejala dan meningkatkan risiko penyakit jangka panjang. Selain itu, kualitas hidup penderita sering kali menurun akibat gejala fisik seperti hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih), jerawat, dan gangguan emosional seperti mood swing.

Peran Pola Makan pada Penderita PCOS

Pola makan memiliki peran penting dalam tata laksana PCOS. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi nutrisi dapat memperbaiki resistensi insulin, menurunkan kadar androgen, serta membantu mengatur siklus menstruasi. (4,5) Oleh karena itu, modifikasi diet sering menjadi terapi lini pertama sebelum penggunaan obat-obatan.

Pola Makan yang Dianjurkan

Beberapa pola diet terbukti memberi manfaat nyata bagi penderita PCOS:

    1. Diet rendah indeks glikemik (Low GI) membantu mengontrol kadar gula darah dan sensitivitas insulin. (4) Diet rerndah GI dapat mengendalikan ketidakseimbangan metabolisme dan hormonal yang terkait dengan PCOS pada wanita. Contoh makanan rendah GI seperti biji-bijian utuk *oat, quinoa barley), kacang-kacangan (kacang-kacangan, lentil), buah-buahan (beri, apel, pir), dan sayuran (sayuran berdaun hijau, brokoli, kembang kol). (1)
    2. Diet Mediterania , yang kaya akan buah, sayuran, biji-bijian, minyak zaitun, dan ikan, memiliki efek antiinflamasi serta baik untuk metabolisme. (1,5)
    3. Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) terbukti memperbaiki resistensi insulin sehingga dapat menurunkan gula darah, serta profil lipid darah. (1,4)
    4. Pola makan tinggi serat dan protein berperan mengurangi kadar estrogen berlebih, menjaga kenyang lebih lama, serta menstabilkan kadar gula darah (6). Hal ini dapat dijalankan dengan diet tinggi protein dari sumber protein rendah lemak sehingga dapat memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah dalam mencegah lonjak glukosa darah dan kadar insulin. Contoh makanan berserat tinggi seperti sayuran (brokoli, bayam, wortel, kangkung), buah-buahan (apel, beri, pir, jeruk), biji-bijian utuh (beras merah, quinoa, oat utuh, barley), kacang-kacangan (lentil, buncis, kacang hitam), dan kacang-kacangan serta biji-bijian (almond, biji rami, chia seed). (1)
 

Selain itu, penting untuk membatasi konsumsi makanan tinggi gula sederhana, olahan tepung, serta lemak jenuh karena dapat memperburuk resistensi insulin dan inflamasi.

Peran Suplemen

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa suplemen dapat memberi tambahan manfaat. Inositol, vitamin D, dan omega-3 misalnya, terbukti membantu mengurangi resistensi insulin serta memperbaiki kesuburan pada wanita dengan PCOS. (7) Namun, penggunaan suplemen sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan untuk menyesuaikan dosis dan kondisi individu.

Strategi Gaya Hidup Sehat

Selain pola makan, gaya hidup sehat berperan penting dalam pengelolaan PCOS. Aktivitas fisik teratur terbukti meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan berat badan, serta memperbaiki keseimbangan hormon. (1,2) Tidur yang cukup dan manajemen stres juga sangat penting, mengingat stres kronis dapat memperburuk resistensi insulin dan mengganggu keseimbangan hormon.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Gautam R, Maan P, Jyoti A, Kumar A, Malhotra N, Arora T. The Role of Lifestyle Interventions in PCOS Management: A Systematic Review. Nutrients. 2025;17(2):310.
  2. Teede HJ, Misso ML, Costello MF, Dokras A, Leaven J, Moran L, et al. Recommendations from International evidence-based guideline for the assessment and management of PCOS. Hum Reprod. 2018;33(9):1602–18. doi:10.1093/humrep/dey256
  3. Bozdag G, Mumusoglu S, Zengin D, Karabulut E, Yildiz BO. The prevalence and phenotypic features of PCOS: a systematic review and meta-analysis. Hum Reprod. 2016;31(12):2841–55. doi:10.1093/humrep/dew218
  4. Juhász AE, Stubnya MP, Teutsch B, Gede N, Hegyi P, Nyirady P, et al. Ranking dietary interventions by their effectiveness in the management of polycystic ovary syndrome: a systematic review and network meta- analysis. Reprod Health. 2024;21:28. doi.org/10.1186/s12978-024-01758-5
  5. Di Lorenzo M, Cacciapuoti N, Lonardo MS, Nasti G, Belfiore A, et al. Pathophysiology and nutritional approaches in pcos: a comprehensive review. Curr Nutr Rep. 2023;12(3):201–13. doi.org/10.1007/s13668-023- 00479-8
  6. Leung WT, Tang Z, Feng Y, Guan H, Huang Z, Zhang W. Lower fiber consumption in women with polycystic ovary syndrome: a meta-analysis of observational studies. Nutr. 2022 Dec 12;14(24):5285. doi.org/10.3390/nu14245285
  7. Saeed AAM, Noreen S, Awlqadr FH, Farooq MI, Qadeer M, Rai N, et al. Nutritional and herbal interventions for PCOS: a comprehensive review of dietary approaches, macronutrient impact, and herbal medicine in management. J Health Popul Nutr. 2025;44:19. doi.org/10.1186/s41043- 025-00899-y

Tidak semua penyakit bawaan dapat terlihat saat bayi baru lahir. Sebagian gangguan metabolisme dan hormonal justru tersembunyi tanpa gejala, namun dapat memengaruhi cara tubuh memanfaatkan zat gizi. (1) Jika tidak dikenali sejak dini, kondisi ini bisa berdampak pada pertumbuhan, kecerdasan, bahkan kualitas hidup anak. Melalui skrining bayi baru lahir, masalah tersebut dapat terdeteksi lebih awal sehingga dokter dan tenaga gizi dapat segera memberikan intervensi medis dan nutrisi yang tepat. (2,3)

Apa Itu Skrining Bayi Baru Lahir?

Skrining bayi baru lahir adalah pemeriksaan kesehatan sederhana yang dilakukan pada hari-hari pertama kehidupan, biasanya melalui tetesan darah dari tumit bayi. Tujuannya adalah mendeteksi adanya penyakit bawaan atau kelainan metabolik sebelum gejalanya muncul. Dengan begitu, intervensi medis maupun gizi bisa segera diberikan agar bayi tumbuh sehat sesuai potensinya. (1,2)

Mengapa Skrining Itu Penting?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7560314440650968373"}}

Bayi yang terlihat sehat belum tentu bebas dari gangguan metabolisme. Misalnya, pada kasus Phenylketonuria (PKU), tubuh bayi tidak mampu memecah fenilalanin (Asam Amino Esensial) meski tampak normal sejak lahir. (2) Melalui skrining, kondisi ini dapat diketahui sebelum gejala muncul, sehingga dokter dan tenaga gizi bisa menyusun strategi terapi yang sesuai.

Deteksi dini juga terbukti bermanfaat, misalnya pada gangguan oksidasi lemak. Studi nasional di Jepang menunjukkan bahwa anak yang terdeteksi sejak lahir dan mendapat saran diet lebih awal memiliki pertumbuhan dan status gizi yang lebih baik. (3) Hal ini menegaskan bahwa skrining bukan hanya alat diagnosis, tapi juga fondasi dalam perawatan gizi/tatalaksana gizi pada bayi.

Jenis-Jenis Skrining Bayi Baru Lahir

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7560315118471499069"}}

Beberapa jenis skrining yang umum dilakukan antara lain:

  1. Gangguan metabolisme asam amino – Phenylketonuria (PKU), di mana tubuh tidak dapat memetabolisme fenilalanin (asam amino esensial). Tanpa diagnosis dan pengobatan dini, PKU dapat menyebabkan gangguan spektrum autisme, dan disabilitas intelektual irevesibel. Hal ini perlu diagnosis tepat waktu dan intervensi diet segera sangat penting dalam mencegah kerusakan saraf/neurologisnya. (2)
  2. Gangguan metabolisme lemak – Medium Chain Acyl-CoA Dehydrogenase Deficiency (MCAD) atau Long Chain 3-Hydroxyacyl-CoA Dehydrogenase Deficiency (LCHAD). Gangguan metabolisme lemak terjadi gangguan β-oksidasi asm lemak. Gangguan β- oksidasi menyebabkan pasokan energi yang tidak memadai dengan penurunan produksi badan keton dan mengalami hipoglikemia (kadar gula dara rendah). Penderita gangguan metabolisme lemak ini jika berpuasa yang lama akan berdampak yang akan mengancam jiwa dari perubahan kesadaran, hipoglikemia, hipoketotik, disfungsi hati dan hiperamonemia. Oleh sebab itu, pada penderita ini perlu diperhatikan pola puasa dengan tatalaksana diet dan pengawasan dokter. (3)
  3. Gangguan metabolisme karbohidrat – galaktosemia, yaitu ketidakmampuan mengolah galaktosa. Hal ini berkaitan dengan sumber susu yang memiliki laktosa. Apalbila susu yang mengandung laktosa tertelan oleh anak, dapat terjadi disfungsi hati berat, penyakit kuning, koagulopati, hepatomegali, dan katarak pada bayi baru lahir. Penderita gangguan ini harus bebas galaktosa seumur hidup. (1)
  4. Gangguan endokrin – hipotiroid kongenital, yang dapat memengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan. Melakukan skrining sedini mungkin dapat diobati dengan efektif dan tepat waktu sejak lahir. (1)
  5. Penyakit cystic fibrosis merupakan penyakit genetic autosomal resesif yang bersifat kronis dan progresif serta memengaruhi banyak organ terutama saluran pernapasan dan pencernaan. Penyakit ini gejalanua bisa memburuk seiring waktu dan bertahan seumur hidup pada tubuh penderita. (4)

Masing-masing kondisi ini membutuhkan intervensi medis dan gizi yang berbeda sesuai diagnosis.

Intervensi Diet dalam Tatalaksana Hasil Skrining

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter menentukan terapi medis, sementara ahli gizi membantu menyesuaikan pola makan bayi. Beberapa contoh intervensi gizi adalah:

  1. Gangguan metabolisme asam amino – PKU: tetap diberikan ASI, namun dikombinasikan dengan formula rendah fenilalanin agar kadar asam amino tetap terkendali. Pemberian ASI dianjurkan karena ASI secara alami mengandung kadar Phe (Fenilalanin Serum) yang lebih rendah (46-48 mg/100 mL) dan protein (1,07 g/100 mL). Banyak penelitian telah menunjukkan manfaat jangka pendek dan jangka panjanag dari pemberian ASi, termasuk penurunan risiko infeksi, peningkatan perkembangan saraf, dan penurunan kejadian penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, dan leukimia. (2)
  2. Gangguan metabolisme lemak: pola makan dengan frekuensi lebih sering, pembatasan lemak tertentu, serta dukungan energi dari karbohidrat untuk mencegah kekurangan energi. (1,3)
  3. Gangguan metabolisme karbohidrat – Galaktosemia: tatalaksana gizinya dengan diet bebas laktosa (bebas galaktosa) seumur hidup. (1)
  4. Gangguan endokrin – Hipotiroid kongenital: terapi utama adalah obat hormon, namun status gizi tetap dipantau untuk mendukung tumbuh kembang optimal. (1)
  5. Penyakit Cystic fibrosis: intervensi gizi berupa peningkatan kalori dan protein, serta penggunaan enzim pencernaan untuk mendukung penyerapan nutrisi. (4,5)

Semua intervensi ini dilakukan dengan kolaborasi antara dokter dan tim medisnya, tenaga gizi, dan orang tua, sehingga bayi baru lahir mendapat perawatan yang komprehensif. (6)

Skrining bayi baru lahir adalah langkah penting untuk memastikan setiap bayi mendapatkan kesempatan tumbuh optimal. Tes sederhana ini memungkinkan deteksi dini gangguan bawaan sehingga terapi medis dapat segera diberikan, dan intervensi gizi bisa disesuaikan sejak awal. Dengan deteksi cepat, kita tidak hanya mencegah komplikasi, tetapi juga memastikan setiap nutrisi benar-benar bermanfaat bagi masa depan anak.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Harms E, Olgemoller B. Neonatal screening for metabolic and endocrine disorders. PubMed Central by Dtsch Arztebl Int. 2011 Jan 10;108(1-2):11–22. doi:10.3238/arztebl.2011.0011
  2. Mejia LL, Lopez SG, Amieva MV, Lainez CF, Monroy Lc. Positive impact of breastfeeding on nutritional status and metabolic control in infants with PKU: a retrospective study. Nutrients. 2025;17(17):2851
  3. Rucklova K, Hruba E, Pavilikova M, Hank P, Farolfi M, Chrastina P, et al. Impact of newborn screening and early dietary management on clinical outcome of patients with long-chain 3-hydroxyacyl-CoA dehydrogenase deficiency and medium-chain acyl-CoA dehydrogenase deficiency—a retrospective nationwide study. Nutrients. 2021;13(9):2925
  4. Neri LdCL, Simon MISdS, Ambrosio VLS, Barbosa E, Garcia Mf, Mauri JF, Guirau RR, et al. Brazilian guidelines for nutrition in cystic fibrosis. SciFlo Bras. 2022;20:1-17. doi: 10.31744/einstein_journal/2022RW5686
  5. Martins JP, Forte GC, Simon MISDS, Epifanio M, Pinto LA, Marostica PJC. The role of neonatal screening in nutritional evolution in the first 12 months after diagnosis of cystic fibrosis. SciFlo Brazil. Rev Assoc Med Bras (1992).2018 Nov;64(11):1032-1037. doi:10.1590/1806-9282.64.11.1032
  6. Norris MK, Kanungo S. Role of metabolic nutrition in newborn screening and inherited metabolic disorders. OBM Genetics. 2023;7(4):196. doi:10.21926/obm.genet.2304196

Kimchi merupakan makanan khas Korea berupa hasil fermentasi sayuran dengan campuran bumbu pedas. Sayuran yang biasanya digunakan untuk membuat kimchi, yaitu sawi putih. Bumbu pedas yang digunakan, yaitu gula, garam, bawang putih, bawang bombay, jahe, dan cabe bubuk. Selain sawi putih, ada juga kimchi yang dibuat dari radish, seledri, wortel, mentimun, terong, lobak, dan daun bawang. Karena merupakan makanan fermentasi, maka kimchi terasa asam seperti acar. (1,2,3).

Meskipun digunakan sebagai side dish atau hidangan pendamping, kimchi juga mempunyai kandungan zat gizi yang baik dan memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Kimchi juga dapat disajikan dengan berbagai makanan yang bisa dikonsumsi sehari-hari.

1. Kandungan Gizi Kimchi

Dalam 100 g kimchi, terdapat kalori sebesar 22 kkal, lemak sebesar 0,32 g, protein sebesar 1,73 g, dan karbohidrat sebesar 4,16 g. Lebih rincinya, 100 g kimchi juga mengandung 0,047 g lemak jenuh, 0,147 g lemak tak jenuh ganda, 0,045 g lemak tak jenuh tunggal, 0 mg kolesterol, 1,3 g serat, 1,83 g gula, 645 mg sodium, dan 258 g kalium. (4). Selain zat gizi tersebut, kimchi juga mengandung vitamin B6, vitamin C, vitamin K, zat besi, asam folat, riboflavin, dan niacin. (3,5,6).

2. Manfaat Kimchi Bagi Kesehatan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7559596912765177141"}}

Kimchi mengandung probiotik sehingga dapat memberikan makanan kepada bakteri baik di usus yang dapat membantu kinerja pencernaan menjadi lebih baik. Hal ini dapat dikaitkan dengan pengaruh terhadap mood sehingga dapat meredakan stres dan rasa cemas. (5,7).

Selain itu, kandungan probiotik pada kimchi dapat mengurangi peradangan pada tubuh. Kimchi juga bermanfaat untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung dengan cara menurunkan level kolesterol dalam darah. (3.). Adanya probiotik pada kimchi dapat membantu meningkatkan kinerja sel imun pada tubuh sehingga dapat membantu sistem kekebalan pada tubuh. (8).

Selain mengandung probiotik, kimchi juga kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin K dan riboflavin. Vitamin K berperan dalam membantu fungsi dan kinerja tubuh, metabolisme di dalam tulang, dan pembekuan darah. Sementara itu, riboflavin berperan dalam regulasi produksi energi, pertumbuhan seluler, dan metabolisme. (3).

Sebagai hidangan pendamping dari makanan utama, kimchi juga rendah kalori yang dapat membantu menurunkan massa lemak dalam tubuh dan cocok dikonsumsi saat melakukan diet penurunan berat badan. Sebuah studi pada tahun 2024 menyebutkan bahwa mengonsumsi 1-3 porsi kimchi per hari berhubungan dengan penurunan risiko obesitas pada pria. (3,6).

3. Sajian Kimchi dengan Makanan Lainnya

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7559597167455833397"}}

Kimchi bisa dinikmati dengan berbagai hidangan utama. Misalnya, nasi goreng, nasi dengan lauk dan sayur lainnya, mi instan, dan masih banyak lagi. Jika kimchi dinikmati dengan mi instan, biasanya akan ditambahkan setelah mi instan matang dan ditunggu hingga dingin sejenak. Hal ini dapat menambah cita rasa yang lezat dan kandungan gizi pada mi instan yang dikonsumsi. (5).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Handayani I. Review literatur: Pengaruh konsentrasi garam terhadap hasil fermentasi Brassica juncea L. Untuk pembuatan kimchi. Biocaster : Jurnal Kajian Biologi. 2023; 3(1):46-52.
  2. Akyuni Q, Putri FR, Annisa N. Pevria R. Pembuatan kimchi berbahan dasar sawi putih (Brassica pekinensia L.). SEMNAS BIO 2022 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2022; 492-498.
  3. Snyder C. 9 Surprising Benefits of Kimchi. [Internet] Healthline. 2023. [cited 2025 September 14]. p.1. Avalaible from: https://www.healthline.com/nutrition/benefits-of-kimchi
  4. Fatsecret. Kimchi [Internet]. Fatsecret. 2020 [cited 2025 September 14]. p.1. Avalaible from: https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/kimchi
  5. Ciccolini K. 6 Quick Ways to Make Instant Noodles Healthy. [Internet] Healthline. 2020 [cited 2025 September 14]. p.1. Avalaible from: https://www.healthline.com/health/food- nutrition/make-instant-ramen-healthy
  6. The Healthline Editorial Team. Shiitake and Kimchi Lettuce Cups. [Internet] Healthline. 2025 [cited 2025 September 14]. p.1. Avalaible from: https://www.healthline.com/recipes/shiitake-and-kimchi-lettuce-cups
  7. Kubala J. 18 Terrific Foods to Help Relieve Stress, [Internet] Healthline. 2024. [cited 2025 September 14]. p.1. Avalaible from: https://www.healthline.com/nutrition/stress-relieving-foods
  8. Harlina PW. Training of producing functional fermented food ‘kimchi’. COMMUNITY EMPOWERMENT. 2022: 7(11): 1918-192.

Pola makan dengan gizi seimbang merupakan salah satu kunci utama dalam mencegah berbagai penyakit dan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dari berbagai jenis makanan, yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Selain itu, praktik gizi seimbang juga mencakup upaya memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan mempertahankan berat badan ideal. (1)

Pentingnya Gizi Seimbang dalam Mencegah Penyakit

Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dapat membantu tubuh mendapatkan gizi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi secara optimal, termasuk pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti malnutrisi, obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan memenuhi kebutuhan gizi secara tepat, sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat, sehingga mampu melawan infeksi dan penyakit secara lebih efektif. (2,3)

Prinsip-Prinsip Gizi Seimbang

Dalam menerapkan pola makan dengan gizi seimbang, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, di antaranya:

  1. Mengonsumsi Aneka Ragam Makanan
  2. Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Dengan demikian, penting untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah-buahan. (2)

    Konsumsi beragam jenis makanan ini penting dalam mendukung pemenuhan asupan karbohidrat sebagai energi, protein untuk perbaikan dan pertumbuhan jaringan, lemak sehat, serta vitamin dan mineral untuk mendukung fungsi sel dalam bekerja. (4)

  3. Aktivitas Fisik yang Cukup
  4. Selain pola makan, aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga keseimbangan energi dan berat badan ideal. Menurut Kementerian Kesehatan RI, disarankan untuk berolahraga secara teratur minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu. Aktivitas fisik ini dapat dilakukan dengan jalan cepat, naik turun tangga, joging, berenang, maupun bersepeda. (5)

    Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan obesitas, serta menjaga kesehatan mental dengan meningkatkan konsentrasi dan menurunkan tingkat stres. (6)

  5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
  6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga menjadi bagian penting dalam mendukung praktik gizi seimbang. PHBS ini dapat meliputi segala tindakan kesehatan yang dilakukan secara sadar oleh masing-masing individu dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatan.

    Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh kuman dan bakteri. (7)
  7. Mempertahankan Berat Badan Normal
  8. Pemantauan berat badan secara rutin perlu dilakukan untuk membantu mencegah obesitas maupun kekurangan gizi yang dapat memicu berbagai penyakit. Menurut sebuah studi, bahwa mempertahankan berat badan normal sangat penting untuk mencegah penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung. (8)

    Selain itu, dengan menjaga berat badan ideal dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan fisik dan mental, yang memungkinkan individu untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan sehari-hari dan kehidupan masyarakat.

Panduan Praktis “Isi Piringku”

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7559589694254648629"}}

Untuk memudahkan penerapan gizi seimbang, utamanya yang ingin dimulai dari pengaturan makan, Kementerian Kesehatan RI memperkenalkan konsep “Isi Piringku” sebagai panduan dalam menyusun porsi makan:

  1. 50% dari piring: diisi dengan sayur dan buah-buahan.
  2. 50% lainnya: diisi dengan makanan pokok (seperti nasi, roti, atau pasta) dan lauk-pauk yang kaya protein (seperti daging, ikan, kacang-kacangan, atau telur). (1)

Selain itu, penting untuk membatasi konsumsi makanan yang tinggi akan kandungan gula, garam, dan lemak, serta memastikan asupan air putih yang cukup setiap hari. Sarapan pagi juga dapat menjadi kebiasaan baik yang dapat membantu menyediakan energi untuk memulai aktivitas sehari-hari.

Kesimpulan

Penerapan pola makan dengan gizi seimbang bukan hanya tentang memilih makanan yang tepat, melainkan juga mengintegrasikannya ke dalam gaya hidup sehari-hari. Dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan bergizi, menjaga kebersihan, berolahraga secara teratur, dan memantau berat badan, kita dapat mencegah berbagai penyakit dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian. 2024 [cited 2025 February 09]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/isi- piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang
  2. Arias, J. V., Guerrero, C. C., Espinoza, L. G., Jácome, M. Á. E., & Arizala, J. F. C. Healthy Eating And Nutrition, A Review Of The Theoretical Aspects Of A Healthy Diet. AG Salud [Internet], 2025;3(112), 112-112. Available from: https://www.doi.org/10.62486/agsalud2025112
  3. Ajewole, A. O. The Role of Nutrition in Preventing Chronic Diseases. ScienceOpen Preprints [Internet], 2024, 1-5. Available from: https://www.doi.org/10.14293/pr2199.001181.v1
  4. Yati, A. F. Upaya Peningkatan Pemahaman Tentang Pentingnya Gizi Seimbang Bagi Balita Di Praktek Mandiri Bidan Sary Rahayu, S. ST Tahun 2024. Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat [Internet], 2024;2(1), 186-191. Available from: https://www.doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.856
  5. Kementerian Kesehatan RI. Anjuran Menkes Nila Soal Durasi Waktu Olahraga. 2019 [cited 2025 February 18]. Available from: https://p2ptm.kemkes.go.id/tag/anjuran- menkes-nila-soal-durasi-waktu- olahraga#:~:text=Menteri%20Kesehatan%20RI%20Nila%20Moeloek,diharapkan%2 0membuat%20masyarakat%20hidup%20sehat.
  6. Plavina, L. Healthy Diet And Regular Physical Activities For Support Endurance And Fitness. Rural Environment. Education. Personality [Internet], 2022;15. 215-220. Available from: https://www.doi.org/10.22616/reep.2022.15.026
  7. Tentama, F. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) demi kesejahteraan masyarakat Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat [Internet], 2017;1(1), 13-18. Available from: https://doi.org/10.12928/jp.v1i1.309
  8. Sogara, R. I., Hinga, I. A., & Landi, S. Gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Malata Kecamatan Tana Righu Kabupaten Sumba Barat Tahun 2024. SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat [Internet], 2024;3(3), 581-594. Available from: https://www.doi.org/10.55123/sehatmas.v3i3.3459

Anak sudah makan banyak, tapi tetap gampang lelah atau susah fokus? Mungkin bukan soal porsinya, tapi apa yang ada di piringnya. Soalnya, makanan anak nggak cuma bikin kenyang, tapi juga berperan besar dalam tumbuh kembang dan semangat belajarnya. Yuk, kita cek bareng isi piring mereka. Siapa tahu perlu sedikit sentuhan biar makin sehat dan berprestasi!

Sudah Cek Isi Piring Anak Hari Ini?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7557730379076095285"}}

Setiap fase pertumbuhan anak butuh asupan gizi yang seimbang. Gizi yang baik berperan membantu anak memiliki tinggi dan berat badan ideal, serta daya tahan tubuh yang kuat. Tapi nggak cuma itu, asupan zat gizi juga bisa bantu kerja otak, termasuk daya ingat, fokus, dan cara anak berpikir. (1,2)

Saat tumbuh kembang anak terganggu, salah satu penyebab utamanya sering kali adalah asupan gizi yang tidak seimbang. Anak yang kekurangan zat gizi penting seperti protein hewani, zat besi, dan zinc berisiko terhambat dalam pertumbuhan, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi. (3) Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini bisa berdampak pada prestasi belajar dan bahkan produktivitas mereka saat dewasa nanti.

Menu Harian Anak: Jangan Hanya Kenyang, Tapi Juga Padat Gizi

Agar anak bisa tumbuh dan berprestasi, perhatikan komposisi makanan hariannya. Bukan hanya soal banyaknya porsi, tapi kualitas. gar dan hidangan tradisional. Dengan begitu, konsumsi makananmu bisa tetap selaras dengan prinsip makan sehat.

  1. Karbohidrat Bukan Musuh, Pilih yang Bikin Anak Aktif Seharian
    Anak-anak adalah kelompok usia yang sangat aktif. Mereka butuh energi dari karbohidrat, tapi sebaiknya bukan dari gula sederhana saja.

    Utamakan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, ubi, atau roti dari gandum utuh. Jenis ini akan lebih lambat dicerna, sehingga anak kenyang lebih lama dan tidak cepat lemas. (4)

  2. Protein Itu Bukan Cuma Buat Otot, Tapi Juga Otak Anak
    Protein penting untuk membangun dan memperbaiki sel tubuh, termasuk sel-sel di otak. Menurut sebuah buku ilmiah tentang gizi dan perkembangan anak, protein tidak hanya penting untuk membentuk otot, tapi juga berperan dalam fungsi otak dan mendukung pembentukan mielin, lapisan pelindung saraf yang penting untuk kelancaran komunikasi antar sel otak.(5)

    Anak sebaiknya rutin mengonsumsi protein hewani dari telur, ayam, ikan, atau daging merah. Tambahkan juga variasi protein nabati seperti tahu, tempe, atau aneka kacang.

  3. Sayur & Buah: Booster Daya Tahan Sekaligus Mood Anak
    Vitamin dan mineral dari sayur serta buah bantu perkuat imun dan jaga energi anak tetap stabil sepanjang hari. (6)

    Trik agar anak suka sayur? Sajikan dalam bentuk yang menarik, seperti ditumis warna-warni, dijadikan sup bening, atau dicampur ke dalam nasi goreng. Untuk buah, bisa disediakan potongan kecil dalam wadah lucu yang mudah dijangkau anak.

  4. Pentingnya Zat Besi & Omega-3, Biar Anak Nggak Loyo
    Zat besi bisa membantu cegah anemia, sementara omega-3 penting untuk fungsi otak dan konsentrasi anak. (5)

    Ikan laut seperti salmon dan sarden mengandung omega-3 yang tinggi. Sementara zat besi bisa ditemukan dalam hati ayam, daging sapi, maupun sayuran berdaun hijau. Sebaiknya, sajikan juga sumber zat besi bersama vitamin C (misalnya dengan jus jeruk) agar penyerapan lebih optimal.

    Sebaliknya, hindari menyajikan zat besi bersamaan dengan sumber tanin dan fitat, seperti teh dan kopi, karena bisa menghambat penyerapan.

Contoh Menu Harian Anak yang Nggak Bikin Ribet Tapi Tetap Sehat

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7557730983756254525"}}
  1. Sarapan:
    Nasi merah + telur dadar isi sayur + potongan papaya segar
    Susu atau air putih hangat

  2. Makan siang:
    Nasi putih + ayam ungkep + tumis bayam + tahu goreng renyah
    Jeruk segar sebagai pencuci mulut

  3. Camilan sore: Pisang kukus atau roti gandum isi selai kacang
    Air putih

  4. Makan malam: Nasi + ikan kembung bakar + sup wortel-kentang
    Buah naga atau semangka

Menu ini cukup fleksibel dan bisa diatur sesuai bahan yang ada di rumah. Intinya, pastikan ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam setiap waktu makan.

Tips Cerdas untuk Orang Tua yang Super Sibuk

  1. Masak dalam jumlah cukup untuk 2 waktu makan, lalu simpan di kulkas dan panaskan saat dibutuhkan.
  2. Libatkan anak dalam menyiapkan makanannya, agar mereka lebih semangat makan.
  3. Gunakan bumbu alami dan hindari MSG berlebihan.

Isi Piring Hari Ini, Bekal Masa Depan Anak Nanti

Pemberian makanan bergizi setiap hari bukan hanya kewajiban orang tua, tapi juga bentuk cinta kepada anak. Anak yang tumbuh sehat punya peluang lebih besar untuk berprestasi di sekolah, olahraga, bahkan dalam bersosialisasi.

Jangan tunggu sampai anak terlihat lemas atau susah fokus. Mulailah dari isi piringnya, kita bisa bantu mereka jadi generasi yang lebih kuat dan cerdas.

Suapan demi suapan bisa jadi investasi kecil buat masa depan anak. Yuk, mulai lebih perhatian sama isi piring mereka sekarang. Jangan cuma pikir mereka makan apa, tapi juga manfaatnya buat tumbuh kembang mereka. Kalau kamu orang tua, kakak, guru, atau siapa pun yang dekat dengan anak-anak, peranmu penting banget! .

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Manalu TSM, Nabila MR, Ramadhani ND, Azzahroh UM. Peran gizi dalam perawatan kulit yang optimal. Antigen: Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi [Internet]. 2024;2(2):52–66. Available from: https://doi.org/10.57213/antigen.v2i2.260
  2. Li S. Nutrition and dietary balance on growth and development of children and adolescents. In: Biological Sciences and Environmental Health [Internet]. CRC Press; 2024. p. 115–21. Available from: https://doi.org/10.1201/9781003587590-17
  3. Abdel Reda FM, Qasim F, Abdel Hassan MB, Saleh HAA, Kazem LQR. Impact of micronutrient deficiencies on child development. J Med Genet Clin Biol [Internet]. 2024;1(6):261–7. Available from: https://doi.org/10.61796/jmgcb.v1i6.674
  4. Irving A, Thomas P, Young C, Handford S. Carbohydrates: friend or foe to post‐exercise hunger?. J Physiol [Internet]. 2023;601(23):5141–3. Available from: https://doi.org/10.1113/jp285386
  5. Gould JF. Complementary feeding, micronutrients and developmental outcomes of children. In: Nestle Nutr Inst Workshop Ser [Internet]. 2017 Mar;87:13–28. Available from: https://doi.org/10.1159/000448934
  6. Kemenkes RI. Kuatkan sistem kekebalan tubuh dengan cukupi asupan sayur dan buah. Ayo Sehat [Internet]. 12 Dec 2022 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/kuatkan-sistem-kekebalan-tubuh-dengan- cukupi-asupan-sayur-dan-buah