Kesehatan sering kali dipandang sebagai isu biologis murni, namun kenyataannya, status kesehatan seseorang sangat dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang kita sebut sebagai gender. Analisis gender bukan sekadar membedakan laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memahami bagaimana perbedaan peran, akses, dan kendala sosial memengaruhi cara setiap individu mendapatkan layanan kesehatan. Tanpa pendekatan ini, kebijakan kesehatan berisiko menjadi “buta gender”—tampak adil di atas kertas, namun gagal menyentuh akar masalah di lapangan.

Salah satu instrumen paling efektif untuk menjembatani kesenjangan ini adalah Gender Analysis Pathway (GAP). Alat ini berfungsi sebagai kompas bagi para perencana kebijakan untuk mengidentifikasi hambatan tersembunyi dan merumuskan.

Konsep Analisis Gender dalam Kesehatan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7598559533652348178"}}

Menurut World Health Organization (WHO), analisis gender adalah metode untuk mengidentifikasi perbedaan faktor risiko, perilaku pencarian layanan, hingga hasil kesehatan antara laki-laki dan perempuan. Gender sendiri bukan sekadar aspek biologis, melainkan konstruksi sosial yang memengaruhi peran, akses terhadap sumber daya, dan kontrol atas keputusan dalam konteks kesehatan. Pendekatan ini membantu mengungkapkan ketidaksetaraan struktural sehingga solusi yang diambil dapat lebih efektif dalam mengurangi ketimpangan tersebut.

Dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) berarti mengintegrasikan perspektif gender ke dalam semua tahapan kebijakan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Tujuan akhirnya adalah menjamin bahwa setiap kebijakan yang diambil tidak memperkuat atau menciptakan kesenjangan gender baru. Melalui penyediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin, pengambil kebijakan dapat memiliki dasar yang kuat dalam menyusun program yang inklusif bagi perempuan maupun kelompok rentan lainnya

Konsep Analisis Gender dalam Kesehatan

Menurut World Health Organization (WHO), analisis gender adalah metode untuk mengidentifikasi perbedaan faktor risiko, perilaku pencarian layanan, hingga hasil kesehatan antara laki-laki dan perempuan. Gender sendiri bukan sekadar aspek biologis, melainkan konstruksi sosial yang memengaruhi peran, akses terhadap sumber daya, dan kontrol atas keputusan dalam konteks kesehatan. Pendekatan ini membantu mengungkapkan ketidaksetaraan struktural sehingga solusi yang diambil dapat lebih efektif dalam mengurangi ketimpangan tersebut.

Dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) berarti mengintegrasikan perspektif gender ke dalam semua tahapan kebijakan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Tujuan akhirnya adalah menjamin bahwa setiap kebijakan yang diambil tidak memperkuat atau menciptakan kesenjangan gender baru. Melalui penyediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin, pengambil kebijakan dapat memiliki dasar yang kuat dalam menyusun program yang inklusif bagi perempuan maupun kelompok rentan lainnya.

Dari Data Menuju Aksi

GAP diterapkan untuk menilai dan memperbaiki dokumen kebijakan agar lebih responsif gender melalui langkah-langkah yang terstruktur. Proses ini dimulai dengan penetapan program yang akan dianalisis, dilanjutkan dengan pengumpulan data pembuka wawasan untuk mengidentifikasi kesenjangan berdasarkan empat aspek utama:

  1. Akses: Siapa yang bisa mencapai fasilitas kesehatan?
  2. Partisipasi: Siapa yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan?
  3. Kontrol: Siapa yang memegang kendali atas sumber daya (uang/kendaraan)?
  4. Manfaat: Siapa yang benar-benar merasakan dampak dari program tersebut?

Analisis ini juga membedakan antara penyebab internal dari sistem kebijakan serta penyebab eksternal yang berkaitan dengan norma sosial dan budaya patriarki.

Setelah penyebab kesenjangan teridentifikasi, dilakukan reformulasi tujuan dan penyusunan rencana aksi yang lebih spesifik. Langkah terakhir adalah penetapan indikator gender yang relevan untuk mengevaluasi dampak perubahan program tersebut. Dengan kerangka ini, GAP membantu perencana menghasilkan strategi yang tidak hanya adil secara gender, tetapi juga efektif dalam meningkatkan capaian indikator kesehatan nasional.

Pahami: Mengapa Angka Kematian Ibu Tetap Tinggi?

Mari kita lihat sebuah anomali: di sebuah kabupaten, fasilitas kesehatan telah tersedia, namun Angka Kematian Ibu (AKI) tetap tinggi. Melalui analisis GAP, ditemukan akar masalah yang bukan bersifat medis:

  1. Hambatan Kultural: Banyak ibu hamil tidak bisa memeriksakan kandungan karena harus menunggu izin suami yang sedang bekerja.
  2. Otonomi Rendah: Hanya 30% perempuan yang memiliki kontrol atas keuangan keluarga untuk biaya transportasi ke puskesmas.
  3. Ketidaknyamanan: Dominasi tenaga kesehatan laki-laki di desa membuat sebagian perempuan merasa enggan melakukan pemeriksaan fisik yang sensitif.

Kalau kita nelihat hal tersebut, intervensi kebijakan diarahkan pada penyelesaian hambatan akses di lapangan melalui edukasi tersegmentasi yang melibatkan suami. Hal ini bertujuan untuk memastikan adanya dukungan kuat dalam pengambilan keputusan medis di tingkat keluarga.

Hal ini diperkuat dengan penataan SDM kesehatan yang lebih berimbang secara gender untuk meningkatkan aksesibilitas layanan bagi perempuan. Dengan demikian, pendekatan ini memastikan bahwa perencanaan kesehatan benar-benar mampu menjawab hambatan nyata yang dihadapi kelompok sasaran secara efektif.

Jadi kesimpulannya, analisis gender merupakan instrumen krusial dalam mewujudkan sistem kesehatan yang inklusif dan berkeadilan. Melalui penerapan GAP, perencana kebijakan dapat mengevaluasi secara sistematis ketimpangan yang ada dan menyusun strategi intervensi yang benar-benar tepat sasaran.

Implementasi pengarusutamaan gender ini pada akhirnya tidak hanya meningkatkan aksesibilitas layanan, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan sistem yang responsif gender, hasil pembangunan kesehatan dapat dirasakan secara adil dan setara oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Referensi

  1. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). (n.d.). Gender Analysis Pathway (GAP) dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH). https://jdih.kemenpppa.go.id/
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Modul pelatihan pengarusutamaan gender (PUG) bidang kesehatan. Siakpel (Sistem Informasi Akreditasi Pelatihan). https://siakpel.kemkes.go.id/
  3. Lazuardi, E., Kusnanto, H., & Trisnantoro, L. (2020). Analisis kesenjangan gender dalam akses layanan kesehatan ibu di Indonesia: Sebuah tinjauan literatur. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 9(2), 75-84.
  4. Morgan, R., George, A., Ssali, S., Hawkins, K., Molyneux, S., & Theobald, S. (2016). How to do (or not to do) a gender analysis in health systems research. Health Policy and Planning, 31(8), 1084–1093. https://doi.org/10.1093/heapol/czw037
  5. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nakes. (n.d.). Penggunaan alat analisis GAP dalam program kesehatan. Wijaya Husada Open Courseware.
  6. World Health Organization (WHO). (2020). Gender scaling up: Gender analysis in health. WHO Regional Office for South-East Asia. https://www.who.int/publications/i/item/gender-analysis-in-health
  7. World Health Organization (WHO). (2023). Gender mainstreaming for health managers: A practical approach. WHO Press

Pernahkah Anda membuka Buku KIA hanya saat diminta petugas kesehatan? Atau mungkin buku berwarna merah muda itu lebih sering terselip rapi di dalam tas, menunggu jadwal imunisasi berikutnya?

Padahal, di balik sampul sederhananya, Buku KIA menyimpan “harta karun” yang sering luput kita sadari. Ia bukan sekadar buku catatan, tetapi sahabat setia orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak—sejak dalam kandungan hingga masa balita.

Di tengah derasnya informasi parenting di media sosial, menjadi smart parent bukan berarti harus mengikuti semua tren. Justru, orang tua yang cerdas adalah mereka yang mampu memanfaatkan sumber tepercaya yang sudah ada di tangan. Dan Buku KIA adalah salah satu yang paling lengkap.

Saat Gizi Bukan Sekadar Soal Kenyang

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7598547835654638856"}}

Banyak orang tua mengukur tumbuh kembang anak hanya dari satu hal: “Berat badannya naik atau tidak?” Padahal, cerita tentang gizi jauh lebih luas dari sekadar angka di timbangan.

Di dalam Buku KIA, ibu diajak memahami bahwa setiap suapan adalah investasi masa depan. Sejak masa kehamilan, tubuh ibu bekerja keras membangun fondasi kehidupan anak. Setelah lahir, peran makanan semakin krusial—bukan hanya untuk tumbuh besar, tetapi juga untuk membentuk daya pikir, daya tahan tubuh, dan kebiasaan makan sehat.

Panduan MPASI dalam Buku KIA hadir sebagai pegangan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia. Bukan sekadar mengikuti tren makanan viral, melainkan berbasis pada tahapan usia dan kesiapan anak. Di sinilah Grafik KMS menjadi sahabat orang tua—membantu membaca sinyal kecil sebelum berubah menjadi masalah besar.

Karena garis pertumbuhan yang datar bukan sekadar grafik. Ia adalah pesan lembut bahwa anak membutuhkan perhatian lebih.

Stimulasi- Bahasa Cinta untuk Otak Anak

Bayangkan tubuh anak seperti mesin yang kuat, tetapi tanpa kemudi. Di sinilah peran stimulasi menjadi sangat penting.

Melalui lembar SDIDTK, Buku KIA mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap perkembangan buah hati. Mulai dari senyum pertama, kontak mata, hingga langkah kecil saat belajar berjalan—semuanya adalah bagian dari proses belajar yang luar biasa.

Orang tua tidak perlu menunggu anak “terlihat bermasalah” untuk bertindak. Justru dengan pemantauan sederhana di rumah, kita bisa mengetahui kapan cukup menunggu dan kapan perlu mencari bantuan. Intervensi sejak dini terbukti membantu anak tumbuh optimal dan mencegah keterlambatan yang berisiko menetap hingga dewasa.

Kadang, perhatian kecil hari ini bisa berdampak besar di masa depan.

Imunisasi- Perlindungan yang Tak Terlihat, Tapi Nyata

Buku KIA juga mencatat satu hal penting yang sering menimbulkan kekhawatiran: imunisasi.

Melalui penjelasan yang sederhana, orang tua diajak memahami bahwa setiap vaksin adalah “tameng” yang melindungi anak dari penyakit berbahaya.

Ketika muncul demam ringan atau rewel setelah imunisasi, orang tua tidak lagi panik. Buku KIA sudah menyiapkan panduan yang menenangkan—bahwa itu adalah reaksi wajar dan tanda tubuh sedang membangun pertahanan.

Dengan pemahaman yang baik, imunisasi tidak lagi menjadi momok, melainkan bentuk cinta dan perlindungan jangka panjang.

Buku Kecil, Dampak Besar

Pada akhirnya, Buku KIA adalah “dokter kecil” yang selalu siap menemani di rumah. Ia tidak menggantikan tenaga kesehatan, tetapi menguatkan peran orang tua sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan anak.

Ketika kita benar-benar membaca dan mempraktikkannya, Buku KIA membantu kita menjadi orang tua yang lebih tenang, lebih peka, dan lebih percaya diri. Bukan sekadar mengikuti arus, tetapi benar-benar memahami kebutuhan anak.

Mari kita buka kembali Buku KIA si kecil. Karena di setiap halamannya, tersimpan harapan untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
  2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).
  3. IDAI – Kurva Pertumbuhan WHO & CDC.
  4. WHO – Nurturing Care Framework.

Di tengah hiruk-pikuk pengasuhan, kita kerap mendapati momen ketika si kecil tiba-tiba meledak dalam amarah (tantrum), sulit diarahkan, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis. Reaksi spontan orang dewasa sering kali adalah memberi label: “anaknya nakal”, “keras kepala”, atau “manja”.

Namun, dalam perspektif ilmu gizi dan kesehatan anak, perilaku balita bukanlah semata persoalan disiplin. Perilaku merupakan bahasa tubuh anak—cerminan dari kondisi metabolisme, kecukupan gizi, serta kualitas hubungan emosional yang ia rasakan di lingkungan terdekatnya.

Melalui konsep responsive parenting, kita memahami bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara apa yang tersaji di piring makan anak dan bagaimana ia mengekspresikan emosinya. Memahami hubungan ini bukan hanya membantu anak tumbuh optimal secara fisik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan emosionalnya sejak dini.

Saat Gizi Menentukan Emosi

Screen Shot 2026-01-23 at 20.23.21

Otak balita merupakan organ yang sangat aktif dan kompleks, mengonsumsi hingga 60% dari total energi tubuh. Agar mampu mengelola emosi dengan stabil, otak membutuhkan asupan gizi yang tepat—bukan sekadar cukup kenyang, tetapi juga cukup kualitas.

Untuk memahami apakah pertumbuhan anak sudah berada di jalur yang tepat, Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak menjadi acuan yang sangat penting. Standar ini tidak sekadar berisi angka berat dan tinggi badan, tetapi menjadi indikator apakah kebutuhan gizi anak—termasuk gizi penting bagi perkembangan otak—telah terpenuhi dengan baik.

Salah satu mikronutrien yang paling berpengaruh terhadap perilaku anak adalah zat besi. Kekurangan zat besi (anemia) sering kali berkaitan dengan gejala irritability, anak mudah marah, rewel, dan sulit fokus. Secara biologis, zat besi berperan dalam pembentukan neurotransmiter seperti dopamin, yang mengatur rasa nyaman, motivasi, dan ketenangan.

Selain zat besi, zink dan asam lemak omega-3 juga berperan besar dalam mendukung fungsi kognitif dan pengendalian emosi. Anak yang mengalami growth faltering atau pertumbuhan yang melandai sering berada dalam kondisi stres biologis. Tubuh mereka memprioritaskan energi untuk bertahan hidup, bukan untuk regulasi emosi. Inilah sebabnya anak dengan gizi kurang optimal cenderung lebih rewel dan sulit berkonsentrasi.

Seni Komunikasi di Meja Makan

Asupan gizi yang baik tidak dapat dipisahkan dari cara pemberiannya. Konsep Responsive Feeding menekankan pentingnya orang tua mengenali dan merespons sinyal lapar serta kenyang anak.

Memaksa anak menghabiskan makanan (force feeding) justru berpotensi merusak hubungan anak dengan makanan dan meningkatkan hormon stres (kortisol). Sebaliknya, suasana makan yang hangat dan menyenangkan akan merangsang pelepasan hormon oksitosin, yang memperkuat ikatan emosional serta membuat anak merasa aman.

Meja makan bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi juga ruang penting untuk membangun rasa aman secara emosional.

Keterampilan Komunikasi dalam Menghadapi Emosi Anak

Ketika balita berulah, sesungguhnya mereka sedang menghadapi “badai emosi”. Pada usia ini, bagian otak pengatur emosi (amigdala) sangat aktif, sementara bagian otak logis (korteks prefrontal) belum berkembang sempurna. Akibatnya, anak belum mampu mengelola emosinya secara mandiri.

Beberapa teknik komunikasi yang dapat diterapkan orang tua antara lain:

  1. Mendengarkan Aktif
  2. Turunkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak. Bahasa tubuh ini merupakan sinyal non-verbal yang sangat kuat untuk menurunkan ketegangan emosi anak.
  3. Validasi Perasaan
  4. Alih-alih melarang anak menangis, bantu ia mengenali emosinya.
    “Adik sedang kesal ya karena baloknya runtuh?”
    Kalimat sederhana ini membuat anak merasa dipahami dan membantu menenangkan sistem sarafnya.

Implementasi Praktis: Contoh Menu “Mood Booster” Balita

Untuk mendukung kestabilan emosi, menu harian balita perlu mengandung keseimbangan makronutrien dan mikronutrien. Berikut contoh menu satu hari yang dirancang untuk mendukung mood dan pertumbuhan anak:

  1. Sarapan (Energi & Konsentrasi)
  2. Omelet telur dengan cincangan bayam dan keju, disajikan bersama potongan alpukat. Kaya protein, zat besi, dan lemak sehat untuk perkembangan otak.
  3. Selingan Pagi
  4. Potongan pepaya atau jeruk. Vitamin C membantu penyerapan zat besi.
  5. Makan Siang (Stabilitas Emosi)
  6. Nasi tim ikan kembung dengan sup wortel dan brokoli. Ikan kembung merupakan sumber omega-3 lokal dengan kadar tinggi.
  7. Selingan Sore
  8. Yogurt tawar dengan potongan pisang. Pisang mengandung triptofan, bahan baku hormon serotonin.
  9. Makan Malam (Kualitas Tidur)
  10. Bubur ayam atau nasi lunak dengan hati ayam dan labu kuning. Hati ayam merupakan sumber zat besi efektif untuk mencegah anemia.

Buku KIA sebagai alat pemantauan

Orang tua dan tenaga kesehatan tidak perlu menebak-nebak kondisi anak. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menyediakan alat pemantauan pertumbuhan dan perkembangan yang komprehensif. Selain grafik BB/U dan TB/U, bagian checklist perkembangan membantu menilai aspek sosial dan kemandirian anak.

Jika grafik pertumbuhan tidak menunjukkan kenaikan atau anak menunjukkan perilaku yang ekstrem—seperti menarik diri atau kecemasan berlebihan—segera lakukan deteksi dini menggunakan KMPE (Kuesioner Masalah Perilaku Emosional) di fasilitas kesehatan dasar. Intervensi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan terbukti jauh lebih efektif dibandingkan penanganan yang terlambat.

Jadi Mengasuh balita adalah perjalanan panjang yang menuntut energi fisik dan kesiapan emosional. Dengan memastikan piring makan anak terisi gizi yang tepat dan komunikasi dilakukan dengan empati, kita sedang membangun fondasi karakter yang kuat.

Anak yang sehat bukan hanya mereka yang jarang sakit, tetapi mereka yang mampu mengelola emosinya dengan baik—karena tubuhnya tercukupi gizinya dan hatinya merasa aman serta dicintai.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Bagian Anak, 2024.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Kurikulum Pelatihan SDIDTK bagi Tenaga Kesehatan, 2022.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), 2020.
  5. World Health Organization (WHO). Responsive Feeding: Helping Children to Establish Healthy Eating Patterns.

Pasien pasca stroke Pasien pasca stroke merupakan kelompok dengan risiko tinggi mengalami malnutrisi akibat gangguan menelan, penurunan mobilitas, perubahan status mental, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Kondisi malnutrisi pada fase pasca stroke sering kali tidak terdeteksi secara dini karena tidak selalu disertai penurunan berat badan yang nyata. Oleh karena itu, skrining status gizi menjadi langkah awal yang penting untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi dan menentukan kebutuhan asesmen serta intervensi gizi lanjutan.

Artikel ini membahas peran dan perbedaan tiga alat skrining status gizi yang umum digunakan pada pasien pasca stroke, yaitu Malnutrition Screening Tool (MST), Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), dan Mini Nutritional Assessment (MNA). Pembahasan mencakup tujuan penggunaan, cara pengukuran, nilai batas, serta interpretasi klinis masing-masing alat dalam konteks perawatan pasca stroke. Selain itu, artikel ini menekankan pentingnya menerjemahkan hasil skrining gizi menjadi edukasi yang aplikatif bagi keluarga pasien, khususnya terkait pengaturan makan, penyesuaian tekstur makanan, pemenuhan kebutuhan protein dan energi, serta pemahaman mengenai pantangan makan.

Pemilihan alat skrining status gizi perlu dilakukan secara kontekstual sesuai kondisi klinis dan fase perawatan pasien untuk mendukung pemulihan pasca stroke secara optimal dan berkelanjutan

Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang yang berdampak luas terhadap kualitas hidup pasien. Setelah fase akut terlewati, fokus pelayanan kesehatan sering kali diarahkan pada stabilisasi medis dan rehabilitasi fungsional. Namun demikian, aspek gizi masih belum selalu mendapat perhatian yang proporsional, meskipun berperan penting dalam mendukung proses pemulihan pasien pasca stroke¹,².

Pasien pasca stroke menghadapi berbagai kondisi yang dapat memengaruhi asupan zat gizi, antara lain gangguan menelan (disfagia), penurunan mobilitas, perubahan fungsi kognitif, serta ketergantungan pada orang lain dalam aktivitas makan. Kondisi tersebut menyebabkan asupan energi dan protein sering kali tidak mencukupi. Malnutrisi pada pasien pasca stroke tidak selalu tampak secara kasat mata. Berat badan dapat terlihat relatif stabil akibat retensi cairan atau edema, sementara massa otot mengalami penurunan progresif³. Tanpa skrining status gizi yang terstruktur, kondisi ini berpotensi tidak teridentifikasi hingga muncul komplikasi seperti infeksi, luka tekan, dan keterlambatan rehabilitasi⁷,⁹.

Dalam konteks pelayanan kesehatan yang berkelanjutan, skrining status gizi menjadi langkah klinis awal yang krusial untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi dan menentukan kebutuhan asesmen serta intervensi gizi selanjutnya. Tantangan yang sering dihadapi tenaga kesehatan adalah pemilihan alat skrining yang paling sesuai, khususnya antara Malnutrition Screening Tool (MST), Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), dan Mini Nutritional Assessment (MNA).

Skrining Status Gizi: Tujuan, Fungsi, dan Batasan

Skrining status gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami malnutrisi atau telah mengalami malnutrisi sehingga memerlukan asesmen gizi lanjutan dan intervensi yang tepat³,⁷. Skrining bukan merupakan diagnosis dan tidak menggantikan asesmen gizi komprehensif, melainkan berfungsi sebagai alat penyaring awal dalam alur pelayanan kesehatan.

Pada pasien pasca stroke, skrining status gizi memiliki peran strategis untuk mendeteksi risiko malnutrisi sejak dini, menentukan prioritas pasien yang membutuhkan asesmen lebih mendalam, serta menjadi dasar edukasi gizi bagi pasien dan keluarga¹,². Pemilihan alat skrining harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, fase perawatan, usia, serta kemampuan pasien dan keluarga dalam memberikan informasi yang akurat.

Malnutrition Screening Tool (MST)

Skrining Cepat sebagai Peringatan Dini

Malnutrition Screening Tool (MST) merupakan alat skrining gizi sederhana yang dirancang untuk mendeteksi risiko malnutrisi secara cepat pada pasien dewasa⁴. MST banyak digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan karena tidak memerlukan pengukuran antropometri dan dapat dilakukan melalui wawancara singkat.

MST menilai dua komponen utama, yaitu adanya penurunan berat badan yang tidak disengaja serta penurunan nafsu makan atau jumlah asupan makan. Jawaban terhadap kedua komponen tersebut diberi skor dan dijumlahkan. Skor MST 0–1 menunjukkan risiko malnutrisi rendah, sedangkan skor ≥ 2 menunjukkan pasien berisiko mengalami malnutrisi⁴.

Pada pasien pasca stroke, skor MST ≥ 2 perlu dipandang sebagai peringatan dini yang menandakan perlunya asesmen gizi lanjutan. Keterbatasan MST terletak pada sifatnya yang subjektif, sehingga akurasinya dapat dipengaruhi oleh gangguan kognitif atau keterbatasan komunikasi pasien.

Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)

Penilaian Risiko Berbasis Data Antropometri

Malnutrition Universal Screening Tool (MUST) merupakan alat skrining yang banyak digunakan pada populasi dewasa dengan pendekatan yang lebih terstruktur³. MUST menilai risiko malnutrisi melalui tiga komponen, yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT), persentase penurunan berat badan tidak disengaja dalam 3–6 bulan terakhir, serta adanya kondisi penyakit akut yang menyebabkan asupan makan minimal atau tidak ada sama sekali selama lebih dari lima hari.

Setiap komponen diberi skor dan dijumlahkan untuk memperoleh skor total. Skor MUST diinterpretasikan sebagai risiko malnutrisi rendah (skor 0), risiko sedang (skor 1), dan risiko tinggi (skor ≥ 2)³. Pada pasien pasca stroke, skor MUST ≥ 2 menunjukkan perlunya intervensi gizi segera. Namun demikian, interpretasi skor MUST harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, karena IMT tidak selalu mencerminkan kehilangan massa otot yang sebenarnya⁷.

Mini Nutritional Assessment (MNA)

Pendekatan Komprehensif pada Pasien Lansia

Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat skrining yang dikembangkan khusus untuk populasi lanjut usia dan banyak digunakan pada pasien neurologis, termasuk stroke⁵. MNA menilai status gizi melalui pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup aspek antropometri, asupan makan, mobilitas, status mental, dan kondisi kesehatan umum.

Skor total MNA berkisar antara 0 hingga 30, dengan interpretasi sebagai berikut: status gizi baik (≥ 24), berisiko malnutrisi (17–23,5), dan malnutrisi (< 17)⁵. Pada pasien pasca stroke lansia, kategori berisiko malnutrisi merupakan fase kritis yang memerlukan intervensi gizi dini untuk mencegah perburukan status gizi dan mendukung keberhasilan rehabilitasi⁵,⁷.

Perbandingan MST, MUST, dan MNA

Dari Skor Skrining ke Edukasi Keluarga

Hasil skrining status gizi akan bermakna secara klinis apabila diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten di rumah⁷. Dalam hal ini, ahli gizi berperan sebagai penghubung antara data klinis dan praktik sehari-hari pasien serta keluarga.

Skor skrining yang menunjukkan risiko malnutrisi perlu dijelaskan kepada keluarga sebagai kondisi yang masih dapat dicegah perburukannya melalui pengaturan makan yang tepat. Pendekatan edukatif ini sejalan dengan prinsip pelayanan stroke berkelanjutan di fasilitas kesehatan tingkat pertama¹,².

Menjawab Pertanyaan tentang Pantangan Makan

Pantangan makan pada pasien pasca stroke tidak bersifat mutlak, melainkan kondisional dan bergantung pada kemampuan menelan, penyakit penyerta, serta hasil asesmen gizi⁷,⁹. Edukasi gizi perlu menekankan bahwa fokus utama pengaturan makan adalah keamanan menelan, kecukupan energi dan protein, serta penyesuaian tekstur makanan.

Pembatasan makanan tinggi garam dan lemak jenuh dilakukan secara proporsional, terutama pada pasien dengan hipertensi atau dislipidemia, tanpa mengorbankan kecukupan asupan gizi. Dengan pemahaman yang tepat, keluarga dapat lebih percaya diri dalam menyiapkan makanan dan mendukung proses pemulihan pasien.

Peran Keluarga dalam Pemenuhan Gizi

Keluarga memegang peranan sentral dalam pemenuhan gizi pasien pasca stroke di rumah. Penyesuaian tekstur makanan, peningkatan frekuensi makan, serta pemenuhan kebutuhan protein dan energi merupakan strategi utama dalam mendukung pemulihan⁷. Edukasi yang terarah membantu keluarga menjadi mitra aktif dalam proses rehabilitasi pasien.

Kesimpulan

Tidak terdapat satu alat skrining status gizi yang paling unggul untuk semua pasien pasca stroke. Pemilihan antara MST, MUST, atau MNA harus dilakukan secara kontekstual, disesuaikan dengan kondisi pasien, fase perawatan, dan tujuan skrining³,⁵,⁷. Yang terpenting adalah tindak lanjut hasil skrining melalui asesmen, intervensi, dan edukasi gizi yang tepat agar skrining status gizi benar-benar berkontribusi terhadap pemulihan pasien pasca stroke secara holistik dan berkelanjutan.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kurikulum TOT Pelatihan Penanggulangan Stroke bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Stroke Terpadu. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  3. Elia M. The ‘MUST’ report: nutritional screening of adults – a multidisciplinary responsibility. Redditch: BAPEN; 2003.
  4. Ferguson M, Capra S, Bauer J, Banks M. Development of a valid and reliable malnutrition screening tool for adult acute hospital patients. Nutrition. 1999;15(6):458–464.
  5. Vellas B, Guigoz Y, Garry PJ, et al. The Mini Nutritional Assessment (MNA) and its use in grading the nutritional state of elderly patients. Nutrition. 1999;15(2):116–122.
  6. Volkert D, et al. ESPEN guideline on nutrition in neurology. Clin Nutr. 2018;37(1):354–396.
  7. Burgos R, et al. ESPEN guideline on clinical nutrition in neurology. Clin Nutr. 2018;37(1):354–396.
  8. World Health Organization. Rehabilitation in health systems. Geneva: WHO; 2017.
  9. National Institute for Health and Care Excellence. Stroke rehabilitation in adults. NICE guideline CG162.

Selama menstruasi, nyeri dan rasa tidak nyaman dianggap bagian yang tidak dapat dihindarkan bagi banyak perempuan. Kita sering kali menoleransi rasa kram yang parah, siklus menstruasi yang tidak teratur serta mood swing yang berubah sangat cepat dan kita menganggap itu adalah hal yang normal. Namun, bagi jutaan perempuan, gejala ini bukan sekedar rasa nyeri yang biasa saat menstruasi. Gejala ini dapat menjadi suatu pertanda dari dua kondisi hormonal dan inflamasi yang paling umum dan sering terdiagnosis terlambat yaitu Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan Endometriosis. Kita sebagai perempuan sebaiknya tidak boleh mengabaikan tanda-tanda dari dua kondisi hormonal dan inflamasi tersebut karena dapat memberikan dampak serius pada kesuburan dan kualitas hidup. Sebenarnya apa sih PCOS dan Endometriosis itu? Tanda-tandanya seperti apa ya? Yuk, mari kita bahas.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

PCOS ini merupakan kelainan endokrin yang dapat mempengaruhi 5-10% perempuan disebabkan kelebihan produksi hormon androgen oleh ovarium yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan dapat mempengaruhi kondisi fisiologis lainnya. Faktor penyebab terjadinya PCOS yaitu ketidateraturan siklus menstruasi serta infertilitas, selain itu juga dapat disebabkan 43% karena riwayat keluarga, 34% karena obesitas dan 20% karena memiliki atau tidak memiliki masa menstruasi yang teratur hingga kurun waktu 15 tahun. (1) Faktor lingkungan juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya PCOS karena apabila kita terpapar oleh bahan kimia yang bernama endocrine disruptors dapat mengganggu keseimbangan hormonal tubuh. BPA yang sering ditemukan pada plastik atau produk konsumen lainnya dapat membuat kadar androgen dalam darah meningkat dan dapat terjadi gangguan terhadap fungsi reproduksi, (2) Penyebab yang lain seperti disfungsi jaringan adiposa, (3) diet, stres, gangguan ritme sirkadian, gangguan tidur (4) dan status sosial ekonomi. (5)

Tanda dan gejala PCOS diantaranya pembesaran ovarium dengan banyak kista kecil di dalamnya, siklus menstruasi yang tidak teratur, nyeri pinggang, acne, pertumbuhan rambut berlebih yang kasar dan gelap di area yang biasanya ditumbuh rambut pria, kerontokan rambut yang berlebih dan menyebabkan kebotakan sebagian atau seluruhnya, kondisi kulit yang menyebabkan bercak gelap, tebal dan bertekstur di lipatan tubuh, adanya daging tumbuh di daerah lipatan. (6)

Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi dimana adanya jaringan yang mirip dengan lapisan rahim (endometrium) yang tumbuh di luar dinding rahim. Jaringan endometrium ini dapat tumbuh di indung telur (ovarium), lapisan dalam perut (peritoneum), usus, vagina atau saluran kemih. Endometriosis dapat mempengaruhi kondisi fertilitas perempuan usia reproduktif. Kondisi ini apabila dalam kondisi yang ringan sering terjadi pada perempuan infertil dengan angka kejadian sebanyak 20-60%. Endometriosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara diantaranya anatomi panggul yang terdistorsi, adhesi, bekas luka saluran tuba, radang struktur panggul, perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh, perubahan dalam lingkungan hormonal ovum, gangguan implantasi kehamilan, dan kualitas ovum yang berubah. Faktor risiko endometriosis seperti faktor genetik, riwayat keluarga dengan endometriosis, dan faktor hormonal. (7) Gejala klinis yang paling sering terjadi pada perempuan dengan endometriosis yaitu nyeri dan infertilitas. (8) Nyeri ini dapat berupa nyeri panggul, dysmenorrhea, dyspareunia dan dyschezia. (8)(9)(10)(11)

Diagnosis Dini merupakan Kunci

Mendiagnosis PCOS atau endometriosis yang terlambat akan memiliki konsekuensi serius bagi perempuan dewasa awal karena ada beberapa risikonya seperti risiko infertilitas yang dimana akan menyerang ke kesuburan perempuan, meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi bahkan penyakit jantung karena resistensi insulin pada PCOS dan risiko penurunan kualitas hidup karena nyeri kronis serta inflamasi pada endometriosis.

Tatalaksana PCOS dan Endometriosis

  1. Tatalaksana PCOS
  2. Tatalaksana PCOS non-farmakologis dengan diet yang seimbang dengan mempertahankan indeks glikemik dari jumlah karbohidrat yang dikonsumsi,, olahraga. Tatalaksana farmakologis dengan diberikan obat kontrasepsi oral, metformin, klomifen dan spironolactone.
  3. Tatalaksana Endometriosis
  4. Tatalaksana endometriosis dengan dua cara dari segi farmakologis dan non farmakologis. Farmakologis dengan pemberian obat antinyeri, kontrasepsi oral, progestin, danazol, aromatase inhibitor. Tatalaksana non-farmakologis dengan pembedahan, histerektomi dan bilateral salfingo-ooforektomi dan presacral neurectomy atau LUNA (Laser Uterosacral Nerve Ablation). (12)

Perempuan usia dewasa awal memang diharuskan lebih kritis dan aktif terhadap gejala yang mereka alami selama menstruasi. Nyeri haid yang terkadang menyerang perempuan apabila normal maka dapat diredakan dengan pereda nyeri dosis standar. Tetapi, apabila pada perempuan dewasa awal merasakan tanda dan gejala yang sama dengan apa yang sudah dijelaskan di atas, maka sebaiknya jangan menunda untuk berkonsultasi langsung kepada dokter spesialis kandungan (obgyn).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Nurpratiwi, Y., Faturohman, C & Rizkitawati, F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Polycystic Ovarium Syndrom (PCOS) di RS Sentra Medika Cikarang. Jurnal Kesehatan Tambusai. 2025: 6(1), 1058-1068.
  2. Palisuri, A.S.P.L.S. Tingkat Pengetahuan Polycystic Ovary Syndrome dan Faktor Risiko pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Angkatan 2023. Skripsi. 2023.
  3. Bril, F., Ezeh, U., Amiri, M., Hatoum, S., Pace, L., Chen, Y.H et al. Adipose Tissue Dysfunction in Polycystic Ovary Syndrome. The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 2023: 109, 10-24.
  4. Norman, R.J., Davies, M.J., Lord, J & Moran, L.J. The Role of Lifestyle Modification in Polycystic Ovary Syndrome. Trends in Endocrinology and Metabolism. 2002: 13, 251-257.
  5. Hochberg, A., Badeghiesh, A., Baghlaf, H., Tseva, A.T., Dahan, M.H. The Effect of Socioeconomic Status on Adverse Obstretic and Perinatal Outcomes in Women with Polycystic Ovary Syndrome- An Evaluation of a Population Database. Internasional Journal of Gynaecology and Obstetrics. 2023.
  6. Malihah, E., Novitasari, D., Nasution, A & Apriyanti, M. Wanita 28 Tahun dengan Hyperprolactinemia dan Hubungan Terhadap Polycystic Ovary Syndrome. Manuju: Malahayati Nursing Journal. 2023: 5(12), 4397-4404.
  7. Nasution, N.A., Harahap, I., Diningsih, A., Sagala, N.S & Zalpa, A.A. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Tentang Penyakit Endometriosis pada Perempuan Usia Reproduktif Awal di SMK Negeri 4 Kota Padangsidimpuan Tahun 2023. Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA). 2023: 5(3).
  8. Hendarto, H. Endometriosis dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinis. Surabaya: Airlangga University Press. 2025
  9. Wu, I.B., Tendean, H.M.M., Mewengkang, M.E. Gambaran Karakteristik Penderita Endometriosis di RSUP Prof. Dr R. D. Kandou Manado. J E-Clinic. 2017: 5(2), 279-85
  10. Luqyana, S.D & Rodiani. Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis. JIMKI. 2019: 7(2), 67-75
  11. Rahmawati, D.S. Gambaran Karakteristik dan Pencarian Pelayanan Kesehatan pada Penderita Endometriosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr. Soetomo Surabaya. Universitas Airlangga.2016
  12. Iskandar. Endometriosis. Averrous: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh. 2021: 7(2)

Perjalanan seorang ibu sangatlah panjang sehingga penting sekali menjaga gizi dan kesehatan seorang ibu. Gizi yang tepat bukan hanya dengan memberi makan sehari 2 kali atau 3 kali tetapi juga sebagai bentuk investasi jangka panjang demi kesejahteraan ibu dan kesehatan anak yang akan dilahirkan. Fase seorang ibu meliputi pra-kehamilan, masa kehamilan, masa menyusui adalah sebuah periode emas untuk dapat menentukan tumbuh kembang janin, keberhasilan persalinan dan kualitas ASI. Lalu, zat gizi apa saja yang berperan penting dalam periode emas ini? Makanan apa saja yang dianjurkan untuk dikonsumsi pada periode emas ini? Apakah ada mitos yang berkaitan dengan kehamilan? Yuk, kita bahas lebih lanjut.

Fase Pra-Kehamilan: Tahap Mempersiapkan Segudang Nutrisi

Fase kehamilan merupakan fase yang penting untuk mempersiapkan segudang nutrisi karena kualitas sel telur dan rahim sangat dipengaruhi oleh gizi seorang ibu pada fase ini. Jadi, apa saja sih zat gizi yang penting mulai dari fase ini?


    A. Zat Gizi Pra-Kehamilan

  1. Asam Folat atau Vitamin B9
  2. Asam folat memiliki fungsi pada masa pra kehamilan untuk mencegah terjadinya kelainan kongenital pada awal kehamilan , salah satu contoh kelainannya seperti Neural Tube Defect (NTD). (1) Neural Tube Defect adalah kecacatan pada janin yang menyerang struktur otak, tulang belakang atau ruas tulang belakang. WHO menganjurkan untuk mengonsumsi asam folat sebanyak 400-600 mcg per hari. Asam folat ini didapatkan baik dari suplemen maupun dari sumber pangan alami seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan untuk memenuhi kecukupan harian yang dianjurkan. (2)

  3. Zat Besi
  4. Zat besi memiliki fungsi pada masa pra kehamilan dalam mencegah anemia pada ibu yang dapat meningkatkan risiko kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan prematur. Anjuran kecukupan zat besi sebelum kehamilan dalam rentang usia 19-29 tahun sebesar 18 mg/hari. (3) AKG Zat besi dapat diperoleh baik dari suplemen maupun sumber pangan alami seperti protein hewani, sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan. (4)

  5. Mencukupi anjuran zat gizi per hari lainnya seperti sumber kalsium untuk kekuatan tulang persiapan kehamilan, serat untuk mencegah sembelit, protein untuk pembentukan sel dan jaringan yang dimana gunanya sebagai zat pembangun, zinc untuk perkembangan sel telur, vitamin D untuk membantu kesehatan pada tulang.

  6. Mencegah Berat Badan Berlebih dengan Mencapai Berat Badan yang Ideal Mencapai berat badan ideal adalah sebuah bentuk usaha dalam mempertahankan kesehatan diri sendiri sebelum kehamilan karena apabila seorang ibu yang memiliki berat badan berlebih sebelum kehamilan dapat berisiko terjadinya preeklampsia, diabetes gestasional, bahkan kesulitan dalam persalinan.

Fase Kehamilan : Nutrisi untuk Pertumbuhan yang Optimal

A. Zat Gizi Masa Kehamilan

  1. Energi
  2. Ibu hamil memiliki penambahan kalori pada tiap trimesternya, pada trimester 1 memiliki penambahan 180 kalori/hari dan untuk trimester 2-3 memiliki penambahan 300 kalori/hari. (3) Penambahan kalori ini memiliki kaitannya dengan kualitas gizi yang mendukung pertumbuhan janin, plasenta dan rahim si ibu. (5)
  3. Protein
  4. Protein juga berperan penting dalam masa kehamilan untuk perkembangan sel dan jaringan ibu dalam menopang bayi, mendukung pertumbuhan plasenta. (5) Sumber protein dapat diperoleh dari daging ayam, daging sapi, telur, tempe, tahu, ikan, kacang-kacangan.
  5. Kalsium
  6. Kalsium memiliki peran dalam masa kehamilan untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin serta mencegah osteoporosis si ibu. Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu, keju, yoghurt, sayuran hijau yang tua.
  7. Asam Folat
  8. Asam folat juga berperan dalam mencegah terjadinya cacat lahir pada bayi yang disebut dengan Neural Tube Defect (NTD). (1) Asam folat ini dapat diperoleh baik dari suplemen maupun dari sumber pangan alami seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan untuk memenuhi kecukupan harian yang dianjurkan. (2)
  9. Zat Besi
  10. Zat besi memiliki peran juga dalam kehamilan untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil, mengurangi risiko kelahiran prematur dan BBLR, mencegah perdarahan pada saat persalinan. Zat besi dapat diperoleh dari daging tanpa lemak, unggas, ikan,telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan dan juga dapat diperoleh dari suplemen zat besi.
  11. Omega-3
  12. Omega-3 memiliki peran dalam perkembangan otak dan mata bagi si janin. Omega-3 dapat diperoleh dari minyak ikan, ikan berlemak.
  13. Iodium
  14. Yodium memiliki peran dalam perkembangan fungsi tiroid si janin dan mencegah gangguan mental. Yodium ini dapat diperoleh dari garam beryodium, seafood.
  15. Vitamin D
  16. Vitamin D ini memiliki fungsi dalam membantu penyerapan kalsium dalam pertumbuhan tulang dan gigi pada janin, membantu menjaga imunitas ibu hamil. Vitamin D didapatkan dari sinar matahari, suplemen, ikan salmon, sarden, kuning telur, yoghurt.

B. Keluhan Umum yang Sering Melanda Masa Kehamilan

Beberapa keluhan yang biasa terjadi pada ibu hamil

  1. Mual dan muntah yang terjadi pada pagi hari
  2. Varises yang dipengaruhi oleh faktor keturunan, berdiri lama, usia, faktor hormonal dan bendungan dalam panggul
  3. Sakit Kepala
  4. Sesak nafas yang disebabkan karena rahim membesar yang mengakibatkan diafragma ke atas
  5. Edema yaitu pembengkakan pada kaki dan tungkai bawah
  6. Sembelit
  7. Insomnia
  8. Sering buang air kecil
  9. Nyeri punggung bawah
  10. Kram Otot (6)

C. Cara Mengatasi Keluhan Umum Pada Masa Kehamilan

  1. Nyeri punggung bawah dapat diatasin dengan kompres air hangat, senam hamil, yoga. (7)(8)(9)
  2. Edema dapat diatasi dengan merendam kaki dengan air kencur karena kandungan flavonoid dapat mengurangi edema (10), yoga (11), senam hamil karena dapat memperbaiki sirkulasi darah yang tidak lancar pada ibu hamil karena edema bisa terjadi akibat sirkulasi darah yang tidak lancar tersebut (12) atau bisa juga dilakukan dengan melakukan peregangan pada bagian kaki, mengompres kaki yang mengalami edema menggunakan air dingin, membatasi mengonsumsi makanan tinggi natrium, penuhi kebutuhan cairan selama kehamilan (13) dan bisa juga membalut kaki dengan menggunakan kain. (14)
  3. Sering buang air kecil dapat diatasi dengan pemberian edukasi terkait nutrisi dan personal hygiene serta menganjurkan ibu untuk melakukan senam ibu hamil. (15)(16)
  4. Sesak nafas dapat diatasi dengan teknik Breathing Exercise&Progressive Muscle Relaxation . (17)
  5. Varises dapat diatasi dengan olahraga ringan secara teratur, posisikan kaki lebih tinggi, konsumsi banyak serat dan cairan. (18)
  6. Insomnia dapat diatasi dengan tidur miring ke kiri, beraktivitas sebelum tidur seperti membaca buku, meditasi, mendengarkan musik, lalu dengan menggunakan teknik relaksasi (19), olahraga secara rutin selama 30 menit (19), aromaterapi (20)
  7. Kram otot dapat diatasi dengan minum air putih sebanyak 8 gelas per hari, olahraga ringan secara rutin, melakukan peregangan di sekitar kaki, melakukan pilates. (21)
  8. Mual dan muntah dapat diatasi dengan porsi makan kecil tapi sering, hindari makanan yang memiliki khas bau yang kuat, memilih makanan kering
  9. Sembelit dapat diatasi dengan minum air putih 8 gelas per hari, meningkatkan asupan serat.

D. Mitos dan Fakta Seputar Makanan untuk Ibu Hamil

            
  1. Mitos: hindari mengonsumsi protein hewani karena bisa menyebabkan anak lahir tanpa tulang atau plasenta sulit keluar, hindari mengonsumsi buah jeruk karena dapat membuat ketuban merembes, hindari mengonsumsi tomat karena dapat membuat kepala janin melembek. Faktanya, belum ada penelitian mengenai hal tersebut. (24)
  2. Mitos: apabila mengonsumsi buah nanas dan durian akan membuat keguguran, faktanya belum ada bukti medis untuk membenarkan hal tersebut dan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang tepat dapat dikatakan aman. (23)

Fase Menyusui: Bahan Bakar Terbaik Untuk Bayi

Masa menyusui adalah periode yang paling krusial bagi kesehatan ibu dan bayi. ASI memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan untuk bayi secara optimal. Gizi ibu menyusui ada kaitan erat dengan produksi ASI, dan ibu menyusui disarankan mendapat tambahan kalori sebesar 700kkal untuk produksi ASI dan aktivitas ibu itu sendiri. (22) Nutrisi yang baik untuk ibu menyusui akan membutuhkan lebih banyak kalori, protein, kalsium, zat besi, omega-3, vitamin b kompleks dan vitamin c serta cairan. Semua nutrisi tersebut memiliki kegunaan untuk produksi asi, sumber energi ibu, pemulihan pasca persalinan, perkembangan kognitif bayi.

Mitos dan Fakta Seputar Makanan untuk Ibu Menyusui
Mitos: Hindari memakan ikan karena akan membuat ASI menjadi amis , faktanya ikan merupakan nutrisi yang sangat diperlukan untuk membantu perkembangan otak si bayi karena ikan mengandung omega-3 selain itu juga ikan membantu penyembuhan luka pasca persalinan. (25)

Perjalanan selama periode ini mulai dari pra-kehamilan hingga menyusui sangatlah panjang dan jalannya tidak mulus, jadi diharapkan kepada calon ibu hingga sudah menjadi ibu untuk tetap memenuhi asupan nutrisi dengan makanan yang utuh, segar dan hindari makanan olahan agar kesehatan ibu dan anak tetap optimal, selain itu juga memantau peningkatan berat badan dan usahakan memiliki berat badan yang stabil pada masa kehamilan dan konsumsi cairan yang cukup serta konsultasi kepada dokter kandungan atau ahli gizi yang teregistrasi apabila memiliki berat badan yang tidak stabil dan kekhawatiran gizi.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Bailey, L.B. Folate in Health and Disease: an Update on its Role in Maternal Health. CRC Press. 2022
  2. Johnson, M & Brown, R. The Role of Folate in Maternal Nutrition: Dietary Sources and Supplementation. Nutrition Reviews. 2023: 81(5), 515-527.
  3. Permenkes RI. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2019
  4. Susiloningtyas, I. Pemberian Zat Besi (Fe) dalam Kehamilan. Majalah Ilmiah Sultan Agung. 2022: 50(128), 73-99.
  5. Rimbawan. Kecukupan Nutrisi untuk Persiapan Kehamilan. Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB. 2008
  6. Veri, N., Faisal, I & Khaira, N. Literatur Review: Penatalaksanaan Ketidaknyamanan Umum Kehamilan Trimester III. FJK. 2023: 3(2).
  7. Nurhayati., Beti., Simanjuntak, F & Br Karo, M. Reduksi Ketidaknyamanan Kehamilan Trimester III Melalui Senam Yoga. Binawan Student Journal. 2019: 1(3): 167-71.
  8. Rani & Fatonah H.S, S. Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N dengan Senam Hamil untuk Mengurangi Ketidaknyamanan pada Trimester III. Bidan Tangguh Bidan Maju. 2019: 73- 99.
  9. Rismaya., Yosi & Rahayuningsih, T. Penatalaksanaan Endorphin Massage dan Kompres Air Hangat dengan Masalah Ketidaknyamanan: Nyeri Punggung pada Kehamilan Trimester III di Desa Gupit. Stethoscope. 2022: 3(1), 41-55.
  10. Dey., Novayanti, T., Lubis, B & Bintang, S.S. Pengaruh Perendaman Kaki menggunakan Air Hangat Campur Kencur terhadap Edema pada Ibu Hamil. Jurnal Kebidanan Kestra. 2022: 5(1), 84-89.
  11. Wulandari., Sri & Wantini, N.A. Efektivitas Happy Prenatal Yoga dalam Menurunkan Ketidaknyamanan Fisik pada Kehamilan Trimester III. Jurnal Kebidanan Indonesia. 2021: 12(2), 18-27.
  12. Anggraeni., Suci & Sari, Y.F. Efektivitas Senam Hamil terhadap Penurunan Derajat Edema Kaki pada Ibu Gravida Trimester II dan III. STRADA Jurnal Ilmiah Kesehatan. 2016: 5(2), 32-37.
  13. Kirani., Mutia, D & Maita, L. Oedema pada Kaki Ibu Hamil Trimester III dengan Rendam Air Hangat Campur Kencur di BPM Hj. Murtinawita, SST Kota Pekanbaru Tahun 2021. Jurnal Kebidanan Terkini. 2022: 1(2), 75-80.
  14. Ochalek., Katarzyna., Frydrych-Szymonik, A &Szygula, Z. Lower Limb Oedema during Pregnancy. Rehabilitacja Medyczna. 2016: 20(4), 17-21.
  15. Damayanti, I.P. Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Ketidaknyamanan Sering BAK. Ensiklopedia of Journal. 2019: 1(4), 185-90.
  16. Megasari, K. Asuhan Kebidanan Trimester III dengan Ketidaknyamanan Sering Buang Air Kecil. Jurnal Komunikasi Kesehatan. 2019. 10(2), 36-43.
  17. Rahmawati., Aini, N., Marufa, S.A., Rahmanto, S., Handiny, D.L.M., Lestari, M.A.A. Pengaruh Kombinasi Breathing Exercise dan Progressive Muscle Relaxation dalam Menurunkan Nyeri Punggung dan Sesak Nafas Ibu Hamil Trimester III. Physiotherapy Health Science. 2021: 3(2), 95-100.
  18. Susanti., Nur., Wahyuningsih., Prihanani, N., Istikomah, M. Pendampingan Kelas Ibu Hamil Cerdas Mandiri melalui Pelatihan Senam Varises, KIE Gizi Seimbang dan Strategi Pengelolaan Emosi. Surya Abdimas. 2023: 7(4), 651-59.
  19. Anasari., Ansari., Triatmi, A., Yanuarini., Lumastari, A., Kundarti, F.I. Terapi Non-Farmakologi yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Tidur Ibu Hamil. Jurnal Ilmu Kesehatan. 2022: 10(2), 139-48.
  20. Kartika., Jenny., Setiawati. Pengaruh Pemberian Aromatherapy Citrus Lemon terhadap Insomnia pada Ibu Hamil Trimester III. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. 2022: 13(1),294-304.
  21. Oktaviani., Ika., Martini. Senam Hamil Metode Pilates Menurunkan Nyeri Muskulosketal dalam Kehamilan. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai. 2016: 9(2), 33-39.
  22. Taqiyah, R., Alam, R.I & Jama, F. Edukasi Kebutuhan Gizi Seimbang pada Ibu Menyusui di Ruang Nifas RSU Ibnu Sina Makassar. Prosding Seminar Nasional Pengabdian ke Masyarakat: Peduli Masyarakat. 2022: 2(1),5-8.
  23. Yulandari, O. Kesehatan Ibu Hamil dari Perspektif Sosial Culture/Budaya. Angewandte Chemie International. 2021: 6(11), 951-952.
  24. Aulia, D.L.N., Anjani, A.D., Ananda, A.D & Lestari, A. Dampak Mitos Kehamilan Terhadap Kesehatan Ibu dan Janin: Perspektif Medis dan Budaya. Southeast Asian Journal of Technology and Science. 2025: 6(1), 1-7.
  25. Yulianti, I., Maulydia, A.M., Rahayu, E.T., Aprilia, B., Prilisnia, N.Y. Kehamilan dalam Lensa Budaya Menyikapi Mitos dan Fakta Menurut Kepercayaan Masyarakat Suku Jawa di Kota Tarakan. Jurnal Peduli Masyarakat. 2024: 6(2).