Daun kelor merupakan bahan pangan lokal yang ketersediaannya melimpah, tetapi pemanfaatannya masih belum optimal. Daun kelor berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan fortifikasi untuk meningkatkan nilai gizi produk pangan sehingga dapat membantu untuk mendukung kesehatan balita, termasuk mengatasi masalah stunting. Pengolahan daun kelor menjadi biskuit diharapkan sebagai inovasi bahan pangan dengan kandungan gizi yang tinggi dan dapat dijadikan alternatif makanan selingan bagi balita. (1)

Apa Itu Kelor?

Screen Shot 2026-02-28 at 21.01.09


Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang mudah ditemukan di daerah beriklim tropis, seperti Indonesia. Tanaman kelor memiliki batang yang berkayu, tumbuh tegak, berwarna putih kusam dengan kulit tipis dan permukaan yang cenderung kasar. Pohon ini sering ditanam di sekitar pekarangan rumah atau ladang sebagai penanda batas maupun tanaman pagar. (2) Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Kelor dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga bijinya. Akar, kulit akar, kulit batang, daun, dan biji kelor digunakan sebagai bahan obat tradisional. Daun kelor juga mengandung nutrisi yang baik bagi manusia dan ternak. Kuncup bunga kelor dijadikan sayuran atau diolah menjadi teh, sedangkan buah kelor muda digunakan sebagai bahan asinan dan olahan makanan lainnya, seperti puding, kue, produk fortifikasi makanan dan minuman, serta produk farmasi berupa kapsul, tablet, dan minyak. (3)

Keunggulan dan Manfaat Kelor

Screen Shot 2026-02-28 at 21.02.14

Daun kelor mengandung protein sebesar 28,66 gram, β-karoten (pro-vitamin A) sebesar 11,93 mg, fosfor sebesar 715,32 mg, zat besi sebesar 11,41 mg, vitamin C sebesar 15,2, dan kalsium sebesar 1014,81 mg. (4,5) Jika dibandingkan dengan sayuran lain, daun kelor mengandung zat besi paling tinggi, yaitu 17,2 mg per 100 g daun kelor. (6) Karena daun kelor mengandung zat-zat gizi bernilai tinggi, hal inilah yang menjadikannya sebagai superfood.

Selain itu, beberapa manfaat daun kelor, yaitu:

  1. Sebagai sumber antioksidan
  2. Daun kelor kaya akan zat antioksidan seperti vitamin C, polifenol, flavonoid, dan β-karoten (pro-vitamin A). Vitamin C berperan penting sebagai antioksidan alami yang membantu untuk memelihara daya tahan tubuh agar tetap kuat melawan penyakit serta sebagai bahan pembentuk kolagen, yaitu protein yang membantu untuk mempercepat penyembuhan luka. Flavonoid berfungsi untuk memberikan efek perlindungan terhadap kanker, penyakit jantung, dan berbagai penyakit lainnya, serta penuaan dini. Polifenol memiliki sifat antiradang, melindungi pembuluh darah, dan mendukung proses metabolisme tubuh. (7) β-karoten berperan sebagai zat pelindung tubuh dari berbagai penyakit, termasuk gangguan kesehatan mata, penyakit metabolik, dan penyakit jantung serta pembuluh darah. (8)
  3. Meningkatkan kadar hemoglobin
  4. Pembentukan sel darah merah merupakan proses penting dalam tubuh karena berperan dalam mengangkut oksigen ke seluruh organ. Proses ini membutuhkan asupan gizi yang cukup, terutama protein, zat besi, dan vitamin C, yang saling bekerja sama untuk menjaga fungsi darah tetap optimal. Daun kelor mengandung tinggi protein, zat besi, dan vitamin C. Protein berperan dalam pembentukan sel darah merah dan hemoglobin, yaitu komponen darah yang bertugas membawa oksigen. Protein juga membantu pengangkutan zat besi ke sumsum tulang sebagai tempat pembentukan sel darah merah. Zat besi berfungsi membantu hemoglobin dalam mengikat dan mengangkut oksigen, serta mendukung berbagai proses metabolisme tubuh. Sementara itu, vitamin C berperan meningkatkan penyerapan zat besi di usus sehingga membantu kinerja hemoglobin secara lebih optimal. (9) Jika kadar hemoglobin meningkat, jaringan tubuh tidak akan kekurangan oksigen dan pertumbuhan tulang balita berlangsung dengan baik. (10)
  5. Mendukung pertumbuhan dan perkembangan
  6. Daun kelor mengandung tinggi protein. Protein berperan penting dalam pembentukan, pemeliharaan, serta perbaikan jaringan tubuh. Kekurangan asupan protein dapat menghambat pertumbuhan dan mengganggu proses pematangan tulang. Balita yang kurang konsumsi protein memiliki risiko 1,6 kali menderita stunting. (11,12)

Mengolah Daun Kelor Menjadi Biskuit

Screen Shot 2026-02-28 at 20.47.18

Biskuit merupakan makanan yang disukai berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, karena tekstur renyah dan rasa manis. Biskuit daun kelor dikembangkan sebagai camilan atau makanan selingan bergizi bagi anak, khususnya mereka yang kurang menyukai sayuran. Daun kelor dapat dikeringkan dan diolah menjadi tepung yang mudah disimpan serta dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan. (6,13)

Berdasarkan suatu studi mengenai pemberian biskuit daun kelor untuk balita (2021), per porsi biskuit seberat 35 g atau sebanyak 3,5 keping biskuit mengandung energi, protein, dan zat besi yang jumlahnya tersedia dalam tabel berikut beserta dengan angka pemenuhan kebutuhan gizi harian.

Kandungan gizi biskuit disesuaikan dengan kebutuhan gizi balita sebagai makanan selingan, yaitu sekitar 10% dari kebutuhan gizi harian. Konsumsi satu porsi biskuit ini dapat mencukupi sekitar 10% kebutuhan energi harian, lebih dari 20% kebutuhan protein harian, serta lebih dari 10% kebutuhan zat besi harian. Hal ini menunjukkan bahwa biskuit daun kelor berpotensi menjadi camilan sehat dan bergizi bagi anak usia dini, memenuhi kebutuhan energi, protein, dan zat besi bagi balita yang memiliki asupan zat-zat gizi rendah, serta dapat membantu untuk memelihara kesehatan balita, termasuk menangani masalah stunting.

Kandungan gizi pada daun kelor segar mengalami penurunan setelah diolah menjadi biskuit. Penurunan ini merupakan hal wajar karena daun kelor hanya digunakan sebagai salah satu bahan dalam formulasi biskuit dan mengalami proses pengolahan. Meskipun demikian, biskuit daun kelor tetap memberikan kontribusi zat gizi dan menjadi produk pangan olahan berbasis pangan lokal yang mudah dikonsumsi. (1,14)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. ​Rustamaji GAS, Ismawati R. Daya Terima dan Kandungan Gizi Biskuit Daun Kelor Sebagai Alternatif Makanan Selingan Balita Stunting. J Gizi Unesa. 2021;1(1):31–27.
  2. Puspitasari D, R SMM, Jayadilaga Y. Pengenalan Manfaat dan Pengolahan Moringa olifera pada Anak di BTN Kasumberang Kabupaten Gowa. J Hasil-hasil Pengabdi dan Pemberdaya Masy.2023;2(1):72–7.
  3. Khasanah R, Jumari, Nurchayati Y. Etnobotani Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera L.) di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. J Ilmu Lingkung. 2023;21(4):870–80.
  4. Irwan Z. Kandungan Zat Gizi Daun Kelor (Moringa oleifera) Berdasarkan Metode Pengeringan. J Kesehat Manarang. 2020;6(1):69–77.
  5. Gonzales-Burgos E, Ureña-vacas I, Sanchez M, Pilar Gomez-Serranillos M. Nutritional Value of Moringa oleifera Lam. Leaf Powder Extracts and Their Neuroprotective Effects via Antioxidative and Mitochondrial Regulation. Nutrients. 2021;13(7):2021.
  6. Afriza R, Yuska D. Perbedaan Kandungan Zat Gizi Makro dan Mikro pada Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Berdasarkan Metode Perlakuan Pendahuluan. J Sehat Mandiri. 2025;20(1):117–28.
  7. Rahimova, Guliyeva. Health Effects of Polyphenols and Flavonoids. Bull Sci Pract. 2025;11(11):70–7.
  8. Tufail T, Ain HBU, Noreen S, Ikram A, Arshad MT, Abdullahi MA. Nutritional Benefits of Lycopene and Beta-Carotene: A Comprehensive Overview. Food Sci Nutr. 2024;12(11):8715–41.
  9. Khofifah N, Mardiana. Biskuit Daun Kelor (Moringa oleifera) Berpengaruh Terhadap Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri yang Anemia The Moringa Leaf (Moringa oleifera) Biscuits Have An Effect on Hemoglobin Levels in Anemic Adolescent Girls. Aceh Nutr J. 2023;8(1):43–50.
  10. Dewi EK, Nindya TS. Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi Dan Seng Dengan Kejadian Stunting Pada Balita 6-23 Bulan Correlation Between Iron and Zinc Adequacy Level With Stunting Incidence In Children Aged 6 -23 Months. Amerta Nutr. 2017;1(4):361–8.
  11. Haryani VM, Putriana D, Hidayati RW. Asupan Protein Hewani Berhubungan dengan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Animal-Based Protein Intake is Associated with Stunting in Children in Primary Health Care of Minggir. Amerta Nutr. 2023;7(2):139–46.
  12. Azmy U, Mundiastuti L. Konsumsi Zat Gizi pada Balita Stunting dan Non-Stunting di Kabupaten Bangkalan. Amerta Nutr. 2018;2(3):292–8.
  13. Hanif F, Berawi KN. Literature Review: Daun Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Makanan Sehat Pelengkap Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan Literature Review: Moringa Leaves (Moringa oleifera) as Healthy Food Complementary Nutrition for The First 1000 Days of Life. J Kesehat. 2022;13(2):398–407.
  14. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. 2019.

Ketika Glow Up Tidak Cukup dari Luar

Pernahkah kamu merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi saat jam pelajaran berlangsung, atau merasa skincare yang kamu gunakan tidak memberikan hasil maksimal? Pada usia remaja, keluhan-keluhan tersebut sering dianggap wajar dan dikaitkan dengan kurang tidur, tekanan akademik, atau hormon yang belum stabil. Namun, jika ditelisik lebih dalam, banyak dari masalah ini berakar pada satu hal mendasar, yaitu apa yang kita konsumsi setiap hari.

Di tengah gempuran tren makanan viral, mulai dari minuman manis berwarna-warni hingga camilan tinggi lemak, pola makan sehat sering kali tergeser. Makanan tidak lagi dinilai dari nilai gizinya, melainkan dari seberapa estetik tampilannya di media sosial. Padahal, masa remaja merupakan fase krusial dalam siklus hidup manusia, di mana kebutuhan gizi meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan kebiasaan jangka panjang. Mengabaikan aspek ini berarti menanam bibit masalah kesehatan yang dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian. (1)

Fenomena Social Picky Eater: Antara Selera, Identitas, dan Gengsi Sosial

FOTO ARTIKEL WEBSITE-78

Istilah picky eater kerap digunakan remaja untuk menggambarkan kebiasaan memilih-milih makanan. Secara medis, picky eating merujuk pada keterbatasan penerimaan jenis makanan tertentu akibat faktor sensorik seperti rasa, tekstur, atau aroma. Namun, realita di lapangan menunjukkan fenomena yang berbeda. Banyak remaja menolak sayur, buah, atau makanan rumahan bukan karena tidak menyukai rasanya, melainkan karena faktor sosial.

Fenomena ini dapat disebut sebagai social picky eater, yaitu perilaku pilih-pilih makanan yang dipengaruhi oleh norma pergaulan, citra diri, dan ekspektasi lingkungan. Dalam lingkup sekolah, membawa bekal sayur atau buah sering kali dianggap kurang keren dibandingkan membeli minuman kekinian. Media sosial memperkuat pola ini dengan menciptakan standar visual tertentu tentang “makanan anak muda”, sehingga pilihan makan menjadi bagian dari konstruksi identitas.

Tekanan teman sebaya (peer pressure) memainkan peran besar. Remaja berada pada fase pencarian jati diri, di mana penerimaan sosial menjadi kebutuhan psikologis yang kuat. Akibatnya, memilih makanan sehat saat berkumpul dapat menimbulkan rasa canggung, takut dianggap berbeda, atau bahkan dicap terlalu kaku. Padahal, keputusan-keputusan kecil yang berulang ini secara perlahan membentuk pola makan yang tidak seimbang dan meningkatkan risiko malnutrisi. (2,3)

Dampak Jangka Panjang yang Sering Diremehkan

FOTO ARTIKEL WEBSITE-95

Banyak remaja merasa tubuh mereka baik-baik saja meski jarang mengonsumsi sayur atau buah. Inilah yang dikenal sebagai hidden hunger, kondisi di mana asupan energi tercukupi, tetapi tubuh kekurangan zat gizi mikro penting seperti zat besi, seng, kalsium, dan vitamin.

Di Indonesia, masalah ini tercermin jelas dalam data kesehatan. Riskesdas menunjukkan bahwa lebih dari 90% remaja tidak memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah. Di sisi lain, konsumsi gula, garam, dan lemak justru meningkat. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi perlahan muncul dalam bentuk anemia pada remaja putri, penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular di usia produktif. (1,4)

Anemia tidak hanya menyebabkan pucat dan mudah lelah, tetapi juga berdampak pada prestasi akademik dan kesehatan mental. Remaja yang mengalami kekurangan zat besi cenderung lebih sulit fokus, sehingga potensi diri tidak berkembang secara optimal. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berlanjut hingga masa kehamilan kelak dan memengaruhi kualitas generasi berikutnya.

Glow Up sebagai Investasi Biologis, Bukan Sekadar Estetika

FOTO ARTIKEL WEBSITE-85

Istilah glow up sering diasosiasikan dengan perubahan penampilan luar, seperti kulit lebih cerah, tubuh lebih ideal, atau gaya berpakaian yang meningkat. Namun, glow up yang sejati bersifat biologis dan berakar dari dalam tubuh. Nutrisi yang cukup dan seimbang berperan langsung dalam kesehatan kulit, rambut, metabolisme, hingga kestabilan emosi.

Protein membantu regenerasi sel, zat besi mendukung distribusi oksigen ke seluruh tubuh, sementara vitamin dan mineral berperan sebagai kofaktor dalam berbagai proses metabolik. Tanpa fondasi gizi yang baik, upaya perawatan dari luar hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan.

Memulai Smart Eating Tanpa Kehilangan Gaya

Perubahan pola makan tidak harus bersifat ekstrem atau menghilangkan kesenangan. Kuncinya terletak pada kesadaran dan konsistensi. Beberapa langkah berikut dapat menjadi awal:

  1. Prinsip Isi Piringku
  2. Jadikan panduan Isi Piringku sebagai standar visual sehari-hari. Setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein. Prinsip ini sederhana namun efektif untuk memastikan keseimbangan gizi. (5)
  3. Literasi Gizi di Balik Kemasan
  4. Membaca label gizi bukan tanda berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap tubuh sendiri. Mengetahui kandungan gula, lemak, dan natrium membantu kita membuat keputusan yang lebih sadar.
  5. Mendefinisikan Ulang Kata “Keren”
  6. Normalisasi pilihan hidup sehat sebagai bagian dari identitas remaja yang cerdas dan berdaya. Membawa botol minum sendiri atau memilih buah sebagai camilan bukan hal memalukan, melainkan bentuk self-respect.
  7. Mengenali Sinyal Tubuh
  8. Belajar membedakan lapar fisik dengan lapar emosional atau lapar visual akibat paparan media. Kesadaran ini membantu mencegah pola makan impulsif. (6) Pola makan sehat bukan hanya urusan individu, melainkan fondasi kesehatan masyarakat. Remaja hari ini adalah orang dewasa produktif di masa depan. Dengan membangun kebiasaan makan yang lebih sadar sejak sekarang, kita sedang berinvestasi pada kualitas hidup jangka panjang, baik untuk diri sendiri maupun generasi selanjutnya.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. ​Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
  3. World Health Organization. Adolescent nutrition: a review of the situation in selected South- East Asian countries. Geneva: WHO; 2017.
  4. Story M, Neumark-Sztainer D, French S. Individual and environmental influences on adolescent eating behaviors. Journal of the American Dietetic Association. 2002;102(3):S40–S51.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Gizi Seimbang: Isi Piringku. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
  6. Black RE, Victora CG, Walker SP, et al. Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. The Lancet. 2013;382(9890):427–451.
  7. Alodokter. Memahami Pola Makan Sehat untuk Remaja Aktif [Internet]. 2024 [diakses 22 Januari 2026]. Tersedia pada: https://www.alodokter.com

Untuk seseorang yang memang sedang mengalami atau pernah mengalami penyumbatan pembuluh darah bahkan hingga dengan pemasangan ring, pasti pernah memiliki pertanyaan bahwa “masih bisa gak si saya ini makan makanan yang berlemak?” Sebenarnya, lemak termasuk ke dalam kategori zat gizi yang cukup penting, tetapi dalam kasus seperti itu mengonsumsi lemak tetap boleh tetapi hanya beralih ke makanan yang memiliki kandungan lemak baik dan menghindarkan dari konsumsi makanan dengan kandungan lemak jahat. Oleh sebab itu, kita akan bahas perbedaan lemak baik dengan lemak jahat itu seperti apa sih? Lalu, upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah berulang?

Lemak: Apa Itu Lemak?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7607830029233442055"}}

Lemak adalah salah satu sumber energi yang sangat penting dibutuhkan khususnya manusia untuk melakukan aktvitas sehari-hari. Manusia membutuhkan kadar lemak yang seimbang, walaupun memang membutuhkan kadar lemak yang seimbang lebih baiknya jika dalam mengonsumsi lemak tidak melebih batas normal, karena apabila melebihi batas normal akan menyebabkan obesitas yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu penyakit. 1 Lemak memiliki fungsi penting untuk tubuh diantaranya:

  1. Pelindung tubuh dari temperatur suhu yang rendah
  2. Pelarut vitamin A, vitamin E, vitamin K, dan vitamin D
  3. Salah satu sebagai penghasil energi tertinggi
  4. Salah satu bahan penyusun vitamin dan hormon. 2

Sumber lemak dapat berasal dari tumbuhan yang dapat disebut dengan lemak nabati dengang contohnya minyak zaitun, minyak kelapa, mentega, dan lain-lain dan juga berasal dari hewan yang dapat disebut dengan lemak hewani dengan contohnya susu, ikan, daging, keju, telur dan lain-lain. 2 Lemak menghasilkan 9 kalori per gram, lebih tinggi dibandingkan karbohidrat dan protein yang hanya menghasilkan 4 kalori per gramnya. 3 WHO menganjurkan bahwa konsumsi lemak untuk orang dewasa sekitar 60 gram per hari atau 20% dari energi total. 4

Musuh Utama Kita: Lemak Jahat

Screen Shot 2026-02-17 at 20.52.29

Lemak jahat adalah kategori lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2. 5 Contoh lemak jahat adalah lemak jenuh dan lemak trans.

  1. Lemak Jenuh
  2. Contoh makanan yang mengandung lemak jenuh seperti daging berlemak, keju, mentega, minyak kelapa, kelapa sawit, minyak yang berkali-kali pakai (jelantah). Konsumsi lemak jenuh sekitar 10% dari total energi.6 Dampak mengonsumsi lemak jenuh secara berlebih akan menyebabkan peningkatan kolesterol LDL yang dimana akan berkaitan dengan penyakit jantung dan juga dapat menyebabkan trombosis. 7
  3. Lemak Trans
  4. Sumber utama lemak trans dari produk pangan minyak nabati yang dihidrogenasi seperti margarin, shortening , dan produk-produk lain yang telah terhidrogenasi seperti chips, sereal, biskuit. Selain itu juga terdapat pada mentega, susu full cream, keju, telur dan daging. 6 Dampak dari mengonsumsi lemak trans ini selain meningkatkan kolesterol jahat (LDL) juga menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).

Sang Penyelamat: Lemak Baik

Screen Shot 2026-02-17 at 20.51.01

Lemak baik merupakan lemak yang bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). 8

  1. Lemak Tak Jenuh Tunggal
  2. Contoh lemak tak jenuh tunggal adalah minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak biji kapas, dan kanola. Lemak tak jenuh tunggal ini dapat berperan dalam menurunkan kadar kolesterol darah yang jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). 9
  3. Lemak Tak Jenuh Ganda
  4. Lemak tak jenuh ganda banyak ditemukan pada minyak ikan dan nabati seperti saflower, jagung, biji matahari. Sumber alami lemak tak jenuh ganda ini yang penting bagi kesehatan adalah kacang-kacangan dan biji-bijian. 10 Lemak tak jenuh ganda ini berperan dalam menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).

Lalu, bagaimana strategi yang baik dalam mencegah penyumbatan ulang? Yuk kita bahas. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam mencegah penyumbatan ulang seperti :

    Mengubah teknik memasak yang berawal dari menggoreng diganti ke mengukus, memanggang atau menumis dengan sedikit minyak zaitun atau minyak kanola.
  1. Mengonsumsi protein yang kaya akan sumber omega-3 dan usahakan untuk mengonsumsinya 2-3 kali seminggu, contoh omega-3 yaitu ikan kembung.
  2. Harus cermat dalam memilih produk makanan, contohnya kita harus benar-benar memilih produk makanan yang baik untuk kita dengan melihat kandungan gizi di dalamnya yang terdapat pada bungkus kemasan. Karena lemak itu tidak hanya di gorengan saja tetapi banyak produk makanan seperti roti dengan banyak mentega, kopi dengan creamer yang tinggi lemak trans .

Lalu, makanan yang seperti apa sih yang direkomendasikan untuk dikonsumsi? Dibawah ini ada beberapa contoh menu yang aman untuk dikonsumsi

    Makan pagi : dapat mengonsumsi oatmeal dengan irisan buah dan menggunakan topping kacang almond.
  1. Makan siang : nasi merah dengan lauk proteinnya yaitu ikan kembung yang dapat diolah sebagai pepes dan sayurannya yaitu sayur bening bayam.
  2. Selingan : dapat mengonsumsi buah-buahan tanpa menggunakan tambahan rasa manis.
  3. Makan malam : dapat mengonsumsi salad sayur dengan dressing minyak zaitun dengan tambahan dada ayam panggang sebagai proteinnya.

Mari kita mulai mengubah kebiasaan buruk kita menjadi kebiasaan yang baik yang salah satunya adalah memilih lemak yang tepat. Karena apabila kita memilih lemak yang tepat, selain melindungi jantung, juga meningkatkan kualitas hidup kita secara keseluruhan. Ingat bahwa penyumbatan pembuluh darah itu prosesnya cukup panjang dan menahun, jadi yuk mari kita mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Anonim. Pengertian Lemak. 2016.
  2. Santika, I.G.P.N.A. Pengukuran Tingkat Kadar Lemak Tubuh Melalui Jogging Selama 30 Menit Mahasiswa Putra Semester IV FPOK IKIP PGRI Bali. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi. 2016: 1,89-98.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes Mayo Clinic. 2022.
  4. Lichtenstein, A.H., Appel, L.J. Brands, M., Carnethon, M., Daniels, S., Franch, H.A et al. Diet and Lifestyle Recommendations Revision 2006: A Scientific Statement from the American Heart Association Nutrition Committee. Circulation. 2006.
  5. WHO. Healthy Diet Guidelines. Geneva: World Health Organization. 2023.
  6. Sartika, R.A.D. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan Asam Lemak Trans terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2008: 1(4).
  7. Mayes, P.A. Biosintesis Asam Lemak. In: Murray, R.K., Granner, D.K., Mayes, P.A & Rodwell, V.W. Biokimia. Jakarta. 2003.
  8. Harvard T.H Chan School of Public Health. Types of Fat. 2023.
  9. de Roos, N.M., Bots, M.L & Katan, M.B. Replacement of Dietary Saturated Fatty Acids by Trans Fatty Acids Lowers Serum HDL, Cholesterol and Impairs Endothelial Function in Healthy Men and Women. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2001: 21(7), 1233-7.
  10. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2001:52-76.

Ginjal merupakan filter tubuh yang selalu bekerja selama 24 jam tanpa henti. Tetapi, apabila ginjal sudah mulai mengalami kerusakan maka cara yang paling efektif adalah pengaturan asupan makanan dengan cara mengontrol asupan protein dan kalium yang masuk ke dalam tubuh agar tidak memperparah kerusakan ginjal. Mengapa asupan protein dan kalium harus dikontrol? Lalu, bagaimana strategi yang baik dalam menjaga fungsi ginjal?

Ginjal dan Fungsinya

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7607821619158863112"}}

Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang berperan penting dalam tubuh. Fungsi ginjal diantaranya:

  1. Mengatur konsentrasi garam dalam darah.1
  2. Mengatur keseimbangan asam dan basa.1
  3. Ekskresi garam berlebih.1
  4. Ekskresi sisa metabolisme tubuh seperti ureum, kreatinin dan asam urat. 2

Apabila fungsi ginjal terganggu dapat menyebabkan kemunduran dari kemampuan ginjal untuk membersihkan darah dari sisa metabolisme, kelainan struktur ginjal atau penurunan fungsi ginjal secara progresif dan irreversible. 3

Asupan Protein Harus Dibatasi, Mengapa?

Protein merupakan salah satu makronutrien yang paling penting dalam diet manusia. Kebutuhan protein harian untuk orang dewasa yang sehat sekitar 0,8 gr/kg. 4 Kebutuhan protein pada seseorang dengan CKD (Chronic Kidney Disease) sekitar 0,6-0,8 g/kg/hari untuk diet rendah protein dan 0,3-0,4 g/kg/hari untuk diet protein sangat rendah. 5 Asupan protein yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan penurunan fungsi ginjal, selain itu juga dapat mempercepat proses apoptosis pada podosit. 6 Asupan protein yang rendah memiliki banyak manfaat salah satunya adalah mengurangi beban kerja ginjal. 6 Selain itu juga dapat mengurangi albuminuria dan fibrosis ginjal. 7 Bagi seseorang dengan PGK (penyakit ginjal kronik) yang memiliki riwayat DM, maka asupan proteinnya sekitar 0,6-0,8 g/kgBB/hari, lalu untuk seseorang dengan PGK tanpa DM dan dialisis maka asupan proteinnya sekitar 0,55-0,6g/kgBB/hari. 8

Asupan Kalium Harus Dibatasi, Mengapa?

Kalium merupakan mineral penting untuk fungsi otot dan jantung tetapi apabila seseorang memiliki permasalahan pada fungsi ginjal yaitu berupa kerusakan ginjal maka sulit untuk membuang kalium yang berlebih. Kadar kalium yang tinggi dalam darah atau hiperkalemia. Hiperkalemia berkisar 5,1-6,0 mmol/L (hiperkalemia ringan), 6,1-7,0 mmol/L (hiperkalemia sedang) dan >7,0 mmol/L (hiperkalemia berat). 9 Untuk kadar kalium normal sekitar 3,5-5,1 mmol/L. 10

Lalu, strategi seperti apa yang dapat dilakukan?

Strategi dalam Menjaga Fungsi Ginjal

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7607822513883663634"}}
  1. Pilih protein yang memiliki nilai biologis tinggi seperti fillet ayam tanpa kulit, ikan,putih telur
  2. Pilih sayuran yang rendah kalium seperti tauge, buncis, atau labu siam. Dalam mengonsumsi sayuran lebih baik rendam sayuran tersebut ke dalam air hangat selama 2 jam lalu bilas sebelum dimasak karena dapat membantu melarutkan sebagian kadar kalium ke dalam air.
  3. Mengontrol porsi makan dengan moderasi

Menerapkan diet rendah protein dan kalium memang berat karena banyak sekali pantangannya tetapi dengan menerapkan diet ini sama saja dengan kita menyayangi ginjal kita, karena beban kerja ginjal tidak terlalu berat dan risiko untuk melakukan cuci darah dapat ditunda selama mungkin. Jangan lupa ya untuk selalu konsultasikan ke ahli gizi dalam melaksanakan diet ini karena setiap individu akan berbeda.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Triyono, H.G., K, D.N., Sugiarto., Yuli, T.I & Rofiyati, W. Kepatuhan Diet dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro: Korelasi Studi. Wiraraja Medika: Jurnal Kesehatan. 2020: 10(2), 78-83.
  2. Syuryani, N., Arman, E & Putri, G.E. Perbedaan Kadar Ureum Sebelum dan Sesudah Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory. 2021: 4(2).
  3. Yulianto, D., Notobroto, H.B & Widodo. “Analisis Ketahanan Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronis dengan Hemodialisis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya”. Departemen Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. 2017: 3(1).
  4. Hendriks, F.K., Smeets, J.S.J., van der Sande, F.M., Kooman, J.P & van Loon, L.J.C. Dietary Protein and Physical Activity Interventions to Support Muscle Maintenance in End-Stage Renal Disease Pateints on Hemodialysis. Nutrients. 2019: 11(12), 1-13.
  5. Jiang, Z., Zhang, X., Yang, L., Li, Z & Qin, W. Effect of Restricted Protein Diet Supplemented with Keto Analogues in Chronic Kidney Disease: A Systematic Review and Metaanalysis. Int Urol Nephrol. 2016: 48(3), 409-418.
  6. Ko, G.J & Kalantar-Zadeh, K. How Important is Dietary Management in Chronic Kidney Disease Progression? A Role for Low Protein Diets. Korean J Intern Med. 2021: 36(4), 795-806.
  7. Li, A., Lee, H.Y & Lin, Y.C. The Effect of Ketoanalogues on Chronic Kidney Disease Deterioration: A Meta-Analysis. Nutrients. 2019: 11, 957.
  8. Ikizler, T.A et al. KDOQI Clinical Practice Guideline for Nutrition in CKD: 2020 Update. Am. J. Kidney Dis. 2020: 76.
  9. Seja, M.E. Manajemen Diet Rendah Kalium pada Pasien dengan Diagnosa Medis Chronic Kidney Disease (CKD) E. C Hiperkalemia di Ruangan Matahari RSUD dr. TC. HILERS Maumere. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan (Jurrikes). 2024: 3(1), 264-270.
  10. Puluhulawa, N & Polapa, S. Analisis Praktik Keperawatan Evaluasi Penatalaksanaan Pemberian KCL Drips Pada Kondisi Fisiologis Pasien Dengan Hipokalemia di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Mahesa: Malahayati Health Student Journal. 2023: 3(7), 1899-1909.

Masalah kelebihan berat badan dan obesitas semakin menjadi perhatian di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk dewasa mencapai 21,8%, meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (1) Kondisi ini mendorong munculnya berbagai tren perilaku makan sehat, beberapa diantaranya seperti diet ketogenik dan intermittent fasting, yang dianggap mampu menurunkan berat badan secara cepat. Namun, tanpa pemahaman gizi yang tepat, penerapan pola makan tersebut justru berpotensi menimbulkan masalah gizi baru.

Tren Perilaku Makan Sehat dan Tantangan Gizi di Indonesia

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7605970095050886407"}}

Perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia ditandai dengan meningkatnya asupan makanan tinggi energi, gula, lemak, dan garam, serta rendahnya konsumsi buah dan sayur. Riskesdas 2018 melaporkan bahwa lebih dari 95% penduduk Indonesia mengonsumsi buah dan sayur di bawah anjuran. (1) Pola makan seperti ini berkontribusi terhadap meningkatnya masalah gizi lebih dan obesitas, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Di sisi lain, media sosial dan internet mempercepat penyebaran informasi tentang berbagai metode diet. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut berbasis bukti ilmiah. Banyak individu mengikuti tren diet secara instan tanpa mempertimbangkan keseimbangan zat gizi dan kondisi kesehatan pribadi, sehingga berpotensi menimbulkan masalah gizi baru.

Diet Ketogenik: Efektivitas dan Risiko

Diet ketogenik merupakan pola makan dengan asupan karbohidrat sangat rendah dan lemak tinggi, yang bertujuan mengubah sumber energi utama tubuh dari glukosa menjadi lemak melalui kondisi ketosis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet ketogenik efektif dalam menurunkan berat badan dalam jangka pendek (2).

Namun, efektivitas tersebut tidak selalu diiringi dengan keamanan jangka panjang. Pembatasan karbohidrat yang ketat berpotensi menyebabkan rendahnya asupan serat, vitamin, dan mineral tertentu jika tidak direncanakan dengan baik (3). Dalam konteks Indonesia, diet ketogenik juga menghadapi tantangan budaya karena nasi masih menjadi sumber pangan utama. Hal ini membuat kepatuhan jangka panjang terhadap diet ini relatif rendah.

Intermittent Fasting: Fleksibel tetapi Tidak Bebas Risiko

Intermittent fasting menekankan pada pengaturan waktu makan, seperti metode 16:8 atau 5:2, tanpa pembatasan jenis makanan secara spesifik. Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dan mudah diterapkan oleh sebagian masyarakat. Studi menunjukkan bahwa intermittent fasting memberikan hasil penurunan berat badan yang sebanding dengan diet pembatasan energi harian konvensional (4).

Meski demikian, keberhasilan intermittent fasting sangat bergantung pada kualitas makanan selama periode makan. Jika pola konsumsi tetap tinggi gula, lemak, dan makanan ultra-proses, manfaat yang diharapkan menjadi tidak optimal. Tanpa pemahaman gizi yang baik, metode ini tetap berisiko menyebabkan ketidakseimbangan asupan zat gizi.

Perilaku Makan Sehat Berkelanjutan sebagai Pendekatan Ideal

Selain diet populer, pendekatan perilaku makan sehat berbasis kesadaran seperti pola makan seimbang dan mindful eating semakin direkomendasikan. Pendekatan ini menekankan kontrol porsi, variasi pangan, serta kemampuan mengenali rasa lapar dan kenyang. Dibandingkan diet ekstrem, perilaku makan sehat dinilai lebih aman dan berkelanjutan dalam jangka panjang (5).

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pola makan bergaya Western dietary pattern yang tinggi makanan cepat saji dan minuman manis berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas, sementara pola makan yang kaya buah, sayur, dan pangan segar berkaitan dengan status gizi yang lebih baik (6). Hal ini menegaskan pentingnya kualitas diet, bukan sekadar pembatasan jumlah makan.

Menentukan Perilaku Makan yang Tepat

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7605970892144774408"}}

Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada satu pola makan yang paling tepat untuk semua orang. Respons tubuh terhadap diet dipengaruhi oleh usia, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup (7). Oleh karena itu, pemilihan perilaku makan sehat sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu dan dilakukan secara bertahap. Peran edukasi gizi menjadi sangat penting agar masyarakat tidak terjebak pada tren diet sesaat. Pendampingan oleh tenaga kesehatan dan ahli gizi diperlukan untuk memastikan bahwa upaya penurunan berat badan tetap memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Diet ketogenik dan intermittent fasting menawarkan alternatif dalam upaya menurunkan berat badan, namun bukan tanpa risiko. Perilaku makan sehat yang paling tepat adalah pola makan yang seimbang, aman, dan dapat diterapkan secara konsisten. Dalam konteks Indonesia, edukasi gizi menjadi kunci untuk mencegah masalah gizi akibat diet ekstrem dan memastikan upaya penurunan berat badan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2019.
  2. Paoli A, Rubini A, Volek JS, Grimaldi KA. Beyond weight loss: a review of the therapeutic uses of very-low-carbohydrate ketogenic diets. Eur J Clin Nutr. 2013;67(8):789–96.
  3. Bueno NB, de Melo ISV, de Oliveira SL, da Rocha Ataide T. Very-low-carbohydrate ketogenic diet v. low-fat diet for long-term weight loss: a meta-analysis. Br J Nutr.2013;110(7):1178–87.
  4. Harris L, Hamilton S, Azevedo LB, et al. Intermittent fasting interventions for treatment of overweight and obesity in adults. JBI Database System Rev Implement Rep. 2018;16(2):507–47.
  5. Albers S. Mindful eating and weight loss. Obes Rev. 2010;11(11): e194–6.
  6. Lende RRM, Wahyuningsih U, Quratul MA. Dietary patterns and obesity among Indonesian urban workers. Amerta Nutr. 2023;7(2):123–32.
  7. Johnston BC, Kanters S, Bandayrel K, et al. Comparison of weight loss among named diet programs in overweight and obese adults. JAMA. 2014;312(9):923–33.

Pengobatan penyakit kronis sering kali hanya identik dengan obat rutin, kontrol berkala, dan pemeriksaan laboratorium. Namun, ada satu aspek penting yang kerap luput mendapat perhatian serius, yaitu asupan gizi harian.

Padahal, gizi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari perawatan jangka panjang pasien dengan penyakit kronis. Tanpa dukungan asupan gizi yang tepat, efektivitas terapi medis bisa berkurang, bahkan memperburuk kondisi pasien.

Penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kanker membutuhkan pendekatan perawatan yang menyeluruh. Di sinilah peran gizi menjadi sangat krusial. Berikut beberapa peran penting asupan gizi dalam mendukung perawatan penyakit kronis

1. Membantu Mengontrol Gejala dan Perkembangan Penyakit

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7605977937698999560"}}

Asupan zat gizi yang tepat berperan sangat penting dalam mengendalikan gejala sekaligus memperlambat perkembangan penyakit kronis. Misalnya, pada penderita diabetes mellitus, penting dalam pengaturan pola makan dilakukan dengan memperhatikan keteraturan jadwal, jenis, dan porsi makanan, terutama sumber karbohidrat. (1)

Pembatasan karbohidrat sederhana, gula, lemak jenuh, serta peningkatan asupan serat terbukti membantu menjaga kestabilan kadar gula darah dan mencegah lonjakan glukosa setelah makan.

Sementara itu, pada pasien hipertensi, penerapan diet rendah natrium menjadi kunci pengendalian tekanan darah. Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan volume cairan tubuh dan memaksa jantung bekerja lebih keras, sehingga tekanan darah meningkat. (2,3)

Dengan demikian, pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan medis dapat membantu mengurangi beban kerja organ dan mendukung pengelolaan penyakit secara lebih optimal.

2. Mendukung Efektivitas Terapi Medis

Asupan gizi yang adekuat berperan penting dalam meningkatkan efektivitas terapi medis. Pasien dengan status gizi yang baik umumnya memiliki daya tahan tubuh lebih optimal, sehingga mampu mentoleransi pengobatan dan merespons terapi dengan lebih baik.

Sebaliknya, kekurangan energi, protein, atau zat gizi mikro dapat menghambat proses penyembuhan dan memperpanjang masa perawatan. Misalnya, pada pasien dengan kanker, malnutrisi bahkan dapat menurunkan toleransi terhadap kemoterapi, radiasi, maupun tindakan bedah, serta meningkatkan risiko efek samping. (4)

Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi menjadi bagian integral dari terapi medis untuk mencegah komplikasi, mendukung keberhasilan pengobatan, serta meningkatkan kualitas hidup dan peluang kesintasan pasien.

3. Menjaga Status Gizi dan Mencegah Komplikasi

Pasien dengan penyakit kronis memiliki risiko tinggi mengalami malnutrisi akibat penurunan nafsu makan, pembatasan diet tertentu, serta efek samping terapi jangka panjang.

Salah satunya, kondisi ini banyak ditemukan pada pasien dialisis, terutama usia lanjut, yang kerap mengalami anoreksia sehingga meningkatkan risiko kekurangan energi dan protein, sarkopenia, serta penurunan kekuatan fisik. (5)

Oleh karena itu, pengelolaan asupan gizi yang terencana, khususnya kecukupan energi dan protein, menjadi bagian penting dari perawatan. Dengan status gizi yang terjaga, dapat membantu mempertahankan berat badan dan massa otot, mendukung fungsi tubuh, serta mencegah memburuknya kondisi fisik.

Selain itu, juga dapat mengurangi risiko komplikasi seperti infeksi, kelelahan berat, gangguan kardiovaskular, hingga penurunan kualitas hidup.

4. Menjaga Kesehatan Mental dan Kualitas Hidup Pasien

Tujuan dari perawatan penyakit kronis salah satunya adalah menjaga kualitas hidup pasien secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pengendalian penyakit. Pola makan seimbang dengan pemenuhan makronutrien dan mikronutrien yang cukup dapat membantu tubuh tetap bertenaga, mendukung fungsi fisiologis yang optimal, serta memungkinkan pasien menjalani aktivitas harian dengan lebih nyaman dan mandiri.

Asupan gizi yang baik juga berperan dalam menjaga komposisi tubuh dan mencegah kelelahan berlebihan yang sering dialami oleh pasien kronis. Selain itu, zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, zat besi, seng, asam folat, dan berbagai vitamin memiliki peran penting dalam fungsi sistem saraf pusat. Ini menegaskan bahwa kecukupan gizi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas suasana hati, konsentrasi, serta kesehatan mental pasien, yang pada akhirnya mendukung kualitas hidup jangka panjang. (6)

5. Mendukung Perawatan Jangka Panjang yang Berkelanjutan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7605979618553695496"}}

Penyakit kronis membutuhkan perawatan jangka panjang, bahkan dalam banyak kasus harus dijalani seumur hidup. Oleh karena itu, pendekatan gizi tidak bisa bersifat kaku atau sementara, melainkan perlu dirancang secara realistis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi serta pola hidup pasien.

Pola makan yang terlalu ketat justru berisiko sulit dipertahankan dan dapat menurunkan kepatuhan pasien terhadap perawatan. Pendampingan gizi juga berperan penting dalam membantu pasien membangun kebiasaan makan yang lebih sehat secara bertahap, bukan sekadar menjalani diet ketat dalam waktu singkat. (7)

Dengan dukungan yang tepat, pasien dapat memahami pilihan makanan yang lebih aman dan bergizi, sehingga perawatan dapat dijalani secara konsisten tanpa menimbulkan stres atau beban tambahan dalam kehidupan sehari-hari.

Asupan gizi memiliki peran strategis dalam mendukung perawatan penyakit kronis. Bukan hanya membantu mengontrol penyakit, tapi juga berkontribusi pada efektivitas terapi, pencegahan komplikasi, hingga peningkatan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, perawatan penyakit kronis sebaiknya selalu melibatkan perhatian serius terhadap pengaturan asupan gizi, bukan hanya fokus pada obat dan tindakan medis.

Mulailah lihat gizi sebagai mitra penting dalam proses penyembuhan. Tidak lupa juga untuk selalu konsultasikan kebutuhan gizi dengan tenaga kesehatan, susun pola makan yang sesuai kondisi, dan menanamkan prinsip bahwa perawatan penyakit kronis tidak cukup hanya mengandalkan obat dan terapi, melainkan gizi juga memegang peran besar.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. Mengenal diet Diabetes Mellitus [Internet]. 15 Nov 2024 [cited 2026 Jan 12]. Available from: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3810/mengenal-diet-diabetes- mellitus
  2. Madyasari, A., Cintari, L., & Wiardani, K. Gambaran tingkat konsumsi natrium dan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Tabanan III. Jurnal Ilmu Gizi:Journal of Nutrition Science [Internet], 2021;10(3). 142–147. Available from: https://ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id/index.php/JIG/article/view/1143
  3. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. Mengenal diet rendah garam [Internet]. 18 Nov 2024 [cited 2026 Jan 14]. Available from: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3812/mengenal-diet-rendah-garam
  4. Safitri A, Rasyid H, Bukhari A, Madjid M. Pengaruh gizi terhadap respon terapi pasien Chronic Myelocystic Leukemia (CML). IJCNP (Indonesian Journal of Clinical Nutrition Physician) [Internet]. 2018;1(1):57–66. Available from: https://doi.org/10.54773/ijcnp.v1i1.31
  5. Kitajima Y. How can we improve appetite in elderly patients undergoing dialysis in Japan? Kidney Dialysis [Internet]. 2024;4(2):105–115. Available from: https://doi.org/10.3390/kidneydial4020008
  6. Kristy NC, Mahmudiono T. Mengoptimalkan asupan zat gizi sebagai upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan mental: sebuah tinjauan literatur. Media Gizi Kesmas [Internet], 2022;11(2). 544–561. Available from: https://e- journal.unair.ac.id/MGK/article/download/33925/22975/180292
  7. Cyrino LG, Galpern J, Moore L, Borgi L, Riella LV. A narrative review of dietary approaches for kidney transplant patients. Kidney International Reports [Internet], 2021 Jul;6(7). 1764–1774. Available from: https://doi.org/10.1016/j.ekir.2021.04.009