Penyakit Tidak Menular (PTM) atau biasa disebut sebagai penyakit degeneratif merupakan jenis penyakit yang tidak bisa ditularkan oleh penderita ke orang lain yang berkembang secara perlahan dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang. (1) Berdasarkan data WHO pada tahun 2023, sekitar 74 persen penyebab kematian di dunia adalah PTM yang membunuh 41 juta jiwa per tahun, diantaranya penyakit jantung dan pembuluh darah (17,9 juta jiwa), kanker (9,3 juta jiwa), penyakit pernafasan kronis (4,1 juta jiwa), dan diabetes (2,0 juta jiwa). (2) Beberapa faktor risiko PTM meliputi peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah, obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok serta konsumsi alkohol. (3) Salah satu program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mencegah PTM adalah CERDIK yang merupakan singkatan dari Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik/olahraga, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress. (4)

Kedelai dan susu kedelai (susu soya)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-7

Dalam melakukan diet sehat dan seimbang, dapat mengonsumsi bahan pangan nabati, pangan utuh (whole food) dan pangan alami yang mengalami pengolahan minimal (minimal processing). (5) Salah satu pangan nabati yang baik untuk dikonsumsi adalah kedelai. Kedelai memiliki rata-rata kandungan protein 35% dan susunan asam amino yang lebih lengkap dibandingkan kacang-kacangan lainnya. (6) Kedelai dapat diolah menjadi susu kedelai (susu soya) yang merupakan hasil ekstraksi dari kedelai. Susu soya memiliki kandungan protein 40,4 g/100g yang kaya akan asam amino (arginin dan glisin), antioksidan (isoflavon dan lesitin), lemak, kalsium, fosfor, zat besi, pro vitamin A, vitamin B kompleks (kecuali vitamin B12), serat dan air. (7) Pemberian susu soya menjadi salah satu pengobatan non farmakologis karena susu soya termasuk dalam pangan fungsional. (8)

Apa saja manfaat susu soya dalam pencegahan dan pengendalian PTM?

Berbagai manfaat susu soya dalam pencegahan dan pengendalian PTM diantaranya sebagai berikut:

1. Penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular)
  1. Hipertensi
    Pemberian susu soya berpengaruh signifikan terhadap perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik. (9, 10) Kandungan isoflavon pada susu soya berperan sebagai fitoestrogen yang menimbulkan efek vasodilator (melebarkan pembuluh darah) sehingga dapat menurunkan tekanan darah seperti estrogen. (8, 11)
  2. Penyakit jantung dan stroke
    Salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke adalah tingginya kadar kolesterol tubuh. Pemberian susu soya berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar kolesterol. (12, 13) Kedelai mengandung isoflavon berupa genistein, daidzein, dan glicitein yang dapat meningkatkan kolesterol HDL, menurunkan trigliserida, kolesterol total dan kolesterol LDL serta mengurangi penggumpalan darah sehingga dapat mengurangi resiko terkena serangan jantung dan stroke. (14, 15, 16, 17) Kedelai juga mengandung lesitin yang mampu mengontrol lemak dan mengemulsikannya untuk dikeluarkan dari tubuh sehingga peredaran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar. (18) Selain itu, kedelai mengandung serat yang dapat meningkatkan ekskresi asam empedu dan kolesterol melalui feses sehingga mengurangi laju enterohepatik pada asam empedu. Rendahnya kadar asam empedu yang masuk ke hati dan rendahnya absorbsi kolesterol dapat menurunkan kadar kolesterol di dalam hati. Selanjutnya, kolesterol diambil dari darah untuk mensintesis asam empedu sehingga kadar kolesterol menurun. (19)
2. Kanker
FOTO ARTIKEL WEBSITE-19

Asupan kedelai yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan risiko kanker sebesar 10%. (20) Kedelai dan olahannya merupakan sumber isoflavon yang telah terbukti berperan sebagai antikanker melalui penghambatan proliferasi sel kanker dan menurunkan inflamasi sehingga dapat menurunkan resiko kanker kolon. (21) Wanita yang mengonsumsi kedelai memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengonsumsi kedelai. (22) Penelitian membuktikan bahwa wanita yang rutin mengonsumsi susu soya memiliki kadar isoflavon yang lebih tinggi. Isoflavon dapat mengurangi risiko kanker payudara dan menekan pertumbuhan sel-sel tumor. (23)

3. PPOK

Peningkatan konsumsi kedelai berkaitan dengan penurunan risiko PPOK dan sesak napas. (24)

4. Diabetes melitus (DM)

Pemberian susu soya berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita DM. Kandungan lesitin pada susu soya dapat memperbaiki (regenerasi) sel β pankreas yang rusak dan melindungi sel β dari kerusakan akibat oksidasi sehingga dapat memproduksi hormon insulin. Selain itu, susu soya mengandung asam amino arginin dan glisin yang merupakan komponen penyusun hormon insulin. Jika hormon insulin meningkat, maka kadar gula darah akan menurun. (25)

5. Penyakit ginjal kronis (CKD)

Memodifikasi jumlah dan jenis protein makanan memberikan dampak besar bagi penderita gagal ginjal sehingga disarankan untuk membatasi asupan protein dan mengganti protein hewani dengan protein kedelai. (26) Kedelai dikategorikan protein berkualitas tinggi yang sangat direkomendasikan untuk penderita CKD. (27, 28) Konsumsi kedelai berkaitan dengan penurunan ekskresi albumin urin, proteinuria, serum creatinin (SCr), protein C-reaktif (CRP), fosfor serum dan nitrogen urea darah (BUN) pada penderita CKD. (29, 30)

6. Gout (asam urat)

Pemberian susu soya berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat. (31) Kandungan isoflavon pada susu soya termasuk dalam golongan flavonoid yang dapat menghambat enzim xanthin oxidase mengubah hipoxantin menjadi xantin sehingga perubahan xantin menjadi asam urat juga dapat terhambat. (32) Mekanisme ini sama dengan mekanisme obat penurun asam urat yang banyak digunakan (allopurinol). (33)

7. Osteoporosis

Bahan pangan yang berasal dari kedelai dan kaya isoflavon dapat meningkatkan kekuatan dan densitas tulang belakang sehingga mencegah penyakit osteoporosis. Isoflavon memiliki struktur serupa dengan obat anti-osteoporosis. (34)

Mari tingkatkan konsumsi kedelai khususnya susu soya agar dapat merasakan segudang manfaatnya agar tubuh tetap jaya!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penyakit Tidak Menular (PTM). Kementerian Kesehatan. 2022 [cited 2024 May 23]. Available from: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/761/penyakit-tidak-menular-ptm
  2. WHO. Noncommunicable diseases. WHO. 2023 [cited 2024 May 23]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
  3. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Buku Pedoman Manajemen Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular: 2023. 2 p.
  4. Kementerian Kesehatan. CERDIK, Rahasia Masa Muda Sehat dan Masa Tua Nikmat!. Kementerian Kesehatan. 2019 [cited 2024 May 23]. Available from: 14. https://ayosehat.kemkes.go.id/cerdik-rahasia-masa-muda-sehat-dan-masa-tua-nikmat
  5. Zakaria, Fransiska Rungkat. Pangan Nabati, Utuh dan Fungsional Sebagai Penyusun Diet Sehat. Orasi Ilmiah Guru Besar. Institut Pertanian Bogor; 2015.
  6. Sutrisno Koswara. Isoflavon, Senyawa Multi-Manfaat dalam Kedelai. Repository IPB. 2006 [cited 2024 May 23]. Available from: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/30646
  7. Pramono, A, Fitranti, DY, Rahmawati, ER, Ayustaningwarno, F. Efek Pemberian Susu Kedelai-Jahe Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Wanita Pre-Menopouse Prediabetes. Journal of Nutrition College. 2020;9(2):94-99.
  8. Syarpia, RD, Kurniati, KI. Potensi Susu Kedelai sebagai Anti Hipertensi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2020;2(1):85-90.
  9. Widiasari, S, Putra, IA. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai. Collaborative Medical Journal. 2022;5(2):18-24.
  10. Ernawati, Syamdarniati, Oktaviana, E, Nurmayani, W. Pemberian Susu Kedelai Pada Penderita Hipertensi Untuk Menurunkan Tekanan Darah. LENTERA (Jurnal Pengabdian). 2023;3(1)31-37.
  11. Yuniastuti, Tiwi. Pengaruh Diet Lipida Lemak Kedelai Terhadap Insiden Hipertensi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada. 2014;3(1):31-38.
  12. Andika, Mira. Pengaruh Konsumsi Susu Kedelai Terhadap Kolesterol Total Pada Penderita Hiperkolesterolemia Di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Menara Ilmu. 2019;13(3):99- 105.
  13. Andora, N, Maryuni, S. Dapatkah Susu Kedelai Menurunkan Kadar Kolestrol Pada Penderita Diabetes Mellitus?. Jurnal Ilmiah STIKES Kendal. 2021;11(3):651-658.
  14. Nurrahmani, Ulfa. Stop Diabetes, Hipertensi, Kolesterol Tinggi, Jantung Koroner. Yogyakarta: Istana Media; 2015.
  15. Setyawan, FEB. Kajian Tentang Efek Pemberian Nutrisi Kedelai (Glicine max) Terhadap Penurunan Kada Kolesterol Total pada Menopause. Magna Medika. 2017;1(4);33-42.
  16. Ramdath, DD, Padhi, EMT, Sarfaraz, S, Renwick, S, Duncan, AM. Beyond the Cholesterol-Lowering Effect of Soy Protein : A Review of the Effects of Dietary Soy and Its Constituents on Risk Factors for Cardiovascular Disease. Nutrients. 2017;9(4):324.
  17. Panchal, Vandana. Phytochemicals And Flavour Profiles Of Soymilk. Thesis. South Dakota State University; 2009.
  18. Joe, Wulan. 101 Keajaiban Khasiat Kedelai. Yogyakarta: Andi; 2011.
  19. Fitranti, DY, Marthandaru, D. Pengaruh Susu Kedelai Dan Jahe Terhadap Kadar Kolesterol Total Pada Wanita Hiperkolesterolemia. Jurnal Gizi Indonesia. 2016;4(2):89-95.
  20. Fan, Y, et al. Intake of Soy, Soy Isoflavones and Soy Protein and Risk of Cancer Incidence and Mortality. Front Nutr. 2022;9:11-11.
  21. Toyomura, K, Kono, S. Soybeans, Soy Foods, Isoflavones and Risk Of Colorectal Cancer: A Review of Experimental and Epidemiological Data. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention. 2002;3:125-132.
  22. Boutas, I, Kontogeorgi, A, Dimitrakakis, C, Kalantaridou, SN. Soy Isoflavones and Breast Cancer Risk: A Meta-analysis. In Vivo. 2022;36(2):556-562.
  23. Bolca, S, et al. Disposition of soy isoflavones in normal human breast tissue. Am J Clin Nutr. 2010;91(4):976-984.
  24. Hirayama, F, et al. Soy consumption and risk of COPD and respiratory symptoms: a case-control study in Japan. Respir Res. 2009;10(1):56.
  25. Laboro, GR, Sudirman, AA, Sudirman ANA. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Biru. Journal of Educational Innovation and Public Health. 2023;1(2):102-113.
  26. Rafieian-Kopaei, M, Beigrezaei, S, Nasri, H, Kafeshani, M. Soy Protein and Chronic Kidney Disease: An Updated Review. Int J Prev Med. 2017;8:105.
  27. McGraw, NJ, Krul, ES, Grunz-Borgmann, E, Parrish, AR. Soy-based renoprotection. World J Nephrol. 2016;5(3):233–257.
  28. Fang, L, Du, Y, Rao, X. A Survey Study on Soy Food Consumption in Patients with Chronic Kidney Diseases. Inquiry. 2022;59.
  29. Zhang, J, Liu, J, Su, J, Tian F. The effects of soy protein on chronic kidney disease: A meta-analysis of randomized controlled trials. Eur J Clin Nutr. 2014;68(9):987-993.
  30. Jing, Z, Wei-Jie, Y. Effects of soy protein containing isoflavones in patients with chronic kidney disease: A systematic review and meta-analysis. Clin Nutr. 2016;35(1):117–124.
  31. Fahlevi, Reza. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai (Glicine Max L. Merr) Terhadap Kadar Asam Urat Pada Ibu-Ibu Menopause Di Pengajian Aisyiyah. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; 2019.
  32. Murray, RK, Granner, DK, Mayes, PA, Rowell, PV. Biokimia Harper. Edisi 24. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1999.
  33. Villegas, R, et al. Purine-rich foods, protein intake, and the prevalence of hyperuricemia: the Shanghai Men's Health Study. Nutr Metab Cardiovasc Dis. 2012;22(5):409-416.
  34. Messina, M, Messina, V. Soyfoods, soybean isoflavones, and bone health: a brief overview. J Ren Nutr. 2000;10(2):63-68.

Lansia adalah sebuah fase kehidupan yang hampir dialami oleh setiap manusia. Keterbatasan kemampuan fisik, mental, penurunan fungsi tubuh dan keluhan sakit menahun telah menjadi paradigma umum bahwa lansia merupakan kelompok orang dengan predikat lemah, rentan dan tidak berdaya. Risiko penyakit khususnya PTM (Penyakit Tidak Menular) kerap dialami sehingga para lansia cenderung menjadi beban dan tanggung jawab keluarganya yang dampaknya berujung pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. (1)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-18

Di satu sisi, perkembangan teknologi saat ini telah memberikan peluang solusi terhadap permasalahan kesehatan yang awalnya dinilai sulit hingga berhasil menemukan metode yang lebih mudah, efektif dan efisien. Sebagai contoh, canggihnya fasilitas pemeriksaan, kelengkapan ketersediaan obat, hingga inovasi layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. (2) Namun hingga saat ini, Indonesia masih mengalami tantangan Triple Burden Disease dengan PTM sebagai penyebab 69% DALYs Loss (Disability-Adjusted Life Years Loss) dan peningkatan angka kematian dari 50% (2004) menjadi 71% (2014). (3)

Terdapat berbagai faktor pemicu kejadian PTM, di antaranya adalah ketidakcukupan asupan zat gizi dari makanan sehari-hari dan pola aktivitas yang termasuk dalam rangkaian gaya hidup. (4) Hampir 50% lansia di Indonesia mengalami gangguan pemenuhan zat gizi yang mengakibatkan malnutrisi. Sebanyak 31% lansia memiliki status gizi kurang dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) antara 16,5-18,49 kg/m2 dan 1,8% dengan status gizi lebih (IMT>22,9 kg/m2 ). (5) Kondisi malnutrisi ini merupakan rantai permasalahan gizi yang dapat berujung pada kejadian PTM. (6)

Hasil survei kesejahteraan lansia di tahun 2022 melaporkan bahwa sebanyak 24,6% penduduk lansia di Indonesia menderita penyakit kronis dengan kategori PTM. (7) Kondisi epigenetik, seperti pola makan (kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, rendah serat), pola aktivitas (dominan duduk/berbaring) serta pola istirahat (kesibukan kerja, kebiasaan begadang, kondisi stres) diidentifikasi menjadi faktor risiko PTM (penyakit diabetes melitus, stroke, gangguan ginjal, kanker serta penyakit jantung dan pembuluh darah). (8) Penyakit-penyakit degeneratif yang terus berkembang menjadi jenis katastropik ini telah mengalami kenaikan progresif sejak tahun 2010 dan berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi karena membutuhkan biaya yang tinggi untuk pengobatannya. (9)

AvLOS (Average length of Stay) rawat inap pasien PTM komplikasi dapat mencapai selama 14 hingga 30 hari dengan rumitnya pola rujukan dan tingginya angka kekambuhan. (10) Sehingga, implikasinya pada dua dekade terakhir, beban pengeluaran untuk penyakit katastropik di Indonesia mencapai sebesar 25% dari total pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). (11) Sementara itu, pembiayaan pengobatan PTM berdasarkan data BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan mencapai 24,1 triliun di tahun 2022 dan nominal ini mengalami peningkatan sebesar 6,2 triliun dari tahun sebelumnya. (12) Oleh karenanya, PTM dan gangguan kesehatan mental dinilai telah banyak merugikan negara dengan prediksi kerugian mencapai 4,47 triliun dolar AS dari tahun 2012 hingga 2030 mendatang. (13) Sehingga, selain stunting, PTM di kalangan dewasa dan khususnya lansia juga menjadi fokus dan perhatian utama untuk ditanggulangi bersama.

Dinamika kondisi perekonomian di Indonesia masih menjadi tantangan dari waktu ke waktu. Padahal secara laju pertumbuhan penduduk serta UHH (Usia Harapan Hidup) orang Indonesia meningkat dalam 30 tahun terakhir. (14) Sebesar 10,7% penduduk Indonesia mencapai usia lebih dari 60 tahun. Dan lagi, secara demografi, Indonesia akan mendapatkan bonus 70% penduduk berusia produktif (15- 64 tahun) pada tahun 2045 mendatang. (15) Besarnya jumlah penduduk ini dinilai dapat menambahkan optimisme baru untuk memperkuat output perekonomian negara dengan meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) serta menaikkan pendapatan nasional. (16) Akan tetapi, bila keuntungan demografi tersebut tidak dipersiapkan sedari dini dan diimbangi dengan strategi guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, maka beban pengeluaran negara justru akan dapat terus bertambah untuk menanggulangi kemiskinan, derajat kesehatan yang rendah, pengangguran dan kriminalitas sebagai dampak sebaliknya. (17)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-17

Selain menjadi pribadi yang dihormati dengan nilai-nilai luhur, pandangan serta pengalaman hidupnya, lansia dapat pula menjadi role model sekaligus agen perubahan di lingkup keluarga serta masyarakat sekitarnya untuk kehidupan generasi yang lebih sehat dan produktif. Sehingga, kelompok usia ini memiliki potensi kontribusi yang besar untuk menyelamatkan masa depan sebuah bangsa. (18) Beberapa bentuk perhatian khusus pemerintah guna pencegahan PTM di antaranya dengan memfasilitasi Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) bagi lansia, termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai upaya identifikasi dini. (19) Dalam hal ini, profesi Ahli Gizi juga memiliki peran yang penting dalam memberikan pelayanan dengan aktif melakukan kegiatan promosi kesehatan untuk mendukung modifikasi gaya hidup lansia, seperti :

1. Menerapkan Pola Makan Sehat

Secara umum, anjuran pola makan di sepanjang daur kehidupan berpedoman pada prinsip gizi seimbang. (20) Berdasarkan studi, lansia yang memiliki pola makan teratur (makan utama yang diselingi dengan snack antara 2-3 jam), membatasi asupan gula (4 sendok makan/hari) dan garam (1 sendok teh/hari), memvariasikan asupan karbohidrat dari golongan kompleks dan serealia, meningkatkan asupan protein khususnya yang rendah lemak, memilih asupan lemak tidak jenuh, serta memperbanyak asupan serat dari kombinasi sayur dan buah (4-5 porsi/hari) dapat mempertahankan berat badan ideal dan terhindar dari kondisi hipertensi serta sindrom metabolik lainnya. (21)

2. Menerapkan Pola Hidup Aktif

Pola aktivitas yang rutin, seperti berolahraga dengan intensitas ringan secara berkala sesuai rekomendasi 150 menit/minggu, melakukan kegiatan berkebun serta memilih tetap aktif berkarya membantu menyehatkan jantung dan memberikan manfaat baik lainnya bagi kesehatan lansia. (22)

3. Mengelola Stres dengan Baik

Melakukan hobi yang menyenangkan, seperti memelihara hewan kesayangan dapat memberi rasa nyaman, suasana hati bahagia dan pikiran yang tenang, sehingga mendukung kesehatan mental lansia. Selain itu, memiliki perkumpulan yang seusia dengan tetap aktif berkegiatan sosial memupuk solidaritas, kepedulian dan tanggung jawab terhadap sesama yang dapat mencegah lansia dari kepikunan dan stroke. (23)

Kesehatan lansia berpengaruh pada peningkatan UHH dan pertambahan jumlah penduduk menjadi indikator penting terhadap perbaikan kesejahteraan sekaligus keberhasilan pembangunan, Lansia yang sehat membantu meringankan alokasi keuangan keluarga terhadap pembiayaan pengobatan serta pertanggungan jaminan sosial untuk penanggulangan kondisi sakit. (24) Selanjutnya, kesehatan lansia menunjang kinerja anggota keluarga yang berusia produktif. Generasi pekerja dapat tetap menghasilkan nilai tambah GDP per kapita untuk meminimalisir tekanan inflasi dan memperkuat perekonomian negara. (25) Sehingga, hal ini mendukung paradigma baru bahwa lansia yang sehat, mandiri serta produktif merupakan investasi yang penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. RI K. Lansia Sehat: Lansia Aktif, Mandiri dan Produktif [Internet]. 2016. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20160529/5815019/lansia-sehat- lansia-aktif-mandiri-dan-produktif/
  2. RI KK dan I. Layanan Kesehatan dan Kemajuan Teknologi Digital [Internet]. 2019. Available from: https://www.kominfo.go.id/content/detail/17698/layanan-kesehatan-dan-kemajuan- teknologi-digital/0/sorotan_media
  3. Kemenkes RI. Ditjen P2P Laporan Kinerja Semester I Tahun 2023. 2023;1–134.
  4. Ye KX, Sun L, Lim SL, Li J, Kennedy BK, Maier AB, et al. Adequacy of Nutrient Intake and Malnutrition Risk in Older Adults: Findings from the Diet and Healthy Aging Cohort Study. Nutrients. 2023;15(15):1–13.
  5. Syaharuddin S, Samsul TD, Firmansyah F. Diet and family support for the nutritional status of the elderly. J Ilm Kesehat Sandi Husada. 2023;12(2):452–8.
  6. Renzo L Di, Gualtieri P, Frank G, Lorenzo A De. Diseases and COVID-19. 2023;8–11.
  7. PERGEMI. Survey Kondisi Kesehatan dan Kesejahteraan Lansia di Indonesia. 2022;1–9. Available from: https://www.pergemi.id/info/5/survei-kondisi-kesehatan-dan-kesejahteraan-lansia-di- indonesia
  8. Popa-Wagner A, Dumitrascu D, Capitanescu B, Petcu E, Surugiu R, Fang WH, et al. Dietary habits, lifestyle factors and neurodegenerative diseases. Neural Regen Res. 2020;15(3):394–400.
  9. RI K. Masalah dan Tantangan Kesehatan Indonesia Saat Ini [Internet]. 2022. Available from: https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/masalah-dan-tantangan-kesehatan-indonesia- saat-ini
  10. Herlinawati F, Saptorini KK. Mechanism Readmisi Referral Pattern Degenerative Diseases With the Claim of Bpjs in in-Patient Departement Rsud Dr . H Soewondo Kendal the Year 2015. 2015;
  11. RI K. Wamenkes Dante Tekankan Pentingnya Kolaborasi Kemenkes-Universitas dalam Menurunkan Beban Penyakit Katastropik [Internet]. 2023. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20230227/4542464/press-release-untuk- dikutip-wamenkes-dante-tekankan-pentingnya-kolaborasi-kemenkes-universitas-dalam- menurunkan-beban-penyakit-katastropik/
  12. Nurtandhee M. Estimasi Biaya Pelayanan Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan Defisit Dana Jaminan Sosial untuk Penyakit Gagal Ginjal. J Jaminan Kesehat Nas. 2023;3(2):84–101.
  13. Republika. Penyakit tak Menular Indonesia Telan 4,47 Triliun Dolar AS [Internet]. 2019. Available from: https://kebijakankesehatanindonesia.net/25-berita/berita/2322-penyakit-tak-menular- indonesia-telan-4-47-triliun-dolar-as
  14. Statistik BP. Angka Harapan Hidup (SP2010) (Tahun), 2021-2023 [Internet]. 2023. Available from: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NTAxIzI=/angka-harapan-hidup-perempuan-- 2022.html
  15. Direktorat Analisis dan Pengembangan Statistik Badan Pusat Statistik. Bonus Demografi dan Visi Indonesia Emas 2045. Badan Pus Stat [Internet]. 2023;1–12. Available from: https://bigdata.bps.go.id/documents/datain/2023_01_2_Bonus_Demografi_dan_Visi_Indone sia Emas_2045.pdf
  16. Rochaida E. Dampak Pertumbuhan Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Keluarga Sejahtera Di Provinsi Kalimantan Timur. Forum Ekon. 2016;18(1):14–24.
  17. RI K. Mengoptimalkan Bonus Demografi: Kesehatan Masyarakat Sebagai Kunci Keberhasilan [Internet]. 2023. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/mengoptimalkan-bonus- demografi-kesehatan-masyarakat-sebagai-kunci-keberhasilan
  18. RRI. Menghormati Lansia Sebagai Agen Perubahan Keluarga dan Masyarakat [Internet]. 2022. Available from: https://rri.co.id/daerah/115037/menghormati-lansia-sebagai-agen- perubahan-keluarga-dan-masyarakat
  19. Kemenkes RI. Permenkes No. 67 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia Di Pusat Kesehatan Masyarakat. Kementeri Kesehat Indones. 2015;16, 89.
  20. RI K. Pedoman Gizi Seimbang. pmk No 41 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. 2014;
  21. Bunney C, Bartl R. Eating Well. A Nutrition Resource for Older People and their Carers. Nutr Serv Cent Coast Local Heal Dist. 2015;
  22. CDC. Physical Activity for Older Adults: An Overview [Internet]. 2023. Available from: https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/guidelines/older- adults.html?CDC_AAref_Val=https://www.cdc.gov/physicalactivity/basics/older_adults/inde x.htm
  23. Seangpraw K, Auttama N, Kumar R, Somrongthong R, Tonchoy P PP. Stress and associated risk factors among the elderly: a cross-sectional study from rural area of Thailand. F1000Res. 2019;2(doi: 10.12688/f1000research):655.
  24. BKKBN. Lansia Tangguh Kunci Keberhasilan Pembangunan [Internet]. 2023. Available from: https://golantang.bkkbn.go.id/lansia-tangguh-kunci-keberhasilan-pembangunan-2
  25. RI K. Kesehatan Investasi Utama Pembangunan Bangsa [Internet]. 2017. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20170608/1721304/kesehatan-investasi- utama-pembangunan-bangsa/

Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian di seluruh dunia yang merenggut hingga 17,9 juta nyawa setiap tahunnya. (1) Didominasi oleh stroke dan penyakit jantung koroner, data di dalam negri menunjukkan kematian akibat kelompok penyakit ini mencapai 651.481 penduduk per tahun. (2) Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko utama dalam penyakit ini. Merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi mencapai 30,8% dimana 22,9% dari angka tersebut berasal dari kelompok lanjut usia (lansia) atau usia 60 tahun keatas. (3)

Mengapa Lansia Rentan terkena Penyakit Jantung?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-15

Seiring bertambahnya usia, risiko penyakit jantung semakin meningkat. Hal tersebut dikarenakan terjadinya penurunan fungsi jantung dan pembuluh darah seperti penurunan detak jantung dan penyempitan lumen arteri koroner. (4), (5) Disamping itu, biasanya lansia memiliki lebih banyak komorbid atau lebih dari satu kondisi penyerta yang membuatnya lebih rentan terserang penyakit jantung dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Kondisi yang dimaksud seperti adanya hipertensi, diabetes melitus, kelebihan berat badan (obesitas), dan kadar lemak darah yang tidak normal (dislipidemia). Proses penuaan membuat tingkat oksigen reaktif lebih tinggi sehingga memicu stress oksidatif yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung. (5) Hal lain yang membuat lansia rentan terhadap penyakit jantung ialah menurunnya respon adaptasi lingkungan seperti perubahan iklim, suhu ekstrem, dan isolasi sosial. (6)

Mungkinkah Jantung Tetap Sehat di Usia Tua?

Meskipun bertambahnya usia bukan hal yang dapat kita hindari, namun masih ada hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung di masa tua. Hal terpenting adalah bagaimana menjaga tekanan darah sedekat mungkin dengan nilai normal dan memulai perubahan gaya hidup. Amannya, tekanan darah sistol <130 mmHg dan tekanan darah diastol <85 mmHg. (7) Tidak ada kata terlambat untuk memulai merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Setiap langkah kecil yang dilakukan untuk mengubah pola makan dan pola aktivitas akan berdampak positif untuk menjaga kesehatan jantung. Studi membuktikan bahwa pola hidup yang sehat tidak hanya berdampak baik pada fungsi fisik namun juga terbukti meningkatkan kualitas hidup lansia dengan menurunkan risiko penyakit jantung, menunda kejadian penyakit jantung, atau setidaknya memperlambat perkembangan penyakit jantung pada orang yang mempunyai riwayat penyakit ini tersebut. (4)

Sayangi Jantung dengan: M.A.N.I.S

Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh. Sudah seharusnya kita menyayangi jantung sebagaimana kita menyayangi diri kita. Lakukan langkah M.A.N.I.S berikut ini untuk jantung yang lebih sehat dan hidup lebih berkualitas:

1. Makanan Bergizi

Disarankan untuk menerapkan pola makan dengan gizi seimbang yaitu dengan adanya karbohidrat, protein, sayur serta buah dalam hidangan sehari – hari. Perbanyak sayuran dan buah – buahan segar, biji – bijian, serta sumber protein sehat seperti ikan dan daging tanpa lemak. Hindari makanan olahan atau processed food seperti makanan yang dikalengkan, diawetkan, dikeringkan, lemak trans, lemak jenuh, dan makanan tinggi gula. (8)

2. Aktivitas Fisik Cukup

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika merekomendasikan lansia (usia >65 tahun) untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga intensitas sedang sebanyak 150 menit dalam seminggu guna menjaga kesehatan jantung. (9) Hal tersebut dapat dilakukan dengan berjalan kaki 30 menit per hari, 5 hari dalam seminggu. Namun aktivitas seperti memotong rumput, menyapu, membersihkan rumah, atau bersepeda santai juga terbukti membawa manfaat untuk jantung dibandingkan tidak bergerak sama sekali. Penting untuk memilih jenis aktivitas fisik yang paling cocok sesuai kondisi dan kemampuan masing – masing.

FOTO ARTIKEL WEBSITE-2
3. No Rokok dan Alkohol

Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol dapat merusak jantung dengan membuat penumpukan plak pada dinding arteri dan meningkatkan tekanan darah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang merokok memiliki risiko 3-5 kali lebih besar untuk terserang stroke daripada yang tidak merokok. (4)

4. Istirahat Cukup

Tubuh yang kurang istirahat ditambah dengan tingkat stress yang tinggi akan berdampak pada kenaikan tekanan darah dan risiko serangan jantung. Ambil waktu yang cukup untuk bersantai dan beristirahat.

5. Selalu Cek Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting untuk mendeteksi lebih dini masalah kesehatan jantung. Pemeriksaan minimal yang perlu dilakukan adalah pemantauan tekanan darah. Waspadai juga gejala seperti nyeri dada, sesak, detak jantung tidak normal, dan kelelahan berlebih untuk segera dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. World Health Organization. Cardiovascular disease. WHO. Cited 2024 May 20. Available from: https://www.who.int/health-topics/cardiovascular-diseases#tab=tab_1
  2. Rokom. Cegah Penyakit Jantung dengan Menerapkan Perilaku CERDIK dan PATUH. Sehat Negriku Kemkes. 2023 [cited 2024 May 20]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230925/4943963/cegah-penyakit-jantung-dengan-menerapkan-perilaku-cerdik-dan-patuh/
  3. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: 2023.
  4. Ciumarnean, L., dkk. Cardiovascular Risk Factors and Physical Activity for the Prevention of Cardiovascular Diseases in Elderly. Journal of Environmental Research and Public Health. 2021; 19(1), 207.
  5. Melyani, dkk. Hubungan Usia dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner pada Pasien Rawat Jalan di RSUD dr. Doris Sylvanus Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Surya Medika. 2023; (9)1 :119-125.
  6. Chang, A.Y., dkk. Aging Hearts in a Hotter, More Turbulent World: The Impacts of Climate Change on the Cardiovascular Health of Older Adults. Curr Cardiol Rep. 2022; 24: 749–760.
  7. Thomas, U., dkk. International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. AHA Journal. 2020; 75(6): 1334-1357.
  8. Diab, A., dkk. A Heart-Healthy Diet for Cardiovascular Disease Prevention: Where Are We Now?. Vascular health and risk management. 2023; 19: 237–253.
  9. US Center for Disease Control and Prevention. Physical Activity on Adults: An Overview. Cited 2024 May 22. Available from: https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/guidelines/adults.html2014. Bul Penelit Kesehat. 2016;44(3):4–10.

Penyakit kardiovaskular atau biasa disebut penyakit jantung ini sangat familier di kalangan lansia. Seringkali muncul penyakit komplikasi setelah didiagnosa penyakit ini. Kebiasaan makan makanan sumber serat bisa jadi cara jitu untuk mencegah timbulnya penyakit komplikasi. Yuk, simak penjelasan selanjutnya!

Apa saja bahan makanan sumber serat?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-14

Sereal dan biji-bijian adalah makanan tinggi serat yang dapat membantu menjaga atau mengurangi berat badan dengan mengurangi nafsu makan dan asupan kalori, menurunkan absorbsi makronutrien, memperlambat laju pencernaan pati, dan menstimulasi pelepasan hormon pencernaan.(1) Rekomendasi konsumsi serat dalam sehari untuk lansia pada usia 50 – 64 tahun yaitu mulai 25 gram untuk perempuan dan 30 gram untuk laki-laki.(2)

Apa fungsi serat dalam tubuh kita?

Sebelum mengetahui tentang fungsi serat dalam tubuh, perlu diketahui juga jenis serat pangan yang ada ya. Ternyata serat pangan ini terbagi menjadi dua berdasarkan kelarutannya dalam air, yaitu serat terlarut (soluble fiber) dan serat tidak terlarut (insoluble fiber). Serat terlarut ini adalah jenis serat yang mudah larut sehingga dapat melewati usus halus dengan mudah dan mudah difermentasikan oleh mikroflora di usus besar. Contohnya pektin, gum, dan beberapa jenis hemiselulosa.(3,4) Dan serat tidak terlarut adalah jenis serat yang bersifat tidak dapat membentuk gel ketika melewati usus halus dan sangat sulit difermentasi oleh mikroflora usus besar manusia.(3,4) Ada loh penelitian tentang serat yang menyatakan bahwa ada hubungan antara asupan serat dengan kadar kolesterol total. Penelitian itu menjelaskan karena serat memiliki sifat menurunkan kolesterol darah.(3,4)

Selain menurunkan kolesterol, ada fungsi serat lainnya, yaitu:

  1. Serat pangan juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin,
  2. Merangsang efek hormonal dengan menurunkan sekresi insulin,
  3. Meningkatkan oksidasi lemak, dan
  4. Mengurangi penyimpanan lemak karena peningkatan rasa kenyang.(1)

Jadi, jika konsumsi serat ditingkatkan sambil menurunkan konsumsi kalori, hal ini bisa menjadi strategi yang tepat untuk mengurangi berat badan dan meningkatkan kontrol terhadap kadar glukosa darah, loh.(5)

Apa saja penyakit kardiovaskular?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-5

Banyaknya penyakit kardiovaskular ini menjadi hal yang menakutkan bagi semua orang. Penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung bisa disebut dengan silent killer.

  1. Hipertensi atau tekanan darah tinggi ditandai dengan peningkatan tekanan darah melebihi normal (> 120/80 mmHg). Hipertensi sering mengakibatkan keadaan yang berbahaya sampai suatu waktu terjadi komplikasi jantung, otak, ginjal, mata, pembuluh darah, atau organ vital lainnya.(6)
  2. Penyakit jantung koroner. Penyakit ini ditandai dengan adanya nyeri dada atau dada terasa tertekan pada saat berjalan yang terburu-buru, berjalan datar atau jauh, dan saat mendaki atau bekerja.(7)
  3. Stroke. Kondisi klinis secara umum dari stroke adalah muncul sakit kepala yang hebat, afasia (gangguan bahasa), hemiparesis (kelemahan otot pada salah satu sisi tubuh), dan facial palsy (kelemahan pada sebagian otot wajah).(8)
  4. Gagal jantung merupakan keadaan dimana jantung tidak lagi mampu memompa darah dalam jumlah yang memadai ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gejala awal yang dirasakan adalah sesak napas, mudah lelah, dan adanya retensi cairan.(9)

Penyakit yang disebutkan hanya sebagian dari jenis penyakit kardiovaskular. Hati-hati! Masih ada berbagai jenis penyakit jantung yang terdiagnosa pada dewasa maupun lansia. Pemeriksaan dini oleh tenaga kesehatan bisa menjadi langkah awal yang bijak untuk mengobati atau mencegah hal yang tidak diinginkan.

Bagaimana pengaruh konsumsi serat pada pasien dengan penyakit kardiovaskular?

Asupan serat berperan besar pada fungsi usus dan juga dianggap dapat menurunkan kadar kolesterol, kadar gula darah, dan mengurangi risiko obesitas.(10,11) Jenis serat larut air juga diketahui lebih efektif dalam menurunkan konsentrasi kolesterol total dibanding serat tidak larut. Kok bisa ya? Hal ini diketahui berdasarkan penelitian bahwa penurunan terjadi karena mekanisme fermentasi serat larut air oleh mikroflora usus halus. Fermentasi ini kemudian akan memodifikasi produksi asam lemak rantai pendek sehingga menurunkan kadar asetat dan meningkatkan sintesis propionat. Akibatnya, proses ini akan mengurangi sintesis endogen kolesterol dan asam lemak bebas.(1) Singkatnya, jika Anda seorang lansia atau dewasa madya, maka Anda HARUS cukup mengonsumsi serat dalam sehari. Kebiasaan ini akan menyelamatkan masa tua Anda nantinya karena serat akan menekan produksi kolesterol yang bisa menyebabkan munculnya penyakit jantung! Konsumsi buah dan sayur juga bisa dijadikan contoh bahan makanan sumber serat, loh. Kekurangan konsumsi buah dan sayur bukan hanya akan menurunkan asupan serat, tetapi juga menurunkan asupan vitamin dan mineral. Kondisi ini akan memicu terjadinya obesitas dan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker kolon, dan lainnya.(11,12) Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan. Mulailah secara bertahap untuk rutin mengonsumsi serat minimal 25 – 30 gram dalam sehari.

Ayo menjadi lansia yang cerdas dalam bertindak untuk kebahagiaan di usia senja nanti! 

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Han S, Jiao J, Zhang W, Xu J, Wan Z, Zhang W, et al. Dietary fiber prevents obesity-related liver lipotoxicity by modulating sterol-regulatory element binding protein pathway in C57BL/6J mice fed a high-fat/cholesterol diet. Sci Rep [Internet]. 2015;5(October):1–10. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/srep15256
  2. Permenkes RI. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019). Vol. 3. Jakarta; 2019. p. 1–9.
  3. Kaczmarczyk MM, Miller MJ, Freund GG. The health benefits of dietary fiber: Beyond the usual suspects of type 2 diabetes mellitus, cardiovascular disease and colon cancer. Metabolism. 2012;61(8):1058–66.
  4. Sinulingga BO. Pengaruh konsumsi serat dalam menurunkan kadar kolesterol. J Penelit Sains [Internet]. 2020;22(1):9–15. Available from: http://ejurnal.mipa.unsri.ac.id/index.php/jps/article/download/556/554
  5. Velázquez-López L, Muñoz-Torres AV, García-Peña C, López-Alarcón M, Islas-Andrade S, Escobedo-De La Peña J. Fiber in diet is associated with improvement of glycated hemoglobin and lipid profile in mexican patients with type 2 diabetes. J Diabetes Res. 2016;2016.
  6. Ihsan Kurniawan S. Hubungan Olahraga, Stress dan Pola Makan dengan Tingkat Hipertensi di Posyandu Lansia di Kelurahan Sudirejo I Kecamatan Medan Kota . J Heal Sci Physiother. 2019;1(1):10– 7.
  7. Syafrawati S, Roza SH. PENGEMBANGAN MEDIA PROMKES UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT dr. RASIDIN PADANG. Bul Ilm Nagari Membangun. 2023;6(3):160–8.
  8. Chandra A, Stone CR, Li WA, Geng X, Ding Y. The cerebral circulation and cerebrovascular disease II: Pathogenesis of cerebrovascular disease. Brain. 2017;3(2):57–65.
  9. Nurkhalis, Adista RJ. Manifestasi Klinis dan Tatalaksana Gagal Jantung. J Kedokt Nanggroe Med. 2020;3(3):104–15.
  10. Brown JF, Isaacs JS, Krinke UB, Murtaugh MA, Stang J WN. Nutrition Through the life cycle. second edi. Wadsworth T, editor. USA; 2004.
  11. Siregar MH, Rahmy HA. Kecukupan Konsumsi Buah Dan Sayur Pada Remaja Pada Masa Pandemi Covid-19 Berdasarkan Faktor Demografi. Hearty. 2022;10(2):89.
  12. Hermina H, S P. Gambaran Konsumsi Sayur dan Buah Penduduk Indonesia dalam Konteks Gizi Seimbang: Analisis Lanjut Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014. Bul Penelit Kesehat. 2016;44(3):4–10.

Menua bukanlah akhir dari kualitas hidup yang baik. Justru masa ini adalah kesempatan emas untuk menikmati hasil jerih payah selama bertahun-tahun dengan tubuh yang sehat dan bugar. Pada usia lanjut, tubuh memang menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit tidak menular, namun bukan berarti tidak dapat dicegah. Mari kita bongkar rahasia umur panjang dengan praktik-praktik kuno yang menjadi kunci utama dalam mencegah dan mengelola Penyakit Tidak Menular (PTM) pada lansia.

1. Tai Chi

FOTO ARTIKEL WEBSITE-11

Tai Chi (atau Tai Chi Chuan) merupakan latihan tradisional Tiongkok yang memadukan pola gerakan tubuh yang ritmis dan mengalir dengan pernapasan terkoordinasi serta meditasi penuh kesadaran. Sebagai latihan berdampak rendah, Tai Chi memiliki risiko cedera muskuloskeletal yang lebih rendah, sehingga sangat populer di kalangan lansia. Tai Chi dapat dipelajari semua orang tanpa memandang usia atau kemampuan atletik. Selain itu, Tai Chi dapat dipraktikkan di dalam maupun luar ruangan dan kapan saja tanpa memerlukan peralatan khusus. Menurut penelitian yang dilakukan di Kitakata Jepang partisipasi dalam latihan Tai Chi dinilai efektif dalam memperpanjang umur lansia terutama pada pria. (1) Bagi lansia, Tai Chi dapat menjadi terapi tambahan yang bermanfaat untuk meningkatkan Kesehatan jantung dan pernapasan, menurunkan tekanan darah, perbaikan profil lipid, penurunan glukosa puasa, meningkatkan keseimbangan dan kekuatan kaki, serta mengurangi risiko jatuh. (2,3) Gerakan dalam Tai Chi juga dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres. (4)

2. Yoga

Yoga adalah praktik kuno yang berasal dari India sejak 5000 tahun yang lalu dan banyak di praktikan di negara-negara lain. Yoga berfokus pada kombinasi postur tubuh, pernapasan, dan meditasi. Yoga memberi pengaruh besar pada berbagai sistem dalam tubuh kita. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah kemampuannya mengurangi aktivitas sumbu HPA (Hypothalamus Pituitary Adrenal) yang berperan saat keadaan stres. (5,6) Selain itu, yoga juga bisa membantu mengatur denyut jantung dan sumbu kardiovaskular. (7) Ada juga sumbu psiko-neuro-imun yang terlibat dalam fungsi-fungsi tubuh seperti peradangan. (8) Yoga membantu menjaga keseimbangan dalam sumbu ini, baik pada tingkat molekuler maupun genetik. Sindrom metabolik yang sering kali menjadi pemicu berbagai penyakit, seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke bisa dicegah dengan yoga. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa yoga memiliki potensi besar dalam membantu lansia hidup lebih sehat dan bugar.

3. Qi Gong

FOTO ARTIKEL WEBSITE-13

Qi Gong (dibaca sebagai “chi gung”) merupakan salah satu unsur kunci dalam warisan budaya Tiongkok. Qigong berasal dari zaman kuno Tiongkok sebagai metode perawatan diri. Menurut catatan sejarah pertama di Tiongkok, “Shang Shu,” 4.000 tahun yang lalu, orang Tiongkok kuno menemukan bahwa gerakan tubuh dan tarian dapat mengurangi rasa sakit. Sebagai cabang penting dari Pengobatan Tiongkok Tradisional (TCM), terapi Qi Gong telah dikenal selama ribuan tahun. Hingga kini, Qi Gong masih digunakan untuk mencegah penyakit dan mengobati penyakit. “Qi” melambangkan energi kehidupan yang mengalir di dalam tubuh manusia; “Gong” melambangkan latihan yang teratur. Dengan demikian, Qigong mengacu pada latihan rutin untuk memperkuat energi kehidupan internal. Seperti makna dari namanya, Qi Gong dapat meningkatkan kekebalan seluler dan respons antibodi dalam sistem kekebalan tubuh, menjaga kestabilan tekanan darah dan kadar lemak. (9)

Mengintegrasikan praktik-praktik kuno seperti Tai Chi, Yoga, atau Qi Gong ke dalam gaya hidup modern dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, terutama bagi para lansia. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk memulai dan memaksimalkan manfaat dari latihan-latihan ini:

  1. Jadwalkan Waktu Khusus untuk Latihan Tetapkan jadwal latihan Tai Chi, Yoga, atau Qi Gong untuk para lansia 2-4 kali seminggu. Bagi lansia pemula mulailah dengan sesi singkat selama 5- 10 menit sehari. Pendekatan ini memungkinkan latihan menjadi rutinitas harian tanpa membuat lansia merasa terbebani, sehingga lebih mudah dilakukan secara konsisten. Sebaiknya juga mempertimbangkan untuk memulai dengan gerakan-gerakan mudah terlebih dahulu. Jangan berharap dapat melakukan semua gerakan dengan sempurna segera. Latihan rutin dapat membantu mengembangkan fleksibilitas dan kelincahan yang diperlukan untuk menguasai gerakan-gerakan tersebut.
  2. Manfaatkan Teknologi untuk Panduan Latihan
    Gunakan teknologi yang ada untuk mendapatkan panduan yang tepat dalam mempelajari gerakan-gerakan tersebut. Video tutorial gratis, kelas online, komunitas online, atau aplikasi yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja adalah sumber yang sangat berguna. Dengan teknologi ini, lansia dapat belajar dan berlatih dengan panduan yang tepat, membuat praktik menjadi lebih praktis dan fleksibel.
  3. Pola Makan yang Sehat
    Menjaga pola makan yang sehat sama pentingnya dengan berlatih. Pola makan dan latihan adalah lingkaran umpan balik yang saling mendukung. Latihan tanpa menjaga pola makan ibarat menanam benih di tanah yang tandus—hasilnya tidak akan maksimal. Pastikan untuk mengonsumsi makanan bergizi yang dapat mendukung kesehatan dan kebugaran.

Pendekatan holistik ini tidak hanya meningkatkan manfaat kesehatan secara keseluruhan tetapi juga membantu mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik untuk para lansia.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Moriyama N, Kuga T, Oshima T, Sato K, Kurita M, Yasumura S. Association between Tai Chi Yuttari Exercise and Longevity and Prevention of Long-Term Care Need: Survival Analysis in Kitakata City, Japan. Int J Environ Res Public Health. 2023 Feb 16;20(4):3472. doi: 10.3390/ijerph20043472. PMID: 36834168; PMCID: PMC9961723.
  2. Yeh GY, Wang C, Wayne PM, et al. Tai Chi exercise for patients with cardiovascular conditions and risk factors: a systematic review. J Cardiopulm Rehabil Prev. 2009;29(3):152- 60.
  3. Center For Health Protection Non-Communicable Diseases Watch. Vol 5 No 4 April 2012.
  4. Kurdi F, Abidin Z, Priyanti RP, Kholis AH. Management of Diabetes Mellitus Type 2 for Elderly: Taichi Exercise to Reduce Blood Sugar Levels. NHSJ. 2021;1(2):112-7. Available from: https://nhs-journal.com/index.php/nhs/article/view/51
  5. Aggarwal A. Hypothalamo-pituitary-adrenal axis and brain during stress, yoga and meditation. IJHCR. 2020;3(9):96-103.
  6. Nadholta P, Kumar S, Anand A. Yoga for Control of Progression in the Early Stage of NCDs. Ann Neurosci. 2023 Apr;30(2):79-83. doi: 10.1177/09727531231161995. Epub 2023 Apr 13. PMID: 37706099; PMCID: PMC10496796.
  7. Mohan M, Saravanane C, Surange SG, et al. Effect of yoga type breathing on heart rate and cardiac axis of normal subjects.
  8. Gautam S, Kumar M, Kumar U, et al. Effect of an 8-week yoga-based lifestyle intervention on psycho-neuro-immune axis, disease activity, and perceived quality of life in rheumatoid arthritis patients: A randomized controlled trial. Front Psychol. 2020;11:2259.
  9. Hartley L, Lee M, Kwong JSW, Flowers N, Todkill D, Ernst E, Rees K. Qigong for the primary prevention of cardiovascular disease. Cochrane Database Syst Rev. 2015;(6):CD010390. DOI:
  10. 1002/14651858.CD010390.pub2.

Dunia kini mengalami transisi demografi menuju struktur penduduk tua (aging population) yang mana peningkatan umur harapan hidup diikuti dengan peningkatan jumlah lansia. Indonesia termasuk negara yang mengalami fenomena tersebut karena dalam tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Jumlah penduduk lansia pada tahun 2022 sebanyak 28 juta, tahun 2023 sebanyak 30 juta, dan tahun 2024 sebanyak 32 juta. (1,2) Hal ini perlu mendapat perhatian karena penuaan pada lansia mengakibatkan penurunan fungsi biologis tubuh, sehingga berpotensi tinggi untuk mengalami masalah kesehatan.

Apa itu Penyakit Tidak Menular?

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyakit atau kondisi medis yang tidak dapat ditularkan dari satu individu ke individu lainnya. Usia menjadi salah satu faktor risiko PTM yang tidak dapat dikendalikan. PTM diketahui memiliki persentase sebesar 74% sebagai penyebab kematian di dunia yang setara dengan 41 juta orang meninggal setiap tahunnya. Adapun yang utama yaitu penyakit kardiovaskular (17,9 juta), penyakit kanker (9,3 juta), penyakit pernapasan kronis (4,1 juta), dan diabetes (2,0 juta termasuk kematian akibat penyakit ginjal yang disebabkan oleh diabetes). (3)

Tren Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Lansia

Ringkasnya, ada beberapa tren PTM yang telah dikelompokkan berdasarkan usia pra lansia (45 – 59 tahun) dan lansia (≥60 tahun) sebagai berikut:

Pada grafik di atas, ada tujuh PTM yang sering dialami oleh kelompok pra-lansia dan lansia. Penyakit yang diketahui banyak dialami pada kelompok pra-lansia yaitu obesitas (kegemukan), sedangkan pada kelompok lansia yaitu hipertensi. (4) Mari kita bahas satu persatu!

1. Obesitas

Obesitas atau kegemukan merupakan kondisi tubuh yang tidak seimbang antara asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) sehingga terjadi penumpukan lemak berlebihan. Indikatornya indeks massa tubuh (IMT), yaitu indeks sederhana untuk menentukan status gizi tubuh yang perhitungannya dari berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2 ). Selain itu, ukuran lingkar perut/lingkar pinggang dalam sentimeter juga dapat digunakan untuk menentukan status gizi tubuh. Berikut klasifikasi dari masing-masing indikator:

Sebenarnya lansia yang obesitas banyak terjadi pada masa pra lansia dan menurun saat memasuki usia 70 tahun. Pada usia 50 – 65 tahun terjadi peningkatan lemak tubuh secara progresif karena lemak didistribusikan kembali secara terpusat dari anggota tubuh ke batang tubuh. Kemudian pada usia 65 tahun ke atas terjadi perubahan hormonal seperti penurunan sekresi hormon pertumbuhan, penurunan respon terhadap hormon tiroid, penurunan testosteron, dan resisenti leptin yang berkaitan dengan penumpukan lemak tubuh. (5) Faktor risiko obesitas lansia diantaranya:

  1. Mengkonsumsi kopi atau teh dengan gula secara berlebihan.
  2. Mengkonsumsi makanan asin secara berlebihan.
  3. Mengkonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan.
  4. Menggunaan minyak goreng berulang.
  5. Kurang aktivitas fisik. (6)
2. Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah dengan sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg. Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia karena adanya perubahan fisiologis sistem peredaran darah. Pada lansia, pembuluh darah mengalami penurunan elastisitas dan kemampuan memompa jantung harus lebih keras sehingga terjadi hipertensi. Lansia dengan hipertensi yang tidak terkontrol dapat berisiko komplikasi seperti gagal jantung, gagal ginjal, dan stroke. Berikut faktor risiko hipertensi lansia:

  1. Konsumsi garam secara berlebihan.
  2. Konsumsi makanan asin secara berlebihan.
  3. Mengkonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan.
  4. Kebiasaan merokok dan/atau sering terpapar asap rokok.
  5. Kurang aktivitas fisik.
  6. Riwayat keluarga penderita hipertensi. (7,8)
3. Penyakit Sendi
FOTO ARTIKEL WEBSITE-4

Penyakit sendi terjadi karena penurunan sistem muskuloskeletal sebagai dampak dari proses penuaan. Tulang lansia mengalami pengurangan zat kapur dan sendi mengalami penurunan kartilago. Bagian tubuh yang sering diserang seperti persendian jari-jari, tulang belakang, serta sendi-sendi yang menopang berat tubuh seperti lutut dan panggul. Penyakit sendi ditandai dengan adanya nyeri, kekakuan, kemerahan, dan pembengkakan yang bukan disebabkan oleh benturan atau kecelakaan. Adapun jenis penyakit sendi meliputi osteoarthritis, hiperurisemia (nyeri akibat tingginya kadar asam urat), dan rematoid arthritis. (9,10)

4. Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah gangguan metabolisme tubuh yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah atau lebih dari 200 mg/dl. Lansia sangat berisiko terhadap penyakit DM karena proses menua mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi pankreas dalam memproduksi insulin. Penyakit DM umumnya banyak ditemukan pada lansia obesitas karena ada penumpukan lemak dalam perut yang mengakibatkan insulin tidak bekerja secara baik dan penumpukan darah, sehingga kadar glukosa pun meningkat. Lansia yang kurang aktivitas fisik juga berisiko terhadap DM karena tubuhnya mengalami pengurangan insulin dan peredaran darah tidak lancar. (11,12)

5. Penyakit Jantung

Peningkatan usia meningkatkan kerentanan ateriosklerosis koroner yang berhubungan dengan kerentanan terhadap penyakit jantung. Kondisi ini sama halnya dengan penyakit hipertensi yang penyebabnya karena terjadi penebalan pada dinding aorta, peningkatan pembuluh darah besar, dan penurunan elastisitas pembuluh darah. (13) Sebuah penelitian tentang penyakit infark miokard akut (serangan jantung) menyebutkan beberapa faktor risikonya diantaranya:

  1. Zat toksik rokok (nikotin) diketahui dapat membuat darah kental yang memicu pembekuan darah, mengurangi kadar HDL, mengoksidasi LDL, dan merusak endotel,
  2. Hipertensi diketahui membuat jantung memompa darah lebih keras sehingga bisa menyebakan hipertrofi jantung.
  3. Tingginya kadar glukosa darah diketahui dapat mengoksidasi LDL yang bisa merusak endotel pada pembuluh darah dan membentuk plak aterosklerosis, hingga akhirnya terjadi reaksi penggumpalan darah (trombosis). (14)
6. Stroke

Stroke merupakan penyakit kardiovaskular dengan gangguan fungsi otak yang berhubungan dengan penyakit pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak. Penyakit ini menyerang atau terjadi secara tiba-tiba. Sebagian besar gejalanya berupa kelumpuhan sebagian badan dan/atau penurunan kesadaran. (15) Penyakit stroke serupa dengan hipertensi dan penyakit jantung. Proses penuaan mengakibatkan pembuluh darah mengalami penurunan elastisitas, terutama bagian endotel akan mengalami penebalan pada bagian intima, sehingga lumen pembuluh darah semakin menyempit dan berdampak pada penurunan aliran darah otak. (16)

7. Gagal Ginjal Kronis

Pasien lansia yang menderita penyakit ginjal kronis umumnya memiliki kualitas hidup yang buruk. Hal ini disebabkan pengobatan dan manajemen gagal ginjal kronis lansia melibatkan berbagai aspek, termasuk diet khusus, penggunaan obat-obatan, sesi cuci darah, dan tindakan medis lainnya. Pasien juga dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan, misalnya mengalami depresi, kecemasan, perasaan terisolasi, dan perubahan citra diri akibat perubahan fisik dan keterbatasan yang dialami. Adapun berbagai masalah klinis yang dialami diantaranya:

  1. Kulit terasa gatal.
  2. Adanya darah atau protein dalam urin.
  3. Mengalami kram otot.
  4. Kehilangan nafsu makan.
  5. Penumpukan cairan yang mengakibatkan pembengkakan pada pergelangan kaki dan tangan.
  6. Nyeri pada dada akibat penumpukan cairan di sekitar jantung.
  7. Sesak napas.
  8. Mengalami gangguan tidur.
  9. Terjadi disfungsi ereksi pada pria. (17)

Itulah penjelasan sekilas dari beberapa PTM yang banyak terjadi pada kalangan lansia. Penting untuk diketahui bahwa PTM bagaikan fenomena gunung es dimana hanya sebagian kecil masyarakat yang menyadari bahwa dirinya mempunyai faktor risiko dan menjadi sillent killer yang bisa sewaktu-waktu terjadi. Oleh sebab itu, mari jaga kesehatan sedini mungkin!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik Indonesia. Statistik Indonesia 2022. Jakarta; 2022.
  2. Badan Pusat Statistik Indonesia. Statistik Indonesia 2024. Jakarta; 2024.
  3. World Health Organzation. Noncommunicable Diseases. 16 September 2023. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
  4. Pusat Daya dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI. Infodatin Lansia Berdaya, Bangsa Sejahtera. 2022. Jakarta: 2022.
  5. Bramana, I Gusti Bagus Ngurah Galang dkk. Analisa Indeks Massa Tubuh dan Fleksibilitas Otot Hamstring di Sesetan: Studi Observasional. Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia. 2024;13(1):87– 94.
  6. Kristina dan Rahayu Dewi Soeyono. Hubungan Konsumsi Gula Garam Lemak (GGL) dan Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah Pra Lansia di Desa Simorejo Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Jurnal Gizi Universitas Negeri Surabaya. 2024.04(1):538–545.
  7. Annisa, Nadiya Sahara dkk. Dukungan Keluarga terhadap Manajemen Hipertensi pada Lansia di Indonesia. Journal of Telenursing. 2024.06(1):657–665.
  8. Indriani dkk. Hubungan Konsumsi Garam, Merokok dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja Puseksmas Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Journal of Public Health Science. 2024.01(1):41–51.
  9. Muna, Naila Dhiya’ul dan Elis Hartati. Hubungan Tingkat Nyeri Sendi dengan Aktivitas Fisik pada Lansia Gangguan Sendi. Journal of Telenursing. 2024.06(1): 200–207.
  10. Mentari, Delia dkk. Implementasi Manajemen Nyeri Menggunakan Stretching Exercise pada Asuhan Keperawatan Keluarga Lansia dan Pensiunan dengan Masalah Nyeri Sendi. Malahayati Health Student Journal. 2024.04(5):1903–1914.
  11. Susilawati, Endang Fauziyah dkk. Pemberdayaan Keluarga dalam Penatalaksanaan dan Pencegahan Kegawatan Diabetes Melitus pada Lansia melalui Edukasi dan Senam Kaki Diabetes di Desa Plakpak Pamekasan. Jurnal Pengabdian Masyarakat. 2024.03(1): 45–56.
  12. Wulansari, Eka dkk. Perilaku Hidup Sehat Menuju Lansia Bebas Diabetes Melitus. Initium Community Journal. 2024. Available from: https://journal.medinerz.org
  13. Wiryansyah, Oscar Ari dkk. Edukasi Pencegahan dan Penanganan Kegawatdaruratan Penyakit Jantung pada Lansia Bina Sejahtera Palembang. Community Development Journal. 2023.04(6):13669–13673.
  14. Suhestin, Cristy Wanti dkk. Faktor Risiko Kejadian Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2022. Jurnal Pendidikan Tambusai. 2024.08(2): 17361–17370.
  15. Istanti, Maulida Nur dkk. Upaya Pencegahan Stroke pada Lansia melalui Penyuluhan Kesehatan dan Seanm Anti Stroke di Posyandu Lansia Dahlia Godangrejo Karanganyar. Empowerment Journal. 2024.4(1): 8–16.
  16. Nadhifah, Tiara Amoria dan Umi Sjarqiah. Gambaran Pasien Stroke pada Lansia di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura Tahun 2019. Muhammadiyah Journal of Geriatric. 2022.03(1)23– 30.
  17. Aditama, Nogi Zulfikaredi dkk. Faktor-Faktor yang Berhubungan denga Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis, Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2024.06(1): 109–120.