08 Feb Ketika Usus Kehilangan Keseimbangan: Peran Probiotik dalam Menata Ulang Mikrobiota pada Irritable Bowel Syndrome
Pernahkah Anda mengalami nyeri perut berulang, perut terasa penuh atau kembung, disertai diare atau justru sulit buang air besar, tetapi hasil pemeriksaan medis menunjukkan semuanya “normal”? Kondisi ini sering dialami oleh penderita Irritable Bowel Syndrome (IBS), suatu gangguan fungsional saluran cerna yang sangat umum namun kerap disalahpahami. IBS bukanlah penyakit yang merusak organ, melainkan gangguan cara kerja usus yang dapat berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya [1,5].
Mengenal Irritable Bowel Syndrome
Irritable Bowel Syndrome merupakan gangguan kronis saluran cerna yang ditandai oleh nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berhubungan dengan perubahan
pola buang air besar. Berdasarkan gejala dominan, IBS diklasifikasikan menjadi IBS
dengan konstipasi, IBS dengan diare, IBS tipe campuran, serta IBS yang tidak dapat
diklasifikasikan secara spesifik [5,8]. Meskipun tidak mengancam jiwa, IBS sering
mengganggu aktivitas sehari-hari, produktivitas kerja, dan kesehatan mental
penderitanya.
Hingga saat ini, penyebab IBS belum dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. IBS
dipahami sebagai kondisi multifaktorial yang melibatkan gangguan motilitas
gastrointestinal, hipersensitivitas viseral, serta gangguan komunikasi dua arah antara otak dan usus yang dikenal sebagai gut–brain axis [1,5]. Dalam beberapa tahun terakhir, peran mikrobiota usus semakin mendapat perhatian sebagai faktor penting dalam patofisiologi IBS [1,8].
Mikrobiota Usus: Ekosistem Tak Terlihat yang Vital
Usus manusia merupakan rumah bagi lebih dari 10¹⁴ mikroorganisme yang secara
kolektif disebut mikrobiota usus [1,12]. Pada individu sehat, mikrobiota ini berada
dalam keseimbangan dan berperan dalam pencernaan, produksi vitamin,
perlindungan terhadap patogen, serta regulasi sistem imun.
Pada penderita IBS, keseimbangan ini sering terganggu dan dikenal sebagai
disbiosis, yang ditandai oleh penurunan keragaman mikrobiota, berkurangnya
bakteri menguntungkan penghasil asam lemak rantai pendek seperti butirat, serta peningkatan bakteri tertentu yang dapat memicu gas, inflamasi, dan gangguan
motilitas usus [6,8,12]. Perbedaan komposisi mikrobiota juga ditemukan antar
subtipe IBS, misalnya peningkatan bakteri penghasil metana pada IBS dengan
konstipasi [1,4]. Disbiosis ini tidak hanya memengaruhi fungsi usus, tetapi juga
berkaitan dengan gangguan suasana hati, menjelaskan tingginya prevalensi
kecemasan dan depresi pada pasien IBS [5,8].
Diet, Usus, dan Gejala IBS
Bagi banyak penderita IBS, makanan menjadi pemicu utama gejala. Produk susu, gandum, bawang, kubis, kacang-kacangan, makanan pedas, serta makanan berlemak sering dilaporkan memperburuk keluhan [3,6]. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa asupan energi dan makronutrien pasien IBS secara umum tidak jauh berbeda dibandingkan populasi sehat. Namun, kualitas diet sering kali lebih rendah, dengan defisiensi beberapa mikronutrien penting seperti kalsium, magnesium, riboflavin, dan vitamin A [11].
Salah satu pendekatan diet yang paling banyak digunakan adalah diet rendah
FODMAP, yang membatasi konsumsi karbohidrat fermentabel yang sulit diserap
[2,7]. Diet ini terbukti dapat mengurangi gejala IBS dan meningkatkan kualitas hidup
pada sebagian pasien, meskipun hanya sekitar 50–70% yang menunjukkan respons
klinis yang bermakna [2,7,10]. Selain itu, penerapan jangka panjang diet rendah
FODMAP dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus secara negatif, termasuk
penurunan bakteri menguntungkan seperti Bifidobacterium [3,12]. Respons terhadap
diet ini juga bersifat individual dan dipengaruhi oleh subtipe mikrobiota pasien [4].
Konsumsi alkohol dan makanan pedas turut memodulasi gejala IBS. Konsumsi
alkohol berlebihan dapat mengganggu motilitas usus dan meningkatkan inflamasi,
sedangkan efek konsumsi ringan hingga sedang sangat bervariasi antar individu [3]. Makanan pedas yang mengandung capsaicin dapat memicu nyeri perut pada
sebagian pasien, meskipun konsumsi jangka panjang dilaporkan dapat menurunkan
sensitivitas usus melalui mekanisme desensitisasi reseptor TRPV1 [3].
Peran Hormon Usus dalam IBS
Selain mikrobiota, fungsi saluran cerna juga diatur oleh hormon-hormon yang
dilepaskan oleh sel enteroendokrin. Sel-sel ini bertindak sebagai sensor nutrien dan merespons komposisi makanan dengan melepaskan hormon yang mengatur
motilitas, sekresi, absorpsi, dan sensasi viseral [3]. Pada pasien IBS, ditemukan
penurunan densitas sel enteroendokrin dan ketidakseimbangan hormon usus, yang
berkontribusi terhadap gangguan pergerakan usus dan hipersensitivitas viseral [3].
Menariknya, perubahan pola makan dan intervensi yang memodulasi mikrobiota,
seperti diet rendah FODMAP, dilaporkan dapat memperbaiki kepadatan sel
enteroendokrin dan disertai perbaikan gejala serta kualitas hidup pasien IBS [3]. Hal ini menunjukkan hubungan erat antara diet, mikrobiota, dan sistem hormonal usus.
Probiotik: Harapan Baru untuk Menata Ulang Usus
Di tengah kompleksitas IBS, probiotik muncul sebagai pendekatan terapeutik yang
menjanjikan. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, bila dikonsumsi dalam jumlah adekuat, memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya [12]. Berbagai
penelitian dan meta-analisis menunjukkan bahwa probiotik, terutama dari genus
Lactobacillus dan Bifidobacterium, dapat membantu mengurangi gejala IBS seperti
nyeri perut, kembung, dan gangguan buang air besar [1,10,12].
Mekanisme kerja probiotik meliputi modulasi komposisi mikrobiota usus,
peningkatan bakteri menguntungkan, produksi metabolit seperti asam lemak rantai pendek dan asam laktat, serta penghambatan pertumbuhan bakteri patogen [1,5]. Probiotik juga dapat memperkuat integritas epitel usus, menurunkan inflamasi, dan memengaruhi gut–brain axis melalui modulasi neurotransmiter seperti serotonin dan GABA, sehingga berpotensi memperbaiki gejala fisik sekaligus psikologis IBS [5,8].
Tidak Semua Probiotik Sama
Efektivitas probiotik sangat bergantung pada strain, dosis, durasi penggunaan, serta karakteristik individu. Beberapa strain yang dilaporkan bermanfaat pada IBS antara lain Lactobacillus acidophilus, L. plantarum, L. rhamnosus, Bifidobacterium longum, B. breve, dan B. lactis [10,12]. Namun, tidak ada satu jenis probiotik yang cocok untuk semua penderita IBS, sehingga pendekatan yang lebih personal sangat diperlukan [5].
Menata Ulang Keseimbangan Usus
IBS merupakan contoh nyata bagaimana gangguan keseimbangan mikrobiota, diet, dan regulasi neuroendokrin dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Probiotik menawarkan pendekatan yang relatif aman dan berbasis biologi untuk membantu menata ulang keseimbangan tersebut. Namun, probiotik bukanlah “obat ajaib”. Penanganan IBS yang optimal tetap bersifat individual dan komprehensif, mencakup pengaturan diet, manajemen stres, aktivitas fisik, serta terapi medis bila diperlukan [5,8,12]. Dengan pemahaman yang semakin baik mengenai mikrobiota usus dan respons individual terhadap terapi, diharapkan kualitas hidup penderita IBS dapat terus ditingkatkan.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Distrutti E, Monaldi L, Ricci P, Fiorucci S. Gut microbiota role in irritable bowel syndrome: New therapeutic strategies. World J Gastroenterol 2016;22:2219–41. https://doi.org/10.3748/wjg.v22.i7.2219.
- Zhang H, Su Q. Low-FODMAP Diet for Irritable Bowel Syndrome: Insights from Microbiome. Nutrients 2025;17. https://doi.org/10.3390/nu17030544.
- El-Salhy M, Hatlebakk JG, Hausken T. Diet in irritable bowel syndrome (IBS): Interaction with gut microbiota and gut hormones. Nutrients 2019;11. https://doi.org/10.3390/nu11081824.
- Vervier K, Moss S, Kumar N, Adoum A, Barne M, Browne H, et al. Two microbiota subtypes identified in irritable bowel syndrome with distinct responses to the low FODMAP diet. Gut 2022;71:1821–30. https://doi.org/10.1136/gutjnl-2021-325177.
- Ghaffari P, Shoaie S, Nielsen LK. Irritable bowel syndrome and microbiome; Switching from conventional diagnosis and therapies to personalized interventions. J Transl Med 2022;20. https://doi.org/10.1186/s12967-022-03365-z.
- Barandouzi ZA, Lee J, Maas K, Starkweather AR, Cong XS. Altered gut microbiota in irritable bowel syndrome and its association with food components. J Pers Med 2021;11:1–19. https://doi.org/10.3390/jpm11010035.
- Alrasheedi AA, Jahlan EA, Bakarman MA. The effect of low-FODMAP diet on patients with irritable bowel syndrome. Sci Rep 2025;15. https://doi.org/10.1038/s41598-025-01163-3.
- Cheng X, Ren C, Mei X, Jiang Y, Zhou Y. Gut microbiota and irritable bowel syndrome: status and prospect. Front Med (Lausanne) 2024;11. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1429133.
- Schmidt SK. Interactive and sculptural printmaking in the renaissance. Brill’s Studies in Intellectual History 2018;270/21:1–467. https://doi.org/10.6084/m9.figshare.
- Xie CR, Tang B, Shi YZ, Peng WY, Ye K, Tao QF, et al. Low FODMAP Diet and Probiotics in Irritable Bowel Syndrome: A Systematic Review With Network Meta-analysis. Front Pharmacol 2022;13. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.853011.
- Bek S, Teo YN, Tan XH, Fan KHR, Siah KTH. Association between irritable bowel syndrome and micronutrients: A systematic review. Journal of Gastroenterology and Hepatology (Australia) 2022;37:1485–97. https://doi.org/10.1111/jgh.15891.
- Staudacher HM, Whelan K. Altered gastrointestinal microbiota in irritable bowel syndrome and its modification by diet: Probiotics, prebiotics and the low FODMAP diet. Proceedings of the Nutrition Society, vol. 75, Cambridge University Press; 2016, p. 306–18. https://doi.org/10.1017/S0029665116000021.
No Comments