Penyakit degeneratif adalah suatu kondisi dimana timbul akibat adanya penurunan fungsi sel tubuh. Awalnya penyakit ini menyerang kalangan usia lanjut tetapi dari tahun ke tahun ditemukan pada kalangan usia muda. Penyebab utamanya berupa stres oksidatif. Stres oksidatif ini terjadi apabila jumlah radikal bebas yang menjadi pemicu kerusakan sel lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk menetralkan hal tersebut. Lalu, bagaimana cara untuk mencegah kerusakan sel dan bagaimana cara generasi penerus bangsa dapat mencapai masa depan hebat dengan kondisi kesehatan yang prima? Apakah antioksidan, serat dan whole food dapat mencegah kerusakan sel?
Antioksidan adalah senyawa yang berperan menjaga tubuh dari serangan radikal bebas yang menyebabkan terjadinya kerusakan sel dalam tubuh dan menjadi pemicu penyakit degeneratif. Antioksidan bekerja dengan cara menangkap radikal bebas sehingga dapat menghambat reaksi oksidatif dalam tubuh. (1) Senyawa antioksidan mampu berperan sebagai akseptor radikal bebas sehingga bisa menghambat pembentukan radikal. (2) Tubuh secara alami memang menghasilkan antioksidan tetapi apabila gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan menuntut untuk mendapatkan asupan tambahan dari makanan.
Salah satu kunci melindungi diri dari penyakit degeneratif adalah dengan kecukupan asupan serat. Serat memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengontrol kadar glukosa darah, menurunkan kadar kolesterol dan memperbaiki fungsi pencernaan. Asupan serat yang tercukupi dapat berkontribusi terhadap status gizi yang optimal. (3) Contoh halnya dalam
menurunkan kadar glukosa darah dengan memperlambat proses pencernaan makanan dalam tubuh, apabila dalam proses pengosongan lambung berjalan lambat dan pencernaan juga lambat maka akan menciptakan rasa kenyang yang lebih lama dan membuat asupan makan menjadi menurun sehingga akan terjadi penurunan penyerapan glukosa dan akan membuat kadar glukosa darah lebih rendah. (4)
Kebutuhan serat harian menurut WHO sekitar 25-30 gram per hari untuk orang dewasa. (5) Menurut AKG 2019, kebutuhan serat untuk orang dewasa dengan jenis kelamin laki-laki sekitar 30-38 gram dan untuk perempuan sekitar 25 gram. (6) Contoh asupan serat seperti dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan. Rata-rata asupan serat masyarakat Indonesia masih dibawah anjuran per harinya. Generasi muda di zaman sekarang masih banyak mengonsumsi makanan yang minim serat.
Whole food adalah bentuk alami dari suatu makanan atau makanan tersebut minim diproses. Untuk menciptakan generasi muda yang sehat dan memiliki masa depan yang hebat harus bisa mengganti makanan olahan dengan whole food, contoh makanannya seperti apabila sebelumnya sering mengonsumsi sereal manis maka diganti dengan oatmeal utuh dengan irisan buah dan juga tetap menerapkan prinsip isi piringku dengan setengah dari isi piring tersebut diisi oleh buah dan sayur whole food dan setengah piring dari isi piringnya lagi diisi dengan protein tanpa lemak dan karbohidrat kompleks. Berikut contoh menu harian dengan komponen whole food :
Menjadi generasi sehat yang memiliki masa depan yang hebat harus sadar akan makanan yang akan dimakan karena makanan tersebut akan menjadi investasi kesehatan jangka panjang. Penyakit degeneratif itu tidak datang tiba-tiba, penyakit tersebut itu hasil dari kerusakan sel selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, untuk mencegah kerusakan sel dan menimbulkan penyakit degeneratif maka kita sebagai generasi yang produktif harus memperkaya dalam satu piring tersebut dengan makanan yang mengandung antioksidan, serat dan whole food dengan tujuan memperpanjang lifespan dan memperluas healthspan yang bebas dari penyakit. Ingat, keputusan dalam memilih makanan hari ini adalah resep panjang umur di masa depan.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Sebuah generasi berangkat dari kumpulan individu yang hidup dalam kurun waktu yang sama. Di mana dalam rentan waktu tersebut mereka mengalami keadaan sosial, budaya dan teknologi yang sama yang membentuk pribadi dan karakteristik tertentu. Singkatnya, generasi adalah pembeda kelompok umur berdasarkan tahun lahir. Seperti yang sering kita dengar anak-anak yang lahir pada tahun 1946-1964 disebut baby boomers, tahun 1965-1980 disebut generasi X, tahun 1981-1996 disebut generasi Y (milenial), tahun 1997-2012 disebut generasi Z, tahun 2013-2024 disebut generasi alpha, dst. (1)
Membicarakan generasi, kita tidak akan terlepas dari sosok perempuan dan laki-laki. Peran perempuan dan laki-laki usia produktif sangat penting untuk menciptakan generasi baru. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Agar terlahir generasi-generasi sehat selanjutnya. Sebagai perempuan, siapa sih yang gak mau punya badan ideal dan sehat? Sekaligus
dapat bonus mempersiapkan diri di masa prakonsepsi! Dear my fellow ladies, ada tiga hal yang bisa kita perhatikan, yuk kita bahas satu per satu!
Status gizi ibu sebelum hamil sangat menentukan status gizi janin. Karena saat kehamilan, status gizi ibu meningkat 15% dari sebelum hamil.(2) Maka dari itu saat masa prakonsepsi calon ibu memiliki status gizi yang baik. Parameter untuk menentukan status gizi baik yaitu skor Indeks Massa Tubuh (IMT) 18,5 – 24,9 Kg/m2.(3) Ibu yang memiliki status gizi kurang, berisiko mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) saat hamil. (4)
Hal ini tidak boleh luput dalam menyiapkan diri menuju masa konsepsi. Karena kesehatan mental masa prakonsepsi sangat mempengaruhi mental saat kehamilan nanti. Hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental diantaranya yaitu:
Pasti banyak dari kalian sudah sering mendegar contoh gaya hidup sehat. Memang terdengar mudah, tapi apakah kita bisa konsisten menerapkannya? Tentu semua orang bisa melakukannya jika memiliki tekad dan keinginan yang kuat. Yuk kita ulas di sini apa saja gaya hidup sehat itu?
Nah itu dia 3 hal yang bisa kamu siapkan dari sekarang untuk dirimu saat ini juga di masa yang akan datang. Jika kita lihat lagi, semua kebiasaan-kebiasaan di atas saling berhubungan menciptakan jiwa yang sehat raga dan batinnya. Ingat, tidak ada kata terlambat menuju perubahan yang lebih baik. Kalau tidak mulai dari sekarang, mau kapan lagi?
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kalau dengar kata masa depan hebat, yang kebayang pasti kesuksesan, gelar tinggi, dan kehidupan yang mapan. Tapi pernah nggak sih kepikiran, semua itu nggak akan tercapai tanpa tubuh yang sehat? Dan kuncinya ternyata ada di satu hal sederhana yaitu gizi yang tepat.
Ya, masa depan yang gemilang bukan cuma hasil kerja keras, tapi juga hasil dari pola makan dan asupan gizi yang dijaga sejak dini. Karena bagaimana kita makan hari ini, menentukan seberapa jauh kita bisa melangkah besok.
Gizi bukan sekadar soal makan tiga kali sehari, tetapi tentang bagaimana tubuh mendapatkan
zat-zat penting yang dibutuhkan untuk tumbuh, berkembang, dan berfungsi dengan optimal. Sejak dalam kandungan, gizi berperan besar dalam membentuk kualitas kehidupan seseorang. Kekurangan gizi pada masa kehamilan dapat berdampak pada pertumbuhan janin, perkembangan otak, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan.
Pada masa anak-anak juga menjadi periode golden age atau masa emas adalah fase penting dalam kehidupan anak yang berlangsung sejak 0–5 tahun. Di masa inilah pertumbuhan dan perkembangan tubuh, terutama otak, terjadi dengan sangat cepat bahkan lebih cepat dibandingkan periode usia lainnya. Pada masa golden age, 80% perkembangan otak sudah terbentuk. Artinya, kemampuan anak untuk belajar, berbicara, mengingat, bergerak, hingga
membangun emosi dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dapatkan pada periode ini: mulai dari nutrisi, stimulasi, pola asuh, hingga lingkungan. Kekurangan gizi, minimnya stimulasi, atau pola asuh yang kurang tepat bisa menghambat perkembangan anak. Itulah
kenapa masa 0–5 tahun dianggap sebagai jendela kesempatan terbesar untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak (1) (2).
Gizi buruk tidak hanya menyebabkan tubuh kurus dan lemah, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif dan prestasi belajar anak. Anak dengan gizi kurang cenderung sulit fokus, mudah sakit, dan memiliki semangat belajar rendah (3).
Dampak pada masa depan anak yaitu gizi yang buruk tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir, kesehatan mental, dan produktivitas di masa depan.
Banyak orang mengira kekurangan gizi terjadi karena anak kurang makan atau makan dalam jumlah sedikit, padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Anak bisa saja makan dalam porsi besar bahkan sering tetapi kalau yang dikonsumsi lebih banyak junk food atau fast food yang
tinggi kalori tapi miskin nutrisi, mereka tetap mengalami defisiensi gizi. Kondisi ini dikenal sebagai “hidden hunger” terlihat kenyang, namun tubuh kekurangan vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya.
Akibatnya, anak justru berisiko mengalami obesitas karena kelebihan kalori, tapi tetap “kurang gizi” dari sisi kualitas. Obesitas pada anak membuat mereka lebih rentan mengalami penyakit tidak menular di masa depan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, bahkan gangguan metabolik
sejak usia muda (10) (11). Pada akhirnya, kekurangan gizi ini dapat menjadi hambatan besar bagi cita-cita, kualitas hidup, pada anak penerus bangsa.
Untuk membangun generasi yang cerdas, sehat, konsep gizi seimbang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gizi seimbang mencakup pemenuhan karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Salah satu pedoman sederhana yang dapat digunakan adalah konsep Isi Piringku, yaitu panduan makan sekali saji yang seimbang untuk mencukupi kebutuhan energi dan zat gizi harian. (12) (13) (14).
Dalam panduan Isi Piringku, 1⁄2 bagian piring diisi oleh sayur dan buah, yang kaya akan
vitamin, mineral, serat, dan antioksidan. Komponen ini penting untuk menjaga daya tahan tubuh, dan mendukung kesehatan pencernaan. Serat juga membantu anak tetap aktif, tidak mudah lelah, dan memiliki metabolisme yang baik. Tanpa sayur dan buah yang cukup, pertumbuhan anak bisa terganggu akibat kekurangan mikronutrien penting seperti vitamin A, C, folat, dan zat besi.
Kemudian, 1⁄4 bagian piring diisi dengan sumber karbohidrat, seperti nasi, ubi, jagung, atau roti gandum. Karbohidrat berfungsi sebagai bahan bakar utama tubuh dan otak. Pada anak yang
sedang tumbuh karbohidrat kompleks membantu menjaga energi lebih stabil dan mencegah risiko obesitas.
Selanjutnya, 1⁄4 bagian piring lainnya diisi sumber protein, baik hewani maupun nabati,seperti telur, ikan, ayam, tempe, atau tahu. Protein adalah bahan pembangun utama otak, otot,
dan sistem imun. Kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas. Protein hewani seperti ikan juga kaya asam lemak omega-3 (DHA) yang penting untuk kecerdasan dan perkembangan kognitif anak.
Tidak kalah penting, pedoman Isi Piringku juga menekankan konsumsi air putih yang cukup, pembatasan gula, garam, lemak (GGL), serta peningkatan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari untuk anak.
Menjaga gizi bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga keluarga dan masyarakat. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk memastikan asupan gizi yang tepat, antara lain (15) (16):
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Bayangkan sehari-hari kita duduk berjam-jam di depan layar, entah bekerja, belajar, atau sekadar bersosial media. Aktivitas yang dulu menggerakkan tubuh kini tergantikan oleh jari yang hanya mengusap layar. Fenomena ini menjadi tanda munculnya krisis aktivitas fisik, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, gerak tubuh bukan sekadar soal kebugaran, tapi fondasi kesehatan jangka panjang.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 80% remaja di dunia tidak cukup aktif secara fisik. (1) Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga melaporkan, sebanyak 37,4% penduduk berusia 10 tahun ke atas tergolong
kurang aktif. (2) Artinya, kita tengah menghadapi generasi yang semakin jarang
bergerak.
Padahal, aktivitas fisik pada anak dan remaja terbukti memberi banyak manfaat,
seperti meningkatkan kebugaran, kesehatan jantung, kekuatan tulang, fungsi kognitif,
serta menurunkan lemak tubuh dan risiko gangguan mental. (1)
Sebaliknya, gaya hidup minim gerak dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes,
penyakit jantung, hingga masalah psikologis seperti stres dan kecemasan. (3) Berbagai studi juga menunjukkan bahwa perilaku menetap, seperti duduk terlalu
lama dan penggunaan gawai berlebihan, berkaitan dengan menurunnya aktivitas fisik harian, terutama pada remaja. (4) Jika dibiarkan, pola ini dapat berkembang menjadi kebiasaan jangka panjang yang memicu berbagai masalah kesehatan kronis di masa depan. (5)
Lebih dari sekadar soal fisik, kurangnya aktivitas juga bisa berdampak pada keseimbangan emosional. Gerak tubuh pada dasarnya membantu tubuh melepaskan hormon bahagia seperti endorfin dan serotonin yang berperan menjaga suasana hati, fokus, serta kualitas tidur. Oleh karena itu, menjaga tubuh tetap aktif bukan hanya tentang kebugaran, tapi juga tentang kesehatan mental dan kualitas hidup secara menyeluruh.
Kabar baiknya, keluar dari krisis aktivitas fisik tidak memerlukan langkah ekstrem. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi fondasi kuat
bagi peningkatan kesehatan masyarakat.
Gerakan menuju hidup lebih aktif sebetulnya bisa dimulai dari mana saja, dari rumah, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan sekitar. Ketika semakin banyak orang mulai sadar pentingnya bergerak, efeknya bisa menjalar lebih luas, membentuk budaya hidup sehat di tingkat komunitas.
Kesadaran kolektif inilah yang menjadi dasar penting bagi upaya pemerintah dalam
menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran. Pemantauan dan surveilans
aktivitas fisik, misalnya, terbukti efektif membantu memahami pola gerak masyarakat serta menjadi landasan dalam menyediakan fasilitas publik yang mendukung gaya hidup aktif. (6)
Meski demikian, tantangan tentu masih ada. Tidak semua wilayah memiliki ruang terbuka yang memadai, dan sebagian masyarakat belum terbiasa bergerak aktif di sela kesibukan. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas sektor, antara individu, komunitas, dan pemerintah, untuk menciptakan lingkungan yang mendorong kebiasaan hidup aktif.
Di sisi lain, setiap orang tetap bisa memulai dari langkah sederhana, seperti:
Ketika langkah kecil ini dilakukan bersama dan didukung oleh lingkungan yang kondusif, dampaknya bisa sangat besar. Perubahan gaya hidup aktif bukan hanya tentang individu yang bergerak, tapi tentang membangun budaya gerak bersama menuju generasi yang lebih sehat dan produktif.
Upaya membangun generasi sehat di era digital bukan berarti menolak teknologi,
melainkan menemukan keseimbangannya. Kita bisa tetap terhubung dengan dunia
digital tanpa kehilangan koneksi dengan tubuh sendiri. Bergerak adalah bentuk
syukur sederhana atas tubuh yang bekerja setiap hari, dan wujud tanggung jawab kita
untuk masa depan yang lebih sehat.
Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit, tetapi hasil dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari. Mulailah dari diri sendiri, seperti kurangi waktu duduk, tambahkan waktu aktif, dan ajak orang di sekitarmu ikut bergerak bersama.
Sebab dari tubuh yang aktif, lahirlah pikiran yang kuat, semangat yang panjang, dan generasi yang siap membangun masa depan yang hebat.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Di zaman sekarang minuman manis seperti boba, kopi, soda, hingga ke teh dalam bentuk kemasan sudah menjadi sebuah fenomena sosial yang tidak dapat lagi terpisahkan dari hidup mereka. Memang, rasa manis tersebut dapat memberikan sensasi nyaman dan mayoritas remaja hingga orang dewasa mengonsumsi minuman manis untuk memperbaiki mood mereka apalagi sampai mengonsumsi minuman kesukaan mereka seperti di zaman sekarang sudah banyak sekali yang menjadi ‘” coffee addict “, tetapi di balik rasa manis yang ada, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan dalam jangka waktu yang panjang.
Lalu, berapa sih anjuran gula yang boleh dikonsumsi? kira-kira apa ya bahaya yang
tersembunyi di balik rasa manis yang berlebih tersebut?
Minuman yang mengandung gula sederhana atau ditambahkan bahan pemanis berkalori sehingga meningkatkan kandungan energi. (3) Kemenkes merekomendasikan batasan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan energi atau setara dengan 4 sendok makan gula sekitar 50 gram. (4)
Kalau mengonsumsi minuman yang manis secara berlebih itu tidak baik buat ke kesehatan diri kita sendiri, lalu sebaiknya kita mengonsumsi minuman yang seperti apa ya? Yuk yuk kita
bahas di bawah ini.
Kalian tahu tidak kalau ada loh minuman yang sangat baik buat kesehatan yaitu air putih. Air putih ini merupakan cara alternatif untuk mengubah kebiasaan dalam mengonsumsi minuman yang manis.
Air putih dapat memberikan hidrasi yang optimal dan sangat penting untuk fungsi kognitif pada
otak, karena otak sangat bergantung pada air. Apabila kita kekurangan air maka dapat menyebabkan dehidrasi dan dehidrasi tersebut dapat membuat kita merasa lelah, kurang konsentrasi dan menurunnya daya ingat. Selain itu, air putih ini mampu melakukan detoksifikasi secara alami untuk membuang racun dan gula yang berlebih dari dalam tubuh. Anjuran dalam mengonsumsi air putih yang ideal setiap harinya sekitar 2 liter atau setara dengan 8 gelas sehari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh serta menjaga kesehatan. (10)
Kira-kira ada ngga sih alternatif minuman yang tetap menarik di mata kita tetapi rendah kalori dan tanpa gula yang berlebih apabila kita ingin mengonsumsinya selain air putih? Ada dong pastinya, minuman apa saja ya kira-kira? Yuk bahas lebih lanjut.
Kalau kita ingin mengurangi konsumsi gula, bagaimana ya strategi yang lebih tepatnya?
Jadi, kesimpulannya kita semua baik remaja ataupun orang dewasa harus berani mengambil langkah atau tindakan dalam mengurangi gula karena keputusan tersebut merupakan keputusan yang sangat penting untuk masa depan kita. Lalu, jadikan air putih yang kita sebut sebagai sang juara hidrasi yang terbaik itu sebagai minuman favorite kita bukan dengan minuman yang manisnya berlebih itu ya, karena apa? karena kalau tubuh kita dapat terhidrasi dengan sempurna maka kita siap melangkah menjadi generasi sehat dan memiliki masa depan yang hebat yang full energi, cerdas dan tahan banting.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Bagi remaja di zaman sekarang, media sosial bukan hanya sekedar platform hiburan tetapi dapat berupa medan pertempuran dalam segi pertempuran citra diri, pertempuran FOMO (Fear of Missing Out) dan juga pertempuran dalam segi untuk selalu dapat terlihat sempurna. Pertempuran seperti itu akan menimbulkan sebuah tekanan dan tekanan tersebut akan menjadi sebuah bentuk ‘’Stres Digital’’. Stres ini dapat membawa efek samping yang buruk untuk remaja seperti tergganggunya keseimbangan emosional mereka sehingga membuat mereka pun merasa cemas, lelah mental dan bahkan kesulitan tidur. Jadi, bagaimana ya caranya untuk menanggulangi stres digital tersebut di kalangan remaja?
Mari kita bahas dulu yuk lebih detailnya terkait stres digital dan apa saja sih sumber utama stres digital itu.
Media sosial walaupun menjadi bentuk elektronik dalam berkomunikasi seperti berbagai informasi, pesan pribadi dan konten lainnya tetapi memiliki dampak negatif juga karena dapat berisiko terkena kesehatan mental. (1) Selain dampak terhadap kesehatan mental yaitu dapat berupa penurunan minat dalam belajar dan kualitas tidur. Stres digital merupakan bentuk tekanan emosional yang muncul akibat interaksi intensif dengan perangkat digital atau media sosial. Hal ini dapat berupa kecemasan akibat perbandingan sosial, ketakutan akan kehilangan informasi penting atau biasa disebut dengan FOMO dan tekanan dari cyberbullying. Kalangan remaja biasanya menghabiskan waktu dalam penggunaan media digital sekitar kurang lebih 3 jam sehari. (2)
Lalu, bagaimana sih cara mencegah agar tidak mengalami stres digital atau menangani hal tersebut apabila sudah mengalaminya? Mari kita bahas dibawah ini secara lebih detailnya ya.
Oleh sebab itu, kesimpulannya adalah screen time itu boleh tetapi kita harus punya batas waktu dalam melakukan screen time agar kita tidak terkena stres digital. Jadikanlah dunia maya itu sebagai alat untuk meraih tujuan kita, bukan untuk mengukur harga diri kita sendiri. Sebagai remaja, kita harus memiliki mental yang tangguh dan hidup yang seimbang agar siap melangkah menjadi ‘’Generasi Hebat’’ dalam menguasai teknologi.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi