Penyakit degeneratif adalah suatu kondisi dimana timbul akibat adanya penurunan fungsi sel tubuh. Awalnya penyakit ini menyerang kalangan usia lanjut tetapi dari tahun ke tahun ditemukan pada kalangan usia muda. Penyebab utamanya berupa stres oksidatif. Stres oksidatif ini terjadi apabila jumlah radikal bebas yang menjadi pemicu kerusakan sel lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk menetralkan hal tersebut. Lalu, bagaimana cara untuk mencegah kerusakan sel dan bagaimana cara generasi penerus bangsa dapat mencapai masa depan hebat dengan kondisi kesehatan yang prima? Apakah antioksidan, serat dan whole food dapat mencegah kerusakan sel?

Antioksidan: Pahlawan Penangkal Radikal Bebas

Antioksidan adalah senyawa yang berperan menjaga tubuh dari serangan radikal bebas yang menyebabkan terjadinya kerusakan sel dalam tubuh dan menjadi pemicu penyakit degeneratif. Antioksidan bekerja dengan cara menangkap radikal bebas sehingga dapat menghambat reaksi oksidatif dalam tubuh. (1) Senyawa antioksidan mampu berperan sebagai akseptor radikal bebas sehingga bisa menghambat pembentukan radikal. (2) Tubuh secara alami memang menghasilkan antioksidan tetapi apabila gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan menuntut untuk mendapatkan asupan tambahan dari makanan.

  1. Mekanisme Kerja Melawan Degenerasi
  2. Antioksidan memiliki peran dalam melawan degenerasi dengan menetralkan radikal bebas sebelum merusak DNA dan membran sel, selain itu juga memiliki peran dalam menghambat peradangan kronis yang mendasari penyakit tidak menular.
  3. Sumber Antioksidan Terbaik
  4. Sumber antioksidan terbaik seperti kayu manis, jahe, paprika, kismis, aprikot, selada air, kubis, brokoli, kacang polong.

Serat: Kunci Metabolik Pelindung Penyakit Degeneratif

Salah satu kunci melindungi diri dari penyakit degeneratif adalah dengan kecukupan asupan serat. Serat memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengontrol kadar glukosa darah, menurunkan kadar kolesterol dan memperbaiki fungsi pencernaan. Asupan serat yang tercukupi dapat berkontribusi terhadap status gizi yang optimal. (3) Contoh halnya dalam menurunkan kadar glukosa darah dengan memperlambat proses pencernaan makanan dalam tubuh, apabila dalam proses pengosongan lambung berjalan lambat dan pencernaan juga lambat maka akan menciptakan rasa kenyang yang lebih lama dan membuat asupan makan menjadi menurun sehingga akan terjadi penurunan penyerapan glukosa dan akan membuat kadar glukosa darah lebih rendah. (4)

Kebutuhan serat harian menurut WHO sekitar 25-30 gram per hari untuk orang dewasa. (5) Menurut AKG 2019, kebutuhan serat untuk orang dewasa dengan jenis kelamin laki-laki sekitar 30-38 gram dan untuk perempuan sekitar 25 gram. (6) Contoh asupan serat seperti dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan. Rata-rata asupan serat masyarakat Indonesia masih dibawah anjuran per harinya. Generasi muda di zaman sekarang masih banyak mengonsumsi makanan yang minim serat.

Whole Food: Sinergi Nutrisi dan Panduan Praktis

Whole food adalah bentuk alami dari suatu makanan atau makanan tersebut minim diproses. Untuk menciptakan generasi muda yang sehat dan memiliki masa depan yang hebat harus bisa mengganti makanan olahan dengan whole food, contoh makanannya seperti apabila sebelumnya sering mengonsumsi sereal manis maka diganti dengan oatmeal utuh dengan irisan buah dan juga tetap menerapkan prinsip isi piringku dengan setengah dari isi piring tersebut diisi oleh buah dan sayur whole food dan setengah piring dari isi piringnya lagi diisi dengan protein tanpa lemak dan karbohidrat kompleks. Berikut contoh menu harian dengan komponen whole food :

  1. Sarapan: Oatmeal dengan chia seed dan tambahan topping buah-buahan
  2. Camilan: Potongan buah-buahan
  3. Makan siang: Nasi merah, ikan dan lalapan
  4. Makan malam: Bubur kacang hijau/ sup kacang merah

Menjadi generasi sehat yang memiliki masa depan yang hebat harus sadar akan makanan yang akan dimakan karena makanan tersebut akan menjadi investasi kesehatan jangka panjang. Penyakit degeneratif itu tidak datang tiba-tiba, penyakit tersebut itu hasil dari kerusakan sel selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, untuk mencegah kerusakan sel dan menimbulkan penyakit degeneratif maka kita sebagai generasi yang produktif harus memperkaya dalam satu piring tersebut dengan makanan yang mengandung antioksidan, serat dan whole food dengan tujuan memperpanjang lifespan dan memperluas healthspan yang bebas dari penyakit. Ingat, keputusan dalam memilih makanan hari ini adalah resep panjang umur di masa depan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Adawiyah., Sukandar, D & Muawanah, A. Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Komponen Bioaktif Sari Buah Namnam. Jurnal Penelitian dan Pengembangan. 2015: 1(2), 130-136.
  2. Dungir, S.G., Katja, D.G & Kamu, V.S. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Fenolik dari Kulit Buah Manggis (Garnicia mangostana L.). Jurnal MIPA UNSRAT. 2012: 1(1), 11-15.
  3. Slavin, J.L. Fiber and Prebiotics: Mechanisms and Health Benefits. Nutrients. 2013: 5(4), 1417-1435.
  4. Osiana, N.P.W., Kusumayanti, G.A.D & Cintari, L. Gambaran Tingkat Konsumsi Serat dan Kadar Glukosa Darah Kasus DM Tipe 2 Poli Penyakit Dalam di RSUD Wangaya Denpasar. Jurnal Ilmu Gizi: 10(3).
  5. WHO. Healthy Diet. 2020
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kemenkes RI. 2019.

Sebuah generasi berangkat dari kumpulan individu yang hidup dalam kurun waktu yang sama. Di mana dalam rentan waktu tersebut mereka mengalami keadaan sosial, budaya dan teknologi yang sama yang membentuk pribadi dan karakteristik tertentu. Singkatnya, generasi adalah pembeda kelompok umur berdasarkan tahun lahir. Seperti yang sering kita dengar anak-anak yang lahir pada tahun 1946-1964 disebut baby boomers, tahun 1965-1980 disebut generasi X, tahun 1981-1996 disebut generasi Y (milenial), tahun 1997-2012 disebut generasi Z, tahun 2013-2024 disebut generasi alpha, dst. (1)

Membicarakan generasi, kita tidak akan terlepas dari sosok perempuan dan laki-laki. Peran perempuan dan laki-laki usia produktif sangat penting untuk menciptakan generasi baru. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Agar terlahir generasi-generasi sehat selanjutnya. Sebagai perempuan, siapa sih yang gak mau punya badan ideal dan sehat? Sekaligus dapat bonus mempersiapkan diri di masa prakonsepsi! Dear my fellow ladies, ada tiga hal yang bisa kita perhatikan, yuk kita bahas satu per satu!

Status Gizi

Status gizi ibu sebelum hamil sangat menentukan status gizi janin. Karena saat kehamilan, status gizi ibu meningkat 15% dari sebelum hamil.(2) Maka dari itu saat masa prakonsepsi calon ibu memiliki status gizi yang baik. Parameter untuk menentukan status gizi baik yaitu skor Indeks Massa Tubuh (IMT) 18,5 – 24,9 Kg/m2.(3) Ibu yang memiliki status gizi kurang, berisiko mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) saat hamil. (4)

Kesehatan Mental

Hal ini tidak boleh luput dalam menyiapkan diri menuju masa konsepsi. Karena kesehatan mental masa prakonsepsi sangat mempengaruhi mental saat kehamilan nanti. Hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental diantaranya yaitu:

  1. Mengelola stres dengan baik
  2. Kehidupan manusia tentu tidak akan terlepas dari stres. Tingkatan stres mulai dari ringan, sedang sampai berat. Stres berlebih dapat menyebabkan kecemasan, Oleh karena itu kita harus bisa mengelola stres dengan baik, beberapa caranya yaitu meditasi, teknik pernapasan, dan relaksasi.
  3. Memiliki pola hidup sehat
  4. Yaitu dengan makan makanan bergizi yang lengkap dan seimbang juga rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari (lakukan 5 hari dalam 1 pekan).
  5. Istirahat yang cukup
  6. Di usia produktif tentu banyak kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Dengan banyaknya aktivitas tersebut tubuh kita tentu butuh beristirahat, yaitu tidur malam 7-9 jam, membatasi paparan gawai sebelum tidur juga istirahat di sela pekerjaan. Istirahat yang cukup dapat mengurangi risiko stress kronis, menjaga keseimbangan emosi, mencegah gangguan mental dan meningkatkan konsentrasi dan daya ingat.(5)
  7. Menjaga hubungan dengan orang terdekat
  8. Sebagai makhluk sosial, manusia butuh untuk berinteraksi dengan manusia lain. Sebagaimana dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa interaksi sosial bisa mempengaruhi kesehatan mental juga kebahagiaan.(6)

Gaya Hidup Sehat

Pasti banyak dari kalian sudah sering mendegar contoh gaya hidup sehat. Memang terdengar mudah, tapi apakah kita bisa konsisten menerapkannya? Tentu semua orang bisa melakukannya jika memiliki tekad dan keinginan yang kuat. Yuk kita ulas di sini apa saja gaya hidup sehat itu?

  1. Makan makanan bergizi yang lengkap dan seimbang
  2. Seringkali kita lupa bahwa selain protein, karbohidrat dan lemak, kita harus memenuhi kebutuhan mikronutrisi tubuh. Memang jumlahnya tidak dibutuhkan sebanyak makronutrisi, tapi tidak kalah penting untuk tubuh kita. Yuk mulai penuhi kebutuhan serat dan vitamin harian kita. Berikut beberapa hal yang perlu lebih diperhatikan di masa prakonsepsi:
    – Konsumsi makan bergizi lengkap (karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, lemak sehat, sayur juga buah)
    – Penuhi kebutuhan asam folat (400–800 μg/hari), zat besi, yodium, kalsium dan vitamin D harian
    – Batasi konsumsi gula, garam dan makanan tinggi lemak jenuh. (8)
  3. Rutin melakukan aktivitas fisik
  4. Membiasakan diri sedini mungkin untuk melakukan aktivitas fisik tidak akan merugikan diri sendiri, justru kita akan dapat banyak manfaat. Kegiatan senam ibu hamil dapat meningkatkan kualitas hidup selama kehamilan. Dianjurkan melakukan olahraga ringan hingga moderat 3-5 kali setiap minggu selama 30 menit (jalan cepat, berenang dan yoga). (8)
  5. Pola tidur yang baik
  6. Durasi tidur yang dianjurkan yaitu 7-9 jam setiap malam, hindari begadang.
  7. Kebiasaan sehari-hari
  8. Kebiasaan sehari-hari yang sudah terlaksana dengan baik patut dipertahankan dan diapresiasi. Karena kebiasaan inilah yang akan membentuk diri kita di masa depan, termasuk keluarga kecilmu nanti. Apa saja kebiasaan sehari yang bisa kita lakukan untuk menjadi sehat?
    Berikut beberapa hal diantaranya:
    – Minum air putih minimal 1,5-2 liter sehari (kecuali kondisi medis tertentu)
    – Hindari paparan zat berbahaya seperti asap rokok (perokok pasif) juga polusi.
    – Jaga kebersihan gigi dan mulut, serta kesehatan reproduksi.(8)

Nah itu dia 3 hal yang bisa kamu siapkan dari sekarang untuk dirimu saat ini juga di masa yang akan datang. Jika kita lihat lagi, semua kebiasaan-kebiasaan di atas saling berhubungan menciptakan jiwa yang sehat raga dan batinnya. Ingat, tidak ada kata terlambat menuju perubahan yang lebih baik. Kalau tidak mulai dari sekarang, mau kapan lagi?

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Mengenali Kategori Generasi Berdasarkan Periode Tahun Kelahiran | tempo.co [Internet]. [cited 2025 Nov 17]. Available from: https://www.tempo.co/gaya-hidup/mengenali-kategori-generasi-berdasarkan-periode-tahun-kelahiran- 1178995
  2. Rahman H, Nulanda M, Nurmadilla N, Dewi AS, Darma S. Analisis Status Gizi Ibu Sebelum Hamil Terhadap Pemeriksaan Antropometri Luaran Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit Nenemallomo Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan. Innov J Soc Sci Res Vol. 2024;4:5492–508.
  3. Indeks Massa Tubuh, Cara Mengetahui dan 4 Kategorinya - Alodokter [Internet]. [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://www.alodokter.com/pemahaman-seputar-indeks-massa-tubuh
  4. Kehamilan [Internet]. [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/home
  5. Pentingnya Istirahat Cukup untuk Kesehatan Mental [Internet]. [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://savamedika.co.id/pentingnya-istirahat-cukup-untuk-kesehatan-mental/
  6. Utami MP. Pengaruh Interaksi Sosial dalam Pergaulan terhadap Pengembangan Sikap Kepedulian Sosial Siswa Madrasah Ibtidaiyah. J Basicedu. 2024;8(1):71–82.
  7. 10 Cara Efektif Menjaga Kesehatan Mental Agar Tetap Bahagia [Internet]. [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-menjaga-kesehatan-mental
  8. Pola Hidup Sehat untuk Program Hamil [Internet]. [cited 2025 Nov 22]. Available from: https://rskiarachmi.com/pola-hidup-sehat-untuk-program-hamil/

Kalau dengar kata masa depan hebat, yang kebayang pasti kesuksesan, gelar tinggi, dan kehidupan yang mapan. Tapi pernah nggak sih kepikiran, semua itu nggak akan tercapai tanpa tubuh yang sehat? Dan kuncinya ternyata ada di satu hal sederhana yaitu gizi yang tepat.

Ya, masa depan yang gemilang bukan cuma hasil kerja keras, tapi juga hasil dari pola makan dan asupan gizi yang dijaga sejak dini. Karena bagaimana kita makan hari ini, menentukan seberapa jauh kita bisa melangkah besok.

Gizi Sebagai Pondasi Kehidupan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7593603497644412168"}}

Gizi bukan sekadar soal makan tiga kali sehari, tetapi tentang bagaimana tubuh mendapatkan zat-zat penting yang dibutuhkan untuk tumbuh, berkembang, dan berfungsi dengan optimal. Sejak dalam kandungan, gizi berperan besar dalam membentuk kualitas kehidupan seseorang. Kekurangan gizi pada masa kehamilan dapat berdampak pada pertumbuhan janin, perkembangan otak, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan.

Pada masa anak-anak juga menjadi periode golden age atau masa emas adalah fase penting dalam kehidupan anak yang berlangsung sejak 0–5 tahun. Di masa inilah pertumbuhan dan perkembangan tubuh, terutama otak, terjadi dengan sangat cepat bahkan lebih cepat dibandingkan periode usia lainnya. Pada masa golden age, 80% perkembangan otak sudah terbentuk. Artinya, kemampuan anak untuk belajar, berbicara, mengingat, bergerak, hingga membangun emosi dan kepribadian sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dapatkan pada periode ini: mulai dari nutrisi, stimulasi, pola asuh, hingga lingkungan. Kekurangan gizi, minimnya stimulasi, atau pola asuh yang kurang tepat bisa menghambat perkembangan anak. Itulah kenapa masa 0–5 tahun dianggap sebagai jendela kesempatan terbesar untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak (1) (2).

Dampak Gizi Buruk Terhadap Masa Depan Anak

Gizi buruk tidak hanya menyebabkan tubuh kurus dan lemah, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif dan prestasi belajar anak. Anak dengan gizi kurang cenderung sulit fokus, mudah sakit, dan memiliki semangat belajar rendah (3).

  1. Kekurangan Zat Besi
  2. Zat besi berfungsi dalam pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen ke otak dan seluruh tubuh. Kekurangan zat besi menyebabkan anemia yang dapat membuat anak mudah lelah, sulit fokus. Dalam jangka panjang, anemia defisiensi besi menghambat perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik. Masa depan anak bisa terdampak karena kemampuan belajar yang tidak optimal sejak dini (4) (5).
  3. Kekurangan Zink
  4. Zinc sangat penting untuk tumbuh kembang, nafsu makan, serta daya tahan tubuh. Ketika anak kekurangan zinc, mereka cenderung mengalami penurunan nafsu makan, sering sakit, serta pertumbuhan tinggi badan yang lambat. Kekurangan zinc juga berkaitan dengan menurunnya kemampuan memori dan konsentrasi. Padahal, zinc banyak ditemukan pada makanan sederhana seperti ikan, telur, dan daging (6) (7).
  5. Kekurangan Vitamin D dan Kalsium
  6. Vitamin D dan kalsium berperan dalam pertumbuhan tulang dan kekuatan otot. Kekurangannya maka akan terjadi peningkatan risiko terjadinya penyakit dan keterlambatan perkembangan, Vitamin D adalah elemen penting dalam metabolisme tulang. Vitamin D berperan dalam meningkatkan tingkat kekebalan tubuh pada anak. Pada masa pertumbuhan, tulang yang tidak berkembang optimal bisa berdampak pada tinggi badan, kekuatan fisik, dan aktivitas anak sehari-hari (8) (9).

Dampak pada masa depan anak yaitu gizi yang buruk tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir, kesehatan mental, dan produktivitas di masa depan. Banyak orang mengira kekurangan gizi terjadi karena anak kurang makan atau makan dalam jumlah sedikit, padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Anak bisa saja makan dalam porsi besar bahkan sering tetapi kalau yang dikonsumsi lebih banyak junk food atau fast food yang tinggi kalori tapi miskin nutrisi, mereka tetap mengalami defisiensi gizi. Kondisi ini dikenal sebagai “hidden hunger” terlihat kenyang, namun tubuh kekurangan vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya.

Akibatnya, anak justru berisiko mengalami obesitas karena kelebihan kalori, tapi tetap “kurang gizi” dari sisi kualitas. Obesitas pada anak membuat mereka lebih rentan mengalami penyakit tidak menular di masa depan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, bahkan gangguan metabolik sejak usia muda (10) (11). Pada akhirnya, kekurangan gizi ini dapat menjadi hambatan besar bagi cita-cita, kualitas hidup, pada anak penerus bangsa.

Peran Gizi Seimbang dalam Mewujudkan Generasi Emas

Untuk membangun generasi yang cerdas, sehat, konsep gizi seimbang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gizi seimbang mencakup pemenuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Salah satu pedoman sederhana yang dapat digunakan adalah konsep Isi Piringku, yaitu panduan makan sekali saji yang seimbang untuk mencukupi kebutuhan energi dan zat gizi harian. (12) (13) (14).

Dalam panduan Isi Piringku, 1⁄2 bagian piring diisi oleh sayur dan buah, yang kaya akan vitamin, mineral, serat, dan antioksidan. Komponen ini penting untuk menjaga daya tahan tubuh, dan mendukung kesehatan pencernaan. Serat juga membantu anak tetap aktif, tidak mudah lelah, dan memiliki metabolisme yang baik. Tanpa sayur dan buah yang cukup, pertumbuhan anak bisa terganggu akibat kekurangan mikronutrien penting seperti vitamin A, C, folat, dan zat besi.

Kemudian, 1⁄4 bagian piring diisi dengan sumber karbohidrat, seperti nasi, ubi, jagung, atau roti gandum. Karbohidrat berfungsi sebagai bahan bakar utama tubuh dan otak. Pada anak yang sedang tumbuh karbohidrat kompleks membantu menjaga energi lebih stabil dan mencegah risiko obesitas.

Selanjutnya, 1⁄4 bagian piring lainnya diisi sumber protein, baik hewani maupun nabati,seperti telur, ikan, ayam, tempe, atau tahu. Protein adalah bahan pembangun utama otak, otot, dan sistem imun. Kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan imunitas. Protein hewani seperti ikan juga kaya asam lemak omega-3 (DHA) yang penting untuk kecerdasan dan perkembangan kognitif anak.

Tidak kalah penting, pedoman Isi Piringku juga menekankan konsumsi air putih yang cukup, pembatasan gula, garam, lemak (GGL), serta peningkatan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari untuk anak.

Langkah Menuju Generasi Bergizi

Menjaga gizi bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga keluarga dan masyarakat. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan untuk memastikan asupan gizi yang tepat, antara lain (15) (16):

  1. Edukasi keluarga tentang pentingnya gizi. Orang tua harus memahami kebutuhan nutrisi anak di setiap tahap pertumbuhan. Seperti contohnya, pada bayi membutuhkan lebih banyak lemak untuk perkembangan otak, sementara anak usia sekolah butuh lebih banyak protein, zat besi, dan vitamin untuk mendukung aktivitas fisik serta kemampuan belajar. Dengan cara orang tua telah menyediakan makanan yang beragam, menggunakan garam beryodium, memberikan ASI eksklusif pada anak, membiasakan untuk sarapan dan makan tepat waktu.
  2. Pemanfaatan bahan pangan lokal. Banyak bahan pangan di sekitar kita seperti ikan kembung, tempe, sayur daun kelor, dan buah segar yang kaya gizi dan terjangkau.
  3. Program sekolah sehat dan bergizi. Sekolah dapat berperan dalam mengajarkan pola makan sehat serta menyediakan jajanan yang aman dan bergizi, seperti contohnya sekolah dapat menyediakan kantin sehat.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Oktaviani E, Feri J, Susmini S, Soewito B. Deteksi dini tumbuh kembang dan edukasi pada ibu tentang status gizi anak pada periode golden age. Journal of Community Engagement in Health [Internet]. 2021 [cited 2025 Nov 15];4(2):319–24. Available from: https://jceh.org/index.php/JCEH/article/view/146
  2. Rijkiyani RP, Syarifuddin S, Mauizdati N. Peran orang tua dalam mengembangkan potensi anak pada masa golden age. Jurnal Basicedu [Internet]. 2022 [cited 2025 Nov 15];6(3):4905–12. Available from: https://www.neliti.com/publications/448489/peran-orang-tua-dalam-mengembangkan-potensi-anak-pada-masa-golden-age
  3. Hidayati I, KM S. Masalah Gizi pada Masyarakat. Gizi dan Kesehatan Masyarakat [Internet]. 2024 [cited 2025 Nov 15];29. Available from: https://books.google.com/books?hl=id&lr=&id=sVshEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA29&dq=Anak+yang+kekurangan+yodium+berisiko+
    mengalami+gondok,+gangguan+belajar.+ &ots=A3DfOAi5QE&sig=vcfE3IxQIT5LvlsaooGcryu4nv8
  4. Saras T. Anemia: Memahami, Mencegah dan Mengatasi Kekurangan Darah [Internet]. Tiram Media; 2023 [cited 2025 Nov 15]. Available from: https://books.google.com/books?hl=id&lr=&id=aZXLEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=Kekurangan+zat+besi+menyebabkan+anemia+
    yang+dapat+membuat+anak+mudah+lelah,+sulit+fokus&ots=Aw2bTjEAZA&sig=vq8MeteNU9vwCAl
    Hna810XTtIbs
  5. Alfiyah T. Efektivitas Program Suplementasi Zat Besi Terhadap Kadar Hemoglobin di MA Assa’idiyah Tanggulrejo [Internet] [PhD Thesis]. Universitas Muhammadiyah Gresik; 2024 [cited 2025 Nov 15]. Available from:http://eprints.umg.ac.id/15023/
  6. Ayuningtias N, Estiwidani D. PERBEDAAN TINGKAT ASUPAN ZINC PADA BALITA STUNTING DAN TIDAK STUNTING USIA 2-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GEDANGSARI II [Internet] [PhD Thesis]. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta; 2019 [cited 2025 Nov 15]. Available from:http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/2192/
  7. Sanjiwani PA, Shinta D, Fahmida U. Asupan Zink Dan Tingkat Kecerdasan Anak Sekolah Dasar Di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Media Gizi Mikro Indonesia [Internet]. 2020 [cited 2025 Nov 15];12(1):53–62. Available from:https://scholar.archive.org/work/cufnn4amdbdrthi4yy2ephzgzu/access/wayback/https://
    ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/mgmi/article/download/1998/2020
  8. Ramatillah DL, Indrayani NPK, Sari NT, Virginia V, Syelvia FD, Furi MR, et al. Pentingnya Vitamin D untuk Mencegah Beberapa Penyakit. BERDIKARI [Internet]. 2025 [cited 2025 Nov 15];8(01). Available from:https://journal.uta45jakarta.ac.id/index.php/berdikari/article/view/8405
  9. Rusdi FY, Helmizar H. Peran Vitamin dan Mineral terhadap Status Gizi Bayi: Studi pada Anak Usia 6–11 Bulan di Kota Padang. Jurnal Kesehatan Perintis [Internet]. 2025 [cited 2025 Nov 15];12(1):33–43. Available from:https://jurnalupertis.com/index.php/JKP/article/view/1136
  10. Rahmawati E. Pengaruh Pola Makan terhadap Risiko Obesitas pada Anak Sekolah Dasar. VAKSIN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran [Internet]. 2024 [cited 2025 Nov 15];1(01):7–12. Available from: https://ejournal.almusthofa.org/index.php/vaksin/article/view/99
  11. Kurniati H, Djuwita R, Istiqfani M. Tinjauan Literatur: Stunting Saat Balita sebagai Salah Satu Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular di Masa Depan. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia [Internet]. 2022 [cited 2025 Nov 15];6(2):2. Available from: https://scholarhub.ui.ac.id/epidkes/vol6/iss2/2/
  12. Rahmanindar N, Harnawati RA. Pengaruh penyuluhan program isi piringku terhadap peningkatan sikap dan perilaku ibu dalam manangani balita gizi buruk. Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) [Internet]. 2020 [cited 2025 Nov 15];7(2):259–70. Available from: https://scholar.archive.org/work/ufszkrcddfb2fmkkwo76mpsbkm/access/wayback/https:// jurnal.poltekkesbanten.ac.id/Medikes/article/download/235/185
  13. Veronica SY, Qurniasih N, Utami IT, Febrianti H. Peningkatan gizi anak sekolah dengan gerakan isi piringku. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu (ABDI KE UNGU) [Internet]. 2019 [cited 2025 Nov 15];1(1):47–50. Available from: http://journal.aisyahuniversity.ac.id/index.php/Abdi/article/view/giziseimbang
  14. Atasasih H. Sosialisasi “isi piringku” pada remaja putri sebagai upaya pencegahan stunting. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat [Internet]. 2022 [cited 2025 Nov 15];6(1):116–21. Available from: https://journal.unilak.ac.id/index.php/dinamisia/article/view/4685
  15. Cara Mengatur Asupan Gizi Dengan Makanan Yang Sehat [Internet]. [cited 2025 Nov 15]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/?p=7358
  16. Halodoc R. halodoc. [cited 2025 Nov 15]. 7 Tips Menerapkan Pola Makan Sehat yang Mudah Dilakukan. Available from: https://www.halodoc.com/artikel/7-tips-menerapkan-pola-makan-sehat-yang-mudah-dilakukan

Bayangkan sehari-hari kita duduk berjam-jam di depan layar, entah bekerja, belajar, atau sekadar bersosial media. Aktivitas yang dulu menggerakkan tubuh kini tergantikan oleh jari yang hanya mengusap layar. Fenomena ini menjadi tanda munculnya krisis aktivitas fisik, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, gerak tubuh bukan sekadar soal kebugaran, tapi fondasi kesehatan jangka panjang.

Krisis Aktivitas Fisik: Ancaman yang Tidak Terlihat

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7593594364178337031"}}

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 80% remaja di dunia tidak cukup aktif secara fisik. (1) Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga melaporkan, sebanyak 37,4% penduduk berusia 10 tahun ke atas tergolong kurang aktif. (2) Artinya, kita tengah menghadapi generasi yang semakin jarang bergerak.

Padahal, aktivitas fisik pada anak dan remaja terbukti memberi banyak manfaat, seperti meningkatkan kebugaran, kesehatan jantung, kekuatan tulang, fungsi kognitif, serta menurunkan lemak tubuh dan risiko gangguan mental. (1)

Sebaliknya, gaya hidup minim gerak dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga masalah psikologis seperti stres dan kecemasan. (3) Berbagai studi juga menunjukkan bahwa perilaku menetap, seperti duduk terlalu lama dan penggunaan gawai berlebihan, berkaitan dengan menurunnya aktivitas fisik harian, terutama pada remaja. (4) Jika dibiarkan, pola ini dapat berkembang menjadi kebiasaan jangka panjang yang memicu berbagai masalah kesehatan kronis di masa depan. (5)

Lebih dari sekadar soal fisik, kurangnya aktivitas juga bisa berdampak pada keseimbangan emosional. Gerak tubuh pada dasarnya membantu tubuh melepaskan hormon bahagia seperti endorfin dan serotonin yang berperan menjaga suasana hati, fokus, serta kualitas tidur. Oleh karena itu, menjaga tubuh tetap aktif bukan hanya tentang kebugaran, tapi juga tentang kesehatan mental dan kualitas hidup secara menyeluruh.

Dari Gadget ke Gerak: Langkah Kecil, Dampak Besar

Kabar baiknya, keluar dari krisis aktivitas fisik tidak memerlukan langkah ekstrem. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kesehatan masyarakat.

Gerakan menuju hidup lebih aktif sebetulnya bisa dimulai dari mana saja, dari rumah, sekolah, tempat kerja, hingga lingkungan sekitar. Ketika semakin banyak orang mulai sadar pentingnya bergerak, efeknya bisa menjalar lebih luas, membentuk budaya hidup sehat di tingkat komunitas.

Kesadaran kolektif inilah yang menjadi dasar penting bagi upaya pemerintah dalam menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran. Pemantauan dan surveilans aktivitas fisik, misalnya, terbukti efektif membantu memahami pola gerak masyarakat serta menjadi landasan dalam menyediakan fasilitas publik yang mendukung gaya hidup aktif. (6)

Bagaimana Tantangan dan Solusinya?

Meski demikian, tantangan tentu masih ada. Tidak semua wilayah memiliki ruang terbuka yang memadai, dan sebagian masyarakat belum terbiasa bergerak aktif di sela kesibukan. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas sektor, antara individu, komunitas, dan pemerintah, untuk menciptakan lingkungan yang mendorong kebiasaan hidup aktif.

Di sisi lain, setiap orang tetap bisa memulai dari langkah sederhana, seperti:

  1. Gunakan alarm gerak setiap 30 menit. Berdiri, peregangan, atau berjalan sebentar sudah cukup mengaktifkan otot.
  2. Ubah “scrolling time” jadi “strolling time.” Alih-alih membuka media sosial di sore hari, cobalah berjalan 10–15 menit di sekitar rumah.
  3. Manfaatkan teknologi sebagai alat bantu, bukan penghambat. Gunakan fitness tracker, aplikasi pengingat minum air, atau tantangan langkah harian bersama teman.
  4. Ciptakan rutinitas aktif di tempat kerja atau kampus. Gunakan tangga, berjalan ke halte, atau ikut komunitas olahraga ringan.

Ketika langkah kecil ini dilakukan bersama dan didukung oleh lingkungan yang kondusif, dampaknya bisa sangat besar. Perubahan gaya hidup aktif bukan hanya tentang individu yang bergerak, tapi tentang membangun budaya gerak bersama menuju generasi yang lebih sehat dan produktif.

Generasi Sehat Dimulai dari Gerakan yang Sadar

Upaya membangun generasi sehat di era digital bukan berarti menolak teknologi, melainkan menemukan keseimbangannya. Kita bisa tetap terhubung dengan dunia digital tanpa kehilangan koneksi dengan tubuh sendiri. Bergerak adalah bentuk syukur sederhana atas tubuh yang bekerja setiap hari, dan wujud tanggung jawab kita untuk masa depan yang lebih sehat.

Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit, tetapi hasil dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari. Mulailah dari diri sendiri, seperti kurangi waktu duduk, tambahkan waktu aktif, dan ajak orang di sekitarmu ikut bergerak bersama.

Sebab dari tubuh yang aktif, lahirlah pikiran yang kuat, semangat yang panjang, dan generasi yang siap membangun masa depan yang hebat.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. World Health Organization. Physical activity. 2024 [cited 2025 Nov 12]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity
  2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Kurang bergerak, ancaman tersembunyi kesehatan Indonesia. 2025 [cited 2025 Nov 12]. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/kurang-bergerak-ancaman-tersembunyi-kesehatan-indonesia/
  3. Bozzola, E., Barni, S., Ficari, A., & Villani, A. Physical Activity in the COVID-19 Era and Its Impact on Adolescents’ Well-Being. International Journal of Environmental Research and Public Health [Internet]. 2023;20(4):3275. Available from: https://doi.org/10.3390/ijerph20043275
  4. Li, T., Wang, L., & Yu, S. The impacts of lockdown restrictions on children’s and adolescents’ physical activity levels and sedentary behaviour including gender differences: A systematic review and meta-analysis. Quality in Sport [Internet]. 2025;37:57482. Available from: https://doi.org/10.12775/QS.2025.37.57482
  5. Faigenbaum, A. D., Rebullido, T. R., & MacDonald, J. P. Pediatric Inactivity Triad: A Risky PIT. Current Sports Medicine Reports [Internet]. 2018;17(2):45–47. Available from: https://doi.org/10.1249/JSR.0000000000000450
  6. Reilly, J. J., Aubert, S., Brazo-Sayavera, J., Liu, Y., Cagas, J. Y., & Tremblay, M. S. (2022). Surveillance to improve physical activity of children and adolescents. Bulletin of the World Health Organization, 100(12), 815. https://doi.org/10.2471/blt.22.288569

Di zaman sekarang minuman manis seperti boba, kopi, soda, hingga ke teh dalam bentuk kemasan sudah menjadi sebuah fenomena sosial yang tidak dapat lagi terpisahkan dari hidup mereka. Memang, rasa manis tersebut dapat memberikan sensasi nyaman dan mayoritas remaja hingga orang dewasa mengonsumsi minuman manis untuk memperbaiki mood mereka apalagi sampai mengonsumsi minuman kesukaan mereka seperti di zaman sekarang sudah banyak sekali yang menjadi ‘” coffee addict “, tetapi di balik rasa manis yang ada, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan dalam jangka waktu yang panjang.

Lalu, berapa sih anjuran gula yang boleh dikonsumsi? kira-kira apa ya bahaya yang tersembunyi di balik rasa manis yang berlebih tersebut?

Minuman Manis (Sugar Sweetened Beverages)

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7593583419515211015"}}

Minuman yang mengandung gula sederhana atau ditambahkan bahan pemanis berkalori sehingga meningkatkan kandungan energi. (3) Kemenkes merekomendasikan batasan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan energi atau setara dengan 4 sendok makan gula sekitar 50 gram. (4)

Bahaya yang Tersembunyi di Balik Rasa Manis yang Berlebih

  1. Obesitas
  2. Minuman manis menjadi suatu faktor yang memiliki kontribusi paling utama dalam masalah obesitas. Minuman yang mengandung gula berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas sebesar 5,7 kali lipat, karena jenis gula sederhana yang paling banyak terkandung dalam minuman yang manis adalah fruktosa dan mengonsumsi fruktosa yang berlebih akan berdampak pada ketidakseimbangan energi dalam sistem pengaturan lemak dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan obesitas. (1) Kalori yang ada di dalam minuman bisa saja tidak dapat diidentifikasi saat ada rasa keinginan untuk mengonsumsi minuman yang manis (appetite) sehingga banyak orang pun tetap mengonsumsi dalam yang besar walaupun sudah banyak mengonsumsi minuman yang manis dan pada saat ini asupan kalori dapat meningkat. (2)
  3. Diabetes Melitus (DM)
  4. Konsumsi minuman manis sering dihubungkan dengan risiko penyakit degeneratif salah satunya Diabetes Melitus (DM) Tipe II. Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dimana terjadinya gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat sekresi insulin, kerja insulin atau bahkan keduanya. (5). Semakin tinggi konsumsi minuman manis maka akan semakin meningkat kadar glukosa darah sehingga dapat memicu terjadinya DM dalam jangka panjang. (6) Pada remaja umumnya yang menyerang yaitu DM Tipe I tetapi apabila pola hidupnya tidak sehat maka DM Tipe II dapat ikut menyerang remaja. DM Tipe II disebabkan oleh adanya resistensi insulin akibat kurang menjaga gaya hidup sehat untuk tetap seimbang. (7)
  5. Dapat Merusak Gigi dan Tulang
  6. Konsumsi minuman manis yang berlebih akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan seperti salah satunya menyebabkan karies gigi. Karies gigi adalah penyakit infeksi kronik yang mendemineralisasi struktur gigi dari waktu ke waktu. Karies gigi ini dapat menyebabkan penyakit gigi yang jauh lebih serius seperti perondititis, gigi tanggal serta penampilan estetika yang kurang menarik. (8)
    Gula diduga memiliki dampak negatif pada metabolisme tulang melalui peningkatan kekurangan kalsium dan ketidakseimbangan homeostasis kalsum. Minuman yang memiliki kandungan kafein seperti kopi dan teh memiliki hubungan dengan berkurangnya kepadatan tulang dan peningkatan berisiko patah tulang . (9)
  7. Mempengaruhi Suasana Hati dan Fokus Belajar pada Remaja
  8. Konsumsi minuman manis yang berlebih akan menyebabkan terjadi lonjakan kadar gula darah yang akan diikuti oleh kejadian sugar crash yang dapat membuat remaja mudah lelah, lesu dan mengalami perubahan mood. Hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan otak untuk fokus sehingga akan membuat prestasi dalam akademik terhambat.

Kalau mengonsumsi minuman yang manis secara berlebih itu tidak baik buat ke kesehatan diri kita sendiri, lalu sebaiknya kita mengonsumsi minuman yang seperti apa ya? Yuk yuk kita bahas di bawah ini.

Kalian tahu tidak kalau ada loh minuman yang sangat baik buat kesehatan yaitu air putih. Air putih ini merupakan cara alternatif untuk mengubah kebiasaan dalam mengonsumsi minuman yang manis.

Air Putih: Sang Juara Hidrasi Otak

Air putih dapat memberikan hidrasi yang optimal dan sangat penting untuk fungsi kognitif pada otak, karena otak sangat bergantung pada air. Apabila kita kekurangan air maka dapat menyebabkan dehidrasi dan dehidrasi tersebut dapat membuat kita merasa lelah, kurang konsentrasi dan menurunnya daya ingat. Selain itu, air putih ini mampu melakukan detoksifikasi secara alami untuk membuang racun dan gula yang berlebih dari dalam tubuh. Anjuran dalam mengonsumsi air putih yang ideal setiap harinya sekitar 2 liter atau setara dengan 8 gelas sehari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh serta menjaga kesehatan. (10)

Kira-kira ada ngga sih alternatif minuman yang tetap menarik di mata kita tetapi rendah kalori dan tanpa gula yang berlebih apabila kita ingin mengonsumsinya selain air putih? Ada dong pastinya, minuman apa saja ya kira-kira? Yuk bahas lebih lanjut.

Alternatif Minuman yang Rendah Kalori Tanpa Gula Berlebih yang Tetap Menarik

  1. Infused water, air putih yang dicampurkan dengan potongan buah tanpa tambahan gula.
  2. Susu rendah lemak
  3. Jus buah atau jus sayuran tanpa tambahan gula
  4. Teh/Kopi tawar
  5. Air kelapa tanpa tambahan gula

Kalau kita ingin mengurangi konsumsi gula, bagaimana ya strategi yang lebih tepatnya?

Strategi Mengurangi Konsumsi Gula Secara Bertahap

  1. Membaca label informasi nilai gizi
  2. Jika ingin membeli suatu produk dalam bentuk kemasan agar untuk membiasakan diri dengan check label nilai gizi di belakang kemasan tersebut dan pahami. Apabila dalam kemasan tersebut terdapat komposisi ‘’High Fructose Corn Syrup (HFCS)’’ yang memang seringkali digunakan dalam minuman olahan maka HFCS tersebut memiliki efek samping yang sama dengan gula biasa. Maka sebab itu, diusahakan untuk tidak sering mengonsumsi suatu produk yang memiliki kandungan HFCS.
  3. Menerapkan aturan 1:1
  4. Setiap ingin memesan minuman manis, agar dapat mengurangi level gulanya atau ganti ke ukuran yang lebih kecil.
  5. Mulai menentukan hari bebas gula
  6. Mulai untuk menerapkan hari bebas gula, contoh dalam seminggu dapat menerapkan hari bebas gula selama 2 hari di waktu weekend, jadi selama 2 hari tersebut tidak mengonsumsi yang manis-manis hanya boleh mengonsumsi air putih, infused water, jus buah tanpa gula, teh/kopi tawar.

Jadi, kesimpulannya kita semua baik remaja ataupun orang dewasa harus berani mengambil langkah atau tindakan dalam mengurangi gula karena keputusan tersebut merupakan keputusan yang sangat penting untuk masa depan kita. Lalu, jadikan air putih yang kita sebut sebagai sang juara hidrasi yang terbaik itu sebagai minuman favorite kita bukan dengan minuman yang manisnya berlebih itu ya, karena apa? karena kalau tubuh kita dapat terhidrasi dengan sempurna maka kita siap melangkah menjadi generasi sehat dan memiliki masa depan yang hebat yang full energi, cerdas dan tahan banting.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Fatmawati, I. Asupan Gula Sederhana sebagai Faktor Risiko Obesitas pada Siswa-Siswi Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Ilmu Gizi Indonesia. 2019: 2(2), 147.
  2. Irfan, M & Ayu, M.S. Hubungan Pola Konsumsi Minuman Bergula Terhadap Obesitas pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU Tahun 2022. Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis. 2022: 11(1).
  3. World Health Organization. Taxes on Sugary Drinks: Why Do It?. World Health Organization. 2017.
  4. Kemenkes. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. 2013.
  5. Aroni, D., Sari, A., Malina, T., Maulana, I., Helda, H., Ronaldo, L., Zakaria, N., Fauziah. Edukasi Risiko Mengonsumsi Minuman Kemasan Terhadap Penyakit Diabetes Melitus di SMP N 1 Darul Imarah Aceh Besar. Jurnal Abdimas Kesehatan. 2025: 7(2), 278-285.
  6. Rizma., Herviana., Anggraini, C.D., Gemini, S., Rosyidah, H.N. Gambaran Pengetahuan dan Sikap terhadap Minuman Manis pada Usia Dewasa Muda di Kepulauan Riau. Indonesia Berdaya. 2024: 5(3), 947-952.
  7. Kementerian Kesehatan. Situasi dan Analisis Diabetes. 2014.
  8. Maharani, S & Charissa, O. Makanan Manis sebagai Faktor Risiko Karies Gigi pada Anak SD Negeri Buni Bakti 04. Jurnal Kesehatan Tambusai. 2023: 4(2).
  9. Rai, N., Sandhu, M., Sachdev, V & Sharma, R. Evaluation of Remineralization Potential of Beverages Modified with Casein Phosphopeptide-amorphus Calcium Phosphate on Primary and Permanent Enamel: a Laser Profiler Study. Int J Clin Pediatr Dent. 2018: 11(1), 7-12.
  10. Maslani, N. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Manfaat Minum Air Putih dengan Jumlah Konsumsi Minum Air Putih dan Pola Penyakit pada Siswa SMP Negeri I Kecamatan Alalak Tahun 2016. Jurnal Skala Kesehatan. 2017: 8(1).

Bagi remaja di zaman sekarang, media sosial bukan hanya sekedar platform hiburan tetapi dapat berupa medan pertempuran dalam segi pertempuran citra diri, pertempuran FOMO (Fear of Missing Out) dan juga pertempuran dalam segi untuk selalu dapat terlihat sempurna. Pertempuran seperti itu akan menimbulkan sebuah tekanan dan tekanan tersebut akan menjadi sebuah bentuk ‘’Stres Digital’’. Stres ini dapat membawa efek samping yang buruk untuk remaja seperti tergganggunya keseimbangan emosional mereka sehingga membuat mereka pun merasa cemas, lelah mental dan bahkan kesulitan tidur. Jadi, bagaimana ya caranya untuk menanggulangi stres digital tersebut di kalangan remaja?

Mari kita bahas dulu yuk lebih detailnya terkait stres digital dan apa saja sih sumber utama stres digital itu.

Media Sosial dan Stres Digital

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7593572104990412050"}}

Media sosial walaupun menjadi bentuk elektronik dalam berkomunikasi seperti berbagai informasi, pesan pribadi dan konten lainnya tetapi memiliki dampak negatif juga karena dapat berisiko terkena kesehatan mental. (1) Selain dampak terhadap kesehatan mental yaitu dapat berupa penurunan minat dalam belajar dan kualitas tidur. Stres digital merupakan bentuk tekanan emosional yang muncul akibat interaksi intensif dengan perangkat digital atau media sosial. Hal ini dapat berupa kecemasan akibat perbandingan sosial, ketakutan akan kehilangan informasi penting atau biasa disebut dengan FOMO dan tekanan dari cyberbullying. Kalangan remaja biasanya menghabiskan waktu dalam penggunaan media digital sekitar kurang lebih 3 jam sehari. (2)

Sumber Utama Stres Digital

  1. Tuntutan Terhadap Citra Diri
  2. Media sosial dipenuhi dengan sorotan dari berbagai macam momen, menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu terlihat menyenangkan. Apabila remaja terus membandingkan realita yang ada pada diri mereka dengan ilusi yang mereka ciptakan terhadap kehidupan orang lain maka akan menimbulkan rasa rendah diri.
  3. Kecanduan Validasi
  4. Penggunaan media sosial memicu pelepasan dopamin di otak ketika seseorang menerima validasi sosial. Ketergantungan validasi ini dapat menimbulkan kecemasan apabila konten yang diposting tidak mendapatkan respon sesuai yang mereka harapkan sehingga akan berdampak negatif ke harga diri. (3)
  5. Fear Of Missing Out (FOMO)
  6. FOMO adalah rasa takut atau kegelisahan yang timbul akibat merasa tertinggal atau kehilangan pengalaman yang dirasakan penting dan menyenangkan yang dialami oleh orang lain. (4) Ini seringkali berkaitan dengan penggunaan media sosial yang terus menerus dan dirasa perlu sekali untuk memeriksa update dan aktivitas yang berada di sosial media agar tidak tertinggal informasi yang mungkin sedang populer di kalangan teman atau orang sekitar. FOMO ini memiliki dampak negatif seperti mental remaja tersebut akan tergganggu dan emosionalnya pun tidak akan stabil. (5)
    1. Cyberbullying
    2. Cyberbullying adalah salah satu faktor utama stres digital yang menyerang remaja. Cyberbullying ini dapat terjadi dalam bentuk penghinaan, penyebaran rumor atau penyalahgunaan informasi pribadi di sosial media. Korban dari cyberbullying ini biasanya akan mengalami gejala depresi, kecemasan hingga ada pemikiran untuk bunuh diri. (6)
    3. Peran Teman Sebaya
    4. Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang dilakukan oleh teman sebaya juga memainkan peran besar, seperti memaksakan mereka untuk tetap aktif di media sosial agar tetap sejalan dalam kelompok sosial mereka. Apabila remaja tersebut tidak dapat mengikuti kebiasaan atau standar yang ditetapkan oleh teman sebaya dapat menyebabkan isolasi sosial dan perasaan tidak berharga. (7)

    Lalu, bagaimana sih cara mencegah agar tidak mengalami stres digital atau menangani hal tersebut apabila sudah mengalaminya? Mari kita bahas dibawah ini secara lebih detailnya ya.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Stres Digital

  1. Orang Tua Membuat Aturan Sehat Terhadap Penggunaan Teknologi
  2. Orang tua memiliki kebijakan dalam membuat aturan secara sehat terkait penggunaan teknologi terhadap anak remaja mereka karena apabila keluarga menerapkan itu maka remaja memiliki keseimbangan antara kesehatan mental dengan pola tidur mereka.
  3. Pendidikan Literasi Digital
  4. Sekolah dapat menerapkan literasi digital untuk membantu siswanya agar memahami cara penggunaan teknologi dengan bijak. (1)
  5. Penyediaan Konseling Psikologis
  6. Layanan konseling di sekolah dapat membantu dalam menangani stres digital dengan memberikan waktu kepada konselor dalam memberikan panduan untuk memanage stres, mengidentifikasi tekanan sosial dan dapat membangun hubungan komunikasi interpersonal. (1)
  7. Mengembangkan Kesadaran Diri dan Mengelola Waktu Digital dengan Bijak
  8. Remaja disarankan untuk lebih mengenali dampak dari penggunaan teknologi terhadap kesehatan mental mereka dengan cara mengidentifikasi kapan teknologi tersebut mulai mempengaruhi emosi, perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain. (6) Mereka juga seharusnya dapat berhenti mengikuti akun yang memang secara nyata membuat mereka cemas atau tidak bahagia secara konsisten dengan mengganti ke akun yang memang memberikan mereka inspirasi atau humor atau dukungan kesehatan mental atau bahkan konten edukatif lainnya. Remaja perlu menetapkan jadwal untuk screen time dengan menggunakan pemantau waktu, selain itu mereka juga perlu mengganti kegiatan digital mereka dengan kegiatan fisik seperti melakukan aktivitas fisik setiap hari dengan berjalan kaki atau bersepeda atau berolahraga dengan tim untuk melepaskan endorfin yang menetralkan stres, selain itu juga bisa melakukan quality time bersama keluarga dan teman tanpa alat elektronik.
  9. Melakukan Latihan Mindfullness
  10. Latihan mindfullness itu penting sekali dalam membantu remaja untuk menghadapi stres digital dengan meditasi atau latihan pernapasan. (1)

Oleh sebab itu, kesimpulannya adalah screen time itu boleh tetapi kita harus punya batas waktu dalam melakukan screen time agar kita tidak terkena stres digital. Jadikanlah dunia maya itu sebagai alat untuk meraih tujuan kita, bukan untuk mengukur harga diri kita sendiri. Sebagai remaja, kita harus memiliki mental yang tangguh dan hidup yang seimbang agar siap melangkah menjadi ‘’Generasi Hebat’’ dalam menguasai teknologi.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Subandi., Susilowati, D., Riyanto. Kecemasan Akademik dan Digital: Analisis Stres Remaja dengan Pendekatan Psikoedukasi. Jakarta: Nuansa Fajar Gemilang. 2025.
  2. Curtis, J., et al. Digital Habits and Their Mental Health Impact on Adolescents. Harvard Graduate School of Education. 2023
  3. Holzbauer, J. The Impact of Social Media on Adolescents Mental Health. University of Utah Health. 2024.
  4. Przybylski., et al. Motivational, Emotional and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Jurnal Psikologi. 2013: 29.
  5. Young, K.S. Internet Addivtion: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment. Canada: John Wiley&Sons, Inc. 2010.
  6. Engein, R., et al. Body Image in The Digital Age: The Influence of Fitspiration on Youth. 2020.
  7. Twenge, J.M., et al. The Social Media Paradox: How It Affects Youth Well-Being. Current Psychiatry Reports. 2020.