Peradangan lambung baik dalam bentuk gastritis, maag, maupun GERD bisa membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Rasa perih, kembung, hingga mual sering muncul setelah makan. Berikut panduan makan ramah lambung, lengkap dengan waktu dan pantangan praktis agar kamu kenyang tanpa “menyiksa” perut.

Bahan Makanan yang Dianjurkan

FOTO ARTIKEL WEBSITE-101

Makanan yang lembut, rendah lemak, dan tidak merangsang produksi asam lambung sangat disarankan. Beberapa contoh bahan makanan yang bisa dikonsumsi:

  1. Karbohidrat: beras dibubur/ditim, kentang rebus, makaroni, bihun, kraker, biskuit, tepung-tepungan seperti hunkwe, maizena dibuat dalam bentuk puding.
  2. Protein hewani: daging sapi, ayam yang empuk dan rendah lemak atau digiling/dicincang, hati sapi, ikan yang tidak banyak duri, telur direbus/dimasak tim/ceplok air, susu segar, susu full cream, susu skim.
  3. Protein nabati: kacang hijau, tahu, tempe direbus dan dicincang atau dihaluskan.
  4. Sayuran: sayuran tidak berserat dan tidak mengandung gas seperti bayam bit, buncis, labu siam, wortel, dan lain-lain.
  5. Buah-buahan: pepaya, pisang, jambu biji, dan sari buah.
  6. Lemak: minyak sayur, biji matahari, minyak, margarin, mentega, dan santan encer.
  7. Bumbu: dalam jumlah terbatas garam, kecap, kunyit, laos, salam, kunci, terasi, kayu manis, pala, dan cengkeh.
  8. Minuman: teh encer, sirup, jus sayuran, dan jus buah, serta air putih.

Bahan Makanan yang Sebaiknya Dihindari

Beberapa makanan dan minuman dapat memicu produksi asam lambung atau mengiritasi dinding lambung. Berikut makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari.

  1. Karbohidrat: nasi goreng, ketan, jagung, singkong, ubi, talas, dan cantel.
  2. Protein hewani: telur goreng, daging, ikan, dan ayam yang diawetkan seperti daging asap, dendeng, ikan asin, pindang, serta sosis.
  3. Protein nabati: kacang tanah, kacang tolo, kacang merah, dan kacang kedelai.
  4. Sayuran: sayuran mentah, nangka muda, kol, kembang kol, sawi hijau, sawi putih, daun singkong, caisim, daun kacang panjang, dan daun lobak.
  5. Buah-buahan: buah yang masih mentah, mengandung serat tinggi dan menimbulkan gas seperti nangka, durian, kedondong, nanas, kemang, dan buah lain yang dikeringkan.
  6. Lemak: minyak jenuh seperti minyak sawit/kelapa, santan kental, kelapa, makanan yang digoreng.
  7. Bumbu: mustard, cabai, merica, serta bumbu lainnya yang tajam.Beberapa makanan dan minuman dapat memicu produksi asam lambung atau mengiritasi dinding lambung.
  8. Minuman: kopi, teh kental, serta minuman yang mengandung alkohol dan soda. (1–3)

Waktu dan Cara Makan yang Ideal

1. Makan dalam Porsi Kecil dan Sering

Mengonsumsi makanan dalam porsi kecil namun lebih sering, seperti 5–6 kali sehari, dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung dan mencegah refluks asam. Porsi kecil juga meminimalkan produksi asam lambung berlebih yang sering terjadi setelah makan besar. (4)

2. Menjaga Jadwal Makan yang Teratur

Menetapkan jadwal makan yang teratur setiap hari membantu mencegah produksi asam lambung yang berlebihan. Bagi penderita lambung sensitif, dianjurkan untuk sarapan antara jam 06.00–08.00, diikuti camilan ringan sekitar jam 09.30–11.30 agar perut tidak terlalu lama kosong. Pilihan camilan yang baik antara lain kentang rebus, roti gandum, atau buah-buahan rendah asam seperti pepaya. Makan siang sebaiknya dilakukan sekitar jam 12.00–13.00, dan di sore hari dapat mengonsumsi makanan ringan seperti bubur kacang hijau, air kelapa, atau kacang- kacangan. Makan malam idealnya dikonsumsi 2–3 jam sebelum tidur. Jika jam tidur sekitar jam 20.00–21.00, maka makan malam sebaiknya dilakukan antara jam 18.00–19.00. (5)

3. Hindari Berbaring Setelah Makan
FOTO ARTIKEL WEBSITE-90

Setelah makan, beri jeda minimal 2-3 jam sebelum berbaring atau tidur. Hal ini membantu mencegah asam lambung naik ke kerongkongan yang dapat menyebabkan rasa panas atau nyeri di dada. (6)

Pola Hidup Sehari-hari yang Mendukung Lambung Sehat

Menjaga lambung tetap sehat tak cukup hanya dari makanan. Kebiasaan harian juga berperan penting dalam mencegah gejala gastritis dan refluks asam.

  1. Kelola Stres
    Stres dapat memperburuk refluks dan gangguan lambung. Teknik relaksasi seperti meditasi dan latihan pernapasan dapat membantu menenangkan sistem pencernaan. (7)
  2. Tinggikan Kepala Saat Tidur
    Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dapat membantu mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Tidur miring ke kiri juga disarankan karena posisi ini lebih untuk pencernaan. (8)
  3. Lakukan Aktivitas Fisik Ringan Secara Teratur
    Berjalan kaki selama 10–15 menit setelah makan dapat membantu memperlancar pencernaan dan mencegah naiknya asam lambung. Aktivitas ringan ini membantu gravitasi menjaga makanan tetap di lambung dan mengurangi tekanan yang dapat memicu refluks. Sebaliknya, hindari langsung berbaring atau melakukan olahraga berat setelah makan. (9)
  4. Hindari Rokok dan Alkohol
    Nikotin dan alkohol dapat mengiritasi lambung serta melemahkan otot di ujung bawah kerongkongan, sehingga memperburuk refluks. (10)

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejala seperti perih, mual, atau nyeri ulu hati terus berulang atau semakin parah, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Penggunaan obat pereda nyeri, terutama dari golongan antiinflamasi non steroid (OAINS), tidak dianjurkan digunakan sembarangan karena dapat memperparah iritasi lambung bila tidak disertai dengan obat pelindung lambung. (11,12) Lambung sensitif bukan akhir dari kenikmatan makan. Dengan memilih makanan yang tepat, mengatur waktu makan, serta menjaga pola makan yang teratur, gejala bisa dikendalikan tanpa mengorbankan asupan gizi. Dengarkan sinyal tubuh, dan jangan ragu berkonsultasi jika keluhan terus berulang.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Pakar Gizi Indonesia. Asuhan Gizi Klinik. Cetakan 20. Supariasa IDN, Handayani D, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2020. 122–125 hal.
  2. Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Asosiasi Dietisein Indonesia. Penuntun Diet dan Terapi Gizi. Cetakan 20. Surhayati, Hartati SAB, Kresnawan T, Sunarti, Hudayani F, Darmarini F, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2021. 160–161 hal.
  3. Primaya Hospital. Diet Lambung [Internet]. [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://primayahospital.com/p/diet-lambung/
  4. Klinik Asam Lambung. Kapan Jam Makan Penderita GERD yang Terbaik? [Internet]. 2024 [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://klinikasamlambung.com/jam-makan-penderita-gerd/
  5. Tim Medis Siloam Hospitals. Jam Makan yang Baik untuk Penderita Asam Lambung, Pagi-Malam! [Internet]. Siloam Hospitals. 2025 [dikutip 21 Mei 2025]. Tersedia pada: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/jam-makan-yang-baik-untuk-penderita- asam-lambung
  6. Stuart A. Got Bad Heartburn? Make These Changes [Internet]. WebMD. 2024 [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://www.webmd.com/heartburn-gerd/treating-acid-reflux-disease-with-diet- lifestyle-changes
  7. Harvard Health Publishing. Could Stress be Making My Acid Reflux Worse? [Internet]. 2022 [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/could-stress- be-making-my-acid-reflux-worse
  8. Suni E. How to Sleep Better with Acid Reflux [Internet]. Sleep Foundation. 2024 [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://www.sleepfoundation.org/physical-health/gerd-and-sleep
  9. Hellosehat. 9 Manfaat Jalan Kaki setelah Makan, 15 Menit Saja Cukup [Internet]. [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/jalan-kaki-setelah-makan/
  10. Ness-Jensen E, Lagergren J. Tobacco Smoking, Alcohol Consumption and Gastro-Oesophageal Reflux Disease. Best Practice and Research: Clinical Gastroenterology. 2017;31(5):501–8.
  11. Basagili MI. Diet Gastritis (Maag) [Internet]. AhliGiziID. 2019 [dikutip 20 Mei 2025]. Tersedia pada: https://ahligizi.id/blog/2019/11/23/diet-gastritis-maag/#google_vignette
  12. Lanza FL, Chan FKL, Quigley EMM, Inadomi J, Baroni D, Bernstein D, et al. Guidelines for Prevention of NSAID-Related Ulcer Complications. American Journal of Gastroenterology. 2009;104(3):728–38.

Tantangan pembangunan kesehatan pada masa sekarang yaitu perubahan pola penyakit, dimana sebelumnya didominasi oleh penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. (1) Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak ditularkan oleh individu, namun disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup seseorang. (2) Penyakit ini banyak ditemukan di negara-negara dengan pendapatan menengah hingga rendah, salah satunya Indonesia. (3)

Apa Saja Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada Lansia?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-104

Lansia diartikan sebagai individu berusia 60 tahun ke atas dan sering kali dikaitkan dengan penurunan fisik serta ketidakberdayaan. Seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh lansia cenderung menurun akibat terjadi penuaan, sehingga mereka lebih rentan terhadap PTM. (1) Penyakit yang tergolong ke dalam PTM antara lain adalah Penyakit kardiovaskuler (jantung, aterosklerosis, hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke), diabetes melitus serta kanker. (4) Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke orang, PTM memiliki jangka waktu yang panjang dan pada umumnya berkembang secara lambat. (5) Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi PTM di Indonesia menunjukkan angka tertinggi pada kelompok usia tertentu. Misalnya, pada usia 65-74 tahun, prevalensi asma mencapai 3,2%, kanker 3,2%, diabetes melitus 6,7%, penyakit jantung 4,6%, hipertensi 26,1%, stroke 41,3%, dan penyakit ginjal kronis 0,57% pada usia di atas 75 tahun. (6)

Bagaimana pengendalian PTM pada Lansia?

PTM dapat dikelola melalui pencegahan dan deteksi dini (7) Penyakit tidak menular dapat dicegah dengan menghindari faktor resiko antara lain perilaku merokok, pola makan yang tidak seimbang, konsumsi makanan yang mengandung zat adiktif, kurang berolahraga serta kondisi lingkungan yang buruk terhadap kesehatan (8,9) Pendekatan atau pola hidup yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit tidak menular di Indonesia dikenal dengan istilah CERDIK. (10) Program gerakan perilaku CERDIK adalah solusi alternatif sebagai langkah preventif yang dibuat agar lansia sehat, bugar, dan bebas dari penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit infeksi. Program ini meliputi Cek kesehatan, Enyahkan pola hidup tidak sehat, Rajin olahraga, Diet yang sehat, Istirahat cukup dan Kelola stres. (11)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-103
1. Cek Kesehatan

Pengecekan kesehatan bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit sejak dini. (10) Cek kesehatan meliputi pengukuran tekanan darah, nadi, suhu, glukosa darah, maupun kolesterol. Pengecekan kesehatan dilakukan secara rutin atau teratur, baik di rumah, puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat. (12) Manfaat melakukan cek kesehatan dapat menghindari penyakit tidak menular seperti serangan jantung. Selain itu, kepatuhan lansia terhadap pengobatan juga sangat penting, sebab tanpa ada kepatuhan dari diri lansia, obat terbaik pun tidak ada hasilnya. (13)

2. Enyahkan asap rokok

Penuaan yang mempengaruhi organ lanjut usia diperburuk oleh perilaku berisiko di masa lalu. Perilaku merokok yang terus menerus dapat mempengaruhi kesehatan sistem saluran pernapasan. (14) Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar 2018 bahwa masyarakat pada kelompok umur lanjut usia (60-65+) dengan persentase perilaku merokok setiap hari berada pada kisaran 25 persen, dan 10 persennya adalah mantan perokok (15) Merokok dapat menyebabkan penyakit hipertensi dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung maupun penyakit paru. Selain itu, merokok juga berdampak negatif pada orang lain dan keadaan finansial pun ikut terkena dampak buruk lainnya dari merokok. Maka, berhenti merokok merupakan langkah tepat demi kesehatan dan kehidupan yang lebih baik lagi. (13)

3. Rajin olahraga atau aktivitas fisik

Rajin berolahraga dapat menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular. Berolahragalah atau aktivitas fisik pada lansia setidaknya minimal 10 menit per hari sebanyak 3-5 kali per minggu. (10) Manfaat olahraga teratur, terjadwal, tepat intensitas dan tipenya, tidak hanya ditujukan sebagai tatalaksana penyakit tidak menular, melainkan untuk meningkatkan imunitas tubuh pada lansia. (13)

4. Diet seimbang

Konsumsi makanan yang mengandung zat gizi sangat dibutuhkan oleh tubuh, meliputi karbohidrat; protein; lemak; vitamin; dan mineral. (13) Diet sehat dan seimbang juga membatasi konsumsi gula tak lebih dari 4 sendok makan per hari, garam tak lebih dari 1 sendok teh per orang per hari, lemak atau minyak tak lebih dari 5 sendok makan per hari. Lansia juga perlu mengurangi konsumsi gula putih atau gula merah, sirup serta madu. Batasi konsumsi makanan dengan kandungan garam tinggi seperti keju, buah kering, makanan kemasan, kacang asin dan keripik kentang. Lansia juga mengonsumsi makanan sumber protein seperti daging tanpa lemak, kacang kering, unggas, ikan, dan kacang polong. Kurangi konsumsi daging merah, jeroan, dan telur. Selain itu konsumsi susu yang rendah lemak. (10)

5. Istirahat cukup

Istirahat yang cukup diperlukan untuk menunjang metabolisme tubuh agar dapat berjalan dengan baik. Istirahat bukan hanya tidur, tetapi juga relaksasi pasca beraktifitas seperti menonton maupun membaca buku. Bagi lansia, dianjurkan untuk memiliki waktu tidur 6-8 jam per hari. (12,13)

6. Kelola stres

Lansia dapat mengelola stres dengan melakukan ibadah, yoga, maupun bersosialisasi dengan teman. (12)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Khoiriyah H, Rahayu E, Liandani M, Hidayati N, Puspasari I. H. Upaya Peningkatan Pengetahuan Lansia Terhadap PTM (Penyakit Tidak Menular). Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara. 2024;5(4):6494–6498.
  2. Damasceno A. Noncommunicable disease. Dalam: The Heart of Africa [Internet]. John Wiley & Sons, Ltd; 2016 [dikutip 16 Mei 2025]. hlm. 155–7. Tersedia pada: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/9781119097136.part5
  3. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018.
  4. Domili I, Anasiru MA, Igirisa Y, Kumalasari M. Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular (Ptm) Dan Demonstrasi Makanan Selingan Berbahan Pangan Lokal. JMM J Masy Mandiri [Internet]. 17 Oktober 2022 [dikutip 16 Mei 2025];6(5). Tersedia pada: http://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/10796
  5. Asmin E, Tahitu R, Que BJ, Astuty E. Penyuluhan Penyakit Tidak Menular Pada Masyarakat. Community Dev Jurnal. 2021;2(3):940–4.
  6. Kemenkes BKPK. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Dalam Angka. Jakarta: Kementerian Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan; 2023.
  7. Girsang VI, Purba IE, Harefa K. Pendidikan Kesehatan Peningkatan Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Jurnal Abdimas Mutiara. 2022;3(1):321–6.
  8. Utama F, Rahmiwati A, Alamsari H, Lihwana MA. Gambaran Penyakit Tidak Menular di Universitas Sriwijaya. Jurnal Kesehatan. 2019;11(2):52–64.
  9. Trisnowati H. Pemberdayaan Masyarakat untuk Pencegahan Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular ( Studi pada Pedesaan di Yogyakarta ) Community Empowerment to Prevent Risk Factors of Non Communicable Diseases ( Case in A Rural Communities of Yogyakarta ). Jurnal MKMI. 2018;14(1):17–25.
  10. Kemenkes RI. CERDIK, Rahasia Masa Muda Sehat dan Masa Tua Nikmat! [Internet]. 2022 [dikutip 19 Mei 2025]. Tersedia pada: https://ayosehat.kemkes.go.id/cerdik-rahasia-masa-muda-sehat-dan-masa-tua-nik mat
  11. Susanti Y, Anita A, Santoso DYA. Perilaku Cerdik Penderita Hipertensi Dimasa Pandemi Covid 19. Jurnal Keperawatan [Internet]. 9 Januari 2021 [dikutip 19 Mei 2025];13(1):61–76. Tersedia pada: https://journal.stikeskendal.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/1116
  12. Puskesmas Janti. LANSIA CERDIK – Puskesmas Janti [Internet]. 2022 [dikutip 19 Mei 2025]. Tersedia pada: https://puskjanti.malangkota.go.id/2022/06/07/lansia-cerdik/
  13. Puskesmas Sukamulya. Penyuluhan Pengendalian Hipertensi dengan Cerdik pada Lansia [Internet]. 2024 [dikutip 19 Mei 2025]. Tersedia pada: https://mail.pkm-sukamulya.ciamiskab.go.id/artikel/penyuluhan-pengendalian-hipe rtensi-dengan-cerdik-pada-lansia
  14. Rouatbi S. Aging, tobacco use and lung damages. 2022;100(4):295–302.
  15. Riskesdas 2018. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (LPB); 2019.

Di zaman yang modern ini, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan akibat dari kemajuan teknologi. Gaya hidup yang modern menjadikan manusia cenderung menginginkan segala sesuatu serba cepat dan praktis termasuk dalam aspek pemilihan makanan. Tuntutan gaya hidup tersebut, kemudian mendorong individu untuk mengkonsumsi Ultra-Processed Food (UPF) karena bukan hanya kemudahan yang ditawarkan tetapi juga rasa yang enak serta harga yang terjangkau.

Tapi tahukah kamu apa itu sebenernya Ultra Processed Food (UPF)?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-101

Ultra-Processed Food (UPF) adalah produk makanan dan minuman yang dibuat melalui proses industri, mengandung sedikit atau bahkan tanpa bahan makanan utuh dan melalui modifikasi kimia seperti hidrogenasi dan ekstrusi. [1] UPF dirancang agar mudah dikonsumsi kapan saja dan di mana saja dengan tambahan zat-zat yang dapat menggugah selera seperti lemak, karbohidrat olahan (tepung, gula) dan garam. [2] UPF juga mengandung bahan-bahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, perisa, emulsifier dan bahan tambahan lainnya. Akibatnya, produk ini memiliki kandungan tinggi energi, gula, lemak, dan garam, rendah serat [3] serta memiliki masa simpan yang cenderung lama. [4] Beberapa contoh produk-produk UPF diantaranya makanan ringan dalam kemasan, minuman dan makanan manis dalam kemasan, makanan beku siap saji, sereal, roti dan kue-kue komersial, produk daging olahan serta makanan instan. [5]

Mengapa produk UPF bisa menimbulkan keinginan makan berlebih (overeating) dan menyebabkan kecanduan?

Produk UPF memiliki kombinasi rasa yang menggugah selera (highly palatable) seperti tinggi gula, lemak dan garam yang dapat mengganggu keseimbangan hormon pengatur nafsu makan seperti meningkatkan kadar ghrelin (hormon pemicu lapar) dan memicu resistensi leptin (hormon kenyang), yang membuat sinyal lapar dan kenyang menjadi tidak akurat dan mendorong keinginan untuk makan berlebih (overeating). Selain itu, UPF juga bisa memicu resistensi insulin, sehingga insulin tidak lagi efektif menekan rasa lapar. Akibatnya muncul dorongan untuk terus mengkonsumsi makan terutama makanan tinggi karbohidrat olahan. Resistensi insulin yang terjadi juga bisa mengganggu kerja hormon PYY (Peptide YY) dan GLP-1 (Glucagon-like peptide 1) yang berperan dalam memberikan sinyal kenyang setelah makan. [6]

Perilaku makan berlebihan pada UPF dapat berkembang menjadi level adiksi/kecanduan. Hal tersebut dikarenakan makanan yang menggugah selera (tinggi gula, garam dan bahan olahan lainnya) seperti UPF akan mendorong otak untuk melepaskan dopamine yakni zat kimia di otak yang berperan dalam rasa senang dan kepuasan. Pelepasan dopamine yang berlebihan akibat overeating akan menurunkan sensitivitas dopamine, sehingga UPF tidak lagi memberikan rasa puas seperti sebelumnya. Akibatnya, individu cenderung makan lebih banyak/memilih makanan yang lebih kuat rasanya untuk mendapatkan rasa puas yang sama. Proses ini dikenal dengan istilah desensitisasi/neuroadaptasi. [6] Proses neuroadaptasi ini berlangsung secara bertahap melalui 5 tahapan, diantaranya :

FOTO ARTIKEL WEBSITE-102
  1. Tahap pra-adiksi
    Konsumsi UPF yang berlebihan tetapi belum menunjukkan ketergantungan. [6]
  2. Tahap awal adiksi
    Konsumsi UPF yang berlebihan tanpa kontrol, tetapi belum menunjukkan perilaku kompulsif. [6]
  3. Tahap pertengahan adiksi
    Terjadi binge eating secara kompulsif disertai gejala withdrawal (putus zat) ketika makanan tertentu dihentikan. [6]
  4. Tahap terakhir adiksi
    Tetap mengkonsumsi secara berlebihan meskipun sadar akan dampak negatif dan kehilangan kontrol sepenuhnya. [6]
  5. Tahap akhir adiksi (kritis/terminal)
    Toleransi meningkat (membutuhkan makanan dalam jumlah lebih banyak/rasa yang lebih kuat), gejala withdrawal (putus zat) makin jelas dan terdapat perilaku makan kompulsif untuk pertahanan psikologis, fisik dan fungsi yang sudah terganggu. [6]

Lalu, bagaimana cara mengurangi konsumsi UPF?

Di tengah maraknya produk UPF yang dipasarkan diperlukan strategi untuk mengurangi konsumsinya. Upaya ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah. Beberapa strategi yang perlu diperkuat antara lain : mendorong perilaku konsumsi gizi seimbang, menyediakan label khusus pada produk UPF, serta mengedukasi masyarakat tentang risiko mengkonsumsi UPF. [1] Sementara itu, upaya untuk mengurangi konsumsi UPF juga bisa dilakukan mulai dari diri sendiri, yakni dengan :

1. Memilih makanan alami (real food)

Mengubah konsumsi UPF dengan makanan yang lebih alami menjadi langkah awal yang penting. Makanan alami seperti buah-buahan, daging, sayuran, ikan dsb bukan hanya lebih bergizi tetapi juga tanpa bahan tambahan pangan seperti pengawet, pemanis buatan dan pewarna buatan. Sehingga membiasakan konsumsi makanan alami (real food) tentunya juga akan berdampak baik bagi kesehatan.

2. Mempraktikan mindful eating

Mindful eating (makan dengan kesadaran penuh) bisa membantu seseorang untuk menghindari emotional eating, yakni kebiasaan makan yang dipicu oleh dorongan emosi seperti stres, sedih, marah, atau bosan. Dalam kondisi ini, makanan cepat saji atau UPF seringkali menjadi pilihan untuk menenangkan diri secara instan. Dengan mindful eating, seseorang lebih bisa mengenali rasa lapar yang sebenarnya dan memilih makanan yang lebih sehat. [7]

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Shim, Jee-seon. Ultra-Processed Food Consumption and Obesity: A Narrative Review of Their Association and Potential Mechanism. Journal of Obesity & Mteabolic Syndrome. 2025;34(1)
  2. Lafata Erica M. dkk. Ultra-Processed Food Addiction: A Research Update. Current Obesity Reports. 2024;13(214-223)
  3. Hughes, Veronica. What is a UPF? How to Recognise Ultra Processed Food. Vitabright. Cited 2025 may 5. Available from: https://www.vitabright.co/blogs/health-hub/what-is- a-upf-how-to-recognise-ultra-processed-foods
  4. Meiliana, Yutta Lilin Sabad, dkk. Peningkatan Pengetahuan Tentang Ultra Processed Food Melalui Edukasi Gizi Pada Remaja Putri. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia. 2024;2(1).197-202
  5. Setiawati, Annisa Nur Indah. Kenali Ultra-Processed Food dan Dampaknya bagi Kesehatan. Hellosehat. 2024 [cited 2025 may 9]. Available from: https://hellosehat.com/nutrisi/fakta- gizi/ultra-processed-food/
  6. Tarman, Vera I. One size does not fit all: Understanding the five stages of ultra-processed food addiction. Journal of Metabolic Health. 2024;7(1)
  7. Murzen, Robby Firmansyah. Mindful Eating, Begini Cara Menerapkan dan Manfaatnya. Alodokter. 2024 [cited 2025 may 13]. Available from: https://www.alodokter.com/mindful- eating-begini-cara-menerapkan-dan-manfaatnya

Dalam beberapa waktu terakhir, diet One Meal A Day (OMAD) mulai viral di media sosial dan banyak diminati, khususnya oleh para pejuang berat badan ideal. Banyak orang menyebutkan bahwa metode ini efektif untuk menurunkan berat badan dengan cepat karena hanya melibatkan satu kali makan dalam sehari. Tapi, apakah diet OMAD benar-benar aman dan efektif? Atau mungkin hanya sebatas tren ekstrem yang justru berisiko?

Apa Itu Diet OMAD?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-99

One Meal A Day (OMAD) merupakan salah satu metode diet yang membatasi konsumsi makanan hanya dalam satu waktu setiap harinya. Biasanya, jendela makan berlangsung sekitar 1-2 jam, dan sisanya adalah puasa. Konsep ini mirip dengan intermittent fasting, tetapi lebih ekstrem. Di luar waktu makan tersebut, masih diperbolehkan mengonsumsi minuman tanpa kalori seperti air, kopi hitam, atau teh tawar. Fokus utama dari diet ini adalah menciptakan defisit kalori agar berat badan dapat mengalami penurunan. Karena hanya makan satu kali, asupan kalori harian pun otomatis berkurang. (1)

Manfaat Diet OMAD

  1. Penurunan Berat Badan dan Lemak Tubuh Sebuah studi dari Frontiers in Physiology, menemukan bahwa diet OMAD efektif menurunkan berat badan rata-rata 1,4 kg dan lemak tubuh 0,7 kg dalam 11 hari. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibandingkan kebiasaan makan tiga kali sehari. (2) Bagi sebagian orang, OMAD juga dapat membantunya mengatur pola makan yang lebih terkontrol. Tanpa camilan sepanjang hari, mereka merasa lebih fokus dan tidak mudah lapar. (3)
  2. Peningkatan Oksidasi Lemak Saat Berolahraga Diet OMAD dapat mendorong tubuh untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi selama olahraga, yang mencerminkan peningkatan fleksibilitas metabolik.Hal ini disebabkan karena tubuh berada dalam keadaan puasa yang memperpanjang durasi mobilisasi lemak. Saat kadar gula darah dan insulin berada dalam level rendah, tubuh secara otomatis memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar utama, terutama saat melakukan aktivitas fisik. Ini berpotensi meningkatkan efisiensi metabolik dalam jangka panjang.
  3. Penurunan Glukosa Darah Harian Kadar glukosa darah cenderung lebih rendah di paruh kedua hari (siang hingga malam), yang bisa memberi keuntungan metabolik secara jangka panjang. Kondisi ini mencerminkan kontrol glukosa yang lebih stabil, yang penting dalam mencegah resistensi insulin dan penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pola makan terbatas waktu seperti OMAD dapat menurunkan variabilitas glukosa harian, sehingga mengurangi stres metabolik pada tubuh.
  4. Manajemen Dislipidemia Penelitian dari Journal of Indian System of Medicine, menyoroti bahwa OMAD dapat secara efektif menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida, serta membantu dalam pengelolaan dislipidemia. (4) Penurunan asupan kalori harian dan peningkatan periode puasa turut mendukung perbaikan profil lipid darah. Hal ini menjadi penting karena kadar lipid yang tidak terkontrol juga bisa berlanjut pada risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Dengan metode OMAD, tubuh memiliki lebih banyak waktu untuk memproses dan menstabilkan kadar lemak dalam darah.

Risiko dan Efek Samping

Meskipun terlihat menjanjikan, pola makan OMAD belum tentu sesuai untuk setiap individu. Beberapa potensi risiko yang mungkin terjadi antara lain:

FOTO ARTIKEL WEBSITE-100
  1. Kelelahan karena kekurangan energi
  2. Kemampuan konsentrasi menurun
  3. Gangguan pencernaan saat makan dalam jumlah besar sekaligus

Selain itu, diet OMAD juga bisa menyebabkan defisiensi zat gizi jika tidak direncanakan dengan baik. Hal ini didukung oleh salah satu studi dalam Journal of Diabetes Research, bahwa mengonsumsi semua zat gizi hanya dalam satu kali waktu makan dapat berisiko menimbulkan asupan vitamin dan mineral yang tidak memadai. Hal ini utamanya terjadi jika perencanaan makan tidak dikelola dengan hati-hati. (5) Komposisi dalam satu kali waktu makan tetap dianjurkan untuk selalu memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien, seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

Apakah OMAD Cocok untuk Kamu?

Diet OMAD bisa menjadi strategi penurunan berat badan yang efektif jika dilakukan dengan benar. Namun, pola ini tidak disarankan untuk beberapa kelompok rentan, seperti ibu hamil, orang dengan riwayat gangguan makan, atau yang memiliki penyakit kronis. Jika kamu tertarik mencoba diet OMAD, sebaiknya konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan, seperti ahli gizi. Setiap tubuh punya kebutuhan yang berbeda. Jangan sampai keinginan langsing instan justru merusak kesehatan kamu.

Bijak dalam Mengikuti Tren

Diet OMAD memang terdengar menarik, terutama bagi kamu yang ingin hasil cepat. Meski begitu, penting untuk diingat bahwa pola makan yang seimbang dan bisa diterapkan dalam jangka panjang jauh lebih bernilai daripada hasil cepat yang tidak bertahan lama. Daripada fokus makan sekali sehari, yuk fokus pada asupan gizi seimbang, porsi yang tepat, dan gaya hidup aktif!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Zarabi S. One Meal a Day: Safety, Benefits, and Risks [Internet]. Healthline. 2023 [cited 2025 May 13]. Available from: https://www.healthline.com/health/one- meal-a-day
  2. Meessen, E. C., Andresen, H., van Barneveld, T., van Riel, A., Johansen, E. I., Kolnes, A. J., & Soeters, M. R. Differential effects of one meal per day in the evening on metabolic health and physical performance in lean individuals. Frontiers in physiology [Internet], 2022;12, 1-12. Available from: https://doi.org/10.3389/fphys.2021.771944
  3. Sebastian, S. A., Shah, Y., & Arsene, C. Intermittent fasting and cardiovascular disease: A scoping review of the evidence. Disease-a-Month [Internet], 2024; 101778. Available from: https://doi.org/10.1016/j.disamonth.2024.101778
  4. Choudhary, A., Chakole, B., Yadav, A. K., Vyas, M., & Bhojani, M. K. An effect of one meal a day among the patients with Medo Dushti (dyslipidemia): a case series. Journal of Indian System of Medicine [Internet], 2024;12(1), 25-31. Available from: https://doi.org/10.4103/jism.jism_70_23
  5. Liu, S., Zeng, M., Wan, W., Huang, M., Li, X., Xie, Z., & Cai, Y. The health‐promoting effects and the mechanism of intermittent fasting. Journal of diabetes research [Internet], 2023(1), 1-15. Available from: https://doi.org/10.1155/2023/4038546

Kalsium merupakan salah satu mineral penting yang diperlukan oleh tubuh untuk mendukung pertumbuhan tulang dan gigi. (1). Tidak hanya itu, kalsium juga diperlukan untuk membantu tubuh dalam menjaga kesehatan otak dan jantung, serta berperan dalam proses pembekuan darah. (2). Kekurangan kalsium dapat menyebabkan adanya masalah pertumbuhan pada anak, osteoporosis, rakitis, osteomalacia, dan masalah kesehatan lainnya. (1).

Pada masa pertumbuhan, laki-laki dan perempuan yang berusia 10-18 tahun membutuhkan 1200 mg kalsium per orang per hari berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). (3). Sumber kalsium bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan dan minuman. Mulai dari susu dan produk olahannya, ikan, sayuran hijau, kacang- kacangan dan produk olahannya, hingga makanan yang diperkaya oleh kalsium lainnya. (1,2). Makanan yang mengandung kalsium tinggi, salah satunya adalah ikan teri. Berikut adalah fakta menarik seputar ikan teri yang bisa menjadi salah satu sumber protein hewani andalan untuk mendapatkan kalsium dalam jumlah yang tinggi.

1. Kandungan kalsium pada ikan teri yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan pangan lainnya

FOTO ARTIKEL WEBSITE-97

Ikan teri merupakan salah satu protein hewani yang masuk pada kategori ikan dan olahannya. Jenis ikan ini mudah dijumpai di warung, pasar, hingga supermarket dengan harga yang terjangkau. Meskipun demikian, kandungan kalsium pada ikan teri dapat dikatakan tinggi, yaitu sebanyak 972 mg/100 g ikan teri dengan berat dapat dimakan (BDD) 100%. (4). Jika dibandingkan dengan makanan sumber kalsium lainnya, ikan teri masih bisa dikatakan unggul. Sebanyak 100 ml susu sapi segar mengandung 143 mg kalsium (BDD 100%), dua butir telur ayam ras (100 g) mengandung 86 mg kalsium (BDD 85%), 1 buah tahu mentah (100 g) mengandung 223 mg kalsium (BDD 100%), 1 gelas bayam segar (100 g) mengandung 166 mg kalsium (BDD 71%), dan 100 g kacang kedelai segar mengandung 196 mg kalsium (BDD 100%). (4). Meskipun ikan teri mengandung kalsium yang lebih tinggi, konsumsi bahan pangan lainnya juga penting untuk diperhatikan untuk menjaga kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari sesuai dengan pedoman gizi seimbang untuk mendapatkan zat gizi yang lebih lengkap dan beragam.

2. Berbagai jenis ikan teri yang dan olahannya yang kaya akan kalsium

Ikan teri yang dijumpai di berbagai tempat ternyata ada bermacam-macam. Ada yang berupa ikan teri segar, ikan teri medan, ikan teri nasi, hingga ikan teri basah. (5). Ikan teri yang mengalami pengolahan akan mempengaruhi kandungan kalsium pada ikan teri tersebut. Misalnya, ikan teri yang dibuat menjadi bubuk dan tepung masing-masing mengandung kalsium sebanyak 1200 mg dan 4608 mg/100 g. (4). Beberapa olahan ikan teri yang biasanya dijumpai sehari-hari, yaitu teri tumis kacang, teri balado, teri goreng kering, dan pepes teri. (5). Ikan teri yang mudah untuk didapat dan diolah dapat dijadikan salah satu protein hewani yang bisa dipertimbangkan untuk melengkapi makanan yang sesuai dengan isi piringku dan pedoman gizi seimbang.

3. Kandungan zat gizi penting lainnya pada ikan teri

FOTO ARTIKEL WEBSITE-98

Ikan teri tidak hanya mengandung kalsium yang tinggi, tetapi juga mengandung zat gizi lainnya yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin D, omega- 3, protein, dan zat besi. Vitamin D dibutuhkan oleh tubuh untuk membantu penyerapan kalsium. Omega-3 berperan untuk menjaga kesehatan jantung dan otak. Protein dibutuhkan untuk mendukung proses pertumbuhan dan pemeliharaan sel dan jaringan tubuh. Zat besi, dibutuhkan oleh tubuh untuk mencegah terjadinya anemia. Kandungan protein dan zat besi pada 100 g ikan teri, yaitu 10,3 g dan 3,9 mg. (4,5).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Nareza T.M. Kalsium [Internet]. Alodokter. 2022 [cited 2025 Mei 11]. p.1. Avalaible from: https://www.alodokter.com/kalsium
  2. Saras, T. Kalsium: Tulang Kuat dan Kesehatan yang Optimal. Semarang: Tiram Media; 2023. 1- 62 p.
  3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta; 2019.
  4. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta; 2018.
  5. Purba F. Mengenal Ikan Teri dan Nutrisinya [Internet]. Radio Republik Indonesia (RRI). 2024 [cited 2025 Mei 11]. p.1. Avalaible from: https://www.rri.co.id/palangkaraya/kuliner/1123152/mengenal-ikan-teri-dan-nutrisinya

Remaja putri merupakan masa transisi dari masa anak-anak hingga menjadi dewasa yang ditandai dengan terjadinya beberapa perubahan fisik dan juga mental. Menurut WHO, remaja adalah kelompok masyarakat yang berusia 10-19 tahun. (1) Untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang kreatif, mampu bersaing, dan produktif, maka kesehatan dan status gizi remaja harus dipersiapkan sejak dini karena remaja yang sehat adalah aset bangsa untuk melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Permasalahan kesehatan di Indonesia yang dialami oleh remaja di Indonesia sebagai akibat dari permasalahan gizi, salah satunya adalah anemia. (2)

Pengertian Anemia

FOTO ARTIKEL WEBSITE-95

Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari angka normal. Menurut Kemenkes RI, prevalensi anemia di Indonesia pada remaja, yaitu sebesar 32% atau dapat diartikan bahwa 3-4 dari 10 remaja Indonesia menderita anemia. Penyebab utama anemia yang umum terjadi adalah defisiensi atau kekurangan zat besi, walaupun defisiensi asam folat, vitamin B12 dan vitamin A, dan kelainan bawaaan juga dapat mengakibatkan anemia. Zat besi sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan hemoglobin. (3,4)

Penyebab Terjadinya Anemia

Remaja putri lebih mudah mengalami anemia jika dibandingkan dengan remaja laki- laki. Kebutuhan zat besi pada remaja putri 3 kali lebih banyak daripada remaja laki- laki. Setiap bulan, remaja putri mengalami menstruasi yang secara otomatis mengeluarkan darah sehingga remaja putri membutuhkan zat besi untuk mengembalikan tubuh ke kondisi semula. (5) Remaja yang kurang mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi menyebabkan ketidakcukupan zat besi pada tubuh remaja. Asupan zat besi serta zat gizi lainnya seperti protein, vitamin A, vitamin C, asam folat, B12 yang rendah dan konsumsi zat besi yang tidak tepat, misalnya ketika mengonsumsi zat besi bersamaan dengan zat lain sehingga menghambat proses penyerapan zat besi menjadi faktor penyebab tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri. (6)

Berikut beberapa penyebab kurangnya konsumsi zat besi pada remaja putri, yaitu:

  1. Kebiasaan makan yang salah
    Remaja yang memiliki tugas sekolah dan jadwal aktivitas yang padat seringkali menunda makan atau menerapkan pola makan yang salah. (7) Pada umumnya, remaja putri mempunyai kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti melewatkan sarapan, serta kebiasaan mengonsumsi makanan cemilan dan makanan siap saji yang mengandung tinggi lemak dan tinggi kalori, namun rendah zat gizi seperti zat besi. Jika kebiasaan tersebut dilakukan dalam rentang waktu yang lama, anemia akan terjadi. Makanan yang dikonsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kebiasaan makan keluarga, teman sebaya, iklan pada media sosial, dan ketersediaan pangan. (5,8)
  2. Tingkat pengetahuan gizi yang rendah
    Remaja putri yang tidak mengetahui tentang bahaya dan upaya mencegah anemia kurang memiliki sikap yang positif untuk mencegah anemia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi terkait gizi di lingkungan keluarga dan di lingkungan sekolah. Rendahnya pengetahuan gizi pada remaja putri menyebabkan adanya kesalahan dalam memilih makanan yang dikonsumsi, seperti makan makanan yang kurang bervariasi tanpa mengetahui jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika hal tersebut terjadi terus-menerus, memengaruhi kesehatan pada masa kehidupan yang akan datang dan dapat menyebabkan anemia. (8,9)
  3. Tingkat kepatuhan yang rendah
    Beberapa tindakan remaja putri yang termasuk dalam tingkat kepatuhan yang rendah, seperti jarang makan makanan yang kaya zat besi (1-3x seminggu), jarang sarapan (1-3x seminggu), sering konsumsi sumber penghambat penyerapan zat besi misalnya kebiasaan minum teh, kopi, atau susu ketika makan utama, kurang rutin minum Tablet Tambah Darah (TTD). Jika tindakan- tindakan tersebut dilakukan secara berulang, maka risiko terkena anemia semakin besar. (9)

Tanda dan Gejala Anemia

FOTO ARTIKEL WEBSITE-96

Anemia dikategorikan sebagai non-anemia (≥12 g/dL), anemia ringan (11,0-11,9 g/dL), anemia sedang (8,0-10,9 g/dL), and anemia berat (<8 g/dL) untuk nilai batas kadar hemoglobin pada remaja putri. (10) Penderita anemia memiliki beberapa gejala, antara lain pucat, denyut jantung terlalu cepat, lemah, lesu, pusing, dan mata berkunang-kunang. Pada kasus anemia berat, beberapa gejala yang dialami oleh penderita, yaitu sangat letih, gangguan kesadaran, serta beberapa komplikasi, seperti gagal ginjal, aritmia, serangan jantung, dan nyeri dada. (11,12,13)

Dampak pada Penderita Anemia

Remaja yang mengalami anemia terbatas dalam proses pertumbuhan, kapasitas belajar, dan konsentrasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, penderita anemia juga mudah menderita penyakit infeksi, berpotensi untuk putus sekolah, serta tingkat kebugaran fisik dan produktivitas kerja menurun. (14)

Bagaimana Cara untuk Mencegah Anemia?

Berikut ini adalah tindakan-tindakan pencegahan yang perlu dilakukan agar remaja putri tidak terkena anemia.

1. Konsumsi makanan yang mengandung zat gizi yang memiliki peran penting dalam mencegah anemia yang disajikan dalam tabel berikut ini.
2. Memiliki frekuensi makan yang baik adalah 3 kali sehari diselingi snack di antara jadwal makan utama, serta tidak melewatkan sarapan

Sarapan dapat memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan asupan gizi yang diperlukan tubuh.​

3. Mengupayakan agar konsumsi penghambat zat besi tidak bersamaan dengan konsumsi zat besi dan zat gizi lain yang mendukung penyerapan zat besi

Penghambat zat besi, seperti tanin, fitat, oksalat, dan kalsium dapat mengganggu penyerapan zat besi dalam usus. Contoh makanan dan minuman yang mengandung zat penghambat zat besi, yaitu kopi, teh, susu, dan minuman berkarbonasi. Oleh karena itu, bahan makanan yang mengandung zat penghambat disarankan agar dikonsumsi dua jam sebelum atau sesudah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung zat besi. (19,20)​

4. Rutin mengonsumsi TTD sebanyak satu tablet setiap minggu. (21)
Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta; 2014.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur. Jakarta; 2018.
  3. National Health Lung dan Blood Institute. Your Guide to Anemia: Anemia Healthy Lifestyle Changes. National Institutes of Health Publication; 2011. Tersedia di: https://www.nhlbi.nih.gov/sites/default/files/publications/11-7629.pdf
  4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI. Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta; 2018.
  5. Hamidiyah A. Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. Journal of Midwifery Science. 2020;4(1):1-8.
  6. Julaecha. Upaya Pencegahan Anemia pada Remaja Putri’. Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK). 2020;2(2):109.
  7. Hidayat R, Susanto A, Lestari A. Kajian Literatur: Hubungan Kebiasaan Makan dengan Kejadian Dispepsia pada Remaja. Amerta Nutrition. 2023;7(4):626-637.
  8. Sari P, Azizah DI, Gumilang L, Judistiani RTD, Mandiri A. Asupan Zat Besi, Asam Folat, dan Vitamin C pada Remaja Putri di Daerah Jatinangor. Jurnal Kesehatan Vokasional. 2019;4(4):169-175.
  9. Indriasari R, Mansur MA, Srifitayani NR, Tasya A. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan terkait Pencegahan Anemia pada Remaja Sosial-Ekonomi Menengah ke Bawah di Makassar. Amerta Nutrition. 2022;6(3):256-261.
  10. Addo OY, Yu EX, Williams AM, Young MF, Sharma AJ, Mei Z, et al. Evaluation of Hemoglobin Cutoff Levels to Define Anemia Among Healthy Individuals. JAMA Network Open. 2021;4(8):1- 13.
  11. Bakta IM. Henatologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC; 2018.
  12. Amalia A, Tjiptaningrum A. Diagnosis dan Tatalaksana Anemia Defisiensi Besi. Majority. 2016;5(5):166-169.
  13. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol. 1 ed.6. Jakarta: EGC; 2009.
  14. Sari P, Herawati DMD, Dhamayanti M, Hilmanto D. Anemia amongAdolescent Girls in West Java, Indonesia: Related Factors and Consequences on the Quality of Life. Nutrients. 2022;14(18):1-13.
  15. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta; 2019.
  16. Blongkod FR, Arpin. Analysis of Dieting, Intake and Nutritional Status of Bina Mandiri Gorontalo University Students During Pandemic. Jurnal Gizi dan Kesehatan. 2022;14(2):177-190.
  17. Zulfa Q, Fitranti DY, Wijayanti HS, Noer ER. Asupan Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E, BCAA dan Kaitannya dengan Kadar hs-CRP pada Member Fitness Center Dewasa. 2023;8(1):100-110.
  18. Mulyani E. Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Pada Buah Kiwi (Actinidia Deliciousa) Dengan Menggunakan Metode Iodimetri Dan Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Farmasi, Sains, Dan Kesehatan. 2018;3(2):14-17.
  19. Febrianti KD, Ayu WC, Anidha Y, Mahmudiono T. Efektivitas Edukasi Gizi Pada Pengetahuan Terkait Anemia dan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Usia 12-19 Tahun: Tinjauan Sistematis dan Meta Analisis. Amerta Nutrition. 2023;7(3):478-486.
  20. Thankachan P, Walczyk T, Muthayya S, Kurpad AV, Hurrell RF. Iron Absorption in Young Indian Women: The Interaction of Iron Status with The Influence of Tea and Ascorbic Acid. Am J Clin Nutr. 2008;881–886.
  21. Sutanti Y, Briawan D, Martianto D. Suplementasi Besi Mingguan Meningkatkan Hemoglobin Sama Efektif dengan Kombinasi Mingguan dan Harian pada Remaja Putri. J. Gizi Pangan. 2016;11(1)27-34Press; 2019. 32–33 p.