Desain tanpa judul (1)

Hai, Sobat Giziku! Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, semakin meluas profesi yang dibutuhkan untuk memberikan layanan optimal kepada masyarakat. Masalah gizi menjadi suatu permasalahan yang disoroti dunia yang hingga sampai saat ini belum dituntaskan secara maksimal. Profesi yang dikenal bergelut dalam bidang gizi adalah ahli gizi, dietisien, dan dokter spesialis gizi klinik. Apa perbedaan antara ahli gizi dengan dokter spesialis gizi klinik? Yuk, simak artikel dibawah ini!

Peran dan Tugas Ahli Gizi (Nutritionist)

Ahli gizi merupakan seseorang dengan profesi khusus dalam bidang gizi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai terkait gizi yang diperoleh melalui pendidikan. Seseorang dapat dikatakan ahli gizi apabila telah berhasil menempuh jenjang pendidikan vokasi seperti Diploma III dan Diploma IV Gizi dan/atau pendidikan akademik seperti Sarjana dan Profesi Gizi serta lulus Uji Kompetensi. Ada istilah nutrisionis dan dietisien. Nutrisionis biasanya tidak dapat bekerja di rumah sakit dan menangani pasien dengan masalah medis khusus. Hal ini ditangani oleh seorang dietisien yang memiliki kualifikasi dan wewenang yang lebih tinggi untuk memberikan diet dalam menunjang proses penyembuhan pasien di rumah sakit.

Ahli gizi memiliki peran penting dalam upaya perbaikan dan pemecahan masalah gizi, seperti melalui perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang; perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik dan kesehatan; peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi [3]. Upaya ahli gizi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait gizi pun beraneka ragam, seperti melakukan konseling, penyuluhan, dan penyelenggaraan makanan dan asuhan gizi bagi masyarakat. Ahli gizi lebih berfokus pada penentuan jenis dan jumlah asupan yang tepat untuk penderita penyakit tanpa adanya komplikasi.

Desain tanpa judul

Berikut merupakan kewenangan yang dimiliki oleh ahli gizi dalam menjalankan tugasnya:

  1. Memberikan pelayanan berupa konsultasi dan konseling gizi serta tata cara diet.
  2. Menentukan status gizi dan faktor yang mempengaruhi kondisi atau gangguan terkait status gizi.
  3. Menegakkan diagnosis gizi berdasarkan pemeriksaan antropometri, klinis, biokimia, asupan makanan, dan riwayat penyakit serta konsumsi obat-obatan.
  4. Menentukan tujuan, prinsip, dan rencana intervensi gizi melalui perhitungan kebutuhan zat gizi klien, bentuk makanan, jumlah energi, kebutuhan zat gizi makro dan mikro, pola makan sesuai dengan kondisi klien.
  5. Mengelola penyediaan makanan baik di rumah sakit, institusi, maupun masyarakat.
  6. Merancang dan membuat perencanaan menu hingga saran penyajian makanan.
  7. Melaksanakan edukasi dan promosi gizi dan kesehatan kepada klien dan masyarakat.
  8. Melakukan penelitian dan pengembangan gizi sesuai dengan perkembangan IPTEK.
  9. Selain itu, seorang ahli gizi memiliki 4 kewajiban, yaitu kewajiban terhadap klien, kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban terhadap teman seprofesi dan mitra kerja, dan kewajiban terhadap profesi dan diri sendiri (3).

Peran dan Tugas Dokter Spesialis Gizi Klinik

Seorang dokter spesialis gizi klinik adalah dokter spesialis yang berfokus dalam menangani permasalahan kesehatan pasien terkait dengan gizi. Latar belakang pendidikan dokter spesialis gizi klinik adalah dokter umum yang telah menyelesaikan pendidikan magister (S2) gizi, menjalani pendidikan spesialisasi ilmu gizi klinik selama 3 tahun (6 semester), dan mendapatkan gelar Sp.GK. Biasanya dokter spesialis gizi klinik akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan dokter spesialis lain untuk menangani kondisi pasien. Selain itu, dokter spesialis gizi klinik juga memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promosi dan edukasi terkait gizi.

Peran dokter spesialis gizi klinik juga beragam, seperti membantu terkait pengentasan malnutrisi pada anak. Dokter spesialis gizi klinik berperan dalam memberikan layanan konseling, pengaturan tata cara diet pasien, dan edukasi dengan komunikasi efektif terhadap pasien dan keluarga. Beberapa penyakit yang ditangani oleh dokter spesialis gizi klinik seperti penyakit sistem imun dan kanker, perawatan gizi pada pasien luka bakar, gangguan fungsi hati dan pankreas, gangguan penyakit jantung dan metabolisme seperti diabates (1).

Kompetensi dan kewenangan yang dimiliki oleh dokter spesialis gizi klinik berupa kemampuan dan keterampilan dalam melakukan tugasnya terkait prosedur klinis dan gizi melalui beberapa penatalaksanaan gizi seperti:

 
  1. Melakukan pemeriksaan fisik dan interview medis.
  2. Melakukan pemeriksaan penunjang dalam meninjau status gizi dan metabolisme tubuh.
  3. Memberikan terapi gizi serta pola makan tertentu, termasuk meresepkan jumlah energi sehari dan kebutuhan zat gizi makro dan mikro.
  4. Memberikan pemenuhan kebutuhan gizi serta cairan pada pasien.
  5. Mengambil keputusan dalam cara pemberian gizi, baik melalui oral, pipa nasogastrik/NGT, dan/atau infus.
  6. Memberikan promosi dan edukasi kesehatan dalam upaya pencegahan penyakit bagi pasien dan masyarakat.
  7. Mengevaluasi terapi pemberian gizi dan status gizi serta kesehatan pasien secara menyeluruh (1).
  8. Menerapkan kaidah International Patient Safety Goals (IPSG) dalam tiap tindakan pelayanan gizi secara klinis (2).
Desain tanpa judul (2)

Memiliki Tujuan yang Sama, Tetapi Ini Bedanya Ahli Gizi dan Dokter Spesialis Gizi Klinik

Sama-sama merupakan profesi yang bertujuan untuk menangani dan memperbaiki gizi masyarakat di Indonesia, lalu apa perbedaan ahli gizi dan dokter spesialis gizi klinik?

Seorang ahli gizi atau nutrisionis berfokus pada pemberian saran seputar masalah gizi (4) dan pola makan sehat dan bergizi seimbang bagi masyarakat melalui edukasi dan penyuluhan dengan media interaktif kepada masyarakat. Selain itu, ahli gizi dapat memberikan rekomendasi aktivitas fisik serta melakukan penyediaan makanan (food service) di institusi maupun perusahaan komersial. Sedangkan, dokter spesialis gizi klinik berfokus pada penentuan pemberian terapi medis terkait gizi, peningkatan status gizi pasien sesuai dengan riwayat penyakit, pemberian suplementasi/parenteral/enteral dan monitoring evaluasi terkait status gizi (1).

Dapat disimpulkan bahwa ahli gizi dan dokter spesialis gizi klinik memiliki kewenangan dan kewajiban yang berbeda, namun dapat saling berkolaborasi dan mempunyai tujuan yang sama untuk menentukan pola makan yang baik dan sehat dalam penanganan masalah gizi dan perbaikan status gizi di masyarakat.

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Adrian K. 2018. Serba-serbi Profesi Dokter Spesialis Gizi. https://www.alodokter.com/serba-serbi-profesi-dokter-spesialis-gizi
  2. Konsil Kedokteran Indonesia. 2018. Salinan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 55 Tahun 2018 tentang Standar Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Gizi Klinis.
  3. Hardinsyah dkk. Ilmu Gizi: Teori dan Aplikasi. 2014. EGC, Jakarta.
  4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 374/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Gizi. (2007). Retrieved 17 March 2021, from https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/kmk3742007.pdf

FOTO ARTIKEL WEBSITE (42)

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) tentu sudah tidak asing lagi, salah satu pusat layanan kesehatan ini sepertinya sudah akrab dengan masyarakat. Puskesmas menjadi fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama bagi masyarakat dengan lebih mengutamakan pada upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat. Terdapat beberapa poli layanan di Puskesmas antara lain poli umum, KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), gigi, farmasi, dan salah satunya ada poli gizi. Jika kita sedang berkunjung ke Puskesmas sepertinya jarang ada yang masuk ke poli gizi atau bahkan masih banyak yang belum mengetahui keberadaan dan peran poli gizi di Puskesmas.

Coba kita tinjau bersama terkait adanya pemberian tablet besi (Fe) untuk ibu hamil, vitamin A untuk bayi, dan kegiatan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) lainnya, Seluruh kegiatan tersebut bersinergi dengan layanan gizi masyarakat dari Puskesmas. Pelayanan gizi masyarakat adalah suatu kegiatan atau pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat, seperti perbaikan perilaku sadar gizi, pola konsumsi makanan, akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.(1) Pelayanan gizi masyarakat terdapat 2 macam kegiatan, yaitu di dalam gedung puskesmas/poli gizi dan diluar gedung puskesmas. Pelayanan poli gizi umumnya bersifat individual meliputi pengkajian gizi, penentuan diagnosa gizi, intervensi gizi, monitoring dan evaluasi.(1,2)

Sasaran yang mendapat pelayanan di poli gizi adalah yang dirujuk karena adanya masalah gizi biasanya dari poli KIA atau dari poli umum untuk kasus diabetes mellitus, hipertensi maupun thypus.(pedoman dan dinkes surabaya) Pasien akan mendapat asuhan gizi dari ahli gizi, yang merupakan kegiatan terstruktur untuk mengidentifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.(3)

Langkah – langkah Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)

FOTO ARTIKEL WEBSITE (44)
1. Asesmen Gizi

Pada tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah gizi dan faktor penyebab yang diperoleh melalui wawancara, catatan medis, observasi serta dari tenaga kesehatan lain yang merujuk. Data yang dikumpulkan berupa antropometri (pengukuran tinggi badan, berat badan, perubahan berat badan, indeks massa tubuh, pertumbuhan dan komposisi tubuh), hasil cek laboratorium, pemeriksaan fisik terkait gizi (evaluasi sistem tubuh, wasting otot dan lemak subkutan,kemampuan menelan), riwayat pasien (medis, keluarga, sosial). Kemudian setelah terkumpul kemudian diverifikasi dan diinterpretasi secara sistematis.(3)

2. Diagnosa Gizi

Diagnosa gizi berbeda dengan diagnosa medis, diagnosa gizi lebih spesifik dan bersifat sementara sesuai respon pasien. Ahli gizi akan mengidentifikasi masalah gizi dan menentukan faktor penyebab yang mendasarinya serta menjelaskan tanda gejala yang menjadi landasan munculnya masalah gizi pada pasien.(3)

3. Intervensi Gizi

Ahli gizi akan memberi intervensi atau tindakan sesuai dengan kebutuhan pasien. Intervensi yang diberikan diantaranya edukasi gizi (memberikan pengetahuan kepada pasien untuk mengelola atau memodifikasi pola makan dan perubahan perilaku untuk meningkatkan kesehatan), konseling gizi (kerja sama antara ahli gizi dan pasien untuk menentukan target dan merancang rencana dalam menjaga kesehatan sesuai kondisi) dan bisa jadi ada intervensi kolaborasi ahli gizi dengan tenaga kesehatan lain dalam mengelola masalah yang berkaitan dengan gizi.(3)

4. Monitoring dan Evaluasi

Adanya monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan pasien dari intervensi yang diberikan. Minimal ada perubahan perilaku dan atau status gizi yang lebih baik. Kemudian ahli gizi akan membuat keputusan apakah perlu intervensi lebih lanjut atau tidak.(3)

Ternyata cukup kompleks ya layanan di poli gizi Puskesmas, pemaparan diatas telah memberikan gambaran secara umum layanan dan sistem poli gizi di Puskesmas. Semoga bisa menambah pengetahuan bagi pembaca, see you on the next article!

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Konsultasi Gizi [Internet]. Puskesmas Ngemplak II. Tersedia di: https://pkmngemplak2.slemankab.go.id/gizi/
  2. Admin. Pelayanan Gizi dan Laktasi di Puskesmas [Internet]. Puskesmas Gang Sehat Pontianak. 2015 [10 September 2021]. Tersedia di : http://puskesmasgangsehat.com/poli_gizi
  3. Kementerian Kesehatan  RI Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA. Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas. Jakarta; 2014.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (46)

ASI atau Air Susu Ibu adalah sumber energi utama bagi bayi. ASI merupakan makanan terbaik untuk memenuh kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang optimal bagi bayi. Pemberian ASI disarankan hingga buah hati berusia 2 tahun dan selama 6 bulan pertama, ibu tidak perlu memberikan asupan apapun lagi selain ASI dan setelah 6 bulan baru ibu boleh menambahkan makanan pendamping ASI (MPASI) dan ASI tetap diberikan sampai anak berusia 2 tahun.

Jenis – Jenis ASI

  1. Kolostrum
    ASI yang diproduksi selama beberapa hari (3 – 5 hari) pertama setelah persalinan berupa cairan bening dan berwarna kekuningan dan teksturnya kental. Banyak ibu yang mengira kolostrum merupakan jenis ASI yang tidak baik padahal kolostrum ini kaya akan antibody, sel darah putih dan vitamin A (1,5)
  2. ASI Transisi
    ASI yang diproduksi setelah produksi kolostrum habis dan merupakan peralihan menjadi cairan ASI sebenarnya. ASI transisi memiliki warna kekuningan dan teksturnya agak kental yang merupakan perpaduan antara kolostrum dengan ASI matur. (1,5)
  3. ASI Matur
    ASI matur merupakan ASI yang diproduksi di tahap akhir yaitu sekitar dua minggu pasca melahirkan. Air susu ibu matur atau matang umumnya berwarna putih sama seperti susu pada umumnya. (1,5)
  4. Foremilk
    ASI matur awal yang mengandung lebih banyak protein dan karbohidrat (laktosa). Kandungan lemak yang cukup rendah membuat foremilk memiliki tekstur cenderung encer dan warna agak jernih.

  5. Hindmilk
    ASI matur akhir yang mengandung lebih banyak lemak dibandingkan foremilk sehingga tekturnya kental dan warnanya agak kekuningan sebagai tanda bahwa kandungan lemaknya tinggi

Kandungan Gizi pada ASI

Seperti yang kita ketahui, bahwa ASI merupakan zat gizi penting dan lengkap untuk bayi. Berikut kandungan zat gizi yang terdapat pada ASI: (1)

  1. Protein Protein pada ASI terdiri dari whey (60%) dan kasein (40%). Protein whey pada ASI dapat melindungi bayi dari kejadian infeksi karena mengandung faktor – faktor anti infeksi seperti laktoferin, antibody immunoglobulin (IgA) dan enzim lisozim.
  2. Lemak Dalam ASI mengandung asam lemak essensial sepeti asam linoleate dan asam alfa-linoleat yang merupakan bahan utama pembentuk asam arakidonat (AA) dan asam dokosaheksanoik (DHA) yang berperan dalam perkembangan jaringan saraf serta retina mata bayi. Selain itu ASI kaya akan asam lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan dalam perkembangan otak bayi.
  3. Karbohidrat Laktosa ASI lebih banyak dibandingkan dengan laktosa pada susu sapi dan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa yang penting untuk otak. Selain sebagai sumber zat gizi yang mudah dicerna, Sebagian laktosa diubah menjadi asam laktat yang membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan membantu penyerapan kalsium dan mineral lainnya.
  4. Vitamin Vitamin pada ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Kandungan vitamin dalam ASI meliputi vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D, E dan K, serta vitamin larut air seperti vitamin B dan C.
  5. Mineral ASI mengandung berbagai macam mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, seng, tembaga, mangan, fluor, kromium dan selenium yang dimana memiliki perannya masing – masing dalam memenuhi kebutuhan pada bayi.

Manfaat ASI

ASI mengandung berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan bayi mulai dari protein, lemak, karbohidrat, vitamin serta mineral. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari ASI, bukan hanya untuk bayi melainkan untuk ibu juga.

Berikut ini beberapa manfaat ASI bagi bayi dan ibu: (3,4)

Manfaat ASI bagi Bayi
  1. Sebagai zat gizi lengkap yang mudah dicerna dan diserap
  2. Meningkatkan daya tahan tubuh
  3. Meningkatkan kecerdasan mental dan emosional
  4. Perlindungan dari penyakit infeksi
  5. Perlindungan alergi
  6. Memberikan rangsang intelegensi dan saraf
  7. Meningkatkan kesehatan dan kepandaian secara optimal2.
Manfaat ASI bagi Ibu
  1. Terjalin kasih sayang antara ibu dan anak
  2. Membantu menunda kehamilan (KB alami)
  3. Mengatasi rasa trauma
  4. Mempercepat proses pemulihan
  5. Mengurangi resiko perdarahan dan kanker payudara
  6. Memberikan rasa kepercayaan diri
  7. Memiliki efek perilaku ibu sebagai katan ibu dan bayi
  8. Memberikan kepuasan ibu karena kebutuhan bayi dapat terpenuhi.
FOTO ARTIKEL WEBSITE (47)

Kebutuhan ASI

ASI yang dibutuhkan bayi berbeda-beda tergantung dari kemampuan tubuhnya. Seiring bertambahnya usia bayi, kebutuhan ini mengalami peningkatan. Berikut pemenuhan kebutuhan ASI bayi berdasarkan usia. (2)

  1. >Usia 1 hari
    Lambung bayi masih berukuran sangat kecil, hanya sebesar biji kemiri. Sehingga hanya dibutuhkan ASI sebanyak 5 – 7 ml atau satu sendok makan ASI dalam satu kali minum.
  2. Usia 3 hari
    Kebutuhan ASI bertambah menjadi 22 – 27 ml atau satu gelas dalam satu kali minum. Hal ini dikarenakan ukuran lambung pada bayi bertambah besar.
  3. Usia 1 bulan
    Pada usia 1 bulan, bayi dapat minum sebanyak 80 -150 ml dalam satu kali minum. Frekuensi menyusu pada bayi menjadi lebih sering yaitu bertambah antara 8 – 12 kali sehari.
  4. Usia 6 bulan
    Saat sudah menginjak usia 6 bulan, bayi sudah mulai bisa diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) namun dengan tekstur yang sangat lembut. Kebutuhan ASI menjadi 720 – 480 ml per hari
  5. Usia 7 – 9 bulan
    Menuju usia 12 bulan, kebutuhan terus meningkat dan frekuensi pemberian ASI dilakukan 4 – 6 kali sehari dengan takaran ASI sebanyak 900 – 960 ml.
  6. Usia 10 -12 bulan
    Kebutuhan ASI pada usia ini cenderung menurun menjadi 550 ml perhari. Hal ini dikarenakan bayi dapat mengkonsumsi makanan keluarga sehingga semakin bervariasi makanan yang diberikan maka kebutuhan gizi nya akan semakin terpenuhi.
  7. Usia 12 – 24 bulan
    Semakin bertambah usia, kebutuhan energi anak tidak membutuhkan ASI terlalu banyak dan dapat diperoleh dari makanan yang diberikan. Dalam sehari ASI hanya dibutuhkan sekitar 100 – 150 ml dengan frekuensi menyusu 3 – 5 kali.
Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Dietisien Indonesia (AsDI), A., Dokter Anak Indonesia (IDAI), I., & Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), P. (2015). Penuntun Diet Anak (3rd ed.). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
  2. Rizqi, V.L.P. Tahapan Minum ASI Bayi Sejak Lahir Hingga 2 Tahun. Mother and Beyond. 2018. Available from; https://motherandbeyond.id/amp/10023/tahapan-minum-asi-bayi-sejak-lahir-hingga-2-tahun
  3. Mufdillah, Subijanto, Sutisna E&, Akhyar M. Pedoman Pemberdayaan Ibu Menyusui pada Program ASI Ekslusif. Peduli ASI Ekslusif. 2017;0–38.
  4. Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI. Manfaat ASI Eksklusif untuk Ibu dan Bayi. 2018. Available from https://promkes.kemkes.go.id/manfaat-asi-eksklusif-untuk-ibu-dan-bayi.
  5. Setiaputri,K.A. Mengenal ASI: Jenis, Warna, Kandungan dan Kebutuhan Harian untuk Bayi. Hello Sehat. 2021. Available from https://hellosehat.com/parenting/bayi/menyusui/kandungan-nutrisi-asi/

Halo, sobat Ilmugiziku! Adakah di antara teman-teman yang suka menambahkan pemanis ke dalam makanan dan minuman, tetapi khawatir dengan risiko penyakit diabetes? Pernahkah kalian berpikir untuk menggunakan pemanis selain gula? Artikel ini akan membahas perbandingan gula, madu, dan stevia untuk penggunaannya sebagai pemanis. Yuk, simak!

Pemanis dibedakan menjadi dua, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan. Pemanis alami adalah pemanis yang bersumber dari bahan alam, sedangkan pemanis buatan adalah pemanis yang diproses secara kimiawi dan senyawa tersebut tidak ditemukan di alam. Baik gula, madu, dan stevia ketiganya termasuk pemanis alami.

1. Gula

FOTO ARTIKEL WEBSITE (52)

Gula adalah pemanis makanan dan minuman yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, jenis gula yang banyak digunakan adalah gula pasir dan gula merah (gula jawa/gula aren). Gula pasir berasal dari tanaman tebu yang diolah dan dipanaskan, sehingga menghasilkan kristal berwarna putih bening. Sedangkan gula merah diproses dari sari batang pohon palem atau pohon kelapa, yang menghasilkan gula dengan karakteristik warna kekuningan atau kecoklatan serta memiliki rasa manis khas nira kelapa.

Dari segi kandungan gizi, sayangnya gula tidak mengandung zat gizi lain selain karbohidrat. Nilai kalori pada gula juga cukup tinggi, yang mana dalam 1 sendok makan gula pasir atau gula merah terdapat 37 kilo kalori (1). Namun, kedua jenis gula ini memiliki perbedaan pada indeks glikemik. Gula pasir memiliki indeks glikemik 68-100 yang tergolong tinggi, sedangkan gula merah memiliki indeks glikemik 54 yang tergolong rendah. Indeks glikemik adalah angka (1-100) yang menunjukkan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat diproses menjadi glukosa di dalam tubuh. Jika suatu makanan memiliki indeks glikemik tinggi, maka proses pencernaan karbohidrat menjadi glukosa juga berlangsung cepat sehingga mengakibatkan terjadinya lonjakan gula darah. Hal ini kurang baik karena dapat menyebabkan hiperglikemia (2).

2. Madu

FOTO ARTIKEL WEBSITE (53)

Madu adalah cairan manis kental berwarna kuning pucat hingga coklat gelap yang berasal dari nektar yang dikumpulkan oleh lebah. Ada lebih dari 300 jenis madu di seluruh dunia. Pengelompokan madu didasarkan pada sumber bunga yang dihisap nektarnya oleh lebah, misalnya madu bunga kapuk, madu bunga liar, madu kelengkeng, dan lain-lain.

Sama halnya dengan gula, pemanis yang satu ini juga memiliki nilai kalori yang tinggi, dimana 1 sendok makan madu (15 gram) setara dengan 37 kilo kalori (1). Namun, madu mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh gula, yaitu madu kaya akan zat gizi dan komponen-komponen yang bermanfaat bagi tubuh. Pada dasarnya, zat gizi utama yang terdapat pada madu adalah gula fruktosa dan glukosa. Akan tetapi, madu juga mengandung enzim, asam amino, vitamin B, vitamin C, berbagai mineral, serta antioksidan (3). Bagaimana dengan indeks glikemik madu? Madu memiliki indeks glikemik 61, yang tergolong sedang. Meskipun begitu, konsumsi madu sebaiknya tetap dibatasi maksimal 3 sendok makan per hari untuk pria dan 2 sendok makan per hari untuk wanita (4).

3. Stevia

FOTO ARTIKEL WEBSITE (51)

Stevia adalah gula alternatif yang diekstrak dari daun tumbuhan Stevia rebaudiana dan umumnya dipasarkan dalam bentuk liquid atau powder. Rasa manis stevia berasal dari molekul steviol glikosida yang memiliki rasa manis yang intens, yaitu sekitar 250-300 kali lebih manis dibandingkan gula (5).
Menilik dari kandungan gizi, stevia tergolong bebas kalori dan karbohidrat. Selain itu, karena stevia memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi dibandingkan gula, maka konsumsi stevia dalam jumlah kecil tidak menyumbang kalori yang berarti bagi diet.  Stevia juga memiliki indeks glikemik 0, sehingga tidak berisiko menyebabkan lonjakan gula darah. Dikarenakan hal tersebut, stevia banyak digunakan sebagai pemanis pengganti gula untuk membantu menurunkan berat badan dan mengatur gula darah untuk menurunkan risiko penyakit diabetes mellitus tipe 2 (5).

Jadi, manakah yang lebih baik digunakan sebagai pemanis?

Walaupun terkenal dengan berbagai manfaat kesehatannya, madu sama seperti gula yang dapat memberikan berbagai dampak negatif apabila dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, sebaiknya usahakan untuk mengurangi asupan gula dan mengkonsumsi madu secukupnya saja. Menurut Kementerian Kesehatan RI, anjuran konsumsi gula maksimal sebanyak 4 sendok makan (50 gram) per hari atau 10% dari kebutuhan kalori harian (6).

Lalu bagaimana dengan stevia?

Stevia merupakan alternatif yang lebih sehat untuk menggantikan gula. Akan tetapi, efek jangka panjang dari konsumsi stevia masih belum diketahui dan masih harus diteliti lebih lanjut. Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencegah risiko penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan obesitas adalah dengan mengurangi asupan gula ataupun pengganti gula, dan sebaiknya cukup mengonsumsi sumber gula alami seperti buah-buahan (5).

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta; 2014.
  2. Kemala, F. Pentingnya Mengetahui Indeks Glikemik untuk Mengendalikan Gula Darah [Internet]. Hello Sehat. 2021 [cited 2021 October 22]. Available from: https://hellosehat.com/diabetes/tipe-2/indeks-glikemik/
  3. Butler, N. Honey vs. Sugar: Which Sweetener Should I Use? [Internet]. Healthline. 2018 [cited 2021 October 22]. Available from: https://www.healthline.com/health/food-nutrition/honey-vs-sugar
  4. Ware, M. Honey: Health Benefits, Uses and Risks [Internet]. Medical News Today. [cited 2021 October 22]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/302572#1
  5. Shoemaker, S. Is Stevia a Good Substitute for Sugar? Benefits and Downsides [Internet]. Healthline. 2019 [cited 2021 October 22]. Available from: https://www.healthline.com/nutrition/stevia-vs-sugar
  6. Kementerian Kesehatan RI. Berapa anjuran konsumsi Gula, Garam, dan Lemak per harinya? [Internet]. P2TM Kemenkes. 2019 [cited 2021 October 22]. Available from: http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/page/31/berapa-anjuran-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-per-harinya

Sobat Ilmugiziku, siapa nih yang doyan minum susu sapi ternak? Selain rasanya yang enak, susu sapi ternak juga kaya akan zat gizi makronutrien yakni energi dan protein, serta mikronutrien esensial seperti kalsium, magnesium, seng dan fosfor yang sangat berguna untuk tubuh.(1) Selain susu sapi murni, sekarang banyak sekali minuman susu sapi hasil olahan pabrik yang beredar di pasaran serta mudah kita dapatkan. Nah, ternyata tidak hanya merknya yang beraneka ragam, jenis pengolahannya juga bisa berbeda-beda. lho! Kali ini penulis akan membahas perbedaan pengolahan serta daya simpan susu sapi olahan dan susu sapi murni. Simak artikel di bawah, yuk!

FOTO ARTIKEL WEBSITE (54)

A. Susu Sapi Segar

Susu sapi segar atau susu segar merupakan air susu yang didapat dari hasil pemerahan sapi yang sehat serta tidak dikurangi atau ditambahkan bahan apapun. Susu segar tentu kaya akan kandungan gizinya karena tidak mengalami pengurangan ataupun penambahan kandungan gizi yang ada didalamnya.(2)

Bagaimana Proses Pada Pengambilan Susu Sapi Segar?

Dikutip dari Majalah CSR (29/19), Frisian Flag Indonesia (FFI) menjelaskan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan susu, yakni Milk Collection Point (MCP). Pertama memastikan putting (ambing) sapi sudah dibersihkan dan dikeringkan sebelum memerah susu, selain itu tangan pemerah dan alat yang digunakan juga harus bersih, kemudian menggunakan kaleng susu yang sudah bersih dan higienis sebagai wadah, menggunakan penyaring susu sebelum dimasukkan ke dalam kaleng susu, serta membuang susu perahan pertama dikarenakan biasanya mengandung banyak bakteri.(3)

Berapa Lama Daya Simpan Susu Segar?

Susu segar mengandung mikroorganisme seperti bakteri, ragi dan jamur. Oleh sebab itu hanya selang waktu empat jam setelah pemerahan susu segar akan berangsur-angsur rusak atau membusuk.(4)

B. Susu Olahan Pabrik

FOTO ARTIKEL WEBSITE (56)

Berikut ini merupakan jenis susu olahan pabrik yang biasa ditemukan di toko-toko terdekat:

1. Susu UHT (Ultra High Temperature)

Pasti sobat Ilmugiziku sering mendengar atau melihat istilah UHT (Ultra High Temperature) pada minuman susu kemasan, kan? Susu UHT cocok dijadikan produk komersial dikarenakan memiliki daya tahan penyimpanan yang lama.

Bagaimana Sih Proses UHT Pada Susu?

UHT (Ultra High Temperature) merupakan proses sterilisasi atau pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi yakni 135-145ºC selama 2-4 detik. Proses ini merupakan cara untuk membunuh bakteri patogen dan non patogen (pembusuk dan perusak) yang terdapat dalam susu serta meningkatkan daya simpan dengan tetap menjaga kandungan gizi didalamnya.(4)

Berapa Lama Daya Simpan Susu UHT?

Nah, susu UHT banyak dijadikan produk komersial dikarenakan daya simpannya bisa mencapai waktu mingguan bahkan bulanan pada suhu kamar, lho. Penelitian yang dilakukan di Swedia pada tahun 2019 menyimpulkan bahwa daya simpan susu UHT tidak dipengaruhi oleh skala produksi suatu pabrik atau contoh pabrik itu sendiri, melainkan suhu penyimpanannya. Susu UHT yang disimpan pada suhu dingin atau suhu ruang (suhu yang diteliti pada penelitian tersebut adalah 4ºC dan 20ºC) memiliki daya simpan lebih lama (mencapai 34 minggu) dibandingkan pada suhu yang lebih tinggi (suhu yang diteliti pada penelitian tersebut adalah 30ºC dan 37ºC) hanya mencapai 16 minggu.(5)(6) Selain suhu, tempat penyimpanan susu UHT juga harus tertutup dan steril, itulah mengapa susu menggunakan kemasan yang sangat rapat.

2. Susu Pasteurisasi

Nah, kalau susu jenis ini sobat Ilmugiziku pernah melihat atau pernah dengar, tidak? Pasteurisasi memiliki upaya yang sama seperti proses UHT (Ultra High Temperature), yakni membunuh bakteri patogen dan non patogen (pembunuh dan perusak) serta memperpanjang daya simpan susu.

Bagaimana Sih Proses Pasteurisasi Pada Susu?

Proses pasteurisasi berbeda dengan UHT (Ultra High Temperature), pada proses pasteurisasi susu dipanaskan dibawah titik didih (100,16ºC) yakni pada suhu sekitar 72-85ºC selama 10-15 detik. Sehingga susu pasteurisasi belum sepenuhnya terbebas dari mikroorganisme, oleh karena itu suhu penyimpanan susu pasteurisasi harus rendah yaitu sekitar 2-6ºC agar terhindar dari kerusakan akibat pertumbuhan mikroorganisme.(7) Meski begitu, mikroorganisme yang masih tersisa pada susu pasteurisasi aman kok sobat Ilmugiziku!

Berapa Lama Daya Simpan Susu Pasteurisasi?

Umur daya simpan susu pasteurisasi juga tidak selama susu UHT (Ultra High Temperature) yang hanya terbatas 5-8 hari saja. Nah, jika kalian hendak membeli susu, dicek kemasannya terlebih dahulu,ya. Biasanya jika susu tersebut merupakan hasil proses pasteurisasi, pasti akan tercantum pada kemasan susu tersebut. Susu pasteurisasi dianjurkan langsung dikonsumsi secepatnya jika akan terjadi perpindahan tempat penyimpanan yang sekiranya bersuhu tinggi (kurang dari 6ºC). Penelitian menunjukkan bahwa jika penyimpanan susu pasteurisasi kurang dari 7ºC akan mempercepat pertumbuhan bakteri pada susu dan menyebabkan kerusakan.(5)(7)

Editor : Aldera, Str.Gz

Refrensi

  1. Górska-Warsewicz H, Rejman K, Laskowski W, Czeczotko M. Milk and dairy products and their nutritional contribution to the average polish diet. Nutrients. 2019 Aug;11(8):1771.
  2. Resnawati H. Kualitas susu pada berbagai pengolahan dan penyimpanan. JITV. 2014;19(2).
  3. Majalah CSR. Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Susu. 2018. Diakses pada 5 September .Diambil dari https://majalahcsr.id/standar-operasional-prosedur-sop-penanganan-susu/
  4. Dwiyanti G. Pengaruh penambahan aktivator laktoperoksidase terhadap ketahanan susu sapi segar. Jurnal Pengajaran MIPA. 2009 Apr 7;13(1):95-104.
  5. Yingchen. UHT vs Pasteurized milk:Which is a better choice? The University of Melbourne. 2020. Diakses pada 5 September. Diambil dari : https://blogs.unimelb.edu.au/sciencecommunication/2020/09/18/uht-vs-pasteurized-milk%EF%BC%9Awhich-is-a-better-choice/
  6. Karlsson MA, Langton M, Innings F, Malmgren B, Höjer A, Wikström M, Lundh Å. Changes in stability and shelf-life of ultra-high temperature treated milk during long term storage at different temperatures. Heliyon. 2019 Sep 1;5(9):e02431.
  7. Kristanti ND. Daya simpan susu pasteurisasi ditinjau dari kualitas mikroba termodurik dan kualitas kimia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK). 2017 Jul 10;12(1):1-7.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (59)

Hai Sobat Giziku! Saat ini, penjualan produk daging olahan seperti sosis, nugget, kornet dan hotdog terus meningkat akibat tingginya minat masyarakat terhadap kemudahan pengolahan serta harganya yang terjangkau. Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekjen Kementerian Pertanian 2019, besaran pengeluaran untuk konsumsi daging sapi murni bagi penduduk Indonesia mengalami peningkatan positif dan diperkirakan konsumsi daging sapi murni maupun olahan, termasuk sosis, akan terus meningkat secara signifikan. Namun, sebagian besar sosis tidak hanya diolah menggunakan daging sapi, tetapi juga menggunakan zat tambahan dan bahan kimia untuk meningkatkan cita rasa dan memperpanjang waktu penyimpanan. Nah, tentu saja hal ini akan berdampak pada kesehatan jangka panjang! Pertanyaannya, seberapa sering Anda mengonsumsi sosis? Dan apakah terdapat batasan konsumsi sosis? Yuk, simak artikel dibawah ini!

Fakta #1: Sosis Siap Makan Memang Aman, Tapi Zat Gizinya Tidak Selalu Aman

Sosis siap makan kerap menjadi pilihan makan sederhana dan cepat di seluruh kalangan umur. Namun, apakah Anda sudah memperhatikan kandungan zat gizi apa saja didalamnya? Ternyata, dalam 50 gram sosis siap makan, terdapat kandungan 110 kalori, 7 gram karbohidrat (25% dari kalori), 7 gram protein (25% dari kalori), dan 6 gram lemak (41% dari kalori). Dapat dilihat pada persentase kandungan zat gizi makro pada sosis siap makan yaitu proporsi lemak yang lebih tinggi daripada kandungan karbohidrat dan protein. Selain itu, jumlah natrium per sajian sosis sebanyak 520 mg [2]. Kandungan lemak tinggi menyebabkan risiko obesitas, apalagi jika dikonsumsi dengan frekuensi sering. Dengan total natrium per 1 buah sosis siap makan, sudah memenuhi 35% dari AKG atau batas asupan sehari. Dapat dibayangkan jika dikonsumsi setiap hari, kan? Asupan natrium yang melebihi 2.400 mg sehari, mampu meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, dilansir dari American Heart Association, anak-anak dengan asupan tinggi natrium mendekati 40% lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi [4]. Tidak hanya itu, terdapat beberapa tambahan lainnya seperti bahan pengawet dan penyedap rasa sintetis yang memberikan efek terhadap kesehatan sehingga berdampak pada tubuh dalam jangka waktu lama. Sehingga, diperlukan pengawasan konsumsi sosis siap saji, terutama bagi anak, agar lebih bijak dalam variasi makanan.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (58)

Fakta #2: Boleh Makan Sosis Kurang dari 40 gram Sehari

Sabine et al (2013) menyebutkan bahwa konsumsi produk daging olahan dibatasi kurang dari 40 gram sehari [1]. NHS juga menyarankan konsumsi sosis tidak melebihi 70 gram dalam sehari pada orang dewasa [3]. Namun, tetap disarankan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang seperti sayur dan buah ya! Konsumsi sosis memang aman, namun semakin tinggi frekuensi konsumsis sosis, apalagi setiap hari, semakin meningkatkan risiko penyakit bermunculan.

Fakta #3: Konsumsi Sosis Siap Saji Berlebihan, Bahaya Obesitas

Sebuah penelitian oleh Universitas Zurich yang dilakukan pada Maret 2013 pada 450.000 partisipan menunjukkan bahwa seseorang yang mengonsumsi 50 gram produk sosis per hari meningkatkan risiko kematian 18% akibat penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner dan stroke, serta kanker. Sosis yang merupakan produk daging olahan mengandung kolesterol dan lemak jenuh yang tinggi sehingga menjadi penyebab adanya aterosklerosis [1].

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa FKM Unair, menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara konsumsi sosis dengan kejadian obesitas dan overweight pada anak [5].

Jadi, konsumsi sosis siap makan memang aman, tapi dalam batas wajar ya!

Editor : Aldera, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Sabine Rohrmann, Kim Overvad, H Bas Bueno-de-Mesquita, Marianne U Jakobsen, Rikke Egeberg, Anne Tjonneland, Laura Nailler, Marie-Christine Boutron-Ruault, et al. Meat consumption and mortality - results from the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition. BMC Medicine, 2013; 11 (1): 63 DOI: 10.1186/1741-7015-11-63
  2. NilaiGizi.com. 2021. Nilai produk sosis sapi so nice. Diambil dari: https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/2867/sosis-sapi-so-nice. Diakses pada 10 Oktober 2021.
  3. NHS. 2021. Meat in your diet. Diambil dari: https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/meat-nutrition/. Diakses pada 10 Oktober 2021.
  4. American Heart Disease. 2018. Get the scoop on sodium and salt. Diambil dari: https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/sodium/sodium-and-salt. Diakses pada 10 Oktober 2021.