Kalau ngomongin makanan terbaik untuk bayi, jawabannya jelas: ASI alias Air Susu Ibu. Sejak dulu, ASI sudah dikenal sebagai “makanan super” yang nggak ada tandingannya. Bukan cuma bikin bayi kenyang, tapi juga membekali mereka dengan gizi lengkap, perlindungan dari penyakit, dan rasa aman lewat dekapan ibunya.
Tapi, masih banyak yang belum benar-benar paham seberapa pentingnya ASI untuk tumbuh kembang anak. Yuk, kita kulik bersama!

Superfood Alami untuk Bayi

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7552757448705101109"}}

Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi alami yang dirancang sempurna oleh tubuh seorang ibu untuk memenuhi kebutuhan bayi sejak lahir. Tidak hanya sebagai makanan utama, ASI juga memiliki fungsi imunologis, psikologis, dan emosional yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) hingga usia 2 tahun atau lebih (1).

Di tengah meningkatnya kesadaran akan gizi anak, pemanfaatan ASI bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga membangun pondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas hidup anak di masa depan.

Kandungan Gizi dan Manfaat ASI

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7552759550990929213"}}

ASI mengandung kombinasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang serta mudah diserap tubuh bayi. Kandungan ini bersifat dinamis, artinya menyesuaikan kebutuhan bayi pada tiap tahap perkembangan(2) (3).

Zat Gizi Makro

  1. Karbohidrat (Laktosa): Memberikan energi utama, membantu perkembangan otak, dan mendukung penyerapan kalsium.
  2. Protein (Laktalbumin & Laktoglobulin): Membantu pertumbuhan jaringan tubuh dan sistem imun.
  3. Lemak: Mengandung DHA dan ARA yang penting untuk perkembangan otak dan penglihatan.
 

Zat Gizi Mikro

  1. Vitamin (A, D, E, K, B kompleks, C): Mendukung metabolisme, kesehatan tulang, daya tahan tubuh, dan antioksidan.
  2. Mineral (Kalsium, Fosfor, Seng, Zat Besi): Membantu pembentukan tulang, gigi, dan fungsi enzim.
 

Komponen Bioaktif

  1. Antibodi (IgA, IgM, IgG): Melindungi bayi dari infeksi.
  2. Hormon & Enzim: Mendukung pencernaan dan metabolisme.
  3. Prebiotik alami (oligosakarida): Menyehatkan saluran cerna.

Peran ASI dalam Membangun Pondasi Gizi Anak

Pemanfaatan ASI secara optimal akan memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang:

  1. Mencegah Stunting

  2. Stunting adalah masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya, akibat kekurangan gizi jangka panjang. ASI berperan penting dalam mencegah stunting karena mengandung seluruh zat gizi dalam jumlah dan proporsi yang sesuai untuk bayi. Nutrisi lengkap ini mendukung pertumbuhan tulang, otot, dan organ tubuh secara optimal sejak lahir. Selain itu, ASI membantu mencegah infeksi yang dapat menghambat penyerapan gizi, sehingga anak tidak mengalami hambatan pertumbuhan. Dengan pemberian ASI eksklusif, risiko gizi buruk dan stunting dapat ditekan secara signifikan, terutama pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan (4) (5).

  3. Meningkatkan Imunitas

  4. ASI kaya akan antibodi, terutama imunoglobulin A (IgA), yang berfungsi melapisi saluran pencernaan bayi dan mencegah masuknya bakteri atau virus penyebab penyakit. Kandungan zat bioaktif seperti laktoferin, lisozim, dan oligosakarida juga membantu melawan kuman serta mendukung perkembangan flora usus yang sehat. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit infeksi seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan otitis media. Perlindungan ini sangat penting pada tahun-tahun awal, ketika sistem imun bayi masih belum berkembang sempurna. Dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat, anak dapat tumbuh lebih sehat dan aktif (6) (7).

  5. Mendukung Perkembangan Otak

  6. ASI mengandung lemak esensial, termasuk asam dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakidonat (AA), yang berperan penting dalam pembentukan membran sel otak dan perkembangan sistem saraf pusat. Nutrisi ini sangat dibutuhkan untuk perkembangan kognitif, kemampuan belajar, daya ingat, dan keterampilan motorik anak (8).

  7. Menciptakan Bonding Ibu dan Anak

  8. Proses menyusui bukan hanya soal memberi nutrisi, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara ibu dan bayi. Kontak kulit ke kulit saat menyusui merangsang produksi hormon oksitosin, yang memperkuat ikatan batin dan memberikan rasa nyaman bagi keduanya. Bayi merasa aman dan terlindungi, sehingga membantu perkembangan emosional yang sehat. Bagi ibu, momen ini juga membantu mengurangi risiko stres dan depresi pascapersalinan. Ikatan emosional yang kuat sejak dini terbukti berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kemampuan sosial, dan kesejahteraan psikologis anak di masa depan (9) (10).

Strategi Pemanfaatan ASI Secara Optimal

Agar manfaat ASI maksimal, ibu perlu memperhatikan beberapa strategi berikut:

  1. Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan Pertama

  2. Memberikan ASI eksklusif berarti bayi hanya menerima ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, selama 6 bulan pertama. Langkah ini memastikan bayi mendapatkan gizi yang sempurna sesuai kebutuhannya pada masa awal pertumbuhan (11).

  3. Teknik Menyusui yang Benar

  4. Posisi perlekatan yang tepat membantu bayi mendapat ASI cukup dan mencegah puting lecet. Ibu juga perlu memastikan mulut bayi menempel lebar pada areola, bukan hanya pada puting (12).

  5. Perawatan Ibu Menyusui

  6. Kualitas ASI sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu, sehingga penting untuk menjaga asupan gizi seimbang, istirahat cukup, dan mengelola stres. Selain itu, suasana hati yang tenang membantu kelancaran pengeluaran ASI (13).

  7. Penyimpanan ASI Perah

  8. Bagi ibu yang bekerja, ASI perah menjadi solusi agar bayi tetap mendapatkan nutrisi terbaik meski terpisah dari ibu. Penyimpanan harus dilakukan dengan wadah bersih dan sesuai suhu yang tepat, seperti di freezer, untuk menjaga kualitasnya. Penting juga memberi label tanggal pada setiap wadah agar ASI digunakan sesuai urutan penyimpanan (14).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Hizriyani R. Pemberian asi ekslusif sebagai pencegahan stunting. Jurnal JendelaBunda Program Studi PG-PAUD Universitas Muhammadiyah Cirebon [Internet]. 2021 [cited 2025 Aug 12];8(2):55–62. Available from: https://www.academia.edu/download/%20102491463/1722-Article_Text-4576-1-10- 20210207.pdf
  2. Hadi SPI. Kandungan dan manfaat ASI. Manajemen Laktasi Berbasis Evidence Based Terkini [Internet]. 2021 [cited 2025 Aug 12];21–39. Available from:https://jurnal.wicida.ac.id/index.php/9786239445393/article/view/1453
  3. Khotimah K, Satillah SA, Fitriani V, Miranti M, Maulida M, Hasmalena H, et al. Analisis manfaat pemberian ASI eksklusif bagi ibu menyusui dan perkembangan anak. PAUDIA: Jurnal Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini [Internet]. 2024 [cited 2025 Aug 12];254–66. Available from: https://journal2.upgris.ac.id/index.php/paudia/article/view/505
  4. Sartika CD, Pohan M, Dwihestie LK, Patima P. HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS RAWANG PANCA ARGA. Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer [Internet]. 2025 [cited 2025 Aug 15];5(4). Available from: https://jurnal.ikbis.ac.id/index.php/JPKK/article/view/1031
  5. Amalia T, Nurhasanah N, Lubis S, Syaputri D, Matondang SA, Nasution D, et al. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian StuntingPada Balita di Kecamatan Medan Belawan. JHR: Journal of Health and Religion [Internet]. 2024 [cited 2025 Aug 15];1(2):86–95. Available from: https://journal.aspublisher.co.id/index.php/jhr/article/view/284
  6. Endah Wahyutri SST, Saadah N, Kp S, Kalsum U, Edi Purwanto SST. Menurunkan Resiko Prevalensi Diare Dan Meningkatkan Nilai Ekonomi Melalui ASI Ekslusif [Internet]. Scopindo Media Pustaka; 2020 [cited 2025 Aug 15]. Available from: https://books.google.com/books?hl=id&lr=&id=Pk0CEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA48&dq=Bayi+yang+mendapatkan+ASI+eksklusif+
    terbukti+memiliki+risiko+lebih+rendah+terkena+penyakit+infeksi+seperti+diare,+infeksi+saluran+
    pernapasan+akut+(ISPA),+dan+otitis+media&ots=h5TgiJcfyu&sig=7TRZBdpxQ54ikmj9I_PhPD44SFA
  7. Rahman A, Nur AF. Hubungan pemberian asi eksklusif dengan kejadian penyakit infeksi saluran pernafasan akut pada anak balita di wilayah kerja puskesmas managaisaki. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) [Internet]. 2015 [cited 2025 Aug 15];1(1):39–48. Available from:http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2582181&val=24272&title=HUBUNGAN%20PEMBERIAN%20ASI%20EKSKLUSIF%20
    DENGAN%20KEJADIAN%20PENYAKIT%20INFEKSI%20SALURAN%20PERNAFASAN%20AKUT%
    20PADA%20ANAK%20BALITA%20DI%20WILAYAH%20KERJA%20PUSKESMAS%20MANAGAISAKI
  8. Anderson JW, Johnstone BM, Remley DT. Breast-feeding and cognitive development: a meta-analysis. Am J Clin Nutr. 1999 Oct;70(4):525–35.
  9. Fernandia L, Marcelina ST. Dukungan Suami dan Bonding Attachment dengan Kelancaran ASI Ibu Nifas: Studi Korelasional. Jurnal Medicare [Internet]. 2025 [cited 2025 Aug 15];4(2):150–60. Available from: http://medicare.renaciptamandiri.org/index.php/medicare/article/view/175
  10. Apriani A, Rohmatika D, Andhikatias YR, Maretta MY, Wijayanti W. Pengaruh Stimulasi Janin dan Inisiasi Menyusui Dini terhadap Bonding Attachment. Oksitosin: Jurnal Ilmiah Kebidanan [Internet]. 2024 [cited 2025 Aug 15];11(2):96–106. Available from: https://journal.ibrahimy.ac.id/index.php/oksitosin/article/view/4450
  11. Siregar S, Ritonga SH. Hubungan pemberian asi eksklusif dengan pertumbuhan berat badan bayi 0-6 bulan di wilayah kerja puskesmas padangmatinggi kota padangsidimpuan tahun 2018. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal) [Internet]. 2020 [cited 2025 Aug 15];5(1):35–43. Available from: https://www.jurnal.unar.ac.id/index.php/health/article/view/230
  12. Astuti Y, Anggarawati T. Pendidikan Kesehatan Teknik Menyusui Terhadap Peningkatan Kemampuan Menyusui Pada Ibu Primipara. Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) [Internet]. 2020 [cited 2025 Aug 15];3(1):26–33. Available from: https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/article/view/904
  13. Sebtalesy CY, Anisia D, Mulyati SB. Peningkatan Produksi ASI Ibu Menyusui dengan Penyuluhan Pola Makan Seimbang dan Penurunan Tingkat Stress di Bogorejo, Magetan. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JUDIMAS) [Internet]. 2024 [cited 2025 Aug 15];2(1):189–98. Available from: https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/judimas/article/view/258
  14. Azizah N, Nisak AZ, Rahmawati AM. PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU BEKERJA TENTANG ASI PERAH. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan [Internet]. 2023 Feb 5 [cited 2025 Aug 15];14(1):294–9. Available from: https://jurnal2.umku.ac.id/index.php/jikk/article/view/1690

Akhir-akhir ini, warganet ramai membahas terkait gula rafinasi. Mulai dari perkara impor gula rafinasi hingga petani yang kebingungan karena penjualan gula petani kalah dengan gula impor. Namun, apa sih gula rafinasi itu? Apakah gula rafinasi bisa membawa manfaat bagi kesehatan? Atau malah menambah bahaya?

Apa itu Gula Rafinasi?

Gula rafinasi merupakan gula yang telah diproses sedemikian rupa hingga menghasilkan gula dengan kemurnian sukrosa yang sangat tinggi.(1) Tebu atau bahan lainnya yang telah dibuat menjadi gula kemudian menjalani berbagai proses pemurnian yang akhirnya menghasilkan gula rafinasi. Gula ini biasanya digunakan untuk keperluan industri, tidak untuk digunakan dalam skala rumah tangga. Perbedaan gula jenis ini dengan gula biasa ialah kandungan sukrosanya yang mencapai 99%, sehingga gula ini hanya berisi energi dan hampir tak ada zat gizi lain.(2) Selain itu, perbedaanya juga terdapat pada indeks glikemiknya. Indeks glikemik pada gula rafinasi sedikit lebih tinggi daripada gula biasa karena masih terdapat beberapa senyawa seperti serat yang bisa menghambat penyerapan gula.(3)

Apa dampaknya bagi kesehatan?

Gula rafinasi jarang digunakan harian dalam skala rumah tangga. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang panjang, akan menimbulkan berbagai efek negatif bagi tubuh.

  1. Obesitas dan Sindrom Metabolik
    Konsumsi gula berlebih selalu berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit obesitas dan gangguan metabolik seperti NAFLD (non alcoholic fatty liver disease) dan diabetes tipe 2. Kadar gula dalam gula rafinasi dapat menyebabkan resistensi terhadap hormon leptin, yang bertugas mengatur rasa lapar dan memberi sinyal kepada otak untuk berhenti makan. Akibatnya, seseorang sulit merasa kenyang dan cenderung makan berlebihan. Selain itu, asupan gula rafinasi yang tinggi menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat dan berulang. Jika terus-menerus terjadi, pankreas akan bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Lama-kelamaan, sel tubuh menjadi kebal terhadap insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.(4)

  2. Penyakit Kardiovaskular
    Konsumsi gula secara berlebihan juga menyebabkan peradangan sistemik dan disfungsi lapisan endotel yang akhirnya menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, akumulasi lemak viseral, peradangan kronis, serta peningkatan kadar trigliserida dan LDL.(4)

  3. Masalah Gigi dan Mulut
    Gula yang mudah terfermentasi dalam mulut akan menghasilkan asam yang dapat merusak gigi dan membuat gigi berlubang. Sifat gula yang manis dapat menjadi media pertumbuhan bakteri yang merugikan kesehatan gigi dan gusi.(4)

  4. Penyakit saraf dan Gangguan mental
    Konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan mental dan saraf. Pola makan yang tinggi gula dapat merubah pola kerja otak, sehingga dapat menyebabkan kecanduan serta perubahan perilaku. Hal ini bisa mengakibatkan keinginan yang berlebih terhadap makanan manis serta perilaku makan yang kompulsif.(5)

Apa yang bisa dilakukan?

Gula rafinasi merupakan gula yang diproses berulang-ulang kali hingga kehilangan nilai nutrisinya. Karena itu, kita bisa tetap menggunakan gula pasir biasa atau menggunakan pemanis alami lainnya. Kandungan gizi pada pemanis alami setidaknya lebih baik daripada gula rafinasi. Selain itu, pengaruh buruk hanya muncul ketika konsumsi gula melewati batas yang ditentukan. Meskipun konsumsi gula rafinasi secara langsung dilarang oleh pemerintah, kita bisa saja mengonsumsinya melalui produk makanan, minuman, atau produk farmasi yang diproduksi skala besar. Menurut Kemenkes, batas asupan gula tiap hari sebesar 50 gram.(6) Dengan menjaga apa yang kita konsumsi tiap hari, kita bisa menjaga kesehatan tubuh kita.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Arshad S, Rehman T, Saif S, Rajoka MSR, Ranjha MMAN, Hassoun A, et al. Replacement of refined sugar by natural sweeteners: focus on potential health benefits. Heliyon. 2022 Sep 1 [cited 2025 Aug 11];8(9). Available from: https://www.cell.com/heliyon/fulltext/S2405-8440(22)01999-5
  2. Hadisancoko RE. Increasing Sugar Production and Its Alternatives and Availability of Plantation Land in Strengthening the National Economy. AURELIA Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia. 2023 Jan 24;2(1):259–65.
  3. Azlan A, Ebadi S, Yusof BNM, Othman NMH, Kannar D, Sultana S, et al. Satiety, glycemic profiles, total antioxidant capacity, and postprandial glycemic responses to different sugars in healthy Malaysian adults. Nutrition. 2022 May;97:111551.
  4. Pavlovskaya EV. Influence of excessive sugar consumption on children’s health. Voprosy praktičeskoj pediatrii. 2017;12(6):65–9.
  5. Qin D, Qi J, Shi F, Guo Z, Li H. Sugar Addiction: Neural Mechanisms and Health Implications. Brain and Behavior. 2025 Jul;15(7):e70338.
  6. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Apr 16, 2013.

Belakangan ini, diet Tiongkok jadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet tertarik mencoba karena disebut bisa menurunkan berat badan secara alami dan cepat. Tapi, sebelum ikut-ikutan, yuk kita kupas lebih dalam: apakah diet ini benar-benar ampuh dan aman, atau justru berisiko untuk kesehatan?

Apa Itu Diet Tiongkok?

Banyak orang yang keliru dan mengira bahwa penerapan diet Tiongkok hanya makan satu jenis makanan per hari. Padahal, pola makan tradisional di Tiongkok jauh lebih beragam dan seimbang. Masyarakat Tiongkok biasanya mengonsumsi berbagai jenis makanan alami yang saling melengkapi. Misalnya biji-bijian, sayuran segar, sumber protein nabati seperti tahu dan tempe, serta sejumlah kecil daging atau ikan sebagai pelengkap. Hal ini membantu tubuh mendapatkan asupan zat gizi yang lengkap dan proporsional setiap hari.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tradisional ini bukan hanya membantu menurunkan berat badan secara alami. Akan tetapi, juga mampu mengurangi risiko terkena penyakit metabolik seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular. Hal tersebut karena diet ini kaya akan serat, vitamin, dan mineral dari sayuran dan biji-bijian, serta protein sehat yang membantu menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Jadi, diet Tiongkok yang sesungguhnya adalah pola makan yang memperhatikan keseimbangan gizi.. (1)

Diet Tradisional Tiongkok dalam Konteks Kesehatan Global

Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung,diabetes, dan kanker menjadi tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di China. Faktanya, sekitar 89% kematian tahunan di China disebabkan oleh penyakit ini, yang sering kali berhubungan erat dengan pola makan yang kurang sehat.

Oleh sebab itu, berbagai organisasi internasional menyarankan untuk kembali menerapkan pola makan tradisional yang kaya akan sayur, buah, dan biji-bijian, dengan konsumsi daging yang terbatas. Diet tradisional Tiongkok (TCD) merupakan salah satu contoh pola makan sehat tersebut.

Namun, seiring perubahan gaya hidup dan pengaruh pola makan Barat, masyarakat Tiongkok mulai mengurangi konsumsi sayur dan biji utuh, sementara asupan daging merah dan lemak tidak sehat meningkat. (2)

Komposisi Diet Tiongkok yang Seimbang

Beberapa komponen utama dalam diet Tiongkok meliputi:

  1. Karbohidrat kompleks: nasi, gandum utuh, dan mi kukus yang kaya serat dan menstabilkan gula darah
  2. Sayur dan buah: bok choy, brokoli, jeruk, dan apel mendominasi piring harian.
  3. Protein nabati: tahu, tempe, dan kacang-kacangan yang berperan menjaga massa otot dan fungsi jantung.
  4. Protein hewani dalam jumlah kecil: daging dan ikan hanya sebagai pelengkap.
  5. Rempah seperti jahe, bawang putih, dan lada: diyakini dapat memperlancar sistem pencernaan dan memperkuat daya tahan tubuh.

Manfaat Kesehatan

  1. Membantu menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah yang turut mendukung kesehatan jantung dan menurunkan risiko stroke. (3)
  2. Mendukung penurunan berat badan secara bertahap dan aman, tanpa efek samping negatif yang sering muncul pada diet ekstrem.
  3. Pola makan alami dan seimbang ini juga bisa menurunkan kemungkinan terkena penyakit kronis seperti diabetes dan masalah jantung.
  4. Praktik puasa tradisional yang terkadang diterapkan dalam pola ini juga efektif menurunkan indeks massa tubuh, membantu menjaga berat badan ideal dan kesehatan secara keseluruhan. (4)

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski terdengar sehat, versi viral diet Tiongkok kerap disalahartikan oleh banyak orang. Beberapa konten di media sosial menyarankan untuk makan hanya satu jenis makanan sepanjang hari, misalnya hanya konsumsi protein saja atau hanya sayuran saja. Pola makan seperti ini sangat berisiko karena dapat menyebabkan kekurangan zat gizi penting, seperti vitamin, mineral, dan serat, yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat dan berfungsi optimal.

Selain itu, perubahan gaya hidup dan urbanisasi di Tiongkok juga membawa dampak pada pola makan masyarakat modern. Konsumsi makanan olahan, cepat saji, dan makanan tinggi lemak jenuh semakin meningkat. Tren ini jauh berbeda dari prinsip diet tradisional yang menekankan makanan segar, alami, dan seimbang. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengikuti tren diet ekstrem tanpa memahami esensi pola makan yang sehat dan berkelanjutan.

Bijak Ikut Tren, Utamakan Kesehatan

Diet Tiongkok bisa menjadi pilihan sehat asal dijalani dengan pemahaman yang tepat. Jangan hanya ikut tren karena FYP. Pastikan kamu tetap memenuhi kebutuhan zat gizi harian dan tidak mengabaikan variasi makanan. Perlu diingat, bahwa pola makan yang sehat adalah yang bisa dijalani secara konsisten dalam waktu lama. Jika memang masih ragu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan, seperti ahli gizi agar lebih aman dan tepat sasaran.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Hu, X. F., Zhang, R., & Chan, H. M. Identification of Chinese dietary patterns and their relationships with health outcomes: a systematic review and meta-analysis. Public Health Nutrition [Internet], 2024;27(1), 1-15. Available from: https://doi.org/10.1017/s1368980024001927
  2. Niu, J., Li, B., Zhang, Q., Chen, G., & Papadaki, A. Exploring the traditional Chinese diet and its association with health status—a systematic review. Nutrition Reviews [Internet], 2025;83(2), e237-e256. Available from: https://academic.oup.com/nutritionreviews/article/83/2/e237/7624152
  3. Li, Q., Feng, L., Sun, J., Zhu, H., Zeng, G., Gao, P., .... & Qiu, S. Effects of Chinese heart-healthy diet on blood lipids, glucose, and estimated 10-y cardiovascular disease risk among Chinese adults: results on secondary outcomes of a randomized controlled trial. The American Journal of Clinical Nutrition [Internet], 2024;119(2), 333-343. Available from: doi.org/10.1016/j.ajcnut.2023.12.008
  4. Wang, C., Ming, L., Jia, L., Wang, Q., Cao, T., Wang, L., .... & Zhang, M. A Preliminary Retrospective and Prospective Cohort Study on a Traditional Chinese Long-term Extreme Fasting. medRxiv [Internet], 2020. Available from: doi.org/10.1101/2020.03.14.20036111

Bayangkan anak sekolah pulang dengan tas berat, tapi di tangannya ada ciki, sosis siap makan, atau bubble tea. Ini bukan kebetulan, tapi gambaran nyata tren makanan ultra-proses yang makin akrab di kalangan anak dan remaja Indonesia.

Apa itu UPF?

Makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) adalah produk hasil industri yang telah melalui berbagai tahap pengolahan dan mengandung bahan tambahan seperti pewarna, pengawet, pemanis buatan, dan emulsifier.

Contohnya termasuk mie instan, biskuit, minuman bersoda, hingga nugget dan sosis siap saji. Produk-produk ini dirancang agar bisa tahan lama dan menggugah selera, namun kurang padat akan zat gizi (1).

Berbeda dengan makanan segar atau minim olahan seperti ikan, daging ayam segar, atau sayuran beku yang bisa diolah secara sederhana di dapur rumah, UPF umumnya diproduksi melalui proses industri kompleks dan mengandung banyak zat tambahan sintetis. Makanan ini cenderung rendah zat gizi namun tinggi kalori, sehingga sering disebut “kalori kosong”.

Mengapa Anak dan Remaja Jadi Sasaran Pasar?

Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 45% dari total asupan kalori masyarakat Indonesia berasal dari makanan ultra-proses, dengan tingkat konsumsi yang cenderung lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja. (3)

Kemudahan akses, rasa yang gurih, harga terjangkau, serta promosi agresif di media sosial menjadikan anak dan remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap konsumsi makanan ultra-proses (UPF).

Hal ini didukung oleh studi dalam Jurnal Gizi Dietetik, bahwa konsumsi makanan-makanan tersebut secara rutin, dipengaruhi oleh intensitas tinggi penggunaan media sosial dan besaran uang saku harian.Temuan ini menyoroti bahwa kemudahan informasi dan daya beli memberikan ruang besar bagi anak untuk membeli makanan cepat saji di sekitar sekolah. (2)

Ini menandakan bahwa preferensi makanan tinggi lemak dan rendah serat telah terbentuk sejak dini, bahkan sebelum masa remaja. Hal tersebut tentu akan berkontribusi dalam membentuk pola makan jangka panjang yang buruk, cenderung tinggi gula dan lemak, serta rendah serat dan zat gizi mikro lainnya. (4,5)

Dampak Konsumsi UPF Bagi Kesehatan

WHO menyebutkan bahwa konsumsi UPF dikaitkan dengan risiko kelebihan berat badan hingga 16% lebih besar. (6) Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dua kali seminggu memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi mengalami obesitas. (4)

Tidak hanya itu, tingginya kandungan gula, garam, lemak, dan bahan aditif lainnya pada UPF dapat berlanjut pada risiko penyakit-penyakit degeneratif. Misalnya hipertensi, diabetes tipe 2, dislipidemia, hingga gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular. Termasuk berperan dalam perubahan mikrobiota usus, inflamasi kronis, dan gangguan penyerapan zat gizi. (5,7)

Fortifikasi yang dilakukan pada produk UPF juga dianggap belum cukup untuk menutupi defisit zat gizi mikro, seperti zat besi dan vitamin A. Hal ini tentu berdampak serius, terutama bagi anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Rendahnya pengetahuan dan kurangnya pengawasan lingkungan sekolah pun turut memperparah situasi ini.

Dampak konsumsi UPF tidak hanya muncul dalam jangka panjang, tetapi juga memengaruhi konsentrasi, energi, dan performa belajar harian anak. Kandungan gula dan lemak tinggi dapat menyebabkan fluktuasi energi yang ekstrem, yang berujung pada kelelahan dan sulit fokus di sekolah.

Kenapa Intervensi Perlu Segera Dilakukan?

Tingginya konsumsi UPF bukan hanya soal preferensi rasa. Dari kandungannya yang banyak mengandung bahan hasil ekstraksi makanan dan aditif, menunjukkan bahwa tujuan utama produk ini bukan lagi pemenuhan gizi. Akan tetapi, lebih kepada efisiensi biaya dan daya simpan yang panjang. (5)

Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan, harusnya menjadi sinyal kuat untuk dilakukannya penguatan regulasi terhadap pemasaran makanan ultra-proses, terutama yang menyasar anak-anak. Tren makanan ultra-proses di kalangan anak dan remaja adalah tantangan serius yang membutuhkan aksi nyata. Tanpa intervensi, risiko gangguan kesehatan di masa depan akan meningkat.

Beberapa negara di Amerika dan Eropa juga telah menerapkan pelabelan gizi yang tegas dan pembatasan iklan UPF untuk anak. Hasilnya, konsumsi produk tinggi gula dan lemak berhasil ditekan, menjadi bukti bahwa regulasi yang kuat bisa mengubah kebiasaan makan masyarakat.

Peran Keluarga dan Sekolah Tidak Kalah Penting

Pemerintah memang memegang peran penting. Namun, perubahan pola makan tidak bisa terjadi tanpa dukungan orang tua dan sekolah, yang banyak bersentuhan langsung dengan anak. Edukasi gizi sejak dini harus dimulai dari rumah, diperkuat oleh kurikulum sekolah, dan ditunjang oleh lingkungan yang mendukung konsumsi makanan sehat. (8)

Langkah kecil seperti membiasakan anak membawa bekal, mengurangi jajanan kemasan, dan mengenalkan makanan segar bisa berdampak besar dalam jangka panjang. Intervensi lain juga dibutuhkan, seperti pelabelan gizi yang jelas, edukasi gizi berbasis sekolah, serta penguatan program seperti PJAS (Pangan Jajanan Anak Sekolah) dan kantin sehat sebagai upaya preventif di lingkungan pendidikan.

Kini saatnya kita bergerak. Edukasi, regulasi, dan kolaborasi semua pihak dibutuhkan untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat. Mari mulai dari langkah kecil, pilih makanan segar, kurangi kemasan, dan ajak anak mengenal makanan alami.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Monteiro, C. A., Cannon, G., Moubarac, J. C., Levy, R. B., Louzada, M. L. C., & Jaime, P. C. Ultra-processed foods: what they are and how to identify them. Public Health Nutrition [Internet]. 2019;22(5):936–41. Available from: https://doi.org/10.1017/S1368980018003762
  2. Suci SE, Putri IE, Fazriah H. Hubungan enabling dan predisposing pola konsumsi fast food pada remaja usia 16–18 tahun di SMAN 6 Kabupaten Tangerang. J Gizi Dietetik [Internet]. 2024 Jun;3(2):140–146. Available from: https://doi.org/10.25182/jigd.2024.3.2.140-146
  3. Diba F. Makanan ultra-proses, inovasi dalam industri makanan modern. Ibnu Sina J Kedokt dan Kesehat [Internet]. 2025;24(1):191. Available from:https://doi.org/10.30743/ibnusina.v24i1.798
  4. Hartian SN, Harahap MH. Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap kebiasaan konsumsi fast food pada siswa SDN 70 Kota Pekanbaru. JKEMS [Internet]. 2023 Jul;1(2):7–17. Available from: https://rumahjurnal.or.id/index.php/jkems/article/view/493
  5. Faza F, Bafani UFF, Fikha II. Ultra-processed food can be a mediator between food security status and overweight or obesity among adults: A literature review. Amerta Nutr [Internet]. 2023;7(1):161–174. Available from: https://doi.org/10.20473/amnt.v7i1.2023.161-174
  6. International Agency for Research on Cancer. Consumption of ultra-processed foods associated with weight gain and obesity in adults: a multi-national cohort study. 2024 [cited 2025 May 19]. Available from: https://www.iarc.who.int/news- events/consumption-of-ultra-processed-foods-associated-with-weight-gain- and-obesity-in-adults-a-multi-national-cohort-study/
  7. BMJ. Ultra-processed foods and cardiometabolic health: public health policies to reduce consumption cannot wait [Internet]. 2023 [cited 2025 May 19]. Available from: https://www.bmj.com/content/383/bmj-2023-075294

Masyarakat Indonesia sangat bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama, baik beras putih maupun beras merah. Akan tetapi,tahukah kamu bahwa cara kita mengolah beras, termasuk lamanya perendaman, ternyata dapat memengaruhi kandungan gizinya?Artikel ini akan membahas fakta ilmiah
mengenai pengaruh waktu perendaman terhadap kandungan vitamin B1, serat kasar, dan bahkan kadar gula dalam nasi—khususnya penting untuk kamu yang peduli dengan kesehatan atau memiliki diabetes.

Mengapa Perendaman Penting untuk Beras Merah?

Beras merah memiliki lapisan aleuron yang kaya akan antosianin, vitamin, mineral, dan serat pangan. Saat difermentasi atau dikecambahkan (germinated brown rice/GBR), proses perendaman akan memicu aktivitas enzim yang mampu meningkatkan kandungan zat gizi seperti Vitamin B1 (thiamin) dan GABA (senyawa alami yang membantu merilekskan tubuh dan menurunkan tekanan darah). (1) Salah satu studi menunjukkan bahwa perendaman selama 20 jam dapat meningkatkan kadar vitamin B1 dari 0.078 mg/100g menjadi 0.128 mg/100g dan serat kasar dari 7.36% menjadi 8.39%. (2)

Bagaimana dengan beras putih?

Berbeda dari beras merah, beras putih telah melalui proses penyosohan yang menghilangkan sebagian besar kandungan gizi di lapisan bekatul. Walau demikian, cara pencucian dan perendaman tetap memberi dampak terhadap gizinya. Studi dari Universitas Muhammadiyah Gresik menunjukkan bahwa mencuci beras putih lebih dari dua kali bisa menurunkan kandungan vitamin B1 dan serat kasar secara signifikan. Pencucian empat kali menyebabkan vitamin B1 turun dari 0.8% menjadi 0.6% dan serat kasar dari 0.41% menjadi 0.39%. (3)

Bagaimana pengaruh perendaman terhadap kadar gula dan apa hubungannya dengan diabetes?

Selain vitamin dan serat, perendaman juga bisa memengaruhi kadar gula dalam nasi—dan ini penting diketahui khususnya bagi penderita diabetes. Walau perendaman dapat meningkatkan kualitas gizi seperti vitamin dan serat, ternyata ada perbedaan penting terkait gula antara beras putih dan merah.

Pada beras putih, perendaman atau pencucian yang berlebihan justru dapatmeningkatkan kadar gula dalam nasi. Ini terjadi karena butiran beras yang pecah selama pencucian membuat karbohidrat lebih mudah diubah menjadi gula saat dimasak. Kandungan gula nasi putih pada pencucian 4x meningkat menjadi 2.90%, dibanding 2.78% pada pencucian 2x. (2)

Namun berbeda dengan beras merah, meski selama proses perkecambahan karbohidrat kompleks diubah menjadi gula sederhana, beras merah tetap memiliki kandungan serat tinggi yang membantu memperlambat penyerapan glukosa dalam darah. Artinya, indeks glikemik (GI) beras merah tetap lebih rendah dibandingkan beras putih, bahkan setelah direndam lama.

Sebagai gambaran:

  1. Beras putih memiliki GI tinggi, sekitar 70–89, artinya mudah meningkatkan kadar gula darah secara cepat.
  2. Beras merah memiliki GI yang lebih rendah, sekitar 50–55, yang jauh lebih ramah bagi penderita diabetes.(4)

Bagaimana perendaman sebaiknya dilakukan?

Untuk beras merah, perendaman 20–24 jam (dengan penggantian air secara berkala) merupakan metode yang terbukti dapat meningkatkan kandungan gizi dan komponen bioaktif seperti vitamin B1, GABA, dan serat. Hasilnya? Nasi jadi lebih pulen dan punya rasa manis alami..

Sedangkan untuk beras putih, cukup mencuci 1–2 kali saja agar tidak kehilangan gizi larut air dan untuk menghindari lonjakan gula darah yang bisa terjadi jika butiran beras rusak akibat pencucian berlebih.

Berikut rangkuman yang bisa kamu terapkan di rumah:

  1. Pilih beras merah germinasi (direndam 20–24 jam) sebagai alternatif lebih sehat jika kamu memiliki risiko diabetes, Kandungan GABA dan seratnya membantu menstabilkan gula darah dan menurunkan risiko komplikasi.
  2. Rendam beras merah selama 20 jam sebelum dimasak seperti biasa untuk memaksimalkan kandungan vitamin dan seratnya.
  3. Hindari beras putih yang direndam terlalu lama atau dicuci lebih dari dua kali, karena berpotensi meningkatkan kadar gula darah dan menurunkan vitamin B1 dan serat.
  4. Perhatikan juga metode memasak—gunakan air secukupnya dan hindari perebusan berlebih agar gizi tidak larut.

Kesimpulan: pilihan cerdas, rendam dengan bijak

Perendaman memang memberi dampak besar pada kualitas gizi beras, tapi tidak semua efeknya positif. Untuk kamu yang sedang menjaga kesehatan atau menderita diabetes, memilih beras merah germinasi bisa menjadi solusi terbaik karena kaya serat, vitamin, dan senyawa fungsional seperti GABA.Sementara itu, penggunaan beras putih sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan dalam proses pencuciannya.

Setiap butir nasi yang kita makan bukan cuma sekadar pengenyang. Di balik proses perendaman atau pencucian yang tampak sepele, tersembunyi dampak besar bagi tubuh—terutama untuk kamu yang sedang menjaga kadar gula darah atau hidup berdampingan dengan diabetes.

Mulai dari dapur, kamu bisa melindungi tubuhmu dari risiko diabetes. Cukup pilih beras yang tepat, dan rendam dengan cara yang cerdas.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Munarko H, Budijanto S, Sitanggang AB, Kusnandar F. Pengaruh waktu perendaman beras terhadap profil pasting dan komponen bioaktif tepung beras pecah kulit berkecambah.PANGAN. 2021;30(3):187–198.
  2. Yuliyana T. Pengaruh waktu perendaman terhadap kadar vitamin B1 dan serat kasar pada nasi beras merah. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju; 2021.
  3. Chotimah C, Prayitno SA, Utami DR. Pengaruh frekuensi pencucian beras terhadap kadar vitamin B1, serat kasar, dan total gula pada nasi. JUSTI (Jurnal Sistem dan Teknik Industri). 2023;4(2):160–163.
  4. Atkinson FS, Foster-Powell K, Brand-Miller JC. International tables of glycemic index and glycemic load values. Diabetes Care. 2008;31(12):2281–2283.

Padel adalah olahraga raket dengan kombinasi yang unik antara tenis dan squash. Saat ini, padel sedang viral dan semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Padel dimainkan secara berpasangan di lapangan berdinding kaca yang lebih kecil dari lapangan tenis. Meski terbilang baru di beberapa negara, padel telah menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia karena menyenangkan dan mudah
dipelajari (2).

Namun, padel bukan sekadar olahraga yang seru dimainkan. Di balik keseruannya, padel menyimpan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh dan mental. Apa saja manfaat tersebut? Simak penjelasannya sebagai berikut.

1. Membakar Kalori dan Menurunkan Berat Badan

padel

Padel melibatkan gerakan cepat, lari kecil, dan refleks tangan yang aktif. Dalam satu jam permainan padel, seseorang bisa membakar sekitar 400–600 kalori, tergantung intensitas dan gaya bermain. Ini menjadikannya sebagai olahraga yang efektif untuk membantu menurunkan berat badan dan menjaga tubuh tetap bugar (1).

2. Melatih Otot dan Keseimbangan Tubuh

Meski terlihat seperti olahraga ringan, padel sebenarnya melatih hampir seluruh bagian tubuh. Gerakan memukul bola, melompat, dan berlari dapat memperkuat otot kaki, lengan, dan inti tubuh. Selain itu, permainan ini juga menantang koordinasi dan keseimbangan tubuh karena posisi bola sering berubah arah akibat pantulan dari dinding (1).

3. Meningkatkan Kesehatan Jantung

Karena padel termasuk olahraga kardio, bermain secara rutin dapat memperkuat jantung, meningkatkan sirkulasi darah, dan menurunkan risiko penyakit jantung. Aktivitas fisik ini juga membantu mengontrol kadar kolesterol dan tekanan darah (1).

4. Mengurangi Stres dan Meningkatkan Mood

padel 2

Olahraga padel tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran. Selama bermain, tubuh melepaskan hormon endorfin yang membuat kita merasa lebih bahagia dan rileks. Aktivitas ini juga membantu mengurangi stres dan kecemasan, terutama saat dilakukan bersama teman atau pasangan, karena melibatkan interaksi sosial yang menyenangkan (3,4).

5. Meningkatkan Konsentrasi dan Refleks

Padel membutuhkan fokus tinggi untuk memprediksi arah bola dan bereaksi cepat. Ini membantu meningkatkan konsentrasi, ketajaman mental, serta refleks otak dan tubuh. Bermain padel secara rutin bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk menjaga fungsi otak tetap tajam, terutama seiring bertambahnya usia (3).

6. Memperkuat Hubungan Sosial

Salah satu keunggulan padel adalah sifatnya yang sosial. Karena selalu dimainkan berpasangan, olahraga ini mendorong kerja sama, komunikasi, dan interaksi antar pemain. Hal ini menjadikannya cara yang bagus untuk memperluas pergaulan, mengurangi rasa kesepian, dan membangun hubungan yang lebih sehat (2,3). Padel bukan sekadar tren olahraga baru. Dengan manfaat yang mencakup aspek fisik dan mental, olahraga ini cocok untuk berbagai usia dan tingkat kebugaran. Mudah dipelajari, menyenangkan, dan menyehatkan padel bisa menjadi pilihan aktivitas rutin yang memberi dampak positif bagi kualitas hidup kita secara keseluruhan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Sánchez-Alcaraz Martínez BJ, Courel-Ibáñez J, Cañas J, González-Sánchez J, Martínez-Patiño MJ. Fitness Benefits of Padel Practice in Adult Population [Internet]. Journal of Human Sport and Exercise. 2020 [cited 2025 Jul 23]. p. 323–333. Available from: https://www.jhse.ua.es/article/view/1923
  2. International Padel Federation. What is Padel? [Internet]. padelfip.com. 2023 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.padelfip.com/what-is-padel
  3. PadelMBA Team. Why Playing Padel is Good for Your Mental Health [Internet]. PadelMBA. 2022 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.padelmba.com/blog/why-playing-padel-is-good-for-your-mental-health
  4. Mayo Clinic Staff. Exercise and stress: Get moving to manage stress [Internet]. Mayo Clinic. 2023 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/exercise-and-stress/art-20044469