Menurut data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, 96,7% masyarakat
Indonesia belum mengkonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran WHO
yaitu 5 porsi dalam sehari.(1) Kurangnya konsumsi sayur dan buah terjadi
karena berbagai penyebab seperti tidak menyukai sayur dan buah, tidak
terbiasa mengkonsmsi, kurangnya ketersediaan buah dan sayur di
rumah, hingga kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang
seimbang.(1,2) Padahal sayur dan buah dengan berbagai warna alami
yang menarik memiliki beragam zat gizi yang baik untuk kesehatan.
Beda warna beda kandungannya?
Sayuran dan buah memiliki kandungan vitamin, mineral, hingga serat.
Selain itu, warna-warni alami sayuran dan buah menandakan adanya
senyawa alami fitonutrien yang terkandung di dalamnya.
1. Merah
Warna merah pada buah dan sayur menandakan bahwa terdapat
kandungan antioksidan dan likopen yang termasuk dalam
kelompok karotenoid. Zat ini bermanfaat untuk melindungi tubuh
dari oksidasi serta dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh.(3)
Contoh sayuran dan buah berwarna merah yaitu tomat, cabai,
semangka, dan stroberi.
2. Kuning dan oranye
Warna kuning atau oranye menandakan bahwa terdapat zat lutein,
zeaxanthin karotenoid, dan kurkuminoid. Zat ini dapat membantu
menjaga kesehatan mata, menjaga kesehatan saluran cerna, dan
berperan dalam meningkatkan kesuburan. (4,5) Contohnya dapat
ditemukan pada wortel, labu kuning, pepaya, kunyit, dan paprika
kuning.
3. Biru keunguan
Warna ungu dan biru disebabkan karena kandungan antosianin
dan flavonoid yang baik untuk mencegah kerusakan sel.(6)
Kandungan tersebut ditemukan pada bluberi, anggur, kismis,
terong ungu, kubis ungu, dan kembang kol ungu.
4. Hijau
Warna hijau disebabkan karena adanya kandungan klorofil. Klorofil
memiliki kandungan antioksidan yang baik untuk menangkal
radikal bebas. Selain itu terdapat zat gizi lain seperti vitamin K, folat,
kalium, dan magnesium yang dapat membantu meningkatkan
kesehatan pembuluh darah.(7) Zat ini dapat ditemukan pada
sayuran berdaun hijau, brokoli, melon, hingga alpukat.
Manfaat Konsumsi Sayur dan Buah
1. Membantu menjaga kesehatan pencernaan
Saluran cerna menjadi “otak kedua” yang menjaga
keberlangsungan hidup manusia. Saluran cerna yang sehat dapat
menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan kita. Sayur dan
buah merupakan sumber serat yang dapat menjaga kesehatan
saluran cerna. Serat dapat meningkatkan volume feses dengan
mengikat air dalam usus.(8) Selain itu, jenis serat tak larut yang
buah dan sayur seperti pisang, apel, dan asparagus dapat menjadi
sumber prebiotik atau makanan untuk bakteri baik di dalam usus.
Adanya prebiotik alami dapat membantu menjaga keseimbangan
mikroflora usus sehingga terhindar dari bakteri patogen.(9)
2. Menjaga kesehatan kulit
Istilah “eat your skincare” saat ini sudah menjadi kebiasaan baru
yang sering kita temukan di beranda media sosial. Sayur dan buah
dengan berbagai kombinasi menjadi daya tarik tersendiri bagi
mereka yang ingin memiliki kulit yang sehat. Sayur dan buah
mengandung vitamin C, Vitamin A, hingga antioksidan yang
membantu menjaga elastisitas kulit, mencegah penuaan, hingga
membantu mencerahkan kulit.(10)
3. Mencegah obesitas
Salah satu upaya mencapai status gizi yang baik adalah dengan
mengkonsumsi makanan yang seimbang yang terdiri dari
karbohidrat, lauk, sayur, dan buah. Sayur dan buah memiliki
kandungan kalori yang rendah dan kaya akan serat. Serat dapat
membantu menurunkan lipid plasma, mengurangi respon
glikemik, dan bermanfaat dalam penganturan berat badan. (11)
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Survei Kesehatan Indonesia 2023.
Jakarta:2023
Hanifa, A., Kusharisupeni D.,Triyanti., & Saliman. The Consumption of Fruits and
Vegetables Among Students of SMAN 81 Jakarta. The Journal of Nutrition and
Food Research, 2020 43(2)
Minich DM. A Review of the Science of Colorful, Plant-Based Food and Practical
Strategies for "Eating the Rainbow". J Nutr Metab 2020
Bae J.-M., Kim EH Asupan buah jeruk dalam makanan dan risiko kejadian kanker
lambung: meta-analisis adaptif dari studi kohort. Epidemiologi dan Kesehatan.
2016;38
Palan P., Naz R. Perubahan berbagai tingkat antioksidan dalam plasma mani
manusia terkait dengan imunoinfertilitas. Arsip Andrologi. 1996;36(2):139–143.
Yang J., Xiao Y.-Y. Fitokimia anggur dan manfaat kesehatan terkait. Ulasan Kritis
dalam Ilmu Pangan dan Gizi. 2013;53(11):1202–1225
Gupta S., Prakash J. Studi tentang sayuran berdaun hijau India untuk aktivitas
antioksidannya. Makanan Nabati untuk Nutrisi Manusia. 2009;64(1):39–45.
Sirait,E.,Ari K., & Risda Y. Hubungan Konsumsi Sayur dan Buah dengan Frekuensi
Buang Air Besar Pada Remaja di SMAN 7 Kota Bengkulu. Nutrire Dianita 2024
(16)1
Permatasari, T.,& A’Immatul, F. Literature review of radomized controlled trials
(RCTs): The effect of prebiotics on the intestinal immune system of patients with
type 2 diabetes. Jurnal SAGO:Gizi dan Kesehatan 2024 5(3)
Vivien W. et al. 2022. Plant-Based Foods for Skin Health : A Narrative Review.
Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 2022 112(3)
Margaret, Anne, et al.. Fiber Intake of Normal Weight, Moderately Obese and
Severely Obese Subjects. Journal Obesity A Research. America: North American
Association for the Study of Obesity (NAASO).2022
Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam arah kebijakan gizi nasional.
Pemerintah memperkuat implementasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)
sebagai strategi nasional untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Germas
tidak lagi hanya menjadi kampanye publik, melainkan telah menjadi strategi kebijakan
kesehatan nasional yang berorientasi pada upaya pencegahan. Melalui Germas 2025,
Indonesia menegaskan komitmennya untuk menurunkan beban penyakit tidak
menular, memperbaiki status gizi masyarakat, dan mendorong pola hidup aktif.
Apa Itu Germas dan Mengapa Penting?
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) adalah program nasional yang telah
dicanangkan sejak 2015. Program ini mendorong penerapan pola hidup sehat, seperti
olahraga, makan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, dan pemeriksaan
kesehatan. Germas tidak hanya menanggapi kasus penyakit tidak menular yang
semakin meningkat, tetapi juga merespons tantangan triple burden yang masih
dihadapi Indonesia. (1)
Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
(Germas) memiliki enam poin utama, yaitu peningkatan aktivitas fisik, perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), penyediaan pangan sehat serta perbaikan gizi, pencegahan
dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan yang sehat, dan edukasi
hidup sehat. Pendekatan ini menempatkan pencegahan sebagai prioritas, bukan
hanya pengobatan saat sakit. (2,3)
Di tahun 2025, Germas diperluas jangkauannya dengan menyasar lebih banyak sektor,
termasuk institusi pendidikan, tempat kerja, dan ruang publik lainnya. Pemerintah
ingin menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat secara
berkelanjutan. Artinya, mewujudkan gaya hidup sehat bukan semata tugas pribadi,
melainkan memerlukan dukungan kebijakan terpadu antar sektor.
Kebijakan Gizi Jadi Pilar Utama
Germas 2025 juga memperkuat aspek gizi melalui penyelarasan kebijakan yang lebih
menyeluruh dan terpadu. Pemerintah mulai menaruh perhatian lebih terhadap
penyediaan pangan sehat, edukasi gizi, dan pelabelan produk pangan olahan.
Misalnya, melalui Peraturan BPOM No. 26 Tahun 2021, pelaku industri wajib
mencantumkan informasi nilai gizi secara lengkap di kemasan pangan. Kewajiban ini
berlaku penuh sejak pertengahan 2024, dan menjadi bagian penting dalam
mendukung keberhasilan Germas tahun 2025. (4)
Langkah ini sangat strategis karena dapat membantu konsumen membuat pilihan
pangan yang lebih sehat. Konsumsi makanan bergizi seimbang menjadi pondasi
utama untuk mencegah malnutrisi ganda, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.
Sinergi Lintas Sektor, Bukan Tugas Kemenkes Saja
Pemerintah Indonesia memulai perencanaan strategi pelaksanaan Gerakan
Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk tahun 2025, dengan fokus pada
keberlanjutan implementasi di lingkup Kementerian dan Lembaga (K/L).
Sebagaimana juga dalam Rapat Koordinasi yang dilaksanakan secara daring pada 18
Maret 2025, Asisten Deputi Kemenko PMK, Jelsi Natalia Marampa, menyatakan
Germas akan diperkuat tahun ini. Hal tersebut disebabkan oleh tantangan dalam
penerapan Germas, seperti adanya penambahan kementerian dan lembaga, serta
perubahan nomenklatur. (5)
Penguatan Germas tahun ini juga didukung oleh sinergi antarkementerian. Misalnya,
Kementerian Pendidikan yang mendorong penerapan kantin sehat di sekolah. Selain
itu, Kementerian Ketenagakerjaan juga mengimbau perusahaan untuk menyediakan
fasilitas olahraga dan cek kesehatan rutin bagi karyawan. (6,7)
Tidak hanya itu, kehadiran Badan Gizi Nasional yang dibentuk pada 2024 menjadi
penguat koordinasi lintas sektor. Lembaga ini bertugas mengintegrasikan program-
program gizi yang tersebar di berbagai kementerian agar lebih terarah dan efektif.
Yuk, Jadi Bagian dari Germas!
Penerapan kebiasaan sehat bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, melainkan
kita semua punya peran. Mulai dari memilih menu makanan yang sehat dan bergizi,
rutin melakukan aktivitas fisik, konsumsi air putih yang cukup, dan kebiasaan-
kebiasaan sehat lainnya.
Germas 2025 adalah panggilan untuk membangun budaya hidup sehat secara
kolektif. Saat negara memperkuat kebijakan gizi, masyarakat juga perlu ambil bagian
dalam praktiknya. Mari bersama mendukung arah baru kebijakan gizi ini. Demi tubuh
yang lebih bugar, kualitas hidup yang lebih baik, dan Indonesia yang lebih sehat!
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kementerian Kesehatan RI. GERMAS – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. 2017
[cited 2025 May 24]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/germas
Kementerian Kesehatan RI. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. 2017 [cited 2025
May 24]. Available from: https://kemkes.go.id/id/layanan/gerakan-masyarakat-
hidup-sehat
Pemerintah Indonesia. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017
tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. 2017 [cited 2025 May 24]. Available
from: https://peraturan.bpk.go.id/Details/77301/inpres-no-1-tahun-2017
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Peraturan Badan Pengawas Obat dan
Makanan Nomor 26 Tahun 2021 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan
Olahan. 2021 [cited 2025 May 24]. Available from:
https://peraturan.bpk.go.id/Details/223934/peraturan-bpom-no-26-tahun-2021
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.
Pemerintah Kuatkan Implementasi Germas Tahun 2025. 2025 Mar 20 [cited 2025
May 24]. Available from: https://www.kemenkopmk.go.id/pemerintah-kuatkan-
implementasi-germas-tahun-2025
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. GERMAS Wujudkan Indonesia
Sehat. 2016 Nov 15 [cited 2025 May 24]. Available from:
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/11/germas-wujudkan-
indonesia-sehat
Kementerian Ketenagakerjaan RI. Menteri Ketenagakerjaan RI Kampanyekan
Gerakan Pekerja Sehat. [cited 2025 May 24]. Available from:
https://temank3.kemnaker.go.id/page/detail_news/12/c9540e5934a49702900d
77de6b28ded0
Di tengah kekacauan bencana, makanan bergizi sering kali jadi kebutuhan yang sulit
dijangkau. Padahal, bagi pengungsi—terutama anak-anak, ibu hamil, dan lansia—gizi yang
cukup bisa menjadi penentu antara pulih dan memburuknya kondisi kesehatan. Tapi siapa
yang memastikan kebutuhan ini tetap terpenuhi di tengah situasi darurat? Di balik layar, ada
sistem yang berjalan, orang-orang yang berjaga, dan kolaborasi yang tak tampak—semua
demi satu tujuan: menjaga gizi tetap tersedia di masa krisis.
Mengapa Gizi jadi Prioritas di Tengah Bencana?
Bencana seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan kerap
menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat, terutama dalam hal
pemenuhan gizi. Situasi darurat ini sering kali menyebabkan meningkatnya kasus kurang
gizi, defisiensi mikronutrien, bahkan kekurangan gizi kronis, terutama di kelompok rentan
seperti balita, ibu hamil, dan lansia.
Penanganan gizi menjadi bagian penting dalam respons bencana karena berperan langsung
dalam mencegah penurunan status gizi. Pemberian makanan dan asupan gizi yang tidak
sesuai justru dapat memperparah kondisi, bahkan meningkatkan risiko kematian, terutama
pada bayi dan anak-anak yang sudah mengalami gangguan gizi. (1)
Peran Ahli Gizi dalam Situasi Bencana
Ahli gizi memegang peranan penting dalam penanggulangan bencana, terutama dalam
menjaga dan meningkatkan status gizi kelompok terdampak. Tugas ahli gizi meliputi
merancang menu sederhana namun bernilai gizi tinggi yang disesuaikan dengan
ketersediaan bahan pangan, air bersih, serta fasilitas pendukung seperti bahan bakar dan
tenaga kerja. Intervensi gizi dilakukan berdasarkan tingkat kedaruratan, kondisi kesehatan,
dan sumber daya yang tersedia, dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya
masyarakat terdampak.
Selain itu, ahli gizi melaksanakan surveilans untuk memantau status gizi dan perkembangan
kesehatan pengungsi, mengatur pembagian tugas di lapangan agar distribusi dan penyajian
makanan berjalan efektif, serta berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain, lembaga
swadaya masyarakat, dan organisasi masyarakat. Peran pemberdayaan pengungsi juga
penting agar kelompok terdampak dapat aktif berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan
di lingkungan masing-masing. (2)
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 7937:2013) tentang layanan kemanusiaan
dalam bencana, penyedia layanan ketahanan pangan dan gizi wajib melakukan pengkajian
yang valid untuk memahami tingkat kerawanan pangan dan gizi, serta mengidentifikasi
kelompok paling rentan. Perlindungan pemberian makanan bayi dan anak menjadi prioritas
utama, dengan penerapan panduan kebijakan dan koordinasi yang kuat. Bantuan pangan
harus diberikan tepat waktu, layak, dan sesuai kebutuhan guna meminimalkan risiko dan
mendukung kemampuan bertahan hidup ibu, bayi, dan anak.
Penyedia layanan juga harus memastikan makanan yang disediakan cocok, aman, dan dapat
diterima secara budaya serta dapat digunakan secara berdaya guna di tingkat rumah
tangga. Penyaluran makanan pada tahap tanggap darurat harus dilakukan secara
transparan, aman, manusiawi, dan sesuai kondisi setempat. Penyimpanan, persiapan, dan
konsumsi makanan di tingkat rumah tangga dan komunitas harus menjamin keamanan dan
kelayakan pangan. (3)
Prinsip Penanganan Gizi Darurat
Prinsip penanganan gizi darurat terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap penyelamatan, tahap
tanggap darurat, dan melakukan pengamatan surveilans gizi.
1. Tahap Penyelamatan
Ini adalah tahap awal untuk memastikan pengungsi tidak kelaparan dan dapat
menjaga status gizinya. Terbagi menjadi dua fase:
Fase 1: dilakukan pada 5 hari pertama pasca bencana, saat data pengungsi belum
lengkap dan makanan diberikan secara seragam tanpa perencanaan rinci. Fokus
pada pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin, pendataan awal
(jumlah pengungsi, jenis kelamin, golongan umur), dan penyelenggaraan dapur
umum.
Fase 2: setelah 5 hari, data pengungsi lebih lengkap (jumlah, golongan umur, jenis
kelamin, keadaan lingkungan, dan sebagainya) sehingga distribusi makanan bisa
lebih terencana, serta tersedia cukup bantuan bahan makanan. Bantuan pangan
(ransum) per orang diperhitungkan senilai 2.100 kkal, protein (50 g/hari), lemak
(40 g/hari), serta harus memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral. Pemberian
makanan diusahakan mempertimbangkan kebiasaan lokal dan kemudahan
distribusi. Penyuluhan gizi juga mulai dilakukan pada fase ini.
2. Tahap Tanggap Darurat
Dimulai paling lambat hari ke-20 di lokasi pengungsian. Kegiatan yang dilakukan
meliputi:
Screening status gizi terutama balita.
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai kondisi (darurat, terbatas, atau
terapi).
Penyuluhan gizi secara individu atau kelompok.
Pemantauan status gizi secara berkala.
Modifikasi/perbaikan intervensi sesuai dengan perubahan tingkat kedaruratan.
Jenis intervensi ditentukan berdasarkan prevalensi gizi kurang dan faktor pemburuk:
Jika prevalensi >15%, atau 10–14% disertai faktor pemburuk, maka diberikan paket
pangan standar (ransum) minimal per orang per hari. Selain itu, diberikan PMT
darurat bagi balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia, serta PMT terapi untuk
penderita gizi buruk. Komposisi PMT darurat mengikuti standar ransum.
Jika prevalensi 10–14,9% atau 5–9,9% dengan faktor pemburuk, diberikan PMT
darurat terbatas untuk kelompok rentan, serta PMT terapi untuk penderita gizi
buruk.
Jika prevalensi <10% tanpa faktor pemburuk atau <5% dengan faktor pemburuk,
maka penanganan dilakukan melalui pelayanan kesehatan setempat.
3. Tahap Pengamatan/Surveilans Gizi
Dilakukan untuk memantau perkembangan status gizi pengungsi secara
berkelanjutan dan menyesuaikan intervensi yang diperlukan. (2)
Koordinasi Lintas Sektor dalam Respons Gizi Darurat
Koordinasi adalah proses menyatukan berbagai sumber daya dan aktivitas organisasi agar
mampu menghasilkan kerja yang sinergis. Tujuannya adalah menangani dampak kesehatan
masyarakat akibat bencana secara menyeluruh dan terpadu, sehingga sasaran yang telah
direncanakan bisa dicapai dengan cara yang efektif dan efisien.
Koordinasi mencakup kerja sama lintas program dari berbagai pihak, seperti pemerintah,
organisasi non-pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sektor swasta, maupun
masyarakat. Bentuk koordinasi ini melibatkan integrasi berbagai layanan, seperti: penilaian
kebutuhan kesehatan di lokasi bencana, penyediaan layanan kesehatan dasar dan spesialis,
perbaikan gizi bencana, imunisasi, pengendalian vektor, sanitasi dan lingkungan,
penyuluhan kesehatan, serta penyediaan logistik kesehatan. (4)
Ketahanan gizi dalam bencana tak bisa dibangun sendirian. Butuh sistem yang tangguh,
tenaga yang sigap, dan jejaring lintas sektor yang saling menopang agar makanan bergizi
benar-benar sampai ke yang membutuhkan, tepat saat mereka membutuhkannya.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Dinkes Provinsi Kepulauan Riau. Pentingnya Penanganan Gizi pada Situasi Bencana [Internet]. 2022 [dikutip 23 Mei 2025]. Tersedia pada: https://dinkes.kepriprov.go.id/blog/viewberita/pentingnya-
penanganan-gizi-pada-situasi-bencana
Helmyati S, Yuliati E, Maghribi R, Wisnusanti SU. Manajemen Gizi dalam Kondisi Bencana. Cetakan
Pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2018. 17–24 hal.
Kemenkes RI. Pedoman Penanganan Gizi dalam Penanggulangan Bencana. Jakarta; 2018.
Kemenkes RI. Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana di Lapangan. Jakarta; 2002.
Minuman berpemanis menjadi minuman yang digemari oleh kalangan remaja.
Sebagian remaja lebih tertarik untuk mengonsumsi minuman tersebut karena
terdapat berbagai rasa dan warna yang ditawarkan, serta mudah mendapatkannya di
berbagai toko. Namun, di balik rasa manisnya, terdapat dampak negatif yang akan
dialami remaja apabila minuman berpemanis dikonsumsi dalam jangka panjang, yaitu
terjadinya penyakit gagal ginjal kronis (GGK). (1)
Pengertian dan Fakta Mengenai Minuman Berpemanis
Minuman berpemanis adalah kategori minuman tinggi kalori dan gula, namun rendah
zat gizi. Gula tambahan yang digunakan pada minuman ini, meliputi sukrosa, gula
putih, gula merah, madu, dan high corn fructose syrup. (2) Jenis-jenis minuman
berpemanis, yaitu soft drink, minuman teh dan kopi dengan tambahan gula, flavored
milk, minuman rasa buah dengan tambahan gula, minuman olahraga, dan minuman
energi. (3,4) Jika minuman berpemanis dikonsumsi terus-menerus, risiko terjadinya
penyakit tidak menular (PTM), seperti obesitas, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit
kardiovaskular meningkat. (5,6)
Tingkat konsumsi minuman berpemanis secara global masih tinggi. Pada tahun 2018,
Data Euromonitor International menyebutkan bahwa konsumsi minuman manis di
Cina adalah 410 liter per tahun. Indonesia terdapat pada urutan ketiga dalam konsumsi
minuman berpemanis, yaitu 20,23 liter per orang di Asia Tenggara. (7) Berdasarkan
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sebesar 45,8% remaja yang berusia 15-
19 tahun mengonsumsi minuman berpemanis ≥1 kali per hari. (8) Suatu penelitian
menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis minimal 1x seminggu oleh 62% anak-
anak, 72% remaja, dan 61% orang dewasa dengan teh kemasan siap minum menjadi
salah satu jenis minuman yang sering dikonsumsi. (9) Teman sebaya dan media massa
menjadi faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi minuman berpemanis. (10)
Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Fakta Gagal Ginjal Kronis (GGK)
Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal jangka panjang karena
metabolisme, serta keseimbangan cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan
oleh tubuh. (11) Di sebagian besar negara berkembang, diabetes dan hipertensi adalah
faktor utama penyebab GGK. Selain itu, GGK juga disebabkan oleh beberapa faktor,
seperti pencemaran lingkungan, pestisida, penyalahgunaan analgesik, pengobatan
herbal, dan penggunaan bahan aditif makanan dengan takaran yang tidak tepat,
seperti penambahan pemanis ke dalam minuman. (12,13) Gejala-gejala GGK meliputi
gross hematuria, urine berbusa (tanda albuminuria), nokturia, nyeri pinggang, atau
penurunan produksi urin. (14) Selain itu, penderita GGK juga mengalami badan dan
tulang lemah; demam; nyeri kepala dan seluruh badan; nafsu makan menurun; kaki
kram; gatal; kaki gelisah; sendi bermasalah; gangguan pada kulit, sendi, tidur, serta
psikologis; dan depresi. Hal ini menurunkan status fungsional dan kualitas hidup. (15)
GGK merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendunia dengan kenaikan
angka kejadian dan jumlah kasus gagal ginjal, prognosis yang buruk, dan biaya
pengobatan yang besar. GGK membutuhkan perhatian lebih karena seringkali gejala
pada stadium awal tidak terdeteksi dan membutuhkan pengeluaran untuk
penanganan yang sangat besar pada stadium akhir, khususnya untuk cuci darah
(hemodialisis) atau transplantasi ginjal. (16) Menurut hasil SKI tahun 2023, jumlah
penduduk usia 15-24 tahun yang didiagnosis oleh dokter mengalami GGK, yaitu
133.587 orang dan yang mengikuti hemodialisis sebesar 16,2%. (8) Penderita GGK akan
bergantung pada mesin hemodialisis seumur hidupnya karena jika tidak, kondisi
tubuh terancam bahkan dapat menyebabkan kematian. (17)
Hubungan Minuman Berpemanis dengan GGK
Kelebihan konsumsi gula dalam minuman berpemanis dapat meningkatkan berat
badan. Peningkatan berat badan berdampak terhadap kejadian obesitas, yaitu
penumpukan energi yang berlebih di dalam tubuh yang akan disimpan dalam bentuk
jaringan lemak. Jika penumpukan lemak terjadi dalam jumlah besar, resistensi insulin
akan timbul yang akan memengaruhi kadar glukosa (gula) di dalam darah. Jika
konsumsi gula berlebih dilakukan dalam waktu yang lama, kadar glukosa semakin
tinggi sehingga remaja akan mengalami penyakit Diabetes Mellitus tipe II. (18,19)
DM tipe II dapat merusak ginjal secara perlahan, yang dikenal sebagai gagal ginjal
kronis (GGK). Hal ini terjadi karena kadar glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia) bisa
merusak bagian penyaring ginjal yang disebut glomerulus. Kerusakan ini membuat
dinding penyaring ginjal menebal dan sel-sel di sekitarnya tumbuh berlebihan
sehingga penyaringan darah jadi tidak normal dan protein penting dari darah (seperti
albumin) bisa bocor ke dalam urine, ini disebut albuminuria.
Jika kadar albumin dalam urine terus meningkat, kondisi ginjal bisa makin parah
hingga terjadi gagal ginjal. Gula darah yang tinggi pada penderita diabetes bisa
bereaksi dengan protein di tubuh, merusak struktur dan fungsi sel, termasuk bagian
penyaring ginjal. Akibatnya, ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring
protein dengan baik, dan protein pun ikut terbuang lewat urine (disebut juga
mikroalbuminuria). (20)
Apa yang Harus Dilakukan Agar Terhindar dari GGK?
WHO menyarankan agar remaja membatasi asupan gula tambahan di bawah
5% dari total konsumsi energi harian. American Heart Association (AHA) juga
merekomendasikan agar remaja membatasi konsumsi minuman berpemanis
hingga satu atau kurang dari satu minuman berukuran 8 ons (sekitar 237 ml) per
minggu, serta kurang dari 25 gram (100 kalori atau sekitar 6 sendok teh) gula
tambahan per hari. (21)
Mengganti satu porsi minuman berpemanis harian dengan air putih, kopi, atau
teh (namun bukan dengan tambahan gula) berkaitan dengan penurunan risiko
diabetes sebesar 2–10% sehingga risiko untuk mengalami GGK juga akan
menurun. (22)
Membaca label informasi nilai gizi sebelum memilih dan mengonsumsi produk
minuman berpemanis agar dapat memilih dan mengonsumsi minuman
berdasarkan kebutuhan, terutama untuk kandungan gizi yang harus dikontrol,
seperti gula. (23)
Services IC. Fruit juices, sugar sweetened beverages and artificially sweetened beverages:
consumption patterns and impact on overweight and obesity. 2018.
Haughton CF, Waring ME, Wang ML, Rosal MC, Pbert L, Lemon SC. Beverages when available
at home. J Pediatr. 2018;202:121–8.
Malik VS, Hu FB. Sugar-sweetened beverages and cardiometabolic health: An update of the
evidence. Nutrients. 2019;11(8).
Ahmad N, Zuki MAM, Azahar NA, Khor BH, Minhat HS. Prevalence and Factors Associated with
Sugar-Sweetened Beverage Intake among Undergraduate Students in a Public University in
Malaysia. Pakistan J Nutr. 2019;18(4):354–63.
Ferretti F, Mariani M. Keterjangkauan Harga Minuman Manis dan Prevalensi Kelebihan Berat
Badan dan Obesitas di Berbagai Negara. Global Health [Internet]. 2019;15(1):1–14. Tersedia pada:
https://www.researchgate.net/publication/332513001_Sugar-
sweetened_beverage_affordability_and_the_prevalence_of_overweight_and_obesity_in_a_cr
oss_section_of_countries
Kemenkes. Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI). Kemenkes. 2023;235.
Laksmi PW, Morin C, Gandy J, Moreno LA, Kavouras SA, Martinez H, et al. Fluid intake of children,
adolescents and adults in Indonesia: results of the 2016 Liq.In7 national cross-sectional survey.
Eur J Nutr [Internet]. 2018;57(3):89–100. Tersedia pada: http://dx.doi.org/10.1007/s00394-018-
1740-z
Yulianti RD, Mardiyah S. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI
MINUMAN KEMASAN BERPEMANIS PADA REMAJA (Factors Associated with Consumption of
Sweetened Packaged Drinks among Adolescents). J Sains Kesehat. 2023;30(3).
Budianto Y. Hubungan Diabetes Mellitus Dengan Kejadian Gagal Ginjal Kronik Di Ruang
Hemodialisa RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu. J Cendikia Med.
2017;2(2):88–93.
Ayodele OE, Alebiosu CO. Burden of chronic kidney disease: an international perspective. Adv
Chronic Kidney Dis. 2010;17(3):215–24.
Agyei-Mensah S, De-Graft Aikins A. Epidemiological transition and the double burden of disease
in Accra, Ghana. J Urban Heal. 2010;87(5):879–97.
Chertow GM, Marsden PA, Taal MW, Yu ASL. Brenner and Rector’s The Kidney. 10 ed. Elsevier;
2015.
Dias Saraswati S, Suryo Prabandari Y, Sulistyarini RI. Pengaruh Terapi Kelompok Suportif Untuk
Meningkatkan Optimisme Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis. J Interv
Psikol. 2019;11(1):55–66.
Wijiastutik Y, Ramadhan W. Korelasi Kebiasaan Konsumsi Pangan dengan Prevalensi Penyakit
Ginjal Kronis di Indonesia (Corellation of Food Consumption Habits with The Prevalence of
Chronic Kidney Disease in Indonesia). J Nutr Food Res. 2023;46(2):101–10.
Yuliyanti R, Rocmawati DH, Purnomo. Pengaruh Cognitive Therapypada Pasien Gagal Ginjal
Kronik Di Smc Rs Telogorejo. J Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan. 2015;2(3):123–33.
Kemenkes. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang
Pedoman Gizi Seimbang. 2014. hal. 96.
Soelistijo SA, Novida H, Rudijanto A, Soewondo P, Suastika K, Manaf A, et al. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe II di Indonesia 2015. PB. PERKENI; 2015. 1–
93 hal.
Tandipayuk G. Hubungan Antara Diabetes Mellitus dengan Gagal Ginjal Kronik pada Pasien
yang Dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo Periode 1 Januari-30 Juni 2012. Universitas
Hasanuddin; 2013.
European Commission. Dietary recommendations for sugars intake [Internet]. 2021 [dikutip 22
Mei 2025]. Tersedia pada: https://knowledge4policy.ec.europa.eu/health-promotion-
knowledge-gateway/sugars-sweeteners-6_en
Drouin-Chartier JP, Zheng Y, Li Y, Malik V, Pan A, Bhupathiraju SN, et al. Changes in Consumption
of Sugary Beverages and Artificially Sweetened Beverages and Subsequent Risk of Type 2
Diabetes: Results from Three Large Prospective U.S. Cohorts of Women and Men. Diabetes
Care. 2019;42(12):2181–9.
Pratama CIAS, Mardiyati NL. Hubungan antara Kebiasaan Membaca Label Kandungan Gizi
Minuman Kemasan Berpemanis dengan Status Gizi pada Pelajar SMP Al Islam 1 Surakarta.
Ghidza J Gizi dan Kesehat. 2024;8(1):127–34.
Baru-baru ini dunia kesehatan cukup digemparkan dengan pengumuman
Presiden International Diabetes Federation (IDF), Prof. Dr. Peter Schwarz,
terkait pengakuan resmi atas klasifikasi diabetes mellitus tipe 5. Penyakit ini
sebenarnya bukan hal baru, tetapi pemahaman tentang penyebab, dampak,
dan persebarannya terus berkembang, terutama dalam konteks malnutrisi
dan kondisi sosial-ekonomi yang rendah.
Sobat ilmugiziku, ingin tahu lebih lanjut mengenai diabetes mellitus tipe 5 ini?
Simak artikel berikut ini yaa!
Apa yang Dimaksud Diabetes Mellitus Tipe 5?
Diabetes mellitus tipe 5 adalah jenis penyakit yang ditandai dengan tingginya
kadar gula darah yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis (malnutrisi)
dalam jangka waktu lama. (1) Kondisi ini berpengaruh terhadap sel beta
pankreas dalam menghasilkan insulin.
Apa Perbedaan Diabetes Mellitus Tipe 5 dengan Jenis Diabetes Lainnya?
Diabetes tipe 5 mempunyai beberapa perbedaan dengan diabetes tipe 1, 2
serta gestasional. Berikut perbedaan dari segi faktor penyebab, usia
munculnya, kebutuhan terhadap insulin, dan upaya pencegahannya (1, 3, 4):
1) Faktor penyebabnya
Diabetes Tipe 1 : Autoimun (sistem kekebalan tubuh
menyerang sel di pankreas)
Diabetes Tipe 2 : Gaya hidup yang tidak sehat
Diabetes Gestasional : Perubahan hormonal
Diabetes Tipe 5 : Kekurangan gizi kronis
2) Usia munculnya
Diabetes Tipe 1 : Umumnya ketika anak-anak atau remaja
Diabetes Tipe 2 : Umumnya pada dewasa
Diabetes Gestasional : Ketika hamil
Diabetes Tipe 5 : Anak-anak, remaja, atau dewasa muda
3) Kebutuhan Insulin
Diabetes Tipe 1 : Penderita membutuhkan suntikan
insulin karena pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin
Diabetes Tipe 2 dan gestasional : Membutuhkan insulin apabila obat-
obatan oral sudah tidak mampu menjaga kadar gula darah
Diabetes Tipe 5 : Kebutuhan akan terapi insulin pada
DM ini masih dalam tahap pengembangan dan menunggu konfirmasi
dari studi klinis lanjutan
4) Pencegahan
Diabetes Tipe 1 : Tidak dapat dicegah, namun gaya hidup
sehat dapat meminimalisir komplikasi penyakit ini
Diabetes Tipe 2 : Gaya hidup sehat (konsumsi gizi seimbang,
olahraga, dll)
Diabetes Gestasional : Gaya hidup sehat sebelum dan ketika hamil
Diabetes Tipe 5 : Perbaikan asupan makan dan status gizi
Bagaimana Tanda dan Gejala terjadinya Diabetes Tipe 5?
Tanda (sign) adalah sesuatu yang dapat diobservasi, dilihat, dan diukur oleh
orang lain. Namun gejala (symptom) adalah sesuatu yang hanya dirasakan
penderita (pengalaman subjektif). Pada dasarnya tanda dan gejala pada
penderita diabetes tipe 5 tidak berbeda dengan tipe 1, 2 atau pun gestasional.
Berikut tanda dan gejala diabetes tipe 5 (5):
Polifagi (nafsu makan yang meningkat)
Poliuri (sering buang air kecil)
Polidipsi (rasa haus yang berlebihan)
Penglihatan kabur
Mengalami penurunan berat badan yang tidak direncanakan
Mudah lelah
Riwayat malnutrisi ketika anak-anak
Lantas Bagaimana Penetapan Diagnosis Diabetes Mellitus Tipe 5?
Penetapan diagnosis diabetes tipe 5 saat ini masih dalam proses penyusunan
kriteria yang jelas. Namun umumnya diabetes memiliki beberapa kriteria
penetapan yaitu sebagai berikut:
Pemeriksaan fisik berdasarkan tanda dan gejala yang dirasakan penderita
Tes kadar gula darah (6)
-Tes gula darah puasa ≥126 mg/dL
– Tes gula darah sewaktu ≥200 mg/dL
– HbA1c ≥6,5%
Namun perlu diingat sobat ilmugiziku, bahwasanya studi dan perkembangan
diagnosis diabetes tipe 5 sampai saat ini belum resmi diumumkan IDF. Jadi,
pantau terus informasi terbaru seputar studi dan perkembangan diagnosisnya
yaa!
Mengapa Diabetes Mellitus Tipe 5 Menjadi Ancaman Tersembunyi?
Penyakit diabetes umumnya memang menjadi ancaman tersembunyi bagi
penderitanya. Bagaimana tidak, penyakit ini tidak menimbulkan tanda dan
gejala yang mengkawatirkan diawal terjadinya penyakit. Namun apabila tidak
diberikan pengobatan dan perubahan gaya hidup penyakit ini dapat menjadi
risiko komplikasi penyakit lain seperti penyakit ginjal, jantung, saraf, bahkan
sampai komplikasi mata dan oral. (7)
Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Diabetes Tipe 5 Ini?
Diabetes tipe 5 ini terjadi karena malnutrisi, beberapa kelompok orang yang
berisiko mengalami diabetes tipe 5 ini yaitu sebagai berikut:
Mempunyai riwayat status gizi buruk ketika balita atau pun anak-anak
)
Orang-orang yang mempunyai IMT <18,5 kg/m2 (berat badan kurang)
)
Anak-anak atau remaja yang mengalami gangguan makan berat
Sobat ilmugiziku, ternyata bukan hanya kelebihan berat badan yang memiliki
risiko mengalami diabetes yaa. Namun mereka yang mempunyai berat badan
kurang juga berisiko. Penyakit ini menjadi pengingat sobat ilmugiziku bahwa
makan yang cukup kuantitas dan kualitas penting, bukan hanya sekedar
kenyang, namun ternyata investasi kesehatan di masa depan.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
IDF. IDF Launches New Type 5 Diabetes Working Group. 2025. [cited 2025 May 20].
Available from: https://idf.org/news/new-type-5-diabetes-working-group/.
Mascarenhas, Anuradha. What’s Type 5 Diabetes That Has Been Recognised After
Decades All About?. 2025. [cited 2025 May 19]. Available from:
https://indianexpress.com/article/health-wellness/whats-type-5-diabetes-
recognised-after-decades-9945186/.
Mitra Keluarga. 8 Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2. 2022. [cited 2025 May 20].
Available from: https://www.mitrakeluarga.com/artikel/perbedaan-diabetes-1-dan-
diabetes-2.
Cleveland. Gestational Diabetes. 2024. [cited 2025 May 21]. Available from: https://my-
clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/9012-gestational-
diabetes?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true.
WHO. Diabetes. 2024. [cited 2025 May 20]. Available from: https://www.who.int/news-
room/fact-sheets/detail/diabetes.
American Diabetes Assosiation. Understanding Diabetes Diagnosis. t.t. [cited 2025 May
20]. Available from: https://diabetes.org/about-diabetes/diagnosis.
IDF. Complications. 2024. [cited 2025 May 19]. Available from: https://idf.org/about-
diabetes/diabetes-complications/.
Sayuran menjadi suatu hal yang banyak dihindari terutama pada anak-anak yang
belum mengerti akan pentingnya kandungan yang terdapat pada sayuran.
Sayuran menjadi hal yang menakutkan dikalangan mereka. Bahkan banyak dari
mereka yang menutup mulut rapat-rapat ketika melihat sayuran. Padahal
kandungan gizinya yang terdapat pada sayuran sangatlah penting untuk tumbuh
kembang anak, menjaga kesehatan, dan meningkatkan imunitasnya.(1)
Apa aja si kandungan penting yang terdapat pada sayuran?
Sayuran memiliki banyak kandungan vitamin, mineral, dan serat yang penting bagi
tubuh. Berikut kandungan dan manfaat yang terdapat dalam sayuran :
Vitamin
Sayuran memiliki kandungan berbagai macam vitamin seperti vitamin A
yang bermanfaat bagi Kesehatan kulit dan mata. Vitamin A ini banyak
ditemukan pada sayuran berwarna terang seperti wortel, jagung, labu
kuning. Kemudian terdapat juga kandungan vitamin C yang dikenal sebagai
antioksidan pencegah infeksi, menjaga kesehatan tulang, gigi, dan gusi
serta membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh, vitamin ini banyak
ditemukan pada sayuran kubis, brokoli, dan tomat. Selain vitamin A dan C
sayuran juga mengandung vitamin B yang berperan penting dalam
perbaikan jaringan. Vitamin B terdapat pada sayuran jamur, kentang,
kembang kol.
Mineral
Selain vitamin sayuran juga kaya akan mineral seperti kalium yang menjaga
tekanan darah, kalsium yang berperan penting untuk menjaga kesehatan
tulang, zat besi yang dapat mencegah anak terkena anemia, dan fosfor
yang membantu kerja ginjal.
Serat
Serat tinggi yang terdapat pada sayuran bermanfaat untuk memperlancar
proses pencernaan sehingga anak dapat terhidar dari masalah konstipasi
dan mengurangi resiko kanker usus.(2)
Bagaimana cara agar anak mau makan sayur?
Hal ini menjadi fokus utama bagi para orang tua agar anak mau mengkonsumsi
sayuran tanpa ada paksaan, karena apabila dipaksa hanya akan menjadkan anak
menangis dan tidak memahami pentingnya mengkonsumsi sayuran. Berikut
terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak lebih tertarik dengan
sayuran, antara lain :
Menyajikan sayuran dalam bentuk lain
Menyajikan sayuran dalam bentuk lain dapat dilakukan dengan cara
mencampurkan sayuran ke dalam makanan kesukaan si kecil agar anak
tidak menyadari akan keberadaan sayuran dan tetap mendapatkan
manfaatnya. Seperti membuat nugget sayur, bola-bola daging sayur, sosis
sayur atau pizza sayur. Cara ini dapat menarik perhatian anak dan
diharapkan dapat menjadi awal anak mau mengkonsumsi sayuran.
Memotong sayuran dengan bentuk yang menarik
Pada dasarnya anak-anak akan tertarik pada bentuk-bentuk yang lucu
sehingga cara ini bisa dilakukan untuk penyajian sayuran. Bentuk dan warna
yang beragam dapat menjadikan anak mau mencoba berbagai macam
sayuran. (2)
Kenalkan sayur dan manfaatnya sejak dini
Hal ini dapat dilakukan sejak anak mulai MP-ASI untuk memperkenalkan
berbagai macam sayuran dengan cara mengganti menu sayur setiap
harinya. Selain itu kita juga dapat membacakan buku dengan gambar yang
menarik tentang sayuran dan manfaatnya. (3)
Ajak anak terlibat
Dalam menyiapkan makanan sehari-hari kita sebagai orang tua dapat
melibatkan anak agar anak semakin mengenal jenis-jenis makanan yang
dikonsumsinya terutama sayuran. Dari sini kita bisa mengajarkan anak
tentang pentingnya mengkonsumsi sayuran.
Dimulai dari orang tua
Tidak dapat dipungkiri dari semua tips diatas bahwa peran orang tua
menjadi hal yang utama agar anak mau mengkonsumsi sayuran. Orang tua
yang tidak suka sayuran akan membawa pengaruh terhadap anaknya.
Selain itu banyak juga orang tua yang mendoktrin anaknya bahwa sayuran
itu memiliki rasa yang tidak enak dan pahit, hal ini menjadikan anak sudah
lebih dulu takut saat melihat sayuran.(4)
Nah sobat kecil ilmugiziku gimana sudah mulai tertarik dengan sayuran yang kaya
akan manfaat? Jangan lupa untuk konsumsi sayuran setiap hari ya.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Hapsari, Retno Ayu, Agnescia Clarissa Sera, Oriza Aditya. Edukasi gizi terhadap sikap gemar
makan sayur kepada anak usia sekolah. Jurnal Forum Kesehatan : Media Publikasi
Kesehatan Ilmiah. 2022: 12(1):13-17.
Fadilah, Anisa Nur, Setyaningrum Rahmawati. Buku Saku Ayo Makan Sayur. Surakarta. 2024.
Dewi, Eva Citra, Putri Widita Muharyani, Arie Kusumangingrum. Pengaruh Modifikasi Sayur
Terhadap Porsi Konsumsi Sayur anak Prasekolah. Jurnal Keperawatan sriwijaya.2017: 4(2):
19-25.
Riry, Robeth Berty, Petrus Berhitu, Hawina Juwita, Ellona Wattimena. Edukasi Gemar Makan
Sayur Strategi Penanggulangan Kelompok Risiko Stunting Di Daerah Pesisir. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat Arumbai.2023:1(2):102-110.