Hai, sobat ilmugiziku, kira-kira adakah hubungan puasa saat Ramadan dengan obesitas?
Dampak puasa Ramadan terhadap berat badan berbeda-beda pada setiap individu, mulai
dari penurunan berat badan hingga kenaikan berat badan, tergantung pada apakah asupan
energi pada periode tidak berpuasa cukup atau cukup untuk mengimbangi kekurangan
asupan energi selama periode puasa (1).
Pola Makan dan Perubahan Fisiologis saat Berpuasa
Puasa Ramadan merupakan contoh intermittent diet karena terdapat pembatasan makanan
dalam durasi sekitar 12 jam di Indonesia. Frekuensi makan berkurang dari 3 kali sehari
menjadi 2 kali sehari. Perubahan ini juga berdampak pada jenis dan asupan total makanan
dalam sehari. Banyak studi menunjukkan terjadi peningkatan asupan lemak selama puasa
Ramadan (2).
Berpuasa juga memiliki pengaruh terhadap pengaturan berat badan melalui mekanisme
fisiologi. Puasa memicu proses, peralihan penggunaan glukosa sebagai sumber energi
utama ke pembakaran lemak. Penggunaan lemak sebagai sumber energi dapat
meningkatkan efisiensi penurunan berat badan dan mengurangi akumulasi lemak, Proses
ini juga berpotensi dalam mempengaruhi hormon terkait nafsu makan yang mengatur
konsumsi makanan dan metabolisme (3).
Hubungan Puasa Ramadan dengan Obesitas
Puasa Ramadan menunjukkan penurunan berat badan dan parameter komposisi tubuh
yang lebih baik secara signifikan meliputi massa lemak dan massa bebas lemak. Individu
dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) awal yang besar berkorelasi signifikan dan positif
dengan penurunan berat badan selama puasa Ramadan yang semakin besar juga.
Penurunan berat badan dan persentase lemak lebih besar pada individu dengan kelebihan
berat badan atau obesitas dibandingkan pada individu dengan berat badan normal,
Penurunan persentase lemak signifikan hanya pada orang dengan kelebihan berat badan
atau obesitas. Namun, perubahan berat badan dan komposisi tubuh pada individu
kelebihan berat badan atau obesitas sering kali bersifat sementara dan kembali ke kondisi
awal sebelum Ramadan dalam beberapa minggu setelah berakhirnya puasa Ramadan (1,2).
Efek Yo-yo setelah Berpuasa
Walau berhubungan dengan perbaikan status gizi, berakhirnya puasa Ramadan seringkali
diikuti dengan efek yo-yo, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan dan
obesitas. Efek yo-yo adalah fenomena rebound, yaitu terjadi kenaikan berat badan kembali
dalam 2 minggu setelah puasa selesai. Berat badan berkurang secara signifikan pada akhir
Ramadan dan terjadi peningkatan berat badan yang signifikan setelah puasa Ramadan
selesai. Fenomena ini lebih cenderung terjadi pada orang Asia. Penelitian menunjukkan
bahwa kadar hormon leptin dan mikrobiota usus berperan penting terhadap fenomena
perubahan berat badan tersebut (2).
Puasa Ramadan memiliki peluang untuk menurunkan berat badan individu dengan
kelebihan berat badan dan obesitas secara efektif bila dapat diterapkan dan dipertahankan
secara jangka panjang.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Fernando HA, Zibellini J, Harris RA, Seimon RV, Sainsbury A. Effect of Ramadan Fasting on Weight and
Body Composition in Healthy Non-Athlete Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Nutrients.
2019;11(2):478.
Osman F, Haldar S, Henry CJ. Effects of Time-Restricted Feeding during Ramadan on Dietary Intake,
Body Composition and Metabolic Outcomes. Nutrients.,2020;12(8):2478.
Ramadhanti, A.S., Oktaria, S.N. Pengaruh Berpuasa Untuk Menurunkan Berat Badan dan Menurunkan
Risiko Obesitas. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 2023; 1(6): 971-978<
Kesehatan telah menjadi bagian penting dan didambakan oleh setiap keluarga.
Berbagai cara dilakukan untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat,
salah satunya melalui pola makan yang sehat. Salah satu bentuk menjaga pola
makan yang baik dan banyak digaungkan oleh para influencer belakangan ini
adalah untuk tidak mengonsumsi UPF. Apakah benar bahwa UPF berbahaya
untuk kesehatan dan tidak “cocok” sebagai bagian dari pola makan gizi seimbang
di keseharian kita?
Mengenal lebih dalam Ultra Processed Food
Ultra Processed Food atau yang biasa disingkat UPF merupakan kategori
makanan yang telah mengalami berbagai proses pengolahan dalam industri.
Salah satu karakteristik yang melekat pada UPF adalah makanan kemasan
dengan tambahan zat aditif. Beberapa peneliti dari University of Sao Paulo
memperkenalkan sistem klasifikasi makanan NOVA, yang mana klasifikasi ini
menunjukan tingkat pemrosesan yang dialami bahan makan sebelum dikonsumsi
atau sebelum digunakan oleh rumah tangga sebagai bahan masakan. (1)
Menilik Dampak Kesehatan Konsumsi UPF
Konsumsi UPF seringkali dihubungkan dengan terjadinya berbagai jenis penyakit,
salah satunya adalah kanker. Meski begitu, penelitian menunjukan bahwa
konsumen UPF justru lebih “dihantui” dengan kehadiran komplikasi metabolisme
dan kardiovaskuler. (2)
UPF dikenal memiliki kandungan gizi yang buruk termasuk didalamnya tinggi
kandungan gula tambahan, lemak jenuh, tinggi sodium, rendah serat, protein, dan
mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. (3) Selain itu, konsumsi UPF juga
identik dengan kemungkinan eating rate yang tinggi. Hal ini sangat mungkin
terjadi karena UPF adalah pilihan yang praktis dan cenderung mudah dijangkau,
sehingga sangat memungkinkan untuk UPF dikonsumsi dalam jumlah dan
frekuensi yang tinggi. Kondisi ini lah yang menjadi biang dari komplikasi
metabolisme seperti obesitas, dislipidemia, hipertensi, dan resistensi insulin yang
dalam jangka panjang dapat berakibat pada penyakit jantung koroner dan
diabetes melitus.(4)
Faktor lainnya yang membuat UPF menjadi “tidak sehat” adalah karena adanya
komponen kimia yang ditambahkan atau terbentuk selama prosesnya.
Komponen kimia yang ditambahkan dalam UPF bisa dalam berbagai rupa
misalnya pemanis non-gula, emulsifier, pewarna, nitrat, berbagai jenis bahan
pengawet, dan berbagai jenis hidrogenasi lemak. Selain itu proses yang panjang
dalam produksi UPF juga dapat menghasilkan substansi berbahaya seperti
acrolein, acrylamide, furans, asam lemak trans, dan lain sebagainya. Penelitian
menunjukan bahkan konsumsi zat-zat seperti yang tercantum di atas dalam
jangka panjang dapat menimbulkan inflamasi dalam tubuh dan berujung dengan
berbagai macam jenis penyakit degeneratif, tak terkecuali penyakit jantung dan
kanker.(2)
Penjelasan di atas menunjukan bahwa UPF bukanlah pilihan yang tepat untuk
memenuhi kebutuhan gizi kita dan lebih baik untuk dihindari. Meski begitu, pada
kenyataannya sebagian besar produk yang dijual di Indonesia merupakan bagian
dari UPF, tak terkecuali bahan-bahan masakan yang kita temui sehari seperti
berbagai macam saus, mie instan, berbagai produk turunan susu (yoghurt dan
keju kemasan), margarin, dan masih banyak lagi. Dengan kondisi ini, tentu akan
sulit jika kita tidak mengonsumsi UPF sama sekali.
Terus gimana dong? Yuk kita simak solusinya !!!
Buat UPF jadi Bagian Dari Gizi Seimbang !!
Pembahasan mengenai definisi dari UPF itu sendiri di masyarakat dan boleh
tidaknya mengonsumsi UPF tidak akan ada habisnya dan akan selalu
menimbulkan pro-kontra. Jadi, daripada kita sibuk untuk memetak-metakan
jenis-jenis makanan dan overthinking tentang pilihan makanan kita, lebih baik kita
fokus pada bagaimana kita bisa menyajikan gizi seimbang di meja makan kita
sehari-hari.
Badan Agrikultur Amerika Serikat pernah bereksperimen dengan menambahkan
beberapa makanan yang digolongkan sebagai UPF dalam menu makan
sehari-hari, dan menunjukan bahwa kebutuhan zat gizi tetap dapat terpenuhi
dengan baik.(5) Penelitian juga menunjukan bahwa konsumsi UPF maksimal 20%
dari total asupan makanan yang disertai dengan minimal konsumsi 80% minimally
processed food tetap bisa menjadi opsi yang sehat.(6)
Jadi, jangan jadikan UPF pilihan utama, melainkan menjadikannya komplementer
dalam porsi makanan utuh anda. Tetap utamakan proporsi makanan
utuh/unprocessed/minimally processed dalam pola makan sehari-hari. Kita juga
perlu untuk tetap pertimbangkan nilai gizi dari UPF yang dikonsumsi dengan
berpedomankan gizi seimbang. Cermati komposisi dan nilai gizi dari produk
tersebut, dan sebisa mungkin pilih produk dengan kandungan gula tambahan
dan lemak jenuh yang rendah. Selain itu tetap pertimbangkan cara pengolahan
bahan makanan lainnya diluar UPF, karena bahan makanan yang tergolong dalam
unprocessed/minimally processed food juga tidak selalu menjadi makanan “sehat”
apabila pengolahan yang dilakukan juga salah, misalnya dengan proses
penggorengan yang lama.
Berikut beberapa contoh penerapan yang mungkin bisa anda contoh :
Sarapan sandwich dengan roti tawar kemasan dan dipadukan dengan telur
rebus, tumisan daging, selada, dan tomat.
Makan siang dengan nasi, ikan sarden kalengan, serta tumisan sayur
Snack yang dibuat dari oatmeal instan ditambahkan dengan susu dan
buah-buahan
Jangan sampai usaha untuk hidup sehat justru membuat kita stres. Yang penting
adalah bijak dengan apa yang kita konsumsi dan tetap sajikan “gizi seimbang” di
keseharian kita. Salam sehat!
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Moteiro, CA., Cannon, D., Levy, RB. et all. NOVA. The star shines bright [Food classification,
Public health]. World Nutrition. 2016; 7(1-3).
Lane, M., Gamage, E., Du, S., et all. Ultra-Processed Food Exposure and Adverse Health
Outcomes: Umbrella Review of Epidemiological Meta-analyses. BMJ. 2024.
Martini D, Godos J, Bonaccio M, Vitaglione P, Grosso G. UltraProcessed Foods and
Nutritional Dietary Profile: A Meta-Analysis of Nationally Representative Samples.
Nutrients. 2021; 13: 3390. doi:10.3390/nu13103390
Juul, F., Vaidean, G., Parekh, N. Ultra-processed Foods and Cardiovascular Diseases:
Potential Mechanisms of Action. Adv Nutrition. 2021; 12:1673-1680.
Hess, J., Comeau, M., Casperson, S., et all. Dietary Guidelines Meet NOVA: Developing a
Menu for A Healthy Dietary Pattern Using Ultra-Processed Foods. The Journal of Nutrition.
2023; 153: 2472-2481. https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2023.06.028
Dicken, S., et all. UPDATE trial: investigating the effects of ultra-processed versus
minimally processed diets following UK dietary guidance on health outcomes: a protocol
for an 8-week community-based crossover randomised controlled trial in people with
overweight or obesity, followed by a 6-month behavioural intervention. BMJ. 2024; 14.
doi:10.1136/bmjopen-2023-079027
Saat berpuasa, tubuh tidak mengkonsumsi makanan atau pun minuman selama
kurang lebih 14 jam. Hal ini menyebabkan tubuh lemah, letih dan lesu. Bukan hanya
itu, di awal puasa biasanya tubuh juga belum bisa beradaptasi dengan kebiasaan
makan yang hanya 2x. Namun, sobat ilmugiziku tidak perlu khawatir tubuh akan
tetap bugar dengan gizi seimbang. Ingin tahu alasannya? Yuk simak artikel berikut
ini!
Apa Saja 4 Pilar Utama Gizi Seimbang?
Pedoman gizi seimbang tidak hanya memperhatikan asupan makan yang
dikonsumsi, namun ada beberapa hal yang ditekankan. Menjaga agar tetap bugar
ketika puasa, memang tidak cukup jika hanya memperhatikan asupan makan.
Berikut 4 pilar gizi seimbang yang sobat ilmugiziku harus tahu:
1. Mengkonsumsi Makanan yang Beragam
Saat puasa, sangat dianjurkan mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang
beragam.(1) Sumber karbohidrat misalnya, sobat ilmugiziku tidak hanya
dianjurkan mengkonsumsi nasi namun juga umbi-umbian seperti singkong
atau pun ubi jalar. Begitu juga dengan sumber protein tidak melulu ayam,
namun sesekali juga perlu berbagai jenis ikan atau pun telur.
Pada dasarnya tidak ada satu pun makanan yang mempunyai kandungan gizi
yang kompleks. Sehingga ketika mengkonsumsi makanan yang beragam,
tubuh akan mendapatkan berbagai kandungan gizi dari berbagai makanan
yang dikonsumsi. Apalagi ketika berpuasa, tubuh tidak mengkonsumsi
makanan atau pun minuman hampir 14 jam. Sehingga ketika sahur atau pun
berbuka sangat perlu konsumsi makanan yang beragam
Buah semangka misalnya, per 100 gram mengandung 28 kalori, 0,5 gram
protein, 0,2 gram lemak, 6,9 gram karbohidrat, 0,4 gram serat, 93,8 kalium,
Sedangkan salak per 100 gram mengandung 77 kalori, 0,4 gram protein, 20,9
gram karbohidrat, dan 0 kalium. (2) Jika hanya mengkonsumsi buah salak ketika
sahur atau pun berbuka, maka tubuh tidak mendapatkan sumber kalium dari
sumber buah-buahan, Padahal kalium bermanfaat dalam menjaga
keseimbangan cairan dalam tubuh.(3)
Setelah baca artikel ini, sudah tahukan kenapa penting untuk konsumsi
makanan yang beragam apalagi ketika puasa?
2. Membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Prinsip gizi seimbang lainnya yang tidak kalah penting adalah dengan
membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Bukan hanya ketika puasa,
namun juga pada hari-hari biasa. Perilaku hidup yang bersih dapat menghindari
berbagai jenis virus, bakteri, dan parasit yang menyebabkan berbagai penyakit.
Upaya perilaku hidup bersih dan sehat ini dapat dilakukan dengan mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir ketika hendak makan, menjaga
kebersihan diri dengan mandi, sikat gigi, dan memotong kuku, menghindari
gaya hidup tidak sehat seperti merokok, atau pun zat aditif lainnya seperti
NAPZA juga perlu dilakukan.
3. Melakukan Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan gerakan tubuh yang membutuhkan energi. Saat
puasa seringkali tubuh terasa lemas, apalagi di jam 12 siang hingga 3 sore.
Meskipun begitu, saat berpuasa tetap direkomendasikan melakukan aktivitas
fisik. Ada beberapa aktivitas fisik yang direkomendasikan saat puasa
diantaranya jalan kaki, bersepeda, yoga, maupun aktivitas ringan sampai
sedang lainnya.
Aktivitas fisik yang konsisten bermanfaat meningkatkan sirkulasi darah,
mengurangi stres, menurunkan risiko penyakit tidak menular. Bukan hanya itu,
aktivitas fisik juga akan membantu mengoptimalkan penurunan berat badan
saat bulan puasa. Agar tetap bugar ketika berpuasa, konsumsi makanan
dengan gizi seimbang dan aktivitas fisik menjadi kunci utama.
4. Mempertahankan dan Memantau Berat Badan
Status gizi seseorang dapat diketahui dengan IMT (Indeks Massa Tubuh). Berat
badan kurang jika hasil IMT <18,5 kg/m2
, ideal jika 18,5-22,9 kg/m2
, berat badan
berlebih 23-24,9 kg/m2
, dan obesitas jika >25 kg/m2
.(4) Berat badan ideal
merupakan gambaran kesehatan tubuh seseorang. Memantau berat badan
secara rutin dapat mencegah berat badan kurang atau pun berlebih saat puasa.
Kenapa Harus dengan Gizi Seimbang?
Mencegah Tubuh 3L (Lemah, Letih, dan Lesu)
Gizi seimbang mampu mencegah tubuh lemah, letih, dan lesu saat bulan
Ramadhan. Pada prinsip asupan makan, gizi seimbang menekankan 1/3 isi
piring adalah makanan pokok, 1/3 lainnya adalah sayur-sayuran, dan 1/3
lainnya buah-buahan dan lauk pauk.
Jika ditelaah lebih jauh, konsumsi sayur-sayuran 1/3 isi piring sangat baik untuk
tubuh. Sayur-sayuran mengandung tinggi serat, dimana serat bermanfaat
untuk melancarkan pencernaan, mencegah berbagai penyakit tidak menular
seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, kanker dan penyakit tidak menular
lainnya. Bukan hanya itu, serat juga dapat membantu tubuh kenyang lebih
lama.(5) Dengan ini, lemah, letih, dan lesu dapat dicegah meskipun sedang
berpuasa.
Menjaga Kesehatan Organ Tubuh
Saat berpuasa organ pencernaan seperti lambung dan usus akan istirahat
selama hampir 14 jam. Pada saat inilah tubuh akan melakukan detoksifikasi
(tubuh mengeluarkan racun atau toksin). Bukan hanya itu, saat berpuasa tubuh
akan menggunakan sumber lemak tubuh untuk diubah menjadi energi. Lemak
yang digunakan akan menyebabkan penurunan lemak jahat LDL atau Low
Density Lipoprotein.
Apabila gizi seimbang terus menerus diterapkan ketika berpuasa, hal ini akan
bermanfaat menjaga dan memaksimalkan kesehatan organ dalam.
Menjaga Kesehatan Mental dan Suasana Hati
Sobat ilmugiziku pasti bertanya-tanya apa hubungan gizi seimbang dengan
kesehatan mental dan suasana hati. Nyatanya gizi seimbang memegang peran
yang cukup penting dalam menjaga kesehatan mental dan suasana hati
seseorang. Saat tubuh memperoleh asupan makan dengan gizi seimbang,
maka hormon dalam tubuh dapat bekerja secara maksimal. Misalnya saja
hormon dopamine, hormon ini dapat meningkat jika di stimulus dengan asupan
gizi seimbang, aktivitas fisik dan istirahat yang cukup, Apalagi di bulan puasa, menjaga kesehatan mental dan suasan hati agar tetap
stabil bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan
berbagai prinsip gizi seimbang.
Selama bulan Ramadhan, menjaga asupan gizi seimbang bukan hanya kunci untuk
menjalani ibadah puasa dengan lancar, tetapi juga untuk meraih kesehatan
optimal. Dengan pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka, tubuh tetap
bertenaga, terhidrasi dengan baik, dan siap menjalani aktivitas sehari-hari.
Sehingga puasa tak hanya menjadi ibadah, tetapi juga langkah menuju gaya hidup
sehat.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kementerian Kesehatan RI. Prinsip Gizi Seimbang Memiliki Empat Pilar Utama. 2019. [cited 2025
Feb 20]. Available from: https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/apa-saja-
4-pilar-utama-dalam-prinsip-gizi-seimbang.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: 2020.
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Rahasia Kesehatan: Manfaat Kalium untuk Tubuh yang
Jarang Diketahui. 2024. [cited 2025 Feb 21]. Available from:
https://dinkes.bandaacehkota.go.id/2024/01/09/rahasia-kesehatan-manfaat-kalium-untuk-
tubuh-yang-jarang-diketahui/.
World Health Organization. Redefining Obesity and its Treatment. Australia: 2000.p.56.
Mujianto, et al. Serat Makanan Sebagai Sumber Makanan Fungsional yang Baik (Thoyyib) bagi
Pencernaan. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Teknologi Pangan. 2023:12(2):7-13.
Bulan Februari dan Agustus menjadi bulan yang penting untuk dicatat bagi para
ibu yang memiliki anak usia 6-59 bulan. Pada dua bulan ini, setiap posyandu
menyediakan fasilitas pemberian vitamin A secara gratis sesuai dengan anjuran
dari kementerian kesehatan RI (Kemenkes RI). Suplementasi vitamin A
memberikan banyak manfaat terutama bagi kesehatan anak.(1)
Pentingnya Vitamin A Untuk Kesehatan Anak
Selain memenuhi kebutuhan akan zat gizi makro, yaitu karbohidrat, protein, dan
lemak, tubuh memerlukan zat gizi mikro untuk menunjang kesehatan dan
kekebalan tubuh. Salah satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh anak usia 6-59
bulan adalah vitamin A. Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang berperan
penting dalam perkembangan sel, metabolisme zat gizi, kekebalan tubuh, dan
fungsi penglihatan.(2)
Mengacu pada data nasional SKI 2023, hanya sebanyak 32,2% anak usia 6-59 bulan
yang mendapatkan vitamin A sesuai rutin, yakni 2 kali dalam 1 tahun. Angka ini
menurun dari hasil Riskesdas 2018 yang menunjukkan sebanyak 53,5% anak usia
6-59 tahun mendapatkan vitamin A sesuai standar. Hal ini menunjukkan
pemantauan dan edukasi terkait pemberian vitamin A perlu terus
dilaksanakan.(3,4)
Tubuh tidak dapat memproduksi vitamin A secara mandiri, oleh karenanya
membutuhkan asupan vitamin A yang cukup, baik dari makanan maupun
suplementasi vitamin A. Asupan vitamin A yang tidak adekuat menyebabkan
defisiensi vitamin A yang dapat berdampak pada menurunnya kesehatan mata
dan meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi termasuk diare.(5,6)
Posyandu Sebagai Wadah Pemberian Vitamin A dan Pelayanan Terpadu
Mengingat pentingnya vitamin A bagi tubuh anak, Kemenkes RI menjadikan
posyandu sebagai tempat untuk memfasilitasi pemberian vitamin A, khususnya
bagi anak usia 6-59 bulan. Terdapat dua jenis vitamin A yang diberikan
berdasarkan kelompok umur. Untuk bayi usia 6 sampai 11 bulan mendapatkan
vitamin A kapsul biru dengan dosis 100.000 unit internasional (IU). Sedangkan
untuk yang berusia 12-59 bulan mendapatkan kapsul merah dengan dosis 200.000
IU.(1,6)
Selain menjadi fasilitas yang menyediakan suplementasi vitamin A, posyandu juga
melaksanakan pemberian imunisasi dasar lengkap yang dibutuhkan oleh bayi dan
balita untuk menunjang kekebalan tubuh. Posyandu menjadi garda terdepan
untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dalam pencegahan risiko penyakit
infeksi.(7,8) Sehingga bagi para ibu perlu selalu ingat untuk mengajak sang buah
hati ke posyandu untuk mendapatkan berbagai fasilitas imunisasi dasar lengkap
ditambah dengan suplementasi vitamin A 2 kali dalam 1 tahun. Selain itu, perlu
diimbangi dengan asupan makanan yang bergizi dan seimbang untuk bersama
membangun kesehatan dan imunitas bersama.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kemenkes RI. Sehat Negeriku. 2024 [cited 2025 Feb 23]. Kapsul Biru dan Merah untuk Balita.
Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20240328/5345193/kapsul-
biru-dan-merah-untuk-balita/
Awasthi S, Awasthi A. Role of Vitamin A in Child Health and Nutrition. Clinical Epidemiology and
Global Health. 2020 Dec 1;8(4):1039–42.
Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Kemenkes RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI; 2018.
WHO. Vitamin A Supplementation in Infants and Children 6–59 Months of Age [Internet]. 2023
[cited 2025 Feb 23]. Available from: https://www.who.int/tools/elena/interventions/vitamina-
children
Imdad A, Mayo-Wilson E, Haykal MR, Regan A, Sidhu J, Smith A, et al. Vitamin A supplementation
for preventing morbidity and mortality in children from six months to five years of age. Cochrane
Database Syst Rev. 2022 Mar 16;2022(3):CD008524.
Talbird SE, Carrico J, La EM, Carias C, Marshall GS, Roberts CS, et al. Impact of Routine Childhood
Immunization in Reducing Vaccine-Preventable Diseases in the United States. Pediatrics. 2022
Aug 22;150(3):e2021056013.
Aswan Y. Pendidikan Kesehatan Tentang Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi di
Posyandu Desa Sigumuru Kecamatan Angkola Barat. Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa
(JPMA). 2021 Dec 22;3(3):78–82.
Larangan untuk tidak mengonsumsi permen atau makanan manis lainnya pada anak
sering sekali digaungkan orang tua, dan selalu dikaitkan dengan gigi menjadi
berlubang. Namun, apakah larangan untuk mengonsumsi makanan manis ini
memang berkaitan dengan kesehatan gigi? Ataukah hanya sekadar mitos belaka yang
telah berkembang sejak lama.
Apakah Karies Gigi itu?
Sebelum membahas keterkaitan konsumsi makanan manis dengan karies gigi, perlu
diketahui apakah karies gigi itu sendiri. Karies gigi didefinisikan sebagai kerusakan
jaringan keras yang terlokalisasi pada area spesifik di permukaan gigi. Kerusakan
jaringan ini disebabkan oleh hilangnya struktur jaringan keras gigi (email dan dentin)
disebabkan karena deposit asam yang dihasilkan oleh bakteri plak yang terakumulasi
di permukaan gigi. (1) Secara sederhananya, karies gigi dikenal dengan istilah gigi
berlubang.
Penyebab Karies Gigi
Karies gigi merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri dan dimodifikasi
diet. Karies disebabkan oleh banyak faktor, penyebab utama terjadinya karies antara
lain interaksi dari beberapa faktor antara lain bakteri, karbohidrat yang difermentasi
dan gigi yang rentan. (2)
Gula dan pati yang berasal dari sisa makanan dalam rongga mulut dimetabolisme
oleh bakteri yang terdapat pada plak gigi, kemudian terbentuk asam organik yang
dapat menurunkan pH di mulut dan menyebabkan hilangnya beberapa ion mineral
pada permukaan gigi, jika kejadian ini terjadi secara berulang maka akan terjadi
demineralisasi sehingga terbentuk karies gigi. (2)
Beberapa faktor lainnya yang memengaruhi terjadinya karies yaitu: penggunaan flour,
kebersihan mulut, saliva, pola makan, keturunan, ras dan jumlah bakteri. (3)
Hubungan Konsumsi Makanan Manis dengan Karies Gigi Pada Anak
Hubungan konsumsi makanan manis dengan karies gigi pada anak dapat kita lihat
buktinya dalam beberapa penelitian terkait. Penelitan yang dilakukan oleh Sumini dkk.
(2014) menunjukkan dari 33 anak yang diteliti, terdapat 78,8% yang sering
mengonsumsi makanan manis dan terdapat 90,9% yang mengalami karies. Dan hal ini
menunjukkan adanya hubungan konsumsi makanan manis dengan kejadian karies
gigi pada anak. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis banyak terjadi pada anak
disebabkan anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dan terpapar dengan
jajanan manis di sekolah. (4)
Gula pada makanan menjadi penyebab utama Streptococcus mutans, bakteri plak
tumbuh dan berkembang biak. Bakteri plak ini akan memfermentasikan karbohidrat
(sukrosa) yang menghasilkan asam sehingga pH plak akan turun menjadi 4,5-5,0
dalam rentang waktu 1-3 menit dan kembali normal sekitar pH 7,0 dalam 30-60 menit.
Jika penurunan plak terjadi secara terus menerus maka akan menyebabkan
demineralisasi pada permukaan gigi. Kondisi asam pada gigi ini sangat disukai oleh
bakteri Streptococcus mutans dan lactobacillus sp., mikroorganisme penyebab karies
gigi untuk berkembang biak. Penelitian terkait lainnya yang dilakukan oleh Feldes CA,
et. al. (2021), menunjukkan pengenalan dan konsumsi makanan manis pada 1 tahun
pertama kehidupan anak menjadi faktor risiko terjadinya karies gigi primer. Dengan
pemberian makanan yang mengandung gula sejak dini dapat membentuk biofilm
karogenik, terutama Streptococcus mutans, prediktor penting kejadian karies pada
anak. (4,5)
Dampak Karies Gigi Terhadap Status Gizi Anak
Kesehatan gigi secara tidak langsung memiliki hubungan dengan kejadian stunting.
Kesehatan gigi dan kebersihan mulut yang tidak dijaga dengan baik dapat
menimbulkan beberapa masalah seperti karies yang dapat mengganggu fungsi
mengunyah sehingga memengaruhi nafsu makan sang anak. Lebih lanjut, penurunan
nafsu makan pada anak dapat mengganggu pertumbuhan dan memengaruhi status
gizi pada anak. (6) Anak dengan status gizi kurang cenderung menderita tingkat
keparahan karies dengan kategori tinggi. Hal ini karena karies pada gigi menimbulkan
rasa sakit pada saat mengunyah makanan. Rasa sakit yang dialami tersebut akan
menimbulkan trauma yang berdampak terhadap penurunan nafsu makan dan
kemampuan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan yang kaya akan sumber
gizi menjadi terbatas. (7)
Pencegahan Karies Gigi Pada Anak
“Posyandu Sahabat Ibu dan Anak” merupakan wujud komitmen dalam menjaga dan
meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Dengan layanan yang komprehensif dan
kolaborasi antara kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat, posyandu siap menjadi
sahabat setia dalam mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera.
Tahun-tahun pertama dalam kehidupan menjadi peluang intervensi yang penting
dalam pencegahan karies pada anak. Hal ini karena pada tahun-tahun pertama ini
akan membentuk pola konsumsi makanan pada anak sepanjang hidupnya. (5)
Terdapat 3 fase kehidupan yang menjadi intervensi penting dalam pencegahan karies
anak. Dimulai dari sejak kehamilan, ibu dengan kelebihan kenaikan berat badan
selama kehamilan dapat menyumbangkan pola makan tinggi gula dan makanan
kariogenik (makanan manis mengandung gula dan sukrosa penyebab karies) pada
bayi dikandungnya sejak dini. Kemudian pada masa bayi, perkenalan makanan manis
pada anak terutama di 1 tahun pertama menjadi faktor risiko terjadinya karies. Dan
fase terakhir yaitu kanak-kanak, pembelian gula rumah tangga di usia 3 tahun menjadi
cerminan konsumsi gula pada keluarga dan anak-anak cenderung mengikuti pola
makan yang serupa dengan keluarganya. Oleh karena itu, 3 fase ini menjadi fase
penting dalam pencegahan karies gigi pada anak. (5)
Namun, jika anak telah melewati 3 fase yang disebutkan diatas, pencegahan karies
gigi pada anak dapat dilakukan melalui pemeriksaan dan merawat gigi secara rutin.
Dengan pemantauan pola makan anak oleh orang tua dengan membatasi konsumsi
makanan manis dan melakukan kebiasaan berkumur air putih setelah mengkonsumsi
makanan manis diikuti dengan perilaku menggosok gigi anak serta pendampingan
dalam menggosok giginya. (7) WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan
yang ideal tidak boleh lebih dari 5% dari total asupan energi harian. (8)
Berkaitan dengan praktik menggosok gigi yang benar, waktu sikat gigi; pemilihan sikat
dan pasta gigi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Mengutip dari
Federation Dentaire Internationale (FDI), menggosok gigi yang benar adalah minimal 2
kali sehari yaitu: pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Sikat gigi
yang disarankan adalah yang memiliki bulu sikat nilon lembut dengan ukuran sesuai
mulut anak dan gagang sikat yang nyaman dan kuat serta ujung sikat bulat untuk
menghindari cedera pada gusi. Selain itu, sikat gigi yang digunakan tidak boleh
berbagi dengan anggota keluarga lain. Untuk pemilihan pasta gigi, warna; bau; rasa
pasta gigi harus yang dapat meningkatkan minat anak dalam menggosok gigi. Selain
itu, kemasan yang menarik dan komposisi yang aman dengan kriteria standar nasional
perlu diperhatikan. (9)
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Rosa Amalia, dkk. Karies Gigi: Perspektif Terkini Aspek Biologis, Klinis, dan
Komunitas. Irfan, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2021.
Sumini, dkk. Hubungan Konsumsi Makanan Manis dengan Kejadian Karies Gigi
Pada Anak Prasekolah di TK B RA Muslimat PSM Tegalrejo Desa Semen
Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Magetan. Jurnal Delima Harapan. 2014;
3(2):20-27
Feldes CA, et. al. Early-Life Patterns of Sugar Consumption and Dental Caries in
The Permanent Teeth: A Birth Cohort Study. Caries Res. 2021; 55(5): 505-514
Dina Rafidiyah, dkk. Pemberdayaan Masyarakat Desa Patih Selera Membangun
Generasai Muda Bebas Stunting. Banjarmasin: MBUnivPress. 2022
Gusgus Ghraha Ramdhanie, dkk. Status Gizi pada Anak Usia Sekolah yang
Mengalami Karies Gigi. Jurnal Obsesi. 2022; 6(3):2251-2257
Sephia Maharani dan Olivia Charissa. Makanan Manis sebagai Faktor Risiko
Karies Gigi Pada Anak di SD Negeri Buni Bakti 04. Jurnal Kesehatan Tambusai.
2023; 4(3): 1852-1859
Agnes Dwi Safarina, dkk. Peningkatan Pengetahuan Perawatan Kesehatan Gigi
dan Mulut Melalui Penyuluhan dan Praktik Sikat Gigi pada Anak di Kelurahan
Bandarharjo Kota Semarang. JPM Dharma Andalas. 2022; 1(1): 32-36
Asupan gizi yang baik akan sejalan dengan kesehatan yang baik. Pola makan
yang sehat bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang menentukan kualitas
hidup dan kesehatan tubuh seseorang. Di tengah perkembangan zaman dan gaya
hidup yang serba praktis, seringkali terjebak dalam kebiasaan mengonsumsi
makanan kurang sehat. Padahal, perubahan sederhana dari meja makan dengan
mengutamakan gizi seimbang bisa menjadi kunci dalam menjaga kesehatan dan
mencegah berbagai penyakit kronis.
Pentingnya menjaga pola makan yang sehat dan bergizi untuk mendukung
kesehatan tubuh tidak dapat diabaikan. Pemilihan makanan yang tepat dapat
memenuhi kebutuhan gizi setiap harinya. Konsumsi makanan sehari-hari yang
mengandung berbagai zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan setiap orang atau kelompok umur merupakan konsep dari gizi seimbang.
(1) Pola makan gizi seimbang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar
tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis. (2)
Saat ini, konsumsi makanan dan minuman manis telah menjadi kebiasaan
yang umum, seringkali dikonsumsi dalam jumlah berlebihan tanpa memperhatikan
dampaknya terhadap kesehatan, terutama risiko peningkatan kegemukan. (3) Selain
itu, kondisi stress, suka makan terlambat, makan dalam porsi besar dan sering
konsumsi jenis makanan yang pedas, asam dan berlemak dapat mengakibatkan
asam lambung meningkat yang memicu penyakit gastritis. (4) Pola makan kurang
mengonsumsi buah dan sayur setiap harinya serta mengonsumsi makanan pokok
atau sumber karbohidrat yang berlebih akan berisiko terkena Diabetes Melitus tipe 2.
(5) Seseorang dengan kebiasaan sering mengonsumsi minuman manis, makanan
asin, makanan berlemak, makanan yang dibakar, makanan olahan berpengawet,
minuman berkarbonasi, dan makanan instan serta kurang mengonsumsi buah dan
sayur juga dapat meningkatkan risiko stroke pada usia dewasa. (6) Berbagai masalah
kesehatan akan muncul apabila tidak menerapkan pola makan yang bergizi
seimbang. Penting untuk memperhatikan asupan gizi sejak dini guna memperkuat
sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih tahan terhadap serangan penyakit.
Mengenal makanan yang bergizi seimbang merupakan salah satu cara untuk
menjaga tubuh tetap sehat dan mencegah berbagai penyakit. Makanan yang sehat
tentunya makanan yang mengandung berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh
yang dikonsumsi dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan. Zat gizi tersebut
diantaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta air. (7)
Langkah awal untuk memulai pola makan bergizi seimbang dapat dimulai
dengan mengatur frekuensi dan waktu makan, yang dapat membantu membentuk
kebiasaan makan yang sehat dan teratur. Disarankan untuk mengonsumsi tiga kali
makan utama (pagi, siang, sore) dan satu hingga dua kali makan selingan di antara
waktu makan utama. Kedua, menyusun pola makan yang sehat sesuai dengan
pedoman “Piring Makanku”. Piring Makanku dapat dijadikan sebagai panduan yang
menunjukkan sajian makanan dan minuman pada setiap kali makan. Anjuran makan
sehat digambarkan dengan 50% dari total jumlah makanan setiap kali makan yang
bersumber dari sayur dan buah, sisanya 50% bersumber dari makanan pokok dan
lauk pauk. Konsep piring makanku menganjurkan porsi sayuran harus lebih banyak
dari porsi buah, dan porsi makanan pokok lebih banyak dari porsi lauk pauk. Pilih
sumber protein dari berbagai pilihan, baik hewani maupun nabati, untuk memastikan
keseimbangan dan kualitas asupan gizi yang optimal. Selain itu, usahakan untuk
mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan pokok dalam sehari atau dalam satu kali
makan untuk memperkaya kandungan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Tidak lupa
untuk membiasakan minum air putih yang cukup dan aman. (1)
Penting untuk selalu memperhatikan asupan makanan agar sesuai dengan
kebutuhan energi harian tubuh. Batasi konsumsi makanan yang mengandung gula,
garam, dan lemak berlebih. Menurut Kemenkes, anjuran asupan gula tidak lebih dari
50 gram (setara dengan 4 sendok makan), natrium tidak lebih dari 2000 mg (setara
dengan 1 sendok teh garam), dan lemak/minyak tidak lebih dari 67 gram (setara
dengan 5 sendok makan) per orang per hari. (1)
Beberapa contoh menu makanan sehat yang dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain:
Sarapan direkomendasikan antara pukul 07.00–09.00. Menu sarapan yang
mudah dan praktis, seperti sandwich telur dengan roti gandum, berisi sayuran
segar seperti tomat, timun, dan selada sebagai sumber vitamin serta mineral,
ditambah telur sebagai sumber protein yang bergizi.
Makan siang dapat dilakukan antara pukul 12.00–13.00 dengan menu yang
lebih lengkap dan bergizi. Misalnya, nasi sebagai sumber karbohidrat, pepes
ayam dan tumis tempe sebagai sumber protein, serta capcay sebagai sumber
serat dan vitamin. Untuk melengkapi asupan gizi, disarankan mengonsumsi
buah, seperti semangka.
Makan malam dapat dilakukan antara pukul 18.00–19.00. Menu yang
direkomendasikan dapat berupa hidangan sepinggan, seperti sup ayam jamur
yang terdiri dari kentang sebagai sumber karbohidrat, ayam dan kacang
merah sebagai sumber protein, serta sayuran seperti jamur, wortel, buncis,
dan brokoli. Sebagai hidangan penutup, disarankan untuk menikmati buah,
seperti melon.
Selingan adalah makanan ringan yang dapat dikonsumsi di antara waktu
makan utama. Pilihan camilan sehat bisa menjadi selingan yang baik, seperti
bolu pisang di pagi hari dan puding buah di sore hari.
Dalam rangka mendukung penerapan pola makan yang bergizi seimbang
perlu juga didukung dengan aktivitas fisik yang cukup dan teratur. Aktivitas fisik
merupakan segala bentuk gerakan tubuh yang dapat meningkatkan pengeluaran
energi, yang sebaiknya dilakukan dengan durasi 30 menit perhari (150 menit per
minggu) dalam intensitas sedang untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Aktivitas
fisik dapat dilakukan di berbagai situasi dan tempat. (8) Beberapa aktivitas fisik yang
bisa dilakukan di rumah seperti menyapu lantai, mengepel, berkebun, dan lain-lain.
Selain di rumah, di tempat kerja juga bisa melakukan berbagai gerakan seperti
memilih menggunakan tangga daripada lift, mengisi kegiatan rapat dengan selingan
senam, mengikuti kegiatan senam bersama di kantor, dan lain sebagainya. Aktivitas
fisik yang teratur akan meningkatkan kesempatan hidup sehat lebih panjang.
Pola makan bergizi seimbang berperan penting dalam menjaga kesehatan
tubuh dan mencegah berbagai penyakit kronis. Untuk mencapainya, diperlukan
pengaturan frekuensi dan waktu makan, pemilihan jenis serta jumlah makanan yang
tepat, dengan menekankan konsumsi sayuran, buah-buahan, dan sumber protein
seimbang, serta mengontrol asupan gula, garam, dan lemak. Selain itu, pola makan
yang sehat perlu didukung dengan aktivitas fisik teratur agar manfaatnya lebih
optimal. Melalui langkah-langkah sederhana ini, pola makan yang lebih sehat dapat
dibentuk, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat daya tahan tubuh terhadap
berbagai penyakit.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman gizi seimbang. 2014.
Laswati DT. Masalah Gizi dan Peran Gizi Seimbang. AGROTECH. 2017 Nov;2(1):69.
Diana R, Yuliana I, Yasmin G, Hardinsyah D, Masyarakat DG, Manusia FE. Faktor Risiko
Kegemukan pada Wanita Dewasa Indonesia (Risk Factors of Overweight among Indonesian
Women). Jurnal Gizi dan Pangan. 2013 Mar;1:1–8.
Artini B, Prasetyo W, Lestari MP, Willliam S, Surabaya B. Hubungan Pola Makan dan Stress
terhadap Penyakit Gastritis: A Literature Review Relationship Of Eat Pattern and Stress to
Gastritical Disease: A Literature Review. Nursing Sciences Journal [Internet]. 2022;6(1).
Available from: https://doi.org/10.30737/nsj.v6i1.2634
Anri A. Pengaruh Indeks Massa Tubuh, Pola Makan, dan Aktivitas Fisik terhadap Kejadian
Diabetes Melitus Tipe 2. Journal of Nursing and Public Health [Internet]. 2022 Apr [cited 2025
Feb 17];10(1):7–13. Available from: https://doi.org/10.37676/jnph.v10i1.2356
Syauqy A, Wiragapa LR, Soekatri MYE, Ernawati F, Nissa C, Dieny FF. Hubungan Antara Pola
Makan dan Kondisi Penyerta dengan Prevalensi Strok pada Usia Dewasa di Indonesia: Analisis
Data Riskesdas 2018. GIZI INDONESIA. 2023 Mar 29;46(1):121–32.
Hardinsyah. Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi. Jakarta: EGC ; 2017.
Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku Ayo Bergerak Lawan Obesitas! [Internet]. 2017 [cited
2025 Feb 17]. Available from:
https://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2017/11/BukuAyoBergerak.pdf