Catin atau calon pengantin ternyata memiliki hubungan dengan terjadinya masalah stunting di Indonesia lho! Tetapi, kamu tahu gak sih? ternyata angka tersebut dapat turun jika kamu para catin yang akan menikah mempersiapkan gizinya lho! Lalu apakah hanya calon ibu saja yang harus lebih aware dan banyak belajar tentang gizi? Tentu saja tidak, peran calon ayah sangat diperlukan untuk membangun keluarga yang sehat dan bergizi. Yuk simak artikel ini agar kamu lebih paham calon ayah sebelum menikah bisa belajar apa ajasih?

1. Calon Pengantin

Catin atau Calon pengantin merupakan salah satu sasaran kelompok yang sangat berpengaruh, agar dapat terlaksana program pencegahan stunting dan mencegah penyakit degeneratif dimasa mendatang. Salah satu program stunting yaitu 1000 HPK sangat membutuhkan dukungan oleh para calon ibu dan ayah (1). Nah, stunting ini sangat penting untuk dapat diedukasikan secara dini sebelum membentuk keluarga baru, dan sikap positif para catin juga dibutuhkan agar informasi akan lebih mudah diterima dan diterapkan di masa mendatang (2). Lalu bagaimana peran calon ayah dan ibu untuk mencegah terjadinya stunting dan membangun keluarga yang sehat dan bergizi? Yaitu dengan saling mendukung dan menyeimbangkan proses pola asuh anak.

2. Gizi Seimbang Calon Pengantin

Makanan menjadi salah satu faktor yang dapat memperbaiki dan memengaruhi kesuburan seseorang (2). Tidak hanya itu pola makan serta kebiasaan makan catin dapat berpengaruh pada status gizi dan status kesehatan yang dapat berisiko di masa mendatang. Pada program 1000 HPK untuk mengurangi angka stunting pada anak serta mencegah terjadinya penyakit degeneratif lainnya, pasangan catin harus bisa paham dan mulai aware nih dengan apa yang dikonsumsi. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengikuti sosialisasi catin terkait pedoman gizi seimbang (3). Makanan yang bervariasi dan tinggi zat gizi akan mempengaruhi status gizi seseorang dan akan menjadi investasi bagi kesehatan individu di masa depan, dan pasangan catin bisa menerapkan hal ini. mengkonsumsi jenis makanan beragam dengan jumlah yang sesuai kebutuhan, apabila salah satunya tidak sesuai hal tersebut akan meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi (4). Beberapa faktor lainnya seperti usia catin, pendidikan, pengetahuan, dan sosial budaya akan mempengaruhi terlaksananya pola makan sehat. Terdapat juga pelatihan makanan sehat bagi calon pengatin, sebagai upaya cegah stunting.

3. Calon Pengantin Laki-Laki Bisa Belajar Apa Nih?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-3

Calon pengantin laki-laki sebagai calon ayah juga memiliki peran besar lho! Dimana, jika ayah mendukung dan memenuhi kebutuhan ibu saat hamil, menyusui dan ikut mengasuh anak akan mempengaruhi produktifitas berpikir anak, serta tumbuh kembangnya lho. Pendidikan dan pengetahuan calon ayah sangat penting sebagai upaya mencegah kesalahpahaman praktik keperawatan saat ibu hamil dan menyusui nanti (5) Pengetahuan calon ayah dapat memengaruhi sikap terhadap IMD (Inisiasi Menyusui Dini) pemberian ASI setelah 1 jam melahirkan, durasi menyusui, dan pemberian ASI eksklusif ibu kepada bayi selama 0-6 bulan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan pertimbangan, dukungan, dan membantu pengasuhan anak, serta keikut sertaan dan keterlibatan aktif ayah dalam pengambilan keputusan pemberian makanan bayi berpengaruh terhadap durasi menyusui (1). Pada saat ibu hamil sampai persalinan pun peran ayah dalam mengambil sikap positif, memberikan dukungan dengan mengikut kelas prenatal tentu akan mengurangi risiko terjadinya kematian ibu anak. Yuk sebagai calon pengantin peran ayah dan ibu sangat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anak dimasa mendatang, dimulai dari kamu, akan tercapai keluarga yang sehat dan berkualitas.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Simanjuntak, B. Y., & Wahyudi, A. (2021). Edukasi tentang 1000 hari pertama kehidupan dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap calon pengantin laki-laki. AcTion: Aceh Nutrition Journal, 6(1), 100-110.
  2. Nawiza, R. A., Yunita, L., & Irawan, A. (2023). Pelaksanaan Pendampingan Catin Untuk Mencegah Stunting Dengan Skrinning Status Gizi Dan Indeks Masa Tubuh (Tagindas). Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 3(3), 81-95.
  3. Melani, V., & Kuswari, M. (2019). Pengetahuan gizi seimbang calon pengantin di beberapa kantor urusan agama (KUA) Jakarta Barat. Darussalam Nutrition Journal, 3(1), 1-6.
  4. Krisdayani, D. D., Agustina, A., & Hanifah, L. (2023). Hubungan Pola Makan, Pengetahuan Gizi Seimbang Dan Sosial Budaya Dengan Status Gizi Calon Pengantin. Gizi Indonesia, 46(1), 11-22.
  5. Arsyad, J. F., Setiawaty, Y., & Yusnidar, Y. (2022). Pengaruh Pengetahuan Calon Pengantin Sebelum dan Setelah diberikan Pendidikan Gizi 1000 HPK Melalui Media Presentasi dan Booklet. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 282-287.

“Menikah bukanlah perkara aku dan kamu, tapi kita, anak kita, cucu kita, dan keturunan kita” Gizi yang tepat penting bagi calon pengantin. Karena gizi sebelum menikah sangat berhubungan dengan penentuan status gizi calon anak. Status gizi yang baik pada calon pengantin perempuan akan menghasilkan keluarga sehat dan keturunan yang berkualitas(1).

Persiapan kesehatan yang harus diperhatikan oleh calon pengantin

  1. Setiap pasangan catin harus memastikan status gizinya masuk kategori normal, dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT)-nya antara 18,5-25,0. Bagi catin perempuan harus memastikan lingkar lengan atas (LILA) <23,5 cm.
  2. Setiap pasangan catin dianjurkan mengonsumsi makanan gizi seimbang.
  3. Setiap catin perempuan dianjurkan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung zat besi dan asam folat sekali seminggu.
  4. Bagi catin perempuan yang mengalami KEK (Kekurangan Energi Kronik) dan Anemia maka perlu ditentukan penyebabnya dan tatalaksana yang sesuai dengan penyebab tersebut.
  5. Melakukan pemeriksaan kesehatan lainnya seperti pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium, melakukan imunisasi TT(tetanus toxoid), dan lain sebagainya. (1),(2)

Asupan makanan yang bergizi untuk calon pengantin

Calon pengantin perlu mengonsumsi makanan yang beraneka ragam setiap kali makan untuk mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Makanan yang beranekaragam terdiri dari lima kelompok pangan, yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, dan air. (1) Proporsi dalam setiap makan digambarkan dalam isi pringku yaitu :

  1. ⅔ piring dari ½ piring berisi makanan pokok
  2. ⅓ piring dari ½ piring berisi lauk-pauk
  3. ⅔ piring dari ½ piring berisi sayuran
  4. ⅓ piring dari ½ piring berisi buah-buahan

Beberapa zat gizi yang perlu diperhatikan sebelum menikah oleh calon pengantin yaitu :

FOTO ARTIKEL WEBSITE-22
  1. Protein Protein berfungsi untuk meningkatkan produksi sperma.. Sumber : telur, daging, ikan, kacang-kacangan, tahu, tempe.
  2. Asam Folat Asam folat berfungsi dalam perkembangan sistem saraf pusat pada janin, untuk mencegah kecacatan pada otak dan tulang belakang pada bayi. Sumber : sayuran hijau, bit, jeruk, alpukat, stroberi..
  3. Zat Besi Zat besi berfungsi membantu persiapan kehamilan dan menghindari anemia. Sumber : hati, daging, sayur bayam, brokoli.
  4. Vitamin A Vitamin A salah satu fungsinya adalah untuk produksi sperma. Sumber : hati, susu, dan lainnya.
  5. Vitamin D Kekurangan vitamin D dapat menurunkan tingkat kesuburan. Sumber : ikan tuna, hati.
  6. Vitamin E Vitamin E berfungsi mencegah terjadinya keguguran dan memelihara kesuburan pada perempuan. Sumber : tauge, gandum, minyak kelapa dan lain-lain.
  7. Vitamin C Vitamin C berperan sebagai pembentuk sel telur dan antioksidan. Sumber : jambu biji, jeruk, dan mangga.
  8. Vitamin B12 dan zink Berfungsi untuk memelihara kesuburan pada laki-laki. Sumber Vitamin B12 : daging ayam, telur, hati, dan susu. Sumber zink : daging sapi, daging ayam, ikan, kacang hijau, buncis, labu, dan kangkung(1),(3).

Bahan makanan yang perlu dihindari untuk calon pengantin :

  1. Daging mentah
  2. Sayuran mentah (lalapan)
  3. Daging ayam dan telur ½ matang atau mentah
  4. Ikan bermekuri(3)

Bagaimana jika seorang calon pengantin wanita ternyata memiliki permasalahan gizi?

Apakah artinya ia harus menunda pernikahannya? Jawabannya tentu saja tidak pernikahannnya tetap dapat dilaksanakan, namun dianjurkan untuk menunda kehamilannya terlebih dahulu sampai permasalahan kesehatannya dapat diatasi. (2) Setidaknya ada dua alasan utama mengapa calon ibu harus menjaga kondisi gizi sebelum hamil, yaitu :

  1. Gizi yang baik akan menunjang fungsi optimal alat-alat reproduksi seperti lancarnya proses pematangan sel telur, produksi sel telur dengan kualitas baik, dan proses pembuahannya yang sempurna.
  2. Gizi yang baik berperan penting dalam mempersiapkan cadangan gizi bagi tumbuh kembang janin. Bagi calon ibu, gizi yang cukup dan seimbang mempengaruhi kondisi kesehatan secara menyeluruh pada masa pembuahan (konsepsi) dan kehamilan.(4)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Komaladewi, Ayu & Fitri. Edukasi Gizi Pada Pasangan Pra Nikah. Poltekkes Kemenkes Riau, Pekanbaru: Taman Karya. 2020.
  2. Irawan, Ikrob Didik. Pentingnya Persiapan Gizi dan Kesehatan Pranikah Bagi Calon Pengantin Wanita {Internet}. Universitas Alma Ata. 2022 {cited 2024 Mar 8}. Available from : https://almaata.ac.id/pentingnya-persiapan-gizi-dan-kesehatan-pranikah-bagi-calon-pengant in-wanita-oleh-dr-yhona-paratmanitya-s-gz-dietisien-mph-dekan-fakultas-ilmu-ilmu-kesehat an-universitas-alma-ata/
  3. Furqan dkk. Buku Saku: Edukasi Gizi Calon Pengantin {Internet}. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Jakarta. 2019. {cited 2024 Mar 8}. Avaiable from : http://repository.uhamka.ac.id/id/eprint/8427/1/BUKU%20SAKU%20%20ALAT%20BANTU%20 EDUKASI%20GIZI%20PBL%202%20%20GIZI%20KOMUNITAS.pdf
  4. Susilowati., & Kuspriyanto. Gizi dalam Daur Kehidupan. Bandung : PT Refika Aditama. 2016.

Salah satu masalah gizi kronis yang umumnya menimpa anak-anak di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, adalah stunting atau pertumbuhan terhambat. Seorang anak dikatakan stunting jika tinggi badannya berada di bawah batas normal anak pada usia tersebut. Anak-anak yang menderita stunting tidak hanya tumbuh secara fisik berbeda dari anak-anak lain seusianya, namun perkembangan kognitif dan kapasitas belajar mereka juga dapat terkena dampaknya. Kita semua harus berjuang bersama untuk mencegah stunting pada generasi mendatang mengingat keadaan dan urgensinya saat ini (1).

Ibu harus tahu

Masa balita merupakan masa emas (golden age), suatu tahap kritis dalam perkembangan kembang manusia. Kegagalan dalam mengatasi permasalahan terkait tumbuh kembang balita akan berdampak pada kecerdasan dan stamina fisik anak, sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan pada masa yang akan datang (Wulandini, Efni & Marlita, 2020) (3). Pada bayi baru lahir (0–11 bulan), stunting adalah suatu kondisi kegagalan pertumbuhan dan perkembangan, dan pada balita (12–59 bulan), kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, dapat menyebabkan tinggi badan anak menjadi tidak sesuai. sebanding dengan usia mereka (Arnita dan lainnya, 2020). Berdasarkan tabel Z-Score, anak stunting menunjukkan tinggi atau panjang badan yang salah pada usia kurang dari dua standar deviasi (Damanik et al., 2021) (2). Stunting merupakan salah satu target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang merupakan bagian dari SDG kedua, yang bertujuan untuk mencapai ketahanan pangan dan memberantas segala jenis malnutrisi dan kelaparan pada tahun 2030. Pada tahun 2025, penurunan angka stunting sebesar 40% adalah tujuan utama dari penurunan angka stunting sebesar 40%. sasaran. Pemerintah telah menjadikan stunting sebagai salah satu prioritas utamanya untuk mencapai hal ini (8). Di Indonesia, kejadian stunting masih dianggap kronis. Karena frekuensi tersebut masih lebih tinggi dari 20%, maka target pemerintah pada tahun 2024 turun menjadi 14,0. Oleh karena itu, pemerintah mengajukan permintaan kepada semua masyarakat dan kader agar menjadikan masalah kesehatan ini sebagai prioritas utama. Permasalahan yang terjadi di Indonesia perlu ditangani secara terbuka karena diperlukan kolaborasi pemerintah dan keterlibatan masyarakat untuk meminimalisir suatu permasalahan (6).

Faktor risiko

Permasalahan balita dengan stunting atau pendek disebabkan karena berbagai faktor, faktor utama yang menyebabkan balita stunting atau pendek adalah asupan ASI (Air Susu Ibu) dan asupan pelengkap yang tidak optimal, infeksi berulang dan kekurangan zat gizi mikro (Dwitama et al., 2018) (3). Masalah dengan jumlah zat gizi yang dikonsumsi selama kehamilan dan masa bayi dapat menyebabkan stunting. Stunting juga dapat disebabkan oleh ketidaktahuan seorang ibu terhadap masalah kesehatan dan gizi sebelum kehamilan cukup bulan, selama masa nifas, dan terbatasnya akses terhadap layanan prenatal dan pasca melahirkan, makanan bergizi tinggi, air bersih, dan fasilitas sanitasi (7). Tingkat intervensi terbesar diperlukan untuk karakteristik yang sangat bervariasi ini pada 1000 HPK (1000 hari pertama kehidupan). Faktor stunting juga meliputi pekerjaan ibu, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, pendapatan, dan jumlah anak, individu yang tinggal di rumah, pola asuh orang tua, dan pemberian ASI eksklusif (Wahdah, Juffrie, & Huriyati, 2015). Selain itu, sejumlah faktor lain dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting, antara lain pendidikan ibu, pengetahuan ibu tentang gizi, pemberian ASI eksklusif, usia kapan anak mulai diberi makanan pendamping ASI, tingkat kecukupan zat besi dan zinc anak, riwayat penyakit virus, dan faktor genetik (Aridiyah, Rohmawati, & Ririanty, 2015) (7).

Tips mencegah stunting pada anak

Rekomendasi ABCDE berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi risiko stunting pada anak guna menghasilkan generasi masa depan yang sehat dan bebas stunting:

1. (A) Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)
  1. Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali.
  2. Konsumsi TTD bagi Ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan)
2. (B) Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali

Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG

3. (C) Cukupi konsumsi protein hewani

Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan

4. (D) Datang ke Posyandu setiap bulan
  1. Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke posyandu setiap bulan 5. (E) Eksklusif ASI 6 bulan
  2. ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun Meskipun Indonesia telah berhasil menurunkan angka prevalensi stunting hingga 21,6% pada tahun 2022, upaya pencegahan tetap diperlukan untuk memastikan jumlah kasus stunting di negara ini terus menurun (1).

Jaga pola hidup bersih dan sehat, serta lakukan pemeriksaan kehamilan sesegera mungkin di fasilitas kesehatan untuk memastikan calon ibu dan anak mendapat pengobatan segera terhadap penyakit yang mungkin diderita (1).

Cegah stunting sejak dini dengan zat gizi bagi ibu hamil

FOTO ARTIKEL WEBSITE-22
  1. Folat dan Asam Folat
    Folat adalah vitamin B yang penting dalam mencegah kelainan parah pada otak dan sumsum tulang belakang yang berhubungan dengan cacat tabung saraf pada bayi. Di sisi lain, asam folat, versi sintetis dari folat, terdapat dalam makanan dan suplemen yang kaya akan zat gizi mikro. Suplemen asam folat telah terbukti menurunkan risiko kelahiran prematur. American College of Obstetrics and Gynecology (ACOG) menyarankan agar ibu hamil mengonsumsi 600–800 mcg folat setiap hari. Makanan seperti hati, almond, telur, sayuran berdaun hijau tua, dan kacang polong dapat memberikan asupan folat harian yang direkomendasikan bagi ibu (4).
  2. Kalsium
    1000 miligram kalsium per hari, atau dua dosis masing-masing 500 miligram, diperlukan untuk wanita hamil. Susu, yoghurt, keju, makanan laut rendah merkuri termasuk udang, lele, dan salmon, serta tahu kaya kalsium dan sayuran berdaun hijau merupakan sumber kalsium yang baik (4).
  3. Vitamin D
    Gigi dan tulang bayi baru lahir yang kuat dibantu oleh vitamin D. Dosis harian 600 unit internasional (IU) vitamin D direkomendasikan untuk ibu hamil. Vitamin D dapat ditemukan pada ikan berlemak seperti salmon. Jus jeruk dan susu adalah dua pilihan makanan lain yang tinggi vitamin D (4).
  4. Protein
    Untuk mendukung perkembangan kesehatan jaringan dan organ janin, termasuk otak, kebutuhan protein selama kehamilan juga harus dipenuhi. Setiap trimester kehamilan meningkatkan jumlah protein yang dibutuhkan ibu. Tergantung pada berat badan ibu saat ini dan trimester kehamilan, ibu hamil perlu mengonsumsi antara 70-100 gram protein setiap hari. Cari tahu dari dokter berapa banyak protein yang dibutuhkan ibu secara khusus. Ibu hamil bisa mendapatkan manfaat dari mengonsumsi daging tanpa lemak, ayam, ikan, kacang almond, selai kacang, kacang polong, dan keju cottage sebagai sumber protein (4).
  5. Zat Besi
    Ibu membutuhkan zat besi dua kali lebih banyak saat hamil dibandingkan saat tidak hamil. Zat besi dibutuhkan oleh tubuh ibu untuk menghasilkan lebih banyak darah, yang memberikan oksigen kepada bayi yang belum lahir. Seorang ibu yang asupan zat besinya tidak mencukupi dapat mengalami anemia defisiensi besi yang membuatnya mudah lelah. Kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan depresi pasca melahirkan adalah beberapa risiko lain yang terkait dengan anemia defisiensi besi parah selama kehamilan. Kebutuhan zat besi harian ibu hamil adalah 27 mg. Mengonsumsi makanan seperti ikan, ayam, dan daging merah tanpa lemak akan membantu mencapai kebutuhan gizi tersebut. Sereal kaya zat besi, kacang-kacangan, dan sayuran adalah beberapa pilihan makanan yang tinggi zat besi (4).

Semua pemangku kepentingan (orang tua, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah) berbagi tanggung jawab untuk mencegah dan menurunkan prevalensi stunting (5).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Kemenkes RI. “Cegah Stunting dengan ABCDE”. ayosehat.kemkes.go.id. 2023 [cited 2023 December 20]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/cegah-stunting-dengan-abcde
  2. Panigoro, M. I, dkk. (2023). “Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tilongkabila”. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi (JIG), 1(1): 47-60.
  3. Rahayu, THS, dkk. (2021). “Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Stunting pada Balita di Desa Kedawung Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara”. Borneo Nursing Journal (BNJ), 4(1): 10-17.
  4. Savitrie, E. “Gizi Seimbang Ibu Hamil”. yankes.kemkes.go.id. 2022 [cited 2023 December 20]. Available from: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/405/gizi-seimbang-ibu-hamil
  5. Yanti, N. D, dkk. (2020). “Faktor Penyebab Stunting pada Anak: Tinjauan Literatur”. Real in Nursing Journal (RNJ), 3(1): 1-10.
  6. Yunifar, A. T, dkk. (2023). “Collaborative Governance pada Penerapan Perwali No 79 Tahun 2022 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kota Surabaya”. Jurnal Penelitian Administrasi Publik, 3(4): 254-264.
  7. Yuwanti, dkk. (2021). “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stunting pada Balita di Kabupaten Grobogan”. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus, 10(1): 74-84.
  8. Widayanto, MT & Tim KKN Desa Jatiadi. (2019). “Edukasi Kesehatan bagi Ibu dan Calon Ibu sebagai Upaya Pencegahan Masalah Stunting di Desa Jatiadi Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo”. Jurnal Abdi Panca Marga, 1(1): 11-15.

Anak merupakan generasi penerus bangsa yang kesehatannya harus diperhatikan agar menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada saat ini stunting merupakan permasalahan kesehatan yang menjadi prioritas karena dapat berdampak pada kecerdasan dan produtivitas kerja anak di masa mendatang. Pada upaya pencegahan stunting peran ibu sangat penting.

Menteri Kesehatan mendefinisikan Stunting sebagai perawakan pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang/tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO, disebabkan karena kekurangan gizi kronik yang berhubungan dengan status sosioekonomi rendah, asupan gizi dan kesehatan ibu yang buruk, riwayat sakit berulang dan praktik pemberian makan pada bayi dan anak yang tidak tepat. (1) Masalah gizi terutama stunting pada balita dapat menghambat perkembangan anak, dengan dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya seperti penurunan intelektual, rentan terhadap penyakit tidak menular, penurunan produktivitas hingga menyebabkan kemiskinan. (2) Status gizi ibu hamil sangat memengaruhi keadaan kesehatan dan perkembangan janin. Gangguan pertumbuhan dalam kandungan dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). (3) Ibu merupakan satu satunya yang berhubungan langsung dengan kesehatan anak mulai dari dalam kandungan dan setelah dilahirkan, sehingga peran ibu sangat penting sebagai ujung tombak dalam pencegahan stunting pada anak. Ada beberapa peran yang bisa ibu lakukan untuk mencegah kejadian stunting pada anak, baik saat hamil maupun sesudah melahirkan. (4)

Peran Ibu saat Hamil dalam Mencegah Stunting pada Anak :

1. Cegah Anemia

Ibu hamil yang menderita anemia meningkatkan kemungkinan melahirkan anak yang stunting. (5) Pencegahan Anemia pada saat hamil dapat dilakukan dengan mengkonsumsi secara harian protein hewani (ati, telur, ikan, unggas, daging merah) dan meminum tablet tambah darah minimal 90 tablet selama 3 bulan pertama kehamilan. (4)

2. Cegah Kekurangan Energi Kronik (KEK)

Ibu hamil yang mengalami KEK dapat beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting. (5) Pencegahan KEK pada Ibu hamil dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan sesuai gizi seimbang. Kondisi KEK bisa dideteksi dini dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA). Minimal LiLA bagi ibu yang sehat adalah 23,5 cm. (4)

3. Antenatal Care (ANC) berkualitas
FOTO ARTIKEL WEBSITE-21

Pemeriksaan ANC (Antenatal Care) merupakan pemeriksaan kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI secara eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar. (6) Antenatal care harus memenuhi kuantitas minimal dan kualitas yang maksimal dalam pencegahan stunting. (6)

Peran Ibu sesudah Melahirkan dalam Mencegah Stunting pada Anak :

1. Memberikan ASI Eksklusif & Lanjutan
  1. Lakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera setelah persalinan dan skin-to-skin contact minimal 1 jam.
  2. Berikan ASI eksklusif kepada bayi dari usia 0 – 5 bulan dan teruskan hingga usia 2 tahun jika memungkinkan.
  3. Berikan Makanan Pendamping ASI dari usia 6 – 23 bulan. (4)
2. Memberikan MPASI, Makanan Bayi dan Anak
  1. Banyak makan sayur (250 gr/hari setara dengan 2,5 porsi sayur) dan buah buahan (150 gr/hari setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang, 1,5 potong pepaya ukuran sedang, atau 3 buah jeruk ukuran sedang).
  2. Biasakan mengkonsumsi aneka ragam makanan pokok.
  3. Batasi konsumsi pangan manis, asin, dan berlemak.
  4. Biasakan sarapan.
  5. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman.
  6. Biasakan membaca label pada kemasan pangan.
  7. Kecukupan nilai kalori dan kandungan gizi makanan sesuai kebutuhan berdasarkan umur, bervariasi sesuai dengan ketersediaan lokal dan musim. (4)
3. Pemantauan Pertumbuhan
  1. Identifikasi ukuran berat dan tinggi awal anak dari sejak lahir hingga usia 2 tahun untuk mengetahui kemajuan pertumbuhannya.
  2. Bayi dikategorikan memiliki Berat Lahir Rendah (BBLR) apabila berat badannya kurang dari 2.500 gram (Kementerian Kesehatan).
  3. Perkembangan berat dan tinggi badan anak dapat dilakukan setiap bulan di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya dan hasilnya bisa dicatat di Kartu Menuju Sehat (KMS) yang tersedia di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). (4)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Kemenkes RI. Keputusan Meneteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Stunting. Jakarta; 2022.
  2. Arini D, Mayasari AC, Rustam MZA. Gangguan Perkembangan Motorik Dan Kognitif pada Anak Toodler yang Mengalami Stunting di Wilayah Pesisir Surabaya. J Heal Sci Prev. 2019;3(2):122–8.
  3. Timban JFJ, Tangkere EG, Lumingkewas JRD. Peran Perempuan Dalam Pencegahan Stunting Di Kecamatan Bunaken Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Stud Soc Sci. 2019;2(1):8.
  4. Cegahstunting.id. Cegah Stunting, Itu Penting [Internet]. 2021 [cited 2023, Dec 10]. Available from: https://cegahstunting.id/kategori/keluarga/ibu-muda/
  5. Rokom. Saat Remaja Menderita Anemia, Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Stunting [Internet]. Sehat Negeriku. 2021 [cited 2023, Dec 10]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis media/20210122/5236847/saat-remaja-menderita-anemia-ibu-hamil-berisiko-lahirkan-anak stunting/
  6. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentas. Cegah Anemia dan Stunting Sejak Kehamilan [Internet]. PPID Semarang. 2023 [cited 2023, Dec 10]. Available from: https://ppid.semarangkota.go.id/cegah-anemia-dan-stunting-sejak-kehamilan/

Penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome atau yang disingkat AIDS merupakan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). (1). Seorang yang terinfeksi HIV biasa disebut dengan “Orang dengan HIV AIDS” dan disingkat menjadi “ODHA”. Seorang yang sudah terinfeksi HIV berisiko mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh dan mengalami gangguan penurunan status gizi. (2). Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya penurunan sistem kekebalan dan status gizi lebih lanjut, ODHA perlu memperhatikan asupan makanan sehari-hari untuk membantu mengoptimalkan kesehatan dengan mengonsums gizi yang seimbang. Kekurangan asupan energi, protein, seng, besi, dan vitamin A, C dapat mempercepat perkembangan HIV, mengahambat proses pengobatan dan mengganggu fungsi imun. (3,4).

Zat Gizi dan Makanan Apa Saja yang Dapat Dikonsumsi ODHA?

1. Protein

Kebutuhan protein bagi ODHA yaitu sekitar 12-15% dari kebutuhan energi/hari. (5). Asupan protein yang cukup diperlukan untuk mengatasi hilangnya masa otot yang cepat .4). Protein dapat diperoleh dari bahan makanan seperti susu, daging merah, daging ayam tidak berlemak, kacang-kacangan dan olahanyya seperti tempe, tahu, dan kacang hijau. (6).

FOTO ARTIKEL WEBSITE-4
2. Vitamin A

Vitamin A telah terbukti meningkatkan fungsi sel pembunuh alami secara in vitro dan merangsang fagositosis. Vitamin A telah terbukti dapat menjaga respon imun dan bertindak sebagai antioksidan. (7). Bahan makanan yang mengandung tinggi akan vitamin A adalah hati ayam (4957 mcg), ikan salmon (136 mcg), telur ayam ras (61 mcg), dan udang (18 mcg). (8).

3. Vitamin C

Vitamin C merupakan salah satu zat gizi mikro antioksidan yang dapat membantu pemulihan infeksi. Berperan dalam melindungi sel-sel dan jaringan terhadap kerusakan oleh oksigen reaktif dan nitrogen species yang meningkat selama menderita penyakit menular, terutama ketika sistem kekebalan tubuh diaktifkan untuk menghilangkan adanya virus atau patogen. (9). Kebutuhan rata-rata vitamin C usia remaja-lanjut usia berdasarkan AKG 2019adalah 75 – 90 mg/hari. Sehingga konsumsi vitamin C yang cukup sesuai dengan kebutuhan sangat dianjurkan untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Bahan makanan yang mengandung tinggi akan vitamin C antara lain jambu biji (87 mg), kiwi (92,7 mg), duwet (130 mg), papaya (78 mg), daun katuk (164 mg), bayam (41 mg). (8,10,11).

4. Mineral Seng

Zinc atau seng merupakan mineral yang berperan dalam mempertahankan sistem kekebalan tubuh, terutama pada penderita HIV dengan mendukung peningkatan kadar sel Limfosit T dalam darah. (12). Kebutuhan Zinc menurut AKG 2019 pada usia remaja lanjut usia yaitu dalam rentang 9-11 mg/hari. Bahan makanan yang mengandung tinggi seng yaitu daging sapi (6,4 mg), kacang kedelai (3,9 mg), kacang ercis (2,1 mg), ikans sarden (2 mg), ikan tongkol (1,6 mg), udang (1,3 mg), dan telur ayam (1 mg). (8).

5. Zat Besi

Anemia merupakan salah satu komplikasi heamtologi yang sering ditemukan pada ODHA. Perbaikan anemia dapat menurunkan risiko progersi penyakit serta meningkatkan harapan hidup. Anemi aini terjadi karena adanya peningkatan aktivitas destruksi eritrosi dan blood loss akibat perdarahan pada saluran gastrointestinal atau genotourinaria. (13). Bahan makanan yang mengandung tinggi akan zat besi adalah hati ayam (15,8 mg), kacang merah kering (10,3 mg), daun kelor (6 mg), dark chocolate (4,4 mg), tempe (4 mg) bayam (3,5 mg), dan tahu (3,4 mg). (8).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Kemenkes. Buku Saku Hepatitis. Jakarta: Pelita Hati; 2020.
  2. Lestari T, Muhlis M, Yamko R, Sumiati T, Andiani A, Surasno DM, et al. Workshop Pelayanan Gizi bagi Orang dengan HIV AIDS. JURNAL BIOSAINSTEK. 2023;5(1):70–3.
  3. Yuniarti Y, Purba MB, Pangastuti R. Pengaruh konseling gizi dan penambahan makanan terhadap asupan zat gizi dan status gizi pasien HIV/AIDS. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 2013;9(3):132–8.
  4. Sari JN, Widodo STM. PELATIHAN PEMBUATAN NUGGET KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN TINGGI PROTEIN BAGI ODHA DI RUMAH SINGGAH KEBAYA. In 2021. p. 185–92.
  5. Kemenkes RI. Pedoman Pelayanan Gizi bagi ODHA. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014. 23 p.
  6. Mansur S, Surasno DM, Rahayu A. Edukasi Pola Makan pada Orang dengan HIV/Aids (ODHA) di Kota Ternate. JURNAL BIOSAINSTEK. 2022;4(1):47–52.
  7. Mehta S. Gizi dan HIV: Bukti Epidemiologis untuk Kesehatan Masyarakat. New York: Pers CRC; 2018.
  8. TKPI Kemenkes RI. Tabel Komposissi Pangan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2017.
  9. Pettalolo SR. Efek suplementasi ekstrak ikan gabus dan vitamin c terhadap kadar hemoglobin, lekosit, limfosit, albumin dan imt pada pasien hiv/aids. Gizi Indonesia. 2015;38(1):41–8.
  10. Astriningrum EP, Hardinsyah H, Nurdin NM. Asupan asam folat, vitamin B12 dan vitamin C pada ibu hamil di indonesia berdasarkan studi diet total. Jurnal Gizi dan Pangan. 2017;12(1):31–40.
  11. Suprayogi D. Uji kualitatif vitamin C pada berbagai makanan dan pengaruhnya terhadap pemanasan. Sainmatika: Jurnal Sains dan Matematika Universitas Jambi. 2011;3(1):221096.
  12. Maulia PH. Status Zinc dan Peran Suplementasi Zinc Terhadap Sistem Imun pada Pasien HIV/AIDS: a Systematic Review. Media Gizi Indonesia. 2019;14(2):115–22.
  13. Fransiska YY, Kurniawaty E. Anemia pada Infeksi HIV. Jurnal Majority. 2015;4(9):123–8.

Seperti yang kita tau bahwa HIV/ AIDS merupakan suatu penyakit yang menyerang imunitas tubuh sehingga penyandangnya kerap kali mengalami berbagai masalah kesehatan terutama infeksi dari luar. Jika sobat ilmugiziku merupakan penyandang HIV/ AIDS atau memiliki orang dekat sebagai penyandangnya, yuk pelajari lebih lanjut!

Apa itu AIDS?

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV. Penderita HIV memerlukan pengobatan dengan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam stadium AIDS, sedangkan penderita AIDS membutuhkan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai komplikasinya. (1). Infeksi ini menyebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan penyakit, terutama penyakit infeksi. Akibatnya, tubuh mereka sangat mudah sakit hingga dapat menyebabkan kematian. (2). Seseorang yang menyandang HIV/ AIDS ini sering disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS).

Kenapa sih menjaga pola makan itu penting untuk ODHA?

Nah, ODHA ini sering kali mengalami penurunan nafsu makan karena berbagai infeksi yang menyerangnya sehingga menyebabkan penurunan berat badan yang cukup drastis. Selain itu, kejadian diare yang tinggi dapat menurunkan asupan dan penyerapan zat gizi yang masuk. Keseluruhan gejala ini dapat berujung pada malnutrisi sehingga semakin memperburuk imunitas dan menurunkan usia harapan hidup ODHA. (2,3) Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA? Yuk simak tips berikut ini!

1. Terapkan Prinsip Diet ETPT (Energi Tinggi Protein Tinggi)

Akibat adanya serangan pada imunitas tubuh, maka ODHA mengalami perubahan metabolisme berupa peningkatan kebutuhan energi dan protein. Peningkatan asupan energi sebesar 10% dianjurkan selama infeksi HIV asimtomatik untuk mengimbangi peningkatan pengeluaran energi basal. Selain itu, penambahan protein lebih tinggi sampai dengan 10% dari kebutuhan normal diberikan apabila terdapat infeksi oportunistik. (3) Oleh karena peningkatan kebutuhan energi dan protein untuk mempertahankan efektivitas metabolisme tubuh ini, maka ODHA perlu meningkatkan asupan energi dan protein pula. Asupan energi didapatkan dari sumber utama yaitu karbohidrat seperti nasi, mi, dan sebagainya. Sementara asupan protein disarankan dengan jenis asam amino esensial seperti kedelai atau makanan sumber hewani, termasuk susu. (3)

2. Makan dengan PKTS (Porsi Kecil Tapi Sering)
FOTO ARTIKEL WEBSITE-18

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwasannya ODHA seringkali mengalami penurunan nafsu makan. Salah satu tipsnya untuk tetap membantu peningkatan asupan adalah makan dengan porsi kecil namun dilakukan sesering mungkin sehingga ODHA lebih mudah mengonsumsi makanan saat nafsu makannya menurun. Selain itu, PKTS ini juga dapat membantu meringankan kerja saluran cerna. (4)

3. Sesuaikan Tekstur dengan Kemampuan Makan ODHA

Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa 97,6% pasien memiliki penyakit penyerta. (5). Pada stadium ke 2-3 serta seringkali muncul sariawan pada ODHA (4). Sementara jika telah masuk fase AIDS komplikasi yang sering terjadi adalah candidiasis oral yakni tumbuhnya jamur candida di mulut mirip sariawan sehingga ODHA akan mengalami kesulitan makan akibat nyeri kunyah atau nyeri telan (5). Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian tekstur makanan yang lebih lunak atau lebih cair (mushed potato, telur orak arik, daging cincang) untuk mempermudah makanan masuk. Selain itu, hal-hal penting seperti selalu menjaga kebersihan mulut, hindari bahan makanan yang panas, jika minum gunakan sedotan, hindari bahan makanan yang menyebabkan ketidak-nyamanan (terlau pedas, terlalu manis, terlalu keras dll) juga penting untuk diterapkan sesuai kemampuan ODHA.(4)

4. Jaga Kebersihan Makanan

Menjaga kebersihan makanan sangat penting mengingat ODHA sangat rentan terhadap infeksi. Beberapa cara memelihara keamanan pangan yaitu bahan makanan termasuk air bebas dari cemaran bakteri atau mikroba, higiene penanganan makanan, penyimpanan, persiapan, dan penyajian perlu diobservasi dengan baik. Sebisa mungkin hindari konsumsi sayur dan buah dalam bentuk mentah atau tanpa dimasak, telur mentah atau setengah matang, bahan makanan dalam kaleng maupun yang diawetkan, serta jangan mengkonsumsi makanan yang diletakkan dalam suhu 6 derajat celsius sampai 60 derajat celsius lebih dari 2 jam. (4)

5. Rajin Berkonsultasi pada Ahlinya

Asupan gizi yang dianjurkan tergantung pada stadium penyakit, usia, status fisiologis (kehamilan atau laktasi) dan aktivitas fisik. Menerjemahkan kebutuhan zat gizi ke dalam panduan berbasis makanan, preferensi makanan, dan juga akses terhadap gizi makanan, harus diperhitungkan. (3)

Oleh karena itu, berkonsultasi pada dokter dan ahli gizi sangat diperlukan untuk mengetahui rencana perawatan gizi individual untuk mendukung pengelolaan klinis ODHA serta mengidentifikasi apakah dibutuhkan intervensi gizi yang spesifik di luar pemberian gizi umum. (3). Jadi jangan ragu untuk selalu berkonsultasi ya!

Nah, itulah 5 tips makan sehat dan bergizi untuk ODHA. Jika tertarik, jangan lupa baca artikel lain dari ilmugiziku ya!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Pusdatin Kemenkes RI. InfoDATIN HIV AIDS. Soc Issues Am An Encycl. 2020;92–107.
  2. Supariasa IDN, Handayani D. Asuhan Gizi Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2022.
  3. Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. 2019.
  4. Nuraini, Ngadiarti I, Moviana Y. Dietetika Penyakit Infeksi [Internet]. PPSDM Kesehatan Kemenkes RI; 2017. Available from: https://repository.stikeshb.ac.id/24/1/DIETETIK-PENYAKIT-INFEKSI-FINAL SC_.pdf
  5. Mawarda, Virani D, Citrakesumasari. GAMBARAN ASUPAN DAN STATUS GIZI PADA PASIEN RAWAT INAP HIV AIDS DI INFECTION CENTER RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR TAHUN 2018. Univ Hasannuddin, Makassar. 2018;