FOTO ARTIKEL WEBSITE (1)

Halo teman-teman ilmugiziku. Adakah dari kalian memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan gizi dan makanan? Jika iya, maka sebaiknya masalah tersebut dikonsultasikan dengan seorang professional ya. Oleh karena itu, memilih seseorang yang tepat dalam membantu memecahkan masalah merupakan hal yang penting. Bagi kalian yang sedang berdiet, sebaiknya lakukanlah konsultasi dengan dietisien agar pola makan tetap sehat dan seimbang. Mengapa harus dietisien? Yuk kita bahas!

Apa itu Diet?

Diet kerap kali diartikan sebagai pola makan yang diterapkan untuk menurunkan berat badan saja. Namun, pada kenyataannya, diet tidak hanya untuk seseorang yang ingin menurunkan berat badanya saja tetapi dapat juga diartikan sebagai pengaturan pola dan konsumsi makanan-minuman yang dilarang, dibatasi jumlahnya, dimodifikasi atau diperbolehkan dengan jumlah tertentu dengan tujuan terapi penyakit yang diderita, kesehatan, atau penurunan berat badan.

Ahli gizi (nutritionist) dan ahli diet (dietisien) sama-sama merupakan ahli dalam bidang pangan dan gizi serta mempelajari bagaimana pola makan yang sehat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit, tenaga gizi dibagi menjadi 3 yaitu Dietisien /Registered Dietitian (RD), Nutrisionis / Nutrisionist Registered (NR) dan Ahli Madya Gizi / Technical Registered Dietitian (TRD). Sekarang mari kita kulik lebih lanjut yuk mengenai Dietisien /Registered Dietitian (RD)

FOTO ARTIKEL WEBSITE (2)

Bagaimana Cara Mendapatkan Gelar Sebagai Dietisien?

Perjalanan panjang ditempuh oleh seorang dietisien sampai mendapatkan gelarnya loh. Menurut Permenkes nomor 26 tahun 2013, Registered Dietisien adalah tenaga sarjana gizi atau sarjana terapan gizi yang telah mengikuti Pendidikan profesi dan telah lulus uji kompetensi serta teregistrasi sesuai peraturan perundangan.

Berikut merupakan tahapan yang harus dilalui untuk menjadi seorang dietisien:(4)

  1. Menempuh pendidikan gizi melalui jalur akademik Diploma IV (Sarjana Terapan Gizi) atau strata I (Sarjanan Gizi) selama kurang lebih 4 tahun
  2. Registered Dietisien (RD) merupakan tenaga gizi sarjana terapan gizi atau sarjana gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi selama kurang lebih 1 tahun dan telah lulus uji kompetensi serta teregistrasi sesuai ketentuan perundang-undangan.
  3. Untuk dapat melakukan pekerjaan serta melakukan praktik, dietisien harus memiliki STRTGz (Surat Tanda Registrasi Tenaga Gizi) serta sertifikat kompetensi
  4. Setiap dietisien yang melakukan praktik pelayanan gizi secara mandiri dan bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan wajib memiliki SIPTGz (Surat Izi Praktik Tenaga Gizi)

Seperti yang sudah dibahas, seorang dietisien merupakan seorang nutrisionis yang telah mengikuti pendidikan profesi dan dinyatakan lulus dengan gelar RD. Untuk mendapatkan gelar tersebut, dietisien menjalani internship selama setahun di tiga bidang yaitu klinis, penyelenggaraan makan, dan masyarakat. Setelah itu menjalankan uji kompetensi dari AIPGI jika lulus kemudian mengurus STR RD. Lalu berlanjut mengurus SIP (Surat izin praktek). Setelah itu, ia berhak untuk mengurus ijin memberikan pelayanan dan menyelenggarakan praktik gizi. (1)

Peran Dietisien sebagai Tenaga Gizi

Seorang dietisien dapat melakukan pelayanan gizi secara mandiri maupun bekerja di fasilitas kesehatan dan berperan dalam: (3)

  1. Pemberi asuhan gizi mandiri Memberikan asuhan dan edukasi gizi kepada pasien mengenai gizi secara mandiri
  2. Konselor gizi mandiri Ketika kita berkonsultasi masalah gizi maka seorang dietisien akan merencanakan serta mengedukasi kita mengenai hubungan apa yang kita konsumsi, kebugaran dengan kesehatan kita serta akan dipantau dan dievaluasi supaya kedepannya menjadi lebih sehat
  3. Penyelia penyelenggaraan makanan Dietisien dapat memberikan saran atau konsultasi dalam mengelola operasional pelayanan makanan mulai dari pembelian, persiapan dan pengolahan, distribusi hingga monitoring dan evaluasi pengelolaan sumber daya (manusia, biaya dan sarana/prasarana)
  4. Pengembang produk alternatif gizi Dapat mengembangkan produk sebagai alternatif makanan yang dapat direkomendasikan kepada pasien atau klien
  5. Pengelola program gizi Dapat merancang, mengelola, memantau dan mengevaluasi program-program gizi sebagai upaya preventif dan promotif
  6. Advokator dan komunikator program gizi Dapat melakukan advokasi serta komunikasi gizi mengenai program gizi kepada pemangku kepentingan dan kepada masyarakat mengenai gizi seimbang serta produk-produk gizi terbaru
  7. Penyelia pendidikan dan pelatihan gizi Dapat membimbing dan mengajar mahasiswa yang sedang melaksanakan pendidikan gizi serta dapat merancang modul, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pelatihan gizi
  8. Penyelia penelitian Dapat melaksanakan uji coba atau peneliian yang dapat menjawab permasalahan gizi yang terjadi serta mencari alternatif yang dapat direkomendasikan kepada individu atau masyarakat.
FOTO ARTIKEL WEBSITE (3)

Wewenang Dietisien

Dalam melaksanakan pelayanan, dietisien memiliki kewenangan sebagai berikut: (3)

  1. Memberikan pelayanan konseling, edukasi gizi, dan dietetik
  2. Melakukan pengkajian gizi, diagnosis gizi, dan intervensi gizi meliputi perencanaan, preskripsi diet, implementasi, konseling dan edukasi serta fortifikasi dan suplementasi zat gizi mikro dan makro, pemantauan dan evaluasi gizi, merujuk kasus gizi, dan dokumentasi pelayanan gizi
  3. Pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan pelayanan gizi; dan Melaksanakan penyelenggaraan makanan untuk orang banyak atau kelompok orang dalam jumlah besar
  4. Menerima klien/pasien secara langsung atau menerima preskripsi diet dari dokter
  5. Memberi masukan kepada dokter yang merujuk bila preskripsi diet tidak sesuai dengan kondisi klien/pasien; dan/atau Merujuk pasien dengan kasus sulit/critical ill dalam hal preskripsi diet ke dokter spesialis yang berkompeten.

Apa ya perbedaan Dietisien dengan Nutrisionis?

Perbedaan antara dietisien dengan ahli gizi yakni, ahli gizi atau nutritionis adalah tenaga spesialis memberikan saran seputar masalah kesehatan dan gizi serta merumuskan informasi untuk masyarakat atau klien. Mereka bisa memberikan rekomendasi terkait makanan atau kebiasaan makan untuk mencegah penyakit atau meringankan masalah tertentu. Namun tidak dapat menangani orang-orang denga masalah medis. Sedangkan ahli diet atau dietisien lah yang dapat menangani orang-orang dengan masalah medis.

Dietisien maupun nutrisionis keduanya merupakan sama – sama tenaga kesehatan professional dibidang gizi. Nutrisionis berfokus pada pemberian saran seputar masalah gizi dan pola makan bagi masyarakat atau individu. Dietisien melakukan hal serupa, tetapi dalam lingkup klinis kepada pasien dengan masalah kesehatan yang sudah ada. Jika kamu ingin berkonsultasi mengenai kebutuhan gizi, kamu bisa sesuaikan dengan kondisi kamu ya.

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 374/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Gizi
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 tahun 2013 tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit
  3. AIPGI. Naskah Akademik Pendidikan Dietisien. Jakarta: 2016
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi
  5. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Etika Profesi. Jakarta: 2018

Konsumsi pangan masyarakat masih belum sesuai dengan pesan gizi seimbang. Riskesdas 2007, 2010, 2013 menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki masalah kekurangan gizi. Pengaruh kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak janin sampai anak berumur dua tahun, tidak hanya terhadap perkembangan fisik, tetapi juga terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kecerdasan dan ketangkasan berpikir serta terhadap produktivitas kerja.

Dalam upaya mengoptimalkan penyampaian pesan Gizi Seimbang kepada masyarakat, diperlukan komunikasi, informasi dan edukasi yang tepat dan berbasis masyarakat. Pedoman Gizi Seimbang memberikan pesan konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah
(porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Konsumsi makanan harus memperhatikan prinsip 4 pilar yaitu anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik dan memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal.

Keanekaragaman pangan adalah anekaragam kelompok pangan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan dan air serta beranekaragam dalam setiap kelompok pangan. Berbagai makanan yang dikonsumsi beragam baik antar kelompok pangan (makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah) maupun dalam setiap kelompok pangan. Contoh dan penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di PMK No 41 2014 Pedoman Gizi Seimbang [PDF]

Baca juga : PMK No 30 2013 Pencantuman Informasi Kandungan Gula Garam Lemak untuk Pangan Olahan serta Siap Saji [PDF]

untuk diet atkins

Halo teman-teman ilmugiziku, apakah kalian sebelumnya pernah mendengar mengenai diet atkins? Saat ini terdapat banyak tren yang popular untuk menurunkan berat badan. Salah satu yang dipercaya untuk dapat menurunkan berat badan yakni jenis diet Atkins. Yuk kita bahas jenis diet yang satu ini!

Pengertian Diet Atkins​

Diet Atkins awalnya dipopulerkan oleh seorang ahli jantung yakni Dr. Robert C. Atkins pada tahun 1960-an. Jenis diet ini merupakan rencana makan dengan membatasi asupan karbohidrat dan mengonsumsi lebih banyak protein serta lemak sebagai gantinya. Diet yang atau dikenal dengan Atkins Nutritional Approach ini memiliki beberapa fase untuk penurunan dan pemeliharaan berat badan. (1)

Manfaat Diet Atkins​

Fokus diet utama dari Diet ini adalah makan keseimbangan yang tepat dari karbohidrat, protein dan lemak untuk penurunan berat badan yang optimal dan kesehatan. Diet ini menyatakan bahwa makan terlalu banyak karbohidrat – terutama gula, tepung putih dan karbohidrat olahan lainnya – menyebabkan ketidakseimbangan gula darah, penambahan berat badan dan masalah kardiovaskular. Untuk itu, Diet ini membatasi karbohidrat dan mendorong makan lebih banyak protein dan lemak.

Diet Atkins tidak memerlukan penghitungan kalori atau kontrol porsi. Oleh karena Itu kita dapat melacak karbohidrat dengan menggunakan sistem yang disebut karbohidrat bersih, yang merupakan kandungan karbohidrat total suatu barang dikurangi kandungan seratnya. Misalnya, setengah cangkir (4 ons) brokoli mentah memiliki 2,3 gram karbohidrat total dan 1,3 gram serat, sehingga nilai karbohidrat bersihnya 1 gram. (1) Untuk memperoleh energi, tubuh membakar lemak dan karbohidrat. Diet ini menganggap, mengurangi karbohidrat akan membuat proses pembakaran lemak lebih efektif.  Sebab, tubuh kemudian akan mengutamakan pembakaran lemak sebagai sumber energi. Ini yang dapat mendorong penurunan berat badan. Diet ini juga dapat mengatur gula darah serta membantu mencapai kesehatan yang optimal, Setelah mencapai berat badan tujuan, Diet Atkins akan membantu mengidentifikasi jumlah gram karbohidrat bersih yang dapat dikonsumsi setiap hari tanpa menambah atau menurunkan berat badan. (2)

Tahapan Diet Atkins ​

Inilah beberapa tahapan yang dapat diikuti saat menjalani diet Atkins: (4)

  1. Atkins 20
    Atkins 20 adalah diet Atkins asli yang disebut mampu mencapai berat badan ideal seseorang. Pada tahap ini yang dilakukan adalah mengontrol asupan karbohidrat hingga 20 gram sehari,
  2. Atkins 40
    Diet Atkins 40 adalah program diet rendah karbohidrat yang mudah berdasarkan kontrol makan 40 gram karbohidrat bersih per hari.
  3. Atkins 100
    Atkins 100 adalah paket diet rendah karbohidrat yang dirancang untuk membuat gaya hidup sehat lebih mudah dari sebelumnya. Berdasarkan kontrol porsi dan makan 100 gram karbohidrat bersih per hari, program ini. Namun, harus menghindari gula, karbohidrat rafinasi, dan makanan pemicu lainnya yang menyebabkan mengkonsumsi terlalu banyak karbohidrat.

Fase serta Contoh Menu pada Diet Atkins​

Dalam pelaksanaannya diet atkins memiliki 4 fase , yaitu : (1)

  1. Fase 1 (Induction)
    Membatasi konsumsi karbohidrat hanya 20 gram per hari selama dua minggu. Dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan tinggi protein, serta sayuran rendah karbohidrat seperti sayuran hijau. Pada fase ini biasanya berat badan mulai menurun.
  2. Fase 2 (Balancing)
    Mulai menambahkan karbohidrat sehat sedikit, terutama yang berasal dari sayur, buah-buahan, kacang-kacangan, kentang, gandum utuh, dan beras coklat. Fase ini harus terus dilakukan hingga sisa 4,5 kg dari berat badan yang diinginkan.
  3. Fase 3 (Fine-Tuning)
    Boleh menambah 10 gram karbohidrat dari sayuran yang mengandung zat tepung (pati), buah-buahan, dan gandum utuh. Dilakukan hingga sebulan setelah berat badan yang diinginkan tercapai.
  4. Fase 4 (Lifetime Maintenance)
    Setelah berat badan yang diinginkan tercapai, lakukan fase ini selama seumur hidup. Di fase ini Anda dapat mengonsumsi karbohidrat sehat sebanyak yang dapat ditoleransi tubuh tanpa menambah berat badan.

Risiko Yang Dapat Timbul Saat Menjalani Diet Atkins​

Pengurangan karbohidrat secara drastis pada fase awal dapat menyebabkan ketosis atau keadaaan Ketika tubuh tidak memiliki cukup gula (glukosa) untuk energi sehingga tubuh memecah lemak yang tersimpan dan menyebabkan menumpuknya keton dalam tubuh. Beberapa efek samping yang dirasakan yakni mual, sakit kepala, pusing, kelemahan, kelelahan sembelit serta diare. (1)

Perbandingan dengan Gizi Seimbang​

Berbeda dengan prinsip gizi seimbang yang dijalankan di Indonesia. Diet Atkins menerapkan prinsip mengkonsumsi tinggi lemak dan tinggi protein tetapi membatasi konsumsi karbohidrat (secara bertahap) sedangkan prinsip gizi seimbang menerapkan porsi karbohidrat sebesar 50 – 65%, protein 10 – 20%, serta lemak 20 – 30% dengan membatasi penggunaan gula, garam, minyak sesuai yang dianjurkan berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang yaitu 50 g (4 sendok makan) untuk gula, 2000 mg (1 sendok teh) untuk garam dan sebanyak 67 g (5 sendok makan) untuk minyak. (3) Diet ini tidak cocok untuk beberapa orang. Jika ingin menurunkan berat badan hindari melakukan diet yang ekstrim karena akan mengganggu metabolisme tubuh. Cara paling aman sejauh ini yang bisa dicoba adalah membatasi makanan manis dengan gula berlebih, mengurangi makanan junk food atau fast food, rutin berolahraga, kualitas tidur yang cukup, dan makan sesuai dengan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu, disarankan untuk konsultasi dengan dokter ataupun dietisien sebelum memulai jenis diet ini ya.

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Mayo Clinic (2017). Atkins Diet: What's behind the claims?
  2. Brouns, Fred (2018). Overweight and diabetes prevention: is a low-carbohydrate–high-fat diet recommendable?. European Journal of Nutrition
  3. Kementerian Kesehatan RI, Permenkes Republik Indonesia, No 41/2014, tentang Pedoman Gizi Seimbang. (Jakarta: Depkes RI 2014)
  4. Expert tips. Atkins Nutritionals Inc. https://www.atkins.com/choose-diet-plan?mcid=HOM. Diakses 18 Oktober 2021.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (64)

Hai, sobat ilmugizi! Ketika kita memilih makanan, kita tentu memperhatikan kandungan didalamnya dan bagaimana efeknya terhadap kesehatan. Gizi yang optimal menjadi salah satu tujuan penting untuk meningkatkan produktivitas kerja dan terlindung dari penyakit. Namun, tidak semua makanan mengandung zat gizi, terdapat zat antigizi yang mengakibatkan zat gizi tidak berperan secara efektif bagi tubuh kita. Tim Ilmugiziku akan memberikan penjelasannya kepada Sobat Ilmugiziku.

Apa itu zat antigizi?

Zat antigizi merupakan suatu senyawa yang terdapat dalam beberapa bahan pangan yang mampu menghambat penyerapan zat gizi dalam tubuh ketika dikonsumsi dan menurunkan nilai gizi pangan tersebut. Walaupun diawali dengan kata anti, namun senyawa ini bukanlah sejenis racun, melainkan senyawa lain yang mampu mempengaruhi daya serap zat gizi makro maupun mikro. Mekanisme penghambatan oleh zat antigizi beranekaragam, dapat melalui pengkelatan, aksi yang antagonis terhadap zat gizi, hingga gangguan proses metabolisme.

Jenis zat antigizi berdasarkan efek penghambatan terhadap metabolisme zat gizi dalam tubuh dibagi menjadi 3 yaitu zat antivitamin, zat antimineral, dan zat antiprotein. Yuk, ketahui penjelasan lebih lengkap tentang zat antigizi dibawah ini!

1. Avidin

Avidin merupakan senyawa antibiotin yang terdapat pada albumin atau putih telur mentah. Avidin mampu membentuk senyawa kompleks yang sulit dipisahkan oleh enzim pencernaan sehingga vitamin B7 tidak mampu diserap oleh tubuh secara optimal. Defisiensi zat B7 atau biotin memang sangat jarang terjadi. Namun, bila terlalu sering mengonsumsi telur mentah, dapat mengakibatkan gangguan metabolisme lemak dan karbohidrat, dermatitis, dan kulit kering.

2. Antipiridoksin

Selain itu, terdapat antipiridoksin yang merupakan senyawa yang mengganggu penyerapan dan ketersediaan vitamin B6. Biasanya, antipiridoksin terdapat pada golongan biji-bijian [1]. Kekurangan vitamin B6 atau piridoksin menyebabkan konvulsi (emosi tidak stabil), dermatitis, dan gangguan metabolisme asam amino. Pada lansia, kekurangan vitamin B6 sangat berisiko tinggi sehingga disarankan untuk melakukan pengolahan makanan secara benar.

3. Tiaminase

Tiaminase merupakan suatu enzim yang mampu merusak tiamin atau vitamin B1 sehingga menyebabkan defisiensi vitamin B1. Tiaminase dibagi menjadi 2 yaitu tiaminase 1 dan tiamin antagonis. Tiaminase 1 terdapat paling banyak pada ikan mentah seperti ikan gurame, kerang, dan golongan krustasea. Sedangkan tiamin antagonis berupa polifenol, flavonoid, dan haemin. Polifenol terdapat pada teh, kopi, kubis ungu, buah bit, sereal, dan biji-bijian. Flavonoid sebagian besar terdapat pada buah dan sayur [2]. Perbedaan antara tiaminase dan tiamin antagonis adalah pada kestabilan pada suhu. Tiaminase lebih tidak stabil terhadap suhu, sedangkan tiamin antagonis lebih stabil terhadap suhu. Beri-beri merupakan gangguan yang paling umum akibat kekurangan vitamin B1. Selain itu, defisiensi vitamin B1 ditandai dengan gangguan saraf perifer (Wernicke-Korsakoff syndrome).

4. Niasinogen

Niasinogen adalah senyawa yang menyebabkan pembentukan senyawa kompleks untuk mengganggu ketersediaan niasin. Niasinogen dapat ditemukan pada jagung [1]. Apabila terjadi kekurangan vitamin B3 (niasin) menyebabkan pelagra, diare, gangguan mental dan demensia [3].

FOTO ARTIKEL WEBSITE (63)
5. Tanin

Tanin merupakan suatu senyawa polifenol yang mampu menurunkan daya cerna protein]. Tanin mampu membentuk senyawa kompleks dengan protein yang bersifat tidak larut [7]. Zat tanin biasanya terdapat pada teh dan kopi yang mampu mengikat zat besi non-heme [6] sehingga menurunkan efisiensi dan bioavailabilitasnya pada tubuh. Zat tanin dapat dihancurkan dengan fermentasi, pemanasan seperti merebus, dan merendam [4, 5]. Namun, metode penghilangan tanin tersebut juga bergantung pada jenis bahan makanan dan kandungan didalamnya ya, Sobat Gizi!

Apakah zat antivitamin dapat dihilangkan?

Berikut tips menghilangkan atau mengurangi zat antivitamin pada makanan:

  1. Kandungan zat antivitamin dapat dihilangkan dengan proses pemanasan seperti perebusan dan pengukusan.
  2. Zat antipiridoksin dapat dihilangkan dengan metode germinasi atau perkecambahan, merendam, dan melakukan fermentasi pada biji-bijian.
  3. Zat antivitamin lainnya, yaitu avidin dapat dihilangkan dengan metode pemanasan menggunakan tekanan tinggi. Menurut uji yang dilakukan oleh Singh dan Ramaswamy (2014), dengan inaktivasi menggunakan tekanan 700 MPa mampu menginaktivasi avidin selama 5-10 menit [2].

    Zat antigizi memang terdapat pada bahan pangan dan mampu memberikan dampak bagi kesehatan. Namun, tidak perlu khawatir. Jika diolah dengan metode yang benar dapat mengurangi bahkan menghilangkan bahaya dan efeknya.
Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Rahmi Y, Kusuma, TS. Zat Anti Gizi. 2016.
  2. WHO. Thiamine deficiency and its prevention and control in major emergencies. 1999; 1-62.
  3. Hardinsyah dkk. Ilmu Gizi Teori & Aplikasi. 2014. Jakarta: EGC.
  4. Delimont, NM et al. 2017. The impact of tannin consumption on iron bioavailability and status: a narrative review. Curr Dev Nutr 1(2): 1-12.
  5. Arnarson, A. How to reduce antinutrients in food. 2017. Diambil dari: https://www.healthline.com/nutrition/how-to-reduce-antinutrients
  6. Bintoro, I. Hambat penyerapan gizi, 5 zat antigizi ini mungkin sering kamu makan. 2020. Diambil dari: https://www.idntimes.com/health/fitness/ilham-bintoro/jenis-zat-antigizi-yang-bisa-menghambat-penyerapan-gizi-c1c2/5
  7. Marina, Indriasari R, dan Jafar N. 2015. KONSUMSI TANIN DAN FITAT SEBAGAI DETERMINAN PENYEBAB ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 10 MAKASSAR. Jurnal MKMI: 50-58.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (70)

Prevalensi permasalahan obesitas pada remaja terus mengalami peningkatan. Bagaimana mencegah obesitas pada remaja ? Yuk mari sama-sama kita simak pada artkel berikut.

Usia remaja (10-18 Tahun) merupakan periode rentan gizi karena berbagai sebab, yaitu pertama remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi karena peningkatan pertumbuhan fisik. Kedua adanya perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan. Ketiga remaja mempunyai kebutuhan zat gizi khusus contohnya kebutuhan atlet. Kebiasaan makan yang berubah salah satunya terjadi karena adanya globalisasi secara luas. Remaja merupakan salah satu kelompok sasaran yang berisiko mengalami gizi lebih. Gizi lebih pada remaja ditandai dengan berat badan yang relatif berlebihan bila dibandingkan dengan usia atau tinggi badan remaja sebaya, sebagai akibat terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak tubuh.

Obesitas pada anak usia 4-5 tahun mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang anak, terutama aspek psikososial. Selain itu obesitas pada anak berpotensi untuk mengalami berbagai penyebab kesakitan dan kematian menjelang dewasa. Dampak dari obesitas juga berpotensi mengalami diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, kanker, ginjal, dan lain- lain.

Masalah obesitas pada remaja akan berdampak pada menurunnya kesehatan dan produkifitas. Prevalensi obesitas menurut Riskesdas tahun 2013 mengungkapkan bahwa kegemukan pada usia remaja berumur 16-18 tahun mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebesar 1,4% menjadi 7,3% pada tahun 2013. Hal ini karena masa remaja merupakan masa tumbuh kembang yang sangat cepat untuk masuk dalam periode perkembangan selanjutnya.

Obesitas pada usia dewasa membawa dampak pada kesehatan, dimana kenaikan berat badan dan obesitas menjadi salah satu faktor risiko untuk meningkatkan kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2, kanker dan beberapa penyakit kardiovakular lainnya, bahkan bisa menyebabkan kematian diusia muda.

Faktor penyebab obesitas pada remaja bersifat multifaktorial. Peningkatan konsumsi makanan cepat saji (fast food), rendahnya aktivitas fisik, faktor genetik, pengaruh iklan, faktor psikologi, status sosial ekonomi, program diet, usia dan jenis kelamin merupakan faktor-faktor yang berkontribusi pada perubahan keseimbangan energi dan berujung pada kejadian obesitas.

Tipe obesitas berdasarkan bentuk tubuh. Obesitas tipe buah apel (Apple Shape) Tipe seperti ini biasanya terdapat pada pria. Dimana lemak tertumpuk disekitar perut. Risiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan buah Pear (Gynoid). Obesitas tipe buah Pear (Gynoid) Tipe ini cenderung dimiliki wanita, lemak yang ada disimpan disekitar pinggul dan bokong. Risiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil. Obesitas tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah) ciri dari tipe ini adalah “besar diseluruh bagian tubuh”. Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik. Agar hal ini tidak terjadi pada diri kita maka cegah dengan MAGER, berikut ini adalah upaya untuk mencegah terjadinya obesitas pada remaja yaitu :

1. MAkan makanan bergizi seimbang sesuai dengan isi piringku

FOTO ARTIKEL WEBSITE (71)
a. Makanan Pokok (Sumber Karbohidrat) 2/3 dari ½ Piring

Makanan pokok adalah pangan yang mengandung karbohidrat yang sering dikonsumsi sejak lama di Indonesia. Contoh makanan pokok lokal yang beragam yaitu beras, singkong, jagung, ubi, talas, dan olahan lainnya (roti, mie dll). Isi piringku sekali makan 150 gr Nasi setara dengan 3 centong nasi, 3 buah sedang kentang (300 gr) dan ½ gelas mie kering (75 gr).

b. Lauk Pauk (Sumber Protein) 1/3 dari ½ Piring

Lauk pauk terdiri dari protein hewani yaitu daging (sapi, kambing), unggas (bebek, ayam), ikan, telur, susu dan olahan lainnya. Sedangkan untuk protein nabati yaitu tahu, tempe, kacang-kacangan (kacang hijau, kcang merah, kacang tanah dll). Sumber pangan protein hewani mempunyai asam amino yang lebih lengkap dan mudah diserap oleh tubuh. Kekurangannya, jumlah kolesterol dan lemaknya lebih tinggi serta harga relatif mahal. Sedangkan protein nabati mempunyai keunggulan dibanding hewani karena kandungan lemak tak jenuhnya lebih tinggi daripada bahan pangan hewani. Kandungan isoflavonnya, terutama pada kedelai menjadi daya tarik karena manfaatnya yang sangat banyak. Isi piringku sekali makan lauk hewani 75 gr ikan kembung setara dengan 2 potong sedang ayam tanpa kulit (80 gr), 1 butir telur ayam ukuran besar (55 gr) dan 2 potong daging sapi sedang (70 gr). Lauk nabati 100 gr tahu setara dengan 2 potong sedang tempe (50 gr).

c. Buah-buahan (Sumber Vitamin dan Mineral) 1/3 dari ½ Piring

Buah-buahan merupakan sumber vitamin A, vitamin B, vitamin B1, vitamin B6, vitamin C, mineral dan serat pangan. Sebagian vitamin, mineral yang terkandung dalam buah-buahan berperan sebagai antioksidan. Contoh buah-buahan seperti pisang, melon, semangka, pepaya, jeruk, mangga, apel dll. Manfaat buah untuk tubuh kita yaitu sumber vitamin, sumber air dan gizi, sumber antioxsidan. Isi piringku sekali makan buah 150 gr pepaya setara dengan 2 potong sedang, 2 buah jeruk sedang (110 gr), 1 buah kecil pisang ambon (50 gr).

d. Sayur-sayuran (Sumber Vitamin dan Mineral) 2/3 dari ½ Piring

Sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral terutama karoten, Vitamin A, vitamin C, zat besi dan posfor. Beberapa sayuran dapat dikonsumsi mentah tanpa dimasak terlebih dahulu, yang lainnya dapat dimasak dengan cara direbus, dikukus, dan ditumis. Manfaat yang terkandung dalam sayuran diantaranya adalah memperlancar buang air besar, mempertahankan berat badan seimbang, sumber energi tubuh, membersihkan racun dalam tubuh (Detoksifikasi), membuat kulit sehat, dll. Isi piringku sekali makan sayuran 150 gr setara dengan 1 mangkok sedang.

2. GERak melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang diakibatkan kerja otot rangka dan meningkatkan pengeluaran tenaga atau energi. Dapat dilakukan dirumah, ditempat kerja, ditempat umum dll. Jenis aktivitas fisik ringan seperti, jalan santai, mencuci piring, memasak, menyapu, bermain musik, membaca, menulis, menyetir. Adapula aktivitas fisik sedang seperti berjalan cepat, memotong rumput dengan mesin, berkebun, menanam pohon, memncuci mobil bisa kita lakukan minimal 30 menit setiap hari.

Editor : Aldera, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Purwo Setiyo Nugroho, S. (2020). Analisis Risiko Kegemukan pada Remaja dan Dewasa Muda. Jurnal Dunia Kesmas, 538.
  2. (2015). Obesitas Diunduh dari : http://id.wikipedia.org/wiki/obesitas. al, I. e. (2021). Obesitas Pada Balita. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 243.
  3. Weni Kurdianti, e. a. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 179.
  4. Debby Endayani, e. (2020). Determinan Status Gizi Obesitas Pada Orang Dewasa di Perkotaan : Tinjauan Sistematis. ARKESMAS, 2.
  5. Christine Hendra, e. a. (2016). FAKTOR-FAKTOR RISIKO TERHADAP OBESITAS PADA REMAJA DI KOTA BITUNG. Jurnal e-Biomedik (eBm), 2.
  6. https://kesmas.kemkes.go.id/assets/uploads/contents/others/LEAFLET- ISI-PIRINGKU-ilovepdf-compressed_101.pdf

FOTO ARTIKEL WEBSITE (72)

Sudah dua tahun masyarakat dihadapkan dengan situasi yang kita ketahui banyak merubah perilaku dan gaya hidup individu di seluruh dunia. Pandemi Covid-19 mengakibatkan perubahan drastis pada kehidupan masyarakat sehari-hari yang dalam beberapa kasus berdampak negatif tidak terkecuali gangguan pada perilaku makan dikarenakan terjadi perubahan kebijakan sehingga mengharuskan masyarakat untuk stay at home dan membatasi kegiatan di luar rumah. Salah satu gangguan perilaku makan yang terjadi selama pandemi ialah perilaku makan yang kita kenal dengan istilah binge eating

Binge eating adalah suatu perilaku makan yang serius dimana seseorang akan makan berlebihan dalam porsi yang banyak dan tidak terkendali dalam waktu singkat. Perilaku makan ini dapat mempengaruhi siapa saja tanpa melihat umur, jenis kelamin, etnis, dll. The National Eating Disorder Association mengemukakan bahwa terdapat dua kriteria perilaku binge eating. Pertama, perilaku makan dengan jumlah yang banyak dari porsi yang seharusnya dan yang kedua perilaku makan diluar kendali dan tidak bisa berhenti untuk makan yang kemudian merasa bersalah dan malu setelahnya.

FOTO ARTIKEL WEBSITE (73)

Hingga saat ini, penyebab terjadinya binge eating belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor resiko yang diduga dapat meningkatkan seseorang mengalami gangguan makan diantaranya genetik, stress, depresi dan trauma emosional. Beberapa penelitian juga memperkirakan bahwa dampak Covid-19 dapat menyebabkan beberapa individu mengalami Binge Eating. Terdapat beberapa alasan mengapa pandemi Covid-19 ini menyebabkan gangguan perilaku makan diantaranya karena ketakutan dan kecemasan akan terpapar virus, kesepian, kurangnya dukungan sosial, gangguan rutinitas dan masalah pada pekerjaan dan keuangan. Selain itu kurangnya surplus pangan yang tersedia menimbulkan ketakutan dan mendorong seseorang untuk beralih ke pola makan yang tidak teratur karena ketidakpastian dari situasi pandemi ini.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (EnricSanches., et al 2021) pada populasi di Spanyol tentang“Leading Factors for Weight Gain during COVID-19 Lockdown in a Spanish Population: A Cross Sectional Study” ditemukan sebanyak 44.5% orang dewasa mengalami kenaikan berat (obesitas) dengan alasan mereka mengatakan selama pandemic mereka menjadi lebih lapar dan makan secara terus menerus. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Zeigler Zachary., et al 2021) tentang “Self-quarantine and weight gain related risk factors during the COVID-19 pandemic”, sebanyak 73% responden mengatakan bahwa nafsu makannya meningkat karena merasa menginginkan makanan tertentu, dan karena mereka merasa bosan, stress karena pandemi yang tak kunjung usai dan lebih sering ngemil setelah makan malam. Mempertimbangkan faktor-faktor seperti kenaikan berat badan hingga obesitas akibat dari gangguan perilaku makan ini yang berpengaruh secara psikologis, tentulah kita membutuhkan cara untuk mengubah perilaku makan yang salah tersebut.

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN UNTUK MENGATASI BINGE EATING SELAMA PANDEMI?

FOTO ARTIKEL WEBSITE (71)

Untuk mengatasi masalah binge eating ini penting untuk mengetahui apa yang mendasari binge eating yang dialami, entah itu karena stress, depresi, dan lain sebagainya karena dengan mengetahui dan berfokus pada faktor yang menyebabkan seseorang mengalami binge eating akan mempermudah seseorang untuk mengontrol diri dan mengubah kebiasaan makan tersebut. Oleh karena itu ada beberapa cara untuk mengatasi hal tersebut.

Langkah pertama dengan meminta bantuan kepada orang terdekat seperti keluarga, teman, atau meminta bantuan pelayanan kepada profesional. Kedua, selain meminta bantuan professional perlu adanya kontrol dari diri sendiri karena berobat pada ahlinya tanpa ada kemauan dari diri sendiri untuk berubah juga akan sia-sia. Ketiga, melakukan manajemen penurunan berat badan juga akan membantu untuk mengatasi masalah kenaikan berat badan yang terjadi akibat perilaku makan yang salah tersebut seperti makan makanan dengan gizi seimbang, kurangi makan makanan yang berlemak, konsumsi makanan berserat tinggi, mengurangi tidur yang berlebihan yaitu dengan meningkatkan aktivitas fisik yang bisa dilakukan dirumah seperti berolahraga, menyapu, mencuci dan lain sebagainya. Mengoptimalkan asupan cairan ditubuh kita dengan tidak membiarkan tubuh kita mengalami dehidrasi yaitu dengan mengonsumsi air putih minimal 2 liter dalam sehari serta yang terpenting ialah mengatur manajemen stress dengan baik

Editor : Aldera, S.Tr Gz

Refrensi

  1. Chew Han Shi Jocelyn & Lopez Violeta. 2021. Global Impact of COVID-19 on Weight and Weight-Related Behaviors in the Adult Population: A Scoping Review. International Journal of Environmental Research and Public Health. 18, 1876. 1-27 (Diakses 15-01-2022).
  2. Sanches Enric et al. 2021. Leading Factors for Weight Gain during COVID-19 Lockdown in a Spanish Population: A Cross-Sectional Study. Nutrient MDPI Journal. 13, 894. 1-12) (Diakses: 17-01- 2022).
  3. Zazhary Zeigler et al. 2020. Self-quarantine and weight gain related risk factors during the COVID-19 pandemic. ELVEISER. 14. 210- 216 (Diakses 10-01-2022).