Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan energi kronis, biasanya ditandai dengan tubuh pendek menurut usianya. (1,2) Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022. Namun, angka tersebut masih cukup jauh dari target pemerintah yang menekan angka stunting hingga 14% di tahun 2024. (5) Salah satu faktor penyebabnya yaitu pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang tidak tepat, baik dari segi waktu, frekuensi, dan jenis makanan. (7) Pemberian MP ASI menggunakan protein hewani menjadi langkah strategis mencegah stunting karena asam amino yang mudah dicerna membantu pembentukan matriks tulang secara cepat. (6)
Yuk, simak satu persatu penjelasan berikut!
Kapan Waktu yang Tepat Memberikan MP ASI?
MP ASI harus diberikan pada bayi tepat pada usia 6 bulan, kemudian dilanjutkan hingga usia 2 tahun. (7) Pada rentang usia tersebut, pemberian ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan energi bayi untuk proses tumbuh kembangnya.
Berapa Frekuensi dan Porsi Penyajian MP ASI?
Slogan “Ingat MP ASI, Ingat 6-9-12” tentu tidak asing bukan? Jadi, perhatikan tabel di bawah ini, ya! (2)
Ikan Lokal Apa yang Memiliki Kandungan Gizi Seperti Salmon?
Mengacu pada penjelasan sebelumnya, protein hewani lebih diutamakan dalam pembuatan menu MP ASI, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi. (6) Namun, masih banyak pemikiran bahwa tahta tertinggi ikan bergizi adalah salmon yang harganya cukup mahal. Pemikiran tersebut memang benar, dalam 100 gram ikan salmon terdapat 208 kkal energi, 20 gram protein, 13 gram lemak, 363 mg kalium, dan kaya akan
vitamin B12. (4) Namun, ada loh, ikan lokal yang murah, mudah didapat, dan memiliki kandungan gizi setara salmon, seperti: (3,4)
Ikan kembung
Ikan ini memiliki kandungan protein lebih tinggi, yaitu 22 gram/100 gram dan omega-3 sebesar 10% dari protein.
Ikan tuna
Tuna memiliki kandungan vitamin B kompleks, sumber kalium dan selenium.
Ikan tenggiri
Tenggiri mengandung vitamin B12 dan selenium sebesar 3,5% dalam 100 gram.
Ikan tongkol
Ikan ini dijadikan sebagai sumber protein, vitamin C, A, B3, kalsium, zat besi, omega-3.
Ikan bandeng
Omega-3 yang terkandung dalam ikan ini lebih besar, yaitu 14,6% dibandingkan dengan salmon yang hanya 2,6%.
Ikan Mujair
Mujair mengandung selenium yang berperan sebagai antioksidan.
Ikan lele
Terdapat 220 mg omega-3 yang terkandung untuk perkembangan otak anak.
Ikan patin
Ikan dengan daging putih bertekstur lembut ini mengandung omega-3 yang cukup tinggi dibagian perutnya.
Ikan sarden
Protein yang terdapat dalam ikan sarden segar hanya selisih 0,1 gram lebih sedikit dari salmon.
Ikan teri
Teri adalah ikan lokal yang kaya akan kalsium, magnesium, fosfor, omega-3, dan protein.
Jadi, bagaimana? Semoga penjelasan dan referensi di atas dapat membantu kamu, ya!
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017. Jakarta; 2018.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Stunting. Jakarta; 2018.
Kusmiyati., Rasmi, D.A.C., Sedijani, P., & Sativa D.Y. Ayo Penuhi Zat Gizi Protein dengan Konsumsi Ikan. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA. 2023;6(4):1348-1352.
Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2019. Jakarta: 2019.
Tarmizi, S.N. Prevalensi Stunting di Indonesia Turun ke 21,6% dari 24,4% [Internet]. sehatNegeriku. 2023 [cited 2024 Feb 3]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230125/3142280/prevalensi-stunting di-indonesia-turun-ke-216-dari-244/
Usrotussachiyah, U. Konsumsi Protein Hewani Sebagai Bentuk Pencegahan dan Penanganan Stunting pada Anak. Nusantara Hasana Journal. 2022;2(3):107-112.
Wandini, R., Rilyani., & Resti, E. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Kebidanan Malahayati. 2021;7(2):274–279.
Pada peringatan Hari Gizi Nasional ke-64 tahun 2024, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan tema “MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting” dengan slogan “MP-ASI Berkualitas untuk Generasi Emas”. Pemilihan tema ini sangat relevan dengan masalah serius stunting yang masih dihadapi Indonesia saat ini.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan atau gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan keadaan tubuh anak yang lebih pendek dibawah standar normal. (1) Stunting masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 21,6% berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, walaupun terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 24,4% tahun 2021, namun masih perlu upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. (2) Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan pentingnya memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) kaya protein hewani sebagai strategi utama dalam mencegah stunting pada anak-anak.
Kenapa harus protein hewani?
Karena protein hewani adalah salah satu zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan struktur tubuh (otot, kulit, dan tulang). Protein ini dapat membantu menggantikan jaringan yang rusak, sehingga anak yang mengonsumsi protein hewani yang cukup dapat terhindar dari stunting. Hal tersebut karena protein hewani mengandung asam amino essensial yang dapat mensistesis hormon pertumbuhan sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan balita dan menghindarkan balita agar tidak mengalami stunting. Protein hewani erat hubungannya dengan pertumbuhan. Hal ini menyebabkan anak yang kurang asupan protein akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat daripada anak dengan jumlah asupan protein yang cukup. (1)
Lalu yang sedang ramai dibahas saat ini adalah debat capres dengan program “susu gratis untuk anak sekolah”. Apakah program ini bisa menjadi solusi stunting?
Stunting adalah kondisi terjadinya gangguan gizi kronik yang berlangsung dalam rentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak sejak dalam kandungan hingga berusia dua tahun, yang ditandai dengan panjang badan atau tinggi badan tidak sesuai dengan umurnya. Stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah tidak terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD), gagalnya pemberian air
susu ibu (ASI) eksklusif, proses penyapihan dini, serta pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak tepat kuantitas maupun kualitasnya. (3,4) Masa 1000 HPK anak adalah waktu paling kritis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Masa 1000 HPK terdiri atas 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan. Pola makan gizi seimbang harus diterapkan mulai dari masa kehamilan, dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). (5)
Jadi untuk mencegah stunting harus dilakukan sejak selama masa kehamilan dan lebih baiknya lagi dicegah sejak masa remaja. Dimulai dari remaja putri harus meminum tablet tambah darah untuk mencegah anemia defisiensi besi, tidak menikah dini, edukasi terkait gizi, kesehatan reproduksi, dan parenting pada calon pengantin sebelum menikah, hingga memastikan ibu hamil mengonsumsi makanan bergizi seimbang saat hamil dan kontrol rutin kehamilan. Saat bayi lahir sebaiknya lakukan IMD dan berupaya agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI
(MP-ASI) yang tentunya kaya protein hewani. (5)
Susu juga kaya protein hewani, jadi apakah susu menjadi solusi stunting?
Belum tentu. Paradigma empat sehat lima sempurna sudah tidak lagi relevan dan kini diubah menjadi pedoman gizi seimbang. Dengan demikian, susu bukan faktor penyempurna gizi, apalagi menjadi kebutuhan primer di masa pertumbuhan. Menu gizi seimbang dengan tinggi protein hewani tidak hanya berasal dari susu, bisa juga berasal dari telur, ikan, ayam, dan daging. Kita juga tidak bisa memukul rata semua anak diberi susu gratis karena ada juga anak yang intoleransi laktosa. Jika dipaksa diberi susu maka bisa mengakibatkan gangguan pencernaan. Kalau anaknya overweight atau bahkan obese, pemberian susu justru malah bisa menambah kasus obesitas karena susu cenderung mengandung gula yang tinggi.
Dengan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa masalah stunting itu masalah yang sangat kompleks. Sehingga penting untuk memahami akar persoalan supaya solusinya bisa tepat sasaran.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Sholikhah, Asfiyatus dan Dewi, Ratna Kumala. Peranan Protein Hewani dalam Mencegah Stunting pada Anak Balita. Jurnal Riset Sains dan Teknologi Volume 6 No. 1 Maret 2022, 95-100
Kemenkes. Panduan Hari Gizi Nasional ke 64 Tahun 2024 [Internet]. 2024 [cited 2024 Feb 6]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/panduan-hari-gizi-nasional-ke-64-tahun-2024
Dirgantara, Adhyasta dan Setuningsih, Novianti. GKIA Prihatin Ada Program Bagi-bagi Susu Gratis Cegah Stunting, Sebut Gula di Susu UHT Tinggi [Internet]. Kompas.com. 2024 [cited 2024 Feb 7]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2023/12/31/18032021/gkia-prihatin-ada program-bagi-bagi-susu-gratis-cegah-stunting-sebut-gula-di
Fauziah, Nurul. Program Capres Makan Siang Gratis, Bisakah Mengatasi Stunting? [Internet]. Kompasiana. 2024 [cited 2024 Feb 7]. Available from:
https://www.kompasiana.com/nurulfauziah09/6568a13312d50f324d6c14d3/program-capres makan-siang-gratis-bisakah-mengatasi-stunting
Pujiastuti, Nanik Endah. Cegah Stunting dengan Makanan Bergizi Seimbang pada 1000 Hari Kehidupan Pertama Anak [Internet]. Kemenkes. 2022 [cited 2024 Feb 7]. Available from: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/149/cegah-stunting-dengan-makanan-bergizi seimbang-pada-1000-hari-kehidupan-pertama-anak
Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari tentang makanan dan hubungannya dengan kesehatan manusia. Ilmu gizi haruslah diimplementasikan oleh setiap ahli gizi baik oleh diri sendiri maupun kepada masyarakat. Oleh karenanya, sebagai bentuk implementasi program di bidang gizi, pangan, olahraga dan kesehatan untuk pencegahan dan penanganan salah satu permasalahan gizi, yaitu Penyakit Tidak Menular (PTM). Ilmugiziku melaksanakan kegiatan Dietetic-nutritioni Implementation & Charity Event atau disingkat DICE.
Dimulai dengan rangkaian perlombaan
Mimin Dice (maskot ilmugiziku) mengajak teman gizi dari mahasiswa, lulusan, serta ahli gizi untuk bersama-sama mensukseskan kegiatan implementasi program gizi ini. Dimulai dari beberapa perlombaan untuk target yang berbeda, nilai Demonstrate, Inovate, Colaborate, dan Elaborate (D.I.C.E) benar-benar diejawantahkan dalam semangat para peserta lomba DICE. Adapun beberapa perlombaan tersebut terdiri dari kegiatan sebagai berikut:
Virtual Nutri Run (VNR) yang dilaksanakan secara online bersama 80-an peserta dari seluruh indonesia, baik mahasiswa, ahil gizi serta orang umum dari kalangan pegiat lari. Kegiatan ini pun sukses mengangkat semangat peserta menempuh jarak 50KM dalam kurun waktu 1 (satu) bulan melalui akun strava.
Lomba Infografis ilmugiziku yang dapat dilaksanakan secara individu ataupun kelompok bertemakan ginjal. Hasil poster infografis yang dikirimkan pun bukan sekedar poster biasa, melainkan hasil mahakarya yang patut untuk diapresiasi dan sangat mudah dipahami oleh sasaran
Lomba Kreasi menu sebagai bentuk buah pikiran ahli gizi untuk penanganan masalah PTM. Menu yang dibuat inipun oleh finalis direkonstruksi dan direkam untuk dipresentasikan kepada dewan juri
Dari ketiga lomba tersebut, didapatkan pemenang dari masing-masing lomba, yaitu pada lomba Virtual Nutri Run kategori Male juara pertama sejauh 638.92 KM oleh Muchsin Saputra; juara kedua sejauh 526.94 KM oleh Rudy Supajan; dan juara ketiga sejauh 298.14 KM oleh Zainullah. Selanjutnya pemenan Virtual Nutri Run kategori Female juara pertama sejauh 361.16 KM oleh Tjie Mey Lie; juara kedua sejauh 276.28 KM oleh Sri Damayanti; dan juara ketiga sejauh 223.44 KM oleh Merry Ciskana. Kemudian pada lomba infografis dimenangkan oleh Durotul Baruroh, STr.Gz dan Olda Octavia, Amd.Gz sebagai juara pertama; lalu Nataya Zulfa Istiqomah sebagai juara kedua; dan Utari Woro Hanjaya, S.Gz sebagai juara ketiga. Terakhir pada lomba Kreasi menu dimenangkan juara pertama oleh Sofiyah Annisa (Ketua Tim), Aulia Najmi Humaira, dan Rezky Charisma Noor Rakhim dari Poltekkes Kemenkes Palangka Raya; juara kedua oleh Lulu Umaila (Ketua Tim), Salma Sekar Madani, Nanda Fadhilah Nurul Fajri dari Poltekkes Semarang; terakhir juara ketiga Irdina Izzati (Ketua Tim), Erika Intan Yuliana, dan Isna Nur Qurota’ayun dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ilmu yang dipaparkan saat Webinar
Setelah pelaksanaan lomba, kemudian rangkaian yang diikuti oleh hampir 400 peserta bertajuk Webinar SERIKU dilaksanakan dengan mengangkat tema “Aksi Bersama Gizi tuk Tangani PTM : Tatalaksana Gizi Penyakit Ginjal” yang setiap topiknya membahas masing-masing penyakit ginjal, seperti Gagal Ginjak Akut, Gagal Ginjal Kronik, dan Batu Ginjal. Kegiatan ini pun dapat terbilang sukses dan berjalan lancar, dilihat dari antusiasme peserta dalam mengikuti dan bertanya kepada masing-masing narasumber. Yang pertama narasumber yang membahas topik “Tatalaksana gizi bagi pasien Gagal Ginjal Akut” adalah Pak Yudhi Adrianto, S.Gz, SE, MKM, AIFO seorang tenaga gizi dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo; dilanjutkan pembahasan “Tatalaksana gizi bagi pasien Gagal Ginjal Kronik” oleh Ibu Yesi Herawati, S.GZ, M.Kes, RD seorang Dietisien di RSUP Dr. Hasan Sadikin; dan ditutup dengan materi ketiga “Tatalaksana gizi bagi pasien Batu Ginjal” oleh Ibu Diah Maunah, SGz, RD seorang Dietisien di RS Islam Jakarta Pondok Kopi. Kegiatan ini pun sukses dikarenakan sponsor kami, yaitu Nephrisol dari FIMA.
Charity sebagai bentuk kepedulian bersama
DICE ilmugiziku sesuai dengan namanya pun menggalang dana dan sponsor untuk disalurkan kepada panti sosial, yang mana kegiatan ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. Pelaksanaan charity disana dilaksanakan dengan pemberian dana secara langsung serta produk sponsor untuk anggota panti sosial berupa susu Entrasol.
Event yang baik harus menghasilkan output yang bermanfaat
Hasil dari event ini pun kemudian dibuat untuk menjadi luaran yang insyaAllah bermanfaat serta meningkatkan exposure dari para peserta lomba dan tentunya meningkatkan pengetahuan dan awareness masyarakat. Dimana luaran pertama dari kegiatan Virtual Nutri Run dibuatlah after movie yang dapat dinikmati oleh semua orang dengan mengakses sosial media ilmguziku. Dilanjutkan pula denga buku hasil karya lomba yang merangkum semua kegiatan rangkaian lomba serta hasil dari lomba tersebut untuk seluruh peserta, meskipun tidak lolos menjadi finalis maupun juara. Selain itu, soft launching dari Bunga Rampai Hari Nasional dan Kesehatan ilmugiziku yang merangkum satu tahun hari kesehatan dan hari nasional yang dikaitkan dengan gizi. Luaran terakhir yang dibuat adalah kajian pasca webinar yang akan dipublikasikan menjadi sebuat artikel ilmiah dari hasil materi narasumber.
Oleh karena pelaksanaan DICE ilmugiziku ini dilaksanakan dengan bantuan dari banyak pihak, Kami segenap tim ilmugiziku dan CV. Nutri Media Group mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan mengucapkan salam semangat untuk kita ke depannya. Semoga kerjasama kita tetap membuahkan manfaat bagi gizi di masa mendatang.
Lanjut usia (lansia) adalah setiap orang yang berusia 60 tahun atau lebih, yang secara fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya.(1) Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Pada masa ini seseorang akan mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial hingga tidak melakukan aktivitas sehari-hari lagi dan bagi kebanyakan orang masa tua tidak menyenangkan.
Definisi Lansia
Lansia adalah suatu keadaan yang terjadi didalam lingkungan kehidupan manusia. Menua merupakan proses sepanjang hidup yang tidak hanya bisa dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang akan melewati tiga tahap dalam kehidupan yaitu masa anak, dewasa dan juga tua.(2) Lansia adalah seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun dan tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.(3)
Bagaimana ciri-ciri Lansia?
Lansia mengalami periode kemunduran
Lansia dapat mengalami kemunduran dalam aspek fisik dan psikologis. Lansia yang memiliki motivasi rendah akan cenderung mengalami proses kemunduran fisik secara cepat juga. Sedangkan lansia yang memiliki motivasi tinggi, kemungkinan kemunduran fisiknya lambat terjadi.
Lansia memiliki status kelompok minoritas
Lansia sebagai kelompok minoritas bisa disebabkan karena kurangnya tenggang rasa pada orang lain sehingga sering mengakibatkan persepsi negatif dari masyarakat.
Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran pada lansia dimaksudkan jika lansia memiliki jabatan di masyarakat, akibat penurunan fungsi diharapkan lansia dapat merubah perannya di masyarakat atas kemauan sendiri.
Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk pada lansia seringkali mengakibatkan konsep diri yang buruk pada lansia.(4)
Ketahui, Pentingnya Pemberian Gizi pada Lansia!
Lansia termasuk kelompok rentan gizi, meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit. Oleh karena itu pemberian gizi pada lansia sangat penting karena hal-hal berikut:
Untuk mempertahankan gizi seimbang.
Untuk membiasakan makan yang cukup dan teratur.
Untuk menghindari kebiasaan pola makan yang buruk.
Untuk mempertahankan kesehatan dan menunda timbulnya penyakit degeneratif.(4)
Yuk! Kenali Faktor-faktor yang Mempengaruhi Asupan Gizi Lansia
Gizi seimbang pada lansia sangat penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Lansia terkadang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi lansia, diantaranya sebagai berikut:
Penyakit Penyerta
Gangguan kesehatan seperti penyakit saluran pencernaan, gangguan penyerapan makanan, infeksi, peningkatan metabolisme bisa menyebabkan penurunan nafsu makan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit penyerta pada lansia menjadi faktor yang berhubungan dengan pemenuhan gizi pada lansia.
Depresi
Depresi sebagai masalah psikologis yang banyak ditemui pada lansia. Beberapa hal menjadi pemicu timbulnya depresi pada orang yang berusia diatas 60 tahun, diantaranya perbedaan kondisi yang terjadi pada diri lansia serta perlakuan lingkungan terhadap lansia itu sendiri. Kondisi depresi menyebabkan penurunan motivasi untuk makan dan hal ini paling sering terjadi pada lansia perempuan.
Gangguan Gigi dan Mulut
Perubahan fisik pada lansia menyebabkan masalah pada status gizi lansia. Kondisi fisik yang dominan adalah adanya gangguan pada gigi dan penurunan saliva. Hal ini mempengaruhi lansia untuk memilah-milah makanan dan mengunyahnya.
Penggunaan Obat
Beberapa obat yang biasanya dikonsumsi lansia dengan masalah penyakit degeneratif bisa memberikan efek samping mual, pusing dan lemah. Kondisi ini yang memungkinkan lansia tidak memenuhi gizinya dengan baik.
Cita Rasa Makanan
Makanan yang disediakan dengan penampilan menarik menjadi faktor yang dominan untuk bisa meningkatkan nafsu makan pada lansia. Ketika cita rasa menarik maka memungkinkan lansia untuk mengkonsumsi makanan yang disediakan. (5)
Apa saja Zat Gizi yang Penting bagi Lansia dan Berapa Kebutuhannya?
Zat gizi makro maupun mikro sangat penting bagi kesehatan. Setiap jenjang usia kehidupan manusia memiliki kebutuhan gizinya masing-masing. Berikut merupakan zat gizi makro dan mikro beserta Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk lansia pria dan Wanita 65-80 tahun: (6)
Contoh Menu Makanan Lansia dalam Sehari
Menentukan menu makanan lansia memang bukan tugas mudah. Apalagi jika lansia memiliki penyakit bawaan. Anda mungkin perlu konsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau ahli gizi dalam merancang menu makanannya. Berikut merupakan contoh menu makanan lansia yang sehat dalam sehari: (7)
Perhatikan hal-hal ini saat Pemberian Gizi pada Lansia!
Gizi seimbang dapat menunjang kesehatan pada lansia. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal berikut saat pemberian gizi pada lansia:
Konsumsi makanan yang termasuk makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah buahan.
Batasi konsumsi lemak dan minyak.
Konsumsi makanan sumber zat besi. Zat besi merupakan salah satu unsur penting pembentukan sel darah merah.
Minumlah air bersih dan cukup jumlahnya.
Konsumsi makanan yang mengandung serat penting diberikan pada lansia untuk proses metabolisme.(4)
Perlu diketahui bahwa orang berusia lanjut lebih rentan untuk terkena penyakit karena imun tubuhnya cenderung menurun. Pada prinsipnya kebutuhan gizi pada lanjut usia mengikuti prinsip gizi seimbang. Konsumsi makanan yang cukup dan seimbang bermanfaat bagi lansia untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit degeneratif dan kekurangan gizi. Selain itu, pemenuhan gizi seimbang pada lansia membantu supaya sistem imunitas tetap terjaga.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Senjaya A.. (2016). Gizi dan Gigi Lansia. Jurnal Skala Husada: The Journal of Health, 13(1).
Mawaddah, N., & Wijayanto, A. (2020). Peningkatan Kemandirian Lansia Melalui Activity Daily Living Training dengan Pendekatan Komunikasi Terapeutik di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang Nurul. Hospital Majapahit, 12(1), 32–40
Noviyanti R & Dewi P., (2022). Teh Daun Jati Cina dan Daun Alpukat Kaya Manfaat bagi Kesehatan Lansia. Pekalongan: NEM
Djoar R. & Putu Martha. (2022). Geriatri 2. Aceh: Syiah Kuala University Press
Amran et al., (2012). Determinan Asupan Makanan Usia Lanjut. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6, No. (6)
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019
Maghfuroh et al., (2023). Asuhan Lansia (Makna, Identitas, Transisi dan Manajemen Kesehatan). Bandung: Kaizen Media Pubslishing
Lansia atau Lanjut usia yaitu siklus hidup manusia yang hampir dialami setiap orang pada usia 60 tahun keatas (1). Pada masa tua ini akan timbul berbagai risiko atau penyakit yang sebelumnya mungkin belum ada seperti malnutrisi, radang sendi, osteoporosis, penyakit parkinson, serta salah satunya demensia atau pikun. Demensia atau pikun ini sering dianggap biasa terjadi pada usia lanjut akan tetapi hal tersebut merupakan gangguan kesehatan yang bisa dicegah salah satunya melalui asupan gizi pada usia muda atau dewasa. Yuk simak artikel ini untuk mengetahui makanan apa saja untuk mengurangi risiko terjadinya pikun atau demensia di masa tua.
.
1. Definisi Demensia
Demensia ialah salah satu sindrom yang terjadi pada orang tua usia 60 tahun keatas dengan ditandai kemunduran ingatan, berfikir, perilaku hingga mengganggu kemampuan aktivitas sehari-hari (2). Penderita demensia di Indonesia sendiri sekitar 1,2 juta pada tahun 2016 dan akan meningkat menjadi 2 juta/tahun di tahun 2030 (3). Demensia sering dikenal sebagai pikunan yang biasa terjadi pada lansia. Kurangnya informasi pada masyarakat terkait demensia ini menyebabkan setiap individunya tidak memperhatikan kesehatan otak dengan konsumsi makanan sehat dan pola hidup yang teratur, akan tetapi tidak dapat dipungkiri demensia ini dapat terjadi karena proses alami saat bertambahnya usia. Faktor risiko dari demensia dari tahap awal hingga akhir yaitu seperti gaya hidup, faktor genetik, usia, lingkungan, dan tingkat pendidikan (2). Maka dari itu rantai risiko terjadinya demensia dapat dicegah dengan salah satunya merubah gaya hidup lebih sehat dan peduli akan apa yang dikonsumsi di masa kini.
2. Perubahan Pola Makan Pada Demensia
Demensia setiap tahunnya diperkirakan dapat terjadi setiap 3 detik dengan saat ini banyak tanda-tanda global mengungkapkan penambahan kasus demensia (4). Kasus ini berkaitan dengan terjadinya perubahan pola makan lansia yang menderita demensia, dimana nafsu makan akan berubah seiring berjalannya waktu karena penurunan kognititf seperti pasien lupa makan bahkan minum (5). Terjadinya malnutrisi pada lansia dengan demensia dapat terjadi, akibat pengurangan konsumsi protein dan lemak akibat fisiologis penuaan karena penurunan kemampuan mengunyah dan menelan makanan (6). Maka, penting dalam setiap proses penilaian untuk mengamati kemajuan dalam fungsi menelan, preferensi makanan, keterampilan fungsional, nafsu makanan bahkan keterlibatan pengasuhnya. Hal tersebut untuk mencegah terus menerus terjadinya penurunan
nafsu makan dan kognitif yang mempengaruhi kesehatan lansia pada awal hingga akhir fase demensia.
3. Makanan mencegah risiko demensia (singgung pola hidup yang sehat mampu memperkuat daya ingat dimasa tua)
Makanan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan individu mampu berdampak positif dalam kasus ini memperlambat, mencegah atau menunda proses terjadinya demensia. Diet MIND (Meditteranean Intervention for Neurodegenerative Delay) merupakan gabungan diet Meditteranian dan DASH, dimana melibatkan gabungan buah, sayuran, ikan, unggas, telur, biji-bijian, beri berian, minyak zaitun atau lemak sehat dan anggur yang semuanya terbukti mengurangi peradangan, mencegah kerusakan sel, dan memperlambat efek penuaan otak (7).
a) Makanan yang mampu mengurangi risiko demensia
Buah dan Sayuran Berwarna yaitu buah dan sayur tinggi antosianin dan karotenoid seprti wortel, ubi jalar, labu, paprika, tomat, pepaya, aprikot, sayuran hijau seperti bayam dan kangkung.
Beri-Berian yaitu sumber antioksidan dan flavonoid diketahui dapat mencegah kerusakan sel dan dapat menghentikan perkembangan kerusakan otak akibat radikal bebas seperti blueberry, blackberry, dan raspberry
Ikan yaitu khususnya ikan berlemak seperti tuna dan salmon, merupakan sumber asam lemak omega-3 yang sangat baik, yang berhubungan dengan kesehatan otak yang baik dan penurunan risiko penurunan kognitif.
Kacang-Kacangan, dan Biji-Bijian yaitu mengandung antioksidan dan asam lemak omega-3, serta zat gizi lain seperti vitamin E, vitamin B, kolin, magnesium, dan seng. Mampu meningkatkan kesehatan otak dan mengurangi penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia seperti seperti kenari, almond, kacang tanah, kedelai, lentil, biji rami, dan biji labu
Biji- Bijian Utuh yaitu utuh kaya akan serat, vitamin B, dan gizi lainnya serta dapat mengurangi peradangan di otak, mendukung daya ingat, dan menangkal demensia seperti quinoa, jelai, beras merah, dan oat (7).
b) Makanan yang harus dihindari
Makanan ini tidak harus sepenuhnya dihilangkan dari diet untuk menjaga kesehatan otak sebaliknya, mereka harus dikonsumsi dalam jumlah terbatas dan diganti atau dikombinasikan dengan alternatif yang lebih sehat jika memungkinkan (7).
Daging merah dengan lemak jahat
Makanan penutup yang manis atau minuman manis
Biji-bijian olahan
Makanan fast food dan olahan
Alkohol
Makanan yang sehat juga harus sinergis dengan kombinasi pola hidup sehat seperti olahraga ringan, menstimulasi pikiran dan ingatan seperti membaca buku atau koran, melakukan percakapan dengan keluarga atau orang lain. Hal tersebut mampu mengasah skill kognitif dan menjada suasana hati. Apabila terdapat penyakit penyerta diet dapat dilakukan dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi yang menangani.
Sari, C. W. M., Tarigan, D. P., & Rafiyah, I. (2022). Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Status Demensia pada Lansia Berdasarkan Kajian Data Sekunder di Posbindu Caringin. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 7(2).
Verwijs, M. H., van de Rest, O., van der Putten, G. J., de Groot, L. C. P. G. M., & Boesveldt, S. (2022). The effect of food odor exposure on appetite and nutritional intake of older adults with dementia. The journal of nutrition, health & aging, 26(2), 112-118.
Fostinelli, S., De Amicis, R., Leone, A., Giustizieri, V., Binetti, G., Bertoli, S., ... & Cappa, S. F. (2020). Eating behavior in aging and dementia: the need for a comprehensive assessment. Frontiers in nutrition, 7, 6044886
Perayaan Pekan Air Susu Ibu (ASI) Sedunia diadakan pada minggu pertama di bulan Agustus 2023, mulai dari tanggal 1 sampai 7 Agustus. Tahun ini Pekan ASI sedunia mengangkat tema nasional “Dukung Ibu Bekerja Terus Menyusui”, maksud dari tema tersebut adalah mendukung ibu untuk tetap menyususi walaupun sedang sibuk bekerja. Kegiatan Pekan ASI merupakan bentuk kampanye global untuk meningkatkan kesadaran ibu mengenai
pentingnya pemberian ASI untuk bayi. Hal ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) mengenai kehidupan yang sehat dan sejahtera, dimana kegiatan menyusui dapat meningkatkan kesehatan untuk kehidupan pertama bayi.
.
Jadi apa itu ASI ? Sejak umur berapakah bayi dapat diberikan ASI ?
Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber dengan komposisi seimbang untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. (1) ASI eksklusif dapat diberikan pada bayi mulai usia 0-6 bulan dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun pertama. (2) Jika hal tersebut diterapkan dengan baik, maka ASI dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat. Tidak hanya itu saja, pemberian ASI eksklusif dapat memberikan gizi terbaik bagi bayi serta dapat memperkuat ikatan ibu dan bayi. (3)
.
Lalu apa hubungannya peran ASI untuk sistem imun bayi ?
ASI memiliki zat gizi yang lengkap untuk pertumbuhan bayi, karena ada sitokin, immunoglobulin, dan enzim-enzim pencernaan. (4) ASI tidak hanya membawa gizi yang lengkap untuk si bayi tetapi juga gizi khusus untuk bakteri baik seperti, Bifidobacterium serta Lactobacillus. Nah, makanan untuk bakteri baik tersebut, yang merupakan salah satu komponen dalam ASI dapat disebut dengan Human Milk Oligosaccharides (HMO). HMO mewakili sekitar 20% dari total kandungan karbohidrat ASI yang merupakan komponen prebiotic penting, bagi terbentuknya saluran cerna yang sehat sehingga membantu meningkatkan sistem imun pada tubuh bayi. (5)
Lalu bagaimana mekanisme dari Human Milk Oligosaccharides (HMO) itu sendiri ?
Mekanisme Human Milk Oligosaccharides (HMO) ini adalah ketika bayi mulai diberi ASI, usus bayi mulai didominasi oleh bakteri baik, karena HMO merupakan makanan yang cocok untuk bakteri baik Bifidobacterium, dan diikuti oleh kelompok yang lain yaitu Bacteroides dan Enterobacteriaceae. (4) Penelitian berikutnya dilakukan oleh Triantis, menunjukkan bahwa HMO dapat mengikat reseptor permukaan sel yang dieksresikan pada sel epitel dan sel sistem kekebalan. (5) Hal ini kemudian akan membantu memperkuat fungsi sawar usus (gut barrier) anak, terutama dalam melawan patogen penyebab infeksi saluran cerna. (5) Akhirnya, komposisi mikrobiota saluran cerna yang baik dan seimbang akan membantu perkembangan sistem imun yang memadai. (5)
Selanjutnya, yuk kita bahas ! 7 manfaat ASI bagi kesehatan bayi apa aja ya kira – kira ?
ASI memiliki banyak manfaat yang berperan penting dalam kesehatan bayi. Berdasarkan data dari WHO, hampir 90% kematian balita terjadi di negara berkembang karena faktor ekonomi yang sulit, kondisi sanitasi yang buruk, dan akses ke air bersih yang kurang. (6) Hal ini menyebabkan lebih dari 40% kematian balita disebabkan karena diare dan infeksi saluran pernafasan akut yang sebenarnya dapat dicegah dengan ASI eksklusif. (6) WHO melaporkan
pemberian ASI secara eksklusif hingga usia enam bulan bisa mencegah kematian lebih dari 200 ribu bayi setiap tahun. (6) Nah, berikut ini merupakan beberapa manfaat ASI bagi kesehatan bayi:
Kebutuhan gizi bayi lebih optimal
Hal ini dibuktikan dari penelitian Adyani pada tahun 2019, hasilnya bayi yang diberi ASI Eksklusif dengan status gizi baik sebanyak 88,2%, sedangkan bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif dengan status gizi baik hanya sebanyak 14,3%. (8) Berdasarkan hasil penelitian dari Sampe dkk, pada tahun 2020 terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. Balita yang tidak diberikan ASI eksklusif berpeluang 61 kali lipat mengalami stunting dibandingkan balita yang diberi ASI eksklusif. (9). Selaras dengan penelitian lainnya yang menyatakan bahwa, stunting lebih banyak ditemukan pada anak yang tidak diberi ASI eksklusif dibandingkan anak yang diberi ASI eksklusif. (10) Sehingga ASI eksklusif dapat mengurai risiko terjadinya stunting.
Bayi beresiko rendah terkena pneumonia
Bayi yang diberikan ASI 16,7 kali lebih jarang menderita pneumonia (radang paru). (6) Hal tersebut sejalan dengan penelitian Susi Hartati dkk pada tahun 2011, mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia. Pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif mempunyai peluang mengalami pneumonia 4,47 kali dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif. (11)
Mengurangi resiko bayi terkena diare
Berdasarkan hasil penelitian dari Sirmawati dkk, disimpulkan bahwa ibu yang tidak memberikan susu formula lebih cenderung bayinya tidak mengalami diare, sedangkan ibu yang memberikan susu formula lebih cenderung bayinya mengalami diare. Bayi yang diberikan ASI 47% lebih jarang diare/ mencret dan 23,5% lebih jarang menderita diare yang fatal (menyebabkan kematian). (6)
Meningkatkan kecerdasan bayi
Bayi yang mendapatkan ASI memiliki kemampuan kognitif lebih tinggi, dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI. (6) Meta analisa terhadap 40 penelitian (Jain et al 2002-US) 68% menyimpulkan bahwa menyusui meningkatkan kepandaian. Sejalan dengan penelitian Richards et al (2002) di Inggris terhadap 1736 anak, hasilnya anak yang diberikan ASI menunjukkan pencapaian pendidikan yang lebih tinggi (hasil tidak tergantung pada latar belakang social ekonomi). (6)
Melindungi bayi dari penyakit kuning
ASI awal atau kolostrum yang berwarna kuning keemasan mengandung gizi dengan konsentrasi tinggi, memberikan perlindungan akan berbagai penyakit infeksi dan juga memiliki efek laksatif yang akan membantu bayi mengeluarkan tinja pertama (meconium) dari system percernaannya. (6) Sehingga efeknya juga akan membantu mengeluarkan bilirubin dari darah dan melindungi bayi dari kuning (jaundice). (6)
Dari penjelasan mengenai manfaat dan peran ASI diatas, dapat disimpulkan bahwa ASI adalah makanan bayi yang tidak tertandingi dengan apapun. (4) ASI sangat penting bagi kesehatan bayi, menjadikan ASI sangat berperan besar untuk kehidupan anak kedepannya baik dalam segi perkembangan otak maupun fisik bayi. ASI eksklusif 6 bulan harus dianggap sebagai makanan utama untuk bayi dalam 6 bulan pertama kehidupan, sehingga pemberian ASI harus dilakukan dan digalakkan agar bayi mendapatkan gizi yang optimal.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz
Referensi
Nisa, Zakia Hary., Merben, Okky. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Ketidakberhasilan Dalam Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 0-6 Bulan Di Klinik Pratama Spn Polda Metro Jaya. 2023. Vol. 7, No. 1, pp. 50–59,
WHO. Infant and Young Child Feeding. Geneva. 2010.
WHO : ASI adalah sumber gizi terbaik bagi bayi. Voa Indonesia.com 2 feb 2013. Diakses tanggal 17 Mei 2014.
Rahayu, Prof. Dr. Ir. Endang S, MS. Pentingnya ASI Terhadap Perkembangan Gut Microbiota. 2020.
Wahyuni, Andri Sri. Peran Human Milk Oligosaccharides (HMO) Terhadap Sistem Imun Pada Bayi.. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Makassar. 2022.
Falikhah, Nur. ASI dan Menyusui (Tinjauan Demografi Kependudukan). Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Antasari. Jurnal Ilmu Dakwah. 2014. Vol. 13. No. 26. pp. 31-46.
Guaraldi F. and Salvatori G. 2012. Effect of breast and formula feeding on gut microbiota shaping in newborns. Opinion Article. Cellular and Infection Microbiology. 16 October 2012 doi: 10.3389/fcimb.2012.00094
Adyani, Elviza Lismi. Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Status Gizi Bayi Pada Bayi Usia 4-6 Bulan. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan. 2019.
Sr. Anita Sampe, SJMJ, etal, Relationship between Exclusive Breastfeeding and Stunting in Toddlers, jiksh. 2020 Juni. Vol.11 No. 1.
Rohmatun, N. Hubungan tingkat pendidikan ibu dan pemberian asi eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Desa Sidowarno Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten. 2014.
Hartati, Susi. Analisis Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Anak Balita Di Rsud Pasar Rebojakarta. Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Ilmu Keperawatan. 2011.