21 Feb Strategi dalam Menjaga Fungsi Ginjal dengan Diet Rendah Protein dan Kalium
Ginjal merupakan filter tubuh yang selalu bekerja selama 24 jam tanpa henti. Tetapi, apabila ginjal sudah mulai mengalami kerusakan maka cara yang paling efektif adalah pengaturan asupan makanan dengan cara mengontrol asupan protein dan kalium yang masuk ke dalam tubuh agar tidak memperparah kerusakan ginjal. Mengapa asupan protein dan kalium harus dikontrol? Lalu, bagaimana strategi yang baik dalam menjaga fungsi ginjal?
Ginjal dan Fungsinya
Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang berperan penting dalam tubuh. Fungsi ginjal diantaranya:
- Mengatur konsentrasi garam dalam darah.1
- Mengatur keseimbangan asam dan basa.1
- Ekskresi garam berlebih.1
- Ekskresi sisa metabolisme tubuh seperti ureum, kreatinin dan asam urat. 2
Apabila fungsi ginjal terganggu dapat menyebabkan kemunduran dari kemampuan ginjal untuk membersihkan darah dari sisa metabolisme, kelainan struktur ginjal atau penurunan fungsi ginjal secara progresif dan irreversible. 3
Asupan Protein Harus Dibatasi, Mengapa?
Protein merupakan salah satu makronutrien yang paling penting dalam diet manusia. Kebutuhan protein harian untuk orang dewasa yang sehat sekitar 0,8 gr/kg. 4 Kebutuhan protein pada seseorang dengan CKD (Chronic Kidney Disease) sekitar 0,6-0,8 g/kg/hari untuk diet rendah protein dan 0,3-0,4 g/kg/hari untuk diet protein sangat rendah. 5 Asupan protein yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan penurunan fungsi ginjal, selain itu juga dapat mempercepat proses apoptosis pada podosit. 6 Asupan protein yang rendah memiliki banyak manfaat salah satunya adalah mengurangi beban kerja ginjal. 6 Selain itu juga dapat mengurangi albuminuria dan fibrosis ginjal. 7 Bagi seseorang dengan PGK (penyakit ginjal kronik) yang memiliki riwayat DM, maka asupan proteinnya sekitar 0,6-0,8 g/kgBB/hari, lalu untuk seseorang dengan PGK tanpa DM dan dialisis maka asupan proteinnya sekitar 0,55-0,6g/kgBB/hari. 8
Asupan Kalium Harus Dibatasi, Mengapa?
Kalium merupakan mineral penting untuk fungsi otot dan jantung tetapi apabila seseorang memiliki permasalahan pada fungsi ginjal yaitu berupa kerusakan ginjal maka sulit untuk membuang kalium yang berlebih. Kadar kalium yang tinggi dalam darah atau hiperkalemia. Hiperkalemia berkisar 5,1-6,0 mmol/L (hiperkalemia ringan), 6,1-7,0 mmol/L (hiperkalemia sedang) dan >7,0 mmol/L (hiperkalemia berat). 9 Untuk kadar kalium normal sekitar 3,5-5,1 mmol/L. 10
Lalu, strategi seperti apa yang dapat dilakukan?
Strategi dalam Menjaga Fungsi Ginjal
- Pilih protein yang memiliki nilai biologis tinggi seperti fillet ayam tanpa kulit, ikan,putih telur
- Pilih sayuran yang rendah kalium seperti tauge, buncis, atau labu siam. Dalam mengonsumsi sayuran lebih baik rendam sayuran tersebut ke dalam air hangat selama 2 jam lalu bilas sebelum dimasak karena dapat membantu melarutkan sebagian kadar kalium ke dalam air.
- Mengontrol porsi makan dengan moderasi
Menerapkan diet rendah protein dan kalium memang berat karena banyak sekali pantangannya tetapi dengan menerapkan diet ini sama saja dengan kita menyayangi ginjal kita, karena beban kerja ginjal tidak terlalu berat dan risiko untuk melakukan cuci darah dapat ditunda selama mungkin. Jangan lupa ya untuk selalu konsultasikan ke ahli gizi dalam melaksanakan diet ini karena setiap individu akan berbeda.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Triyono, H.G., K, D.N., Sugiarto., Yuli, T.I & Rofiyati, W. Kepatuhan Diet dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro: Korelasi Studi. Wiraraja Medika: Jurnal Kesehatan. 2020: 10(2), 78-83.
- Syuryani, N., Arman, E & Putri, G.E. Perbedaan Kadar Ureum Sebelum dan Sesudah Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory. 2021: 4(2).
- Yulianto, D., Notobroto, H.B & Widodo. “Analisis Ketahanan Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronis dengan Hemodialisis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya”. Departemen Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. 2017: 3(1).
- Hendriks, F.K., Smeets, J.S.J., van der Sande, F.M., Kooman, J.P & van Loon, L.J.C. Dietary Protein and Physical Activity Interventions to Support Muscle Maintenance in End-Stage Renal Disease Pateints on Hemodialysis. Nutrients. 2019: 11(12), 1-13.
- Jiang, Z., Zhang, X., Yang, L., Li, Z & Qin, W. Effect of Restricted Protein Diet Supplemented with Keto Analogues in Chronic Kidney Disease: A Systematic Review and Metaanalysis. Int Urol Nephrol. 2016: 48(3), 409-418.
- Ko, G.J & Kalantar-Zadeh, K. How Important is Dietary Management in Chronic Kidney Disease Progression? A Role for Low Protein Diets. Korean J Intern Med. 2021: 36(4), 795-806.
- Li, A., Lee, H.Y & Lin, Y.C. The Effect of Ketoanalogues on Chronic Kidney Disease Deterioration: A Meta-Analysis. Nutrients. 2019: 11, 957.
- Ikizler, T.A et al. KDOQI Clinical Practice Guideline for Nutrition in CKD: 2020 Update. Am. J. Kidney Dis. 2020: 76.
- Seja, M.E. Manajemen Diet Rendah Kalium pada Pasien dengan Diagnosa Medis Chronic Kidney Disease (CKD) E. C Hiperkalemia di Ruangan Matahari RSUD dr. TC. HILERS Maumere. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan (Jurrikes). 2024: 3(1), 264-270.
- Puluhulawa, N & Polapa, S. Analisis Praktik Keperawatan Evaluasi Penatalaksanaan Pemberian KCL Drips Pada Kondisi Fisiologis Pasien Dengan Hipokalemia di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Mahesa: Malahayati Health Student Journal. 2023: 3(7), 1899-1909.
No Comments