27 Feb Glow Up dari Dalam: Menelisik Fenomena “Social Picky Eater” dan Investasi Gizi Remaja
Ketika Glow Up Tidak Cukup dari Luar
Pernahkah kamu merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi saat jam pelajaran berlangsung, atau merasa skincare yang kamu gunakan tidak memberikan hasil maksimal? Pada usia remaja, keluhan-keluhan tersebut sering dianggap wajar dan
dikaitkan dengan kurang tidur, tekanan akademik, atau hormon yang belum stabil.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, banyak dari masalah ini berakar pada satu hal
mendasar, yaitu apa yang kita konsumsi setiap hari.
Di tengah gempuran tren makanan viral, mulai dari minuman manis berwarna-warni
hingga camilan tinggi lemak, pola makan sehat sering kali tergeser. Makanan tidak
lagi dinilai dari nilai gizinya, melainkan dari seberapa estetik tampilannya di media
sosial. Padahal, masa remaja merupakan fase krusial dalam siklus hidup manusia, di mana kebutuhan gizi meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan kebiasaan jangka panjang. Mengabaikan
aspek ini berarti menanam bibit masalah kesehatan yang dampaknya baru terasa
bertahun-tahun kemudian. (1)
Fenomena Social Picky Eater: Antara Selera, Identitas, dan Gengsi Sosial
Istilah picky eater kerap digunakan remaja untuk menggambarkan kebiasaan
memilih-milih makanan. Secara medis, picky eating merujuk pada keterbatasan
penerimaan jenis makanan tertentu akibat faktor sensorik seperti rasa, tekstur, atau aroma. Namun, realita di lapangan menunjukkan fenomena yang berbeda. Banyak
remaja menolak sayur, buah, atau makanan rumahan bukan karena tidak menyukai
rasanya, melainkan karena faktor sosial.
Fenomena ini dapat disebut sebagai social picky eater, yaitu perilaku pilih-pilih
makanan yang dipengaruhi oleh norma pergaulan, citra diri, dan ekspektasi
lingkungan. Dalam lingkup sekolah, membawa bekal sayur atau buah sering kali dianggap kurang keren dibandingkan membeli minuman kekinian. Media sosial memperkuat pola ini dengan menciptakan standar visual tertentu tentang “makanan anak muda”, sehingga pilihan makan menjadi bagian dari konstruksi identitas.
Tekanan teman sebaya (peer pressure) memainkan peran besar. Remaja berada
pada fase pencarian jati diri, di mana penerimaan sosial menjadi kebutuhan
psikologis yang kuat. Akibatnya, memilih makanan sehat saat berkumpul dapat
menimbulkan rasa canggung, takut dianggap berbeda, atau bahkan dicap terlalu kaku. Padahal, keputusan-keputusan kecil yang berulang ini secara perlahan membentuk pola makan yang tidak seimbang dan meningkatkan risiko malnutrisi.
(2,3)
Dampak Jangka Panjang yang Sering Diremehkan
Banyak remaja merasa tubuh mereka baik-baik saja meski jarang mengonsumsi
sayur atau buah. Inilah yang dikenal sebagai hidden hunger, kondisi di mana asupan energi tercukupi, tetapi tubuh kekurangan zat gizi mikro penting seperti zat besi, seng, kalsium, dan vitamin.
Di Indonesia, masalah ini tercermin jelas dalam data kesehatan. Riskesdas
menunjukkan bahwa lebih dari 90% remaja tidak memenuhi anjuran konsumsi sayur
dan buah. Di sisi lain, konsumsi gula, garam, dan lemak justru meningkat.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi perlahan muncul dalam bentuk
anemia pada remaja putri, penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi,
hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular di usia produktif. (1,4)
Anemia tidak hanya menyebabkan pucat dan mudah lelah, tetapi juga berdampak
pada prestasi akademik dan kesehatan mental. Remaja yang mengalami
kekurangan zat besi cenderung lebih sulit fokus, sehingga potensi diri tidak
berkembang secara optimal. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berlanjut hingga masa
kehamilan kelak dan memengaruhi kualitas generasi berikutnya.
Glow Up sebagai Investasi Biologis, Bukan Sekadar Estetika
Istilah glow up sering diasosiasikan dengan perubahan penampilan luar, seperti kulit lebih cerah, tubuh lebih ideal, atau gaya berpakaian yang meningkat. Namun, glow up yang sejati bersifat biologis dan berakar dari dalam tubuh. Nutrisi yang cukup dan seimbang berperan langsung dalam kesehatan kulit, rambut, metabolisme,
hingga kestabilan emosi.
Protein membantu regenerasi sel, zat besi mendukung distribusi oksigen ke seluruh
tubuh, sementara vitamin dan mineral berperan sebagai kofaktor dalam berbagai
proses metabolik. Tanpa fondasi gizi yang baik, upaya perawatan dari luar hanya
bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan.
Memulai Smart Eating Tanpa Kehilangan Gaya
Perubahan pola makan tidak harus bersifat ekstrem atau menghilangkan kesenangan. Kuncinya terletak pada kesadaran dan konsistensi. Beberapa langkah berikut dapat menjadi awal:
- Prinsip Isi Piringku Jadikan panduan Isi Piringku sebagai standar visual sehari-hari. Setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein. Prinsip ini sederhana namun efektif untuk memastikan keseimbangan gizi. (5)
- Literasi Gizi di Balik Kemasan Membaca label gizi bukan tanda berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap tubuh sendiri. Mengetahui kandungan gula, lemak, dan natrium membantu kita membuat keputusan yang lebih sadar.
- Mendefinisikan Ulang Kata “Keren” Normalisasi pilihan hidup sehat sebagai bagian dari identitas remaja yang cerdas dan berdaya. Membawa botol minum sendiri atau memilih buah sebagai camilan bukan hal memalukan, melainkan bentuk self-respect.
- Mengenali Sinyal Tubuh Belajar membedakan lapar fisik dengan lapar emosional atau lapar visual akibat paparan media. Kesadaran ini membantu mencegah pola makan impulsif. (6) Pola makan sehat bukan hanya urusan individu, melainkan fondasi kesehatan masyarakat. Remaja hari ini adalah orang dewasa produktif di masa depan. Dengan membangun kebiasaan makan yang lebih sadar sejak sekarang, kita sedang berinvestasi pada kualitas hidup jangka panjang, baik untuk diri sendiri maupun generasi selanjutnya.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2022.
- World Health Organization. Adolescent nutrition: a review of the situation in selected South- East Asian countries. Geneva: WHO; 2017.
- Story M, Neumark-Sztainer D, French S. Individual and environmental influences on adolescent eating behaviors. Journal of the American Dietetic Association. 2002;102(3):S40–S51.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Gizi Seimbang: Isi Piringku. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
- Black RE, Victora CG, Walker SP, et al. Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. The Lancet. 2013;382(9890):427–451.
- Alodokter. Memahami Pola Makan Sehat untuk Remaja Aktif [Internet]. 2024 [diakses 22 Januari 2026]. Tersedia pada: https://www.alodokter.com
No Comments