PCOS dan Endometriosis: Tanda-Tanda Dini Gangguan Hormonal Wanita yang Sering Diabaikan

PCOS dan Endometriosis: Tanda-Tanda Dini Gangguan Hormonal Wanita yang Sering Diabaikan

Bagikan

Selama menstruasi, nyeri dan rasa tidak nyaman dianggap bagian yang tidak dapat dihindarkan bagi banyak perempuan. Kita sering kali menoleransi rasa kram yang parah, siklus menstruasi yang tidak teratur serta mood swing yang berubah sangat cepat dan kita menganggap itu adalah hal yang normal. Namun, bagi jutaan perempuan, gejala ini bukan sekedar rasa nyeri yang biasa saat menstruasi. Gejala ini dapat menjadi suatu pertanda dari dua kondisi hormonal dan inflamasi yang paling umum dan sering terdiagnosis terlambat yaitu Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan Endometriosis. Kita sebagai perempuan sebaiknya tidak boleh mengabaikan tanda-tanda dari dua kondisi hormonal dan inflamasi tersebut karena dapat memberikan dampak serius pada kesuburan dan kualitas hidup. Sebenarnya apa sih PCOS dan Endometriosis itu? Tanda-tandanya seperti apa ya? Yuk, mari kita bahas.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

PCOS ini merupakan kelainan endokrin yang dapat mempengaruhi 5-10% perempuan disebabkan kelebihan produksi hormon androgen oleh ovarium yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan dapat mempengaruhi kondisi fisiologis lainnya. Faktor penyebab terjadinya PCOS yaitu ketidateraturan siklus menstruasi serta infertilitas, selain itu juga dapat disebabkan 43% karena riwayat keluarga, 34% karena obesitas dan 20% karena memiliki atau tidak memiliki masa menstruasi yang teratur hingga kurun waktu 15 tahun. (1) Faktor lingkungan juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya PCOS karena apabila kita terpapar oleh bahan kimia yang bernama endocrine disruptors dapat mengganggu keseimbangan hormonal tubuh. BPA yang sering ditemukan pada plastik atau produk konsumen lainnya dapat membuat kadar androgen dalam darah meningkat dan dapat terjadi gangguan terhadap fungsi reproduksi, (2) Penyebab yang lain seperti disfungsi jaringan adiposa, (3) diet, stres, gangguan ritme sirkadian, gangguan tidur (4) dan status sosial ekonomi. (5)

Tanda dan gejala PCOS diantaranya pembesaran ovarium dengan banyak kista kecil di dalamnya, siklus menstruasi yang tidak teratur, nyeri pinggang, acne, pertumbuhan rambut berlebih yang kasar dan gelap di area yang biasanya ditumbuh rambut pria, kerontokan rambut yang berlebih dan menyebabkan kebotakan sebagian atau seluruhnya, kondisi kulit yang menyebabkan bercak gelap, tebal dan bertekstur di lipatan tubuh, adanya daging tumbuh di daerah lipatan. (6)

Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi dimana adanya jaringan yang mirip dengan lapisan rahim (endometrium) yang tumbuh di luar dinding rahim. Jaringan endometrium ini dapat tumbuh di indung telur (ovarium), lapisan dalam perut (peritoneum), usus, vagina atau saluran kemih. Endometriosis dapat mempengaruhi kondisi fertilitas perempuan usia reproduktif. Kondisi ini apabila dalam kondisi yang ringan sering terjadi pada perempuan infertil dengan angka kejadian sebanyak 20-60%. Endometriosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara diantaranya anatomi panggul yang terdistorsi, adhesi, bekas luka saluran tuba, radang struktur panggul, perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh, perubahan dalam lingkungan hormonal ovum, gangguan implantasi kehamilan, dan kualitas ovum yang berubah. Faktor risiko endometriosis seperti faktor genetik, riwayat keluarga dengan endometriosis, dan faktor hormonal. (7) Gejala klinis yang paling sering terjadi pada perempuan dengan endometriosis yaitu nyeri dan infertilitas. (8) Nyeri ini dapat berupa nyeri panggul, dysmenorrhea, dyspareunia dan dyschezia. (8)(9)(10)(11)

Diagnosis Dini merupakan Kunci

Mendiagnosis PCOS atau endometriosis yang terlambat akan memiliki konsekuensi serius bagi perempuan dewasa awal karena ada beberapa risikonya seperti risiko infertilitas yang dimana akan menyerang ke kesuburan perempuan, meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi bahkan penyakit jantung karena resistensi insulin pada PCOS dan risiko penurunan kualitas hidup karena nyeri kronis serta inflamasi pada endometriosis.

Tatalaksana PCOS dan Endometriosis

  1. Tatalaksana PCOS
  2. Tatalaksana PCOS non-farmakologis dengan diet yang seimbang dengan mempertahankan indeks glikemik dari jumlah karbohidrat yang dikonsumsi,, olahraga. Tatalaksana farmakologis dengan diberikan obat kontrasepsi oral, metformin, klomifen dan spironolactone.
  3. Tatalaksana Endometriosis
  4. Tatalaksana endometriosis dengan dua cara dari segi farmakologis dan non farmakologis. Farmakologis dengan pemberian obat antinyeri, kontrasepsi oral, progestin, danazol, aromatase inhibitor. Tatalaksana non-farmakologis dengan pembedahan, histerektomi dan bilateral salfingo-ooforektomi dan presacral neurectomy atau LUNA (Laser Uterosacral Nerve Ablation). (12)

Perempuan usia dewasa awal memang diharuskan lebih kritis dan aktif terhadap gejala yang mereka alami selama menstruasi. Nyeri haid yang terkadang menyerang perempuan apabila normal maka dapat diredakan dengan pereda nyeri dosis standar. Tetapi, apabila pada perempuan dewasa awal merasakan tanda dan gejala yang sama dengan apa yang sudah dijelaskan di atas, maka sebaiknya jangan menunda untuk berkonsultasi langsung kepada dokter spesialis kandungan (obgyn).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Nurpratiwi, Y., Faturohman, C & Rizkitawati, F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Polycystic Ovarium Syndrom (PCOS) di RS Sentra Medika Cikarang. Jurnal Kesehatan Tambusai. 2025: 6(1), 1058-1068.
  2. Palisuri, A.S.P.L.S. Tingkat Pengetahuan Polycystic Ovary Syndrome dan Faktor Risiko pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Angkatan 2023. Skripsi. 2023.
  3. Bril, F., Ezeh, U., Amiri, M., Hatoum, S., Pace, L., Chen, Y.H et al. Adipose Tissue Dysfunction in Polycystic Ovary Syndrome. The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 2023: 109, 10-24.
  4. Norman, R.J., Davies, M.J., Lord, J & Moran, L.J. The Role of Lifestyle Modification in Polycystic Ovary Syndrome. Trends in Endocrinology and Metabolism. 2002: 13, 251-257.
  5. Hochberg, A., Badeghiesh, A., Baghlaf, H., Tseva, A.T., Dahan, M.H. The Effect of Socioeconomic Status on Adverse Obstretic and Perinatal Outcomes in Women with Polycystic Ovary Syndrome- An Evaluation of a Population Database. Internasional Journal of Gynaecology and Obstetrics. 2023.
  6. Malihah, E., Novitasari, D., Nasution, A & Apriyanti, M. Wanita 28 Tahun dengan Hyperprolactinemia dan Hubungan Terhadap Polycystic Ovary Syndrome. Manuju: Malahayati Nursing Journal. 2023: 5(12), 4397-4404.
  7. Nasution, N.A., Harahap, I., Diningsih, A., Sagala, N.S & Zalpa, A.A. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Tentang Penyakit Endometriosis pada Perempuan Usia Reproduktif Awal di SMK Negeri 4 Kota Padangsidimpuan Tahun 2023. Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA). 2023: 5(3).
  8. Hendarto, H. Endometriosis dari Aspek Teori sampai Penanganan Klinis. Surabaya: Airlangga University Press. 2025
  9. Wu, I.B., Tendean, H.M.M., Mewengkang, M.E. Gambaran Karakteristik Penderita Endometriosis di RSUP Prof. Dr R. D. Kandou Manado. J E-Clinic. 2017: 5(2), 279-85
  10. Luqyana, S.D & Rodiani. Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis. JIMKI. 2019: 7(2), 67-75
  11. Rahmawati, D.S. Gambaran Karakteristik dan Pencarian Pelayanan Kesehatan pada Penderita Endometriosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr. Soetomo Surabaya. Universitas Airlangga.2016
  12. Iskandar. Endometriosis. Averrous: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh. 2021: 7(2)
No Comments

Post A Comment