21 Jan Skrining Status Gizi Pasien Pasca Stroke: MUST, MST, atau MNA?
Pasien pasca stroke Pasien pasca stroke merupakan kelompok dengan risiko tinggi mengalami malnutrisi akibat gangguan menelan, penurunan mobilitas, perubahan status mental, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Kondisi malnutrisi pada fase pasca stroke sering kali tidak terdeteksi secara dini karena tidak selalu disertai penurunan berat badan yang nyata. Oleh karena itu, skrining status gizi menjadi langkah awal yang penting untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi dan menentukan kebutuhan asesmen serta intervensi gizi lanjutan.
Artikel ini membahas peran dan perbedaan tiga alat skrining status gizi yang umum digunakan pada pasien pasca stroke, yaitu Malnutrition Screening Tool (MST), Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), dan Mini Nutritional Assessment (MNA). Pembahasan mencakup tujuan penggunaan, cara pengukuran, nilai batas, serta interpretasi klinis masing-masing alat dalam konteks perawatan pasca stroke. Selain itu, artikel ini menekankan pentingnya menerjemahkan hasil skrining gizi menjadi edukasi yang aplikatif bagi keluarga pasien, khususnya terkait pengaturan makan, penyesuaian tekstur makanan, pemenuhan kebutuhan protein dan energi, serta pemahaman mengenai pantangan makan.
Pemilihan alat skrining status gizi perlu dilakukan secara kontekstual sesuai kondisi klinis dan fase perawatan pasien untuk mendukung pemulihan pasca stroke secara optimal dan berkelanjutan
Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang yang berdampak luas terhadap kualitas hidup pasien. Setelah fase akut terlewati, fokus pelayanan kesehatan sering kali diarahkan pada stabilisasi medis dan rehabilitasi fungsional. Namun demikian, aspek gizi masih belum selalu mendapat perhatian yang proporsional, meskipun berperan penting dalam mendukung proses pemulihan pasien pasca stroke¹,².
Pasien pasca stroke menghadapi berbagai kondisi yang dapat memengaruhi asupan zat gizi, antara lain gangguan menelan (disfagia), penurunan mobilitas, perubahan fungsi kognitif, serta ketergantungan pada orang lain dalam aktivitas makan. Kondisi tersebut menyebabkan asupan energi dan protein sering kali tidak mencukupi. Malnutrisi pada pasien pasca stroke tidak selalu tampak secara kasat mata. Berat badan dapat terlihat relatif stabil akibat retensi cairan atau edema, sementara massa otot mengalami penurunan progresif³. Tanpa skrining status gizi yang terstruktur, kondisi ini berpotensi tidak teridentifikasi hingga muncul komplikasi seperti infeksi, luka tekan, dan keterlambatan rehabilitasi⁷,⁹.
Dalam konteks pelayanan kesehatan yang berkelanjutan, skrining status gizi menjadi langkah klinis awal yang krusial untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi dan menentukan kebutuhan asesmen serta intervensi gizi selanjutnya. Tantangan yang sering dihadapi tenaga kesehatan adalah pemilihan alat skrining yang paling sesuai, khususnya antara Malnutrition Screening Tool (MST), Malnutrition Universal Screening Tool (MUST), dan Mini Nutritional Assessment (MNA).
Skrining Status Gizi: Tujuan, Fungsi, dan Batasan
Skrining status gizi bertujuan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami malnutrisi atau telah mengalami malnutrisi sehingga memerlukan asesmen gizi lanjutan dan intervensi yang tepat³,⁷. Skrining bukan merupakan diagnosis dan tidak menggantikan asesmen gizi komprehensif, melainkan berfungsi sebagai alat penyaring awal dalam alur pelayanan kesehatan.
Pada pasien pasca stroke, skrining status gizi memiliki peran strategis untuk mendeteksi risiko malnutrisi sejak dini, menentukan prioritas pasien yang membutuhkan asesmen lebih mendalam, serta menjadi dasar edukasi gizi bagi pasien dan keluarga¹,². Pemilihan alat skrining harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, fase perawatan, usia, serta kemampuan pasien dan keluarga dalam memberikan informasi yang akurat.
Malnutrition Screening Tool (MST)
Skrining Cepat sebagai Peringatan Dini
Malnutrition Screening Tool (MST) merupakan alat skrining gizi sederhana yang dirancang untuk mendeteksi risiko malnutrisi secara cepat pada pasien dewasa⁴. MST banyak digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan karena tidak memerlukan pengukuran antropometri dan dapat dilakukan melalui wawancara singkat.
MST menilai dua komponen utama, yaitu adanya penurunan berat badan yang tidak disengaja serta penurunan nafsu makan atau jumlah asupan makan. Jawaban terhadap kedua komponen tersebut diberi skor dan dijumlahkan. Skor MST 0–1 menunjukkan risiko malnutrisi rendah, sedangkan skor ≥ 2 menunjukkan pasien berisiko mengalami malnutrisi⁴.
Pada pasien pasca stroke, skor MST ≥ 2 perlu dipandang sebagai peringatan dini yang menandakan perlunya asesmen gizi lanjutan. Keterbatasan MST terletak pada sifatnya yang subjektif, sehingga akurasinya dapat dipengaruhi oleh gangguan kognitif atau keterbatasan komunikasi pasien.
Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)
Penilaian Risiko Berbasis Data Antropometri
Malnutrition Universal Screening Tool (MUST) merupakan alat skrining yang banyak digunakan pada populasi dewasa dengan pendekatan yang lebih terstruktur³. MUST menilai risiko malnutrisi melalui tiga komponen, yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT), persentase penurunan berat badan tidak disengaja dalam 3–6 bulan terakhir, serta adanya kondisi penyakit akut yang menyebabkan asupan makan minimal atau tidak ada sama sekali selama lebih dari lima hari.
Setiap komponen diberi skor dan dijumlahkan untuk memperoleh skor total. Skor MUST diinterpretasikan sebagai risiko malnutrisi rendah (skor 0), risiko sedang (skor 1), dan risiko tinggi (skor ≥ 2)³. Pada pasien pasca stroke, skor MUST ≥ 2 menunjukkan perlunya intervensi gizi segera. Namun demikian, interpretasi skor MUST harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, karena IMT tidak selalu mencerminkan kehilangan massa otot yang sebenarnya⁷.
Mini Nutritional Assessment (MNA)
Pendekatan Komprehensif pada Pasien Lansia
Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan alat skrining yang dikembangkan khusus untuk populasi lanjut usia dan banyak digunakan pada pasien neurologis, termasuk stroke⁵. MNA menilai status gizi melalui pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup aspek antropometri, asupan makan, mobilitas, status mental, dan kondisi kesehatan umum.
Skor total MNA berkisar antara 0 hingga 30, dengan interpretasi sebagai berikut: status gizi baik (≥ 24), berisiko malnutrisi (17–23,5), dan malnutrisi (< 17)⁵. Pada pasien pasca stroke lansia, kategori berisiko malnutrisi merupakan fase kritis yang memerlukan intervensi gizi dini untuk mencegah perburukan status gizi dan mendukung keberhasilan rehabilitasi⁵,⁷.
Perbandingan MST, MUST, dan MNA
Dari Skor Skrining ke Edukasi Keluarga
Hasil skrining status gizi akan bermakna secara klinis apabila diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten di rumah⁷. Dalam hal ini, ahli gizi berperan sebagai penghubung antara data klinis dan praktik sehari-hari pasien serta keluarga.
Skor skrining yang menunjukkan risiko malnutrisi perlu dijelaskan kepada keluarga sebagai kondisi yang masih dapat dicegah perburukannya melalui pengaturan makan yang tepat. Pendekatan edukatif ini sejalan dengan prinsip pelayanan stroke berkelanjutan di fasilitas kesehatan tingkat pertama¹,².
Menjawab Pertanyaan tentang Pantangan Makan
Pantangan makan pada pasien pasca stroke tidak bersifat mutlak, melainkan kondisional dan bergantung pada kemampuan menelan, penyakit penyerta, serta hasil asesmen gizi⁷,⁹. Edukasi gizi perlu menekankan bahwa fokus utama pengaturan makan adalah keamanan menelan, kecukupan energi dan protein, serta penyesuaian tekstur makanan.
Pembatasan makanan tinggi garam dan lemak jenuh dilakukan secara proporsional, terutama pada pasien dengan hipertensi atau dislipidemia, tanpa mengorbankan kecukupan asupan gizi. Dengan pemahaman yang tepat, keluarga dapat lebih percaya diri dalam menyiapkan makanan dan mendukung proses pemulihan pasien.
Peran Keluarga dalam Pemenuhan Gizi
Keluarga memegang peranan sentral dalam pemenuhan gizi pasien pasca stroke di rumah. Penyesuaian tekstur makanan, peningkatan frekuensi makan, serta pemenuhan kebutuhan protein dan energi merupakan strategi utama dalam mendukung pemulihan⁷. Edukasi yang terarah membantu keluarga menjadi mitra aktif dalam proses rehabilitasi pasien.
Kesimpulan
Tidak terdapat satu alat skrining status gizi yang paling unggul untuk semua pasien pasca stroke. Pemilihan antara MST, MUST, atau MNA harus dilakukan secara kontekstual, disesuaikan dengan kondisi pasien, fase perawatan, dan tujuan skrining³,⁵,⁷. Yang terpenting adalah tindak lanjut hasil skrining melalui asesmen, intervensi, dan edukasi gizi yang tepat agar skrining status gizi benar-benar berkontribusi terhadap pemulihan pasien pasca stroke secara holistik dan berkelanjutan.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kurikulum TOT Pelatihan Penanggulangan Stroke bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Stroke Terpadu. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Elia M. The ‘MUST’ report: nutritional screening of adults – a multidisciplinary responsibility. Redditch: BAPEN; 2003.
- Ferguson M, Capra S, Bauer J, Banks M. Development of a valid and reliable malnutrition screening tool for adult acute hospital patients. Nutrition. 1999;15(6):458–464.
- Vellas B, Guigoz Y, Garry PJ, et al. The Mini Nutritional Assessment (MNA) and its use in grading the nutritional state of elderly patients. Nutrition. 1999;15(2):116–122.
- Volkert D, et al. ESPEN guideline on nutrition in neurology. Clin Nutr. 2018;37(1):354–396.
- Burgos R, et al. ESPEN guideline on clinical nutrition in neurology. Clin Nutr. 2018;37(1):354–396.
- World Health Organization. Rehabilitation in health systems. Geneva: WHO; 2017.
- National Institute for Health and Care Excellence. Stroke rehabilitation in adults. NICE guideline CG162.
No Comments