14 Sep Gula Rafinasi: Apa Pengaruhnya bagi Tubuh?
Akhir-akhir ini, warganet ramai membahas terkait gula rafinasi. Mulai dari perkara impor gula rafinasi hingga petani yang kebingungan karena penjualan gula petani kalah dengan gula impor. Namun, apa sih gula rafinasi itu? Apakah gula rafinasi bisa membawa manfaat bagi kesehatan? Atau malah menambah bahaya?
Apa itu Gula Rafinasi?
Gula rafinasi merupakan gula yang telah diproses sedemikian rupa hingga menghasilkan gula dengan kemurnian sukrosa yang sangat tinggi.(1) Tebu atau bahan lainnya yang telah dibuat menjadi gula kemudian menjalani berbagai proses pemurnian yang akhirnya menghasilkan gula rafinasi. Gula ini biasanya digunakan untuk keperluan industri, tidak untuk digunakan dalam skala rumah tangga. Perbedaan gula jenis ini dengan gula biasa ialah kandungan sukrosanya yang mencapai 99%, sehingga gula ini hanya berisi energi dan hampir tak ada zat gizi lain.(2) Selain itu, perbedaanya juga terdapat pada indeks glikemiknya. Indeks glikemik pada gula rafinasi sedikit lebih tinggi daripada gula biasa karena masih terdapat beberapa senyawa seperti serat yang bisa menghambat penyerapan gula.(3)
Apa dampaknya bagi kesehatan?
Gula rafinasi jarang digunakan harian dalam skala rumah tangga. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang panjang, akan menimbulkan berbagai efek negatif bagi tubuh.
- Obesitas dan Sindrom Metabolik
Konsumsi gula berlebih selalu berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit obesitas dan gangguan metabolik seperti NAFLD (non alcoholic fatty liver disease) dan diabetes tipe 2. Kadar gula dalam gula rafinasi dapat menyebabkan resistensi terhadap hormon leptin, yang bertugas mengatur rasa lapar dan memberi sinyal kepada otak untuk berhenti makan. Akibatnya, seseorang sulit merasa kenyang dan cenderung makan berlebihan. Selain itu, asupan gula rafinasi yang tinggi menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat dan berulang. Jika terus-menerus terjadi, pankreas akan bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Lama-kelamaan, sel tubuh menjadi kebal terhadap insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.(4) - Penyakit Kardiovaskular
Konsumsi gula secara berlebihan juga menyebabkan peradangan sistemik dan disfungsi lapisan endotel yang akhirnya menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, akumulasi lemak viseral, peradangan kronis, serta peningkatan kadar trigliserida dan LDL.(4) - Masalah Gigi dan Mulut
Gula yang mudah terfermentasi dalam mulut akan menghasilkan asam yang dapat merusak gigi dan membuat gigi berlubang. Sifat gula yang manis dapat menjadi media pertumbuhan bakteri yang merugikan kesehatan gigi dan gusi.(4) - Penyakit saraf dan Gangguan mental
Konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan mental dan saraf. Pola makan yang tinggi gula dapat merubah pola kerja otak, sehingga dapat menyebabkan kecanduan serta perubahan perilaku. Hal ini bisa mengakibatkan keinginan yang berlebih terhadap makanan manis serta perilaku makan yang kompulsif.(5)
Apa yang bisa dilakukan?
Gula rafinasi merupakan gula yang diproses berulang-ulang kali hingga kehilangan nilai nutrisinya. Karena itu, kita bisa tetap menggunakan gula pasir biasa atau menggunakan pemanis alami lainnya. Kandungan gizi pada pemanis alami setidaknya lebih baik daripada gula rafinasi. Selain itu, pengaruh buruk hanya muncul ketika konsumsi gula melewati batas yang ditentukan. Meskipun konsumsi gula rafinasi secara langsung dilarang oleh pemerintah, kita bisa saja mengonsumsinya melalui produk makanan, minuman, atau produk farmasi yang diproduksi skala besar. Menurut Kemenkes, batas asupan gula tiap hari sebesar 50 gram.(6) Dengan menjaga apa yang kita konsumsi tiap hari, kita bisa menjaga kesehatan tubuh kita.
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Arshad S, Rehman T, Saif S, Rajoka MSR, Ranjha MMAN, Hassoun A, et al. Replacement of refined sugar by natural sweeteners: focus on potential health benefits. Heliyon. 2022 Sep 1 [cited 2025 Aug 11];8(9). Available from: https://www.cell.com/heliyon/fulltext/S2405-8440(22)01999-5
- Hadisancoko RE. Increasing Sugar Production and Its Alternatives and Availability of Plantation Land in Strengthening the National Economy. AURELIA Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia. 2023 Jan 24;2(1):259–65.
- Azlan A, Ebadi S, Yusof BNM, Othman NMH, Kannar D, Sultana S, et al. Satiety, glycemic profiles, total antioxidant capacity, and postprandial glycemic responses to different sugars in healthy Malaysian adults. Nutrition. 2022 May;97:111551.
- Pavlovskaya EV. Influence of excessive sugar consumption on children’s health. Voprosy praktičeskoj pediatrii. 2017;12(6):65–9.
- Qin D, Qi J, Shi F, Guo Z, Li H. Sugar Addiction: Neural Mechanisms and Health Implications. Brain and Behavior. 2025 Jul;15(7):e70338.
- Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Apr 16, 2013.
No Comments