Fortifikasi Multinutrien dalam Beras: Inovasi Pangan Pokok untuk Mengatasi Hidden Hunger

Fortifikasi Multinutrien dalam Beras: Inovasi Pangan Pokok untuk Mengatasi Hidden Hunger

Bagikan

Sebagian besar masyarakat mengabaikan masalah kekurangan mikronutrien, padahal menimbulkan dampak yang serius jika terus dibiarkan, seperti menurunnya daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (termasuk stunting), hingga berkurangnya produktivitas (1,7). Kondisi ketika seseorang kekurangan gizi mikro dapat disebut hidden hunger atau kelaparan tersembunyi (1,7). Salah satu inovasi yang dapat menjadi solusi adalah fortifikasi multinutrien dalam beras. Karena beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, fortifikasi ini dinilai strategis dalam menjangkau masyarakat luas (2).

Apa itu Hidden Hunger?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7561806104573775109"}}

Hidden hunger adalah kondisi ketika seseorang kekurangan satu atau beberapa mikronutrien seperti zat besi, zinc, vitamin A, folat, dan vitamin B, meskipun asupan kalorinya cukup. Hidden hunger atau kelaparan tersembunyi dipakai untuk menggambarkan problem kekurangan gizi mikro yang tidak memunculkan indikasi busung lapar atau gizi buruk tetapi membawa dampak berat pada kualitas sumber daya manusia (SDM). (1,7)

Bagaimana Dampak Hidden Hunger?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7561806246114839861"}}

Dampaknya serius, mulai dari menurunnya daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (termasuk stunting), berkurangnya produktivitas, hingga gangguan perkembangan intelektual dan psikomotorik anak-anak (1,7). Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang selain berdampak pada kesehatan fisik, juga mengurangi potensi intelektual dan menurunkan produktivitas kerja (7). Defisiensi yodium (iodine deficiency) dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan mental dan fisik, juga kehilangan “IQ poin” dalam jumlah besar jika tidak ditangani (7).

Apa itu Fortifikasi Multinutrien?

Fortifikasi berarti menambahkan zat gizi penting ke makanan yang banyak dikonsumsi. “Multinutrien” berarti lebih dari satu mikronutrien ditambahkan sekaligus, misalnya zat besi, zinc, folat, vitamin B1, dan vitamin B2 (2). Dalam praktiknya, fortifikasi beras dapat dilakukan melalui:

  1. Penambahan premix mikronutrien dalam proses penggilingan beras (fortified rice kernel/FRK) (2).
  2. Integrasi dalam program bantuan sosial agar kelompok rentan memiliki akses (2).
  3. Edukasi gizi agar masyarakat memahami pentingnya memilih beras fortifikasi (3).

Manfaat Fortifikasi Beras Multinutrien

  1. Mengurangi defisiensi mikronutrien
    Fortifikasi beras mampu meningkatkan asupan zat besi dan zinc terutama pada kelompok berpendapatan rendah (2).
  2. Mencegah stunting
    Kekurangan zat besi, zinc, folat, dan vitamin B berkontribusi pada stunting. Fortifikasi beras dapat membantu menurunkan prevalensinya (3).
  3. Efisiensi biaya
    Karena beras dikonsumsi sehari-hari oleh hampir semua lapisan masyarakat, biaya distribusi relatif lebih rendah dibandingkan suplemen individu (1).
  4. Dampak jangka panjang
    Fortifikasi beras menurunkan risiko anemia, meningkatkan sistem imun, serta menunjang kualitas hidup dan produktivitas masyarakat (4).

Tantangan dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan

  1. Stabilitas mikronutrien – Ada beberapa vitamin yang mudah rusak akibat panas dan kelembapan (2).
  2. Biaya produksi – Penambahan premix dapat menaikkan harga jual beras, sehingga perlu subsidi atau dukungan kebijakan (2).
  3. Regulasi dan standar – Diperlukan standar dosis, jenis mikronutrien, serta uji mutu (3).
  4. Penerimaan masyarakat – Perubahan warna, rasa, atau tekstur beras bisa memengaruhi minat konsumen (2).
  5. Distribusi dan logistik – Kesiapan penggilingan beras serta rantai pasok menjadi faktor penentu (5).

Implementasi di Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menjadikan fortifikasi sebagai bagian dari strategi nasional perbaikan gizi (3). Kajian GAIN menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih kekurangan zat besi, zinc, vitamin B1, B2, dan folat (2). Untuk itu, Badan Pangan Nasional tengah menyusun standar beras fortifikasi agar kualitas dan kandungan gizi terjamin (3). Beberapa daerah, seperti Kabupaten Brebes, telah melakukan uji coba distribusi beras fortifikasi “Fortivit” untuk mencegah stunting (6).

Kesimpulan

Fortifikasi multinutrien dalam beras merupakan inovasi pangan pokok yang efektif untuk mengatasi hidden hunger di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan, regulasi, sosialisasi, dan distribusi yang baik, program ini dapat membantu mengurangi defisiensi mikronutrien, menekan angka stunting, serta mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat dan produktif.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Peña-Rosas JP, Mithra P, Unnikrishnan B, et al. Fortification of rice with vitamins and minerals for improved nutritional outcomes [Internet]. National Center for Biotechnology Information (NCBI). 2019 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–15. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6814158/
  2. Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN). Filling Indonesia’s Micronutrient Gap: The potential of fortified rice in the social protection system [Internet]. GAIN. 2024 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–8. Available from: https://www.gainhealth.org/sites/default/files/publications/documents/policy-brief-filling-indonesias-micronutrient-gap-the-potential-of-fortified-rice-in-the-social-protection-system.pdf
  3. UNICEF Indonesia. Landscape analysis of large-scale food fortification in Indonesia [Internet]. UNICEF. 2023 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–25. Available from: https://www.unicef.org/indonesia/media/21006/file/Landscape%20analysis%20large-scale%20food%20fortification.pdf
  4. Dewi NU, Putri AR, Sari MI. Effectiveness of food fortification in improving nutritional status in Indonesia [Internet]. NCBI (PMC). 2021 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–10. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7926461/
  5. Sitaresmi T, Handoko DD, et al. Advances in the development of rice varieties with better micronutrient content (biofortification) [Internet]. ScienceDirect. 2023 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–12. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666154323001096
  6. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Fortifikasi Beras di Brebes untuk Cegah Stunting [Internet]. Jatengprov.go.id. 2024 [cited 2025 Sep 23]. p. 1–2. Available from: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/fortifikasi-beras-di-brebes-untuk-cegah-stunting/
  7. Khomsan A. Hidden Hunger [Internet]. Bogor: IPB Press; [cited 2025 Sep 23]. p. xvi–xx; 1–10. Available from: https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/122290/Pages%20from%20Cetakan-1%20Buku%20Hidden%20Hunger%20%28Ali%20Khomsan%29..pdf
No Comments

Post A Comment