23 Des Comfort Food: Mengapa Tubuhmu Mencari Pelukan dari Makanan dan Bisakah Membuatnya Tetap Sehat?
Penelitian menunjukkan bahwa otak kita memproses rasa nyaman yang diperoleh dari makanan dengan cara yang mirip saat kita mendapatkan pelukan. Berdasarkan cara kerjanya, keduanya mampu memicu pelepasan sejumlah hormon, terutama hormon bahagia yang membuat perasaan lebih tenang dan senang. Perasaan senang setelah mengonsumsi makanan tertentu seringkali dikaitkan dengan istilah Comfort Food, yaitu jenis makanan yang memberikan kenyamanan secara emosional. (1).
1) Apa itu Comfort Food?
Pernahkah kamu merasa suasana hatimu membaik setelah kamu menikmati makanan tertentu? Istilah yang mengacu pada makanan tersebut dikenal sebagai Comfort Food, yaitu makanan yang dapat memberikan kenyamanan secara psikologis, biasanya meningkatkan mood dan perasaan bahagia setelah dikonsumsi. Misalnya, ketika sedang sedih, mengonsumsi sepotong coklat dapat secara signifikan memperbaiki mood. (1). Menariknya, jenis comfort food sangat personal dan beragam, dapat bergantung pada jenis makanan apa yang berkesan. (5). Ada yang merasa mie ayam menjadi penenang setelah melalui hari yang panjang atau ada yang menemukan kebahagiaan pada semangkuk es krim, dan lain-lain. Tetapi umumnya, makanan yang dianggap comfort food adalah coklat, es krim, biskuit, permen, atau minuman manis. (1).
2) Psikologis Dibalik Rasa Nyaman
Layaknya diberi pelukan, makanan juga dapat memberikan ketenangan. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang kuat antara emosi dengan pilihan comfort food. Seseorang dapat mengonsumsi suatu makanan tertentu untuk mempertahankan mood positif, memberikan ‘hadiah’ pada diri
sendiri, merayakan peristiwa tertentu, atau melampiaskan emosi negatif seperti stres. (5). Ternyata, secara ilmiah, semua hal ini berhubungan dengan sistem hormon tubuh.
Hormon merupakan pembawa pesan kimiawi dalam tubuh yang dilepaskan oleh kelenjar ke aliran darah dengan tugas mengatur cara
tubuh berfungsi, termasuk mengatur perasaan. Beberapa diantaranya adalah hormon bahagia, karena mereka bertanggung jawab mengatur regulasi emosi, seperti rasa nyaman, bahagia, dan motivasi. Hormon
tersebut misalnya adalah dopamin, serotonin, endorfin, dan oksitosin. (3,4).
Hormon bahagia akan dihasilkan oleh tubuh ketika kita menikmati makanan yang kita anggap sebagai comfort food. Saat kita makan, otak menafsirkan rasa, aroma, dan memori yang kita miliki secara personal
terhadap makanan tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kemudian, hormon bahagia akan dilepaskan dan kita merasa tenang layaknya mendapatkan sebuah pelukan. (4).
Namun, penting untuk diingat bahwa rasa nyaman tersebut sebenarnya berasal dari reaksi alami tubuh, bukan hanya dari makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, dalam memilih comfort food, usahakan untuk
memilih jenis makanan yang lebih sehat, sehingga kita bisa mendapatkan efek bahagia yang sama tanpa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
3) Menemukan Comfort Food yang Sehat
Menurut penelitian, comfort food umumnya mengandung kalori tinggi dan zat gizi yang rendah, yang apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan. (2). Oleh karena itu, cobalah untuk memodifikasinya menjadi lebih sehat, misalnya dengan menambahkan
atau bahkan mengganti comfort food dengan buah, sayur, atau biji-bijian (oat, beras merah, atau quinoa). (6). Makanan berbasis tumbuhan tersebut (Plant-based-food) dapat membantu menjaga berat badan serta mencegah penyakit kronis seperti kanker dan gangguan kardiovaskular karena memiliki kandungan serat dan fitokimia di dalamnya. Pastikan juga untuk tidak menambahkan terlalu banyak garam, gula, dan minyak agar manfaatnya tetap optimal. (7). Beberapa ide yang mudah untuk dibuat
diantaranya, overnight oatmeal, salad sayur, atau salad buah.
Selain itu, biasakan menerapkan mindful eating, dengan memberikan atensi/kesadaran penuh pada makanan yang dikonsumsi. Biarkan tubuhmu menikmati setiap suapan, kenali sinyal rasa lapar dan kenyang
dari tubuhmu. Serta jangan lupa untuk memerhatikan porsi makanan yang dikonsumsi. Penting juga untuk mengontrolnya dengan mengenali pemicu
emosional yang sering membuatmu ingin makan, seperti rasa lelah, stres, kesepian, bosan, atau sedih. (6). Dengan begitu, kamu bisa tetap menikmati comfort food tanpa kehilangan kendali atas pola makanmu.
Editor :Â Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Spende, C. Comfort Food: A Review. International Journal of Gastronomy and Food Science. 2017:9:105-109
- Wu, F., Vartanian, L.R., and Faasse, K. Why Do We Eat Comfort Food? Exploring Expectations Regarding Comfort Food and Their Relationship with Comfort Eating Frequency. Nutrients. 2025:17(14):2259
- Harvard Health Publishing. Feel-good Hormones: How They Affect Your Mind, Mood, and Body [Internet]. nd [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/feel-good-hormones-how-the y-affect-your-mind-mood-and-body
- Dutraj, R., and Sengupta, P. R. Elevating Workplace Productivity: Harnessing the Power of Happy Hormones to Alleviate Mental Illness. The International Journal of Indian Psychology. 2024:12(3):3121-3134.
- Mathiesen, et al. Leaving Your Comfort Zone for Healthier Eating? Situational Factors Influence the Desire to Eat Comfort Food and Simulated Energy Intake. Food Quality and Preference Journal. 2022:100
- Jacobson, A. Can Comfort Food Be Healthy? A Look at the Pros and Cons [Internet}. GoodRx. 2023 [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.goodrx.com/well-being/diet-nutrition/comfort-food-health-benefits
- American Institute for Cancer Research. Eat a Diet Rich in Whole Grains, Vegetables, Fruits, and Beans [Internet]. nd. [cited 2025 Oct 21]. Available from: https://www.aicr.org/cancer-prevention/recommendations/eat-a-diet-rich-in-whole-grains-vegetables-fruits-and-beans/
No Comments