10 Jan Kesehatan Mental Remaja: Menanggulangi Stres Digital dan Menjaga Keseimbangan Hidup
Bagi remaja di zaman sekarang, media sosial bukan hanya sekedar platform hiburan tetapi dapat berupa medan pertempuran dalam segi pertempuran citra diri, pertempuran FOMO (Fear of Missing Out) dan juga pertempuran dalam segi untuk selalu dapat terlihat sempurna. Pertempuran seperti itu akan menimbulkan sebuah tekanan dan tekanan tersebut akan menjadi sebuah bentuk ‘’Stres Digital’’. Stres ini dapat membawa efek samping yang buruk untuk remaja seperti tergganggunya keseimbangan emosional mereka sehingga membuat mereka pun merasa cemas, lelah mental dan bahkan kesulitan tidur. Jadi, bagaimana ya caranya untuk menanggulangi stres digital tersebut di kalangan remaja?
Mari kita bahas dulu yuk lebih detailnya terkait stres digital dan apa saja sih sumber utama stres digital itu.
Media Sosial dan Stres Digital
Media sosial walaupun menjadi bentuk elektronik dalam berkomunikasi seperti berbagai informasi, pesan pribadi dan konten lainnya tetapi memiliki dampak negatif juga karena dapat berisiko terkena kesehatan mental. (1) Selain dampak terhadap kesehatan mental yaitu dapat berupa penurunan minat dalam belajar dan kualitas tidur. Stres digital merupakan bentuk tekanan emosional yang muncul akibat interaksi intensif dengan perangkat digital atau media sosial. Hal ini dapat berupa kecemasan akibat perbandingan sosial, ketakutan akan kehilangan informasi penting atau biasa disebut dengan FOMO dan tekanan dari cyberbullying. Kalangan remaja biasanya menghabiskan waktu dalam penggunaan media digital sekitar kurang lebih 3 jam sehari. (2)
Sumber Utama Stres Digital
- Tuntutan Terhadap Citra Diri Media sosial dipenuhi dengan sorotan dari berbagai macam momen, menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu terlihat menyenangkan. Apabila remaja terus membandingkan realita yang ada pada diri mereka dengan ilusi yang mereka ciptakan terhadap kehidupan orang lain maka akan menimbulkan rasa rendah diri.
- Kecanduan Validasi Penggunaan media sosial memicu pelepasan dopamin di otak ketika seseorang menerima validasi sosial. Ketergantungan validasi ini dapat menimbulkan kecemasan apabila konten yang diposting tidak mendapatkan respon sesuai yang mereka harapkan sehingga akan berdampak negatif ke harga diri. (3)
- Fear Of Missing Out (FOMO) FOMO adalah rasa takut atau kegelisahan yang timbul akibat merasa tertinggal atau kehilangan pengalaman yang dirasakan penting dan menyenangkan yang dialami oleh orang lain. (4) Ini seringkali berkaitan dengan penggunaan media sosial yang terus menerus dan dirasa perlu sekali untuk memeriksa update dan aktivitas yang berada di sosial media agar tidak tertinggal informasi yang mungkin sedang populer di kalangan teman atau orang sekitar. FOMO ini memiliki dampak negatif seperti mental remaja tersebut akan tergganggu dan emosionalnya pun tidak akan stabil. (5)
- Cyberbullying Cyberbullying adalah salah satu faktor utama stres digital yang menyerang remaja. Cyberbullying ini dapat terjadi dalam bentuk penghinaan, penyebaran rumor atau penyalahgunaan informasi pribadi di sosial media. Korban dari cyberbullying ini biasanya akan mengalami gejala depresi, kecemasan hingga ada pemikiran untuk bunuh diri. (6)
- Peran Teman Sebaya Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang dilakukan oleh teman sebaya juga memainkan peran besar, seperti memaksakan mereka untuk tetap aktif di media sosial agar tetap sejalan dalam kelompok sosial mereka. Apabila remaja tersebut tidak dapat mengikuti kebiasaan atau standar yang ditetapkan oleh teman sebaya dapat menyebabkan isolasi sosial dan perasaan tidak berharga. (7)
Lalu, bagaimana sih cara mencegah agar tidak mengalami stres digital atau menangani hal tersebut apabila sudah mengalaminya? Mari kita bahas dibawah ini secara lebih detailnya ya.
Strategi Pencegahan dan Penanganan Stres Digital
- Orang Tua Membuat Aturan Sehat Terhadap Penggunaan Teknologi Orang tua memiliki kebijakan dalam membuat aturan secara sehat terkait penggunaan teknologi terhadap anak remaja mereka karena apabila keluarga menerapkan itu maka remaja memiliki keseimbangan antara kesehatan mental dengan pola tidur mereka.
- Pendidikan Literasi Digital Sekolah dapat menerapkan literasi digital untuk membantu siswanya agar memahami cara penggunaan teknologi dengan bijak. (1)
- Penyediaan Konseling Psikologis Layanan konseling di sekolah dapat membantu dalam menangani stres digital dengan memberikan waktu kepada konselor dalam memberikan panduan untuk memanage stres, mengidentifikasi tekanan sosial dan dapat membangun hubungan komunikasi interpersonal. (1)
- Mengembangkan Kesadaran Diri dan Mengelola Waktu Digital dengan Bijak Remaja disarankan untuk lebih mengenali dampak dari penggunaan teknologi terhadap kesehatan mental mereka dengan cara mengidentifikasi kapan teknologi tersebut mulai mempengaruhi emosi, perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain. (6) Mereka juga seharusnya dapat berhenti mengikuti akun yang memang secara nyata membuat mereka cemas atau tidak bahagia secara konsisten dengan mengganti ke akun yang memang memberikan mereka inspirasi atau humor atau dukungan kesehatan mental atau bahkan konten edukatif lainnya. Remaja perlu menetapkan jadwal untuk screen time dengan menggunakan pemantau waktu, selain itu mereka juga perlu mengganti kegiatan digital mereka dengan kegiatan fisik seperti melakukan aktivitas fisik setiap hari dengan berjalan kaki atau bersepeda atau berolahraga dengan tim untuk melepaskan endorfin yang menetralkan stres, selain itu juga bisa melakukan quality time bersama keluarga dan teman tanpa alat elektronik.
- Melakukan Latihan Mindfullness Latihan mindfullness itu penting sekali dalam membantu remaja untuk menghadapi stres digital dengan meditasi atau latihan pernapasan. (1)
Oleh sebab itu, kesimpulannya adalah screen time itu boleh tetapi kita harus punya batas waktu dalam melakukan screen time agar kita tidak terkena stres digital. Jadikanlah dunia maya itu sebagai alat untuk meraih tujuan kita, bukan untuk mengukur harga diri kita sendiri. Sebagai remaja, kita harus memiliki mental yang tangguh dan hidup yang seimbang agar siap melangkah menjadi ‘’Generasi Hebat’’ dalam menguasai teknologi.
Referensi
- Subandi., Susilowati, D., Riyanto. Kecemasan Akademik dan Digital: Analisis Stres Remaja dengan Pendekatan Psikoedukasi. Jakarta: Nuansa Fajar Gemilang. 2025.
- Curtis, J., et al. Digital Habits and Their Mental Health Impact on Adolescents. Harvard Graduate School of Education. 2023
- Holzbauer, J. The Impact of Social Media on Adolescents Mental Health. University of Utah Health. 2024.
- Przybylski., et al. Motivational, Emotional and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Jurnal Psikologi. 2013: 29.
- Young, K.S. Internet Addivtion: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment. Canada: John Wiley&Sons, Inc. 2010.
- Engein, R., et al. Body Image in The Digital Age: The Influence of Fitspiration on Youth. 2020.
- Twenge, J.M., et al. The Social Media Paradox: How It Affects Youth Well-Being. Current Psychiatry Reports. 2020.
No Comments