Sindrom Metabolik: Silent Killer di Era Sedentary Lifestyle dan Transisi Nutrisi

Sindrom Metabolik: Silent Killer di Era Sedentary Lifestyle dan Transisi Nutrisi

Bagikan

Perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir berlangsung cepat, ditandai urbanisasi, kemajuan teknologi, dan kemudahan akses makanan yang menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta peningkatan konsumsi makanan tinggi energi. Banyak masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk, sementara pola makan tradisional yang kaya serat tergeser oleh makanan cepat saji dan produk ultra-proses yang tinggi gula, lemak jenuh, serta garam. Di balik perubahan tersebut, muncul suatu kondisi yang berkembang tanpa gejala jelas namun memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius, yaitu sindrom metabolik. Kondisi ini sering disebut silent killer karena berkembang perlahan tanpa keluhan nyata, tetapi secara signifikan meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Apa Itu Sindrom Metabolik?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7617105364353420560"}}

Sindrom metabolik bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan faktor risiko metabolik yang terjadi secara bersamaan dalam satu individu. Kondisi ini mencerminkan adanya gangguan regulasi metabolisme yang saling berkaitan, terutama terkait obesitas sentral, dislipidemia, hipertensi, dan gangguan glukosa darah. Kombinasi faktor-faktor tersebut secara signifikan meningkatkan risiko individu dengan sindrom metabolik untuk mengalami diabetes melitus tipe 2 serta penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung. (1,2), Perlu diketahui jika sindrom metabolik seringkali berkembang tanpa gejala yang jelas namun memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius, bahkan dapat mengakibatkan mortalitas, karena itu sindrom metabolik kerap kali disebut sebagai silent killer. (3,4)

Seseorang dikatakan menderita sindrom metabolik apabila memenuhi sedikitnya tiga dari lima kriteria berikut: (1) obesitas sentral, yaitu lingkar perut > 80 cm pada wanita dan > 90 cm pada pria; (2) kadar trigliserida ≥ 150 mg/dL (1,7 mmol/L); (3) kadar HDL rendah, yaitu < 40 mg/dL (1,03 mmol/L) pada pria atau < 50 mg/dL (1,29 mmol/L) pada wanita; (4) tekanan darah ≥ 130/85 mmHg; dan (5) kadar glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dL (5,6 mmol/L). (5,6)

Prevalensi sindrom metabolik secara global sekitar 12,5-31,4% dan terus meningkat, khususnya di negara-negara berkembang. (7,8) Di kawasan Asia-Pasifik, hampir seperlima atau lebih populasi dewasa di banyak negara telah didiagnosis menderita sindrom metabolik. (9) Di Indonesia sendiri, prevalensi sindrom metabolik diperkirakan sebesar 21,66%, (5) dengan angka yang lebih tinggi pada wanita (46%), hampir dua kali lipat dibandingkan dengan pria (28%). (10) Tingginya prevalensi ini disertai dengan peningkatan angka obesitas sebesar 8,6% selama satu dekade terakhir. (11–13)

Sedentary Lifestyle atau Gaya Hidup Sedentari dan Dampaknya terhadap Metabolisme

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7593594364178337031"}}

Sedentary lifestyle atau gaya hidup sedentari adalah pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim, terutama ditandai dengan kebiasaan duduk dalam waktu lama dan jarang bergerak. Pola kerja yang banyak dilakukan di depan komputer, kebiasaan menonton, serta penggunaan ponsel dalam waktu lama membuat durasi duduk harian semakin meningkat. (14)

Kurangnya aktivitas fisik akibat gaya hidup sedentari tidak hanya berdampak pada kebugaran, tetapi juga mempengaruhi metabolisme tubuh. Saat kita bergerak, otot membantu menggunakan gula dalam darah sebagai sumber energi dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Jika tubuh jarang bergerak, kemampuan ini menurun sehingga kadar gula darah lebih mudah meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Akibatnya, kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan dan tetap tinggi di dalam tubuh. (15)

Selain itu, kebiasaan kurang gerak yang berlangsung lama juga berperan dalam peningkatan berat badan secara keseluruhan, sehingga meningkatkan risiko obesitas. Obesitas terutama yang didominasi penumpukan lemak di area perut lebih berisiko karena dapat memicu peradangan ringan yang berlangsung terus- menerus serta mengganggu keseimbangan kadar lemak dalam darah. Kombinasi gangguan tersebut menjadi dasar berkembangnya sindrom metabolik. (16,17)

Transisi Nutrisi: Pergeseran Pola Makan Modern

Sejalan dengan perubahan gaya hidup sedentari, terjadi pula fenomena yang dikenal sebagai transisi nutrisi yaitu pergeseran pola makan dari makanan tradisional yang relatif tinggi serat dan rendah lemak menuju pola konsumsi tinggi energi, gula tambahan, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses. Fenomena ini juga terlihat nyata di Indonesia, Studi mengenai transisi pola makan di Indonesia menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran pola konsumsi dari makanan tradisional menuju pola makan modern, ditandai dengan peningkatan konsumsi gandum, ayam broiler, produk susu, minuman manis, makanan olahan, dan makanan ultra-proses. (18,19)

Makanan ultra-proses umumnya memiliki kepadatan energi tinggi namun rendah kandungan serat dan mikronutrien. Konsumsi minuman berpemanis, camilan tinggi gula, serta makanan cepat saji semakin umum, terutama di wilayah perkotaan. Pola makan seperti ini berkontribusi terhadap surplus energi kronis yang mendorong peningkatan berat badan dan penumpukan lemak di perut yang mengakibatkan obesitas sentral yang menjadi salah satu kontributor utama sindrom metabolik. (20)

Asupan gula yang berlebihan dapat menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah secara berulang, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko resistensi insulin. Konsumsi lemak jenuh juga berkontribusi terhadap gangguan profil lipid, seperti peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol LDL. Di sisi lain, rendahnya asupan serat tidak hanya mengganggu regulasi gula darah, tetapi juga berperan dalam peningkatan kadar kolesterol. Selain itu, rendahnya asupan serat dapat menurunkan kualitas mikrobiota usus yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan metabolik. Kombinasi kondisi tersebut mempercepat terjadinya gangguan metabolisme yang menjadi dasar berkembangnya sindrom metabolik. (21–23)

Strategi Pencegahan yang Realistis dan Berkelanjutan

Menghadapi sindrom metabolik di era sedentari dan transisi nutrisi memerlukan pendekatan yang realistis dan berkelanjutan. Aktivitas fisik teratur, seperti berjalan kaki minimal 30 menit per hari atau total 150 menit aktivitas fisik sedang per minggu, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki profil metabolik. Selain meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi durasi duduk juga penting. Intervensi sederhana seperti berdiri atau berjalan singkat setiap 30–60 menit dapat memberikan manfaat metabolik. (24)

Sementara itu, dari sisi pola makan, upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan sumber serat; membatasi makanan ultra-proses; serta mengurangi asupan gula tambahan dan lemak jenuh. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih efektif dibandingkan perubahan drastis yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.(25)

Penutup

Di era serba instan dengan aktivitas fisik yang semakin berkurang, sindrom metabolik menjadi tantangan kesehatan yang nyata. Meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan metabolik, melakukan skrining secara berkala, serta menerapkan perubahan gaya hidup yang realistis merupakan langkah penting dalam mencegah dampak jangka panjang akibat sindrom metabolik. Menjaga kesehatan metabolik bukan hanya tentang menghindari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup di masa depan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. ​Hayden MR. Overview and New Insights into the Metabolic Syndrome: Risk Factors and Emerging Variables in the Development of Type 2 Diabetes and Cerebrocardiovascular Disease. Medicina (B Aires). 2023 Mar 13;59(3):561.
  2. Fahed G, Aoun L, Bou Zerdan M, Allam S, Bou Zerdan M, Bouferraa Y, et al. Metabolic Syndrome: Updates on Pathophysiology and Management in 2021. Int J Mol Sci [Internet]. 2022 Jan 12;23(2):786. Available from: https://www.mdpi.com/1422-0067/23/2/786
  3. Lee MK, Han K, Kim MK, Koh ES, Kim ES, Nam GE, et al. Changes in metabolic syndrome and its components and the risk of type 2 diabetes: a nationwide cohort study. Sci Rep [Internet]. 2020 Feb 11;10(1):2313. Available from: https://www.nature.com/articles/s41598-020-59203-z
  4. Liu X, Ma C, Yin F, Wang R, Lu Q, Lu N, et al. Performance of Two Novel Obesity Indicators for the Management of Metabolic Syndrome in Young Adults. Front Endocrinol (Lausanne). 2021 Jul 26;12.
  5. Herningtyas EH, Ng TS. Prevalence and distribution of metabolic syndrome and its components among provinces and ethnic groups in Indonesia. BMC Public Health [Internet]. 2019 Dec 3;19(1):377. Available from: https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-019-6711-7
  6. Alberti KGMM, Eckel RH, Grundy SM, Zimmet PZ, Cleeman JI, Donato KA, et al. Harmonizing the Metabolic Syndrome. Circulation [Internet]. 2009 Oct 20;120(16):1640–5. Available from: https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/CIRCULATIONAHA.109.192644
  7. Noubiap JJ, Nansseu JR, Lontchi-Yimagou E, Nkeck JR, Nyaga UF, Ngouo AT, et al. Geographic distribution of metabolic syndrome and its components in the general adult population: A meta-analysis of global data from 28 million individuals. Diabetes Res Clin Pract. 2022 Jun;188:109924.
  8. Chew NWS, Ng CH, Tan DJH, Kong G, Lin C, Chin YH, et al. The global burden of metabolic disease: Data from 2000 to 2019. Cell Metab [Internet]. 2023 Mar;35(3):414-428.e3. Available from: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S1550413123000396
  9. Ranasinghe P, Mathangasinghe Y, Jayawardena R, Hills AP, Misra A. Prevalence and trends of metabolic syndrome among adults in the asia-pacific region: a systematic review. BMC Public Health [Internet]. 2017 Dec 21;17(1):101. Available from: http://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-017-4041-1
  10. Sigit FS, Tahapary DL, Trompet S, Sartono E, Willems van Dijk K, Rosendaal FR, et al. The prevalence of metabolic syndrome and its association with body fat distribution in middle-aged individuals from Indonesia and the Netherlands: a cross-sectional analysis of two population-based studies. Diabetol Metab Syndr. 2020 Dec 7;12(1):2.
  11. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional Riskesdas . Jakarta: Kemenkes RI; 2013.
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI; 2018.
  13. Tim Penyusun SKI dalam Angka 2023. Survey Kesehatan Indonesia (SKI) dalam Angka 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan; 2023.
  14. Tremblay MS, Aubert S, Barnes JD, Saunders TJ, Carson V, Latimer-Cheung AE, et al. Sedentary Behavior Research Network (SBRN) - Terminology Consensus Project process and outcome. Int J Behav Nutr Phys Act [Internet]. 2017 Jun 10;14(1):75. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28599680
  15. Silva FM, Duarte-Mendes P, Teixeira AM, Soares CM, Ferreira JP. The effects of combined exercise training on glucose metabolism and inflammatory markers in sedentary adults: a systematic review and meta-analysis. Sci Rep [Internet]. 2024 Jan 22;14(1):1936. Available from: https://www.nature.com/articles/s41598-024-51832-y
  16. Jiang J, Cai X, Pan Y, Du X, Zhu H, Yang X, et al. Relationship of obesity to adipose tissue insulin resistance. BMJ Open Diabetes Res Care [Internet]. 2020 Apr 2;8(1):e000741. Available from: https://drc.bmj.com/lookup/doi/10.1136/bmjdrc-2019-000741
  17. Tamini S, Bondesan A, Caroli D, Sartorio A. The Lipid Accumulation Product Index (LAP) and the Cardiometabolic Index (CMI) Are Useful for Predicting the Presence and Severity of Metabolic Syndrome in Adult Patients with Obesity. J Clin Med [Internet]. 2024 May 11;13(10):2843. Available from: https://www.mdpi.com/2077-0383/13/10/2843
  18. Nurhasan M, Ariesta DL, Utami MMH, Fahim M, Aprillyana N, Maulana AM, et al. Dietary transitions in Indonesia: the case of urban, rural, and forested areas. Food Secur [Internet]. 2024 Dec 22;16(6):1313–31. Available from: https://link.springer.com/10.1007/s12571-024- 01488-3
  19. Anyanwu OA, Naumova EN, Chomitz VR, Zhang FF, Chui K, Kartasurya MI, et al. The Socio- Ecological Context of the Nutrition Transition in Indonesia: A Qualitative Investigation of Perspectives from Multi-Disciplinary Stakeholders. Nutrients [Internet]. 2022 Dec 21;15(1):25. Available from: https://www.mdpi.com/2072-6643/15/1/25
  20. Rauber F, Chang K, Vamos EP, da Costa Louzada ML, Monteiro CA, Millett C, et al. Ultra- processed food consumption and risk of obesity: a prospective cohort study of UK Biobank. Eur J Nutr [Internet]. 2021 Jun 18;60(4):2169–80. Available from: https://link.springer.com/10.1007/s00394-020-02367-1
  21. Stanhope KL. Sugar consumption, metabolic disease and obesity: The state of the controversy. Crit Rev Clin Lab Sci [Internet]. 2016 Jan 2;53(1):52–67. Available from: http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/10408363.2015.1084990
  22. Shakarami M, Zaman BA, Sedaghat A, Qassem HMA, Zedann YA, Soud NA, et al. Cholesterol to saturated fat index (CSI), metabolic parameters and inflammatory factors among obese individuals. BMC Endocr Disord [Internet]. 2024 Sep 2;24(1):173. Available from: https://bmcendocrdisord.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12902-024-01697-z
  23. Lattimer JM, Haub MD. Effects of Dietary Fiber and Its Components on Metabolic Health. Nutrients [Internet]. 2010 Dec 15;2(12):1266–89. Available from: https://www.mdpi.com/2072-6643/2/12/1266
  24. Chomiuk T, Niezgoda N, Mamcarz A, Śliż D. Physical activity in metabolic syndrome. Front Physiol [Internet]. 2024 Feb 19;15. Available from: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fphys.2024.1365761/full
  25. Castro-Barquero S, Ruiz-León AM, Sierra-Pérez M, Estruch R, Casas R. Dietary Strategies for Metabolic Syndrome: A Comprehensive Review. Nutrients [Internet]. 2020 Sep 29;12(10):2983. Available from: https://www.mdpi.com/2072-6643/12/10/2983
1 Comment
  • inara
    Posted at 07:24h, 23 April Reply

    sangat bermanfaat dan mudah dipahami, terimakasih telah berbagi informasi

Post A Comment