20 Agu Bukan Sekadar Pangan, MBG Bisa Jadi Jalan UMKM Naik Kelas!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan cuma soal isi piring anak-anak sekolah. Lebih dari itu, MBG punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Di balik seporsi makanan bergizi, ada peluang emas untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, hingga dapur komunitas yang siap ikut ambil peran. Yuk, kita lihat bagaimana MBG bisa jadi jalan baru bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas!
Mengapa Program MBG Penting untuk Gizi dan Ekonomi Lokal?
Sejak diumumkan sebagai program unggulan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyita perhatian publik. Tujuan utamanya jelas untuk memastikan anak-anak Indonesia, terutama pelajar dan kelompok rentan, mendapat asupan bergizi setiap hari. (1)
Namun, manfaat MBG ternyata tidak berhenti di meja makan. Studi dalam Journal of Economics Development Research (2025), menyebutkan bahwa selain meningkatkan status gizi anak, MBG juga memberikan multiplier effect terhadap sektor pertanian,UMKM, dan daya beli masyarakat melalui optimalisasi rantai pasok lokal. (2)
Menurut laporan Badan Gizi Nasional (2024) juga bahwa penyelenggaraan MBG menyentuh banyak sektor, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan makanan, distribusi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. (3) Ini artinya, MBG bukan sekadar intervensi gizi, tetapi juga alat strategis membangun kemandirian ekonomi dari level paling dasar. (4)
Ketika UMKM Jadi Motor Penggerak Program MBG di Komunitas
Gambar 1 Paket MBG Selama Bulan Ramadhan (Sumber : Instagram.com/badangizinasional)
1. Dekat dengan Komunitas
UMKM pangan biasanya sudah memiliki jangkauan di wilayah sekitar sekolah atau lingkungan masyarakat. Kedekatan ini membuat mereka lebih cepat dan fleksibel dalam menyuplai makanan sesuai kebutuhan program MBG.
Gambar 2 Menu Makan Bergizi Gratis Bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta (Sumber: Antarfoto.com)
2. Menggunakan Bahan Lokal
Sebagian besar pelaku usaha kecil mengandalkan bahan baku dari petani, pasar tradisional, atau produsen sekitar. Ini mendukung prinsip keberlanjutan sekaligus membantu menggerakkan ekonomi lokal.
3.Peluang Kolaborasi dan Skala Usaha
Melalui kemitraan dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), UMKM bisa terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi. Skema ini membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas usaha secara rutin dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara SPPG, petani, peternak, dan pelaku UMKM menjadi salah satu poin penting dalam penguatan ekonomi lokal melalui MBG. Dalam kunjungannya ke Depok, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut B. Pandjaitan, menekankan bahwa pengadaan bahan baku untuk dapur-dapur MBG sebaiknya dilakukan lewat mitra lokal, bukan hanya dari pasar umum. (3)
Dalam Final Report mengenai Efek Pengganda Program Makan Bergizi Gratis, juga ditegaskan bahwa sebanyak 30% kebutuhan makanan dalam program ini ditargetkan harus disuplai oleh kelompok tani setempat, sebagai langkah mendukung ekonomi lokal sekaligus memastikan ragam gizi tetap terpenuhi. (5)
Skema pembelian ini perlu ditata dengan baik agar rantai pasok berjalan stabil dan berdampak langsung pada peningkatan daya beli petani maupun pelaku usaha kecil di sekitarnya. (3)
Kolaborasi antara SPPG, UMKM, petani, dan pemangku kepentingan lainnya tidak hanya menjamin distribusi MBG yang lancar, tapi juga menghasilkan efek domino ekonomi, seperti:
- Petani mendapatkan kepastian pasar
- UMKM memiliki akses rutin penjualan
- Lapangan kerja baru tercipta di daerah
- Perekonomian desa ikut bergerak
FAO (2020) dalam kajian yang dikutip oleh Basit & Ramadani (2025) menyebut bahwa program makan sekolah yang melibatkan pasokan lokal dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 25% dan menciptakan lapangan kerja baru di daerah. (2)
Tantangan di Lapangan? Ini yang Bisa Dilakukan
Meski menjanjikan, pelaksanaan MBG tentu punya tantangan. Mulai dari pengawasan kualitas gizi, higienitas makanan, hingga tata kelola distribusi yang harus transparan.
Oleh karena itu, pelibatan masyarakat lokal dan UMKM perlu dibarengi dengan pelatihan, standarisasi, dan pendampingan.
Salah satu studi kasus di Tanjungpinang menunjukkan bahwa tantangan logistik dan kondisi sosial ekonomi lokal sangat memengaruhi kelancaran implementasi MBG, terutama di wilayah kepulauan yang aksesnya terbatas. (6)
Dalam Indonesian Journal of Intellectual Publication (2025), juga ditekankan bahwa keberhasilan MBG sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen distribusi serta pelibatan masyarakat lokal dalam pemantauan mutu makanan dan proses logistik. (7)
Beberapa langkah strategis yang bisa diambil seperti:
• Pelatihan gizi dasar dan keamanan pangan untuk UMKM
• Skema pembelian bahan baku dari petani dengan harga adil
• Digitalisasi rantai pasok dan sistem pelaporan
• Insentif untuk UMKM yang konsisten menyuplai MBG
Dengan begitu, MBG bisa menjadi ekosistem gizi sekaligus ekonomi yang saling menguatkan.
Dari Piring Sehat ke Ekonomi Kuat: Saatnya Kita Ambil Peran
Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar proyek intervensi gizi, tapi juga peluang strategis untuk membangun ekonomi lokal yang kokoh dan berdaya saing.
Jika dijalankan secara optimal dan berkelanjutan, program MBG dapat menjadi intervensi lintas sektor yang memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memberdayakan ekonomi lokal secara serempak (2, 8)
UMKM sebagai motor penggerak ekonomi rakyat kini punya peluang konkret untuk naik kelas. Bukan hanya meningkatkan omzet, mereka juga bisa menjadi bagian dari solusi nasional dalam memerangi stunting, kemiskinan pangan, dan ketimpangan gizi.
Kalau kamu pelaku UMKM, penggerak komunitas, atau bahkan hanya ingin mulai kontribusi dari dapur rumahmu, sekarang saatnya bergerak. MBG bukan hanya tentang memberi makan, tapi tentang membangun masa depan yang lebih sehat dan mandiri.
Yuk, tingkatkan kesadaran kita bahwa piring sehat bisa mengubah banyak hal. Mulai dari prestasi anak hingga penghasilan keluarga. Bisa saja dari warung kecilmu hari ini, lahir solusi besar untuk negeri ini.</p>
Editor :Â Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
1. Badan Gizi Nasional. Beranda - Badan Gizi Nasional [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://www.bgn.go.id/
2. Basit M, Ramadani H. Analisis implementasi program Makan Bergizi Gratis terhadap perkembangan ekonomi. Journal of Economics Development Research [Internet]. 2025;1(2):49–54. Available from: https://ejournal.gemacendekia.org/index.php/joeder/article/view/105
3. Badan Gizi Nasional. Kunjungan implementasi MBG di Depok [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://www.bgn.go.id
4. Waluyo SD. Kebijakan Makanan Bergizi Gratis: Tinjauan ekonomi politik dalam kesejahteraan dan ketahanan pangan. Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara [Internet]. 2025;12(1):144–51. Available from: https://jurnal.unigal.ac.id/dinamika/article/download/18223/pdf
5. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Final Report: Efek Pengganda Program Makan Bergizi Gratis (MBG) [Internet]. 2024 Nov [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://indef.or.id/wp-content/uploads/2024/11/Final-Report-Efek-Pengganda-Program-MBG.pdf
6. Nissa AK, Candra M, Humairoh T, Gusyuliandari S. Kebijakan Makanan Bergizi Gratis: Analisis ekonomi politik dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Studi kasus: SMP Negeri 4 Tanjungpinang. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial [Internet]. 2025 Jun;2(11):33-7. Available from: https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/1467/1603
7. Qomarrullah RI, Suratni S, Sawir M. Dampak jangka panjang program Makan Bergizi Gratis terhadap kesehatan dan keberlanjutan pendidikan. Indonesian Journal of Intellectual Publication [Internet]. 2025;5(2):130–7. Available from: https://journal.intelekmadani.org/index.php/ijipublication/article/view/660
8. Albaburrahim A, Putikadyanto APA, Efendi AN, Alatas MA, Romadhon S, Wachidah LR. Program Makan Bergizi Gratis: Analisis kritis transformasi pendidikan Indonesia menuju Generasi Emas 2045. Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial [Internet]. 2025;:767–80. Available from: https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/entita/article/download/19191/4633/
No Comments