09 Des Fortifikasi: Solusi Cerdas untuk Atasi Stunting
Saat ini, banyak anak di Indonesia yang mengalami stunting. Stunting merupakan suatu masalah kesehatan yang berhubungan dengan asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi anak. Jika stunting tidak segera ditangani, hal ini dapat berdampak pada berbagai kegiatan di masa mendatang. Oleh karena itu, diperlukan intervensi untuk menangani stunting, yaitu fortifikasi pangan.
Pengertian Stunting
Stunting merupakan keadaan anak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan gizi, terutama pada masa awal seribu hari hidup yang disebut juga sebagai periode emas kehidupan. (1) Stunting mencerminkan ketidakcukupan asupan gizi yang diterima anak sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. (2) Stunting diketahui apabila tinggi atau panjang badan anak berada di bawah standar pertumbuhan sebesar dua deviasi standar. (3) Balita yang mengalami stunting memiliki tinggi badan yang tidak optimal dan perkembangan otak tidak maksimal dalam aspek kognitif. Dampak stunting dapat berlanjut hingga dewasa, menyebabkan anak kesulitan belajar di sekolah dan pendapatan lebih rendah pada masa dewasa, serta menghambat untuk aktif dalam kehidupan sosial sehingga menurunkan produktivitas pada masa depan. (4,5)
Sebesar 22,3% atau sekitar 141,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami stunting. Hal ini menunjukkan penurunan stunting secara global selama dekade terakhir dengan dampak terbesar terjadi di Asia (53%) dan Afrika (43%). (4) Di benua Asia, Asia Tenggara memiliki masalah dengan stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun dengan prevalensi sebesar 24,7% yang menempati posisi tertinggi kedua setelah Asia Selatan. (6) Di Indonesia, prevalensi stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun, yaitu sebesar 21,5%. (7) Stunting disebabkan oleh asupan yang tidak memadai dari satu atau lebih zat gizi termasuk energi, protein, atau zat gizi mikro seperti iodium, zat besi, seng, dan vitamin D, A atau C. (8) Berdasarkan
data-data tersebut, diperlukan strategi untuk mengatasi masalah stunting, yaitu
dengan fortifikasi pangan untuk meningkatkan nilai gizi dari makanan yang akan dikonsumsi oleh balita.
Pengertian Fortifikasi Pangan
Fortifikasi pangan, yaitu penambahan satu jenis vitamin atau mineral ke dalam pangan yang dikonsumsi sehari-hari agar meningkatkan nilai gizi makanan yang disediakan bagi masyarakat. Umumnya, fortifikasi dilakukan untuk menambahkan zat gizi yang secara alami tidak ada atau yang sedikit jumlahnya ke dalam makanan atau minuman tertentu. Selain itu, fortifikasi dilakukan agar suatu zat gizi yang hilang dalam proses pengolahan makanan atau minuman dikembalikan. Tujuan utama fortifikasi, yaitu membantu anak-anak dan orang dewasa untuk memperoleh asupan gizi yang cukup. (9) Syarat-syarat untuk melakukan fortifikasi, yaitu makanan yang biasanya selalu ada pada setiap rumah tangga dan dikonsumsi terus-menerus oleh masyarakat termasuk masyarakat miskin, diproduksi oleh produsen dalam jumlah yang terbatas, tersedianya teknologi fortifikasi bagi makanan yang dipilih, tidak adanya perubahan warna dan rasa makanan setelah difortifikasi, tetap aman dalam arti tidak membahayakan kesehatan, serta harga makanan yang difortifikasi terjangkau oleh masyarakat, termasuk masyarakat sasaran. (10)
Jenis-jenis Fortifikasi Pangan
Terdapat tiga jenis fortifikasi pangan, yaitu:
- Fortifikasi wajib, yaitu salah satu program pemerintah untuk mengatasi defisiensi zat gizi mikro sehingga memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) dan wajib dilakukan oleh produsen pangan terkait. Produk-produk pangan yang wajib difortifikasi antara lain yodisasi garam (SNI 3356:2016), vitamin A pada minyak goreng sawit (SNI 7709:2019), dan zat besi pada tepung terigu (SNI 3751:2018). (9,11) Fortifikasi makanan pokok seperti tepung, garam, dan minyak goreng dengan zat gizi penting telah terbukti sebagai intervensi yang efektif dan efisien dari segi biaya. (12,13)
- Fortifikasi sukarela, yaitu fortifikasi yang dilakukan atas inisiatif produsen sendiri tanpa diatur oleh undang-undang atau peraturan dan disesuaikan dengan target konsumen yang ingin mereka capai. Tujuannya adalah untuk menambahkan nilai pangan. Misalnya, penambahan vitamin, mineral, senyawa bioaktif pada susu formula bayi dan susu untuk anak-anak, serta penambahan senyawa bioaktif pada pangan fungsional.
- Fortifikasi sasaran khusus, yaitu fortifikasi yang dilakukan pada terhadap masyarakat tertentu, terutama balita, anak-anak, dan situasi khusus. Misalnya, Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk balita dengan penambahan vitamin A, zat besi (Fe), dan seng (Zn) serta fortifikasi rumahan (home fortification) seperti makanan balita dengan “Taburia” atau bubuk vitamin dan mineral yang ditaburkan pada makanan seperti beras untuk anak sekolah, masyarakat miskin, tahanan, dan makanan darurat bencana alam, dan lainnya. (10)
Fortifikasi Pangan untuk Menangani Stunting
- Garam beryodium, yaitu garam konsumsi yang difortifikasi dengan penambahan Kalium Iodat (KIO3) sesuai SNI agar kandungan iodium minimal sebanyak 30 mg/kg. Iodium berperan penting dalam pembentukan hormon tiroksin yang diproduksi oleh kelenjar tiroid yang mendukung proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. Jika anak kekuarangan zat iodium, penurunan 11-13 Intellegence Quotient (IQ) point akan terjadi sehingga prestasi belajar juga akan menurun. (14,15)
- Biskuit daun kelor, yaitu biskuit yang difortifikasi dengan penambahan daun kelor. Daun kelor (dijadikan tepung dalam kondisi kering) bermanfaat sebagai intervensi gizi dengan kandungan protein setara 9 kali protein dalam yoghurt, 15 kali kalium dalam pisang, 25 kali zat besi dalam bayam, 17 kali kalsium dalam susu, 10 kali vitamin A dalam wortel, 1/2 kali vitamin C dalam jeruk. Daun kelor juga mudah diakses serta diperoleh dengan harga yang murah. Suatu studi menyebutkan bahwa biskuit daun kelor untuk balita mengandung tinggi vitamin A, yaitu sebesar 150 RE setiap 1 gram keping biskuit. Vitamin A menjadi faktor utama dalam fungsi penglihatan, regenerasi sel epitel, pertumbuhan dan perkembangan, serta berkurangnya nafsu makan. Jika anak kekurangan vitamin A, anak akan mengalami buta senja, infeksi, perubahan kulit, gangguan pertumbuhan, dan keratinasi sel-sel pada lidah yang menyebabkan nafsu makan anak hilang, serta anemia sehingga anak mengalami penurunan produktivitas. (16)
Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Prawirohartono EP. Stunting: Dari Teori dan Bukti ke Implementasi di Lapangan. Gajah Mada University Press; 2021.
- Par’i HM, Wiyono S, Harjatmo TP. Penilaian Status Gizi. Kemenkes RI; 2017.
- Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak. 2020.
- UNICEF, WHO, WORLD BANK GROUP. Level and Trend in Child Malnutrition [Internet]. 2023. Tersedia pada: https://www.who.int/publications/i/item/9789240073791
- Pertiwi ANAM, Hendrati LY. Literature Review: Analysis of the Causes of Stunting in Toddlers in East Java Province: Literature Review: Analisis Penyebab Kejadian Stunting pada Balita di Provinsi Jawa Timur. Amerta Nutr. 2023;7(2):320–7.
- Global Nutrition Report. Country Nutrition Profiles. 2020.
- Kemenkes RI. Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI). 2023.
- Mamoriska S, Hidayat MG, Magda CG, Yuliarti A, Cahyaningsih E, Mar E, et al. Characterization of Nutrient Contents, Sensories, and Production Cost of Fortified Rice (Fortivit) and Biofortified Rice (Inpari Nutri Zinc). Pangan Media Komun dan Inf [Internet]. 2022;31(2):95–112. Tersedia pada: https://www.jurnalpangan.com/index.php/pangan/article/view/583/458
- Sandryas Alief K, Aji AA. Efektivitas Fortifikasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Peningkatan Nutrisi dan Kelayakan Usaha Produk Tempe di Kabupaten Banyuwangi. J Javanica. 2023;2(1):21–8.
- Fadilah A. Efektivitas Fortifikasi Zat Besi pada Tepung Terigu Untuk Menanggulangi Anemia: Systematic Review [Internet]. Universitas Hasanuddin; 2022. Tersedia pada: https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/18253/
- Divania A. Pengaruh Makanan Fortifikasi Terhadap Kasus Stunting Anak. Kartika J Stud Keislam. 2023;3(1):54–60.
- Kaur N, Agarwal A, Sabharwal M. Food fortification strategies to deliver nutrients for the management of iron deficiency anaemia. Curr Res Food Sci [Internet]. 2022;5:2094–107. Tersedia pada: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2665927122001903
- Ashraf SA. Food fortification as a sustainable global strategy to mitigate micronutrient deficiencies and improve public health. Discov Food. 2025;5(1).
- Saputri RA, Tumangger J. Hulu-hilir Penanggulangan Stunting di Indonesia. J Polit Issues. 2019;1(1):1–9.
- Hayati, Savitri L. Kajian Fortifikasi Garam Beryodium Yang Beredar Di Kabupaten Siak Riau. SITAWA J Farm Sains dan Obat Tradis. 2024;3(1):75–88.
- Velayati JM, Anindita AM, Sholeha EM, Sayekti T. Inovasi Biskuit Fortifikasi Daun Kelor sebagai Alternatif Camilan Penyedia Vitamin A Guna Mendukung Suplementasi Gizi Anak Indonesia. J Tadris IPA Indones. 2023;3(2):114–25.
No Comments