Menjaga Mental Sehat Lewat Makan Sehat pada Gen Z

Menjaga Mental Sehat Lewat Makan Sehat pada Gen Z

Bagikan

Generasi Z saat ini berada di persimpangan tantangan mental yang kompleks, yang dipicu oleh tekanan hidup modern, konsumsi berita berlebihan mengenai isu-isu global (seperti konflik dan krisis iklim), hingga paparan makanan serba cepat. Sebuah studi global yang dipimpin oleh UNICEF menemukan bahwa 6 dari 10 Gen Z merasa terbebani oleh derasnya arus berita. Namun, di tengah tekanan eksternal ini, strategi makan sehat muncul sebagai kunci bertahan hidup untuk menjaga kesehatan mental. Gangguan ini memicu peradangan kronis tingkat rendah yang kemudian dihubungkan erat dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Maka dari itu memilih makanan bergizi bukan hanya sekedar pilihan gaya hidup, melainkan menjadi sebuah kebutuhan strategis untuk membangun ketahanan mental dalam menghadapi ketidakpastian di era digital..

Generasi Z menunjukkan minat dan kesadaran yang baik terhadap kesehatan dan kesejahteraan, memprioritaskan makanan segar, alami, organik, dan juga yang berkelanjutan. Pengambilan keputusan kesehatan mereka menjadi sebuah proses kognitif yang kompleks, dipengaruhi oleh manfaat yang dirasakan, gaya hidup sehat, serta informasi pengetahuan yang disampaikan, serta kepuasan dari seseorang. Pengetahuan ini ditingkatkan oleh cepat dan beragamnya berbagai sumber informasi, sementara persepsi yang positif terhadap makanan sehat berkorelasi dengan kepuasan diri.

Di sisi lain, gaya hidup Gen Z mendorong mereka untuk lebih sering mengkonsumsi camilan dan makanan kecil daripada pola tiga kali makan utama. Meskipun kesadaran akan camilan sehat lebih tinggi, terutama pada kelompok mahasiswa, pola snacking mereka cenderung ditandai dengan konsumsi makanan berenergi tinggi dan bernilai gizi rendah (tinggi gula, garam), terutama pada saat stres belajar atau kurang waktu tidur. Tren konsumsi camilan tidak sehat ini terbukti berdampak negatif pada kesehatan (seperti diabetes dan obesitas), bahkan meningkat sejak pandemi. Kondisi ini diperburuk oleh paparan media sosial dan platform food delivery, di mana influencer atau selebritas turut membentuk kebiasaan makan mereka.

Dengan demikian saran untuk pentingnya sayur dan buah bagi remaja sering kali diabaikan, padahal konsumsi masyarakat Indonesia masih jauh di bawah batas anjuran, mengancam proses pertumbuhan dan pencegahan penyakit kronis. Padahal, memasukkan sayur dan buah secara rutin ke dalam pola makan adalah investasi jangka panjang. Kandungan antioksidan yang diberikan terbukti meningkatkan daya ingat dengan melindungi sel otak, sementara kombinasi vitamin dan enzimnya membuat tubuh lebih segar dengan mendukung produksi energi. Selain itu, seratnya menjamin metabolisme dan buang air besar lancar, dan secara kolektif, nutrisi ini memperkuat pertahanan tubuh melawan kanker, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Kementerian Kesehatan melalui GERMAS menganjurkan porsi yang spesifik: sayur 3–4 porsi/hari dan buah 2–3 porsi/hari, dengan porsi sayur yang lebih dominan mengingat potensi gula tinggi pada buah. Untuk mencapai manfaat maksimal, remaja disarankan untuk mengonsumsi variasi warna dan jenis—seperti sayuran hijau, alpukat (lemak baik), atau buah berwarna pekat—memastikan tubuh menerima spektrum penuh dari Vitamin C, serat, kalsium, dan antioksidan. Oleh karena itu, edukasi yang menarik dan berkelanjutan sangatlah krusial agar konsumsi sayur dan buah menjadi kebiasaan integral dalam gaya hidup remaja.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. UNICEF. 2025. Mental health study shows Gen Z overwhelmed but undeterred by unrelenting global crises. Diakses dari https://www.unicef.org/partnerships/mental-health-study-shows-gen-z-overwh elmed-undeterred-unrelenting-global-crises
  2. KEMENKES INDONESIA. 2017. Hari Gizi Nasional 2017: Ayo Makan Sayur dan Buah Setiap Hari. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/hari-gizi-nasional-2017-ayo-makan-sayur-dan-buah-setiap-hari
  3. Meyerding, S. G., & Ahrens, S. (2024). Generation Z's perception of food healthiness: The case of Kellogg's cereals–A qualitative study in Germany and Ireland. Cleaner and Responsible Consumption, 14, 100218.
No Comments

Post A Comment