Dekat, Sehat, Hemat: Tiga Alasan Cinta Pangan Lokal

Dekat, Sehat, Hemat: Tiga Alasan Cinta Pangan Lokal

Bagikan

Pernah nggak sih, belanja di pasar dan menemukan bahan yang lezat, murah, tapi jarang dilirik? Terkadang kita terlalu sibuk mengejar tren makanan dari luar negeri atau bahan- bahan impor, sementara di sekitar kita ada banyak pangan lokal yang tak kalah hebat—baik dari segi rasa, gizi, maupun manfaat jangka panjangnya. Pangan lokal sering dianggap “biasa”, padahal justru menyimpan potensi luar biasa. Dari mendukung ekonomi lokal sampai menjaga kesehatan dan kelestarian bumi, inilah tiga alasan kenapa kita perlu lebih mencintai pangan dari tanah sendiri.

Dekat: Ramah Lingkungan dan Mudah Diakses

FOTO ARTIKEL WEBSITE-81

Pangan lokal dipanen dekat tempat tinggal kita, sehingga mengurangi jarak tempuh dan emisi karbon dari transportasi. Transportasi menyumbang sekitar 19% dari total emisi sistem pangan dunia, dan bahkan untuk sayur-buah, emisi pengirimannya bahkan bisa dua kali lebih besar dibandingkan proses produksinya—angka yang tentu tidak bisa dianggap kecil. Dengan memilih pangan lokal, kita bisa menurunkan emisi tersebut. (1) Membeli pangan lokal langsung dari pasar tradisional atau petani sekitar dapat menguatkan perekonomian daerah dan membantu petani bertahan di tengah persaingan pangan impor. Banyak petani lokal menerapkan metode pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sistem pertanian industri skala besar. Praktik-praktik ini mencakup rotasi tanaman, penggunaan pupuk organik, serta pengelolaan air yang efisien. Seluruh praktik ini berkontribusi pada penurunan emisi. (2,3)

Sehat: Kandungan Gizi Pangan Lokal

Banyak pangan lokal yang kaya zat gizi dan kadang lebih unggul dibanding bahan impor. Berikut ringkasan kandungan gizi dan manfaatnya.

  1. Jagung: Jagung kaya akan serat sehingga dapat mencegah sembelit. (4)
  2. Singkong: Singkong memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes. Singkong juga tidak mengandung gluten, sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita autisme.
  3. Talas: Talas mengandung serat yang bagus untuk pencernaan, tekanan darah, dan jantung.
  4. Kentang: Kentang mengandung antioksidan dan serat yang tinggi untuk menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan jantung.
  5. Pisang: Pisang kaya akan vitamin A, vitamin C, kalsium, serta fosfor sehingga dapat mencegah luka lambung dan kanker usus, menurunkan kolesterol, serta menjaga kesehatan jantung.
  6. Sagu: Sagu memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes.
  7. Ubi Jalar: Ubi jalar mengandung vitamin C, vitamin B, dan fosfor yang ampuh untuk melawan infeksi. Ubi jalar juga dianjurkan untuk ibu hamil.
  8. Labu Kuning: Labu kuning memiliki kandungan vitamin A dan serat yang tinggi yang bagus untuk kesehatan mata, antioksidan, dan pencernaan. (5)
  9. Daun Kelor: Daun kelor kaya akan vitamin C dan kalium. Daun kelor dapat melancarkan ASI, mengatasi anemia, memperkuat daya tahan tubuh, dan menjaga kesehatan kulit. (6)
  10. Ikan Kembung: Ikan kembung mengandung omega-3 yang bahkan 1,5 kali lebih tinggi dari ikan salmon. Omega-3 bermanfaat untuk kecerdasan otak. (7,8)

Hemat: Murah di Kantong, Kaya Manfaat

Harga pangan lokal cenderung lebih stabil dan terjangkau karena tidak melewati rantai impor. (9) Saat harga bahan impor melonjak, alternatif pangan lokal dapat menjadi penyelamat dompet tanpa mengorbankan gizi. Berikut inspirasi menu hemat dan bergizi:

1. Kolak Pisang Kacang Hijau

Bahan:

  1. 250 g kacang hijau
  2. 6 buah pisang (kepok/raja/sesuai selera), potong-potong
  3. 12000 ml air
  4. 9 sdm gula pasir/sesuai selera
  5. 800 ml santan dengan kekentalan sedang
  6. 2 lembar daun pandan simpulkan
  7. 1⁄2 sdt garam

Cara Membuat:

FOTO ARTIKEL WEBSITE-82
  1. Cuci kacang hijau, kemudian rendam minimal 2 jam. Setelah direndam, cuci lagi sampai bersih.
  2. Masak kacang hijau di air mendidih hingga matang/biji empuk dan air menyusut.
  3. Setelah kacang hijau matang, masukkan pisang dan daun pandan. Tutup sebentar dan biarkan sampai pisang setengah matang.
  4. Tambahkan gula, garam, dan santan. Masak kolak sampai mendidih dan aduk sesekali supaya santan tidak pecah.
  5. Cek rasa dan hidangan siap disajikan. (10)
2. Telur Dadar Daun Kelor

Porsi: 8 porsi Bahan:

  1. 2 genggam daun kelor
  2. 4 butir telur ayam
  3. 1⁄2 buah bawang bombay
  4. 1 genggam wortel iris
  5. 2 siung bawang putih
  6. 1 batang daun bawang
  7. 1 sdt garam
  8. 3 sdm minyak

Cara Membuat:

  1. Siapkan semua bahan, potong-potong tipis semua sayur dan bawang. Cuci bersih daun kelor, tiriskan.
  2. Kocok telur dalam wadah. Masukkan semua sayur, bawang, dan daun kelor.
  3. Beri garam, aduk hingga rata. Siapkan wajan/teflon, beri minyak.
  4. Tuang telur dalam wajan/teflon, ratakan sesuai ukuran. Masak hingga kuning kecokelatan dengan api sedang, di balik kemudian angkat dan sajikan. (11)
3. Aunu Senebre

Bahan:

  1. 100 g ikan teri nasi, goreng sebentar
  2. 100 g kelapa parut kasar
  3. 1 batang daun talas dan batangnya, iris
  4. 1⁄4 sdt garam

Cara Membuat:

  1. Daun talas dan batangnya direbus sampai matang. Angkat, tiriskan.
  2. Campurkan ikan teri nasi, daun talas dan batangnya, kelapa parut kasar, serta garam. Aduk rata.
  3. Kukus selama 30 menit dengan api sedang sampai matang.
  4. Sajikan dengan papeda atau umbi-umbian kukus. (12)

Tiga alasan cukup untuk jatuh cinta pangan lokal: dekat, sehat, dan hemat. Makan sehat tak harus mahal dan peduli bumi tak harus ribet. Yuk, kenali, cintai, dan biasakan konsumsi pangan dari tanah sendiri!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Li M, Jia N, Lenzen M, Malik A, Wei L, Jin Y, et al. Global Food-Miles Account for Nearly 20% of Total Food-Systems Emissions. Nature Food. 2022;3(6):445–53.
  2. Naked Farmer. Why Locally-Sourced Food Matters [Internet]. [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://www.eatnakedfarmer.com/stories/why-locally-sourced-food-matters?
  3. Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia. Menyelamatkan Bumi dengan Pangan Lokal: Kontribusi Menu Makanan Sehari-hari dalam Pengurangan Emisi - Relung Indonesia [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://relungindonesia.org/2024/08/menyelamatkan-bumi-dengan-pangan-lokal- kontribusi-menu-makanan-sehari-hari-dalam-pengurangan-emisi/
  4. Badan Pangan Nasional. Kenyang Gak Harus Nasi, Ini Dia Penggantinya [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://badanpangan.go.id/blog/post/kenyang-gak-harus-nasi-ini-dia- penggantinya
  5. Balai Pengujian Standar Instrumen Lingkungan Pertanian. Makanan Pokok Pengganti dari Nusantara [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://lingkungan.bsip.pertanian.go.id/berita/makanan-pokok-pengganti-dari-nusantara
  6. Alodokter. 9 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan - Alodokter [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  7. Rokom. Sumber Protein Bukan Hanya Susu [Internet]. Sehat Negeriku. 2018 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180329/3825391/sumber- protein-bukan-susu/
  8. Universitas Gadjah Mada. Konsumsi Ikan Tingkatkan Kecerdasan Otak [Internet]. 2017 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://ugm.ac.id/id/berita/15246-konsumsi-ikan-tingkatkan-kecerdasan-otak/
  9. Desa Kuripan Kidul Kab. Cilacap. Pasar Lokal: Pilar Ketahanan Pangan Desa [Internet]. 2025 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://kuripankidul.desa.id/pasar-lokal-pilar-ketahanan-pangan-desa/
  10. Anjar A. Resep Kolak Pisang & Kacang hijau [Internet]. Cookpad. [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://cookpad.com/id/resep/2950973-kolak-pisang-kacang-hijau
  11. Prantoro A. Resep Telur Dadar Daun Kelor [Internet]. Cookpad. 2020 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://cookpad.com/id/resep/13080461-telur-dadar-daun-kelor?via=search&
  12. Fahmisa U, Pramesthi IL, Kusuma S, Rahmawati. Katalog Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal bagi 50 Kabupaten Prioritas Stunting di Indonesia. Cetakan Pe. Jakarta: Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON); 2021.
No Comments

Post A Comment