Tren Makanan Ultra-Proses di Kalangan Anak dan Remaja: Waktunya Intervensi?

Tren Makanan Ultra-Proses di Kalangan Anak dan Remaja: Waktunya Intervensi?

Bagikan

Bayangkan anak sekolah pulang dengan tas berat, tapi di tangannya ada ciki, sosis siap makan, atau bubble tea. Ini bukan kebetulan, tapi gambaran nyata tren makanan ultra-proses yang makin akrab di kalangan anak dan remaja Indonesia.

Apa itu UPF?

Makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) adalah produk hasil industri yang telah melalui berbagai tahap pengolahan dan mengandung bahan tambahan seperti pewarna, pengawet, pemanis buatan, dan emulsifier.

Contohnya termasuk mie instan, biskuit, minuman bersoda, hingga nugget dan sosis siap saji. Produk-produk ini dirancang agar bisa tahan lama dan menggugah selera, namun kurang padat akan zat gizi (1).

Berbeda dengan makanan segar atau minim olahan seperti ikan, daging ayam segar, atau sayuran beku yang bisa diolah secara sederhana di dapur rumah, UPF umumnya diproduksi melalui proses industri kompleks dan mengandung banyak zat tambahan sintetis. Makanan ini cenderung rendah zat gizi namun tinggi kalori, sehingga sering disebut “kalori kosong”.

Mengapa Anak dan Remaja Jadi Sasaran Pasar?

Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 45% dari total asupan kalori masyarakat Indonesia berasal dari makanan ultra-proses, dengan tingkat konsumsi yang cenderung lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja. (3)

Kemudahan akses, rasa yang gurih, harga terjangkau, serta promosi agresif di media sosial menjadikan anak dan remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap konsumsi makanan ultra-proses (UPF).

Hal ini didukung oleh studi dalam Jurnal Gizi Dietetik, bahwa konsumsi makanan-makanan tersebut secara rutin, dipengaruhi oleh intensitas tinggi penggunaan media sosial dan besaran uang saku harian.Temuan ini menyoroti bahwa kemudahan informasi dan daya beli memberikan ruang besar bagi anak untuk membeli makanan cepat saji di sekitar sekolah. (2)

Ini menandakan bahwa preferensi makanan tinggi lemak dan rendah serat telah terbentuk sejak dini, bahkan sebelum masa remaja. Hal tersebut tentu akan berkontribusi dalam membentuk pola makan jangka panjang yang buruk, cenderung tinggi gula dan lemak, serta rendah serat dan zat gizi mikro lainnya. (4,5)

Dampak Konsumsi UPF Bagi Kesehatan

WHO menyebutkan bahwa konsumsi UPF dikaitkan dengan risiko kelebihan berat badan hingga 16% lebih besar. (6) Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dua kali seminggu memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi mengalami obesitas. (4)

Tidak hanya itu, tingginya kandungan gula, garam, lemak, dan bahan aditif lainnya pada UPF dapat berlanjut pada risiko penyakit-penyakit degeneratif. Misalnya hipertensi, diabetes tipe 2, dislipidemia, hingga gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular. Termasuk berperan dalam perubahan mikrobiota usus, inflamasi kronis, dan gangguan penyerapan zat gizi. (5,7)

Fortifikasi yang dilakukan pada produk UPF juga dianggap belum cukup untuk menutupi defisit zat gizi mikro, seperti zat besi dan vitamin A. Hal ini tentu berdampak serius, terutama bagi anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Rendahnya pengetahuan dan kurangnya pengawasan lingkungan sekolah pun turut memperparah situasi ini.

Dampak konsumsi UPF tidak hanya muncul dalam jangka panjang, tetapi juga memengaruhi konsentrasi, energi, dan performa belajar harian anak. Kandungan gula dan lemak tinggi dapat menyebabkan fluktuasi energi yang ekstrem, yang berujung pada kelelahan dan sulit fokus di sekolah.

Kenapa Intervensi Perlu Segera Dilakukan?

Tingginya konsumsi UPF bukan hanya soal preferensi rasa. Dari kandungannya yang banyak mengandung bahan hasil ekstraksi makanan dan aditif, menunjukkan bahwa tujuan utama produk ini bukan lagi pemenuhan gizi. Akan tetapi, lebih kepada efisiensi biaya dan daya simpan yang panjang. (5)

Melihat berbagai dampak yang ditimbulkan, harusnya menjadi sinyal kuat untuk dilakukannya penguatan regulasi terhadap pemasaran makanan ultra-proses, terutama yang menyasar anak-anak. Tren makanan ultra-proses di kalangan anak dan remaja adalah tantangan serius yang membutuhkan aksi nyata. Tanpa intervensi, risiko gangguan kesehatan di masa depan akan meningkat.

Beberapa negara di Amerika dan Eropa juga telah menerapkan pelabelan gizi yang tegas dan pembatasan iklan UPF untuk anak. Hasilnya, konsumsi produk tinggi gula dan lemak berhasil ditekan, menjadi bukti bahwa regulasi yang kuat bisa mengubah kebiasaan makan masyarakat.

Peran Keluarga dan Sekolah Tidak Kalah Penting

Pemerintah memang memegang peran penting. Namun, perubahan pola makan tidak bisa terjadi tanpa dukungan orang tua dan sekolah, yang banyak bersentuhan langsung dengan anak. Edukasi gizi sejak dini harus dimulai dari rumah, diperkuat oleh kurikulum sekolah, dan ditunjang oleh lingkungan yang mendukung konsumsi makanan sehat. (8)

Langkah kecil seperti membiasakan anak membawa bekal, mengurangi jajanan kemasan, dan mengenalkan makanan segar bisa berdampak besar dalam jangka panjang. Intervensi lain juga dibutuhkan, seperti pelabelan gizi yang jelas, edukasi gizi berbasis sekolah, serta penguatan program seperti PJAS (Pangan Jajanan Anak Sekolah) dan kantin sehat sebagai upaya preventif di lingkungan pendidikan.

Kini saatnya kita bergerak. Edukasi, regulasi, dan kolaborasi semua pihak dibutuhkan untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat. Mari mulai dari langkah kecil, pilih makanan segar, kurangi kemasan, dan ajak anak mengenal makanan alami.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Monteiro, C. A., Cannon, G., Moubarac, J. C., Levy, R. B., Louzada, M. L. C., & Jaime, P. C. Ultra-processed foods: what they are and how to identify them. Public Health Nutrition [Internet]. 2019;22(5):936–41. Available from: https://doi.org/10.1017/S1368980018003762
  2. Suci SE, Putri IE, Fazriah H. Hubungan enabling dan predisposing pola konsumsi fast food pada remaja usia 16–18 tahun di SMAN 6 Kabupaten Tangerang. J Gizi Dietetik [Internet]. 2024 Jun;3(2):140–146. Available from: https://doi.org/10.25182/jigd.2024.3.2.140-146
  3. Diba F. Makanan ultra-proses, inovasi dalam industri makanan modern. Ibnu Sina J Kedokt dan Kesehat [Internet]. 2025;24(1):191. Available from:https://doi.org/10.30743/ibnusina.v24i1.798
  4. Hartian SN, Harahap MH. Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap kebiasaan konsumsi fast food pada siswa SDN 70 Kota Pekanbaru. JKEMS [Internet]. 2023 Jul;1(2):7–17. Available from: https://rumahjurnal.or.id/index.php/jkems/article/view/493
  5. Faza F, Bafani UFF, Fikha II. Ultra-processed food can be a mediator between food security status and overweight or obesity among adults: A literature review. Amerta Nutr [Internet]. 2023;7(1):161–174. Available from: https://doi.org/10.20473/amnt.v7i1.2023.161-174
  6. International Agency for Research on Cancer. Consumption of ultra-processed foods associated with weight gain and obesity in adults: a multi-national cohort study. 2024 [cited 2025 May 19]. Available from: https://www.iarc.who.int/news- events/consumption-of-ultra-processed-foods-associated-with-weight-gain- and-obesity-in-adults-a-multi-national-cohort-study/
  7. BMJ. Ultra-processed foods and cardiometabolic health: public health policies to reduce consumption cannot wait [Internet]. 2023 [cited 2025 May 19]. Available from: https://www.bmj.com/content/383/bmj-2023-075294
No Comments

Post A Comment