Pentingnya Mengatur Pola Makan dan Aktivitas Fisik untuk Cegah Diabetes pada Anak

Pentingnya Mengatur Pola Makan dan Aktivitas Fisik untuk Cegah Diabetes pada Anak

Bagikan

Baru-baru ini, kasus MODY (Maturity-onset Diabetes of the Young) atau yang lebih dikenal dengan diabetes tipe 5, mulai mencuri perhatian masyarakat. MODY adalah jenis diabetes yang disebabkan oleh mutasi gen yang mengakibatkan produksi insulin di sel beta pankreas terganggu. Diabetes tipe 5 dapat terjadi sebelum seseorang berusia 25 tahun,(1) sehingga dapat menyerang anak-anak dan remaja.

Kasus Diabetes pada Anak di Indonesia

diabetes anak

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa 1.645 anak tercatat mengidap diabetes per Januari 2023. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan kasus sebesar 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010.(2) Selain dapat mengganggu tumbuh kembang anak, diabetes juga dapat memunculkan komplikasi penyakit lain, seperti kehilangan pengelihatan, penyakit jantung, dan stroke.(3)

Selain MODY, terdapat 2 jenis diabetes lainnya yang bisa dialami oleh anak-anak, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 merupakan kondisi gangguan keseimbangan glukosa darah akibat proses autoimun yang menyebabkan rusaknya sel beta pankreas sebagai produsen hormon insulin. Sementara itu, pada diabetes tipe 2, terjadi sebuah kondisi dimana gula darah tidak dapat masuk ke sel tubuh karena resistensi insulin. Faktor risiko terjadinya diabetes antara lain kelebihan berat badan atau obesitas dan riwayat diabetes keluarga.(3)

Oleh karena itu, pencegahan diabetes perlu dilakukan sejak dini terutama di tingkat keluarga. Apabila anak di usia sekolah mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, orang tua perlu memberikan suasana yang mendukung anak untuk dapat menurunkan berat badan guna mencegah diabetes, Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membatasi asupan kalori dan meningkatkan aktivitas fisik.

Membatasi Asupan Kalori

Usahakan untuk menyediakan makanan bergizi seimbang dengan menambahkan sayur dan buah sebagai sumber serat, serta memadukan protein hewani dan protein nabati. Selain dapat memenuhi kebutuhan serat, pola makan seperti ini dapat menghindarkan anak-anak dari makanan tinggi lemak jenuh dan makanan olahan (ultra-processed foods),(4) serta makanan dan minuman berpemanis yang tinggi kalori.

Gula memang secara alami terdapat dalam makanan, seperti pada buah-buahan dan susu. Namun, tidak jarang, dalam pengolahan makanan, gula ditambahkan untuk meningkatkan atau memperbaiki cita rasa. Hal ini masih diperbolehkan, asalkan penambahan gula pada makanan maupun minuman tidak melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan.

ESPGHAN (The European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition) telah mengeluarkan rekomendasi batasan asupan gula harian untuk anak-anak dan remaja, sebagai berikut:(5)
1) Usia 2-4 tahun: 15-16 gram atau setara dengan 4 sendok teh gula
2) Usia 4-7 tahun: <20 gram atau maksimal 5 sendok teh gula
3) Usia 7-10 tahun: <23 gram atau maksimal 5 1⁄2 sendok teh gula
4) Usia 10-13 tahun: 24-27 gram atau setara dengan 6 1⁄2 sendok teh gula
5) Usia 13-15 tahun: <32 gram atau maksimal 8 sendok teh gula
6) Usia 15-19 tahun: 28-37 gram atau setara dengan 9 sendok teh gula

Asupan gula yang dimaksud bukan hanya gula pasir, tetapi juga gula tersembunyi yang terkandung dalam makanan dan minuman kemasan. Selalu cek komposisi dan nilai gizi pada kemasan makanan dan minuman sebelum membeli. Pastikan bahwa gula tidak tertulis di urutan pertama dalam komposisi bahan makanan. Penting juga melihat kandungan gula pada tabel nilai gizi yang tertera pada kemasan agar tidak melebihi rekomendasi asupan gula harian.

Meningkatkan Aktivitas Fisik

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7543635287138651445"}}

Peningkatan aktivitas fisik juga merupakan faktor penting dalam pencegahan diabetes pada anak dan remaja. Namun, meningkatkan aktivitas fisik pada anak usia sekolah ternyata memiliki tantangan tersendiri. Dengan semakin berkembangnya teknologi, aktivitas sedenter menjadi lebih populer. Aktivitas seperti menonton televisi / video dan bermain game melalui komputer, laptop, ataupun ponsel,(6) sudah menjadi rutinitas anak-anak dan remaja.

Untuk menghadapi tantangan ini, orang tua perlu menciptakan suasana yang mendukung agar anak-anak bisa bergerak aktif sesuai anjuran, yaitu melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit per hari 5 kali dalam seminggu.(3) Berkebun atau berolahraga bersama keluarga dapat menjadi cara yang efektif. Selain dapat meningkatkan aktivitas fisik, kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi quality time antara anak dan orang tua. Cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong anak untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti basket, latihan baris-berbaris, dan lain-lain.

Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Susanto, JP. Maturity-onset Diabetes of the Young (MODY).CDK-223.2014;41(12):892-895.
  2. Linda Hasibuan. Kasus Diabetes Anak Meningkat 70 Kali Lipat, Kenali Gejalanya {Internet}.
    CNBC Indonesia. 2023 {cited 2025 May 12}. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230202091237-33-410301/kasus-diabetes-anak-meningkat-70-kali-lipat-kenali-gejalanya
  3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diabetes Overview {Internet}. National Institute of Health. 2016 {cited 2025 May 18}. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview
  4. Bansal, S., et al. Imapct of Whole-Foods, Plant-Based Nutrition Intervention on Patients Living with Chronic Disease in an Undeserver Community. American Journal of Lifestyle Medicine. 2022;16(3):382-389.
  5. ESPGHAN Commitee on Nutrition. Sugar in Infants, Children, and Adolescents: A Position Paper of The European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition Commitee on Nutrition. JPGN. 2017;65(6):681-696.
  6. Mayarestya NP, Pamungkasari EP,Prasetya H. Meta-Analysis the Effect of Screen Time on the Riskof Overweight in Children and Adolescents in Asia. J Health Promot Behav. 2021;06(03): 201-211. https://doi.org/10.26911/thejhpb.2021.06.03.04.
No Comments

Post A Comment