Pernahkah kamu berpikir bahwa makanan pilihanmu juga bisa menentukan keberlanjutan bumi yang sehat? Di balik sepiring makanan, tersimpan makna dan pengaruh besar, bukan hanya untuk menjaga tubuh tetap sehat, tetapi juga untuk menjaga kelestarian lingkungan. Di tengah krisis iklim global, semakin banyak orang mulai menyadari bahwa pola makan yang sehat dan berkelanjutan bisa dimulai dari langkah sederhana, yakni memilih pangan lokal yang bergizi.

Pangan Lokal Kaya Akan Kandungan Zat Gizi

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584468645644979463"}}

Sebagai negara dengan kekayaan hayati yang melimpah, Indonesia menghasilkan beraneka ragam pangan lokal bergizi yang tersebar di berbagai pulau. Contohnya, tempe yang tinggi protein dan probiotik, daun kelor yang kaya zat besi dan vitamin C, serta ubi ungu yang tinggi antioksidan. Bahan-bahan ini juga murah, mudah dijangkau, dan ramah lingkungan.

Pangan lokal sering kali lebih bergizi karena kesegarannya, adaptasi dengan lingkungan lokal, serta minim proses pengolahan. Banyak tanaman pangan seperti sukun, jagung, atau bayam tumbuh optimal di tanah dan iklim setempat, yang membuatnya lebih efisien dan padat gizi. (3)

Pangan Lokal Rendah Jejak Karbon

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584469937889021191"}}

Pangan lokal adalah bahan makanan yang diproduksi di daerah sekitar tempat tinggal kita, tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Misalnya singkong, tempe, ikan air tawar, sayur bayam, dan aneka buah musiman. Bahan pangan ini tidak hanya kaya kandungan zat gizi, tetapi juga memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan dengan makanan impor. Hal ini karena distribusinya tidak memerlukan transportasi jarak jauh dan pendinginan khusus, yang umumnya menyumbang emisi karbon besar.

Menurut laporan Food and Agriculture Organization (2024), sekitar sepertiga emisi gas rumah kaca berasal dari sistem agrifood global, termasuk proses produksi hingga pembuangan pangan. (1) Studi dari Korea juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan lokal dapat membantu mengurangi emisi karbon hingga lebih dari 2,4 juta ton CO2 per tahun. (2)

Kuatkan Ketahanan Pangan dan Perekonomian Lokal

Dengan memprioritaskan pangan lokal, kita turut memperkuat ekonomi petani kecil dan UMKM lokal. Konsumsi pangan lokal berarti meminimalkan ketergantungan pada impor dan menjaga ketahanan pangan nasional. Bahkan, studi dari Community Development menyebutkan bahwa sistem pangan lokal berpotensi membuka lebih banyak lapangan kerja. (4)

Penelitian lain juga menemukan bahwa petani yang menjual produknya langsung ke pasar lokal bisa meningkatkan pendapatan hingga 30%, dibandingkan melalui rantai distribusi yang panjang. (5) Artinya, semakin kita memilih produk dari pasar tradisional atau UMKM pangan lokal, semakin kuat pula ekonomi masyarakat sekitar.

Tantangan dalam Konsumsi Pangan Lokal

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pangan lokal sebagai makanan “kelas dua” atau kurang modern. Ditambah lagi, kampanye konsumsi makanan kekinian dari luar negeri sering kali lebih menarik di mata anak muda. Edukasi gizi yang terbatas dan gaya hidup instan menjadi tantangan tersendiri untuk mempopulerkan pangan lokal.

Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan pangan lokal dalam bentuk yang menarik, misalnya lewat resep kekinian, kemasan yang modern, atau melalui media sosial yang menyasar generasi muda.

Waktunya Beralih: Konsumsi Cerdas demi Masa Depan Berkelanjutan

Mulailah dari langkah kecil, seperti belanja di pasar tradisional, mencoba resep lokal, dan mengurangi konsumsi makanan impor berjejak karbon tinggi. Ajak keluarga untuk mencoba bahan pangan lokal yang belum dikenal, dan dukung UMKM pangan lokal di daerahmu. Pilihan sederhana ini bisa membawa dampak besar, baik bagi kesehatan, perekonomian petani, dan kelestarian lingkungan.

Dengan memilih pangan lokal, kita bukan hanya mengisi perut, tetapi juga merawat lingkungan dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Untuk contoh nyata, bayangkan menu harian seperti: sarapan nasi jagung dengan telur dadar dan daun kelor, makan siang pepes ikan nila dan lalapan, serta camilan sore ubi kukus dan teh serai. Gizi tercukupi, bumi pun tetap lestari. Yuk, jadikan setiap suapan itu berarti!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Greenhouse gas emissions from agrifood systems. Global, regional and country trends, 2000–2022. 2024 [cited 2025 April 20]. Available from: https://www.fao.org/statistics/highlights-archive/highlights-detail/greenhouse-gas-emissions-from-agrifood-systems.-global--regional- and-country-trends--2000-2022/en
  2. Jung, D. E., Yang, S. B., & Yang, S. R. The Effects of Local Food on Carbon Emissions: The Case of the Republic of Korea. Sustainability [Internet], 2024;16(9), 1-17. Available from: https://doi.org/10.3390/su16093614
  3. Solehudin, S., Herliana, I., Koto, Y., Lestari, N. E., & Lannasari, L. Nutrisi Seimbang dan Pengolahan Pangan Lokal Untuk Anak. FUNDAMENTUM: Jurnal Pengabdian Multidisiplin [Internet], 2024;2(3), 1-8. Available from: https://doi.org/10.62383/fundamentum.v2i3.264
  4. Munden-Dixon, K. Growing livelihoods: Local food systems and community development. Taylor & Francis Online [Internet], 2017;48(5). Available from: https://www.doi.org/10.1080/15575330.2017.1369648
  5. Christensen, B., & Phillips, R. Local food systems and community economic development through the lens of theory. Community Development [Internet], 2016;47(5), 638-651. Available from: https://doi.org/10.1080/15575330.2016.1214609

Kalau dengar kata “makanan sehat”, pasti langsung terbayang buah segar, sayur hijau, ikan, atau susu, kan? Semua terlihat menyehatkan dan pastinya baik untuk tubuh. Tapi, pernah nggak sih kepikiran kalau makanan yang kita anggap sehat itu bisa berubah jadi sumber penyakit kalau tidak dijaga keamanannya? Nah, di sinilah pentingnya keamanan pangan. Mari kita bahas lebih dalam, biar nggak salah langkah!

Apa Itu Keamanan Pangan?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584457637891427592"}}

Keamanan pangan adalah upaya memastikan makanan yang kita konsumsi bebas dari bahaya fisik, kimia, maupun biologis. Artinya, makanan bukan hanya harus bergizi, tetapi juga harus aman dari kontaminasi yang bisa merugikan kesehatan. Misalnya, sayur penuh vitamin bisa jadi berbahaya kalau masih terkontaminasi pestisida, atau ikan segar bisa memicu keracunan kalau disimpan tidak sesuai suhu. Jadi, keamanan pangan adalah jembatan agar makanan sehat benar-benar memberi manfaat, bukan penyakit (1).

Bahaya Tersembunyi pada Makanan Sehat

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7584458439083035922"}}
  1. Buah dan Sayur Segar
  2. Buah dan sayur memang kaya vitamin dan serat. Tapi kalau tidak dicuci bersih, bisa membawa pestisida, bakteri E. coli, atau parasit yang membahayakan kesehatan. Misalnya, kasus diare akut seringkali terjadi karena konsumsi lalapan mentah yang tidak dicuci dengan benar (2).

  3. Produk Susu dan Olahannya
  4. Susu dikenal sebagai sumber kalsium dan protein. Namun, susu segar yang tidak dipasteurisasi bisa mengandung bakteri Salmonella atau Listeria. Bakteri ini berbahaya terutama untuk anak kecil, ibu hamil, dan lansia. Jadi, penting memastikan susu yang dikonsumsi sudah melalui proses pengolahan yang aman (3).

  5. Ikan dan Produk Laut
  6. Ikan kaya omega-3 yang bagus untuk otak. Tapi kalau tidak disimpan dalam suhu tepat, ikan bisa cepat busuk dan menghasilkan racun histamin yang memicu keracunan. Belum lagi ancaman merkuri pada beberapa jenis ikan laut dalam yang bisa mengganggu kesehatan jika dikonsumsi berlebihan (4).

  7. Makanan Olahan “Sehat”
  8. Banyak makanan olahan yang diberi label “sehat” seperti sereal atau minuman kemasan dengan tambahan vitamin. Namun, seringkali makanan ini mengandung gula, garam, atau bahan tambahan lain yang jika berlebihan malah berbahaya bagi tubuh. Label sehat tidak selalu menjamin aman (5).

Cara Terjadinya Kontaminasi Silang

Kontaminasi silang adalah salah satu penyebab utama masalah keamanan pangan yang sering tidak disadari. Kontaminasi ini terjadi ketika mikroba berbahaya berpindah dari satu bahan ke bahan lain melalui perantara seperti tangan, peralatan dapur, atau permukaan kerja (6).

Beberapa cara terjadinya kontaminasi silang antara lain:

  1. Melalui peralatan dapur yang sama. Pisau yang digunakan untuk memotong daging mentah lalu dipakai untuk memotong sayuran tanpa dicuci dapat memindahkan bakteri patogen.
  2. Melalui tangan yang tidak bersih. Menyentuh makanan setelah memegang bahan mentah atau benda kotor dapat menyebabkan perpindahan mikroorganisme.
  3. Melalui penyimpanan makanan yang tidak terpisah. Menaruh daging mentah di rak atas kulkas dapat meneteskan cairan ke makanan matang di bawahnya. Oleh karena itu, penting menerapkan kebiasaan mencuci tangan, memisahkan bahan mentah dan matang, serta membersihkan alat masak secara rutin.

Kenapa Keamanan Pangan Penting? (7) (8)

Keamanan pangan atau food safety adalah aspek penting yang tidak boleh diabaikan dalam setiap tahap pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, penyiapan, hingga konsumsi. Tanpa praktik keamanan pangan yang tepat, makanan—termasuk yang tergolong sehat—berpotensi terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, dan parasit, serta kontaminan kimia berbahaya seperti pestisida dan logam berat.

Konsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran cerna seperti diare, keracunan makanan, bahkan infeksi serius lainnya. Selain itu, beberapa kontaminan kimia dalam makanan memiliki efek kronis yang dapat meningkatkan risiko kanker, gangguan perkembangan, dan keracunan sistemik

Bayangkan kita makan salad segar yang penuh vitamin, tapi ternyata sayurnya tidak dicuci dengan benar dan masih ada sisa pestisida. Bukannya sehat, malah bisa sakit perut, diare, atau keracunan. Kasus keracunan makanan juga sering muncul dari daging atau ikan yang terlihat segar, tapi ternyata sudah terkontaminasi bakteri. Keamanan pangan memastikan tubuh benar- benar mendapat manfaat gizi dari makanan tanpa risiko penyakit tersembunyi. Dengan kata lain, makanan bergizi + aman = sehat yang sesungguhnya.

Tips Praktis Menjaga Keamanan Pangan di Rumah (9)

Biar makanan tetap sehat sekaligus aman, yuk perhatikan hal berikut:

  1. Cuci bersih buah dan sayur di bawah air mengalir sebelum dikonsumsi.
  2. Pisahkan makanan mentah dan matang untuk mencegah kontaminasi silang.
  3. Simpan makanan pada suhu yang sesuai, misalnya daging di freezer dan sayur di kulkas.
  4. Masak sampai matang terutama daging, ayam, dan ikan untuk membunuh bakteri berbahaya.
  5. Perhatikan tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan sebelum membeli produk pangan.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Njatrijani R. Pengawasan Keamanan Pangan. Law, Development and Justice Review [Internet]. 2021 May 24 [cited 2025 Oct 10];4(1):12–28. Available from: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/lj/article/view/11076
  2. Awanis A, Qomariyah R, Lesmayati S. Peran Teknologi Pascapanen dalam Menjamin Keamanan Produk Hortikultura [Internet] [PhD Thesis]. Sebelas Maret University; 2021 [cited 2025 Oct 10]. Available from: https://www.academia.edu/download/94747376/478838471.pdf
  3. Chotiah S. Beberapa bakteri patogen yang mungkin dapat ditemukan pada susu sapi dan pencegahannya. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas [Internet]. 2020 [cited 2025 Oct 10];259–71. Available from: https://www.academia.edu/download/35178990/loksp08-37.pdf
  4. Hidayah N. Penerapan GMP dan SSOP pada Pengolahan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Loin Masak Beku. Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam [Internet]. 2023 [cited 2025 Oct 10];5(2):125–37. Available from: https://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/JSJ/article/view/11998
  5. Waspada Makanan Healthy yang Tidak Sehat: Kenali Bahaya Tersembunyi - Catatan Arin | Moms & Lifestyle Blogger [Internet]. [cited 2025 Oct 10]. Available from: https://catatan- arin.com/waspada-makanan-healthy-yang-tidak-sehat-kenali-bahaya-tersembunyi/
  6. Kontaminasi Silang pada Makanan, Apa Bahayanya? [Internet]. Hello Sehat. 2022 [cited 2025 Oct 10]. Available from: https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/kontaminasi- silang/
  7. Muliani L, Suwarta F. Edukasi Masyarakat Kampung Lengkong, Desa Wisata Wates Jaya, Kabupaten Bogor, tentang Keamanan Pangan. Jurnal Komunitas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat [Internet]. 2023 [cited 2025 Oct 10];5(2):244–9. Available from: https://ojs.stiami.ac.id/index.php/jks/article/view/2939
  8. Lestari TRP. Keamanan pangan sebagai salah satu upaya perlindungan hak masyarakat sebagai konsumen. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial [Internet]. 2020 [cited 2025 Oct 10];11(1):57–72. Available from: https://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/1523
  9. developer mediaindonesia com. Ini 5 Tips Praktis Keamanan Pangan Keluarga [Internet]. [cited 2025 Oct 10]. Available from: https://mediaindonesia.com/humaniora/789375/ini-5-tips-praktis-keamanan-pangan-keluarga

Generasi Z saat ini berada di persimpangan tantangan mental yang kompleks, yang dipicu oleh tekanan hidup modern, konsumsi berita berlebihan mengenai isu-isu global (seperti konflik dan krisis iklim), hingga paparan makanan serba cepat. Sebuah studi global yang dipimpin oleh UNICEF menemukan bahwa 6 dari 10 Gen Z merasa terbebani oleh derasnya arus berita. Namun, di tengah tekanan eksternal ini, strategi makan sehat muncul sebagai kunci bertahan hidup untuk menjaga kesehatan mental. Gangguan ini memicu peradangan kronis tingkat rendah yang kemudian dihubungkan erat dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Maka dari itu memilih makanan bergizi bukan hanya sekedar pilihan gaya hidup, melainkan menjadi sebuah kebutuhan strategis untuk membangun ketahanan mental dalam menghadapi ketidakpastian di era digital..

Generasi Z menunjukkan minat dan kesadaran yang baik terhadap kesehatan dan kesejahteraan, memprioritaskan makanan segar, alami, organik, dan juga yang berkelanjutan. Pengambilan keputusan kesehatan mereka menjadi sebuah proses kognitif yang kompleks, dipengaruhi oleh manfaat yang dirasakan, gaya hidup sehat, serta informasi pengetahuan yang disampaikan, serta kepuasan dari seseorang. Pengetahuan ini ditingkatkan oleh cepat dan beragamnya berbagai sumber informasi, sementara persepsi yang positif terhadap makanan sehat berkorelasi dengan kepuasan diri.

Di sisi lain, gaya hidup Gen Z mendorong mereka untuk lebih sering mengkonsumsi camilan dan makanan kecil daripada pola tiga kali makan utama. Meskipun kesadaran akan camilan sehat lebih tinggi, terutama pada kelompok mahasiswa, pola snacking mereka cenderung ditandai dengan konsumsi makanan berenergi tinggi dan bernilai gizi rendah (tinggi gula, garam), terutama pada saat stres belajar atau kurang waktu tidur. Tren konsumsi camilan tidak sehat ini terbukti berdampak negatif pada kesehatan (seperti diabetes dan obesitas), bahkan meningkat sejak pandemi. Kondisi ini diperburuk oleh paparan media sosial dan platform food delivery, di mana influencer atau selebritas turut membentuk kebiasaan makan mereka.

Dengan demikian saran untuk pentingnya sayur dan buah bagi remaja sering kali diabaikan, padahal konsumsi masyarakat Indonesia masih jauh di bawah batas anjuran, mengancam proses pertumbuhan dan pencegahan penyakit kronis. Padahal, memasukkan sayur dan buah secara rutin ke dalam pola makan adalah investasi jangka panjang. Kandungan antioksidan yang diberikan terbukti meningkatkan daya ingat dengan melindungi sel otak, sementara kombinasi vitamin dan enzimnya membuat tubuh lebih segar dengan mendukung produksi energi. Selain itu, seratnya menjamin metabolisme dan buang air besar lancar, dan secara kolektif, nutrisi ini memperkuat pertahanan tubuh melawan kanker, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Kementerian Kesehatan melalui GERMAS menganjurkan porsi yang spesifik: sayur 3–4 porsi/hari dan buah 2–3 porsi/hari, dengan porsi sayur yang lebih dominan mengingat potensi gula tinggi pada buah. Untuk mencapai manfaat maksimal, remaja disarankan untuk mengonsumsi variasi warna dan jenis—seperti sayuran hijau, alpukat (lemak baik), atau buah berwarna pekat—memastikan tubuh menerima spektrum penuh dari Vitamin C, serat, kalsium, dan antioksidan. Oleh karena itu, edukasi yang menarik dan berkelanjutan sangatlah krusial agar konsumsi sayur dan buah menjadi kebiasaan integral dalam gaya hidup remaja.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. UNICEF. 2025. Mental health study shows Gen Z overwhelmed but undeterred by unrelenting global crises. Diakses dari https://www.unicef.org/partnerships/mental-health-study-shows-gen-z-overwh elmed-undeterred-unrelenting-global-crises
  2. KEMENKES INDONESIA. 2017. Hari Gizi Nasional 2017: Ayo Makan Sayur dan Buah Setiap Hari. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/hari-gizi-nasional-2017-ayo-makan-sayur-dan-buah-setiap-hari
  3. Meyerding, S. G., & Ahrens, S. (2024). Generation Z's perception of food healthiness: The case of Kellogg's cereals–A qualitative study in Germany and Ireland. Cleaner and Responsible Consumption, 14, 100218.

Saat ini, banyak anak di Indonesia yang mengalami stunting. Stunting merupakan suatu masalah kesehatan yang berhubungan dengan asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi anak. Jika stunting tidak segera ditangani, hal ini dapat berdampak pada berbagai kegiatan di masa mendatang. Oleh karena itu, diperlukan intervensi untuk menangani stunting, yaitu fortifikasi pangan.

Pengertian Stunting

stunting 1

Stunting merupakan keadaan anak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan gizi, terutama pada masa awal seribu hari hidup yang disebut juga sebagai periode emas kehidupan. (1) Stunting mencerminkan ketidakcukupan asupan gizi yang diterima anak sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. (2) Stunting diketahui apabila tinggi atau panjang badan anak berada di bawah standar pertumbuhan sebesar dua deviasi standar. (3) Balita yang mengalami stunting memiliki tinggi badan yang tidak optimal dan perkembangan otak tidak maksimal dalam aspek kognitif. Dampak stunting dapat berlanjut hingga dewasa, menyebabkan anak kesulitan belajar di sekolah dan pendapatan lebih rendah pada masa dewasa, serta menghambat untuk aktif dalam kehidupan sosial sehingga menurunkan produktivitas pada masa depan. (4,5)

Sebesar 22,3% atau sekitar 141,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami stunting. Hal ini menunjukkan penurunan stunting secara global selama dekade terakhir dengan dampak terbesar terjadi di Asia (53%) dan Afrika (43%). (4) Di benua Asia, Asia Tenggara memiliki masalah dengan stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun dengan prevalensi sebesar 24,7% yang menempati posisi tertinggi kedua setelah Asia Selatan. (6) Di Indonesia, prevalensi stunting pada anak-anak di bawah usia lima tahun, yaitu sebesar 21,5%. (7) Stunting disebabkan oleh asupan yang tidak memadai dari satu atau lebih zat gizi termasuk energi, protein, atau zat gizi mikro seperti iodium, zat besi, seng, dan vitamin D, A atau C. (8) Berdasarkan data-data tersebut, diperlukan strategi untuk mengatasi masalah stunting, yaitu dengan fortifikasi pangan untuk meningkatkan nilai gizi dari makanan yang akan dikonsumsi oleh balita.

Pengertian Fortifikasi Pangan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7562805372348665093"}}

Fortifikasi pangan, yaitu penambahan satu jenis vitamin atau mineral ke dalam pangan yang dikonsumsi sehari-hari agar meningkatkan nilai gizi makanan yang disediakan bagi masyarakat. Umumnya, fortifikasi dilakukan untuk menambahkan zat gizi yang secara alami tidak ada atau yang sedikit jumlahnya ke dalam makanan atau minuman tertentu. Selain itu, fortifikasi dilakukan agar suatu zat gizi yang hilang dalam proses pengolahan makanan atau minuman dikembalikan. Tujuan utama fortifikasi, yaitu membantu anak-anak dan orang dewasa untuk memperoleh asupan gizi yang cukup. (9) Syarat-syarat untuk melakukan fortifikasi, yaitu makanan yang biasanya selalu ada pada setiap rumah tangga dan dikonsumsi terus-menerus oleh masyarakat termasuk masyarakat miskin, diproduksi oleh produsen dalam jumlah yang terbatas, tersedianya teknologi fortifikasi bagi makanan yang dipilih, tidak adanya perubahan warna dan rasa makanan setelah difortifikasi, tetap aman dalam arti tidak membahayakan kesehatan, serta harga makanan yang difortifikasi terjangkau oleh masyarakat, termasuk masyarakat sasaran. (10)

Jenis-jenis Fortifikasi Pangan

Terdapat tiga jenis fortifikasi pangan, yaitu:

  1. Fortifikasi wajib, yaitu salah satu program pemerintah untuk mengatasi defisiensi zat gizi mikro sehingga memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) dan wajib dilakukan oleh produsen pangan terkait. Produk-produk pangan yang wajib difortifikasi antara lain yodisasi garam (SNI 3356:2016), vitamin A pada minyak goreng sawit (SNI 7709:2019), dan zat besi pada tepung terigu (SNI 3751:2018). (9,11) Fortifikasi makanan pokok seperti tepung, garam, dan minyak goreng dengan zat gizi penting telah terbukti sebagai intervensi yang efektif dan efisien dari segi biaya. (12,13)

  2. Fortifikasi sukarela, yaitu fortifikasi yang dilakukan atas inisiatif produsen sendiri tanpa diatur oleh undang-undang atau peraturan dan disesuaikan dengan target konsumen yang ingin mereka capai. Tujuannya adalah untuk menambahkan nilai pangan. Misalnya, penambahan vitamin, mineral, senyawa bioaktif pada susu formula bayi dan susu untuk anak-anak, serta penambahan senyawa bioaktif pada pangan fungsional.

  3. Fortifikasi sasaran khusus, yaitu fortifikasi yang dilakukan pada terhadap masyarakat tertentu, terutama balita, anak-anak, dan situasi khusus. Misalnya, Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk balita dengan penambahan vitamin A, zat besi (Fe), dan seng (Zn) serta fortifikasi rumahan (home fortification) seperti makanan balita dengan “Taburia” atau bubuk vitamin dan mineral yang ditaburkan pada makanan seperti beras untuk anak sekolah, masyarakat miskin, tahanan, dan makanan darurat bencana alam, dan lainnya. (10)

Fortifikasi Pangan untuk Menangani Stunting

  1. Garam beryodium, yaitu garam konsumsi yang difortifikasi dengan penambahan Kalium Iodat (KIO3) sesuai SNI agar kandungan iodium minimal sebanyak 30 mg/kg. Iodium berperan penting dalam pembentukan hormon tiroksin yang diproduksi oleh kelenjar tiroid yang mendukung proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. Jika anak kekuarangan zat iodium, penurunan 11-13 Intellegence Quotient (IQ) point akan terjadi sehingga prestasi belajar juga akan menurun. (14,15)

  2. Biskuit daun kelor, yaitu biskuit yang difortifikasi dengan penambahan daun kelor. Daun kelor (dijadikan tepung dalam kondisi kering) bermanfaat sebagai intervensi gizi dengan kandungan protein setara 9 kali protein dalam yoghurt, 15 kali kalium dalam pisang, 25 kali zat besi dalam bayam, 17 kali kalsium dalam susu, 10 kali vitamin A dalam wortel, 1/2 kali vitamin C dalam jeruk. Daun kelor juga mudah diakses serta diperoleh dengan harga yang murah. Suatu studi menyebutkan bahwa biskuit daun kelor untuk balita mengandung tinggi vitamin A, yaitu sebesar 150 RE setiap 1 gram keping biskuit. Vitamin A menjadi faktor utama dalam fungsi penglihatan, regenerasi sel epitel, pertumbuhan dan perkembangan, serta berkurangnya nafsu makan. Jika anak kekurangan vitamin A, anak akan mengalami buta senja, infeksi, perubahan kulit, gangguan pertumbuhan, dan keratinasi sel-sel pada lidah yang menyebabkan nafsu makan anak hilang, serta anemia sehingga anak mengalami penurunan produktivitas. (16)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Prawirohartono EP. Stunting: Dari Teori dan Bukti ke Implementasi di Lapangan. Gajah Mada University Press; 2021.
  2. Par’i HM, Wiyono S, Harjatmo TP. Penilaian Status Gizi. Kemenkes RI; 2017.
  3. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak. 2020.
  4. UNICEF, WHO, WORLD BANK GROUP. Level and Trend in Child Malnutrition [Internet]. 2023. Tersedia pada: https://www.who.int/publications/i/item/9789240073791
  5. Pertiwi ANAM, Hendrati LY. Literature Review: Analysis of the Causes of Stunting in Toddlers in East Java Province: Literature Review: Analisis Penyebab Kejadian Stunting pada Balita di Provinsi Jawa Timur. Amerta Nutr. 2023;7(2):320–7.
  6. Global Nutrition Report. Country Nutrition Profiles. 2020.
  7. Kemenkes RI. Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI). 2023.
  8. Mamoriska S, Hidayat MG, Magda CG, Yuliarti A, Cahyaningsih E, Mar E, et al. Characterization of Nutrient Contents, Sensories, and Production Cost of Fortified Rice (Fortivit) and Biofortified Rice (Inpari Nutri Zinc). Pangan Media Komun dan Inf [Internet]. 2022;31(2):95–112. Tersedia pada: https://www.jurnalpangan.com/index.php/pangan/article/view/583/458
  9. Sandryas Alief K, Aji AA. Efektivitas Fortifikasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Peningkatan Nutrisi dan Kelayakan Usaha Produk Tempe di Kabupaten Banyuwangi. J Javanica. 2023;2(1):21–8.
  10. Fadilah A. Efektivitas Fortifikasi Zat Besi pada Tepung Terigu Untuk Menanggulangi Anemia: Systematic Review [Internet]. Universitas Hasanuddin; 2022. Tersedia pada: https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/18253/
  11. Divania A. Pengaruh Makanan Fortifikasi Terhadap Kasus Stunting Anak. Kartika J Stud Keislam. 2023;3(1):54–60.
  12. Kaur N, Agarwal A, Sabharwal M. Food fortification strategies to deliver nutrients for the management of iron deficiency anaemia. Curr Res Food Sci [Internet]. 2022;5:2094–107. Tersedia pada: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2665927122001903
  13. Ashraf SA. Food fortification as a sustainable global strategy to mitigate micronutrient deficiencies and improve public health. Discov Food. 2025;5(1).
  14. Saputri RA, Tumangger J. Hulu-hilir Penanggulangan Stunting di Indonesia. J Polit Issues. 2019;1(1):1–9.
  15. Hayati, Savitri L. Kajian Fortifikasi Garam Beryodium Yang Beredar Di Kabupaten Siak Riau. SITAWA J Farm Sains dan Obat Tradis. 2024;3(1):75–88.
  16. Velayati JM, Anindita AM, Sholeha EM, Sayekti T. Inovasi Biskuit Fortifikasi Daun Kelor sebagai Alternatif Camilan Penyedia Vitamin A Guna Mendukung Suplementasi Gizi Anak Indonesia. J Tadris IPA Indones. 2023;3(2):114–25.

Sebagian besar masyarakat mengabaikan masalah kekurangan mikronutrien, padahal menimbulkan dampak yang serius jika terus dibiarkan, seperti menurunnya daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (termasuk stunting), hingga berkurangnya produktivitas (1,7). Kondisi ketika seseorang kekurangan gizi mikro dapat disebut hidden hunger atau kelaparan tersembunyi (1,7). Salah satu inovasi yang dapat menjadi solusi adalah fortifikasi multinutrien dalam beras. Karena beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, fortifikasi ini dinilai strategis dalam menjangkau masyarakat luas (2).

Apa itu Teff?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7562544176949218613"}}

Teff (Eragrostis tef) adalah sereal kecil yang menjadi bahan utama untuk membuat injera, roti fermentasi tipis khas Ethiopia. Meskipun bijinya sangat kecil, teff padat gizi yakni mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta mineral penting seperti zat besi dan kalsium (1). Tepung teff (100 g) biasanya mengandung sekitar 350–370 kalori dan protein sekitar 10–12 g, tergantung varietas dan pengolahan (2). Selain sebagai sumber energi, teff juga menjadi makanan pokok bagi puluhan juta orang di Ethiopia dan menyumbang bagian besar asupan kalori harian (3).

Apa itu Legum dan kenapa penting?

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7562544726998633733"}}

Legum mencakup kacang kering seperti lentil, kacang polong, dan chickpea. Per 100 g dalam keadaan kering, legum mengandung sekitar 300–360 kkal dan protein 20 g atau lebih (4). Legum juga kaya serat, zat besi, folat, dan mineral lain yang mendukung kesehatan metabolik dan pencernaan.

Bagaimana teff dan legum saling melengkapi?

  1. Energi + protein lengkap: Teff memberi karbohidrat kompleks, sedangkan legum menambah protein lebih tinggi dan melengkapi asam amino esensial (4).
  2. Mikronutrien: Teff kaya zat besi dan kalsium, sementara legum menambah folat, zinc, dan zat besi tambahan (1,4).
  3. Serat & rasa kenyang: Kombinasi keduanya membantu kenyang lebih lama dan mendukung kesehatan pencernaan (4).

Manfaat konsumsi jangka panjang

Jika dikonsumsi secara rutin, kombinasi teff dan legum memberikan manfaat kesehatan yang nyata, antara lain:

  1. Menjaga kesehatan jantung – serat larut dalam legum membantu menurunkan kolesterol, sementara teff rendah lemak jenuh (4).
  2. Mencegah anemia – kandungan zat besi tinggi dari teff ditambah vitamin dan mineral dari legum membantu menjaga kadar hemoglobin (1,3).
  3. >strong> Mengontrol kadar gula darah – karbohidrat kompleks dari teff dan indeks glikemik rendah legum membuat energi lebih stabil dan menurunkan risiko diabetes tipe 2 (2,4).
  4. Mendukung kesehatan tulang – teff merupakan salah satu biji-bijian yang relatif tinggi kalsium, bermanfaat bila dikonsumsi jangka panjang (1).
  5. Mengurangi risiko penyakit kronis – pola makan berbasis biji-bijian utuh dan legum terbukti menurunkan risiko obesitas, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker (4,5).

Tips sederhana untuk memasak

  1. Fermentasi teff (injera)
    Tepung teff biasanya dicampur air lalu difermentasi 2–3 hari hingga adonan sedikit asam. Proses ini bukan hanya memberi rasa khas, tetapi juga meningkatkan ketersediaan zat besi dan kalsium yang lebih mudah diserap tubuh (3). Saat memanggang di wajan datar, injera menjadi roti tipis bertekstur lembut dan berpori, cocok dijadikan dasar hidangan utama.
  2. Rendam dan masak legum dengan benar
    Legum kering seperti lentil atau kacang polong sebaiknya direndam 6–8 jam atau semalaman. Tujuannya untuk mengurangi zat antinutrien (fitat) yang bisa menghambat penyerapan mineral penting (5). Setelah direndam, buang airnya lalu rebus dengan air bersih hingga empuk. Lama memasak bervariasi, sekitar 30–45 menit tergantung jenis kacang.
  3. Gabungkan dengan sayuran berwarna
    Tambahkan tomat, wortel, bayam, atau cabai saat memasak legum. Kandungan vitamin C dalam sayuran tersebut membantu penyerapan zat besi dari teff dan legum (5). Selain itu, variasi warna sayuran membuat hidangan lebih menarik, bergizi seimbang, dan tidak membosankan.

Teff dan legum adalah kombinasi pangan sehat yang tidak hanya memberi energi, tapi juga menjaga kesehatan dalam jangka panjang. Di Ethiopia, keduanya bukan hanya warisan kuliner, melainkan juga fondasi ketahanan pangan dan sumber gizi penting bagi masyarakat (1,3,4).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Adepoju M, Chukwuma C, Alamu EO, dkk. Unlocking the Potential of Teff for Sustainable, Gluten-Free Diets [Internet]. PubMed Central. 2024 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10934712/
  2. Healthline Editorial Team. Teff Flour: Uses, Nutrients, and Benefits [Internet]. Healthline. 2020 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://www.healthline.com/nutrition/teff-flour
  3. Gebrehiwot NT, Tsegay ZT, Gebregergs H, dkk. The role of Teff crop in Ethiopian life: consumption and utilization [Internet]. CABI Agriculture and Bioscience. 2024 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://cabiagbio.biomedcentral.com/articles/10.1186/s43170-024-00223-y
  4. Food and Agriculture Organization (FAO). Health Benefits of Pulses [Internet]. FAO. 2016 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://www.fao.org/3/i5381e/i5381e.pdf
  5. Ethiopian Public Health Institute (EPHI). Ethiopia: Food-Based Dietary Guidelines [Internet]. Addis Ababa: EPHI; 2022 [cited 2025 Sep 23]. Available from: https://www.fao.org/nutrition/education/food-dietary-guidelines/regions/countries/ethiopia

Akhir-akhir ini, kondisi politik di Indonesia sedang memanas. Banyak perselisihan dan aksi yang meningkatkan ketegangan yang terjadi. Semua ini berawal dari kebijakan-kebijakan pemerintah dan sikap para pejabat dalam menghadapi warganet di dunia maya. Namun, apakah kebijakan-kebijakan dan suasana politik pemerintahan dapat memengaruhi kondisi gizi warga negara? Apakah mungkin status gizi warga dapat memburuk seiring keruhnya kondisi pemerintahan?

Situasi Politik di Indonesia

Kondisi politik di Indonesia beberapa waktu terakhir sangat dinamis dan penuh ketegangan. Demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai kota sebagai ekspresi kekecewaan dan tuntutan reformasi publik, terutama terkait tunjangan anggota DPR yang dianggap lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kesejahteraan rakyat serta tindakan represif aparat terhadap demonstran. Kerusuhan dan penahanan demonstran secara masif terjadi, dengan beberapa korban jiwa yang menimbulkan kecemasan nasional. Pemerintah dianggap lambat dan kurang efektif merespons tuntutan demonstran, sehingga memperpanjang krisis politik. Demonstrasi ini menimbulkan krisis legitimasi dan menimbulkan korban jiwa, serta gambaran adanya krisis sosial-politik mendalam yang memperlihatkan ketegangan antara rakyat dan pemerintahan. (1)

Hubungannya dengan Gizi Masyarakat

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7562553786443533573"}}

Kondisi yang sedang terjadi berdampak negatif pada gizi masyarakat, terutama kelompok yang rentan. Gangguan aktivitas ekonomi saat krisis membuat pekerja harian kehilangan penghasilan, harga bahan pangan melonjak, dan akses terhadap makanan bergizi menjadi terganggu. Hal ini melemahkan ketahanan gizi masyarakat, terutama keluarga miskin yang berisiko malnutrisi. (2)

Selain itu, kerusuhan sosial menghambat distribusi pangan dan layanan kesehatan yang juga berdampak pada pemenuhan gizi di masyarakat. Ketidakstabilan sosial dan ekonomi yang diakibatkan oleh kondisi politik ini berpotensi memicu masalah kesehatan baru yang luas, termasuk kekurangan gizi pada anak-anak dan kelompok rentan lainnya. Krisis juga memperburuk situasi gizi dengan menurunkan daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi dan menimbulkan tekanan psikologis yang berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. (2)

Penguatan Gizi Masyarakat

Di tengah kondisi negara yang dinamis dan bergejolak, langkah yang bisa dilakukan sebagai penguatan gizi masyarakat antara lain:

    1. Penguatan Kelembagaan dan Reformasi Kebijakan Reformasi kelembagaan dan kebijakan sangat penting dalam menghadapi tantangan gizi masyarakat selama krisis. Pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran serta fasilitas pelayan gizi di tingkat lapangan, seperti posyandu dan puskesmas, yang menjadi ujung tombak pemantauan dan intervensi gizi. Kebijakan yang jelas dan peraturan daerah sebagai payung hukum akan mempermudah sinergi antar lembaga pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program perbaikan gizi. Selain itu, penggerakan kelompok masyarakat dan organisasi lokal menjadi strategi penting agar program gizi berjalan efektif dan berkelanjutan. (3)
 
    1. Program Intervensi dan Edukasi Gizi Intervensi dan edukasi gizi juga perlu mendapat perhatian khusus. Melalui penyuluhan yang terus menerus dan edukasi yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, kesadaran pentingnya pola makan bergizi dan hidup sehat dapat ditingkatkan. Pemberian makanan tambahan kepada kelompok rentan, seperti ibu hamil, menyusui, dan anak balita, sangat penting dilakukan untuk mencegah masalah gizi seperti stunting dan wasting yang dapat meningkat di masa krisis. Layanan kesehatan dan pengawasan gizi harus tetap beroperasi dan berinovasi, agar kendala yang muncul akibat situasi sosial-politik tidak menghambat akses masyarakat terhadap pelayanan gizi. (3) Edukasi gizi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan perilaku konsumsi gizi seimbang, terutama jika disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan melibatkan kader kesehatan terlatih. (4)
 
    1. Penjaminan Ketahanan Pangan Penyediaan pangan yang cukup dan bergizi harus dijaga dengan kebijakan yang adaptif serta dukungan kepada petani agar produktivitas pangan tetap stabil. Perbaikan rantai pasok pangan penting agar distribusi tetap lancar dan harga pangan terjangkau. Bantuan sosial dan perlindungan pangan bagi kelompok miskin dan rentan harus diberikan secara terarah dan berkelanjutan untuk mengantisipasi dampak ekonomi sosial. Diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal pun turut dianjurkan guna meningkatkan keberagaman dan kualitas gizi masyarakat. (5)
 
  1. Pendekatan Berkelanjutan Lainnya Pendekatan lain seperti koordinasi antar sektor dan perubahan perilaku masyarakat dapat menunjang ketahanan gizi masyarakat.. Koordinasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta perlu diperkuat untuk menangani isu gizi secara menyeluruh dan terintegrasi.(6) Program-program gizi harus didasarkan pada bukti ilmiah melalui pemantauan dan evaluasi yang reguler agar perbaikan yang dilakukan terukur dan tepat sasaran. Selain itu, perubahan perilaku dan pola hidup sehat juga harus digalakkan secara massif melibatkan seluruh lapisan masyarakat dengan media komunikasi yang efektif dan relevan.

Ketahanan gizi adalah cerminan dari komitmen bangsa terhadap kesejahteraan rakyatnya. Di tengah tantangan politik, kita dituntut untuk tidak hanya kritis terhadap kebijakan, tetapi juga aktif dalam mendorong program gizi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan bagi semua lapisan masyarakat.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Firyalfatin. Demokrasi Indonesia Diuji, Kebebasan Berpendapat Terancam Tindakan Represif Aparat [Internet]. hukumonline.com. 2025. Available from: https://www.hukumonline.com/berita/a/demokrasi-indonesia-diuji--kebebasan-berpendapat-terancam-tindakan-represif-aparat-lt68b506ba4f648/
  2. Arlyan R. Hubungan Ketahanan Pangan dan Stabilitas Keamanan Negara (Krisis Pangan di Venezuela). Dinamika Global: Jurnal Ilmu Hubungan Internasional. 2018;3(01):108-31.
  3. Miza TI, Kolopaking LM, Hakim DB. Strategi Penguatan Kelembagaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat Di Kabupaten Bogor. Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah. 2023;11(2):45-53.
  4. Mallipu A. Improving childhood nutrition in Indonesia through an innovative behavioural change programme. EBioMedicine. 2021;66:103292.
  5. Arif S, Isdijoso W, Fatah AR, Tamyis AR. Tinjauan strategis ketahanan pangan dan gizi di Indonesia. Jakarta: SMERU Research Instituate. 2020.
  6. Yusnita M, Kurniawan I, Hakim A. Public Policy Analysis in Stunting Reduction: A Review of National Programs and Strategies. Jurnal Indonesia Sosial Sains. 2024;5(5):1182–8.
  7. Oddo VM, Roshita A, Khan MT, Ariawan I, Wiradnyani LAA, Chakrabarti S, et al. Evidence-Based Nutrition Interventions Improved Adolescents’ Knowledge and Behaviors in Indonesia. Nutrients [Internet]. 2022;14(9):1717.