ASI eksklusif yaitu air susu ibu yang diberikan kepada bayi sampai 6 bulan tanpa ditambahkan dengan makanan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, pisang, bubur susu, biskuit, dan lainnya. Bayi yang diberikan ASI eksklusif dapat terhindar dari berbagai penyakit. ASI eksklusif yang diberikan pada 6 bulan pertama dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada bayi. Hasil capaian pemberian ASI eksklusif masih rendah karena kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI eksklusif masih relatif rendah.

Kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif karena tingkat pengetahuan ibu yang rendah dan rendahnya pengetahuan ibu salah satu penyebabnya kurangnya informasi dari petugas kesehatan mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif dan ibu yang sudah mengetahui pentingnya ASI eksklusif tetapi tidak diterapkan sehingga ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.

Secara nasional, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif tahun 2020 yaitu sebesar 66,06%. Angka tersebut sudah melampaui target Renstra tahun 2020 yaitu 40%. Persentase tertinggi cakupan pemberian ASI eksklusif terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Barat (87,33%), sedangkan persentase terendah terdapat di Provinsi Papua Barat (33,96%). Terdapat empat provinsi yang belum mencapai target Renstra tahun 2020, yaitu Maluku dan Papua Barat

Background acara

Ibu yang mempunyai pengetahuan baik, maka ibu memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya dan sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang dapat dipengaruhi oleh promosi atau iklan produk susu formula yang berpengaruh kepada ibu sehingga ibu lebih tertarik untuk membeli susu formula dibandingkan memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Selain itu, dukungan keluarga merupakan faktor eksternal yang paling besar pengaruhnya terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Adanya dukungan keluarga terutama suami maka akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri atau motivasi dari ibu dalam menyusui. Motivasi seorang ibu sangat menentukan dalam pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.

Saat ini, WHO dan UNICEF membuat Peringatan Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week (WBW) yang bertujuan untuk mendukung ibu menyusui di seluruh dunia. Pekan ASI Sedunia diperingati setiap tanggal satu hingga tujuh Agustus, demi mengoptimalkan kesehatan gizi serta kesehatan ibu dan anak. Lahirnya peringatan ini dicetuskan setelah adanya forum World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) pada 14 Februari 1991. Berdasarkan masalah di atas, diperlukannya upaya untuk mendukung meningkatkan praktik pemberian ASI Eksklusif serta selarasnya dengan peringatan Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week (WBW), maka salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan kegiatan seperti webinar yang dapat memberikan dan meningkatkan pengetahuan terutama kepada calon ibu dan ibu untuk melakukan ASI Eksklusif.

Tujuan Kegiatan

Memberikan pengetahuan mengenai gizi kepada calon pengantin, Ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu yang memiliki rencana program kehamilan.

Manfaat Kegiatan

  1. Bagi Masyarakat Menambah pengetahuan masyarakat tentang pemberian ASI eksklusif
  2. Bagi Instansi/Perusahaan Instansi/Perusahaan dapat membantu dalampencapaian kesadaran masyarakat tentang ASI eksklusif sehingga berperan dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia

Nama Kegiatan

Webinar Ilmugiziku 3 dalam Rangka Pekan ASI seduni 1-7 Agustus 2022

Tema Kegiatan

Menciptakan Generasi Sehat Melalui Pemberian ASI, EdukASI, dan AdvokASI

Pembicara pada webinar Ilmugiziku 3

  1. Fitri Wardah M., SKM, RD (Konselor ASI RSIATMP & Pengurus DPP PERSAGI )
  2. Dr. Made Derawati, STP, M.Sc (Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Mataram)
  3. Junaida Astina, Ph.D (Nutritionist, Lecturer)
  4. M. Alfatih Alfien AM., S.Tr.Gz (Co-founder ilmugiziku & Pengurus DPP PERSAGI )

Topik yang dibahas

  1. Peran pemberian ASI hingga usia 2 tahun bagi ibu dan bayi serta peranannya untuk mencegah berbagai penyakit
  2. Optimalisasi gizi dan penggunaan bahan pangan lokal bagi ibu menyusui

  3. Berbagai permasalahannya yang sering terjadi pada saat proses menyusui

  4. Sinergisitas seluruh elemen masyarakat dalam mendukung tercapainya program ASI

Kalian dapat mendownload Serifikat Webinar Ilmugiziku 3 disini

Rekaman Webinar Ilmugiziku 3

Mungkin sudah banyak yang tahu dengan profesi ahli gizi, dan jurusan ilmu gizi pun sudah menjamur di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu posisi atau divisi bagi lulusan gizi yang berkarir di industri makanan. Begitu juga dengan apa saja yang menjadi kewenangan ahli gizi di posisi tersebut. Dengan adanya artikel ini, penulis akan berbagi sedikit mengenai gambaran menjadi ahli gizi di industri makanan. Berikut prospek kerja ahli gizi di bidang industri makanan :

1. Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC)

FOTO ARTIKEL WEBSITE (15)

Posisi QA dan QC ini saling berhubungan, QA berfokus pada penjaminan kualitas dari prosedurnya sedangkan QC penjaminan kualitas produknya. Kewenangannya adalah mengembangkan Standar Prosedur Operasi (SPO) yang diselaraskan dengan Good Laboratory Practices (GLPs) and Good Manufacturing Practices (GMPs). Berada pada divisi ini harus memiliki keterampilan analisis dan penilaian yang baik, mampu bekerja dengan tim serta membimbing orang lain secara efektif. Tidak hanya lulusan gizi saja yang bisa menjadi QA atau QC, lulusan teknologi pangan dan teknik kimia.(1)

2. RnD (Research and Development)

Tim RnD ini membantu dalam pengembangan produk. Kewenangannya mengevaluasi makanan yang diproduksi saat ini dan alternatif bahannya, membuat resep produk dan melakukan evaluasi sensorik produk makanan baru untuk memastikan telah memenuhi kebutuhan dan persyaratan pelanggan. Lulusan gizi, biologi, kimia dan teknologi pangan bisa menempati posisi ini di perusahaan industri pangan.(2)

3. Ahli Gizi Katering

Menjadi ahli gizi di katering tugasnya bukan hanya edukasi atau konsultasi gizi saja. Ahli gizi juga berperan dalam penyusunan menu, pembuatan resep, menghitung kandungan gizi dengan software, membuat dan mencetak nutrition fact, kontrol kebersihan saat memasak, bahkan juga berdiskusi dengan chef terkait resep dan menu yang telah dibuat. Tidak jarang seorang ahli gizi di katering juga memiliki kewenangan sebagai QC di katering.(4)

FOTO ARTIKEL WEBSITE - 2023-02-25T212043.012

Bagaimana sudah ada gambaran belum divisi beserta kewenangan ahli gizi yang berkarir di industri makanan? Cukup padat ya job desknya, dan cukup luas juga prospek kerjanya dan masih ada banyak peluang lainnya lagi di bidang ini. So, jangan khawatir untuk tidak dapat kesempatan atau posisi ya.

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Michael, U. The Need for Quality Control and Assurance in Local Food Processing[Online].Research Gate. 2018 [cited 2 Desember 2021]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/328264527
  2. Cagno, E and Andrianni, Z. Open Food – Revisiting Open Innovation in 

the Food Industry[Online]. Research Gate.2016 [cited 2 December 2021]. Available from : https://www.researchgate.net/publication/293810218

FOTO ARTIKEL WEBSITE (9)

Sudah menjadi hal yang sering diperbincangkan antara obesitas dan aktivitas fisik. Namun tidak sedikit juga yang menyatakan sudah melakukan aktivitas banyak tetapi tetap saja berat badan tidak berkurang, perut buncit, dan sebagainya. Bahkan ada juga yang katanya jarang makan atau mengurangi karbohidrat tetapi sama saja tetap obesitas.

Apa saja sih macam-macam obesitas?

Berdasarkan letak penumpukan lemaknya, ada yang disebut dengan obesitas sentral yaitu obesitas yang menyerupai bentuk apel dimana penumpukan lemak berada di pinggang dan rongga perut. Hal tersebut karena adanya lemak berlebihan pada jaringan lemak subkutan dan visceral perut. Lingkar pinggang bisa menjadi komponen untuk deteksi obesitas sentral, dimana untuk lingkar pinggang wanita > 80 cm dan pria > 90 cm. Peningkatan rasio lingkar pinggang-panggul ditemukan berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh LDL. Obesitas tipe ini akan lebih berisiko pada penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung, stroke, aritmia) dan juga sindroma metabolik (hipertensi, gula darah tinggi, dislipidemia).

Apa penyebab obesitas sentral?

Data dari RISKESDAS 2018 didapatkan data bahwa obesitas sentral pada masyarakat dengan jumlah penderita terbanyak yaitu usia 15-54 tahun. Dalam suatu penelitian dikatakan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan sindroma metabolik yang disebabkan oleh obesitas akibat gaya hidup sedentari. Gaya hidup ini merupakan gaya hidup yang minim aktivitas fisik atau lebih banyak duduk. Biasanya yang seperti ini terjadi pada pekerja kantoran, dimana mereka lebih banyak duduk menghadap PC untuk menyelesaikan proyeknya dan banyaknya kegiatan rapat kerja. Disamping kegiatan yang lebih banyak duduk banyak dari mereka yang tidak memperhatikan asupan makanannya, Bisa dikatakan bahwa makanan yang dikonsumsi para pekerja ini tidak menerapkan gizi seimbang dan banyak konsumsi lemak jenuh (daging merah, ayam dengan kulit, jeroan, bersantan, minyak kelapa sawit, makanan kemasan).

FOTO ARTIKEL WEBSITE (11)

Bagaimana pencegahan obesitas sentral?

Mencegah dan mengatasi obesitas sentral harus dimulai dari perubahan gaya hidup baik dari pola konsumsi dan aktivitas fisik. Latihan fisik atau olahraga yang teratur akan membantu dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan hati menjadi lebih mudah produksi glikogen dari glukosa yang ada dalam darah. Selain itu otot yang sering dilatih akan memiliki persediaan darah yang lebih baik. Olahraga yang dilakukan tidak perlu melulu olahraga yang berat, asalkan teratur dan cukup akan bisa membantu. Misalnya dengan parkir kendaraan di lokasi yang agak jauh dari kantor juga bisa menambah aktivitas fisik atau tidak selalu menggunakan lift sehingga aktivitas fisik lebih banyak. Akan lebih baik jika ada program peningkatan aktivitas dari kantor disela waktu bekerja. WHO menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik 150 menit per minggu yang artinya bisa melakukan 30 menit saja setiap harinya. Yuk lebih aware terhadap kesehatan tubuh kita yang merupakan investasi mahal untuk masa mendatang.

Editor : Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Sudargo T, Freitag H, Rosiyani F, Kusmayanti NA. Pola makan dan obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2014
  2. Gentile M, Iannuzzo G, Mattiello A, Rubba F, Panico S. Association between body shape index and small dense LDL particles in a cohort of mediterranean women: findings from Progetto Atena, Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition. Society For Free Radical Research Japan. 2017;61(2): 130±134.
  3. Shibata K, Suzuki S, Sato J, Ohsawa I, Goto S, Hashiguchi M, et al. Abdominal circumference should not be a required criterion for the diagnosis of metabolic
  4. syndrome. Environ Health Prev Med. 2010;15(4):229–35.
  5. Blaha MJ, Tota-Maharaj R. Metabolic Syndrome : From Risk Factors to Management [Internet]. Torino, ITA: SEEd Srl; 2012. Available from: http://site.ebrary.com/lib/indonesiau/docDetail.action?docID=10572356

FOTO ARTIKEL WEBSITE (12)

BMR atau basal metabolic rate (laju metabolisme basal) adalah istilah yang populer dalam ilmu gizi. BMR diartikan sebagai jumlah energi (kalori) yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan organ-organ tubuh agar dapat berfungsi normal, seperti jantung untuk memompa darah, paru-paru untuk bernapas, produksi sel-sel baru, pencernaan makanan, dan lain-lain. Dengan kata lain, BMR adalah kalori minimal yang diperlukan tubuh untuk kelangsungan hidup setiap hari (1).

Kenapa kita perlu mengetahui BMR?

Dengan mengetahui jumlah kalori minimal yang diperlukan tubuh, kita dapat mengatur asupan kalori yang kita konsumsi dari makanan. Apabila Anda sedang menjalani diet penurunan berat badan dan ingin mengurangi asupan kalori, sebaiknya usahakan agar jumlah kalori yang dikonsumsi tidak lebih rendah daripada BMR untuk menghindari terjadinya penyakit karena fungsi organ tubuh terganggu. Sebaliknya, apabila Anda ingin menambah berat badan, Anda bisa menggunakan hasil perhitungan kebutuhan kalori sebagai patokan untuk mengkonsumsi ekstra kalori (2).

Bagaimana cara menghitung BMR?

FOTO ARTIKEL WEBSITE (13)

Untuk mengetahui nilai BMR seseorang secara tepat, dibutuhkan alat dan metode khusus, sehingga banyak rumus yang dikembangkan untuk mengestimasi kebutuhan BMR. Salah satu rumus yang biasa digunakan adalah rumus Harris-Benedict untuk mengestimasi BMR pada orang dewasa sehat.

Laki-laki : 66 + (13,7 x berat badan dalam kg) + (5 x tinggi badan dalam cm) – (6,8 x usia)

Perempuan : 655 + (9,6 x berat badan dalam kg) + (1,8 x tinggi badan dalam cm) – (4,7 x usia)

Lalu, apakah kita sebaiknya mengonsumsi kalori sejumlah BMR? Jawabannya tidak, karena BMR hanya mencakup kebutuhan kalori untuk menjalankan fungsi organ tubuh secara normal, belum termasuk kalori yang kita keluarkan untuk beraktivitas sehari-hari. Karenanya, untuk menentukan jumlah kalori yang sebaiknya kita konsumsi setiap hari, kita perlu mengalikan BMR dengan faktor aktivitas, sebagai berikut:

  1. Aktivitas sangat ringan. Jika Anda memiliki aktivitas sangat ringan dan hampir tidak pernah berolahraga, maka BMR dikalikan 1,2.
  2. Aktivitas ringan. Jika aktivitasmu ringan (banyak duduk) atau Anda berolahraga 1-3 kali seminggu, maka BMR dikalikan 1,3.
  3. Aktivitas sedang. Jika Anda melakukan olahraga intensitas sedang 3-5 kali dalam seminggu, maka BMR dikalikan 1,55.
  4. Aktivitas berat. Jika aktivitas sehari-harimu berat dan membutuhkan banyak tenaga, maka BMR dikalikan 1,725.
  5. Aktivitas sangat berat. Jika aktivitas sehari-harimu sangat berat dan melibatkan kerja fisik, maka BMR dikalikan 1,9.

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Frothingham, S. What Is Basal Metabolic Rate? [Internet]. Healthline. 2018 [cited 2021 November 15]. Available from: https://www.healthline.com/health/what-is-basal-metabolic-rate
  2. Fletcher, J. (2020). What to know about basal metabolic rate. [Internet]. Medical News Today. 2020 [cited 2021 November 15]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/basal-metabolic-rate

FOTO ARTIKEL WEBSITE (15)

Sebelum produk makanan didistribusikan, produk tersebut harus memenuhi syarat agar memenuhi jaminan kualitas produk tersebut. Pernahkah kalian mendengar Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC)?. QA dan QC merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi bagian penting karena keduanya saling berkaitan dengan keberlangsungan mutu dan kualitas produk suatu perusahaan.

Quality Assurance (QA)

Quality Assurance (QA) merupakan kegiatan yang memiliki tujuan untuk memastikan produk yang dihasilkan apakah sudah sesuai dengan spesifikasi awal yang telah ditetapkan serta memberikan jaminan kualitas sesuai dengan standar yang diberikan oleh perusahaan. QA bertugas menentukan penjaminan tertentu terhadap kinerja unit pabrik dalam pelaksanaan kinerja unit pabrik, pengawasan  terhadap  proses  produksi,  sumber  daya  manusia  yang  berkompeten,  dokumentasi  dan  pencatatan  kinerja  unit pabrik, serta pencatatan setiap kegiatan yang dilakukan. (1,2)

Tujuan QA adalah untuk meningkatkan proses pengembangan dan pengujian sehingga tidak terjadi cacat saat produk dikembangkan. Sesuai dengan tujuan QA, jika produk yang dihasilkan belum sesuai dengan standar maka perusahaan akan memperbaiki serta meningkatkan secara terus menerus, berkesinambungan dan menciptakan inovasi untuk menjamin tidak adanya hal-hal yang tidak dikehendaki sehingga dapat produk yang dihasilkan memuaskan. QA dapat dicapai dengan membangun sistem manajemen mutu yang baik dan menilai kecukupannya. Terlebih lagi, semua orang di tim yang terlibat dalam pengembangan produk bertanggung jawab atas jaminan kualitas. (1,2,5)

Quality Control (QC)

Quality Control (QC) merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memastikan kualitas produk dengan mengidentifikasi apakah terdapat cacat pada produk yang dihasilkan. QC bertugas menentukan standar mutu tertentu terhadap produk, metode pengujian untuk standardisasi mutu, infrastruktur pengujian mutu, serta sumber daya manusia yang berkompeten dalam melakukan pengujian mutu. QC dapat dicapai dengan mengidentifikasi dan menghilangkan sumber masalah kualitas untuk memastikan kebutuhan pelanggan terus terpenuhi. Jika terjadi kelainan mutu pada produk maka hal tersebut dapat segera dilakukan tindakan koreksi dan menilai ulang secara keseluruhan agar tidak terulang kembali kelainan yang tidak diinginkan pada produk yang dihasilkan. (1, 3)

Hubungan Quality Assurance dengan Quality Control

Antara QA dan QC tentunya saling bekerjasama dalam menjamin mutu produk yang dihasilkan. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembagian tugas QC pada proses pengawasan seperti sumber daya yang tersedia dan volume produksi yang dijalankan. Pembagian tugas ini dapat dilakukan dengan memberi tanggung jawab kepada beberapa orang pada bagian-bagian kritis selama proses produksi. Selain itu diperlukan juga kepala bagian dan asisten kepala bagian yang mengawasi kinerja staff QC yang bertugas. (3)

FOTO ARTIKEL WEBSITE (17)

Berdasarkan  hasil  atau  data  yang  diperoleh  dari Quality  Control,  baik pada  bagian  produksi  atau  pada  bagian Quality  Control sendiri,  dilaporkan  pada bagian Quality   Assurance. Jika masih ditemukan hal-hal yang tidak sesuai maka kemudian   dilakukan   evaluasi   dalam   hal memperbaiki kualitas produk tersebut. (3)

Pengembangan produk baru dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kualitas produk dan merupakan salah satu proses untuk menjaga kepercayaan konsumen terhadap mutu serta kualitas perusahaan. Pengawasan pengembangan produk baru ini dapat dilakukan langsung oleh QA dengan bantuan QC dengan mempertimbangkan sistem mutu yang diterapkan. Untuk memastikan bahwa mutu itu terpenuhi  diperlukan kerjasama yang baik dan seimbang antara QC dan QA. QC akan memantau, dan mengevaluasi agar persyaratan mutu yang ditetapkan tercapai. Sedangkan QA akan merencanakan secara  sistematis dan mendemonstrasikan untuk memberikan keyakinan kepada pelanggan bahwa persyaratan yang ditetapkan akan dijamin tercapai. (3,4)

Jadi kesimpulannya, Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC) pada dasarnya erat kaitannya dengan meningkatkan mutu pangan dalam aspek manajemen mutu dan kualitas produk namun keduanya memiliki fokus yang berbeda. Quality Assurance (QA) berorientasi pada proses dan pencegahan cacat pada produk sedangkan Quality Control (QC) berorientasi mengidentifikasi cacat pada produk dan memastikan produk benar – benar memenuhi persyaratan mutu. (6)

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Draus C. Quality Control or Quality Assurance in the Food Industry – X-ray Inspection Equipment Ensures Both. Eagle Product Inspection Marketing Manager.2017. Available from https://www.eaglepi.com/id/blog/quality-control-or-quality-assurance-in-the-food-industry/
  2. 6 Perbedaan Utama Antara Quality Control Dan Quality Assurance. LabMania. 2018. Available from https://labmaniaindonesia.id/perbedaan-qc-dan-qa/
  3. Zakiah. Gambaran Pelaksanaan Pengendalian Mutu (Quality Control) Dalam Menjamin Pemenuhan Gizi Pelanggan Oleh Pt. Tata Wisata Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta:2011
  4. Basic concepts of Quality Assurance and Quality Control QA and QC. Method Statement HQ. Available from https://methodstatementhq.com/basic-concepts-of-quality-assurance-and-quality-control-qa-and-qc.html
  5. Monica T.M. A Guide To Best Practices For Food Quality Assurance. Safety Chain. 2021. Available From Https://Blog.Safetychain.Com/Guide-Quality-Assurance-Food-Industry
  6. What’s The Difference Between Quality Control And Quality Assurance In Food Manufacturing. Yamato Scale. 2021. Available from https://www.yamatoscale.co.uk/whats-the-difference-between-quality-control-and-quality-assurance-in-food-manufacturing/

FOTO ARTIKEL WEBSITE (20)

Sumber Daya manusia yang berkualitas dan sehat merupakan modal utama dalam pembangunan kesehatan, dengan harapan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Indikatornya dapat dilihat dari status gizi masyarakat, meningkatnya tumbuh kembang yang optimal, terkendalinya jumlah laju pertumbuhan, dan sebagainya. Salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan adalah menumbuh kembangkan Posyandu.(1)

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat, dikelola, diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat yang bertujuan untuk pemberdayaan dan memudahkan pelayanan kesehatan dasar. Meskipun begitu, kegiatan di posyandu juga bersinergi dengan Puskesmas. Sasaran posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya bayi, balita, ibu hamil, nifas dan menyusui, serta pasangan usia subur.(1)

Posyandu Bayi dan Balita

Posyandu untuk bayi dan balita akan lebih baik jika dikondisikan dengan suasana yang menyenangkan dan bisa memacu kreativitas tumbuh kembangnya. Jika ruang pelayanannya memadai, perlu untuk disediakan sarana permainan, sehingga saat menunggu giliran anak tidak digendong terus melainkan bisa dilepas untuk bermain namun tetap dibawah pengawasan orang tua. Jenis pelayanan di posyandu balita meliputi, penimbangan berat badan, penentuan status pertumbuhan, penyuluhan dan konseling. Jika ada tenaga puskesmas biasanya juga dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan deteksi dini tumbuh kembang. Apabila terdapat kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas.(1)

Posyandu Ibu Hamil

FOTO ARTIKEL WEBSITE (21)

Kemudian pelayanan untuk ibu hamil mencakup penimbangan berat badan, pengukuran  tinggi badan, tekanan darah, dan pemantauan status gizi dengan pengukuran lingkar lengan atas. Selain itu ibu hamil juga diberikan tablet besi, imunisasi tetanus, dan konseling untuk perencanaan dan pasca persalinan termasuk KB yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dibantu oleh kader. Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, biasanya posyandu mengadakan kelas ibu hamil. Kegiatan kelas ibu hamil bisa berupa penyuluhan terkait kehamilan, persiapan persalinan, persiapan menyusui dan perawatan payudara, pola makan ibu hamil, perawatan bayi baru lahir, dan senam ibu hamil.(1)

Posyandu Masa Nifas

Posyandu memang biasanya berkisar antara ibu hamil dan bayi saja, dan melupakan masa nifas. Sedangkan nifas juga masuk didalamnya, dan memonitor atau pendampingan saat masa nifas memiliki hubungan baik dengan kejadian morbiditas. Pelayanan yang diberikan bisa berupa memandikan bayi, melakukan perawatan payudara pada ibu nifas untuk melancarkan ASI, dan jika terjadi bendungan ASI, serta berdiskusi tentang tanda bahaya masa nifas, ataupun perasaan yang sedang dirasakan saat itu.(2)

Posyandu Remaja

Tidak ketinggalan remaja juga ada Posyandu, karena kompleksnya permasalahan yang berhubungan dengan kesehatan pada remaja. Merokok, narkoba, hubungan seksual pranikah, kehamilan remaja, kasus cidera, penyakit tidak menular, masalah gizi, merupakan segelintir kasus yang terjadi pada usia sekolah dan remaja. Adanya posyandu remaja diharapkan dapat memfasilitasi remaja dalam memahami permasalahan kesehatan remaja, alternatif pemecahan masalah, memperluas jangkauan Puskesmas terutama bagi remaja daerah yang memiliki keterbatasan akses.(3)

Remaja merupakan kelompok usia 10 tahun sampai berusia 18 tahun. Kader Kesehatan adalah remaja yang dipilih/secara sukarela mengajukan diri dan dilatih untuk ikut melaksanakan upaya pelayanan kesehatan remaja bagi diri sendiri, teman sebaya, keluarga, serta masyarakat. Pelayanan kesehatan remaja di Posyandu mencakup kegiatan promotif dan preventif, meliputi kesehatan reproduksi remaja, keterampilan Hidup Sehat (PKHS), pencegahan penyalahgunaan Napza, aktivitas fisik, gizi, pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan pencegahan kekerasan pada remaja.(3)

Posyandu Lansia

Lansia juga mendapat pelayanan kesehatan dari Posyandu, dengan tujuan dapat memelihara kesadaran pada lanjut usia untuk membina sendiri kesehatannya, meningkatkan kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam menghayati dan menghargai kesehatan lansia. Pelayanan yang diberikan kepada lansia meliputi, pemeriksaan status mental emosional dengan menggunakan pedoman 2 menit yang bisa dilihat pada KMS lansia, pemeriksaan status gizi dengan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah serta penghitungan denyut nadi.(4)

Editor : Erni, S.Tr.Gz

Refrensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta; 2011.
  2. Rahmilasari, G dan Nur, R. Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Pendampingan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Monitoring Masa Nifas). Jurnal Perak Malahayati. 2021;3(1): 1-8.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu Remaja. Jakarta : 2018.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pengelolaan Kegiatan Kesehatan di Kelompok Lanjut Usia, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta;2010.