Pernah nggak sih, belanja di pasar dan menemukan bahan yang lezat, murah, tapi jarang dilirik? Terkadang kita terlalu sibuk mengejar tren makanan dari luar negeri atau bahan- bahan impor, sementara di sekitar kita ada banyak pangan lokal yang tak kalah hebat—baik dari segi rasa, gizi, maupun manfaat jangka panjangnya. Pangan lokal sering dianggap “biasa”, padahal justru menyimpan potensi luar biasa. Dari mendukung ekonomi lokal sampai menjaga kesehatan dan kelestarian bumi, inilah tiga alasan kenapa kita perlu lebih mencintai pangan dari tanah sendiri.

Dekat: Ramah Lingkungan dan Mudah Diakses

FOTO ARTIKEL WEBSITE-81

Pangan lokal dipanen dekat tempat tinggal kita, sehingga mengurangi jarak tempuh dan emisi karbon dari transportasi. Transportasi menyumbang sekitar 19% dari total emisi sistem pangan dunia, dan bahkan untuk sayur-buah, emisi pengirimannya bahkan bisa dua kali lebih besar dibandingkan proses produksinya—angka yang tentu tidak bisa dianggap kecil. Dengan memilih pangan lokal, kita bisa menurunkan emisi tersebut. (1) Membeli pangan lokal langsung dari pasar tradisional atau petani sekitar dapat menguatkan perekonomian daerah dan membantu petani bertahan di tengah persaingan pangan impor. Banyak petani lokal menerapkan metode pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sistem pertanian industri skala besar. Praktik-praktik ini mencakup rotasi tanaman, penggunaan pupuk organik, serta pengelolaan air yang efisien. Seluruh praktik ini berkontribusi pada penurunan emisi. (2,3)

Sehat: Kandungan Gizi Pangan Lokal

Banyak pangan lokal yang kaya zat gizi dan kadang lebih unggul dibanding bahan impor. Berikut ringkasan kandungan gizi dan manfaatnya.

  1. Jagung: Jagung kaya akan serat sehingga dapat mencegah sembelit. (4)
  2. Singkong: Singkong memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes. Singkong juga tidak mengandung gluten, sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita autisme.
  3. Talas: Talas mengandung serat yang bagus untuk pencernaan, tekanan darah, dan jantung.
  4. Kentang: Kentang mengandung antioksidan dan serat yang tinggi untuk menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan jantung.
  5. Pisang: Pisang kaya akan vitamin A, vitamin C, kalsium, serta fosfor sehingga dapat mencegah luka lambung dan kanker usus, menurunkan kolesterol, serta menjaga kesehatan jantung.
  6. Sagu: Sagu memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes.
  7. Ubi Jalar: Ubi jalar mengandung vitamin C, vitamin B, dan fosfor yang ampuh untuk melawan infeksi. Ubi jalar juga dianjurkan untuk ibu hamil.
  8. Labu Kuning: Labu kuning memiliki kandungan vitamin A dan serat yang tinggi yang bagus untuk kesehatan mata, antioksidan, dan pencernaan. (5)
  9. Daun Kelor: Daun kelor kaya akan vitamin C dan kalium. Daun kelor dapat melancarkan ASI, mengatasi anemia, memperkuat daya tahan tubuh, dan menjaga kesehatan kulit. (6)
  10. Ikan Kembung: Ikan kembung mengandung omega-3 yang bahkan 1,5 kali lebih tinggi dari ikan salmon. Omega-3 bermanfaat untuk kecerdasan otak. (7,8)

Hemat: Murah di Kantong, Kaya Manfaat

Harga pangan lokal cenderung lebih stabil dan terjangkau karena tidak melewati rantai impor. (9) Saat harga bahan impor melonjak, alternatif pangan lokal dapat menjadi penyelamat dompet tanpa mengorbankan gizi. Berikut inspirasi menu hemat dan bergizi:

1. Kolak Pisang Kacang Hijau

Bahan:

  1. 250 g kacang hijau
  2. 6 buah pisang (kepok/raja/sesuai selera), potong-potong
  3. 12000 ml air
  4. 9 sdm gula pasir/sesuai selera
  5. 800 ml santan dengan kekentalan sedang
  6. 2 lembar daun pandan simpulkan
  7. 1⁄2 sdt garam

Cara Membuat:

FOTO ARTIKEL WEBSITE-82
  1. Cuci kacang hijau, kemudian rendam minimal 2 jam. Setelah direndam, cuci lagi sampai bersih.
  2. Masak kacang hijau di air mendidih hingga matang/biji empuk dan air menyusut.
  3. Setelah kacang hijau matang, masukkan pisang dan daun pandan. Tutup sebentar dan biarkan sampai pisang setengah matang.
  4. Tambahkan gula, garam, dan santan. Masak kolak sampai mendidih dan aduk sesekali supaya santan tidak pecah.
  5. Cek rasa dan hidangan siap disajikan. (10)
2. Telur Dadar Daun Kelor

Porsi: 8 porsi Bahan:

  1. 2 genggam daun kelor
  2. 4 butir telur ayam
  3. 1⁄2 buah bawang bombay
  4. 1 genggam wortel iris
  5. 2 siung bawang putih
  6. 1 batang daun bawang
  7. 1 sdt garam
  8. 3 sdm minyak

Cara Membuat:

  1. Siapkan semua bahan, potong-potong tipis semua sayur dan bawang. Cuci bersih daun kelor, tiriskan.
  2. Kocok telur dalam wadah. Masukkan semua sayur, bawang, dan daun kelor.
  3. Beri garam, aduk hingga rata. Siapkan wajan/teflon, beri minyak.
  4. Tuang telur dalam wajan/teflon, ratakan sesuai ukuran. Masak hingga kuning kecokelatan dengan api sedang, di balik kemudian angkat dan sajikan. (11)
3. Aunu Senebre

Bahan:

  1. 100 g ikan teri nasi, goreng sebentar
  2. 100 g kelapa parut kasar
  3. 1 batang daun talas dan batangnya, iris
  4. 1⁄4 sdt garam

Cara Membuat:

  1. Daun talas dan batangnya direbus sampai matang. Angkat, tiriskan.
  2. Campurkan ikan teri nasi, daun talas dan batangnya, kelapa parut kasar, serta garam. Aduk rata.
  3. Kukus selama 30 menit dengan api sedang sampai matang.
  4. Sajikan dengan papeda atau umbi-umbian kukus. (12)

Tiga alasan cukup untuk jatuh cinta pangan lokal: dekat, sehat, dan hemat. Makan sehat tak harus mahal dan peduli bumi tak harus ribet. Yuk, kenali, cintai, dan biasakan konsumsi pangan dari tanah sendiri!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Li M, Jia N, Lenzen M, Malik A, Wei L, Jin Y, et al. Global Food-Miles Account for Nearly 20% of Total Food-Systems Emissions. Nature Food. 2022;3(6):445–53.
  2. Naked Farmer. Why Locally-Sourced Food Matters [Internet]. [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://www.eatnakedfarmer.com/stories/why-locally-sourced-food-matters?
  3. Yayasan Resiliensi Lingkungan Indonesia. Menyelamatkan Bumi dengan Pangan Lokal: Kontribusi Menu Makanan Sehari-hari dalam Pengurangan Emisi - Relung Indonesia [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://relungindonesia.org/2024/08/menyelamatkan-bumi-dengan-pangan-lokal- kontribusi-menu-makanan-sehari-hari-dalam-pengurangan-emisi/
  4. Badan Pangan Nasional. Kenyang Gak Harus Nasi, Ini Dia Penggantinya [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://badanpangan.go.id/blog/post/kenyang-gak-harus-nasi-ini-dia- penggantinya
  5. Balai Pengujian Standar Instrumen Lingkungan Pertanian. Makanan Pokok Pengganti dari Nusantara [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://lingkungan.bsip.pertanian.go.id/berita/makanan-pokok-pengganti-dari-nusantara
  6. Alodokter. 9 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan - Alodokter [Internet]. 2024 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  7. Rokom. Sumber Protein Bukan Hanya Susu [Internet]. Sehat Negeriku. 2018 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180329/3825391/sumber- protein-bukan-susu/
  8. Universitas Gadjah Mada. Konsumsi Ikan Tingkatkan Kecerdasan Otak [Internet]. 2017 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://ugm.ac.id/id/berita/15246-konsumsi-ikan-tingkatkan-kecerdasan-otak/
  9. Desa Kuripan Kidul Kab. Cilacap. Pasar Lokal: Pilar Ketahanan Pangan Desa [Internet]. 2025 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://kuripankidul.desa.id/pasar-lokal-pilar-ketahanan-pangan-desa/
  10. Anjar A. Resep Kolak Pisang & Kacang hijau [Internet]. Cookpad. [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://cookpad.com/id/resep/2950973-kolak-pisang-kacang-hijau
  11. Prantoro A. Resep Telur Dadar Daun Kelor [Internet]. Cookpad. 2020 [dikutip 13 April 2025]. Tersedia pada: https://cookpad.com/id/resep/13080461-telur-dadar-daun-kelor?via=search&
  12. Fahmisa U, Pramesthi IL, Kusuma S, Rahmawati. Katalog Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal bagi 50 Kabupaten Prioritas Stunting di Indonesia. Cetakan Pe. Jakarta: Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON); 2021.

Anemia pada remaja putri dan wanita usia subur (WUS) merupakan salah satu faktor risiko stunting. Ternyata populasi remaja putri dan WUS saat ini terbanyak berasal dari generasi Z, yang mana memiliki pola konsumsi yang cenderung mengikuti trend kekinian. Lantas, bagaimana Gen Z dapat berperan memutus rantai dan dampak anemia di masa mendatang? Mari Simak informasi berikut.

Kenali Anemia

FOTO ARTIKEL WEBSITE-79

Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada dibawah nilai normal (<12mg/dl). Gejala anemia dapat berupa sesak nafas saat beristirahat ataupun beraktivitas, sakit kepala, pusing, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, sulit konsentrasi, 5 L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai), serta pucat pada muka, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan. [1] Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, proporsi anemia pada kelompok usia 15-24 tahun sebanyak 15,5%, usia 25-34 tahun sebanyak 13,2%, dan usia 35-44 tahun sebanyak 14,6%. Kejadian anemia pada perempuan lebih besar dibanding laki-laki, yaitu 18% (perempuan) dan 14,4% (laki-laki).[2] Hasil ini menunjukkan bahwa perempuan pada usia produktif sangat rentan terhadap anemia, yang mana dapat berdampak pada risiko anemia selama masa kehamilan. Seperti yang kita ketahui, anemia selama kehamilan dapat berdampak pada risiko stunting, komplikasi kehamilan, hingga kematian pada ibu dan bayi. Oleh karena itu, penting bagi remaja putri dan wanita usia subur (WUS) untuk mencegah anemia sedini mungkin.

Sel darah merah terbentuk dari susunan hemoglobin, yang mana berperan mengikat dan menyalurkan oksigen serta zat gizi lainnya ke seluruh jaringan tubuh. Hemoglobin terbentuk dari protein (asam amino globin) dan zat besi. Dalam proses pembentukan hemoglobin juga terlibat vitamin B6, B9, B12, dan vitamin E yang berperan sebagai koenzim.[1] Oleh karena itu, diperlukan konsumsi makanan sumber protein, zat besi, serta zat gizi mikro lainnya yang mendukung penyerapan zat besi dan pembentukan hemoglobin.

Dalam bahan makanan yang kita konsumsi sehari-hari, zat besi tersedia dalam bentuk heme dan non-heme. Zat besi heme memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi dibanding bentuk non-heme. Zat besi heme banyak ditemukan pada sumber protein hewani (seperti hati ayam, daging sapi, telur, ikan, dll). Sedangkan zat besi non-heme banyak ditemukan pada sumber protein nabati dan sayur-sayuran (seperti tempe, kacang-kacangan, sayur bayam, brokoli, daun kelor, dan sayuran daun hijau lainnya). Zat besi non-heme memerlukan bantuan vitamin C dalam proses penyerapannya. Zat besi-non heme atau bentuk ferric (Fe3+) memerlukan kondisi asam untuk diubah menjadi ferrous (Fe2+) yang lebih mudah diabsorbsi tubuh. Vitamin C membantu menciptakan lingkungan yang lebih asam di lambung sehingga zat besi dalam bentuk Fe3+ berubah menjadi Fe2+ dan lebih mudah diserap di usus halus. Oleh karena itu, defisiensi vitamin C dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga berisiko terjadinya anemia.[3]

Bagaimana Pola Konsumsi Gen Z Dapat Menjadi Faktor Penyebab Anemia?

Seiring perkembangan zaman, trend dalam bidang kuliner juga berkembang mengikuti selera dan gaya hidup masyarakat, salah satunya dapat dilihat dari maraknya kehadiran coffee shop / café / pedangan kaki lima yang menjual olahan minuman kopi, teh, coklat atau minuman lainnya yang semakin bervariasi. Jakpat Survey Report 2023 menunjukkan 66% Gen Z mengonsumsi kopi setiap hari dengan jenis minuman kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi instan, dan es kopi susu.[4] Selain itu, survey pola konsumsi remaja usia 15-19 tahun menunjukkan bahwa konsumsi makanan instan dapat mencapai 71,6% sedangkan konsumsi sayur/buah hanya sekitar 14,6%.[2] Hal ini menunjukkan gen Z cenderung mengonsumsi makanan dan minuman yang miskin zat gizi, tetapi kaya akan zat anti gizi. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa rendahnya konsumsi makanan sumber protein dan zat besi, serta kebiasaan konsumsi kopi dan teh >2 cangkir per hari menjadi faktor utama penyebab anemia defisiensi besi pada remaja dan WUS. [5,6]

Mengapa demikian?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-80

Kopi, teh, dan coklat memiliki kandungan kafein dan tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh. Penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi >2 cangkir sumber kafein meningkatkan risiko anemia 1,6 kali lebih besar dibanding konsumsi sumber kafein kurang dari 2 cangkir per hari.[5] Konsumsi kafein juga menyebabkan insomnia, yang dapat mengganggu metabolisme sel, serta menghambat pertumbuhan dan differensiasi sel progenitor eritroid sehingga proses pembentukan sel darah merah terganggu.[7] Pembentukan hemoglobin semakin terhambat dengan rendahnya konsumsi protein dan zat besi. Protein tidak hanya sebagai komponen pembentuk hemoglobin, tetapi juga berperan sebagai transporter zat besi ke sumsum tulang, sebagai tempat pembentukan sel darah merah. Kekurangan protein dan zat besi menyebabkan jumlah zat besi yang dibawa ke sumsum tulang juga sedikit sehingga dapat menurunkan jumlah, ukuran dan warna sel darah merah yang diproduksi. Kondisi tersebut dikarakterisasi sebagai anemia defisiensi besi.[6] Oleh karena itu, penting untuk mengurangi / menghindari konsumsi sumber kafein dan tanin, serta meningkatkan konsumsi protein, zat besi, serta vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

Tips Bebas Anemia ala Gen Z

Sebagai generasi yang berperan penting menentukan status kesehatan Indonesia di masa mendatang, kita harus cerdas dalam mengatur pola makan agar terbebas dari anemia. Berikut tips bebas anemia yang bisa kita terapkan bersama:

  1. Hindari konsumsi kopi, teh, dan coklat segera setelah makan / sore hingga malam hari sebelum waktu tidur.
  2. Jika ingin mengonsumsi minuman kopi, teh, dan coklat, bisa dilakukan 1-2 jam setelah makan dan jumlah yang dikonsumsi maksimal 1 cangkir per hari.
  3. Pilih minuman sumber vitamin C (es jeruk, jus jambu biji, jus strawberry, dll) setelah makan, terutama setelah konsumsi olahan protein hewani (steak, bakso. olahan masakan ikan, dll).
  4. Usahakan konsumsi protein setiap kali makan atau 2-3 porsi per hari, terutama protein hewani (ikan, daging, ayam, telur).
  5. Tetap konsumsi sayur daun hijau dan buah tinggi vitamin C (jambu biji, jeruk, strawberry, dll) setiap kali makan atau 3-4 porsi per hari.
  6. Konsumsi tablet tambah darah 1 tablet per minggu atau 1 tablet per hari saat menstruasi.
  7. Kombinasikan makanan instan dengan real food sumber protein / zat besi, sebagai contoh: menambahkan telur rebus / daging cincang dan sawi hijau saat mengonsumsi mie instan.
  8. Usahakan tidur malam hari dengan durasi yang cukup (min. 8 jam).
Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kemenkes. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS) 2018.
  2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Dalam Angka. In: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, editor. Jakarta2023.
  3. Dilantika C, Sitorus N, Nursaebah. The Important Role of Iron, Protein, and Vitamin C with The Incident of Anemia. Journal of Indonesian Specialized Nutrition. 2024;1(3)
  4. Fundrika BA. Survei: 66% Gen Z Mengaku Minum Kopi Setiap Hari, Sudah Jadi Gaya Hidup? : Suara.com; 2024 [cited 2025 Apr 14]. Available from: https://www.suara.com/lifestyle/2024/04/17/115000/survei-66-gen-z- mengaku-minum-kopi-setiap-hari-sudah-jadi-gaya-hidup
  5. Purbowati, Nurohmi S, Aisyah RW. Relationship between variables and anemia status among female workers. BIO Web of Conferences. 2025.https://doi.org/10.1051/bioconf/202515302017
  6. Hidayanti L, Saraswati D, Aisyah IS. Associations between quantity and quality of dietary intake with haemoglobin concentration among female adolescents in Tasikmalaya, West Java, Indonesia. Malaysia Journal of Nutrition. 2024;30(1):91.https://doi.org/10.31246/mjn-2023-0073
  7. Nurrahma A, Mustafa A, Wulandari LP, Setyarini DI. The Effect of Caffeine Consumption Habits and Sleep Quality on Hemoglobin Levels in Adolescent Girls. Health Access Journal. 2025;2(1).https://ojs.poltekkes- malang.ac.id/index.php/HAJ/index Barbagallo, M. Healthy aging and dietary patterns. Nutrients. 2022;14(4), 889.

“Habis gelap terbitlah terang.”
Kalimat simbolis oleh R.A Kartini tidak hanya menunjukkan perjuangan perempuan untuk mencapai pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan perjuangan perempuan dalam mempertahankan hak-hak mereka atas fisik dan kesehatan. Di balik setiap peran penting yang dijalani para perempuan baik sebagai anak sekolah, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja, pendidik, pemimpin tersimpan satu fondasi utama yang kerap terlupakan: menjaga kesehatan diri melalui gizi seimbang. Dalam semangat memperingati Hari Kartini di bulan April ini, mari kita mengenal bahwa perjuangan perempuan modern juga dimulai dari piringnya sendiri. Karena gizi yang cerdas hari ini, adalah kunci untuk menjalani peran hebat esok hari.

Peran Gizi di setiap Fase Kehidupan Perempuan

FOTO ARTIKEL WEBSITE-77

Perempuan mengalami berbagai tahapan yang unik dan memberi perhatian khusus pada kebutuhan gizinya mulai dari masa remaja sekolah, usia subur atau pubertas, kehamilan, menyusui, dan menopause. Setiap tahapan tersebut membawa perubahan fisiologis yang signifikan dan berdampak pada kebutuhan gizi. Ketika Remaja, misalnya kebutuhan zat besi meningkat karena menstruasi dan pertumbuhan. Jika kebutuhan zat besinya tidak terpenuhi maka akan rentan mengalami anemia yang bisa menurunkan prestasi belajar, konsentrasi, dan produktivitas (1). Ketika hamil dan menyusui, tubuh akan membutuhkan lebih banyak energi, protein, asam folat, zat besi, kalsium, dan vitamin untuk mendukung pertumbuhan janin dan produk ASI (2). Sedangkan saat menopause, perempuan mengalami penurunan hormon estrogen yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis, sehingga untuk menjaga kesehatan tulang pentingnya asupan vitamin D dan kalsium (3).

Masalah Gizi yang Sering Dihadapi Perempuan

Meski peran perempuan sangat penting dalam menjaga kesehatan keluarga, ironisnya banyak perempuan justru mengabaikan kebutuhan gizinya sendiri. Adapun berbagai masalah gizi masih sering ditemukan, seperti:

  1. Anemia defisiensi besi, terutama pada remaja putri dan ibu hamil. Anemia menyebabkan banyak gejala seperti cepat lelah, lemas, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya produktivitas (4).
  2. Kekurangan energi kronik (KEK), yang ditandai dengan tubuh kurus dan lemah. Pada umumnya terjadi pada perempuan usia subur yang tidak mendapatkan asupan makan cukup (5).
  3. Diet ekstrim demi mengejar standar kecantikan tertentu, yang bisa menyebabkan gangguan makan dan kekurangan zat gizi esensial.
  4. Kurangnya konsumsi sayur dan buah, yang menyebabkan defisiensi vitamin dan mineral serta serat penting seperti asam folat dan vitamin C.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi anemia pada remaja putri di indonesia mencapai 32%, dan pada ibu hamil bahkan lebih dari 48% (6). Didukung juga oleh penelitian lainnya menunjukkan bahwa pola makan rendah zat besi dan kebiasaan minum teh setelah makan menjadi faktor risiko signifikan terjadinya anemia pada perempuan usia produktif (7).

FOTO ARTIKEL WEBSITE-78

Prinsip Gizi Seimbang untuk Perempuan

Untuk menjadi perempuan yang tangguh secara fisik dan mental, dibutuhkan pola makan yang tepat dan gizi seimbang. Prinsip gizi seimbang adalah panduan sederhana namun sangat penting dalam memenuhi kebutuhan harian tubuh tanpa berlebihan ataupun kekurangan. Adapun 10 pilar utama gizi seimbang dalam Kemenkes, mencakup (8):

  1. Mensyukuri dan nikmati aneka ragam makanan,
  2. Mengonsumsi aneka ragam makanan pokok (sumber utama karbohidrat untuk mensuplai energi, selain beras ada ubi, singkong, jagung, talas, dan lainnya),
  3. Mengonsumsi asupan protein hewani dan protein nabati (sumber zat besi pada protein hewani),
  4. Membiasakan makan sayur dan buah setiap hari (sumber vitamin, mineral dan serat terutama Vitamin C dan asam folat pada sayur berdaun hijau),
  5. Membatasi gula, garam, dan lemak berlebih (maksimal konsumsi gula 4 sendok makan/hari atau tidak lebih dari 50 gram, garam 1 sendok teh/hari atau tidak lebih dari 2000 mg, minyak 5 sendok makan/hari atau tidak lebih dari 67 gram),
  6. Membiasakan makan pagi (memenuhi kebutuhan zat gizi untuk bekerja, berpikir, beraktivitas, meningkatkan konsentrasi),
  7. Minum air putih cukup 8 gelas sehari,
  8. Membiasakan membaca label pada kemasan pangan,
  9. Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir,
  10. Melakukan aktivitas fisik yang cukup untuk mengontrol berat badan ideal

Penerapan prinsip ini tidak harus mahal atau rumit. Dengan mengikuti 10 pilar gizi seimbang dan memperhatikan porsi yang tepat sesuai Isi Piringku, perempuan bisa menjaga tubuh tetap bertenaga dan sehat dalam menjalani berbagai aktivitas.

Contoh Menu Harian Bergizi Seimbang

Pagi: Nasi + telur rebus + labu siam tumis + pepaya
Camilan Pagi: Smoothies pisang mas dan susu rendah lemak
Siang: Nasi + pepes ikan + tumis kangkung + tahu/tempe goreng + jeruk
Camilan Sore: Ubi orang/ungu kukus + Teh tawar hangat
Makan Malam : Sup bening bayam buncis wortel + telur rebus + semangka potong
Komposisi piring yang disarankan sesuai dengan konsep Isi Piringku: karbohidrat (1⁄4 bagian), protein (1⁄4 bagian), serta sayur dan buah (1⁄2 bagian). Selain itu ada beberapa tips yang perlu diperhatikan terutama perempuan yang rentan mengalami anemia yaitu menghindari minum teh sebelum dan sesudah makan utama atau setelah minum tablet tambah darah karena dapat menghambat penyerapan zat besi pada makanan (7). Daripada minum teh atau kopi, makan atau minum yang banyak mengandung vitamin C (seperti jeruk/jus jeruk) dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Dalam sebuah studi penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang menerapkan pola makan sehat dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit kronis dan meningkatkan kualitas hidup (9,10).

Perempuan Sehat, Bangsa Kuat

Perempuan masa kini yang berdaya, cerdas, dan peduli pada kesejahteraan dirinya merupakan Kartini Modern. Kartini modern tak harus memegang pena di meja tulis, tetapi dengan memahami pentingnya “Gizi Seimbang” mengisi piringnya dengan bijak. Perempuan hebat masa kini bukan yang sempurna, tetapi yang sadar menjaga kesehatan adalah bentuk perjuangan dan juga bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Karena dari pola makan yang baik lahir tubuh dan jiwa yang sehat. Dan dari tubuh yang sehat, lahir ketangguhan untuk berkarya, menginspirasi, dan memberi dampak nyata. Semangat Kartini tak hanya tentang emansipasi tapi dengan menjadikan kesehatan sebagai pemberdayaan untuk merawat diri, dan pedoman gizi seimbang sebagai kunci untuk tetap tangguh dalam setiap peran yang dijalani. Inilah perempuan yang cerdas secara gizi adalah Kartini masa kini yang mencintai dirinya dengan memulai dari piring, melangkah ke dunia, dan membawa terang.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Nasruddin, H., Syamsu, R. F., & Permatasari, D. Angka kejadian anemia pada remaja di indonesia. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia. 2021;1(4),357-364.
  2. Jouanne, M., Oddoux, S., Noël, A., & Voisin-Chiret, A. S. Nutrient requirements during pregnancy and lactation. Nutrients. 2021;13(2), 692.
  3. Zhang, J., Cheng, Y., Chen, C., Wang, Q., Yang, C., Qiu, J., ... & Zhao, Y. Interaction of estradiol and vitamin D with low skeletal muscle mass among middle-aged and elderly women. BMC women's health. 2023;23(1), 491.
  4. Ismawati, R. M. The Impact of Anemia on Work Productivity Among Tailors: A Quantitative and Qualitative Analysis. International Journal on Health and Medical Sciences. 2024; 2(3), 72-81.
  5. Arni, C. C., Angraini, D. I., & Zuraida, R. Analysis of the Variables Affecting Chronic Energy Deficiency (CED) in Adolescent Girls: a Systematic Review. International Journal of Current Science Research and Review. 2023;1(1).
  6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2018. Kementerian Kesehatan RI; 2018.
  7. Wulandari A, Sari DK, Pramesti S. Hubungan Pola Makan dan Kebiasaan Minum Teh dengan Kejadian Anemia pada Wanita Usia Subur. J Gizi dan Kesehatan. 2023;15(1):23–31.
  8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Pedoman Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan RI; 2020.
  9. Shan, Z., Wang, F., Li, Y., Baden, M. Y., Bhupathiraju, S. N., Wang, D. D., ... & Hu, F. B. Healthy eating patterns and risk of total and cause-specific mortality. JAMA internal medicine. 2023;183(2), 142-153.
  10. Dominguez, L. J., Veronese, N., Baiamonte, E., Guarrera, M., Parisi, A., Ruffolo, C., ... & Barbagallo, M. Healthy aging and dietary patterns. Nutrients. 2022;14(4), 889.

Lebaran identik dengan tradisi berkumpul dengan keluarga besar dan dilengkapi dengan hidangan khas lebaran. Di Indonesia sendiri, hidangan khas lebaran identik dengan makanan tinggi kalori dan tinggi lemak mulai dari ketupat, opor ayam, hingga kue-kue kering khas lebaran. Lebaran menjadi momentum seseorang menjadi lebih kalap saat makan karena tersedianya banyak hidangan yang hanya ada di saat lebaran, berkunjung dari rumah ke rumah dan karena setelah sebulan berpuasa. Namun, lebaran tidak bisa dijadikan alasan agar jarum timbangan makin ke kiri, bukan?
Berikut tips mindful eating ala Ahli Gizi yang dapat kalian coba di lebaran kali ini.

1. Makan dengan porsi kecil dan sesuai kebutuhan harian

FOTO ARTIKEL WEBSITE-75

Lebaran merupakan waktu dimana frekuensi makan menjadi lebih sering dibanding hari biasanya. Hal ini dikarenakan lebaran adalah waktu untuk bersilaturahmi ke rumah kerabat dan keluarga dan mau tidak mau, Anda perlu makan lebih sering setiap berkunjung dari rumah ke rumah. Tips mindful pertama yang dapat Anda terapkan agar tidak kalap adalah dengan makan dengan porsi kecil. Selain makan dengan porsi kecil, Anda juga harus memerhatikan kebutuhan harian Anda agar konsumsi makan Anda tidak melebihi kebutuhan. Terkait kebutuhan harian, Anda dapat menggunakan aplikasi tracker makanan yang dapat Anda unduh melalui ponsel atau berkonsultasi langsung dengan Ahli Gizi Anda. Selain itu, Anda juga dapat menggunakan panduan ‘Isi Piringku’ untuk dijadikan acuan dalam menentukan porsi makan dengan gizi seimbang. Adapun pedoman dari ‘Isi Piringku’ yaitu: (1, 2)

  1. Makanan Pokok (beras, jagung, ubi, beserta olahannya) : 2/3 bagian dari 1⁄2 piring dan 3-4 porsi per hari. Untuk 1 porsi makanan pokok setara dengan 3 centong nasi (150 gr) atau 1 buah ketupat (110 gr).
  2. Lauk Pauk (Protein Hewani dan Nabati) : 1/3 bagian dari 1⁄2 piring dan 2-4 porsi per hari. Untuk protein hewani, 1 porsi lauk hewani setara dengan 2 potong sedang ayam tanpa kulit (80 g\r), 1 butir telur ayam ukuran besar (55 gr) dan untuk protein nabati, 1 porsi lauk nabati setara dengan 100 gr tahu atau 2 potong sedang tempe.
  3. Sayuran : 2/3 bagian dari 1⁄2 piring dan 3-4 porsi per hari. Dalam sekali makan, sayuran dan makanan pokok jumlah dan porsinya sama. Untuk 1 porsi sayuran setara dengan 150 gram atau 1 mangkok sedang.
  4. Buah-Buahan : 1/3 bagian dari 1⁄2 piring dan 2-3 porsi per hari. Untuk 1 porsi buah-buahan setara dengan 2 potong sedang pepaya (150 gram) atau 1 buah kecil pisang ambon (50 gram).

2. Tetap konsumsi sayur dan buah

Saat lebaran, menu sayur dan buah sangat jarang disajikan. Namun, untuk memenuhi gizi seimbang, sayur dan buah tetap harus tersedia untuk memenuhi kebutuhan gizi vitamin dan mineral. Sayur dan buah-buahan adalah bahan pangan sumber vitamin, mineral dan serat. Berbagai vitamin yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan memiliki peran sebagai antioksidan untuk mencegah kerusakan sel dan menangkal radikal bebas. Selain itu, serat dalam sayuran dan buah-buahan dapat membantu melancarkan pencernaan. (3) Lebaran kali ini, mari membuat perubahan dengan mencoba untuk menyajikan menu sayur dan buah agar hidangan lebaran tetap memenuhi gizi seimbang. Di meja makan, Anda dapat menyajikan hidangan sayur yang tetap cocok dengan suasana lebaran seperti capcay, sayur sop dan lain-lain. Selain itu, Anda dapat menyajikan buah potong sebelum menyantap makanan utama. Penelitian yang dilakukan oleh Dwipajati dan Sutomo (2023) menunjukkan bahwa konsumsi buah sebelum makan dapat menurunkan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2. (4) Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Guyenet (2019) menunjukkan bahwa konsumsi buah-buahan segar dan utuh kemungkinan besar tidak berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi dan jaringan adiposa. (5) Dengan begitu, mengonsumsi buah sebelum makan dapat dijadikan upaya saat lebaran bahkan sehari-hari agar tidak kalap saat mengonsumsi makanan utama.

3. Membatasi minuman tinggi gula dan kue-kue kering

FOTO ARTIKEL WEBSITE-76

Saat lebaran akan ada banyak tersaji minuman tinggi gula seperti sirop maupun kue-kue kering. Minuman tinggi gula selain mengandung kalori yang tinggi, dapat meningkatkan risiko hampir dua kali lipat terhadap kejadian overweight dan obesitas. (6) Oleh karena itu, batasi konsumsinya cukup 1 gelas dalam sehari atau lebih baik mengonsumsi air putih. Kue-kue kering mayoritas mengandung tinggi lemak, karbohidrat dan natrium. Jika dikonsumsi secara berlebihan dapat membuat gula darah melonjak, berat badan maupun kolesterol naik. Sebaiknya konsumsi kue-kue kering 3-5 biji saja dalam sehari, selain itu, makan setelah makan utama agar tidak membuat gula darah melonjak secara drastis. Berikut daftar kalori berbagai jenis kue kering Lebaran: (7)

  • Kalori nastar nanas: 75 kkal per buah, 224 kkal per porsi sebanyak 3 buah.
  • Kalori kastengel: 21 kkal per buah, 64 kkal per porsi sebanyak 3 buah
  • Kalori putri salju: 30 kkal per buah, 60 kkal per porsi sebanyak 2 buah.
  • Kalori lidah kucing: 18 kkal per buah, 91 kkal per porsi sebanyak 5 buah.
  • Kalori butter cookies: 32 kkal per buah, 160 kkal per porsi sebanyak 5 buah.
  • Kalori semprong: 38 kkal per buah, 113 kkal per porsi sebanyak 3 buah.
  • Kalori kue kacang: 24 kkal per buah, 76 kkal per porsi sebanyak 3 buah.
  • 4. Tetap melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit/hari

    Walaupun dalam suasana lebaran, jangan lupa untuk menyisihkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit/hari seperti: berjalan ataupun lari di sore hari. Dengan melakukan aktivitas fisik, Anda dapat membakar kalori yang masuk sehingga dapat mencegah peningkatan berat badan. Menurut WHO, manajemen awal penurunan berat badan adalah dengan mengubah pola makan, pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik. Perubahan lemak viseral tidak dapat dicapai hanya dengan perubahan pola makan saja. WHO merekomendasikan untuk menurunkan berat badan dengan olahraga berintensitas sedang setiap 3-5 kali dalam seminggu seperti berjalan dengan durasi 30-45 menit.hari. (8)

    Itulah beberapa tips mindful ala Ahli Gizi yang dapat Anda terapkan di lebaran kali ini. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, lebaran seharusnya menjadi awal dalam implementasi habit mengendalikan diri dari makan dan minum yang berkontribusi buruk bagi kesehatan bukan sebaliknya. Selamat berlebaran!

    Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

    Referensi

    1. Bhinuri Darmawanti. Isi Piringku: Pedoman Makan Kekinian Orang Indonesia. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan. 2022. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku- pedoman-makan-kekinian-orang-indonesia
    2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: 2014
    3. Holif Fitriyah dkk. Gizi dalam Daur Kehidupan. Muhamad Rizal Kurnia, editor. Banten: Sada Kurnia Pustaka. 2024
    4. Dwipajati dan Sutomo. Pembatasan Porsi Nasi dan Konsumsi Buah Sebelum Makan dengan Kadar HbA1c dan Lemak Perut Penderita Diabetes Mellitus Tipe-2 di Kota Malang. Am. Nutr. 8(1): 58-66. 2024
    5. Guyenet, S. Impact of Whole, Fresh Fruit Consumption on Energy Intake and Adiposity: Systematic Review. Front. Nutr. 6: 66. 2019
    6. Riri Oktavani Banjarnahor dkk. Faktor-Faktor Risiko Penyebab Kelebihan Berat Badan dan Obsesitas Pada Anak dan Remaja: Studi Literatur. Trophico J. 2022
    7. Larastining Retno Wulandari. Berapa Kalori Kue Lebaran? Ketahui Setiap Jenisnya. Hellosehat. 2024. Available from: https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/kalori-kue- lebaran/
    8. Finta Isti Kundarti dkk. Buku Ajar Patofisiologi dalam Kebidanan. Malang: Unisma Press. 2024<

    Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Berbagai manfaat berpuasa bagi kesehatan salah satunya dapat meningkatkan daya tahan tubuh. (1) Selama berpuasa Ramadhan pola makan berbeda dari yang biasanya. Lambung dibiarkan kosong sekitar 12-13 jam. Puasa seharian bukan menjadi alasan tidak produktif. Justru, dengan penerapan pola makan yang tepat, tubuh bisa tetap berenergi sepanjang hari. Mau tahu bagaimana caranya? Simak tips F-I-T berikut agar puasa tetap lancar dan penuh energi.

    1. Fokus optimalkan asupan gizi

    FOTO ARTIKEL WEBSITE-73

    Gizi optimal penting untuk menjaga energi selama Ramadhan. Pastikan asupan makanan sehat yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pemilihan makanan yang tepat saat sahur dan berbuka dapat membantu tubuh tetap bugar dan berenergi sepanjang hari. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan asupan zat gizi yang optimal.

    1. Pilih karbohidrat yang tepat Karbohidrat merupakan zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil energi. Saat puasa tubuh memerlukan asupan karbohidrat yang berkisar antara 50-75% dari total kebutuhan energi harian. Utamakan karbohidrat yang berasal dari karbohidrat kompleks dan sekitar 10% dari karbohidrat sederhana. Saat sahur dan berbuka, penting untuk memperhatikan jenis dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi agar energi tetap stabil sepanjang hari. Ketika sahur, utamakan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, dan ubi jalar yang juga kaya serat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat jenis ini dicerna lebih lambat oleh tubuh dan membantu menjaga glukosa darah stabil, sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama. Sementara itu, saat berbuka, pilih konsumsi karbohidrat sederhana seperti kurma, buah, atau jus untuk mendapatkan energi secara instan setelah seharian berpuasa.(2)
    2. Penuhi asupan protein Protein merupakan zat gizi yang memiliki daya cerna lebih lambat dibandingkan zat gizi lainnya. Hal ini dapat membantu lambung agar kenyang lebih lama, sehingga mendukung stamina tubuh selama berpuasa. Dalam sehari perlu asupan protein sekitar 10-15% dari total energi harian. Bahan makanan yang mengandung protein terbagi menjadi dua sumber yaitu protein hewani dan nabati. Daging ayam, telur, ikan, kambing, sapi merupakan sumber protein hewani, sedangkan tempe, tahu dan beberapa jenis kacang- kacangan termasuk kategori protein nabati. Konsumsi protein saat berpuasa perlu diperhatikan karena berperan dalam menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.
    3. Sayur dan Buah di Setiap Hidangan Sayur dan buah diperlukan karena mengandung berbagai vitamin dan mineral yang penting dalam menunjang segala proses di dalam tubuh. Selain itu, terdapat kandungan serat yang baik untuk tubuh. Saat sahur, utamakan buah tinggi serat dan air seperti apel, pir, atau semangka untuk menjaga hidrasi dan menciptakan rasa kenyang lebih lama. Sedangkan ketika berbuka, konsumsi sayur dan buah juga wajib guna melancarkan pencernaan serta membantu mengeluarkan kolesterol dan lemak, terutama setelah makan berlemak.

    Pemenuhan berbagai zat gizi selama bulan puasa dapat diatur dengan membagi asupan makanan ke dalam lima waktu makan. Pembagian ini meliputi: Sahur (30% dari total kalori harian), sebaiknya terdiri dari karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah. Snack sebelum Imsak (15%), dapat berupa camilan ringan seperti kurma, susu, atau kacang-kacangan untuk menambah cadangan energi. Takjil saat berbuka (10%), disarankan memilih makanan yang mengandung gula alami, seperti kurma atau buah-buahan, untuk mengembalikan energi. Makan malam (30%), merupakan waktu makan utama yang sebaiknya mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah guna memenuhi kebutuhan gizi harian. Terakhir snack setelah Tarawih (15%), dapat berupa camilan sehat seperti yogurt, kacang-kacangan, atau buah untuk menjaga keseimbangan energi hingga waktu sahur berikutnya. Dengan pola makan yang teratur dan seimbang, tubuh tetap mendapatkan asupan gizi cukup, sehingga puasa dapat berjalan dengan lancar tanpa rasa lemas. [3].

    2. Imbangi dengan Olahraga

    FOTO ARTIKEL WEBSITE-74

    Selama berpuasa, tubuh tetap memerlukan olahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Cara sederhana untuk tetap berolahraga dengan aman selama Ramadhan adalah menyesuaikan jenis dan intensitas olahraga agar sesuai dengan kondisi tubuh saat berpuasa. Bagi orang yang jarang berolahraga, disarankan untuk memulai dengan aktivitas fisik ringan sekitar 30 menit sebelum waktu berbuka. Hal ini membantu tubuh beradaptasi tanpa memberikan beban berlebih. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, penyakit jantung, atau riwayat stroke, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program olahraga guna memastikan keamanannya. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa berolahraga, pemilihan waktu dapat disesuaikan dengan tujuan berolahraga.(3)

    Berikut ada beberapa olahraga yang cocok dilakukan saat bulan puasa (2) :

    1. Walking (jalan santai). Jalan kaki bisa dikatakan olahraga apabila dilakukan selama 30 menit.
    2. Jogging (lari santai). Jogging ringan selama 20-30 menit baik dilakukan saat puasa agar tubuh tetap bugar.
    3. Cycling (Bersepeda santai). Bersepeda santai di pagi hari (setelah sahur) dan sore hari (sebelum berbuka) dapat menjadi pilihan olahraga selama puasa yang dilakukan 20-30 menit.
    4. Yoga. Yoga dapat dilakukan 2 jam setelah sahur atau sebelum berbuka puasa.

    3. Terapkan Hidrasi yang baik

    Hidrasi merupakan proses menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh agar fungsi organ tetap optimal. Air salah satu komponen utama dalam tubuh manusia. Tubuh tidak bisa menghasilkan air sendiri, sehingga perlu mendapat asupan dari luar. Untuk menjaga agar kondisi dan fungsi cairan tubuh tidak terganggu, maka cairan harus dikonsumsi setiap hari guna menggantikan yang hilang.(4) Orang dewasa disarankan mengonsumsi sekitar dua liter air per hari atau sekitar 8 gelas. Saat berpuasa, asupan cairan tetap perlu diperhatikan. Dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan cairan dengan membagi konsumsi air, yaitu sekitar 3 gelas saat sahur, 3 gelas saat berbuka dan 2 gelas sehabis tarawih sampai sebelum tidur. (2)

    Menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga keseimbangan gizi, olahraga, dan hidrasi yang baik. Fokus pada pemilihan makanan yang bergizi seimbang saat sahur dan berbuka berperan penting dalam menjaga energi dan kesehatan tubuh. Karbohidrat kompleks, protein berkualitas, serta sayur dan buah harus menjadi bagian utama dalam menu harian. Selain itu, imbangi dengan olahraga agar tubuh tetap bugar. Hidrasi yang cukup juga harus diperhatikan dengan mengatur asupan cairan secara teratur selama waktu berbuka hingga sahur agar tubuh tetap terjaga kesehatannya. Melalui penerapan tips di atas puasa dapat dijalani dengan optimal, kesehatan terjaga, serta meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadhan.

    Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

    Referensi

    1. Kabupaten Gowa T, Rizki A, Ap A, Ahri RA, Studi P, Masyarakat K. Gizi Seimbang pada saat Puasa untuk Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi Covid-19 Pada Ibu di Desa.
    2. Kuswari M, Gifari N, Nuzrina R, Aryawan S, Marcelina E, Justickarin S. Fit Saat Berpuasa Tetap Bugar di Bulan Ramadhan. 1st ed. Bogor: IPB Press Printing; 2019.
    3. Puspitawati ID. PERILAKU AKTIVITAS OLAHRAGA PADA SAAT BULAN RAMADHAN [Internet]. Available from: http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jilo
    4. Penggalih MHST, Sofro ZM, Solichah KM, Niamilah I, Nadia A. Respons, Adaptasi Biokimia dan Fisiologi Atlet. Penggalih MHST, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2019. 32–33 p.

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah Indonesia bertujuan untuk memastikan anak-anak sekolah mendapatkan makanan bergizi secara gratis. Namun, di bulan Ramadan ini, muncul berbagai kritik mengenai menu makanan yang disajikan dan isu pemangkasan anggaran. Makanan yang disajikan menjadi semakin sederhana dan isinya tidak lagi mencerminkan gizi seimbang. Paket yang diberikan hanya berisi roti, telur rebus, susu tinggi gula, dan kurma. Jika dibandingkan dengan menu MBG sebelum Ramadan yang menyajikan nasi, lauk, dan sayur, perubahan ini dapat berpengaruh negatif terhadap kecukupan gizi anak-anak sekolah, terutama bagi mereka yang bergantung pada program tersebut.

    Inovasi Makan Bergizi Gratis (MBG)

    1

    Supaya MBG tetap memenuhi tujuannya sebagai program peningkatan gizi bagi anak sekolah, perlu adanya inovasi dalam penyusunan menu, bukan hanya sekadar pemangkasan anggaran dan penyediaan makanan instan. Beberapa solusi inovatif yang masih mungkin diterapkan dalam keterbatasan anggaran:

    1. Karbohidrat Kompleks
      Mengganti roti dengan nasi, ubi rebus, atau sereal gandum yang lebih mengenyangkan dan kaya serat.
    2. Sumber Protein
      Mengganti telur rebus dengan tahu atau tempe bacem. Menyediakan ikan atau ayam suwir dalam kemasan vakum.
    3. Minuman Sehat
      Beralih dari susu tinggi gula ke susu segar (Fresh Milk) atau susu UHT rendah gula. Menyediakan air mineral kemasan agar anak-anak tidak hanya mengandalkan minuman manis.

    Strategi Pendistribusian

    Berikut ini adalah strategi pendistribusian untuk program MBG (1):

    1. Kemasan higienis Salah satu inovasi yang dapat diterapkan dalam program MBG adalah penggunaan kemasan higienis. Wadah khusus berfungsi agar makanan dapat tetap segar dan terjaga suhunya hingga tiba saatnya untuk dikonsumsi. Selain itu, kemasan yang aman juga berperan dalam mencegah kontaminasi, sehingga makanan yang diterima oleh anak-anak tetap bersih dan layak untuk dikonsumsi.
    2. Peningkatan rantai distribusi Makanan perlu dikirim dengan sistem yang baik agar tetap terjaga kualitasnya dan tidak terpapar suhu ekstrem yang dapat merusak kandungan gizi atau menyebabkan makanan menjadi basi. Dengan manajemen distribusi yang baik, setiap paket makanan dapat sampai kepada anak-anak sekolah dalam kondisi yang aman, higienis, dan siap dikonsumsi tanpa mengurangi manfaat gizinya.
    2

    Kesimpulan

    Meskipun MBG merupakan program yang sangat baik, tantangan utama tetap ada di inovasi menu dan distribusi makanan, terutama selama bulan Ramadan. Jika inovasi dalam MBG tidak segera diimpelementasikan, dikhawatirkan akan menyimpang dari tujuan awal program ini, dari yang fokus pada gizi menjadi sekadar distribusi makanan yang kurang memberikan manfaat bagi kesehatan anak sekolah. Maka, perlu adanya evaluasi lebih lanjut bagi pemerintah untuk program ini.

    Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

    Referensi

    1. Sarjito A. Program Makan Bergizi Gratis sebagai Strategi Pembangunan Sumber Daya Manusia untuk Mendukung Pertahanan Negara. 2024;5(5):129–41.