Apakah kamu pernah berpikir bahwa jawaban atas kesehatan jantung yang prima bisa ditemukan di rak-rak supermarket? Dalam dunia yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis makanan, terkadang solusi terbaik bisa jadi yang paling sederhana. Salah satu contohnya adalah soya atau kedelai. Meskipun sering dianggap sebagai bahan makanan biasa karena harga yang murah, kedelai menyimpan keajaiban yang tak terduga dalam menjaga kesehatan jantung khususnya pada lansia. Mari kita simak penjelasan berikut tentang bagaimana kedelai yang harganya murah tetapi kualitas tidak murahan ini bisa menjadi kunci dalam menjaga jantung lansia agar tetap sehat.

LANSIA DAN PENYAKIT JANTUNG: TANTANGAN YANG PERLU DIHADAPI

FOTO ARTIKEL WEBSITE-23

Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penyakit jantung di Indonesia yaitu 1,5% (3). Angka ini cenderung meningkat 3 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu 0,5% (4). Penduduk Indonesia yang berusia >65 tahun memiliki angka kematian tertinggi akibat penyakit jantung sehingga menjadikan kelompok lansia yang paling rentan (3). Lansia merupakan individu yang rentan mengalami penyakit jantung karena fungsi organ jantung akan semakin menurun seiring bertambahnya usia (1). Bagi sebagian besar lansia, kesehatan jantung adalah salah satu aspek utama yang mempengaruhi kualitas hidup. Dalam usia yang lebih tua, risiko terkena penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah semakin meningkat. Penyakit jantung pada lansia sering terjadi karena masalah pada pembuluh darah arteri (6). Faktor-faktor seperti penurunan elastisitas pembuluh darah, penumpukan plak, kadar kolesterol yang tinggi dan penurunan fungsi jantung meningkatkan risiko penyakit jantung (15). Tantangan utama dalam menghadapi masalah ini yaitu memastikan bahwa lansia mendapatkan perawatan yang tepat. Hal ini melibatkan pendekatan secara holistik yang meliputi penggunaan obat-obatan yang sesuai pengawasan medis dan penerapan pola makan sehat. Pencegahan dan pengendalian penyakit jantung pada lansia melalui pola makan sangat penting baik pada tingkat populasi maupun individu. Selama dekade terakhir, perhatian besar telah diberikan terhadap manfaat kesehatan pada soya khususnya dalam menurunkan risiko penyakit jantung. Dalam dunia yang semakin sadar akan kesehatan, soya telah mendapat sorotan sebagai bahan makanan yang memiliki dampak besar dalam pencegahan dan pengendalian penyakit jantung karena berbagai kandungan zat gizi dan senyawa bioaktif yang bermanfaat dalam melawan penyakit jantung.

SOYA: SI KACANG PUTIH KECIL YANG MENGANDUNG SEGUDANG MANFAAT BAGI JANTUNG LANSIA

Soya atau biasa dikenal dengan kedelai merupakan tanaman yang termasuk ke dalam kelompok kacang-kacangan. Kedelai berasal dari daerah Asia Timur dan sudah tersebar di seluruh dunia (9). Kedelai memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh seperti soy protein, serat, dan asam lemak tak jenuh (lesitin). Selain itu, kedelai mengandung senyawa bioaktif seperti isoflavon yang memiliki manfaat bagi kesehatan jantung (13). Kedelai sering kali dianggap sebagai superfood karena memiliki beragam manfaat untuk kesehatannya (5). Sebagai sumber protein nabati yang berkualitas tinggi dan memiliki asam amino esensial yang lengkap, kedelai menjadi pilihan popular bagi sebagian vegetarian untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh (8). Dalam masakan, kedelai memiliki versatilitas tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai produk mulai dari susu kedelai, tahu, dan tempe.

Baru-baru ini, perhatian besar telah diberikan terhadap manfaat kedelai khususnya dalam menurunkan risiko penyakit jantung terutama efek penurunan kadar kolesterol LDL. Kedelai memiliki sifat hipokolesterolemia dari senyawa bioaktifnya. Studi meta-analisis menunjukkan bahwa mengonsumsi 25 gram protein kedelai per hari selama 6 minggu dapat menurunkan kolesterol LDL sebesar 4,76 mg/dl dan kadar kolesterol total sebesar 6,41 mg/dl dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengonsumsi protein kedelai (16). Penelitian lain yang dilakukan dengan desain studi secara observasional menunjukkan bahwa masyarakat yang mengonsumsi makanan yang kaya akan kedelai, seperti Negara di kawasan Asia Timur, memiliki tingkat penyakit jantung yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara dimana kedelai jarang dikonsumsi. Selain itu, konsumsi olahan kedelai seperti tahu sebanyak 26,7 gram/hari dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit kardiovaskular sebesar 18% (17). Oleh karena itu, memasukkan kedelai ke dalam pola makan sehari-hari dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah penyakit jantung pada lansia (7).

MANFAAT KANDUNGAN GIZI DAN SENYAWA BIOAKTIF PADA SOYA

1. Soy protein
FOTO ARTIKEL WEBSITE-22

Soy protein, juga dikenal dengan protein kedelai adalah sumber protein nabati yang berasal dari kedelai melalui ekstraksi protein. Soy protein dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dengan cara mengurangi penumpukan lemak pada arteri sehingga mengurangi risiko penyakit jantung. Kedelai mengandung 9 asam amino essensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Menurut American Heart Diseases, konsumsi soy protein 25-50 gram/hari efektif dalam menurunkan kadar LDL dalam darah (2).

2. Serat

Kedelai mengandung serat yang bersifat larut air. Serat larut air adalah jenis serat yang larut dalam air dan membentuk gel di usus besar. Serat yang terkandung dalam kedelai dapat menempel pada partikel kolesterol dan mengeluarkannya dari dalam tubuh sehingga membantu dalam menurunkan risiko penyakit aterosklerosis (11).

3. Asam lemak tak jenuh

Asam lemak tak jenuh terutama lesitin memiliki kemampuan dalam mengurangi kelebihan LDL di dalam tubuh. Lesitin merupakan salah satu unsur alam yang mempunyai sifat pengemulsi. Hal itu dapat mengemulsi dan mengontrol penyerapan lemak di dalam tubuh. Studi terbaru menunjukkan bahwa diet yang kaya akan kandungan lesitin dapat meregulasi homeostatis kolesterol dan metabolisme lipoprotein di hati melalui mekanisme peningkatkan aktivitas kolesterol HMG-CoA reduktase dan α-7-hidroksilase dan menurunkan aktivitas ACAT microsomal, sehingga kadar kolesterol dalam tubuh menurun (10).

4. Isoflavon

Isoflavon pada kedelai diketahui memiliki efek anti-aterosklerotik yang signifikan dalam mengatasi penyakit jantung pada lansia (14). Isoflavon terutama genistein dan daidzein dapat menghambat proses oksidasi lipid yang berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis. 2 senyawa tersebut juga dapat menghambat aktivitas enzim tirosin kinase yang terkait dengan proses inflamasi dan peradangan yang dapat memperburuk kondisi jantung (13). Dalam studi yang dilakukan, isoflavon telah ditemukan menghambat lipoprotein oksidasi secara in vitro dan menghambat pembentukan oksidasi lipid plasma. Hal ini menunjukkan bahwa isoflavon dapat berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam menghambat perkembangan aterosklerosis dan mengurangi risiko penyakit jantung pada lansia (12)

Kedelai, dengan berbagai manfaat kesehatannya, adalah pilihan makanan yang sehat dan ekonomis. Konsumsi rutin kedelai dapat menurunkan kolesterol LDL, memperbaiki kesehatan pembuluh darah, dan mengurangi risiko penyakit jantung pada lansia. Implementasi ini dapat meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung pada lansia.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Aryani A, Herawati VD, Keperawatan PI, Surakarta US. Kondisi Lanjut Usia Yang Mengalami Hiperkolesterolemia Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia Desa Betengsari, Kartasura : Pilot Study. J Perawat Indones. 2021;5(1):527–536. doi:10.32584/jpi.v5i1.759.
  2. A. Gil-Izquierdo, J. L. Penalvo, J. I. Gil, S. Medina, M. N. Horcajada, S. Lafay, M. Silberberg, R. Llorach, P. Zafrilla, P. Garcia-Mora, et al. Soy Isoflavones and Cardiovascular Disease Epidemiological, Clinical and -Omics Perspectives. Curr Pharm Biotechnol. 2012;13(5):624–631. doi:10.2174/138920112799857585.
  3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI. Hasil Utama Riskesdas 2018. Jakarta; 2018.
  4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013. Jakarta; 2013.
  5. Cobos Á, Díaz O. ‘Superfoods’: Reliability of the Information for Consumers Available on the Web. Foods. 2023;12(3). doi:10.3390/foods12030546.
  6. Ghani L, Dewi M, Novriani H, Penelitian P, Daya S. Faktor Risiko Dominan Penyakit Jantung Koroner di Indonesia. 2016;153–64.
  7. Htun NC, Suga H, Imai S, Shimizu W, Takimoto H. Food intake patterns and cardiovascular risk factors in Japanese adults: Analyses from the 2012 National Health and nutrition survey, Japan. Nutr J. 2017;16(1):1–15. doi:10.1186/s12937-017-0284-z.
  8. Kim IS, Kim CH, Yang WS. Physiologically active molecules and functional properties of soybeans in human health—a current perspective. Int J Mol Sci. 2021;22(8). doi:10.3390/ijms22084054.
  9. Lee GA, Crawford GW, Liu L, Sasaki Y, Chen X. Archaeological soybean (Glycine max) in East Asia: Does size matter? PLoS One. 2011;6(11). doi:10.1371/journal.pone.0026720.
  10. Moriel P, Mourad AM, De Carvalho Pincinato E, Mazzola PG, Sabha M. Influence of soy lecithin administration on hypercholesterolemia. Cholesterol. 2010:11–14. doi:10.1155/2010/824813.
  11. Park S, Yoon SJ, Tae HJ, Shim CY. Dietary fiber, atherosclerosis, and cardiovascular disease. Front Biosci. 2011;16(2):486–497. doi:10.2741/3700.
  12. Patel RP, Boersma BJ, Crawford JH, Hogg N, Kirk M, Kalyanaraman B, Parks DA, Barnes S, Darley-Usmar V. Antioxidant mechanisms of isoflavones in lipid systems: Paradoxical effects of peroxyl radical scavenging. Free Radic Biol Med. 2001;31(12):1570–1581. doi:10.1016/S0891-5849(01)00737-7.
  13. Rezazadegan M, Mirjalili F, Clark CCT, Rouhani MH. The effect of soya consumption on inflammatory biomarkers: A systematic review and meta-analysis of clinical trials. Br J Nutr. 2021; 125(7):780–791. doi:10.1017/S0007114520003268.
  14. Sacks FM, Lichtenstein A, Van Horn L, Harris W, Kris-Etherton P, Winston M. Soy protein, isoflavones, and cardiovascular health: An American Heart Association Science Advisory for professionals from the Nutrition Committee. Circulation. 2006;113(7):1034–1044. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.106.171052.
  15. Syifa Isnani A, Program Studi Psikologi N. Kesejahteraan Subjektif Pada Lanjut Usia yang Tinggal Sendiri di Rumah The Subjective Well-Being of Elderly Persons Who Live at Home Alone Article History. 2022;10(01):240–259.
  16. Zampelas A. 2019. nutrients The Effects of Soy and its Components on Risk.
  17. Zuo X, Zhao R, Wu M, Wan Q, Li T. Soy Consumption and the Risk of Type 2 Diabetes and Cardiovascular Diseases: A Systematic Review and Meta-Analysis. Nutrients. 2023;15(6). doi:10.3390/nu15061358.

Di Indonesia menurut RISKESDAS 2018 prevalensi gagal ginjal kronis menurut diagnosa dokter pada pada kelompok usia 65-74 tahun prevalensi yang menderita gagal ginjal kronis adalah 0,82% dan pada usia di atas 75 tahun prevalensinya adalah 0.75%.(1) Berdasarkan hasil tersebut kejadian gagal ginjal kronis pada kelompok lansia memiliki angka yang tertinggi yang dikarenakan pada usia lansia mengalami penurunan fungsi beberapa organ. Oleh karena itu, usia lansia perlu menjaga pola hidup agar terus percaya diri dan bahagia sesuai dengan tema Hari Lansia tahun 2024 yaitu “Lansia terawat, Indonesia bermartabat”. Yuk, mari kita lebih mengenal gagal ginjal kronis di bawah ini…

Apa itu Gagal Ginjal Kronis?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-20

Ginjal sendiri memiliki fungsi penting dalam tubuh yaitu pengatur keseimbangan air dan elektrolit, keseimbangan asam basa, ekskresi air dari sisa metabolik dan toksin, serta mengeluarkan beberapa hormon. Apabila ginjal mengalami kerusakan akan mengakibatkan penurunan fungsi yang disebut gagal ginjal. Gagal ginjal terdapat 2 jenis yaitu akut dan kronis. Pada gagal ginjal akut terjadi tiba-tiba dan masih dapat dikembalikan kondisinya jika mengubah pola hidupnya, namun pada gagal ginjal kronis kerusakan ginjal terjadi perlahan dan berlangsung permanen. (2)

Bagaimana Ciri-ciri Penderita Gagal Ginjal Kronis ?

Secara fisik dan dapat dirasakan oleh penderita gejalanya diantaranya adalah tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual dan muntah serta bengkak, terutama pada kaki dan pergelangan kaki serta sesak nafas.

Apa faktor risiko penyebab dari Gagal Ginjal Kronis ?

Beberapa hal yang dapat meningkatkan kejadian gagal ginjal kronis diantaranya adalah :

  1. Diabetes mellitus
  2. Hipertensi;
  3. Obesitas;
  4. Pertambahan usia;
  5. Riwayat keluarga penyakit ginjal kronik;
  6. Riwayat merokok dan kebiasaan minum minuman beralkohol (3)

Upaya pencegahan Gagal Ginjal Kronis

Melihat faktor risiko di atas penyakit gagal ginjal kronis memiliki beberapa penyebab. Upaya dalam pencegahan dapat dilakukan dengan “ATM OMA” . Apa itu “ATM OMA” ?

1. Aktivitas Fisik Secara Rutin
FOTO ARTIKEL WEBSITE-13

Pada usia lansia terjadi penurunan fleksibilitas, kekuatan otot dan sendi, kepadatan tulang menurun yang dapat menurunkan tingkat aktivitas fisik. Selain itu pada usia lanjut enggan untuk melakukan aktivitas fisik dikarenakan takutnya risiko jatuh.(4) Padahal dengan aktivitas fisik dapat menurunkan kualitas fisik dari dari lansia yang dapat menimbulkan penyakit kronis. Untuk lansia sendiri dapat melakukan aktivitas fisik berupa olahraga selama 10-30 menit per hari atau 150 menit per minggu.(5) Jenis olahraga yang dapat melakukan senam, jalan kaki, bersepeda dan berenang.(6) Untuk penderita diabetes dan obesitas dapat dilakukan bertahap.

2. Tes Laboratorium/ Kesehatan secara Berkala

Melakukan medical check up pada lansia minimal dilakukan 1 tahun sekali, Tes laboratorium yang dapat dilakukan berupa tes gula darah, tensi, tes ureum dan kreatinin, serta lemak darah. Pada penderita diabetes mellitus dan penyakit kardiovaskular dapat dilakukan lebih sering untuk mencegah terjadinya kejadian gagal ginjal, dikarenakan kedua penyakit tersebut lebih berpotensi dalam kejadian gagal ginjal.

3. Menjaga Berat Badan

Pada usia lansia sangatlah penting dalam menjaga massa otot, tulang, dan lemak yaitu dengan upaya menjaga berat badan. Hal tersebut dapat menerapkan pola hidup seimbang yaitu dengan mengonsumsi makanan dengan rendah lemak, natrium, dan gula sederhana serta diimbangi dengan berolahraga agar tidak terjadi kondisi obesitas. Penurunan berat badan pada lansia diatas 80 tahun yang obesitas tidak dianjurkan, namun hanya dengan menjaga berat badan saja dengan pola hidup sehat.(7)

4. Obat anti nyeri tidak dikonsumsi dalam jangka waktu panjang tanpa anjuran dokter

Mengonsumsi obat anti nyeri perlu dikonsumsi dengan anjuran dokter apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan obat sendiri akan tersaring pada ginjal dan jika dalam dosis tinggi dan dalam waktu lama akan membebani ginjal yang berisiko meningkatkan kejadian penyakit ginjal. (8)

5. Merokok dan minum alkohol dihindari

Merokok merupakan kebiasaan yang tidak lepas dari beberapa masyarakat di Indonesia. Namun, kebiasaan tersebut dapat berakibat dalam penurunan fungsi dari ginjal. Hal tersebut dikarenakan asap rokok dan nikotin yang terkadung dapat meningkatkan tekanan darah. Hal tersebut beresiko dalam penyakit ginjal. National Kidney and Urologi Disease information Clearinghouse (NKUDIC) mengatakan bahwa perokok aktif dapat meningkatkan resiko kanker serta penyakit ginjal. Perokok berat memiliki risiko enam kali lebih besar untuk mengalami penyakit ginjal terminal, daripada orang yang tidak merokok. (8). Konsumsi alkohol atau minuman keras dapat mengurangi dari fungsi ginjal. Mengonsumsi alkohol yang berlebih dapat meningkatkan radikal bebas yang berakibat dalam kerusakan ginjal (9)

6. Air putih dikonsumsi sebanyak 8-10 gelas/ hari
FOTO ARTIKEL WEBSITE-21

Kurangnya cairan dalam tubuh akan berakibat dalam pergerakan air dalam tubuh yang berdampak pada peningkatan kerja dari ginjal. Oleh karena itu perlu minum air putih sebanyak 8-10 gelas per hari. Dalam mengonsumsi minuman kemasan terutama minuman berenergi perlu dibatasi dikarenakan apabila berlebihan dapat meningkatkan risiko dalam penurunan fungsi ginjal. Kandungan Taurin pada minuman berenergi jika dikosumsi terlalu banyak dapat mempersempit pembuluh darah arteri ke ginjal sehingga darah yang menuju ke ginjal berkurang. (10)

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun 2018. http://www.depkes.go.id/resources/download/infoterkini/materi_rakorpop_20 18/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf (diunduh pada 23 Mei 2024)
  2. Putri SI, Dewi TK, Ludiana. PENERAPAN SLOW DEEP BREATHING TERHADAP KELELAHAN (FATIGUE) PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HD RSUD JENDRAL AHMAD YANI METRO TAHUN 2022. Jurnal Cendikia Muda. 2023;3:291–9.
  3. Hasanah U, Dewi NR, Ludiana L, Pakarti AT, Inayati A. Analisis Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Ginjal Kronik Pada Pasien Hemodialisis. JWK. 2023;8(2):96.
  4. Ivanali K, Amir TL, Munawwarah M, Pertiwi AD. HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK PADA LANJUT USIA DENGAN TINGKAT KESEIMBANGAN. Fisio.2021;21(01):51–7.
  5. Gammack JK. Physical Activity in Older Persons. Missouri Medicine. 114(2):105–9.
  6. Ishiguro, H; Kodama, S; Horikawa, C; Fujihara, K; Hirose, A.S; Hirasawa, R; Yachi, Y; Ohara, N; Shimano, H; Hanyu, O; Sone, H.In Search of the Ideal Resistance Training Program to Improve Glycemic Control and its Indication for Patient with Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sports Med. 206;46(1); 67-77 .
  7. Porter Starr KN, Bales CW. Excessive Body Weight in Older Adults. Clinics in Geriatric Medicine. 2015;31(3):311–26..
  8. Pratikaning Sari RS, Sumiatin T, Su’udi, Novita Agnes YL. Gambaran Gaya Hidup Yang Menyebabkan Penyakit Ginjal Kronik Di Ruang Hemodialisa RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Jumakes.2023;5(1):12–25.
  9. Szalay CI, Erdélyi K, Kökény G, et al. Oxidative/nitrative stress and inflammation drive progression of doxorubicin-induced renal fibrosis in rats as revealed by comparing a normal and a fibrosis-resistant rat strain. PLoS One. 2015;10(6):e0127090.
  10. Shao, A. & Hathcock, J.N. Risk Assessment For The Amino Acids Taurine, L-Glutamine and LArginine. Regulatory Toxicology and Pharmacology, 2008;50: 376–399.

Penyakit Tidak Menular (PTM) atau biasa disebut sebagai penyakit degeneratif merupakan jenis penyakit yang tidak bisa ditularkan oleh penderita ke orang lain yang berkembang secara perlahan dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang. (1) Berdasarkan data WHO pada tahun 2023, sekitar 74 persen penyebab kematian di dunia adalah PTM yang membunuh 41 juta jiwa per tahun, diantaranya penyakit jantung dan pembuluh darah (17,9 juta jiwa), kanker (9,3 juta jiwa), penyakit pernafasan kronis (4,1 juta jiwa), dan diabetes (2,0 juta jiwa). (2) Beberapa faktor risiko PTM meliputi peningkatan tekanan darah, peningkatan gula darah, obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok serta konsumsi alkohol. (3) Salah satu program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mencegah PTM adalah CERDIK yang merupakan singkatan dari Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik/olahraga, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress. (4)

Kedelai dan susu kedelai (susu soya)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-7

Dalam melakukan diet sehat dan seimbang, dapat mengonsumsi bahan pangan nabati, pangan utuh (whole food) dan pangan alami yang mengalami pengolahan minimal (minimal processing). (5) Salah satu pangan nabati yang baik untuk dikonsumsi adalah kedelai. Kedelai memiliki rata-rata kandungan protein 35% dan susunan asam amino yang lebih lengkap dibandingkan kacang-kacangan lainnya. (6) Kedelai dapat diolah menjadi susu kedelai (susu soya) yang merupakan hasil ekstraksi dari kedelai. Susu soya memiliki kandungan protein 40,4 g/100g yang kaya akan asam amino (arginin dan glisin), antioksidan (isoflavon dan lesitin), lemak, kalsium, fosfor, zat besi, pro vitamin A, vitamin B kompleks (kecuali vitamin B12), serat dan air. (7) Pemberian susu soya menjadi salah satu pengobatan non farmakologis karena susu soya termasuk dalam pangan fungsional. (8)

Apa saja manfaat susu soya dalam pencegahan dan pengendalian PTM?

Berbagai manfaat susu soya dalam pencegahan dan pengendalian PTM diantaranya sebagai berikut:

1. Penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular)
  1. Hipertensi
    Pemberian susu soya berpengaruh signifikan terhadap perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik. (9, 10) Kandungan isoflavon pada susu soya berperan sebagai fitoestrogen yang menimbulkan efek vasodilator (melebarkan pembuluh darah) sehingga dapat menurunkan tekanan darah seperti estrogen. (8, 11)
  2. Penyakit jantung dan stroke
    Salah satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke adalah tingginya kadar kolesterol tubuh. Pemberian susu soya berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar kolesterol. (12, 13) Kedelai mengandung isoflavon berupa genistein, daidzein, dan glicitein yang dapat meningkatkan kolesterol HDL, menurunkan trigliserida, kolesterol total dan kolesterol LDL serta mengurangi penggumpalan darah sehingga dapat mengurangi resiko terkena serangan jantung dan stroke. (14, 15, 16, 17) Kedelai juga mengandung lesitin yang mampu mengontrol lemak dan mengemulsikannya untuk dikeluarkan dari tubuh sehingga peredaran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar. (18) Selain itu, kedelai mengandung serat yang dapat meningkatkan ekskresi asam empedu dan kolesterol melalui feses sehingga mengurangi laju enterohepatik pada asam empedu. Rendahnya kadar asam empedu yang masuk ke hati dan rendahnya absorbsi kolesterol dapat menurunkan kadar kolesterol di dalam hati. Selanjutnya, kolesterol diambil dari darah untuk mensintesis asam empedu sehingga kadar kolesterol menurun. (19)
2. Kanker
FOTO ARTIKEL WEBSITE-19

Asupan kedelai yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan risiko kanker sebesar 10%. (20) Kedelai dan olahannya merupakan sumber isoflavon yang telah terbukti berperan sebagai antikanker melalui penghambatan proliferasi sel kanker dan menurunkan inflamasi sehingga dapat menurunkan resiko kanker kolon. (21) Wanita yang mengonsumsi kedelai memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengonsumsi kedelai. (22) Penelitian membuktikan bahwa wanita yang rutin mengonsumsi susu soya memiliki kadar isoflavon yang lebih tinggi. Isoflavon dapat mengurangi risiko kanker payudara dan menekan pertumbuhan sel-sel tumor. (23)

3. PPOK

Peningkatan konsumsi kedelai berkaitan dengan penurunan risiko PPOK dan sesak napas. (24)

4. Diabetes melitus (DM)

Pemberian susu soya berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita DM. Kandungan lesitin pada susu soya dapat memperbaiki (regenerasi) sel β pankreas yang rusak dan melindungi sel β dari kerusakan akibat oksidasi sehingga dapat memproduksi hormon insulin. Selain itu, susu soya mengandung asam amino arginin dan glisin yang merupakan komponen penyusun hormon insulin. Jika hormon insulin meningkat, maka kadar gula darah akan menurun. (25)

5. Penyakit ginjal kronis (CKD)

Memodifikasi jumlah dan jenis protein makanan memberikan dampak besar bagi penderita gagal ginjal sehingga disarankan untuk membatasi asupan protein dan mengganti protein hewani dengan protein kedelai. (26) Kedelai dikategorikan protein berkualitas tinggi yang sangat direkomendasikan untuk penderita CKD. (27, 28) Konsumsi kedelai berkaitan dengan penurunan ekskresi albumin urin, proteinuria, serum creatinin (SCr), protein C-reaktif (CRP), fosfor serum dan nitrogen urea darah (BUN) pada penderita CKD. (29, 30)

6. Gout (asam urat)

Pemberian susu soya berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat. (31) Kandungan isoflavon pada susu soya termasuk dalam golongan flavonoid yang dapat menghambat enzim xanthin oxidase mengubah hipoxantin menjadi xantin sehingga perubahan xantin menjadi asam urat juga dapat terhambat. (32) Mekanisme ini sama dengan mekanisme obat penurun asam urat yang banyak digunakan (allopurinol). (33)

7. Osteoporosis

Bahan pangan yang berasal dari kedelai dan kaya isoflavon dapat meningkatkan kekuatan dan densitas tulang belakang sehingga mencegah penyakit osteoporosis. Isoflavon memiliki struktur serupa dengan obat anti-osteoporosis. (34)

Mari tingkatkan konsumsi kedelai khususnya susu soya agar dapat merasakan segudang manfaatnya agar tubuh tetap jaya!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penyakit Tidak Menular (PTM). Kementerian Kesehatan. 2022 [cited 2024 May 23]. Available from: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/761/penyakit-tidak-menular-ptm
  2. WHO. Noncommunicable diseases. WHO. 2023 [cited 2024 May 23]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
  3. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Buku Pedoman Manajemen Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular: 2023. 2 p.
  4. Kementerian Kesehatan. CERDIK, Rahasia Masa Muda Sehat dan Masa Tua Nikmat!. Kementerian Kesehatan. 2019 [cited 2024 May 23]. Available from: 14. https://ayosehat.kemkes.go.id/cerdik-rahasia-masa-muda-sehat-dan-masa-tua-nikmat
  5. Zakaria, Fransiska Rungkat. Pangan Nabati, Utuh dan Fungsional Sebagai Penyusun Diet Sehat. Orasi Ilmiah Guru Besar. Institut Pertanian Bogor; 2015.
  6. Sutrisno Koswara. Isoflavon, Senyawa Multi-Manfaat dalam Kedelai. Repository IPB. 2006 [cited 2024 May 23]. Available from: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/30646
  7. Pramono, A, Fitranti, DY, Rahmawati, ER, Ayustaningwarno, F. Efek Pemberian Susu Kedelai-Jahe Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Wanita Pre-Menopouse Prediabetes. Journal of Nutrition College. 2020;9(2):94-99.
  8. Syarpia, RD, Kurniati, KI. Potensi Susu Kedelai sebagai Anti Hipertensi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 2020;2(1):85-90.
  9. Widiasari, S, Putra, IA. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai. Collaborative Medical Journal. 2022;5(2):18-24.
  10. Ernawati, Syamdarniati, Oktaviana, E, Nurmayani, W. Pemberian Susu Kedelai Pada Penderita Hipertensi Untuk Menurunkan Tekanan Darah. LENTERA (Jurnal Pengabdian). 2023;3(1)31-37.
  11. Yuniastuti, Tiwi. Pengaruh Diet Lipida Lemak Kedelai Terhadap Insiden Hipertensi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada. 2014;3(1):31-38.
  12. Andika, Mira. Pengaruh Konsumsi Susu Kedelai Terhadap Kolesterol Total Pada Penderita Hiperkolesterolemia Di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang. Menara Ilmu. 2019;13(3):99- 105.
  13. Andora, N, Maryuni, S. Dapatkah Susu Kedelai Menurunkan Kadar Kolestrol Pada Penderita Diabetes Mellitus?. Jurnal Ilmiah STIKES Kendal. 2021;11(3):651-658.
  14. Nurrahmani, Ulfa. Stop Diabetes, Hipertensi, Kolesterol Tinggi, Jantung Koroner. Yogyakarta: Istana Media; 2015.
  15. Setyawan, FEB. Kajian Tentang Efek Pemberian Nutrisi Kedelai (Glicine max) Terhadap Penurunan Kada Kolesterol Total pada Menopause. Magna Medika. 2017;1(4);33-42.
  16. Ramdath, DD, Padhi, EMT, Sarfaraz, S, Renwick, S, Duncan, AM. Beyond the Cholesterol-Lowering Effect of Soy Protein : A Review of the Effects of Dietary Soy and Its Constituents on Risk Factors for Cardiovascular Disease. Nutrients. 2017;9(4):324.
  17. Panchal, Vandana. Phytochemicals And Flavour Profiles Of Soymilk. Thesis. South Dakota State University; 2009.
  18. Joe, Wulan. 101 Keajaiban Khasiat Kedelai. Yogyakarta: Andi; 2011.
  19. Fitranti, DY, Marthandaru, D. Pengaruh Susu Kedelai Dan Jahe Terhadap Kadar Kolesterol Total Pada Wanita Hiperkolesterolemia. Jurnal Gizi Indonesia. 2016;4(2):89-95.
  20. Fan, Y, et al. Intake of Soy, Soy Isoflavones and Soy Protein and Risk of Cancer Incidence and Mortality. Front Nutr. 2022;9:11-11.
  21. Toyomura, K, Kono, S. Soybeans, Soy Foods, Isoflavones and Risk Of Colorectal Cancer: A Review of Experimental and Epidemiological Data. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention. 2002;3:125-132.
  22. Boutas, I, Kontogeorgi, A, Dimitrakakis, C, Kalantaridou, SN. Soy Isoflavones and Breast Cancer Risk: A Meta-analysis. In Vivo. 2022;36(2):556-562.
  23. Bolca, S, et al. Disposition of soy isoflavones in normal human breast tissue. Am J Clin Nutr. 2010;91(4):976-984.
  24. Hirayama, F, et al. Soy consumption and risk of COPD and respiratory symptoms: a case-control study in Japan. Respir Res. 2009;10(1):56.
  25. Laboro, GR, Sudirman, AA, Sudirman ANA. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Biru. Journal of Educational Innovation and Public Health. 2023;1(2):102-113.
  26. Rafieian-Kopaei, M, Beigrezaei, S, Nasri, H, Kafeshani, M. Soy Protein and Chronic Kidney Disease: An Updated Review. Int J Prev Med. 2017;8:105.
  27. McGraw, NJ, Krul, ES, Grunz-Borgmann, E, Parrish, AR. Soy-based renoprotection. World J Nephrol. 2016;5(3):233–257.
  28. Fang, L, Du, Y, Rao, X. A Survey Study on Soy Food Consumption in Patients with Chronic Kidney Diseases. Inquiry. 2022;59.
  29. Zhang, J, Liu, J, Su, J, Tian F. The effects of soy protein on chronic kidney disease: A meta-analysis of randomized controlled trials. Eur J Clin Nutr. 2014;68(9):987-993.
  30. Jing, Z, Wei-Jie, Y. Effects of soy protein containing isoflavones in patients with chronic kidney disease: A systematic review and meta-analysis. Clin Nutr. 2016;35(1):117–124.
  31. Fahlevi, Reza. Pengaruh Pemberian Susu Kedelai (Glicine Max L. Merr) Terhadap Kadar Asam Urat Pada Ibu-Ibu Menopause Di Pengajian Aisyiyah. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; 2019.
  32. Murray, RK, Granner, DK, Mayes, PA, Rowell, PV. Biokimia Harper. Edisi 24. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1999.
  33. Villegas, R, et al. Purine-rich foods, protein intake, and the prevalence of hyperuricemia: the Shanghai Men's Health Study. Nutr Metab Cardiovasc Dis. 2012;22(5):409-416.
  34. Messina, M, Messina, V. Soyfoods, soybean isoflavones, and bone health: a brief overview. J Ren Nutr. 2000;10(2):63-68.

Lansia adalah sebuah fase kehidupan yang hampir dialami oleh setiap manusia. Keterbatasan kemampuan fisik, mental, penurunan fungsi tubuh dan keluhan sakit menahun telah menjadi paradigma umum bahwa lansia merupakan kelompok orang dengan predikat lemah, rentan dan tidak berdaya. Risiko penyakit khususnya PTM (Penyakit Tidak Menular) kerap dialami sehingga para lansia cenderung menjadi beban dan tanggung jawab keluarganya yang dampaknya berujung pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. (1)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-18

Di satu sisi, perkembangan teknologi saat ini telah memberikan peluang solusi terhadap permasalahan kesehatan yang awalnya dinilai sulit hingga berhasil menemukan metode yang lebih mudah, efektif dan efisien. Sebagai contoh, canggihnya fasilitas pemeriksaan, kelengkapan ketersediaan obat, hingga inovasi layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. (2) Namun hingga saat ini, Indonesia masih mengalami tantangan Triple Burden Disease dengan PTM sebagai penyebab 69% DALYs Loss (Disability-Adjusted Life Years Loss) dan peningkatan angka kematian dari 50% (2004) menjadi 71% (2014). (3)

Terdapat berbagai faktor pemicu kejadian PTM, di antaranya adalah ketidakcukupan asupan zat gizi dari makanan sehari-hari dan pola aktivitas yang termasuk dalam rangkaian gaya hidup. (4) Hampir 50% lansia di Indonesia mengalami gangguan pemenuhan zat gizi yang mengakibatkan malnutrisi. Sebanyak 31% lansia memiliki status gizi kurang dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) antara 16,5-18,49 kg/m2 dan 1,8% dengan status gizi lebih (IMT>22,9 kg/m2 ). (5) Kondisi malnutrisi ini merupakan rantai permasalahan gizi yang dapat berujung pada kejadian PTM. (6)

Hasil survei kesejahteraan lansia di tahun 2022 melaporkan bahwa sebanyak 24,6% penduduk lansia di Indonesia menderita penyakit kronis dengan kategori PTM. (7) Kondisi epigenetik, seperti pola makan (kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, rendah serat), pola aktivitas (dominan duduk/berbaring) serta pola istirahat (kesibukan kerja, kebiasaan begadang, kondisi stres) diidentifikasi menjadi faktor risiko PTM (penyakit diabetes melitus, stroke, gangguan ginjal, kanker serta penyakit jantung dan pembuluh darah). (8) Penyakit-penyakit degeneratif yang terus berkembang menjadi jenis katastropik ini telah mengalami kenaikan progresif sejak tahun 2010 dan berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi karena membutuhkan biaya yang tinggi untuk pengobatannya. (9)

AvLOS (Average length of Stay) rawat inap pasien PTM komplikasi dapat mencapai selama 14 hingga 30 hari dengan rumitnya pola rujukan dan tingginya angka kekambuhan. (10) Sehingga, implikasinya pada dua dekade terakhir, beban pengeluaran untuk penyakit katastropik di Indonesia mencapai sebesar 25% dari total pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). (11) Sementara itu, pembiayaan pengobatan PTM berdasarkan data BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan mencapai 24,1 triliun di tahun 2022 dan nominal ini mengalami peningkatan sebesar 6,2 triliun dari tahun sebelumnya. (12) Oleh karenanya, PTM dan gangguan kesehatan mental dinilai telah banyak merugikan negara dengan prediksi kerugian mencapai 4,47 triliun dolar AS dari tahun 2012 hingga 2030 mendatang. (13) Sehingga, selain stunting, PTM di kalangan dewasa dan khususnya lansia juga menjadi fokus dan perhatian utama untuk ditanggulangi bersama.

Dinamika kondisi perekonomian di Indonesia masih menjadi tantangan dari waktu ke waktu. Padahal secara laju pertumbuhan penduduk serta UHH (Usia Harapan Hidup) orang Indonesia meningkat dalam 30 tahun terakhir. (14) Sebesar 10,7% penduduk Indonesia mencapai usia lebih dari 60 tahun. Dan lagi, secara demografi, Indonesia akan mendapatkan bonus 70% penduduk berusia produktif (15- 64 tahun) pada tahun 2045 mendatang. (15) Besarnya jumlah penduduk ini dinilai dapat menambahkan optimisme baru untuk memperkuat output perekonomian negara dengan meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) serta menaikkan pendapatan nasional. (16) Akan tetapi, bila keuntungan demografi tersebut tidak dipersiapkan sedari dini dan diimbangi dengan strategi guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, maka beban pengeluaran negara justru akan dapat terus bertambah untuk menanggulangi kemiskinan, derajat kesehatan yang rendah, pengangguran dan kriminalitas sebagai dampak sebaliknya. (17)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-17

Selain menjadi pribadi yang dihormati dengan nilai-nilai luhur, pandangan serta pengalaman hidupnya, lansia dapat pula menjadi role model sekaligus agen perubahan di lingkup keluarga serta masyarakat sekitarnya untuk kehidupan generasi yang lebih sehat dan produktif. Sehingga, kelompok usia ini memiliki potensi kontribusi yang besar untuk menyelamatkan masa depan sebuah bangsa. (18) Beberapa bentuk perhatian khusus pemerintah guna pencegahan PTM di antaranya dengan memfasilitasi Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) bagi lansia, termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai upaya identifikasi dini. (19) Dalam hal ini, profesi Ahli Gizi juga memiliki peran yang penting dalam memberikan pelayanan dengan aktif melakukan kegiatan promosi kesehatan untuk mendukung modifikasi gaya hidup lansia, seperti :

1. Menerapkan Pola Makan Sehat

Secara umum, anjuran pola makan di sepanjang daur kehidupan berpedoman pada prinsip gizi seimbang. (20) Berdasarkan studi, lansia yang memiliki pola makan teratur (makan utama yang diselingi dengan snack antara 2-3 jam), membatasi asupan gula (4 sendok makan/hari) dan garam (1 sendok teh/hari), memvariasikan asupan karbohidrat dari golongan kompleks dan serealia, meningkatkan asupan protein khususnya yang rendah lemak, memilih asupan lemak tidak jenuh, serta memperbanyak asupan serat dari kombinasi sayur dan buah (4-5 porsi/hari) dapat mempertahankan berat badan ideal dan terhindar dari kondisi hipertensi serta sindrom metabolik lainnya. (21)

2. Menerapkan Pola Hidup Aktif

Pola aktivitas yang rutin, seperti berolahraga dengan intensitas ringan secara berkala sesuai rekomendasi 150 menit/minggu, melakukan kegiatan berkebun serta memilih tetap aktif berkarya membantu menyehatkan jantung dan memberikan manfaat baik lainnya bagi kesehatan lansia. (22)

3. Mengelola Stres dengan Baik

Melakukan hobi yang menyenangkan, seperti memelihara hewan kesayangan dapat memberi rasa nyaman, suasana hati bahagia dan pikiran yang tenang, sehingga mendukung kesehatan mental lansia. Selain itu, memiliki perkumpulan yang seusia dengan tetap aktif berkegiatan sosial memupuk solidaritas, kepedulian dan tanggung jawab terhadap sesama yang dapat mencegah lansia dari kepikunan dan stroke. (23)

Kesehatan lansia berpengaruh pada peningkatan UHH dan pertambahan jumlah penduduk menjadi indikator penting terhadap perbaikan kesejahteraan sekaligus keberhasilan pembangunan, Lansia yang sehat membantu meringankan alokasi keuangan keluarga terhadap pembiayaan pengobatan serta pertanggungan jaminan sosial untuk penanggulangan kondisi sakit. (24) Selanjutnya, kesehatan lansia menunjang kinerja anggota keluarga yang berusia produktif. Generasi pekerja dapat tetap menghasilkan nilai tambah GDP per kapita untuk meminimalisir tekanan inflasi dan memperkuat perekonomian negara. (25) Sehingga, hal ini mendukung paradigma baru bahwa lansia yang sehat, mandiri serta produktif merupakan investasi yang penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. RI K. Lansia Sehat: Lansia Aktif, Mandiri dan Produktif [Internet]. 2016. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20160529/5815019/lansia-sehat- lansia-aktif-mandiri-dan-produktif/
  2. RI KK dan I. Layanan Kesehatan dan Kemajuan Teknologi Digital [Internet]. 2019. Available from: https://www.kominfo.go.id/content/detail/17698/layanan-kesehatan-dan-kemajuan- teknologi-digital/0/sorotan_media
  3. Kemenkes RI. Ditjen P2P Laporan Kinerja Semester I Tahun 2023. 2023;1–134.
  4. Ye KX, Sun L, Lim SL, Li J, Kennedy BK, Maier AB, et al. Adequacy of Nutrient Intake and Malnutrition Risk in Older Adults: Findings from the Diet and Healthy Aging Cohort Study. Nutrients. 2023;15(15):1–13.
  5. Syaharuddin S, Samsul TD, Firmansyah F. Diet and family support for the nutritional status of the elderly. J Ilm Kesehat Sandi Husada. 2023;12(2):452–8.
  6. Renzo L Di, Gualtieri P, Frank G, Lorenzo A De. Diseases and COVID-19. 2023;8–11.
  7. PERGEMI. Survey Kondisi Kesehatan dan Kesejahteraan Lansia di Indonesia. 2022;1–9. Available from: https://www.pergemi.id/info/5/survei-kondisi-kesehatan-dan-kesejahteraan-lansia-di- indonesia
  8. Popa-Wagner A, Dumitrascu D, Capitanescu B, Petcu E, Surugiu R, Fang WH, et al. Dietary habits, lifestyle factors and neurodegenerative diseases. Neural Regen Res. 2020;15(3):394–400.
  9. RI K. Masalah dan Tantangan Kesehatan Indonesia Saat Ini [Internet]. 2022. Available from: https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/masalah-dan-tantangan-kesehatan-indonesia- saat-ini
  10. Herlinawati F, Saptorini KK. Mechanism Readmisi Referral Pattern Degenerative Diseases With the Claim of Bpjs in in-Patient Departement Rsud Dr . H Soewondo Kendal the Year 2015. 2015;
  11. RI K. Wamenkes Dante Tekankan Pentingnya Kolaborasi Kemenkes-Universitas dalam Menurunkan Beban Penyakit Katastropik [Internet]. 2023. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20230227/4542464/press-release-untuk- dikutip-wamenkes-dante-tekankan-pentingnya-kolaborasi-kemenkes-universitas-dalam- menurunkan-beban-penyakit-katastropik/
  12. Nurtandhee M. Estimasi Biaya Pelayanan Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan Defisit Dana Jaminan Sosial untuk Penyakit Gagal Ginjal. J Jaminan Kesehat Nas. 2023;3(2):84–101.
  13. Republika. Penyakit tak Menular Indonesia Telan 4,47 Triliun Dolar AS [Internet]. 2019. Available from: https://kebijakankesehatanindonesia.net/25-berita/berita/2322-penyakit-tak-menular- indonesia-telan-4-47-triliun-dolar-as
  14. Statistik BP. Angka Harapan Hidup (SP2010) (Tahun), 2021-2023 [Internet]. 2023. Available from: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NTAxIzI=/angka-harapan-hidup-perempuan-- 2022.html
  15. Direktorat Analisis dan Pengembangan Statistik Badan Pusat Statistik. Bonus Demografi dan Visi Indonesia Emas 2045. Badan Pus Stat [Internet]. 2023;1–12. Available from: https://bigdata.bps.go.id/documents/datain/2023_01_2_Bonus_Demografi_dan_Visi_Indone sia Emas_2045.pdf
  16. Rochaida E. Dampak Pertumbuhan Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Keluarga Sejahtera Di Provinsi Kalimantan Timur. Forum Ekon. 2016;18(1):14–24.
  17. RI K. Mengoptimalkan Bonus Demografi: Kesehatan Masyarakat Sebagai Kunci Keberhasilan [Internet]. 2023. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/mengoptimalkan-bonus- demografi-kesehatan-masyarakat-sebagai-kunci-keberhasilan
  18. RRI. Menghormati Lansia Sebagai Agen Perubahan Keluarga dan Masyarakat [Internet]. 2022. Available from: https://rri.co.id/daerah/115037/menghormati-lansia-sebagai-agen- perubahan-keluarga-dan-masyarakat
  19. Kemenkes RI. Permenkes No. 67 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia Di Pusat Kesehatan Masyarakat. Kementeri Kesehat Indones. 2015;16, 89.
  20. RI K. Pedoman Gizi Seimbang. pmk No 41 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. 2014;
  21. Bunney C, Bartl R. Eating Well. A Nutrition Resource for Older People and their Carers. Nutr Serv Cent Coast Local Heal Dist. 2015;
  22. CDC. Physical Activity for Older Adults: An Overview [Internet]. 2023. Available from: https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/guidelines/older- adults.html?CDC_AAref_Val=https://www.cdc.gov/physicalactivity/basics/older_adults/inde x.htm
  23. Seangpraw K, Auttama N, Kumar R, Somrongthong R, Tonchoy P PP. Stress and associated risk factors among the elderly: a cross-sectional study from rural area of Thailand. F1000Res. 2019;2(doi: 10.12688/f1000research):655.
  24. BKKBN. Lansia Tangguh Kunci Keberhasilan Pembangunan [Internet]. 2023. Available from: https://golantang.bkkbn.go.id/lansia-tangguh-kunci-keberhasilan-pembangunan-2
  25. RI K. Kesehatan Investasi Utama Pembangunan Bangsa [Internet]. 2017. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20170608/1721304/kesehatan-investasi- utama-pembangunan-bangsa/

Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian di seluruh dunia yang merenggut hingga 17,9 juta nyawa setiap tahunnya. (1) Didominasi oleh stroke dan penyakit jantung koroner, data di dalam negri menunjukkan kematian akibat kelompok penyakit ini mencapai 651.481 penduduk per tahun. (2) Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko utama dalam penyakit ini. Merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi mencapai 30,8% dimana 22,9% dari angka tersebut berasal dari kelompok lanjut usia (lansia) atau usia 60 tahun keatas. (3)

Mengapa Lansia Rentan terkena Penyakit Jantung?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-15

Seiring bertambahnya usia, risiko penyakit jantung semakin meningkat. Hal tersebut dikarenakan terjadinya penurunan fungsi jantung dan pembuluh darah seperti penurunan detak jantung dan penyempitan lumen arteri koroner. (4), (5) Disamping itu, biasanya lansia memiliki lebih banyak komorbid atau lebih dari satu kondisi penyerta yang membuatnya lebih rentan terserang penyakit jantung dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Kondisi yang dimaksud seperti adanya hipertensi, diabetes melitus, kelebihan berat badan (obesitas), dan kadar lemak darah yang tidak normal (dislipidemia). Proses penuaan membuat tingkat oksigen reaktif lebih tinggi sehingga memicu stress oksidatif yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung. (5) Hal lain yang membuat lansia rentan terhadap penyakit jantung ialah menurunnya respon adaptasi lingkungan seperti perubahan iklim, suhu ekstrem, dan isolasi sosial. (6)

Mungkinkah Jantung Tetap Sehat di Usia Tua?

Meskipun bertambahnya usia bukan hal yang dapat kita hindari, namun masih ada hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung di masa tua. Hal terpenting adalah bagaimana menjaga tekanan darah sedekat mungkin dengan nilai normal dan memulai perubahan gaya hidup. Amannya, tekanan darah sistol <130 mmHg dan tekanan darah diastol <85 mmHg. (7) Tidak ada kata terlambat untuk memulai merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Setiap langkah kecil yang dilakukan untuk mengubah pola makan dan pola aktivitas akan berdampak positif untuk menjaga kesehatan jantung. Studi membuktikan bahwa pola hidup yang sehat tidak hanya berdampak baik pada fungsi fisik namun juga terbukti meningkatkan kualitas hidup lansia dengan menurunkan risiko penyakit jantung, menunda kejadian penyakit jantung, atau setidaknya memperlambat perkembangan penyakit jantung pada orang yang mempunyai riwayat penyakit ini tersebut. (4)

Sayangi Jantung dengan: M.A.N.I.S

Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh. Sudah seharusnya kita menyayangi jantung sebagaimana kita menyayangi diri kita. Lakukan langkah M.A.N.I.S berikut ini untuk jantung yang lebih sehat dan hidup lebih berkualitas:

1. Makanan Bergizi

Disarankan untuk menerapkan pola makan dengan gizi seimbang yaitu dengan adanya karbohidrat, protein, sayur serta buah dalam hidangan sehari – hari. Perbanyak sayuran dan buah – buahan segar, biji – bijian, serta sumber protein sehat seperti ikan dan daging tanpa lemak. Hindari makanan olahan atau processed food seperti makanan yang dikalengkan, diawetkan, dikeringkan, lemak trans, lemak jenuh, dan makanan tinggi gula. (8)

2. Aktivitas Fisik Cukup

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika merekomendasikan lansia (usia >65 tahun) untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga intensitas sedang sebanyak 150 menit dalam seminggu guna menjaga kesehatan jantung. (9) Hal tersebut dapat dilakukan dengan berjalan kaki 30 menit per hari, 5 hari dalam seminggu. Namun aktivitas seperti memotong rumput, menyapu, membersihkan rumah, atau bersepeda santai juga terbukti membawa manfaat untuk jantung dibandingkan tidak bergerak sama sekali. Penting untuk memilih jenis aktivitas fisik yang paling cocok sesuai kondisi dan kemampuan masing – masing.

FOTO ARTIKEL WEBSITE-2
3. No Rokok dan Alkohol

Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol dapat merusak jantung dengan membuat penumpukan plak pada dinding arteri dan meningkatkan tekanan darah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang merokok memiliki risiko 3-5 kali lebih besar untuk terserang stroke daripada yang tidak merokok. (4)

4. Istirahat Cukup

Tubuh yang kurang istirahat ditambah dengan tingkat stress yang tinggi akan berdampak pada kenaikan tekanan darah dan risiko serangan jantung. Ambil waktu yang cukup untuk bersantai dan beristirahat.

5. Selalu Cek Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting untuk mendeteksi lebih dini masalah kesehatan jantung. Pemeriksaan minimal yang perlu dilakukan adalah pemantauan tekanan darah. Waspadai juga gejala seperti nyeri dada, sesak, detak jantung tidak normal, dan kelelahan berlebih untuk segera dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. World Health Organization. Cardiovascular disease. WHO. Cited 2024 May 20. Available from: https://www.who.int/health-topics/cardiovascular-diseases#tab=tab_1
  2. Rokom. Cegah Penyakit Jantung dengan Menerapkan Perilaku CERDIK dan PATUH. Sehat Negriku Kemkes. 2023 [cited 2024 May 20]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230925/4943963/cegah-penyakit-jantung-dengan-menerapkan-perilaku-cerdik-dan-patuh/
  3. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: 2023.
  4. Ciumarnean, L., dkk. Cardiovascular Risk Factors and Physical Activity for the Prevention of Cardiovascular Diseases in Elderly. Journal of Environmental Research and Public Health. 2021; 19(1), 207.
  5. Melyani, dkk. Hubungan Usia dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner pada Pasien Rawat Jalan di RSUD dr. Doris Sylvanus Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Surya Medika. 2023; (9)1 :119-125.
  6. Chang, A.Y., dkk. Aging Hearts in a Hotter, More Turbulent World: The Impacts of Climate Change on the Cardiovascular Health of Older Adults. Curr Cardiol Rep. 2022; 24: 749–760.
  7. Thomas, U., dkk. International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. AHA Journal. 2020; 75(6): 1334-1357.
  8. Diab, A., dkk. A Heart-Healthy Diet for Cardiovascular Disease Prevention: Where Are We Now?. Vascular health and risk management. 2023; 19: 237–253.
  9. US Center for Disease Control and Prevention. Physical Activity on Adults: An Overview. Cited 2024 May 22. Available from: https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/guidelines/adults.html2014. Bul Penelit Kesehat. 2016;44(3):4–10.

Penyakit kardiovaskular atau biasa disebut penyakit jantung ini sangat familier di kalangan lansia. Seringkali muncul penyakit komplikasi setelah didiagnosa penyakit ini. Kebiasaan makan makanan sumber serat bisa jadi cara jitu untuk mencegah timbulnya penyakit komplikasi. Yuk, simak penjelasan selanjutnya!

Apa saja bahan makanan sumber serat?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-14

Sereal dan biji-bijian adalah makanan tinggi serat yang dapat membantu menjaga atau mengurangi berat badan dengan mengurangi nafsu makan dan asupan kalori, menurunkan absorbsi makronutrien, memperlambat laju pencernaan pati, dan menstimulasi pelepasan hormon pencernaan.(1) Rekomendasi konsumsi serat dalam sehari untuk lansia pada usia 50 – 64 tahun yaitu mulai 25 gram untuk perempuan dan 30 gram untuk laki-laki.(2)

Apa fungsi serat dalam tubuh kita?

Sebelum mengetahui tentang fungsi serat dalam tubuh, perlu diketahui juga jenis serat pangan yang ada ya. Ternyata serat pangan ini terbagi menjadi dua berdasarkan kelarutannya dalam air, yaitu serat terlarut (soluble fiber) dan serat tidak terlarut (insoluble fiber). Serat terlarut ini adalah jenis serat yang mudah larut sehingga dapat melewati usus halus dengan mudah dan mudah difermentasikan oleh mikroflora di usus besar. Contohnya pektin, gum, dan beberapa jenis hemiselulosa.(3,4) Dan serat tidak terlarut adalah jenis serat yang bersifat tidak dapat membentuk gel ketika melewati usus halus dan sangat sulit difermentasi oleh mikroflora usus besar manusia.(3,4) Ada loh penelitian tentang serat yang menyatakan bahwa ada hubungan antara asupan serat dengan kadar kolesterol total. Penelitian itu menjelaskan karena serat memiliki sifat menurunkan kolesterol darah.(3,4)

Selain menurunkan kolesterol, ada fungsi serat lainnya, yaitu:

  1. Serat pangan juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin,
  2. Merangsang efek hormonal dengan menurunkan sekresi insulin,
  3. Meningkatkan oksidasi lemak, dan
  4. Mengurangi penyimpanan lemak karena peningkatan rasa kenyang.(1)

Jadi, jika konsumsi serat ditingkatkan sambil menurunkan konsumsi kalori, hal ini bisa menjadi strategi yang tepat untuk mengurangi berat badan dan meningkatkan kontrol terhadap kadar glukosa darah, loh.(5)

Apa saja penyakit kardiovaskular?

FOTO ARTIKEL WEBSITE-5

Banyaknya penyakit kardiovaskular ini menjadi hal yang menakutkan bagi semua orang. Penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung bisa disebut dengan silent killer.

  1. Hipertensi atau tekanan darah tinggi ditandai dengan peningkatan tekanan darah melebihi normal (> 120/80 mmHg). Hipertensi sering mengakibatkan keadaan yang berbahaya sampai suatu waktu terjadi komplikasi jantung, otak, ginjal, mata, pembuluh darah, atau organ vital lainnya.(6)
  2. Penyakit jantung koroner. Penyakit ini ditandai dengan adanya nyeri dada atau dada terasa tertekan pada saat berjalan yang terburu-buru, berjalan datar atau jauh, dan saat mendaki atau bekerja.(7)
  3. Stroke. Kondisi klinis secara umum dari stroke adalah muncul sakit kepala yang hebat, afasia (gangguan bahasa), hemiparesis (kelemahan otot pada salah satu sisi tubuh), dan facial palsy (kelemahan pada sebagian otot wajah).(8)
  4. Gagal jantung merupakan keadaan dimana jantung tidak lagi mampu memompa darah dalam jumlah yang memadai ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gejala awal yang dirasakan adalah sesak napas, mudah lelah, dan adanya retensi cairan.(9)

Penyakit yang disebutkan hanya sebagian dari jenis penyakit kardiovaskular. Hati-hati! Masih ada berbagai jenis penyakit jantung yang terdiagnosa pada dewasa maupun lansia. Pemeriksaan dini oleh tenaga kesehatan bisa menjadi langkah awal yang bijak untuk mengobati atau mencegah hal yang tidak diinginkan.

Bagaimana pengaruh konsumsi serat pada pasien dengan penyakit kardiovaskular?

Asupan serat berperan besar pada fungsi usus dan juga dianggap dapat menurunkan kadar kolesterol, kadar gula darah, dan mengurangi risiko obesitas.(10,11) Jenis serat larut air juga diketahui lebih efektif dalam menurunkan konsentrasi kolesterol total dibanding serat tidak larut. Kok bisa ya? Hal ini diketahui berdasarkan penelitian bahwa penurunan terjadi karena mekanisme fermentasi serat larut air oleh mikroflora usus halus. Fermentasi ini kemudian akan memodifikasi produksi asam lemak rantai pendek sehingga menurunkan kadar asetat dan meningkatkan sintesis propionat. Akibatnya, proses ini akan mengurangi sintesis endogen kolesterol dan asam lemak bebas.(1) Singkatnya, jika Anda seorang lansia atau dewasa madya, maka Anda HARUS cukup mengonsumsi serat dalam sehari. Kebiasaan ini akan menyelamatkan masa tua Anda nantinya karena serat akan menekan produksi kolesterol yang bisa menyebabkan munculnya penyakit jantung! Konsumsi buah dan sayur juga bisa dijadikan contoh bahan makanan sumber serat, loh. Kekurangan konsumsi buah dan sayur bukan hanya akan menurunkan asupan serat, tetapi juga menurunkan asupan vitamin dan mineral. Kondisi ini akan memicu terjadinya obesitas dan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker kolon, dan lainnya.(11,12) Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan. Mulailah secara bertahap untuk rutin mengonsumsi serat minimal 25 – 30 gram dalam sehari.

Ayo menjadi lansia yang cerdas dalam bertindak untuk kebahagiaan di usia senja nanti! 

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz

Referensi

  1. Han S, Jiao J, Zhang W, Xu J, Wan Z, Zhang W, et al. Dietary fiber prevents obesity-related liver lipotoxicity by modulating sterol-regulatory element binding protein pathway in C57BL/6J mice fed a high-fat/cholesterol diet. Sci Rep [Internet]. 2015;5(October):1–10. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/srep15256
  2. Permenkes RI. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019). Vol. 3. Jakarta; 2019. p. 1–9.
  3. Kaczmarczyk MM, Miller MJ, Freund GG. The health benefits of dietary fiber: Beyond the usual suspects of type 2 diabetes mellitus, cardiovascular disease and colon cancer. Metabolism. 2012;61(8):1058–66.
  4. Sinulingga BO. Pengaruh konsumsi serat dalam menurunkan kadar kolesterol. J Penelit Sains [Internet]. 2020;22(1):9–15. Available from: http://ejurnal.mipa.unsri.ac.id/index.php/jps/article/download/556/554
  5. Velázquez-López L, Muñoz-Torres AV, García-Peña C, López-Alarcón M, Islas-Andrade S, Escobedo-De La Peña J. Fiber in diet is associated with improvement of glycated hemoglobin and lipid profile in mexican patients with type 2 diabetes. J Diabetes Res. 2016;2016.
  6. Ihsan Kurniawan S. Hubungan Olahraga, Stress dan Pola Makan dengan Tingkat Hipertensi di Posyandu Lansia di Kelurahan Sudirejo I Kecamatan Medan Kota . J Heal Sci Physiother. 2019;1(1):10– 7.
  7. Syafrawati S, Roza SH. PENGEMBANGAN MEDIA PROMKES UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT dr. RASIDIN PADANG. Bul Ilm Nagari Membangun. 2023;6(3):160–8.
  8. Chandra A, Stone CR, Li WA, Geng X, Ding Y. The cerebral circulation and cerebrovascular disease II: Pathogenesis of cerebrovascular disease. Brain. 2017;3(2):57–65.
  9. Nurkhalis, Adista RJ. Manifestasi Klinis dan Tatalaksana Gagal Jantung. J Kedokt Nanggroe Med. 2020;3(3):104–15.
  10. Brown JF, Isaacs JS, Krinke UB, Murtaugh MA, Stang J WN. Nutrition Through the life cycle. second edi. Wadsworth T, editor. USA; 2004.
  11. Siregar MH, Rahmy HA. Kecukupan Konsumsi Buah Dan Sayur Pada Remaja Pada Masa Pandemi Covid-19 Berdasarkan Faktor Demografi. Hearty. 2022;10(2):89.
  12. Hermina H, S P. Gambaran Konsumsi Sayur dan Buah Penduduk Indonesia dalam Konteks Gizi Seimbang: Analisis Lanjut Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014. Bul Penelit Kesehat. 2016;44(3):4–10.