Hai, sobat ilmugiziku! Pada tahun 2024, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program nasional suplemen multivitamin atau Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) bagi ibu hamil. MMS ini diharapkan menjadi solusi untuk mencegah anemia hingga stunting.

Anemia di Indonesia

FOTO ARTIKEL WEBSITE-18

Anemia merupakan kondisi penurunan eritrosit di bawah batas normal. Anemia bukan suatu penyakit, tetapi gambaran atau tanda adanya kondisi lain dalam tubuh yang mendasari (1). Penyebab utama anemia di Indonesia adalah kekurangan zat gizi, terutama pangan kaya zat besi (2). Zat besi merupakan penyusun hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga konsumsi zat besi yang tidak cukup dapat menyebabkan anemia (3).

Pemerintah Indonesia telah lama berupaya menurunkan angka anemia. Salah satunya dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). TTD telah menjadi intervensi untuk meningkatkan status gizi melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) pada tahun 1973. (4) Program pemberian TTD dilakukan secara blanket approach, yang mengharuskan remaja putri dan wanita usia subur minum TTD tanpa dilakukan skrining awal. Tujuannya adalah untuk mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh (2) Namun, upaya ini belum menyelesaikan masalah anemia di Indonesia. Hasil survei SKI tahun 2023 menunjukkan anemia pada ibu hamil sebesar 27,7% (5)

Suplementasi Mikronutrien dengan MMS

Berbeda dengan TTD yang hanya mengandung zat besi dan asam folat, MMS merupakan suplemen berisi berbagai zat gizi mikro. MMS diformulasikan menggunakan formula United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation (UNIMMAP) yang mengandung 15 vitamin dan mineral yaitu vitamin A, C, D, E, B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), B6, B12, dan asam folat, besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), yodium (I), dan selenium (Se) (6) MMS merupakan cara yang aman dan efektif untuk meningkatkan pola makan dan status gizi. Konsumsi MMS setiap hari selama kehamilan 13% lebih efektif dalam menurunkan berat badan lahir rendah (BBLR) dibandingkan suplemen zat besi dan asam folat (TTD) saja. Pada perempuan dengan kondisi kekurangan berat badan dan anemia, dampak positif MMS bahkan lebih besar yaitu menurunkan prevalensi BBLR hingga sebesar 19%. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan penggunaan MMS untuk memberikan hasil yang lebih baik dalam upaya untuk menurunkan anemia, berat badan lahir rendah, wasting, dan stunting. Selain itu, studi menunjukkan bahwa MMS bermanfaat dalam mencegah kelahiran prematur, lahir mati, Small for Gestational Age (SGA), hingga kematian bayi pada usia 6 bulan (7)

Pentingnya Mikronutrien

Selain zat besi, berbagai vitamin dan mineral juga berperan penting dalam sintesis asam deoksiribonukleat (DNA), protein, dan pembelahan sel serta pembentukan sel darah merah. Tembaga dan seng juga memengaruhi penyerapan dan pemanfaatan zat besi secara signifikan. Seng berperan dalam sintesis berbagai protein pengangkut besi yaitu transferrin, serta membentuk enzim ALA yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah. Vitamin C berperan sebagai enhancer yang mempercepat penyerapan zat besi dengan mengubah bentuk feri menjadi fero yang mudah diserap. terhadap gangguan sintesis asam deoksiribonukleat, protein, dan pembelahan sel. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa status tembaga dan seng dalam tubuh dapat memengaruhi penyerapan dan pemanfaatan zat besi secara signifikan (3,8)

Oleh karena itu, pemenuhan mikronutrien melalui suplementasi gizi mikro atau MMS sangat penting dalam menanggulangi anemia di Indonesia.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Turner J, Parsi M, Badireddy M. Anemia. [Internet]. StatPearls Publishing. 2023 {cited 2025 Jul 11} Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499994/
  2. Kemenkes RI. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur. Kemenkes RI, 2018: Jakarta.
  3. Ayuningtyas, I.K., et al. Analisis Asupan Zat Besi Heme Dan Non Heme, Vitamin B12 Dan Folat Serta Asupan Enhancer Dan Inhibitor Zat Besi Berdasarkan Status Anemia Pada Santriwati. Journal of Nutrition College, 2022; 11(2):171-181
  4. Latief, D. Sejarah Kebijakan Program TTD di Indonesia: Implementasi & Kendala [Internet]. Tim Percepatan Penurunan Stunting. 2021 [cited 2025 Jul 10]. Available from: https://stunting.go.id/wp-content/uploads/2021/07/Sejarah-Kebijakan-Program-TTD-Di-Indonesia-Implemantasi-Kendala-Dr.-Dini-Latief-M.Sc_.-SpGK.pdf
  5. Kemenkes RI. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam Angka. Kemenkes RI, 2024: Jakarta.
  6. UNICEF. Multiple Micronutrient Supplementation An approach to improving the quality of nutrition care for mothers and preventing low birthweight. UNICEF. 2022: New York
  7. Vitamin Angels. FAQs for Service Providers Distributing Multiple Micronutrient Supplements (MMS) to Pregnant Women. [Internet]. Vitamin Angels. 2023 [cited 2025 Jul 11] Available from: .https://vitaminangels.org/wp-content/uploads/2023/01/ENG_MMS_FAQs_for_service_providers.pdf
  8. Chan, L.N. & Mike, L. A. The Science and Practice of Micronutrient Supplementations in Nutritional Anemia An Evidence-Based Review. Journal of Enteral dan Parenteral Nutrition, 2014; 38(6):656-672

Finlandia dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, tidak hanya karena kualitas pengajaran dan kurikulumnya, tetapi juga karena perhatiannya terhadap kesejahteraan siswa. Salah satu wujud nyata dari perhatian ini adalah program makan siang sekolah nasional yang telah berjalan sejak tahun 1948, menjadikannya sebagai salah satu program makan bergizi gratis tertua dan paling komprehensif di dunia (1). Jadi, mari simak bagaimana sistem program makan bergizi gratis di finlandia.

Langkah Awal Finlandia

program-makan-gratis-di-finlandia-foto-getty-imagesfishman

Awalnya, makanan gratis hanya untuk siswa kurang mampu, namun sejak 1943 diperluas secara bertahap hingga seluruh siswa mendapatkannya pada 1948 (2). Sejak tahun 1948, pemerintah Finlandia mewajibkan penyediaan makan siang gratis. Finlandia menyediakan makanan hangat gratis di sekolah untuk semua siswa dari tingkat pra-sekolah dasar hingga sekolah menengah atas setiap hari sekolah, seperti yang dijamin oleh Undang-Undang Pendidikan Dasar di Finlandia pada tahun 1948 (1).

Organisasi & Standar Gizi

Program ini dikelola oleh pemerintah pusat dan diselenggarakan oleh masing-masing kota madya melalui dapur sekolah atau penyedia katering lokal (3).

Menu makan siang wajib memenuhi standar gizi nasional dan mencakup makanan seperti sumber protein yakni ikan, daging, protein nabati, produk susu rendah lemak, kemudian sumber vitamin dan mineral seperti sayur dan buah, serta sumber karbohidrat seperti roti gandum, kentang, nasi, dan pasta, serta tidak lupa juga dengan air putih (3).

Standar ini ditetapkan berdasarkan Nordic Nutrition Recommendations dan diperbarui oleh National Nutrition Council Finlandia (4).

Peran Edukasi & Sosial

makan gratis 1

Makan siang tidak hanya sekadar memberi makan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran: etika makan, kebersamaan, budaya makanan, dan gizi diajarkan sebagai bagian dari kurikulum nasional sejak 2004 dan diperbarui pada 2014 (5).

Waktu makan minimal 30 menit disediakan agar siswa bisa makan dengan tenang dan bersosialisasi (3).

Sekolah juga mengadakan forum evaluasi yang melibatkan siswa, guru, orang tua, dan staf katering untuk meningkatkan kualitas layanan (1).

Variasi Menu & Keberlanjutan

Menu berganti secara berkala, menggunakan bahan musiman dan lokal, untuk menjaga keberagaman rasa dan mendukung produksi lokal. Seminggu sekali, anak-anak akan makan makanan vegetarian untuk mengenalkan gaya hidup sehat dan berkelanjutan. Selain itu, pada hari-hari tertentu sekolah akan menyediakan makanan bertema, seperti makanan tradisional Finlandia atau makanan regional lainnya. (2).

Program ini juga mendorong praktik keberlanjutan seperti pengurangan limbah makanan dan pengolahan bahan organik (6).

Manfaat & Dampak

Studi gizi menunjukkan bahwa makan siang sekolah berperan penting dalam meningkatkan kualitas pola makan anak-anak Finlandia (7). Selain itu, penelitian menunjukkan makan siang sekolah berkontribusi pada peningkatan konsentrasi, hasil belajar, dan kesehatan siswa (7). Program ini juga memperkuat identitas budaya dan keterlibatan dalam praktik keberlanjutan sejak dini, seperti daur ulang dan pengomposan (6). Tentunya semua siswa mendapat makanan yang sama tanpa diskriminasi ekonomi, sehingga mengurangi kesenjangan sosial (5).

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Wikipedia contributors. School meal – Europe – Finland [Internet]. Wikipedia; 2024 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki/School_meal
  2. Education Finland. School meals: the Finnish model [Internet]. EducationFinland.fi; 2024 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.educationfinland.fi/school-meals/finnish-model
  3. Finnish National Agency for Education. School meals in Finland [Internet]. oph.fi; 2023 [cited 2025 Jul
    23]. Available from: https://www.oph.fi/en/education-and-qualifications/school-meals-finland
  4. Food and Agriculture Organization of the United Nations. School food and nutrition - Finland [Internet]. FAO.org; 2023 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.fao.org/platforms/school-
    food/around-the-world/europe-and-central-asia/finland/en
  5. Finnish National Agency for Education. The impact of school meals [Internet]. FinnishSchoolMealSystem.fi; 2023 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.finnishschoolmealsystem.fi/the-impact
  6. Henley J. Free healthy school lunches? Finland shows the way [Internet]. The Guardian; 2024 May 31 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.theguardian.com/global/commentisfree/article/2024/may/31/free-healthy-school-lunches
  7. Hoppu U, Mikkilä V, et al. Meal patterns, food choices, nutrient intake and weight status of Finnish adolescents in the context of the school lunch [Internet]. Food & Nutrition Research Journal; 2010 [cited 2025 Jul 23]. Available from: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.3402/fnr.v60.30468

Beberapa tahun belakangan ini, tren makanan khas Korea telah menjamur ke berbagai negara, salah satunya Indonesia. Acara televisi seperti drama korea, variety show dan konten mukbang kerap kali menyelipkan berbagai hidangan khas Korea yang mencuri perhatian penonton, salah satunya adalah bibimbap. Bibimbap atau nasi campur ala Korea merupakan hidangan gizi seimbang yang terdiri dari nasi hangat yang dipadukan dengan berbagai komponen seperti beragam sayuran, sumber protein (daging, tahu, telur) dan bumbu fermentasi khas Korea (gochujang, ganjang atau doenjang).(1) Tak hanya lezat, bibimbap juga memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh lho! Yuk, simak artikel berikut ini untuk lebih mengenal bibimbap dan zat gizi yang terkandung di dalamnya serta tips menyajikan bibimbap yang sehat di rumah!

Pelangi Gizi dalam Semangkuk Bibimbap

bimbimbap-2

Semangkuk bibimbap mengandung berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Selain bergizi, bibimbap juga menawarkan tekstur yang beragam serta cita rasa yang unik dalam tiap suapannya sehingga tak heran hidangan ini terkenal baik di Korea maupun mancanegara. Berikut komponen utama dalam bibimbap :

  1. Nasi
    Nasi menjadi salah satu sumber karbohidrat yang sering dipilih dalam menyajikan bibimbap, Nasi merah atau nasi coklat juga dapat menjadi alternatif nasi putih dalam semangkuk bibimbap. Nasi mengandung karbohidrat diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi. Karbohidrat yang dikonsumsi akan dipecah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi utama bagi otak, otot dan jaringan lainnya.(2)
  2. Protein
    Sumber protein yang bisa ditambahkan dalam semangkuk bibimbap adalah daging sapi, ayam, seafood dan telur, Bagi vegetarian, sumber protein tersebut dapat diganti dengan soybean atau tahu. Protein diperlukan tubuh untuk membangun otot, pembentukan hormon dan enzim serta memberikan efek yang lebih mengenyangkan. Mengonsumsi protein yang berasal dari sumber nabati seperti tahu dan tempe juga dapat memberikan efek positif bagi mikrobiota usus.(3),(4).
  3. Sayuran
    Sayuran yang biasa dipadukan bersama bibimbap adalah wortel, bayam, jamur, tauge dan sayuran lain disesuaikan dengan selera masing- masing. Sayuran yang berwarna-warni mengandung zat gizi yang sangat baik bagi tubuh. Sayuran berwarna orange seperti wortel kaya akan kandungan beta karoten, vitamin A, pottasium dan antioksidan. Sedangkan bayam mengandung folat yang dapat membantu mencegah terjadinya neural tube disorders (NTD) selama kehamilan. Kandungan vitamin K, A dan magnesium yang tinggi pada bayam juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Jamur mengandung berbagai komponen bioaktif yang dapat membantu mencegah kanker, penyakit jantung dan memperbaiki kadar gula darah dan kesehatan saluran cerna.(5) Antioksidan, polifenol dan flavonoid juga terkandung pada tauge yang menjadi salah satu komponen dalam bibimbap.(1)
  4. Gochujang
    Bumbu fermentasi yang umumnya digunakan adalah gochujang. Gochujang merupakan produk fermentasi yang terbuat dari bubuk cabai merah, beras ketan, meju (kedelai fermentasi) dan garam. Proses fermentasi gochujang tidak hanya meningkatkan rasa dan aroma yang khas dan unik namun juga meningkatkan nilai gizinya. Gochujang mengandung berbagai komponen bioaktif yang dapat memberikan efek antioksidan,(6)

Tips Menyajikan Bibimbap Sehat di Rumah

Bimbimbap dapat dikreasikan dan dimodifikasi menjadi hidangan yang lebih sehat lho sobat ilmugiziku! Berikut tips membuat bibimbap sehat di rumah tanpa mengurangi kelezatannya :

  1. Pilih nasi merah atau nasi cokelat sebagai alternatif nasi putih
    Nasi yang memiliki pigmen warna alami seperti nasi merah dan nasi cokelat memiliki kandungan antioksidan dan serat yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasi putih. Nasi merah mengandung zat besi yang dapat mencegah terjadinya anemia defisiensi besi. Kandungan gizi dalam nasi cokelat juga tidak kalah jika dibandingkan dengan nasi merah lho! Nasi cokelat mengandung antioksidan dan vitamin E yang dapat memberikan proteksi terhadap penyakit kronik.(7)
  2. Coba berbagai metode pemasakan dalam mengolah protein dan sayur
    Selain di tumis, sayur juga dapat diolah dengan cara direbus atau dikukus. Namun, proses pemasakan yang terlalu lama dapat merusak kandungan gizi dan tekstur bahan makanan, sehingga waktu pemasakan juga perlu diperhatikan. Sayuran seperti bayam membutuhkan waktu rebus sekitar 3-5 menit, sedangkan sayuran yang lebih keras seperti wortel dan brokoli membutuhkan waktu yang lebih lama sekitar 7-10 menit.(8) Beberapa sayuran juga dapat disantap secara mentah seperti mentimun tetapi tetap harus memperhatikan kebersihannya. Pastikan sayuran sudah dicuci dengan bersih sebelum dikosumsi. Telur rebus dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dan minim penggunaan minyak dibandingkan dengan telur mata sapi. Cara pengolahan yang beragam dapat juga menambah variasi tekstur sehingga hidangan terlihat lebih menarik dan tidak membosankan.
  3. Usahakan porsi seimbang
    Sobat ilmugiziku dapat mengatur komposisi antara karobohidrat, protein, vitamin dan mineral dalam semangkuk bibimbap sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Setengah mangkuk dapat diisi dengan nasi sebagai sumber karbohidrat, seperempat porsi diisi dengan sumber protein seperti daging, tahu, telur ataupun kombinasi ketiganya dan seperempat sisanya diisi dengan sayuran berwarna-warni sebagai sumber serat, vitamin dan mineral. Pembagian porsi ini dapat membantu sobat ilmugiziku dalam menikmati bibimbap dengan nikmat dan memenuhi kebutuhan gizi harian.

Bibimbap merupakan salah satu menu tradisional Korea yang mendunia. Tidak hanya karena cita rasa uniknya, bibimbap juga mengandung zat gizi lengkap yang diperlukan tubuh. Melalui tips praktis yang telah dibagikan, kini sobat ilmugiziku dapat menyajikan bibimbap yang lebih sehat di rumah. Sobat ilmugiziku dapat menjadikan bibimbap menjadi salah satu pilihan menu makan yang lezat dan bergizi.

Editor : Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Mun E, Lee Y, Cha Y. The Globalization of Bibimbap: Focusing on the Diversity of Modernization of Bibimbap. Journal of Ethnic Foods. 2023;10(39):1–11.
  2. Sharma J. Carbohydrates and Their Benefits: The Fuel for Life. Journal of Nutrition Science Research. 2024;9(6).
  3. Baum J, Borsheim E, Allman B, Walker S. Health Benefits of Dietary Protein throughout the Life Cycle. IntechOpen. 2020;
  4. Jain R, Goomer S. Nutritional and Health Benefits of Plant Proteins : A Review. Plant Archives. 2020;20:160–2.
  5. Kar S, Kundu S, Mal D. Nutritional Quality of Colored Vegetables: A review. Journal Nutraceuticals and Food Science. 2021;6(9):1–5.
  6. Park Y, Kim J, Ryu M, Yang H, Jeong D, Shin D. The Health Benefits and Functional Properties of Gochujang: A Comprehensive Review of Fermentation and Bioactive Compounds. Fermentation. 2025;11(67).
  7. Veni B. Nutrition Profiles of Different Colored Rice: A Review. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. 2019;303–5.
  8. NHLBI. The Healthy Family Cookbook. Skyhorse Publishing; 2019.

Holaa, sobat ilmugiziku! Kamu lagi semangat ikut tren lari seperti marathon, trail run, atau fun run? Kamu nggak sendiri, olahraga ini digandrungi banyak orang dari segala usia karena simpel, murah, dan menyenangkan. Namun, jangan cuma fokus lari aja ya, pengaturan gizi yang tepat juga penting banget buat menjaga stamina dan performa kamu tetap maksimal. Yukk, scroll down!

Kenapa Lari Butuh Gizi Khusus?

Lari termasuk dalam olahraga daya tahan (endurance sport) yang menuntut tubuh bekerja keras dalam durasi yang panjang. (1) Lari seperti marathon, trail run, dan fun run biasa dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang dan bersifat aerobik. (2) Aktivitas ini dapat menguras cadangan glikogen dan merusak jaringan otot, baik membuatnya semakin besar atau kecil. Oleh karena itu, olahraga ini harus diimbangi dengan asupan makanan yang sesuai.

Kenali Zat Gizi Penting untuk Pelari

FOTO ARTIKEL WEBSITE-6
1. Karbohidrat - Sumber energi utama

Karbohidrat dibutuhkan untuk menyuplai energi dalam bentuk glikogen otot. (2) Jenis karbohidrat yang dianjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, dan umbi-umbian. Jumlah asupan karbohidrat harian disesuaikan dengan durasi latihan sebagai berikut :

2. Protein - Regenerasi otot

Protein berperan penting dalam memperbaiki dan membangun kembali otot rangka yang rusak pasca latihan. (3) Menurut pedoman gizi olahraga saat ini, disarankan mengonsumsi sekitar 0.25 – 0.3 g/kgBB segera setelah berolahraga untuk memaksimalkan sintesis protein otot. (2)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-4
3. Lemak - Energi dalam jangka waktu panjang

Lemak menyediakan energi yang tinggi sekitar 9 kkal/gr, lebih dari dua kali lipat dibandingkan karbohidrat. Hal ini membuat lemak ideal untuk lari jarak jauh saat simpanan glikogen mulai habis. (4) Lemak akan mengalami oksidasi selama olahraga aerobik untuk menyediakan energi secara bertahap dan mencegah kelelahan. Dengan begitu, simpanan lemak yang ada di dalam tubuh juga dapat berkurang. Hal ini dapat menguntungkan pelari yang ingin menurunkan berat badan.

Waktu Makan Penting untuk Pelari

Setelah mengetahui peran zat gizi untuk berolahraga, selanjutnya perlu memerhatikan pengaturan jadwal makan dan distribusi zat gizi. Adapun pengaturan jadwal makan sebagai berikut:

  1. Sebelum olahraga
    Bertujuan untuk mengisi cadangan energi dan mencegah kelelahan dini. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat kompleks dan sedikit protein.
  2. Selama olahraga
    Bertujuan untuk menjaga performa dan hidrasi. Konsumsi karbohidrat sederhana seperti minuman isotonik dan gel energi setiap 30-60 menit untuk membantu mempertahankan tenaga dan glikogen otot.
  3. Setelah olahraga
    Fokus pada regenerasi otot dan cadangan glikogen dengan mengombinasikan karbohidrat dan protein. Konsumsi karbohidrat sebanyak 1 – 1.2 gr/kgBB dan protein 0.25 – 0.3 gr/kgBB setelah berolahraga.

Inspirasi Menu Sehat dari Pangan Lokal

Berikut adalah referensi menu yang bisa dikonsumsi untuk menunjang olahraga kamu:

Lari memang menyehatkan, tapi akan jauh lebih efektif jika kamu mendukungnya dengan pola makan yang tepat. Yuk, mulai lebih aware dengan gizi agar tubuhmu selalu siap menaklukkan setiap kilometer!

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Noor Yunita, Nuryansah Fafa, Widiyawati Agatha, et al. Dasar Gizi Olahraga. Banten: Sada Kurnia Pustaka; 2025. 97-122 p.
  2. McLeman LA, Ratcliffe K, Clifford T. Pre- and post-exercise nutritional practices of amateur runners in the UK: are they meeting the guidelines for optimal carbohydrate and protein intakes?. Sport Science for Health. 2019;15(3):511-517.
  3. Perez-Schindler Joaquin, Hamilton D. Lee, Moore Daniel R., Baar Keith, Philp Andrew. Nutritional strategies to support concurrent training. European Journal of Sport Science. 2015;15(1):41-52.
  4. Muscella A, Stefano E, Lunetti P, Capobianco L, Marsigliante S. The regulation of fat metabolism during aerobic exercise. Biomolecules. 2021;10(12);1699.

Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi masalah kesehatan yang genting di Indonesia. Salah satunya adalah hipertensi/tekanan darah tinggi. Meskipun telah terjadi penurunan prevalensi, hipertensi masih menjadi perhatian utama mengingat potensinya yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah seperti stroke, gagal jantung, penyakit jantung koroner dan gangguan ginjal, yang merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. (1) Salah satu faktor utama terjadinya hipertensi adalah akumulasi gaya hidup yang tidak sehat, termasuk pola makan yang buruk. Menurut penelitian, sekitar 30% prevalensi hipertensi di seluruh dunia disebabkan oleh konsumsi natrium yang tinggi. (2)

Natrium : mineral penting, ketahui batasannya

Sama hal-nya dengan zat gizi lain, natrium tentunya bermanfaat bagi tubuh. Sebagai zat gizi mikro, natrium dibutuhkan oleh tubuh untuk mengatur keseimbangan asam basa darah, kontraksi otot, serta mengatur tekanan osmosis agar cairan tidak keluar dan masuk ke sel. (3) Kelebihan dan kekurangan mineral ini, bisa berdampak buruk bagi tubuh. Oleh karena itu Kementerian Kesehatan RI mengatur batas asupan harian natrium untuk mencegah resiko tersebut, yakni sebesar 2000 mg natrium/hari atau setara dengan satu sendok teh garam. (4)

Natrium VS Garam Dapur : pahami perbedaanya

FOTO ARTIKEL WEBSITE-5

Banyak orang keliru dalam memahami bahwa natrium dan garam dapur adalah dua hal yang sama. Padahal, hal ini tidak sepenuhnya benar. Natrium (Na) adalah unsur kimia yang yang merupakan kelompok mineral. Sementara garam dapur (Nacl) adalah senyawa gabungan dari natrium dan klorida. Artinya, garam dapur mengandung natrium, tapi tidak semua natrium adalah garam dapur. Kekeliruan ini dapat menyebabkan seseorang merasa aman dari resiko kelebihan natrium, karena merasa tidak banyak menggunakan garam dapur dalam masakan atau mengkonsumsi makanan yang asin. Padahal natrium juga banyak tersembunyi dalam makanan olahan.

Natrium tersembunyi : ancaman berbahaya

Natrium bukan hanya berasal dari garam dapur (Nacl) yang ditambahkan dalam makanan, tetapi juga ada dalam bentuk senyawa lain seperti natrium benzoat, natrium nitrit atau monosodium glutamat (MSG). Senyawa-senyawa ini sering digunakan pada ultra-processed food (UPF) seperti makanan olahan (bacon, sosis, ham, bumbu instan, keju olahan, roti tawar, saus, kecap), makanan cepat saji/fast food dan makanan kaleng (sarden, sayuran kaleng, sup kaleng) sebagai pengawet, penambah rasa dan penguat tekstur. [5] Karena penggunaannya tidak selalu menghasilkan rasa asin, natrium dalam makanan-makanan tersebut sering kali tidak disadari keberadaannya, atau dikenal sebagai natrium tersembunyi.

Kurangi natrium tersembunyi : ini tipsnya

FOTO ARTIKEL WEBSITE-4

Untuk mengurangi asupan natrium tersembunyi dalam makanan, setiap individu dapat melakukan beberapa langkah sederhana berikut ini:

  1. Kurangi penggunaan garam dapur
    Garam dapur biasanya ditambahkan pada masakan untuk menambah cita rasa. Namun, untuk mengurangi konsumsi natrium, penggunaannya bisa digantikan dengan rempah-rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, jahe, daun mint, cabai dan kayu manis yang juga memberikan rasa khas tanpa menambah natrium. (6)
  2. Baca label Gizi pada makanan kemasan
    Informasi gizi pada kemasan makanan tentunya ada bukan tanpa alasan. Salah satu tujuannya adalah untuk membantu kita membatasi asupan natrium. Caranya, dengan membiasakan diri memeriksa kandungan natrium per sajian sebelum memilih produk. Selain itu, pilihlah produk dengan label “makanan rendah natrium” atau “pilihan lebih sehat” yang ada pada kemasan makanan untuk mendapatkan makanan dengan kandungan natrium yang lebih rendah, namun tetap perhatikan porsinya dan konsumsi dalam batas wajar. (7)
  3. Batasi konsumsi UPF
    Makanan ultra processed umumnya mengandung natrium sebagai bahan pengawet dan penambah rasa. (8) Oleh karena itu, batasi konsumsinya dan pilihlah makanan segar yang minim proses atau makanan alami yang diolah sendiri agar penggunaan bumbu dan garam dapat dikendalikan.
Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Kemenkes RI. Laporan Tematik Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023. 2023. [cited 2025 june 23]. Available from: https://drive.google.com/file/d/1MvZMg8euyXZ0LIbcuSA5CPTpU8gDU0Qx/view
  2. Norm R.C. Campbell. dkk. 2022 World Hypertension League, Resolve To Save Lives and International Society of Hypertension dietary sodium (salt) global call to action. Journal of Human Hypertension. 2022. [cited 2025 june 23]. Available from: https://www.nature.com/articles/s41371-022-00690-0
  3. Prasodjo, R. A., & Farapti, F. Literatur Review: Strategi Penurunan Asupan Natrium Melalui Pengurangan Garam untuk Mencegah Hipertensi. 2024;13(1), 521-529.
  4. Kemenkes RI. Penting, Ini yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Konsumsi Gula, Garam dan Lemak. 2019. [cited 2025 june 23]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/penting- ini-yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-konsumsi-gula-garam-dan-lemak
  5. Wulandari, L., R. Zat Aditif pada Makanan, Kenali Jenis dan Efek Sampingnya. Hellosehat. 2023. [cited 2025 june 23]. Available from: https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/efek- zat-aditif-pada-makanan/
  6. Joseph, Novita. 6 Rempah-Rempah yang Bisa Jadi Bahan Pengganti Garam. Hellosehat. 2022. [cited 2025 june 23]. Available from: https://hellosehat.com/herbal- alternatif/herbal/rempah-pengganti-garam/
  7. Sudah Tahu Logo “Pilihan Lebih Sehat”?. Kompasiana. 2021. [cited 2025 june 23]. Available from: https://www.kompasiana.com/adezulkifli0221/60f6e680152510519b456862/logo- pilihan-lebih-sehat#:~:text=Apabila%20kita%20menemukan%20produk%20olahan,Sumber:
  8. Lafata Erica M. dkk. Ultra-Processed Food Addiction: A Research Update. Current Obesity Reports. 2024;13(214-223)

Salmonella adalah salah satu penyebab paling umum dari keracunan makanan (foodborne Disease) di seluruh dunia. Bakteri ini sering ditemukan pada makanan yang akrab di keseharian kita: daging ayam, telur, susu, dan produk olahannya. Oleh karena itu, pemahaman dasar mengenai cara menjaga keamanan makanan sangat penting dimiliki. Artikel ini akan membahas langkah-langkah sederhana dan aplikatif untuk mencegah risiko keracunan makanan.

Apa Itu Salmonella spp.?

Salmonella adalah bakteri Gram-negatif yang menggunakan flagela untuk bergerak. Bakteri Salmonella hidup di saluran usus manusia dan hewan, termasuk burung, reptil, ternak, dan mamalia lainnya (1). Bakteri ini dikeluarkan melalui tinja dan dapat mencemari air dan sumber makanan, yang menyebabkan infeksi jika tertelan. Kisaran suhu optimal untuk pertumbuhan Salmonella secara umum antara 35 dan 37°C, dengan beberapa penelitian menunjukkan pertumbuhan antara 5 dan 45°C (2).

Sumber Kontaminasi: Dari Mana Salmonella Masuk ke Makanan?

FOTO ARTIKEL WEBSITE

Salmonella dapat mengontaminasi berbagai makanan, terutama yang berasal dari hewan (3):

  1. Daging ayam, sapi, babi
  2. Telur mentah atau setengah matang
  3. Susu segar yang belum dipasteurisasi
  4. Produk olahan susu seperti es krim, keju
  5. Sayuran atau buah yang terkontaminasi feses hewan
  6. Makanan siap saji yang terkena kontaminasi silang

Gejala Keracunan Salmonella (Salmonellosis)

Makanan yang terkontaminasi Salmonella dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal (pencernaan) yang disebut dengan istilah Salmonellosis. Gejala biasanya mulai 6 hingga 48 jam setelah mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi (4). Gejala yang umum berupa mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Mialgia dan sakit kepala sering terjadi; namun, gejala utamanya adalah diare (5). Demam (38°C hingga 39°C) dan menggigil juga umum terjadi. Durasi demam dan diare bervariasi, tetapi biasanya 2 hingga 7 hari.

Cara Mencegah Kontaminasi Salmonella

FOTO ARTIKEL WEBSITE-2
  1. Saat Memasak
    Masak daging, terutama ayam, hingga suhu minimal 71,7°C dalam 15 menit (6). Hindari konsumsi telur mentah atau setengah matang.
  2. Saat Menyimpan
    Simpan makanan yang mudah basi dalam waktu 2 jam setelah matang. Gunakan suhu kulkas <4°C dan freezer < -18°C (7).
  3. Saat Menyiapkan Makanan
    Pisahkan talenan & pisau untuk bahan mentah dan matang. Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan. Jangan gunakan wadah bekas bahan mentah tanpa dicuci.

Kesimpulan

Keamanan pangan bukan hanya urusan dapur restoran besar, kamu juga bertanggung jawab atas apa yang kamu konsumsi. Langkah-langkah kecil seperti mencuci tangan, memasak makanan hingga matang, menyimpan dengan benar, serta menjaga kebersihan dapur bisa mencegah banyak masalah kesehatan. Dengan pengetahuan ini, kamu tidak hanya bisa makan lebih aman, tapi juga lebih tenang menjalani hari-hari di perantauan

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Liu H, Whitehouse CA, Li B. Presence and Persistence of Salmonella in Water: The Impact on Microbial Quality of Water and Food Safety. Front Public Heal. 2018;6(May):1–13.
  2. Guillén S, Domínguez L, Mañas P, Álvarez I, Carrasco E, Cebrián G. Modelling the low temperature growth boundaries of Salmonella Enteritidis in raw and pasteurized egg yolk, egg white and liquid whole egg: Influence of the initial concentration. Int J Food Microbiol. 2024;414(December 2023).
  3. Ehuwa O, Jaiswal AK, Jaiswal S. Salmonella, food safety and food handling practices. Foods. 2021;10(5):1–16.
  4. Patel P, Bharadwaj HR, Al Ta’ani O, Khan S, Alsakarneh S, Malik S, et al. Updates and Current Knowledge on the Common Forms of Gastroenteritis: A Review. J Clin Med [Internet]. 2025;14(10):1–16. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/40429459%0Ahttp://www.pubmedcentral.ni h.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC12112049
  5. Popa GL, Popa MI. Salmonella spp. Infection – a continuous threat worldwide. Germs. 2021;11(1):88–96.
  6. Angelotti R, Foter Mj, Lewis Kh. Time-temperature effects on salmonellae and staphylococci in foods. I. Behavior in refrigerated foods. II. Behavior at warm holding temperatures. Am J Public Health. 1961;51:76–88.
  7. Silva JL da, Vieira BS, Carvalho FT, Carvalho RCT, Figueiredo EE de S. Salmonella Behavior in Meat during Cool Storage: A Systematic Review and Meta-Analysis. Animals. 2022;12(21).