Menjaga Kesehatan Usus : Kunci Mood Stabil, Imunitas Kuat, dan Berat Badan Ideal

Menjaga Kesehatan Usus : Kunci Mood Stabil, Imunitas Kuat, dan Berat Badan Ideal

Bagikan

Halo sobat ilmugiziku! Pernah merasa suasana hati mudah berubah, sering sakit, atau mungkin berat badan sulit turun meskipun sudah menjaga pola makan? Nah, sebenarnya kondisi tersebut tanpa disadari berkaitan erat lho dengan kesehatan usus. Usus tidak hanya berperan dalam proses pencernaan, namun juga berpengaruh terhadap suasana hati (mood), sistem kekebalan tubuh, serta pengaturan berat badan. Lalu, apa yang dimaksud dengan kesehatan usus dan bagaimana perannya terhadap mood, imunitas, serta berat badan? Yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Mengapa Menjaga Kesehatan Usus itu Penting?

Usus adalah organ dalam sistem pencernaan yang berfungsi mencerna dan menyerap zat gizi. Selain itu, usus juga merupakan tempat tinggal berbagai jenis mikrobiota. Kolon adalah tempat dengan jumlah serta jenis mikrobiota terbanyak karena permukaannya luas dan mengandung banyak senyawa kaya nutrisi yang mendukung pertumbuhan mikrobiota. Ketidakseimbangan mikrobiota usus atau dysbiosis disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola makan tinggi lemak serta rendah serat, penggunaan antibiotik secara berlebihan, dan stres. Kondisi ini mengakibatkan sindrom iritasi usus besar, diare, konstipasi, autoimun, hingga diabetes melitus tipe 2. (1)

Mikrobiota Usus dan Fungsinya bagi Tubuh

Mikrobiota usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan dan berperan penting bagi kesehatan. Mikrobiota usus membantu menguraikan karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna tubuh seperti oligosakarida, pati, dan serat menjadi asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acid/SCFA). SCFA yang dihasilkan antara lain yaitu asetat, propionat, serta butirat. Asetat berfungsi sebagai sumber energi untuk otot, sedangkan propionat berperan dalam menekan sinyal lapar dari otak dan mendukung produksi energi oleh hati dengan memfasilitasi pembentukan Adenosine Triphosphate (ATP). Adapun butirat mengurangi risiko kanker kolon melalui menginduksi apoptosis sel epitel kolon yang bersifat ganas. (2) Selain itu, mikrobiota usus mampu mensintesis vitamin-vitamin seperti vitamin B9, B2, B7, B12, B3, B1, dan K sehingga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan vitamin. Di samping itu, mikrobiota usus juga mendukung dalam penyerapan mineral tertentu seperti magnesium, zat besi, serta kalsium. (3)

Bagaimana Mikrobiota Usus Memengaruhi Mood?

Sumbu usus-otak atau gut-brain axis merupakan jaringan komunikasi dua arah yang menghubungkan sistem enterik dan sistem saraf secara anatomis, endokrin, humoral, metabolik, serta imun. (4) Mikrobiota usus memengaruhi sumbu ini melalui produksi SCFA, yakni molekul pensinyalan yang memediasi hubungan antara sel enteroendokrin usus dengan mikrobiota. SCFA menstimulasi sel tersebut untuk memproduksi Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1), yang kemudian memasuki sirkulasi serta bermigrasi ke sistem saraf pusat. GLP-1 selanjutnya akan meningkatkan produksi neurotransmitter, salah satunya yakni serotonin, yang mengatur mood dan mengatasi kecemasan serta depresi. (5) Selain itu, SCFA juga berperan dalam menurunkan konsentrasi sitokin-sitokin proinflamasi yang meningkat ketika mengalami depresi dan gangguan psikiatri lainnya sehingga mengurangi peradangan.

Efektivitas mikrobiota usus terhadap suasana hati salah satunya dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Steenbergen et al (2015). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok partisipan yang menerima suplemen makanan probiotik selama 4 minggu memiliki reaktivitas kognitif yang berkurang secara signifikan terhadap suasana hati sedih dibandingkan dengan kelompok partisipan yang menerima plasebo untuk durasi yang sama. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya perenungan dan pikiran agresif. (6)

Peran Mikrobiota Usus dalam Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh

Mikrobiota usus berperan dalam sistem kekebalan dengan memodulasi migrasi neutrofil serta memengaruhi pematangan sel-sel sistem kekebalan tubuh. Proses ini meliputi diferensiasi sel T menjadi sel T helper (Th1, Th2, dan Th3) atau sel T regulator yang berfungsi mengurangi respons alergi. (7) Pematangan tersebut terjadi melalui aktivasi sel dendritik di mukosa usus yang kemudian menghasilkan interleukin untuk merangsang limfosit berkembang menjadi subtipe yang sesuai. Selain itu, mikrobiota usus juga membantu sistem kekebalan tubuh membedakan antara mikroorganisme patogen berbahaya dengan mikroorganisme komensal yang menguntungkan. (8) Penelitian yang dilakukan oleh Maciel et al (2023) menunjukkan bahwa ketiadaan mikrobiota usus menyebabkan sistem imun mukosa usus tidak berkembang secara maksimal sehingga mengakibatkan kemampuan tubuh dalam melawan patogen menurun. Di samping itu, mikrobiota tertentu dapat mencegah autoimun pada individu yang secara genetik rentan terhadap kondisi tersebut. (9)

Mengapa Kesehatan Usus Berperan dalam Pengaturan Berat Badan?

Regulasi keseimbangan energi salah satunya dipengaruhi oleh proses fermentasi polisakarida di kolon yang menghasilkan SCFA. SCFA merupakan ligan untuk reseptor protein GPR41 dan GPR43, yang kemudian menstimulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan asupan serta pengeluaran energi. Ikatan antara SCFA dengan GPR41 meningkatkan hormon Peptide Tyrosine Tyrosine (PYY) dan GLP-1. Kedua hormon tersebut berfungsi menurunkan nafsu makan, memperlambat pengosongan lambung, serta meningkatkan sensitivitas hormon insulin. (10) Selain itu, metabolisme mikrobiota usus juga berperan dalam pencegahan obesitas melalui mekanisme ekstraksi energi dari makanan yang dikonsumsi. Energi tersebut kemudian disimpan di jaringan adiposa sebagai sumber energi untuk pertumbuhan serta proliferasi mikrobiota. Efisiensi metabolisme dipengaruhi oleh komposisi mikrobiota sehingga komposisi mikrobiota usus dapat menjadi salah satu predisposisi terjadinya obesitas. (11)

Makanan yang Mendukung Kesehatan Usus

Berikut merupakan beberapa makanan yang dapat mendukung kesehatan usus :

  1. Prebiotik : komponen makanan yang tidak dapat dicerna sistem pencernaan, namun menjadi substrat bagi mikrobiota usus sehingga mendukung pertumbuhan dan aktivitasnya. Beberapa jenis prebiotik yang sering digunakan adalah inulin, frukto-oligosakarida (FOS), dan galakto-oligosakarida (GOS).

  2. – Inulin : terdapat pada daun bawang, sawi putih, bawang putih, bawang merah, bawang bombai, gandum, pisang, kedelai, dan tomat. (12)
    – Frukto-oligosakarida (FOS) : ditemukan secara alami dalam buah bit, bawang merah, bawang putih, gula tebu, madu.
    – Galakto-oligosakarida (GOS) : terdapat pada produk susu, kacang-kacangan, dan sayuran akar.

  3. Probiotik : mikroorganisme hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang memadai memberikan manfaat kesehatan untuk inang. Probiotik tersedia dalam makanan maupun suplemen. Makanan serta minuman yang tinggi probiotik antara lain yaitu kefir, yogurt, sauerkraut, tempe, kombucha, dan kimchi. (13) Makanan serta minuman tersebut diproduksi melalui fermentasi yang mendorong pertumbuhan strain mikrobiota usus tertentu.

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Usus?

  1. Mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung prebiotik dan probiotik.
  2. Meningkatkan konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur-sayuran (kubis brussel, brokoli, wortel), buah-buahan (apel, pir, pisang), serta kacang-kacangan (kacang polong, kacang almond, kacang merah).
  3. Membatasi asupan makanan tinggi lemak karena konsumsi makanan tersebut memodifikasi komposisi mikrobiota usus dan menyebabkan dysbiosis.
  4. Mengelola stres dengan baik.
  5. Mengonsumsi air putih secara teratur sesuai dengan kebutuhan tubuh.
  6. Menghindari penggunaan antibiotik secara berlebihan karena penggunaan antibiotik mengakibatkan kerusakan secara cepat dan signifikan pada mikrobiota usus.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Ubaidilah A. Peran probiotik dalam kesehatan pencernaan manusia. ALPHA Journal of Science and Technology [Internet]. 2025 Jul 30;1(3):69–75. Available from: https://doi.org/10.70716/alpha.v1i3.236
  2. Rizqoh D, Laudy NP, Atiqah RF, Fadlika R. HUBUNGAN ANTARA KETIDAKSEIMBANGAN KOMPOSISI MIKROBIOTA USUS TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN : TELAAH LITERATUR. Jurnal Medika Malahayati [Internet]. 2024 Jul 4;8(2):397–410. Available from: https://doi.org/10.33024/jmm.v8i2.14796
  3. Vyas U, Ranganathan N. Probiotics, prebiotics, and synbiotics: gut and beyond. Gastroenterology Research and Practice [Internet]. 2012 Jan 1;2012:1–16. Available from: https://doi.org/10.1155/2012/872716
  4. Atmaja PDAP, Haq AD, Wiguna VV. KOMBUCHA: PENDAYAGUNAAN MEKANISME GUT-BRAIN AXIS DALAM PENCEGAHAN DEPRESI. JIMKI Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia [Internet]. 2022 Apr 4;9(3):24–33. Available from: https://doi.org/10.53366/jimki.v9i3.333
  5. Fachry Naufal, Diaru Fauzan Farizy, Winda TU. Psychobiotics: Role of Gut Microbiota in Mental Health. méd. prof. j. of Lampung [Internet]. 2020Dec.27 [cited 2025Dec.25];10(3):545-50. Available from: https://www.journalofmedula.com/index.php/medula/article/view/133
  6. Steenbergen L, Sellaro R, Van Hemert S, Bosch JA, Colzato LS. A randomized controlled trial to test the effect of multispecies probiotics on cognitive reactivity to sad mood. Brain Behavior and Immunity [Internet]. 2015 Apr 7;48:258–64. Available from: https://doi.org/10.1016/j.bbi.2015.04.003
  7. Pantazi AC, Mihai CM, Balasa AL, Chisnoiu T, Lupu A, Frecus CE, et al. Relationship between Gut Microbiota and Allergies in Children: A Literature Review. Nutrients [Internet]. 2023 May 29;15(11):2529. Available from: https://doi.org/10.3390/nu15112529
  8. Isiaka NAB, Anakwenze NVN, Uzoka NUH, Ilodinso NCR, Oso NMO, Ekwealor NCC, et al. Exploring the role of gut microbiota in human health. GSC Biological and Pharmaceutical Sciences [Internet]. 2024 Apr 6;27(1):051–9. Available from: https://doi.org/10.30574/gscbps.2024.27.1.0100
  9. Maciel-Fiuza MF, Muller GC, Campos DMS, Costa PDSS, Peruzzo J, Bonamigo RR, et al. Role of gut microbiota in infectious and inflammatory diseases. Frontiers in Microbiology [Internet]. 2023 Mar 27;14:1098386. Available from: https://doi.org/10.3389/fmicb.2023.1098386
  10. Haliman CD, Alfinnia S. Mikrobiota Usus, Prebiotik, Probiotik, dan Sinbiotik pada Manajemen Obesitas. Media Gizi Kesmas [Internet]. 2021 Jun 1;10(1):149. Available from: https://doi.org/10.20473/mgk.v10i1.2021.149-156
  11. Putri SSF, Irfanuddin I, Murti K. POTENSI MIKROBIOTA USUS DALAM PENCEGAHAN DAN TATALAKSANA OBESITAS. JAMBI MEDICAL JOURNAL “Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan” [Internet]. 2021 Nov 1;9(3):276–82. Available from: https://www.online-journal.unja.ac.id/kedokteran/article/view/14537
  12. Anggraeni AA. PREBIOTIK DAN MANFAAT KESEHATAN. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana [Internet]. 2012 Jan 1;7(1). Available from: https://journal.uny.ac.id/index.php/ptbb/article/download/32961/13857
  13. Aziz T, Hussain N, Hameed Z, Lin L. Elucidating the role of diet in maintaining gut health to reduce the risk of obesity, cardiovascular and other age-related inflammatory diseases: recent challenges and future recommendations. Gut Microbes [Internet]. 2024 Jan 4;16(1):2297864. Available from: https://doi.org/10.1080/19490976.2023.2297864
No Comments

Post A Comment