12 Jul Putus Rantai Anemia Sejak Dini: Investasi untuk Generasi Sehat dan Produktif
Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang masih banyak ditemui di Indonesia dan menjadi prioritas dalam agenda kesehatan nasional. Masalah ini termasuk dalam Triple Burden of Malnutrition, khususnya terkait kekurangan zat gizi mikro. Anemia dapat menyerang berbagai kelompok usia, seperti balita, remaja, ibu hamil, hingga lansia. (1)
Apa itu Anemia dan Faktor Penyebabnya?
Anemia adalah kondisi saat jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah batas normal, tergantung usia dan jenis kelamin. (2) Pada pria, anemia ditandai dengan kadar Hb kurang dari 13,5 g/dl, sedangkan pada wanita di bawah 12 g/dl. Hemoglobin berperan penting dalam mengangkut oksigen, vitamin, dan mineral ke seluruh tubuh, termasuk otak. (3) Penyebab anemia cukup beragam, mulai dari kurangnya asupan zat gizi seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12, hingga penyakit kronis, pendarahan yang signifikan, dan stres oksidatif. Gejalanya antara lain lelah, kulit pucat, pusing, lemas, dan detak jantung tidak teratur. (4)
Kenapa Anemia Perlu Dicegah Sejak Dini?
Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 26,8% anak usia 5–14 tahun mengalami anemia. Di rentang usia 15–24 tahun, persentasenya menyentuh angka 32%. Sementara itu, ibu hamil usia 15–24 tahun tercatat memiliki prevalensi anemia sebesar 84,6%, dan secara keseluruhan mencapai 48,9%. (5) Jika dibiarkan, anemia dapat berdampak jangka panjang. Remaja putri yang anemia bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan kognitif, rendahnya daya tahan tubuh, dan produktivitas belajar yang terganggu. Saat dewasa, anemia bisa meningkatkan risiko komplikasi saat kehamilan. (6) Pada ibu hamil, anemia bisa meningkatkan potensi kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), bayi prematur, hingga terjadinya kematian neonatal. Lebih jauh lagi, anemia yang tidak tertangani bisa menjadi kronis dan menurunkan produktivitas kerja, menambah beban biaya kesehatan, serta memengaruhi kondisi ekonomi keluarga. (7)
Langkah-Langkah Strategis Memutus Rantai Anemia
Penanganan anemia perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Namun, ada beberapa langkah umum yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Penuhi Asupan Zat Besi, Asam Folat, dan Vitamin B12
Pola makan bergizi seimbang penting untuk mencegah anemia. Zat besi berperan dalam pembentukan hemoglobin, sedangkan asam folat dan vitamin B12 mendukung produksi sel darah merah. (8)(9) Sumber makanan yang kaya zat gizi ini antara lain daging merah, hati ayam, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Konsumsi vitamin C juga disarankan karena membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. (10) Sebaliknya, konsumsi teh dan kopi sebaiknya tidak dilakukan bersamaan dengan makanan sumber zat besi, karena kandungan tanin dan fitatnya dapat menghambat penyerapan. Begitu pula dengan konsumsi kalsium dan polifenol dalam jumlah besar. (11)
2. Suplementasi Vitamin dan Mineral
Beberapa kelompok rentan seperti remaja putri dan ibu hamil disarankan mengonsumsi suplemen zat besi dan asam folat. Salah satunya melalui Tablet Tambah Darah (TTD), yang dapat diperoleh secara gratis melalui program UKS dan posyandu, atau dapat juga dibeli di apotek terdekat. Remaja putri disarankan mengonsumsi satu tablet per minggu, dan satu tablet per hari saat haid. Sedangkan ibu hamil dianjurkan mengonsumsi TTD setiap hari selama 90 hari masa kehamilan. (12) Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi ini dapat menurunkan risiko anemia pada ibu serta mendukung pertumbuhan janin yang sehat. (13)
3. Skrining dan Edukasi Gizi
Skrining Hb secara rutin di puskesmas atau sekolah sangat penting untuk melakukan deteksi anemia sejak dini. Pemeriksaan ini sebaiknya disertai dengan edukasi gizi, agar remaja dan ibu hamil lebih paham tentang pentingnya pola makan sehat, konsumsi suplemen, serta gaya hidup aktif. (14)
Anemia bukan sekadar soal lelah atau wajah pucat, melainkan ini soal masa depan generasi kita. Dengan memperbaiki pola makan, rutin cek kesehatan, serta disiplin konsumsi suplemen, kita bisa memutus rantai anemia sejak dini. Yuk, mulai dari diri sendiri dan bantu ciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif!
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI. Remaja Bebas Anemia: Konsentrasi Belajar Meningkat, Bebas Prestasi. 2022 [cited 2025 April 10]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/remaja-bebas-anemia-konsentrasi-belajar- meningkat-bebas-prestasi
- Sianipar, S. S., Suryagustina, S., & Paska, M. Effect of health education using media audio visual on knowledge about anemia in adolescent women in high school. Jambura Journal of Health Sciences and Research [Internet], 2023;5(1), 119-131. Available from: https://doi.org/10.35971/jjhsr.v5i1.17029
- Muhayati, A., & Ratnawati, D. Hubungan antara status gizi dan pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia [Internet], 2019;9(01), 563-570. Available from: https://doi.org/10.33221/jiiki.v9i01.183
- Nasrullah, I. R., & Khalid, N. Anemia symptoms, causes, prevention, diagnosis and treatment. J Biomed Engg Res [Internet], 2019;1(1). 1-2. Available from: https://www.longdom.org/open-access/anaemia-symptoms-causes- prevention-diagnosis-and-treatment.pdf
- Kementerian Kesehatan RI. Hasil Riskesdas 2018. 2018 [cited 2025 April 10]. Available from: https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil- riskesdas-2018_1274.pdf
- Lodia Tuturop, K., Martina Pariaribo, K., Asriati, A., Adimuntja, N. P., & Nurdin, M. A. Pencegahan Anemia Pada Remaja Putri, Mahasiswa FKM Universitas Cendrawasih. Panrita Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat [Internet], 2023;2(1), 19. Available from: https://doi.org/10.56680/pijpm.v2i1.46797
- Rani, A. Knowledge About Foods Which Prevent Nutrional Anemia Among Patients at A Tertiary Care Centre in Eastern Part of Utter Pardesh. Paripex Indian Journal of Research [Internet], 2018;5(9). Available from: https://scispace.com/papers/knowledge-about-foods-which-prevent- nutrional-anemia-among-2q85xny9bg
- Mittal, A., Sharma, A., Panjeta, D., Bhawna, B., & Mittal, S. The Iron-Vitamin Link: A Strategy against Anemia [Internet]. 2024; 177–189. Available from: https://doi.org/10.9734/bpi/acmms/v6/3315
- Lakshmanan, M. Pharmacotherapy of Vitamin B 12 and Folic Acid Deficiency. Introduction to Basics of Pharmacology and Toxicology: Essentials of Systemic Pharmacology: From Principles to Practice [Internet], 2021;(2), 769-779. Available from: https://doi.org/10.1007/978-981-33-6009-9_50
- Awoniyi, A., Daniel, O., & Babatunde, O. Dietary Iron Uptake and Absorption. Biochemistry (IntechOpen) [Internet], 2024. Available from: https://doi.org/10.5772/intechopen.114277
- Dilantika, C. Iron Absorption and its Influencing Factors to Prevent Iron Deficiency. Journal of Indonesian Specialized Nutrition [Internet], 2023;1(1), 10-21. Available from: https://doi.org/10.46799/jisn.v1i1.2
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Remaja Putri. 2020 [cited 2025 April 10]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/pub/files/files283TTD_REMATRI_OK2.pdf
- Finkelstein, J. L., Cuthbert, A., Weeks, J., Venkatramanan, S., Larvie, D. Y., De-Regil, L. M., & Garcia-Casal, M. N. Daily oral iron supplementation during pregnancy. Cochrane Database of Systematic Reviews [Internet], 2024;(8). Available from: https://doi.org/10.1002/14651858.cd004736.pub6
- Wahid, R. S. A. Skrining dan Edukasi Dampak Anemia Pada Remaja Siswa-Siswi SMK Negeri 5 Samarinda. Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo [Internet], 2023;3(1), 27-34. Available from: https://jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/abd_mlt/article/download/1254/450/23 79
No Comments