Mengawasi Kedatangan Feri untuk Mendukung Inisiatif Fortifikasi Gizi di Raja Ampat

Mengawasi Kedatangan Feri untuk Mendukung Inisiatif Fortifikasi Gizi di Raja Ampat

Bagikan

Laut mulai meredup ketika matahari turun di Kampung Pam, Waigeo Barat, Raja Ampat. Di ujung dermaga, gelak anak-anak nelayan memecah hening sore itu. Mereka menjulurkan kailnya pada riak yang datang pelan-pelan menuju dermaga. Seekor ikan cakalang melompat ke dalam ember, masih lincah meski tak bisa kabur lagi.

Warga sini tidak hanya mengambil dari laut sebagai makanan biasa—mereka menjaganya seperti janji lama. Kemudian dari hasil tangkapan itu, muncul santapan sehari-hari yang terlihat penuh, nasi berlimpah ditambah lauk laut. Tapi selalu ada sesuatu yang jarang datang: ragam zat gizi. Makanan warga yang didasarkan pada gabungan beras dan ikan, bisa mencukupi soal mengenyangkan perut, tetapi jauh dari cukup saat berbicara kebutuhan vitamin. Anak-anak pesisir yang tumbuh dengan angin laut ini mungkin terlihat tangguh, namun di balik senyum lebar mereka, tersembunyi ancaman tak kasatmata yang perlahan menggerogoti potensi tumbuh kembang masa depan. (1,3)

Kenyangnya perut sering datang dari lauk ikan plus segenggam nasi putih. Padahal jauh di dalam, tubuh kekurangan zat pelindung. Sayuran hijau jarang muncul. Buah- buahan tiba sekaligus seminggu sekali, dibawa kapal laut yang berlabuh pagi hari. Kapal perintis pembawa logistik itu bak urat nadi kehidupan bagi warga kepulauan. Sayangnya, gelombang tinggi sering kali memaksa kapal menunda pelayarannya berhari-hari, membuat pasokan vitamin dari daratan seberang tertahan lama di lautan. (7,8) Tercatat dari mulut 60 sukarelawan Youth Action To Change (YATC) angkatan ke-18, fakta ini lahir usai mereka pulang dari tugas mengabdi sejak awal tahun 2026. Mereka melihat sendiri apa yang jarang disebut: daerah itu memang menyandang julukan “Surga Tersembunyi”, namun rupanya, di baliknya ada lapar yang juga tersembunyi (hidden hunger). Wilayah Raja Ampat bagai lukisan alam raksasa, namun keindahan itu terjepit karena ongkos kirim barang selangit. Sayuran segar pun ikut tertahan, harus menghadapi ombak ganas dan menumpang kapal lambat yang membutuhkan waktu lama hanya untuk sampai ke daratan.

Siapa Sangka Sayur Jadi Barang Langka

Di Kampung Pam, sayuran dianggap sesuatu yang mahal. Begitu kata para relawan yang sempat mengamati kondisi di sana. Untuk orang kota, atau mereka yang tinggal jauh dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) ini terdengar aneh. Sayur saja bisa jarang? Padahal bagi banyak orang urban, memilih antara kangkung organik bukan hal baru. Kesenjangan itu nyata adanya. Dari catatan Badan Pangan Nasional melalui pendekatan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA), Kampung Pam masuk kawasan rawan pangan. Mahalnya angkutan barang ke sana tak lepas dari posisi geografis yang sulit dijangkau. Biaya transportasi pun membengkak dibandingkan daerah lain yang lebih terhubung. Masalah ini sudah lama ada, tetap saja belum banyak berubah. (2)

Aneh tapi nyata, warga Kampung Pam jarang bisa menjangkau makanan sehat. Kondisi ini turut membentuk gambaran suram soal gizi di seluruh provinsi. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan masalah serius yang masih menggantung. Bahkan di Papua Barat Daya, hampir satu dari tiga anak alami tubuh pendek karena kekurangan gizi. Angkanya mencapai 30,5%. (1)

FOTO ARTIKEL WEBSITE-2

Angka tersebut bukanlah sekadar statistik dingin. Di balik angka itu, ada masa depan anak-anak cerdas yang terhambat karena kapasitas kognitif yang gagal berkembang maksimal. Hambatan alam memperparah kondisi kekurangan gizi. Bukan soal kenyang atau tidaknya perut saja, tetapi lebih pada minimnya unsur mikronutrien vital yang tersedia di wilayah sulit terjangkau. (3)

Program Gizi Terhambat Jarak

Baru-baru ini, tanda perbaikan gizi mulai terlihat sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diterapkan di wilayah ini dari awal tahun 2025. Di sekolah-sekolah Kampung Pam, langkah itu menjadi penopang warga. Namun kendala logistik muncul lagi,

sehingga sajian kerap tak ideal. Data hasil pantauan menunjukkan, di pulau-pulau kecil tertentu, menu MBG kadang hanya berupa botol es timun, kacang goreng, serta sagu panggang karena pasokan bahan segar hampir mustahil datang tiap hari. (4,11,12) Ternyata, meski bahan segar sulit didapat, ada langkah nyata yang sudah dimulai, Bulog mulai sebar beras kaya gizi dari tahun 2023. Dalam butiran itu, tersimpan vitamin A, beberapa jenis vitamin B, plus folat, zat besi, dan juga zinc. Kalau sayuran tak sampai di sekolah pesisir, makanan pokok tadi tetap memberi perlindungan dasar bagi tubuh anak-anak. Saat program makan gratis mandek karena cuaca buruk, nasinya menjelma “jalan belakang” yang menyelamatkan hari. (2,9) Di tengah situasi seperti sekarang, memperkuat nilai gizi makanan jadi penting. Sebab daging dan sayur segar semakin jarang karena biaya angkut melonjak tajam, fortifikasi bahan pangan utama adalah solusi nyata ketimbang menunggu kiriman dari luar. Bayangkan saja, jika anak makan sagu bakar atau nasi tiap hari, zat besi serta vitamin A bisa dimasukkan sejak pembuatannya. Kalau jadwal makanan biasa terganggu lantaran kapal datang telat, anak tetap aman dari risiko kekurangan gizi. (5)

Warung Kelontong Jadi Penolong

Bukan Cuma soal bantuan pemerintah, kenyamanan sehari-hari malah bergantung pada rak-rak kayu di warung pinggir jalan. Data SSGI 2024 memperlihatkan hal lain: rumah tangga di kelompok termiskin (kuintil 1) masih terjebak dalam stunting yang tak kunjung turun dari 29,8%. Di tempat terpencil semacam Kampung Pam, warung menjadi pusat hidup, tapi isi etalasenya kerap terbatas karena jalur pasok yang macet. (1)

Pagi itu, saat kapal tiba, orang-orang berebut turun ke dermaga memilih daun hijau sebelum sinar matahari membakarnya. Di antara keramaian, beberapa ibu hanya mampir sesaat karena lemari es tak ada di rumah mereka. Mereka ambil sedikit saja, cukup untuk dua hari masak. Sisa pekan bergulir perlahan, lalu sawi dan bayam tinggal kenangan. Warung mulai menjual bahan kalengan lagi yang daya simpannya lebih lama. Dari balik meja obat, apt. Pipit Parwati menyaksikan sendiri bagaimana jarak memengaruhi piring warga saat ikut misi YATC ke-18. ”Warga akhirnya Cuma bisa mengandalkan apa yang awet dan tersedia di etalase warung sampai feri berikutnya datang,” ungkapnya. Masalahnya, sayuran langsung mulai kehilangan vitamin penting seperti vitamin C dan folat sejak detik pertama dipetik (nutrient loss). Begitu sayuran melintasi lautan selama seminggu, kandungan gizinya sudah turun drastis karena oksidasi. Jadi, meskipun tampak segar di warung, sebenarnya banyak gizinya yang sudah hilang di perjalanan. Ini jelas berbeda dengan pangan fortifikasi. Produk kaya gizi ini diciptakan supaya kandungan vitamin dan mineralnya tetap stabil di rak, meskipun tanpa pendingin. Orang jadi bisa mengandalkan gizinya, tak peduli berapa lama barang itu tersimpan di warung. Soal pilihan di warung, kebanyakan barang cepat habis. Pilihan yang tahan lama memang banyak, tapi tak selalu bergizi. Perut bisa kenyang, tapi belum tentu tubuh dapat zat besi yang cukup. Memang nasi dan ikan laut biasanya ada, tapi tanpa gizi yang lengkap, perkembangan otak anak-anak tetap terhambat. (10)

Kemandirian Gizi di Raja Ampat

Penyesuaian gizi di Raja Ampat bukan Cuma urusan kirim beras dari ibu kota. Ada hambatan tradisi makan sagu dan umbi-umbian yang masih sangat melekat. Di titik itulah masalah sering tertahan: memperkaya gizi jangan hanya fokus pada beras luar. Solusi harus tumbuh dari daerah sendiri, contohnya camilan berbasis sagu yang dicampur zat besi agar asupan sehat tetap akrab dengan rasa lokal. (6) Kesadaran soal label bergizi juga masih rendah. Padahal saat seseorang masuk warung, pilihannya berdampak jauh. Alih-alih hanya melihat harga, perhatian mulai dialihkan ke nilai gizi lewat tanda fortifikasi di kemasan. Begitulah cara perubahan sering dimulai; pelan, lewat hal sehari-hari di meja makan. (5)

Kedepannya, kita tak bisa terus berharap kapal feri datang tepat waktu. Yang lebih penting justru bagaimana cara menempelkan fortifikasi ke makanan lokal Raja Ampat itu sendiri.

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Di Kampung Pam dan seluruh Nusantara, tiap orang layak menikmati hari esok yang baik. Meskipun tidak mudah menyambungkan semua daerah dengan jalan mulus sekaligus, ada alat yang tersedia agar gizi bisa sampai melalui metode paling ringkas, yaitu fortifikasi pangan. Walau tepung yang diperkaya telah sampai lewat program negara seperti MBG, langkah-langkah itu perlu menyatu dengan santapan sehari-hari seperti sagu. Kedaulatan gizi sebuah bangsa tidak diukur dari megahnya infrastruktur, melainkan dari senyum sehat anak-anak pesisir yang perkembangan otaknya tercukupi. Memastikan fortifikasi gizi berjalan lurus dengan ekonomi warung lokal adalah wujud tanggung jawab kemanusiaan bersama. Dari tenaga kesehatan, pemerintah, hingga penjaga warung, kita tidak sekadar menitipkan nutrisi pada kapal feri mingguan. Kita sedang membangun fondasi generasi emas Indonesia yang teguh berdiri, cerdas bernalar, dan tak mudah goyah oleh tantangan zaman.

Referensi

  1. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI. Potret Stunting di Indonesia: Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2024. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/survei-status-gizi-indonesia-ssgi-2024/
  2. Badan Pangan Nasional. Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2024: Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan. Jakarta; 2024. Available from: https://badanpangan.go.id/blog/post/fsva-2024-daerah-rentan-rawan-pangan-turun-nfa- perkuat-sinergi-dan-kolaborasi-lintas-sektor
  3. Universitas Airlangga (UNAIR). Mengapa Stunting Masih Tinggi di Papua? Mengungkap Faktor Penentu dan Arah Kebijakan yang Tepat [Internet]. 2024 [cited 2026 Mar 30]. Available from: https://unair.ac.id/mengapa-stunting-masih-tinggi-di-papua/
  4. Wahananews. Operasional Ratusan Juta Per Minggu, Menu MBG di Raja Ampat Tak Sesuai dengan Standar Gizi yang Ditetapkan [Internet]. 2026 [cited 2026 Mar 30]. Available from: https://papua-barat.wahananews.co/utama/operasional-ratusan-juta-per-minggu/
  5. Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI). Fortifikasi Pangan: Strategi Efektif Wujudkan SDM Unggul dan Ketahanan Gizi Nasional [Internet]. 2023 [cited 2026 Mar 30]. Available from: https://www.kfindonesia.org/fortifikasi-pangan-strategi-efektif/
  6. Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Pengembangan Snack Bar Berbahan Lokal dengan Fortifikasi Zat Gizi Mikro [Internet]. 2024 [cited 2026 Mar 31]. Available from: https://ejournal.poltekkesaceh.ac.id/index.php/gikes/article/download/2201/815
  7. Balai POM di Manokwari. Rencana Strategis (Renstra) Balai POM di Manokwari Tahun 2025- 2029. Papua Barat; 2025. Available from: https://www.pom.go.id/storage/sakip/Renstra%20Balai%20POM%20di%20Manokwari%20Tahun%20 2025-2029.pdf
  8. Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. Profil Kesehatan Provinsi Papua Barat Tahun 2022. Manokwari; 2023. Available from: https://dinkes.papuabaratprov.go.id/assets/files/Profil%20Kesehatan%202022.pdf
  9. Peraturan Badan Pangan Nasional. Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Fortifikasi Pangan. Jakarta; 2025. Available from: https://jdih.badanpangan.go.id/doc/35b50d12-3688-4347-8190-3e2bfc490bd6
  10. Penulis Web N. Frozen and Tinned Foods Can Be Just As Nutritious As Fresh Produce – Here’s How [Internet]. University of Reading Research Blog. 2023 [cited 2026 Apr 2]. Available from: https://research.reading.ac.uk/research-blog/2023/04/10/frozen-and-tinned-foods- can-be-just-as-nutritious-as-fresh-produce-heres-how/
  11. Humas Pemprov Papua Barat Daya. Wakil Gubernur PBD Buka Rakerda Percepatan Pelaksanaan Program MBG, Bahas Sejumlah Kendala [Internet]. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. 2025 [cited 2026 Apr 2]. Available from: https://papuabaratdayaprov.go.id/berita/919/wakil-gubernur-pbd-buka-rakerda- percepatan-pelaksanaan-program-mbg-bahas-sejumlah-kendala.html
  12. ​MBG Papua Barat Daya. Inisiatif Makan Bergizi Gratis di Provinsi Papua Barat Daya [Internet]. Micropasts; 2025 [cited 2026 Apr 2]. Available from: https://mbgpapuabaratdaya.micropasts.org/
No Comments

Post A Comment