21 Mar Menekan Risiko Penyakit Jantung Koroner Melalui Pola Makan dan Aktivitas Fisik
Serangan jantung sering terjadi secara tiba-tiba dan dapat menimbulkan kematian yang meninggalkan duka mendalam. Tidak sedikit kasus di mana seseorang yang tampak sehat dan aktif justru mengalami henti jantung mendadak tanpa riwayat penyakit sebelumnya. Situasi ini sering menimbulkan anggapan bahwa penyakit jantung koroner (PJK) adalah takdir atau sepenuhnya dipengaruhi faktor keturunan. Padahal, meskipun faktor genetik memiliki peran, gaya hidup sehari-hari merupakan penentu utama yang sering kali luput dari perhatian.
Pengertian dan Fakta Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit akibat penumpukan plak/lipid/kolesterol dengan jumlah yang berlebihan dalam pembuluh darah arteri koroner sehingga aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung menjadi terhambat yang berpotensi menimbulkan nyeri dada, serangan jantung, dan kematian mendadak. (1) PJK merupakan penyebab utama kematian di dunia dan memiliki prevalensi yang lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. (2) Estimasi jumlah kematian akibat penyakit kardiovaskular mencapai 19,8 juta kasus, setara dengan sekitar 32% dari total kematian di dunia. (3) Angka kematian tertinggi akibat PJK ditemukan pada kelompok usia 65-74 tahun, tetapi kasus PJK juga ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, yakni 15–24 tahun. (1) Di Indonesia, prevalensi PJK yang telah didiagnosis oleh dokter di Indonesia sejumlah 877.531 jiwa. Jumlah kasus terbanyak terdapat pada kelompok usia 25-34 tahun, yaitu 140.206 jiwa. Laki-laki menjadi penderita dengan jumlah terbanyak, yaitu 443.261 jiwa, sedangkan perempuan sebanyak 434.270 jiwa. (4)
Faktor yang Memengaruhi dan Gejala PJK
Penyakit jantung koroner (PJK) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
- Malas berolahraga Kurang bergerak dan jarang berolahraga dapat menyebabkan lemak lebih mudah menumpuk di pembuluh darah. Seiring waktu, penumpukan lemak atau plak ini bisa menyumbat pembuluh darah arteri koroner. Akibatnya, aliran darah dan zat gizi penting menuju jantung menjadi terhambat sehingga otot jantung dapat rusak, kinerjanya terganggu, bahkan berisiko menimbulkan serangan jantung. (5)
- Asupan gula tambahan berlebih Konsumsi gula tambahan yang berlebihan menyebabkan tubuh kurang sensitif terhadap insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Kondisi ini berbahaya karena penderita diabetes maupun orang yang sudah mengalami resistensi insulin memiliki risiko penyumbatan pembuluh darah jantung dan serangan jantung yang lebih tinggi. Kadar gula darah yang sering tinggi, meskipun tanpa gejala, juga dapat memperbesar risiko kematian akibat penyakit jantung. Pola makan tinggi gula tambahan diketahui dapat meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung hingga tiga kali lipat. Penelitian menunjukkan bahwa yang lebih berpengaruh terhadap risiko penyakit jantung bukan hanya banyaknya karbohidrat yang dimakan, melainkan juga kualitasnya. Artinya, jenis karbohidrat seperti gula tambahan dan pati dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama jika dikonsumsi berlebihan. (6,7)
- Asupan lemak berlebih Mengonsumsi lemak lebih dari 30% dari total kebutuhan energi harian dapat mengganggu metabolisme lemak dalam darah sehingga disarankan agar asupan lemak tidak melebihi batas tersebut. Konsumsi tinggi lemak jenuh, seperti makanan yang digoreng dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang menyebabkan darah lebih mudah menggumpal, serta merusak dinding pembuluh darah arteri koroner sehingga penyempitan terjadi. (8)
- Asupan garam berlebih Konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyumbatan atau pengerasan pembuluh darah jantung. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa garam juga dapat langsung merusak pembuluh darah, menyebabkannya lebih kaku, dan tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini dapat mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner sehingga membatasi asupan garam penting untuk menjaga kesehatan jantung. (9)
PJK umumnya ditandai dengan rasa tidak nyaman di bagian tengah atau kiri dada. Nyeri ini sering digambarkan seperti dada ditekan, diremas, terasa berat, terbakar, atau bahkan seperti ditusuk. Rasa nyeri tersebut dapat menjalar ke leher, bahu kiri, lengan, hingga punggung. Selain nyeri dada, penderita juga dapat mengalami sesak napas, baik ketika beristirahat maupun ketika melakukan aktivitas ringan. Gejala lain yang sering muncul adalah keringat dingin, mual, muntah, lemas, pusing, bahkan sampai pingsan. Dalam kondisi yang lebih berat, PJK dapat menyebabkan henti jantung secara mendadak. Gejala-gejala ini umumnya lebih sering terjadi pada usia di atas 40 tahun. Namun, saat ini PJK juga dapat dialami oleh kelompok usia yang lebih muda. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini agar penanganan dapat segera dilakukan. (10)
Cara Mencegah Terjadinya PJK
- Rutin berolahraga American Heart Association (AHA) menyarankan agar orang dewasa sebaiknya berolahraga minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang (seperti jalan cepat), atau 75 menit per minggu dengan intensitas berat (seperti lari). Olahraga sedang bisa dilakukan sekitar 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu, dan boleh dibagi menjadi beberapa sesi pendek jika tidak sempat sekaligus. Semakin rutin berolahraga, semakin besar manfaatnya bagi kesehatan jantung. Namun, olahraga berat sebaiknya cukup dilakukan sekitar 3 kali seminggu agar tidak meningkatkan risiko cedera. (11)
- Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) sesuai anjuran Di Indonesia, batas konsumsi GGL per orang per hari, yaitu 50 gram atau 4 sendok makan gula, 2.000 miligram natrium atau 5 gram atau 1 sendok teh garam, dan lemak hanya 67 gram atau 5 sendok makan minyak goreng. (12)
- Miliki pola makan yang sehat Pola makan yang sehat dapat membantu penurunan risiko penyakit jantung koroner. Pola makan ini menekankan konsumsi biji-bijian utuh, buah, sayur, kacang-kacangan, serta membatasi makanan olahan, minuman manis, dan protein hewani tinggi lemak, seperti daging sapi dan kambing. Diet ini umumnya lebih rendah kalori dan garam, tetapi tinggi serat, antioksidan, vitamin, dan mineral. Kandungan serat, polifenol, kalium, dan magnesium dapat menurunkan kolesterol, mengurangi peradangan, menjaga tekanan darah dan gula darah tetap stabil, serta mendukung kesehatan pembuluh darah. Asam lemak omega-3 menjaga kesehatan jantung dengan menurunkan kolesterol, trigliserida, dan tekanan darah, mengurangi peradangan, dan melancarkan aliran darah. (13) Kombinasi manfaat inilah yang membuat pola makan nabati sehat berperan penting dalam melindungi kesehatan jantung. (14) Di Indonesia, anjuran konsumsi sayur adalah sebanyak 3-4 porsi dan konsumsi buah adalah sebanyak 2-3 porsi setiap hari. (15)
Editor :Â Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- Rachmawati C, Martini S, Artanti KD. Analisis Faktor Risiko Modifikasi Penyakit Jantung Koroner Di RSU Haji Surabaya Tahun 2019. Media Gizi Kesmas. 2021;10(1):47–55.
- Müller-Nordhorn J, Willich SN. Coronary Heart Disease. In: Quah SR, editor. International Encyclopedia of Public Health. Second Edi. Oxford: Academic Press; 2017. hal. 159–67.
- World Health Organization. Cardiovascular diseases (CVDs) [Internet]. 2025 [dikutip 20 Februari 2026]. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular- diseases-(cvds)
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI). 2023.
- Erdania, Faizal K, Anggraini RB. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner (PJK) di RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Bangka Belitung. J Keperawatan. 2023;12(1):17–25.
- DiNicolantonio JJ, Lucan SC, O’Keefe JH. The Evidence for Saturated Fat and for Sugar Related to Coronary Heart Disease. Prog Cardiovasc Dis. 2017;58(5):464–72.
- Dennis KK, Wang F, Li Y, Manson JE, Rimm EB, Hu FB, et al. Associations of Dietary Sugar Types with Coronary Heart Disease Risk: A Prospective Cohort Study. Am J Clin Nutr [Internet]. 2023;118(5):1000–9. Tersedia pada: https://doi.org/10.1016/j.ajcnut.2023.08.019
- Pratiwi NKW, Wiardani NK, Sugiani PPS. Kajian Pustaka Hubungan Pola Konsumsi Lemak dan Status Obesitas Sentral dengan Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner. J Ilmu Gizi J Nutr Sci. 2022;11(2):116–22.
- Wuopio J, Lin YT, Orho-Melander M, Engström G, Ärnlöv J. The Association Between Sodium Intake and Coronary and Carotid Atherosclerosis in the General Swedish Population. Eur Hear J Open [Internet]. 2023;3(2):1–8. Tersedia pada: https://doi.org/10.1093/ehjopen/oead024
- Nafisah S, Inayah NN, Yusuf B. Literatur Review: Penyebab dan Perkembangan Penyakit Jantung Koroner. J Forum Kesehat Media Publ Kesehat Ilm. 2024;14(1):27–36.
- Mellett LH, Bousquet G. Heart-Healthy Exercise. Circulation. 2013;127(17):571–2.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak [Internet]. 2024 [dikutip 25 Februari 2026]. Tersedia pada: https://kemkes.go.id/id/cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula- garam-lemak
- Setiawan G, Halim MC. Pengaruh Asam Lemak Omega-3 Terhadap Penyakit Kardiovaskular. Contin Prof Dev. 2022;49(3):160–3.
- Ganbat K, Ulzii BN, Shin S. Association Between Plant-Based Diets and the Risk of Coronary Heart Disease Predicted Using the Framingham Risk Score in Korean Men: Data from the HEXA Cohort Study. Epidemiol Health. 2024;46:1–12.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. 2014. hal. 96.
No Comments