Lebih dari Sekadar Makanan: Peran Gizi dalam Perjalanan Alzheimer

Lebih dari Sekadar Makanan: Peran Gizi dalam Perjalanan Alzheimer

Bagikan

Bagaimana rasanya tidak ingat jalan pulang ke rumah sendiri? Atau tidak mengenali wajah orang yang selama ini sangat kita cintai? Bagi penderita Alzheimer, kehilangan ingatan bukanlah satu-satunya tantangan. Kegiatan sederhana seperti makan dapat menjadi proses yang membingungkan bahkan melelahkan. Padahal, di tengah penurunan fungsi kognitif yang tidak dapat disembuhkan, pemenuhan gizi justru menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan kekuatan fisik, mencegah komplikasi masalah kesehatan, dan tetap menjaga kualitas hidup pasien.

Ketika Makan Tak Lagi Sederhana

Seiring dengan menurunnya fungsi kognitif, banyak penderita Alzheimer mengalami kebingungan saat waktu untuk makan tiba, kehilangan sinyal rasa lapar, atau bahkan menolak makanan yang sebelumnya mereka sukai. Pada tahap yang lebih parah, masalah seperti kesulitan mengunyah dan menelan dapat muncul, dan perilaku seperti berjalan tanpa tujuan juga dapat memperparah penurunan berat badan. Kombinasi dari lupa makan, gangguan menelan, dan penurunan nafsu makan dapat meningkatkan risiko malnutrisi dan dehidrasi. Malnutrisi itu sendiri berpotensi mempercepat komplikasi masalah kesehatan yang memperburuk kondisi pasien. (1)

Apa yang Dibutuhkan Otak untuk Bertahan?

Screen Shot 2026-03-05 at 20.44.53

Otak menggunakan sekitar 20% energi tubuh, sehingga apa yang kita konsumsi turut memengaruhi cara organ ini bekerja. Pada Alzheimer, kebutuhan akan gizi menjadi semakin penting karena perubahan pada otak membuatnya lebih rentan terhadap kerusakan dan penurunan fungsi kognitif. (2)

Beberapa zat gizi diketahui berperan dalam menjaga kesehatan sel saraf. Contohnya, vitamin B6, B12, dan folat membantu mengatur kadar homosistein – zat yang jika meningkat dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah serta meningkatnya risiko gangguan pada jaringan otak. Zat gizi ini bisa ditemukan dalam daging, ikan, telur, sayuran hijau, dan biji-bijian. (3,4)

Vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan, perkembangan, serta perlindungan sel saraf. Zat gizi ini juga membantu proses komunikasi antar sel dan mendukung kemampuan otak untuk beradaptasi. Vitamin D dapat diperoleh dari ikan yang berlemak, kuning telur, serta melalui paparan sinar matahari. (5)

Tidak kalah penting, makanan kaya akan vitamin antioksidan A, C, dan E seperti buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan berperan melindungi sel saraf dari stres oksidatif yang merupakan salah satu proses mempercepat kerusakan otak. (6) Sementara itu, asam lemak omega-3 yang terdapat pada salmon, sarden, dan tuna berfungsi untuk menjaga struktur sel saraf serta komunikasi antar sel. (5)

Diet untuk Menjaga Fungsi Kognitif

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7613766218863889671"}}

Berbagai zat gizi tentu tidak bekerja sendiri. Dalam praktik sehari-hari, pola makan secara keseluruhan justru lebih menentukan dibandingkan satu jenis vitamin atau nutrisi tertentu. Salah satu pola makan yang banyak dikaji dalam kaitannya dengan kesehatan otak adalah Diet MIND (Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay). Pola makan ini menggabungkan prinsip diet Mediterania dan DASH (dietary approaches to stop hypertension).

Diet MIND menekankan konsumsi sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, buah beri, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta minyak zaitun sebagai sumber lemak utama. Makanan-makanan ini kaya akan antioksidan, vitamin, mineral, dan lemak sehat yang membantu melindungi sel saraf dari peradangan dan stres oksidatif.

Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, gorengan, makanan olahan, serta makanan tinggi gula dianjurkan untuk dibatasi karena dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah dan peradangan yang berdampak pada kesehatan otak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pola makan ini berkaitan dengan penurunan risiko penurunan kognitif dan Alzheimer. Meski bukan pengobatan, Diet MIND dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup dan fungsi otak dalam jangka panjang. (5,7,8)

Strategi Mendukung Kenyamanan saat Waktu Makan

Waktu makan bisa menjadi hal yang membingungkan. Suasana yang ramai, televisi yang menyala, atau terlalu banyak pilihan makanan di meja dapat membuat penderita susah untuk fokus. Maka dari itu, ciptakan suasana makan yang tenang dan sederhana, seperti mematikan televisi, tata meja tanpa terlalu banyak hiasan, serta gunakan piring polos agar makanan terlihat jelas. Sajikan satu atau dua jenis makanan terlebih dahulu agar tidak membuat bingung. Hal-hal kecil seperti memastikan makanan tidak terlalu panas juga penting, karena pasien mungkin tidak menyadarinya.

Penderita Alzheimer juga membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskan makanan. Dampingi dengan sabar, dan jika memungkinkan, makanlah bersama agar suasana terasa lebih nyaman. Ada kalanya pasien lupa apakah ia sudah makan atau belum. Dalam situasi seperti ini, respons yang tenang dan fleksibel jauh lebih membantu daripada mencoba mengoreksi ingatannya. (9)

Alzheimer mungkin belum dapat disembuhkan, tetapi bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Pemenuhan gizi tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan kondisi fisik dan kualitas hidup pasien. Pada akhirnya, memberi makan bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan kalori, tetapi juga cara sederhana untuk menjaga kenyamanan dan martabat seseorang dalam perjalanan yang tidak mudah.

Editor :  Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M

Referensi

  1. Volkert D, Beck AM, Fax En-Irving G, Frühwald T, Hooper L, Keller H, et al. ESPEN Guideline on Nutrition and Hydration in Dementia - Update 2024. Clinical Nutrition. 2024;43:1599–626.​
  2. National Institutes of Health (US); Biological Sciences Curriculum Study. NIH Curriculum Supplement Series [Internet]. Bethesda (MD): National Institutes of Health (US); 2007. Information about the Brain. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK20367/
  3. Li T, Steibel JP, Willette AA. Vitamin B6, B12, and Folate’s Influence on Neural Networks in the UK Biobank Cohort. Nutrients. 2024;16(13):2050.
  4. Program Studi Gizi FIKK UNESA. Gizi dan Kesehatan Otak: Mengurangi Risiko Alzheimer Melalui Nutrisi Makanan [Internet]. UNESA. 2024. Tersedia pada: https://gizi.fikk.unesa.ac.id/post/gizi-dan-kesehatan- otak-mengurangi-risiko-alzheimer-melalui-nutrisi-makanan
  5. Teitelbaum, J, et al. MNT in Psychiatric and Cognitive Disorders. dalam Mahan K, Escott-Stump S, Raymond J. Krause’s Food & the Nutrition Care Process. 14th ed. Canada: Elsevier Inc; 2017. p.839-861.
  6. Seasons Hospice. The Role of Antioxidants in Protecting Brain Health [Internet]. Seasons Hospice [dikutip 15 Februari 2026]. Tersedia pada: https://seasonshospice.com/the-role-of-antioxidants-in- protecting-brain-health/
  7. Morris MC, Tangney CC, Wang Y, Sacks FM, Barnes LL, Bennett DA, et al. MIND diet slows cognitive decline with aging. Alzheimer’s and Dementia. 2015;11(9):1015–22.
  8. Van Den Brink AC, Brouwer-Brolsma EM, Berendsen AAM, Van De Rest O. The Mediterranean, Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), and Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay (MIND) Diets Are Associated with Less Cognitive Decline and a Lower Risk of Alzheimer’s Disease—A Review. Advances in Nutrition. 2019;10(6):1040.
  9. Alzheimer’s Association. Food & Eating [Internet]. Alzheimer’s Association. [dikutip 15 Februari 2026]. Tersedia pada: https://www.alz.org/help-support/caregiving/daily-care/food-eating?
No Comments

Post A Comment