28 Feb Biskuit Daun Kelor Sebagai Inovasi Camilan Sehat Berbasis Pangan Lokal
Daun kelor merupakan bahan pangan lokal yang ketersediaannya melimpah, tetapi pemanfaatannya masih belum optimal. Daun kelor berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan fortifikasi untuk meningkatkan nilai gizi produk pangan sehingga dapat membantu untuk mendukung kesehatan balita, termasuk mengatasi masalah stunting. Pengolahan daun kelor menjadi biskuit diharapkan sebagai inovasi bahan pangan dengan kandungan gizi yang tinggi dan dapat dijadikan alternatif makanan selingan bagi balita. (1)
Apa Itu Kelor?
Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang mudah ditemukan di daerah beriklim tropis, seperti Indonesia. Tanaman kelor memiliki batang yang berkayu, tumbuh tegak, berwarna putih kusam dengan kulit tipis dan permukaan yang cenderung kasar. Pohon ini sering ditanam di sekitar pekarangan rumah atau ladang sebagai penanda batas maupun tanaman pagar. (2) Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Kelor dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga bijinya. Akar, kulit akar, kulit batang, daun, dan biji kelor digunakan sebagai bahan obat tradisional. Daun kelor juga mengandung nutrisi yang baik bagi manusia dan ternak. Kuncup bunga kelor dijadikan sayuran atau diolah menjadi teh, sedangkan buah kelor muda digunakan sebagai bahan asinan dan olahan makanan lainnya, seperti puding, kue, produk fortifikasi makanan dan minuman, serta produk farmasi berupa kapsul, tablet, dan minyak. (3)
Keunggulan dan Manfaat Kelor
Daun kelor mengandung protein sebesar 28,66 gram, β-karoten (pro-vitamin A)
sebesar 11,93 mg, fosfor sebesar 715,32 mg, zat besi sebesar 11,41 mg, vitamin C
sebesar 15,2, dan kalsium sebesar 1014,81 mg. (4,5) Jika dibandingkan dengan sayuran
lain, daun kelor mengandung zat besi paling tinggi, yaitu 17,2 mg per 100 g daun kelor. (6) Karena daun kelor mengandung zat-zat gizi bernilai tinggi, hal inilah yang menjadikannya sebagai superfood.
Selain itu, beberapa manfaat daun kelor, yaitu:
- Sebagai sumber antioksidan Daun kelor kaya akan zat antioksidan seperti vitamin C, polifenol, flavonoid, dan β-karoten (pro-vitamin A). Vitamin C berperan penting sebagai antioksidan alami yang membantu untuk memelihara daya tahan tubuh agar tetap kuat melawan penyakit serta sebagai bahan pembentuk kolagen, yaitu protein yang membantu untuk mempercepat penyembuhan luka. Flavonoid berfungsi untuk memberikan efek perlindungan terhadap kanker, penyakit jantung, dan berbagai penyakit lainnya, serta penuaan dini. Polifenol memiliki sifat antiradang, melindungi pembuluh darah, dan mendukung proses metabolisme tubuh. (7) β-karoten berperan sebagai zat pelindung tubuh dari berbagai penyakit, termasuk gangguan kesehatan mata, penyakit metabolik, dan penyakit jantung serta pembuluh darah. (8)
- Meningkatkan kadar hemoglobin Pembentukan sel darah merah merupakan proses penting dalam tubuh karena berperan dalam mengangkut oksigen ke seluruh organ. Proses ini membutuhkan asupan gizi yang cukup, terutama protein, zat besi, dan vitamin C, yang saling bekerja sama untuk menjaga fungsi darah tetap optimal. Daun kelor mengandung tinggi protein, zat besi, dan vitamin C. Protein berperan dalam pembentukan sel darah merah dan hemoglobin, yaitu komponen darah yang bertugas membawa oksigen. Protein juga membantu pengangkutan zat besi ke sumsum tulang sebagai tempat pembentukan sel darah merah. Zat besi berfungsi membantu hemoglobin dalam mengikat dan mengangkut oksigen, serta mendukung berbagai proses metabolisme tubuh. Sementara itu, vitamin C berperan meningkatkan penyerapan zat besi di usus sehingga membantu kinerja hemoglobin secara lebih optimal. (9) Jika kadar hemoglobin meningkat, jaringan tubuh tidak akan kekurangan oksigen dan pertumbuhan tulang balita berlangsung dengan baik. (10)
- Mendukung pertumbuhan dan perkembangan Daun kelor mengandung tinggi protein. Protein berperan penting dalam pembentukan, pemeliharaan, serta perbaikan jaringan tubuh. Kekurangan asupan protein dapat menghambat pertumbuhan dan mengganggu proses pematangan tulang. Balita yang kurang konsumsi protein memiliki risiko 1,6 kali menderita stunting. (11,12)
Mengolah Daun Kelor Menjadi Biskuit
Biskuit merupakan makanan yang disukai berbagai kelompok usia, termasuk
anak-anak, karena tekstur renyah dan rasa manis. Biskuit daun kelor dikembangkan
sebagai camilan atau makanan selingan bergizi bagi anak, khususnya mereka yang
kurang menyukai sayuran. Daun kelor dapat dikeringkan dan diolah menjadi tepung
yang mudah disimpan serta dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan. (6,13)
Berdasarkan suatu studi mengenai pemberian biskuit daun kelor untuk balita
(2021), per porsi biskuit seberat 35 g atau sebanyak 3,5 keping biskuit mengandung energi, protein, dan zat besi yang jumlahnya tersedia dalam tabel berikut beserta dengan angka pemenuhan kebutuhan gizi harian.
Kandungan gizi biskuit disesuaikan dengan kebutuhan gizi balita sebagai makanan selingan, yaitu sekitar 10% dari kebutuhan gizi harian. Konsumsi satu porsi biskuit ini dapat mencukupi sekitar 10% kebutuhan energi harian, lebih dari 20% kebutuhan protein harian, serta lebih dari 10% kebutuhan zat besi harian. Hal ini menunjukkan bahwa biskuit daun kelor berpotensi menjadi camilan sehat dan bergizi bagi anak usia dini, memenuhi kebutuhan energi, protein, dan zat besi bagi balita yang memiliki asupan zat-zat gizi rendah, serta dapat membantu untuk memelihara kesehatan balita, termasuk menangani masalah stunting.
Kandungan gizi pada daun kelor segar mengalami penurunan setelah diolah
menjadi biskuit. Penurunan ini merupakan hal wajar karena daun kelor hanya
digunakan sebagai salah satu bahan dalam formulasi biskuit dan mengalami proses
pengolahan. Meskipun demikian, biskuit daun kelor tetap memberikan kontribusi zat
gizi dan menjadi produk pangan olahan berbasis pangan lokal yang mudah
dikonsumsi. (1,14)
Editor :Â Aldera, S.Tr.Gz., M.K.M
Referensi
- ​Rustamaji GAS, Ismawati R. Daya Terima dan Kandungan Gizi Biskuit Daun Kelor Sebagai Alternatif Makanan Selingan Balita Stunting. J Gizi Unesa. 2021;1(1):31–27.
- Puspitasari D, R SMM, Jayadilaga Y. Pengenalan Manfaat dan Pengolahan Moringa olifera pada Anak di BTN Kasumberang Kabupaten Gowa. J Hasil-hasil Pengabdi dan Pemberdaya Masy.2023;2(1):72–7.
- Khasanah R, Jumari, Nurchayati Y. Etnobotani Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera L.) di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. J Ilmu Lingkung. 2023;21(4):870–80.
- Irwan Z. Kandungan Zat Gizi Daun Kelor (Moringa oleifera) Berdasarkan Metode Pengeringan. J Kesehat Manarang. 2020;6(1):69–77.
- Gonzales-Burgos E, Ureña-vacas I, Sanchez M, Pilar Gomez-Serranillos M. Nutritional Value of Moringa oleifera Lam. Leaf Powder Extracts and Their Neuroprotective Effects via Antioxidative and Mitochondrial Regulation. Nutrients. 2021;13(7):2021.
- Afriza R, Yuska D. Perbedaan Kandungan Zat Gizi Makro dan Mikro pada Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Berdasarkan Metode Perlakuan Pendahuluan. J Sehat Mandiri. 2025;20(1):117–28.
- Rahimova, Guliyeva. Health Effects of Polyphenols and Flavonoids. Bull Sci Pract. 2025;11(11):70–7.
- Tufail T, Ain HBU, Noreen S, Ikram A, Arshad MT, Abdullahi MA. Nutritional Benefits of Lycopene and Beta-Carotene: A Comprehensive Overview. Food Sci Nutr. 2024;12(11):8715–41.
- Khofifah N, Mardiana. Biskuit Daun Kelor (Moringa oleifera) Berpengaruh Terhadap Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri yang Anemia The Moringa Leaf (Moringa oleifera) Biscuits Have An Effect on Hemoglobin Levels in Anemic Adolescent Girls. Aceh Nutr J. 2023;8(1):43–50.
- Dewi EK, Nindya TS. Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi Dan Seng Dengan Kejadian Stunting Pada Balita 6-23 Bulan Correlation Between Iron and Zinc Adequacy Level With Stunting Incidence In Children Aged 6 -23 Months. Amerta Nutr. 2017;1(4):361–8.
- Haryani VM, Putriana D, Hidayati RW. Asupan Protein Hewani Berhubungan dengan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir Animal-Based Protein Intake is Associated with Stunting in Children in Primary Health Care of Minggir. Amerta Nutr. 2023;7(2):139–46.
- Azmy U, Mundiastuti L. Konsumsi Zat Gizi pada Balita Stunting dan Non-Stunting di Kabupaten Bangkalan. Amerta Nutr. 2018;2(3):292–8.
- Hanif F, Berawi KN. Literature Review: Daun Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Makanan Sehat Pelengkap Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan Literature Review: Moringa Leaves (Moringa oleifera) as Healthy Food Complementary Nutrition for The First 1000 Days of Life. J Kesehat. 2022;13(2):398–407.
- Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. 2019.
No Comments