5 Bahan Makanan Viral 2025: Tren Sehat atau Sekadar Hype?

5 Bahan Makanan Viral 2025: Tren Sehat atau Sekadar Hype?

Bagikan

Tren makanan di tahun 2025 semakin berkembang pesat mengikuti gaya hidup generasi muda yang juga semakin peduli akan gizi, estetika, dan kemudahan dalam menyiapkan makanan. Berbagai bahan viral bermunculan di media sosial, dan masing-masing menawarkan manfaat unik sekaligus visual yang menggoda.

Menariknya, banyak dari tren ini bukan sekadar sensasi singkat. Sebagian besar memiliki dasar ilmiah yang kuat dan memang dapat memberi manfaat bagi kesehatan, selama digunakan dengan bijak. Berikut ulasan lima bahan makanan viral yang paling banyak dibicarakan sepanjang 2025.

1. Sea Moss: Sang Bintang Mineral dari Laut

Sea moss atau rumput laut karagenan (senyawa gelatinous (seperti gel) yang diekstrak dari rumput laut merah) populer karena kandungannya yang melimpah. Mulai dari vitamin A, B1, B2, B9, B12, C, D, E, K serta mineral seperti kalsium, magnesium, kalium, dan yodium, juga polifenol yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. (1) Selain itu, rumput laut rendah akan kandungan lemak namun kaya asam lemak tak jenuh ganda, sehingga menjadikannya pilihan makanan sehat dan rendah kalori. (2)

Sea moss menjadi viral pada 2025 karena bentuk kemasan gelnya yang dianggap praktis dan “glowing-friendly”. Banyak orang mengonsumsinya hampir setiap hari demi mendapatkan kulit mulus dan cerah. Namun, karena kandungan yodiumnya yang tinggi membuat konsumsi berlebih tetap perlu dihindari, terutama bagi individu dengan gangguan fungsi tiroid.

2. Black Garlic: Fermentasi Umami yang Naik Kelas

Bawang hitam kini banyak direkomendasikan oleh para influencer kuliner karena rasa umaminya yang manis dan lembut seperti selai. Proses fermentasi dalam suhu dan kelembapan terkontrol mengubah bawang putih menjadi lebih gelap, lebih harum, dan jauh lebih kaya antioksidan.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada senyawa bioaktif seperti S-allylcysteine, polifenol, dan flavonoid, yaitu komponen yang berperan dalam mendukung imun, menjaga kadar gula darah, hingga menurunkan kolesterol. (3,4)

Oleh karena rasanya yang kompleks dan tetap ramah lambung, black garlic semakin sering digunakan dalam meal prep sehat maupun masakan rumahan premium. Teksturnya cocok untuk campuran dressing, topping salad, tumisan, hingga selai asin- manis. Selain itu, sifat antibakterinya berspektrum luas, sehingga sering diposisikan sebagai “superfood” modern dalam menu longevity.

3. Barley Milk: Plant-Based Milk yang Ramah Lingkungan

Barley milk mulai naik daun setelah oat milk populer lebih dulu. Susu nabati ini dibuat dari barley, yaitu serealia yang mengandung ß-glucan (serat larut dengan sifat nutrasetikal) yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, kanker kolon, dan tekanan darah tinggi. (5) Banyak konsumen memilih jenis susu ini karena teksturnya yang creamy serta produksinya dinilai memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan beberapa susu nabati lain.

Dari sisi gizi, barley milk tidak mengandung kolesterol maupun laktosa, sehingga sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih ringan untuk pencernaan. Kandungan karbohidrat, fosfor, dan sengnya juga relatif lebih tinggi dibandingkan susu hewani. Meski begitu, barley mengandung gluten, sehingga produk ini tidak cocok bagi individu dengan intoleransi gluten atau penyakit celiac (salah satu jenis penyakit autoimun). (6)

4. Tepung Oat: Bahan Serbaguna untuk Resep Sehari-hari

Tepung oat semakin populer karena dianggap sebagai bahan substitusi tepung terigu yang lebih sehat. Banyak resep viral seperti oat brownies, banana oat brownies, hingga peanut butter oat brownies memanfaatkan tepung ini untuk menciptakan camilan yang lebih ramah kalori. (7)

Oat memang unik di antara serealia lainnya, karena kaya akan zat gizi dan memiliki sifat multifungsi dalam pengolahan pangan. Kandungan serat larut beta-glucan berperan dalam mendukung kesehatan pencernaan dan membantu mengelola kadar glukosa darah, sekaligus memiliki potensi sebagai antioksidan yang membantu mengurangi radikal bebas. (8)

Trennya turut naik karena tepung oat mudah digunakan dalam meal prep sehari-hari. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang netral juga membuatnya cocok untuk dijadikan bahan pancake, cookies, hingga roti rumahan. Bagi Gen Z dan millennial yang ingin makan lebih sehat tanpa mengorbankan rasa, tepung oat bisa menjadi pilihan praktis yang ramah kantong dan fleksibel untuk berbagai kreasi dapur.

5. Chia Seed: Bahan Serbaguna untuk Sarapan, Camilan, hingga Minuman Kekinian

Chia seed biasanya banyak dikombinasikan dengan menu seperti oatmeal/overnight oats, smoothie bowl, pudding, topping yogurt, atau adonan roti yang sering muncul di konten sarapan dan camilan diet estetik. Bahkan banyak orang juga menambahkannya ke infused water karena mudah diolah dan disajikan. (9)

Secara gizi, chia seed mengandung omega-3 nabati (asam α-linolenat), serat pangan, dan protein bernilai biologis tinggi. (10) Biji kecil ini juga kaya akan antioksidan seperti klorogenat, asam kafeat, myricetin, quercetin, dan kaempferol, yaitu senyawa yang berperan dalam membantu tubuh melawan radikal bebas, serta menurunkan risiko penyakit kronis seperti jantung dan kanker. (9) Oleh karena sifatnya yang menyerap cairan dan mengembang, chia seed dapat memberi rasa kenyang lebih lama.

Bijak Memilih Tren Makanan Viral

Fenomena bahan makanan viral di tahun 2025 menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mengejar tren, tetapi juga mulai memahami pentingnya kandungan gizi dan kualitas bahan makanan. Sebagian besar bahan viral ini memang memiliki manfaat yang dapat mendukung kesehatan, terutama bila dikonsumsi dalam porsi terukur dan sesuai kebutuhan.

Kuncinya adalah tidak bergantung pada satu bahan saja, tetap membaca label, dan menyesuaikan pilihan dengan kondisi tubuh masing-masing. Dengan pendekatan yang lebih bijak, tren makanan ini bisa menjadi inspirasi untuk memperkaya menu harian, bukan sekadar ikut arus hype sesaat.

Referensi

  1. Lomartire, S., Marques, J. C., & Gonçalves, A. M. An overview to the health benefits of seaweeds consumption. Marine Drugs [Internet], 2021;19(6). 341. Available from: https://doi.org/10.3390/md19060341
  2. Pereira, L. Therapeutic and nutritional uses of algae. CRC Press [Internet], 2018. Available from: https://www.taylorfrancis.com/books/mono/10.1201/9781315152844/therapeuti c-nutritional-uses-algae-leonel-pereira
  3. Saputro AA, Rosiana A, Rusidah Y, Kurniawati E, Isnina F. Pemanfaatan bawang hitam sebagai upaya meningkatkan imunitas pada kelompok pengajian Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pasuruhan Lor Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Jurnal Peduli Masyarakat [Internet]. 2024;6(3):1101–1112. Available from: https://doi.org/10.37287/jpm.v6i3.4037
  4. Isna MK, Yasinta N, Aliyah AN, Dian EE. Kajian efektivitas ekstrak black garlic (Allium sativum Linn.) sebagai gel pada ulkus diabetik. Proceedings National Conference PKM Center [Internet]. 2021;1(1). Available from: https://jurnal.uns.ac.id/pkmcenter/article/view/51349
  5. Idehen, E., Tang, Y., & Sang, S. Bioactive phytochemicals in barley. Journal of Food and Drug Analysis [Internet], 2017;25(1):148–161. Available from: https://doi.org/10.1016/j.jfda.2016.08. 002
  6. Vanessa, J. Komponen bioaktif pada susu barley dan manfaatnya untuk kesehatan. ZIGMA [Internet], 2023;38(2):10–18. Available from: https://journal.ukwms.ac.id/index.php/zigma/article/view/5177
  7. Juliana, J., Limawan, C. A., & Sopyana, F. Penggunaan tepung oat sebagai substitusi tepung terigu dalam pembuatan brownies. Journal FAME: Journal Food and Beverage, Product and Services, Accommodation Industry, Entertainment Services [Internet], 2022;4(2):1–8. Available from: https://journal.ubm.ac.id/index.php/journal-fame/article/view/3172
  8. Krochmal-Marczak, B., & Tobiasz-Salach, R. The effect of adding oat flour on the nutritional and sensory quality of wheat bread. British Food Journal [Internet], 2020;122(7):2329–2339. Available from: https://doi.org/10.1108/BFJ-07- 2019- 0493
  9. Sari, F., & Aulianshah, V. Aktivitas antioksidan infused water chia seed (Salvia hispanica L) menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Jurnal Ilmiah Farmasi Simplisia (JIFS) [Internet], 2022;1(2):132–137. Available from: https://ejournal.poltekkesaceh.ac.id/index.php/jifs/article/view/804
  10. Uthia, R., & Susanti, A. Pelatihan edukasional tentang pemanfaatan biji chia sebagai nutrisi tambahan untuk ibu hamil kepada kader Desa Tuah Negeri. EBIMA: Jurnal Edukasi Bidan di Masyarakat [Internet], 2022;3(1):4–7. Available from: https://doi.org/10.36929/ebima.v3i1.480
No Comments

Post A Comment